Rumah, tempat kita memulai sejarah kisah hidup kita. Tempat kita mempelajari segala sesuatu pertama kali. Tempat di mana kita merasa nyaman dan aman. Tempat kita berbagi kehangatan. Tempat yang penuh kasih sayang dan canda tawa. Tempat melepas penat dan jenuh setelah seharian beraktifitas. Tempat kita diinginkan dan tempat kita untuk pulang.
Rumah bukan hanya sebuah tumpukan batu bata, bukan sekedar tempat untuk tidur. Prcuma jika punya rumah semewah hotel berbintang lima Tetapi sunyi. Percuma punya rumah sebesar istana Tetapi tidak ada kehangatan sama sekali. Dingin.
Satu rumah Tetapi hanya berkumpul saat makan malam, tanpa perbincangan hangat layaknya sebuah keluarga. Tanpa ada senyuman teduh layaknya orang tua.
Di rumah sendiri seperti orang asing.
Tuhan, apakah ini yang disebut rumah? Apakah ini rumah yang selalu mereka bicarakan? Apakah pantas tumpukan batu bata itu disebut rumah?
Taufan akan menemukan rumah sendiri, dimana ia diinginkan!
.
.
.
Title : Home
Disclaimer : BoBoiBoy belong to Animonsta but story is mine!
Rated : T+ (karena kadang Vian khilaf, jadi buat jaga-jaga)
Genre : Family, drama, hurt/comfort
Warning : Elemental siblings, AU, no power, no alien, typo(s) everywhere, OOC, Incest, bad EYD, alur ngajak balapan, GaJe, dan... BxB(peace, Vian Fujodan)
Enjoy, this just fanfict. If you don't like this fanfict, don't read it!
Happy reading...
Taufan membuka jendela kamarnya dengan penuh harapan. Berharap ia akan menemukan kebahagiannya. Berharap semua tekanan ini menghilang. Berharap hidupnya akan berwarna. Dan berharap bisa selalu tersenyum.
"Oke, Taufan. Pagi ini begitu cerah, kau harus semangat! Jangan kalah sama mereka. Kau adalah anak yang hebat!" Semangat pemuda beriris shappire itu kepada dirinya sendiri.
This time for school. Taufan berharap ia akan kuat di sekolah selama 8 jam di sekolah. Setelah menyiapkan buku untuk pelajaran hari ini, Taufan beranjak dari kamar ke ruang makan berharap salah satu saudaranya masih belum berangkat ke sekolah dan bisa sarapan bersama.
Tapi kenyataan tak seperti apa yang ia harapkan. Tak ada satu orang pun anggota keluarganya yang masih di rumah. Hanya ada para pekerja di rumahnya. Mendadak nafsu makan Taufan menguap entah kemana hanya dengan melihat ruang makan yang kosong beserta sepiring roti dan segelas susu coklat.
Sudahlah, nggak usah sarapan. Lagipula ini juga sudah sering terjadi, setiap hari malah. Lihatlah, tidak ada satu pun yang menunggunya untuk sarapan bersama. Jangankan sarapan bersama, yang membangunkannya saja tidak ada. Lalu apa yang Taufan harapkan lagi di rumah ini? Sudah jelaskan kalau tidak ada pun yang menganggapnya di rumah ini.
Tapi Taufan masih terus berharap ia dianggap di rumah ini.
Dengan perut kosong, Taufan memacu skateboardnya. 5 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup dan Taufan sudah bosan membersihkan halaman sekolah setiap hari. Berasa jadi cleaning service! Iya, setiap hari ia datang terlambat. Jika di sekolah biasa, jam segini masih belum masuk, Tapi entah kenapa di sekolahnya sudah masuk. Hey, sekolahnya masuk pukul 06.00 pagi!
Biasanya, jika seorang siswa sering datang terlambat sanksinya adalah skorsing. Tapi kenapa Taufan hanya mendapat sanksi 'membersihkan halaman sekolah?' Bukankah, itu tidak adil namanya? Mending jika hanya terlambat sehari atau dua hari, Tapi Taufan sudah terlambat sejak satu tahun yang lalu! Apa yang sudah dilakukan sang ayah sehingga ia masih bisa bertahan di sekolah ini? Kenapa ayahnya begitu ingin ia bertahan di sekolah ini?
Taufan harap itu karena ayah sayang padanya.
-H O M E-
Halilintar melirik arlojinya lalu melihat ke gerbang sekolah. Kegiatan ini sudah dilakukannya sejak 30 menit yang lalu. Siapa pun pasti langsung paham dengan apa yang dilakukan oleh Halilintar. Yup, ia sedang menunggu seseorang dan satu-satunya orang yang sanggup membuat Halilintar seperti ini adalah Taufan.
Iya, Halilintar sedang menunggu Taufan. Kemana sih bocah itu? 5 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup Tapi kenapa masih belum sampai juga? Tidak tahukah kau Taufan kalau Halilintar itu khawatir setengah mati?!
Hey, siapa yang tidak akan khawatir jika punya adik model Taufan? Wajahnya yang over kawaii, cute, polos dan unyu itu seolah jadi bumerang sendiri bagi Taufan. Pasalnya itu semua menarik minat orang untuk berbuat jahat padanya, dan Halilintar tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang menyakiti Taufan-nya.
Tunggu, Halilintar! Kau meng-klaim Taufan sebagai milikmu? Sejak kapan kau menjadikannya milikmu?
"Nunggu kak Taufan, lagi?" Gempa menghampiri Halilintar lalu berdiri di sampingnya.
"Kurang kerjaan. Lagi males di kelas!" Sahut Halilintar datar dan cuek seperti biasanya.
Ck, dasar tsundere.
"Setahuku sekarang kelas kakak adalah jam olahraga, dan teman sekelas kakak ada di lapangan"
Nah, lo! Ketahuan bohong, kan?
Halilintar membuang muka lalu mendengus kasar, "Masuk sana!" Halilintar beranjak ke lapangan olahraga, sedangkan Gempa menahan tawanya mati-matian agar ia selamat dari hantaman sang kakak. Sumpah, kalo sudah menyangkut Taufan otak jenius Halilintar tiba-tiba nggak berfungsi.
Taufan, pengaruhmu bagi Hali itu sangat dahsyat.
Gempa melihat ke gerbang sekolah. Seorang pemuda tengah menunduk sambil mendengarkan wejangan-wejangan dari Papa Zola. Gempa kenal dengan pemuda itu, sangat mengenal pemuda itu malah. Iya, Taufan yang sedang berdiri sambil menunduk. Bibir Taufan mengerucut imut dan pipinya menggembung, tipikal Taufan ketika tidak terima.
Tanpa sadar Gempa tersenyum, ia tidak tahu kenapa hanya dengan melihat berbagai tingkah polos Taufan bisa membuatnya tersenyum. Sekalipun ia, Halilintar, dan Taufan adalah saudara kembar, Tapi Taufan itu lebih mirip adiknya. Bahkan ketika mereka berlima sedang bersama, orang-orang akan mengira ia dan Halilintar adalah saudara kembar, Blaze dan Ice juga saudara kembar. Taufan? Orang-orang akan mengira Taufan adalah adik mereka berempat, padahal Blaze dan Ice lahir satu tahun setelah ia, Halilintar, dan Taufan.
Mungkin faktor gen. Halilintar, Gempa, Blaze, dan Ice dapat gen dari sang ayah, sedangkan Taufan dapat gen dari sang ibu. Lihatlah tubuh Taufan, hanya setinggi dagu Gempa dan Halilintar. Bahkan dengan Blaze dan Ice saja tinggi Taufan hanya setelinga keduanya. Belum lagi tubuh Taufan tergolong ramping. Dan wajahnya ituloh... bikin panas-dingin, over kawaii, cute, manis, imut dan polos. Siapa pun pasti akan berhenti sejenak hanya untuk melihat wajah Taufan, entah itu laki-laki atau perempuan.
Belum lagi tingkah Taufan yang polos dan lugu, bawaanya pengen nyulik aja.
Taufan melihat ke lantai dua dan di sana ada Gempa yang sedang melihat ke arahnya. Refleks, Taufan tersenyum sumringah dan melambaikan tangannya semangat.
Tapi reaksi Gempa hanyalah melengos begitu saja seolah tak melihatnya.
Taufan tersenyum miris, padahal ia sudah tahu ini akan terjadi Tapi tetap saja hati kecilnya berharap lebih.
Gempa mengutuk dirinya sendiri. Kenapa sih ia harus mengacuhkan Taufan tadi? Tapi memang seperti inilah yang ia lakukan setiap hari, mengacuhkan taufan dan menggapnya seolah-olah tidak ada.
Apa yang bisa Gempa perbuat? Tidak ada. Ia tak punya kuasa apa pun.
-H O M E-
Blaze melirik arlojinya, jam menunjukan pukul 10.45 dan itu tandanya 15 menit lagi ia harus ikut pemotretan. Dengan malas Blaze berjalan keluar sekolah. Pihak sekolah sudah tahu akan profesinya sebagai idola remaja dan memaklumi kesibukannya. Ayahnya juga sudah bicara pada pihak sekolah dan pihak sekolah memberikannya kebebasan untuk keluar-masuk sekolah.
Sebagai idola remaja Blaze memiliki jadwal yang padat, itu karena ia adalah penyanyi remaja yang paling terkenal. Semua orang pasti kenal dengannya dan itu membuatnya memiliki banyak fans dan tak sedikit haters. Selain sebagai penyanyi, Blaze juga menjadi bintang iklan dan model majalah remaja. Ia tidak punya niatan untuk menjadi artis sinetron, FTV atau pun bermain film. Hey, profesinya yang sekarang saja sudah menguras tenaga dan waktunya.
Dari arah berlawanan Blaze melihat orang yang sangat ia kenal.
Taufan membuka lokernya dan viola..., lokernya penuh dengan sampah. Menghela nafas lelah, Taufan mengambil buku-buku dan barang-barangnya. Ia tidak bisa terima jika semua barang dalam lokernya disamakan dengan sampah!
Taufan tidak pernah megerti kenapa semua selalu membuang sampah di dalam lokernya seolah ada peraturan tak tertulis "Buanglah sampah pada loker Taufan". Jika seperti ini terus ia tidak akan memakai lokernya lagi, lebih baik ia letakkan semua barangnya di kamar. Biarlah jika harus membawa banyak buku ketika sekolah, itu lebih baik daripada harus melihat barang-barangnya yang disamakan dengan sampah.
Taufan mengambil semua barangnya dan membawanya ke kelas, ia akan membawa pulang semuanya hari ini juga.
Berat.
Aduh, kenapa sih Taufan punya kaki yang pendek dan lengan yang lemah? Taufan kadang iri melihat Gempa dan Halilintar atau pun Blaze dan Ice yang punya tubuh tegap sehingga mungkin bagi mereka apa yang Taufan bawa tidak seberat itu. Lihatlah betapa kepayahannya Taufan membawa semua itu, belum lagi kelasnya ada di lantai tiga.
Oh God! Apakah cobaan buat Taufan nggak ada habisnya?
Taufan melihat ke depan dan ia melihat Blaze yang berjalan dari arah yang berlawanan dengannya menuju ke luar sekolah. Entah kenapa beban barang bawaannya yang sedari tadi ia keluhkan menguap begitu saja sehingga kedua kakinya bisa melangkah lebih cepat.
Taufan berhenti tepat di hadapan Blaze dan tersenyum sumringah, "Ada jadwal pemrotetan ya, Blaze?"
Sumpah Blaze bingung harus bersikap seperti apa. "Bukan urusanmu!" jawabnya kasar dan dingin.
Taufan sempat shock mendengar jawaban Blaze yang kasar dan dingin, Tapi ia tetap berusaha tersenyum sekalipun sangat sulit.
"Ah, kalau begitu good luck yah!" Taufan tetap berusaha mempertahankan senyumnya dan pergi meninggalkan Blaze. Ia tidak mau Blaze atau siapa pun melihatnya menangis. Sumpah, rasanya sangat sakit mendengar jawaban Blaze yang dingin dan kasar tadi.
Sudah sangat jelas, ia tak diinginkan oleh siapapun. Taufan meninggalkan barang bawaannya begitu saja lalu berlari keluar sekolah sambil menangis. Persetan dengan sekolah, Taufan sudah tidak peduli lagi! Lagi pula ia ada atau tidak pun sama saja, tidak ada yang berubah.
Blaze mengutuk dirinya sendiri. Sungguh, ia tak sadar sudah berkata kasar pada Taufan. Ia sendiri terkejut dengan apa yang sudah ia katakan pada Taufan.
"Bodoh, apa yang sudah aku lakukan?"
Blaze mengambil ponselnya Tapi larian Taufan menghentikannya. Tanpa babibu Blaze langsung mengejar sang kakak yang berlari ke luar sekolah.
Tunggu, luar sekolah? Apa ia sudah keterlaluan? Kakaknya itu tidak pernah meninggalkan sekolah sekali pun di bully oleh anak kelas tiga. Itu berarti ia sudah keterlaluan, donk?
Blaze menghentikan lariannya dan mengirimi ketiga saudaranya pesan.
From : Blaze
To : Kak Hali
Kak Gempa
Ice
Subject : Urgent
Message : Kak Taufan pergi ke luar sekolah sekarang.
Blaze melihat sekeliling dan ia tak menemukan sosok Taufan sama sekali. Apa ia terlalu lama mengetik pesan, perasaan itu sudah kilat. Aduh, ia tak boleh kehilangan jejak Taufan! Kakaknya itu tidak pernah keluar rumah selain sekolah. Bagaimana jika nanti kakaknya itu tersesat?
Dunia luar itu sangat berbahaya bagi Taufan! Banyak orang jahat, belum lagi kakaknya itu culikable. Ia saja yang satu rumah dengan Taufan bawaanya pengen nyulik Taufan dan disimpan di kamar dan dimonopoli sendirian, apalagi orang lain? Oh NO! Nggak ada satu orang pun yang boleh menyentuh Taufan! Haram hukumnya!
Blaze kembali ke sekolah dan menyiapkan diri juga mentalnya. Pasti ia akan dihajar habis-habisan oleh Halilintar. Tapi ini memang kesalahannya.
Blaze ikhlas...
-H O M E-
Ice membaca pesan masuk di ponselnya dan seketika ia menggertakan giginya. Bagaimana bisa Taufan pergi keluar sekolah? Apa yang sudah kembarannya lakukan pada Taufan? Ck, dasar Blaze bodoh!
"Pak, saya izin ke belakang!"
Setelah mendapat anggukan kepala dari pak guru, Ice keluar kelas dan berjalan ke arah rooftop. Ia yakin pasti Blaze akan dihajar habis-habisan oleh Halilintar. Sekalipun pesan dari Blaze tergolong singkat Tapi ia sangat paham dengan apa saja yang ada di balik pesan itu, Ice yakin Halilintar dan Gempa juga sudah paham.
Di rooftop, Ice melihat Halilintar yang berdiri dengan wajah datar andalannya Tapi matanya memancarkan kemarahan yang sangat besar. Di sebelahnya, Gempa yang biasanya berwajah hangat sekarang juga berwajah datar.
Ck, dasar Blaze. Kau sudah melakukan kesalahan besar.
"Kak Ta—"
BUGH
Tanpa tedeng aling-aling, Halilintar menghajar Blaze yang baru tiba. Bahkan ia siap menambahkan lebam di pipi adiknya itu jika ia tidak menahannya.
"APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN, BODOH?!"
Blaze mengusap darah di sudut bibirnya, "Aku tidak sengaja berkata kasar pada kak Taufan"
Gempa menatap tajam Blaze, "Kenapa kau berkata kasar padanya? Cukup acuhkan saja!"
"Aku sendiri tidak sadar dengan apa yang kuucapkan!"
"Kau tahukan jika Taufan tidak pernah keluar selain ke sekolah? Lalu jika ia tersesat bagaimana?" Halilintar sudah kembali ke mode datarnya.
"Bagaimanapun juga sangat berbahaya di luar sana bagi kak Taufan" Ice yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara.
"Tapi kita bisa berbuat apa? Tidak mungkinkan kita bolos sekolah dan mencari kak Taufan?" Gempa menatap saudaranya satu per satu.
Ck, benar juga. Apa yang bisa mereka lakukan?
Ice mengepalkan tangannya lalu beranjak dari sana. Bagaimana ia bisa menemukan Taufan? Ia tidak bisa bolos dari sekolah.
"Tuhan, lindungilah kak Taufan!"
-H O M E-
Taufan melihat sekelilingnya dengan bingung sambil mengusap Ice matanya. Ini dimana? Ia sama sekali tidak tahu tempat selain rumah dan sekolah, itu karena ia memang tidak pernah pergi ke luar rumah selain ke sekolah.
Duh, gimana kalau Taufan nyasar? Nggak elit dong kalo ia yang notabene sudah berumur 16 tahun tersesat. Malu sama Author, woy! Authornya aja udah mbolang dari umur 6 tahun.
Taufan terus berjalan sampai kakinya berhenti di sebuah sekolah.
"Pulau Rintis Senior High School"
Entah kenapa Taufan tertarik melihat para murid sekolah itu yang berhamburan pulang. Wajah mereka tampak begitu senang dan mereka juga jalan bergerombol-bergerombol sambil bercanda dan tak jarang ia mendengar mereka tertawa bebas.
Lalu ada beberapa orang yang menghampirinya. Apa Taufan berbuat salah? Tapi wajah mereka tidak menunjukan rasa tidak suka sedikitpun seperti yang selalu ia lihat. Mereka berwajah ramah dan tersenyum padanya.
"Hey, kau sangat imut! Oh ya, perkenalkan namaku Ying!" Salah seorang gadis dari gerombolan itu mencubit kedua pipinya.
Taufan tidak terima dengan perbuatan gadis itu yang seenaknya mencubit pipinya. Refleks, ia mempoutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya.
"Sakit tau!"
"Kyaaaa, kau benar-benar manis!" Gadis satunya menjerit girang sambil memainkan pipinya.
"Sudahlah Ying, Yaya, kalian malah membuat bocah itu takut" Seorang pemuda berambut pirang menjauhkan Taufan dari kedua gadis aneh itu.
"Oh ya, siapa kau? Kau bukan dari daerah ini, kan?"
Taufan melihat mereka satu per satu, ia ragu untuk menjawab pertanyaan daripemuda bertubuh gempal tadi. Ia ingat, dulu Halilintar, Gempa, Blaze, dan Ice melarangnya berbicara dengan orang asing.
"Aku Ochobot! Lihat, kau sudah tahu namaku jadi aku bukan orang asing lagi" Pemuda berambut pirang yang memperkenalkan diri sebagai Ochobot itu membuat Taufan tidak jadi ragu.
Jawaban yang logis.
"Aku Yaya, senang bisa bertemu laki-laki seimut kau!" Gadis berhijab pink yang tadi memainkan pipinya menjabat tangan Taufan girang.
"Aku Adu du"
"Aku Probe"
"Fang"
"Aku Taufan, senang berkenalan dengan kalian!"
-T B C-
A/N: Terima kasih buat kalian yang sudah membaca HOME first chapt! Ini sebenarnya masih perkanalan dan belum masuk ke konflik inti. Oh ya, Ochobot, Adu du dan probe juga karakter alien lainnya ku buat jadi 'human'. Kalo kalian udah nggak sabar baca chapt 2, silahkan PM Vian. Kadang Vian lupa buat nerusin tulisan soalnya xD. Tulisan dan ceritanya juga masih acak-acakan karena Vian ngetiknya sama emosi.
Over all, Thank you for reading!
Coming soon on chapt 2:
"Kemana saja kau seharian ini hingga bolos sekolah?"
"Tau—"
"Jika sudah tidak mau bersekolah lebih baik berhenti saja. Percuma ayah membiayaimu jika kau hanya bermain-main!"
"Maaf ayah, Taufan janji tidak akan mengulanginya"
"Ayah tidak butuh kata maaf! Buat ayahmu ini bangga akan prestasimu sehingga tidak merasa sia-sia mengurusimu dari kecil!"
.
"Kau anak yang bernama Taufan itu? Manis juga, lebih manis dari yang ada di foto"
"Kalian siapa? Kenal denganku dari siapa?"
"Bukan urusanmu, bocah! Cukup menurut saja dan jangan banyak bicara!"
"Eeh... Tapi aku kesini untuk bertemu Ochobot"
See you at chapt 2...
