Disclaimer: All Naruto Character belong to Masashi Kisimoto.

All OC character belong to me :3

Warning: Standard Warning Apply, TYPO merajalela

Let The Story BEGIN...


LINA POV

Jam sudah menunjukan waktu pukul setengah sebelas. "Oh sial, aku terlambat!" Sahutku saat melihat jam tangan tua yang melingkar ditanganku. "Maafkan aku Anko-san, aku harus menjemput Aiko!" Ujarku seraya berlari meninggalkan sapu yang tengah kugenggam.

"Ya...ya, terima kasih sudah membantu, ya" Sahut Anko yang kujawab dengan lambaian tangan. Sinar Matahari yang bersinar terang dimusim semi sama sekali tidak menyurutkan langkahku untuk menembus jalanan Konoha yang sibuk. Sambil berlari, kulihat jam tanganku yang sudah menunjukan waktu pukul setengah sebelas lebih. Ugh sial, gara-gara membantu Anko menyapu halaman rumahnya aku jadi telat menjemput Aiko, aku harus ce...'BRUK'. tanpa sengaja aku menabrak seseorang saking fokusnya melihat jam.

"Aduh...ma..." Perkataanku terhenti setelah melihat siapa yang kutabrak. Seorang lelaki jangkung berkacamata, berambut hitam runcing menatap dingin padaku diantara tumpukan buku yang berhamburan. Sekujur bulu roma ditubuhku mendadak berdiri.

"Lina Lockhart, tidak bisakah kau melihat kedepan saat berjalan!?" Tanyanya dengan nada marah yang ditahan.

"Maaf...maafkan aku" Ujarku membungkuk padanya berkali-kali. Ukh, diantara seluruh penduduk Konoha, aku paling menghindari berurusan dengan pria ini. Aoba Yamashiro, sebuah gunung es berjalan i Konoha. Pria dingin yang akan membuat musim semi sepanas apapun menjadi bersuhu minus. Dia paling susah ditebak dan juga paling menyebalkan serta tak bisa diajak kompromi. Karena itulah aku selalu menghindarinya.

"Kau pikir kata maaf saja sudah cukup, hah!? Lihat apa yang sudah kau lakukan. Butuh setengah jam untuk menyusun semua dokumen itu, TAHU!" Sahutnya. Aku menunduk ketakutan, kutatap dokumen yang kini berserakan bercampur dengan buku-buku yang tadi dibawanya.

"M...maaf, aku sedang buru-buru jadi aku..." "Bereskan semuanya" Potong Aoba.

"Hei, aku kan sedang buru-buru" Protesku.

"Memangnya aku peduli? Kau juga sudah mengacaukan kerjaanku, kan? Kalau kau sedang buru-buru ya selesaikan saja kurang dari setengah jam" Katanya seraya menyilangkan lengan di dada. Aduh, kurasa Aiko harus menunggu lebih lama.

.

.

.

Si keparat itu membuatku berkutat dengan dokumen yang akhirnya selesai kususun dalam waktu empat puluh lima menit. Yang makin membuatku kesal, dia sama sekali tidak membantuku menyusunnya, hanya berdiri seraya menatapku dengan dingin. Cuih.

"Hah...Hah...haah...Aiko...Aiko" Ujaku pada satpam TK Konoha.

"Tarik nafas dulu, Lina. Aiko masih asyik main tuh sama temannya" Jelasnya. Ah syukurlah, setidaknya dia tidak keluyuran keluar. Aku pun menegakkan badan seraya menghirup nafas panjang dan menghembuskannya. Memang tidak menghilangkan rasa lelahku, tapi setidaknya membuatnya menjadi lebih baik.

"Kak Linaaaa!" Sahut bocah perempuan berambut pirang pendek dan berlari menghambur padaku.

"Heei Aiko, maaf ya kakak terlambat" Ujarku seraya mengusap kepalanya.

"Iya gak apa-apa, Kak. Lihat deh Aiko bikin burung angsa sama ibu guru" Tunjuk Aiko pada sebuah burung kertas warna biru yang dipegangnya.

"Waah, bagus amat. Pintar" Pujiku seraya menepuk pucuk kepalanya. Aiko tersenyum lebar dengan bangga. "Yuk kita pulang, sudah waktunya makan siang" Ajakku. Aiko mengangguk, dengan ceria ia pun menggandeng tanganku dan berjalan beriringan bersamaku kembali kerumahnya.

Yah inilah aku, seorang wanita biasa yang sehari-harinya sibuk mengasuk anak orang. Karena aku pun hidup sebatang kara dan banyak memiliki waktu luang, maka para tetanggaku kerap kali meminta untuk menjagakan anak mereka untuk sementara jika mereka sibuk. Lagipula lumayan, terkadang mereka suka memberiku makanan sebagai imbalan atau sejumlah uang. Tapi aku tidak mematok harus membayar berapa. Bagiku sudah lebih dari cukup bisa mewarnai hari suramku dengan canda tawa mereka.

.

.

.

"Ibu belum pulang?" Tanya Aiko.

"Mungkin. Ayah dan ibumu kan sedang misi. Mungkin nanti sore pulang"Ujarku sesampainya di rumah Aiko. Aiko berlari kedalam kamar dan mengganti bajunya sementara aku segera menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.

Ketika tengah membalik telur goreng, terdengar langkah kecil yang berlari menuju ruang makan. "Cepat kak Lina, aku lapar" Pinta Aiko yang kulihat sudah duduk diatas kursi meja makan.

"Hmph sabar Aiko-chan. Nanti merahnya tidak matang, kau tidak suka kan" Ujarku. setelah membalik lagi selama beberapa menit, dua buah telur goreng pun matang dan segera kuhidangkan diatas piring bersama semangkuk nasi.

"Ittadakimashu" Ujarnya semangat lalu mengambil sebuah miliknya dan memakannya dengan lahap. Aku pun ikut memakan talur bagianku. "Emm, telur goreng bikinan Kak Lina paling enak sedunia" Sahutnya.

"Hahaha, masa sih? Makasih sayang" Ujarku seraya mengacak-acak rambutnya. Aiko tersenyum dan meneruskan makannya. Inilah salah satunya yang aku suka menghabiskan waktu dengan mereka, mereka selalu menghargai sesederhana apapun jerih payah kita untuk mereka.

.

.

.

Langit sudah berwarna jingga pertanda sebentar lagi akan masuk jam makan malam. Sebelum mengakhiri shift-ku, kusempatkan memasakkan makan malam untuk ibu dan ayah Aiko, karena aku tahu mereka pasti sangat kelelahan saat sampai kerumah. 'TING TONG' terdengar suara bel dipintu. "Itu pasti ayah sama ibu" Ucap Aiko girang. Kaki kecilnya berlari melintasi dapur menuju pintu depan. Beberapa lama kemudian, muncullah Aiko yang tengah digendong oleh ibunya bersamaan dengan selesainya masakanku.

"Terima kasih Lina sudah menjagakan putriku" Ucap Nakahara, ibunda Aiko.

"Sama-sama nyonya, saya senang menghabiskan waktu dengannya. Oh iya, sudah kusiapkan menu untuk makan malam" Jawabku. Nakahara tersenyum, ia merogoh saku celananya dan menyerahkan beberapa lembar uang padaku.

"Tolong jangan ditolak, ini sebagai bentuk terima kasihku" Ujarnya. Well kurasa aku tidak bisa menolaknya.

"Terima kasih Nyonya" Ujarku.

"Dagh kak Lina. Nanti kita main bareng lagi, ya" Ucap Aiko seraya melambaikan tangannya.

"Hmph ya. Belajar yang rajin ya"Ucapku sambil mencubit gemas pipi tembemnya. Aku pun pulang setelah seharian menjaga Aiko.

Sendirian kusisiri jalanan Konoha yang sudah mulai sunyi. Semua orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Kuperhatikan sebuah keluarga kecil beberapa meter didepanku. Mereka menyambut sang ayah yang baru saja pulang bekerja. Dulu aku juga begitu, setidaknya sebelum invasi shinobi lain kedesa yang merenggut nyawa kedua orang tuaku. Yeah, sudah sejak lama aku hidup sebatang kara sampai aku pun sudah lupa seperti apa rasanya menangis karena rasa kesepian. Tapi kehadiran suster panti asuhan yang mengurusku dengan penuh kasih menghindarkanku menjadi seorang penjahat pschyco. Yah setidaknya kisahku tak seburuk mereka.

"Lina" Panggil suara seseorang yang mengacaukan lamunanku.

"Ayumi-san, ada apa?" Tanyaku pada wanita yang merupakan guru TK tempat Aiko mengajar.

"Apa besok kau bisa menggantikanku mengajar di TK? Aku ada keperluan mendadak. Hanya tiga hari, kok" Pintanya. Aku berpikir sejenak menimang-nimang tawarannya. Hmm, mungkin tawaran yang bagus juga. Lagipula besok aku tidak ada kerjaan dan aku pun sudah mengenal semua guru dan staff di TK itu.

"Oke, hanya besok, kan?" Tanyaku.

"Terima kasih, Lina. Iya hanya besok. Kalau begitu kau harus sudah datang jam setengah delapan ya karena kelas mulai jam delapan. Aku akan memberitahu guru yang lainnya" Ucapnya padaku. Setelah berterima kasih sekali lagi, ia pun pergi. Hm, menghabiskan seharian di TK bersama anak-anak, pasti akan sangat menyenangkan.

.

.

.

TBC


Yeah another sweet story from Lina-Aoba xD

Mian buat readers sekalian kalau ada banyak typo diatas berhubung saya haro buat ngecek ulang jadi aja copas apa adanya ._.

Anyway, ini fic udah mendem lama di hardisk laptop dan sempet juga nyaris discontinue diakarenakan kesibukan dunia nyata dan wangsit yang mendadak hilang entah kemana. Tapi akhirnya dilanjutin deeeh berhubung ini fic ceritanya lumayan kuat dan mungkin bisa nandingin "Beautiful Assasin", mungkin loh ya...

So, Mind to RR? ;)