Her Confession
~Chapter 1
Saat ini, kami berdua sedang mengobrol di tepi jembatan, membahas tentang kehidupan ninja kami masing-masing.
Entah mengapa hari itu dia begitu tenang, padahal biasanya bercanda dengan memanggilku cengeng atau pemalas.
Apa ada yang salah...?
Aku ingin bertanya, tapi rasanya itu terlalu...
...merepotkan.
Jadi aku hanya diam, dan menikmati ketenangan hari itu dan menatap awan.
Sambil sesekali menatap mata hijaunya yang indah.
Ah! Kenapa aku jadi ngegombal begini?
Lama-lama aku bisa jadi seperti Sai!
Hei, pikiran aneh, keluarlah dari otakku!
"Hei, pemalas!" panggilnya, membuyarkan lamunanku yang tidak penting.
"Apa?" jawabku malas.
"Mau jadian denganku?"
DEG
Apa?
Jadian dengannya?
Aku terdiam dengan muka merah padam.
Jantungku berdetak cepat, wajahku memanas, perutku serasa bercampur-aduk, dan tubuhku melemas.
Kaget setengah mati.
Mana ada perempuan yang nembak cowok dengan gampangnya begitu?
Dasar dia itu...
Malah aku yang ditembaknya pun tidak tahu harus bicara apa.
Senang? Oh ya, aku sangat senang. Lebih dari itu, malah.
Rasanya mau meledak.
Aku juga sudah lama ingin bertanya begitu padanya.
Aku juga suka dengannya.
Aku ingin langsung menjawab iya, lalu memeluknya dengan erat.
Tapi tubuhku membeku.
Membeku karena terlalu senang, sepertinya.
Seluruh tubuhku serasa dialiri listrik kejut.
Darahku mengalir lebih cepat.
Tapi tentu ia harus mendapatkan jawaban.
Bagaimana aku menjawab?
Tapi, harus kujawab seperti apa?
Ah, merepotkan saja.
Akan kujawab sebisaku…
... Kalau aku juga suka dia.
"Hei, mau diam sampai kapan? Mukamu merah sekali! Jangan-jangan kamu kira aku serius? Ya ampun! Aku hanya bercanda, bodoh!" katanya, terkekeh geli.
DEG
Hatiku hancur seperti di lagu Olga Syuhpotra.
Bikin kaget saja dia!
Pantas saja dia bisa tenang begitu. Dia cuma bercanda...
Bikin repot saja.
Rasanya memalukan.
Mana mungkin lelaki dipermainkan begini oleh perempuan?
Aaargh!
"J-jangan bikin kaget! A-aku hampir jantungan! Kenapa kau b-bisa bilang begitu dengan m-mudah, sih?"
Ah, sial.
Emosiku hampir meluap.
Memalukan!
"Gomen, cengeng. Kau tidak perlu jadi semarah itu, kan?" katanya tanpa menatapku. Tatapannya mengarah ke langit.
Wajahku masih menghangat.
Jantungku masih berdebar.
Aku benar-benar kecewa.
Awas dia.
"Tapi, kau bercanda atau tidak…" kataku, sambil mendekati wajahnya.
Ia menoleh.
"Aku... mau jadi pacarmu."
Lalu kukecup pipinya.
Sepertinya ia kaget.
"…"
Dia terdiam.
Ada sedikit rona merah di pipinya.
Lalu… Ia tersenyum.
...Aku rasa itu berarti iya.
Disclaimer: Kedua orang diatas, semua tokoh dan cerita asli Naruto itu punya MK. Bukan Mahkamah Konstitusi, tapi Masashi Kishimoto. (ya iya, lah! gariiing bangeeet!)
Author's Note:
Hai, Minna-san~ Gomen kalau nggak jelas, sebenarnya seluruh cerita itu Shikamaru POV. Lalu ceweknya ya Temari. Segaja ditulis waktu akhirnya, iseng, ehehe. Gomen, ya kalau nggak jelas~ ^ ^;
Awalnya Reina mau nulis fic genre humor aja, tapi rasanya waktu jadi kok garingnya kelewatan, gitu. Ya udah Reina bikin fic begini, ngegombal. =_=;
Gimana menurut Minna-san? Terlalu pendek? Typo? Ada yang salah atau kurang? Ada yang OOC? Ada fic yang mirip dengan yang ini? Tolong kritik dan sarannya, ya!
Soalnya Reina baru sekali bikin fic. Yup, bener, ini fic pertama Reina. Jadi, maklum sajalah kalau ada yang kurang bagus, pendatang baru, siiih! XD
Fic ini bersambung, lho! Chapter 2 lagi Reina buat, nih~ Kayaknya minggu depan selesai... Tunggu, ya! *ngarep*
Tolong reviewnya, ya? *puppy eyes*
Reina menerima segala jenis masukan, kok! Flame ditampung, review dihargai, kritik sangat dihargai, pujian malah lebih dihargai lagi. Ehehe~ :DD
Sudah, ya! XD
Mind
to
RnR?
:DD
