BTS Fiction!

Disclaimer : Cast belongs to God, this ff belongs to saya xD


Winter Stranger

.

.

.

.

Jungkook menghela nafas malam itu, sambil menendang-nendang bongkahan es yang banyak terdapat di jalanan sepi. Uap terbentuk saat dia menghembuskan udara, menunjukkan seberapa minus celcius yang mencekat di daerahnya. Sambil merapatkan syal dan mantel usangnya, Jungkook kembali berjalan dengan lurus –bersama kantong plastik berisi banyak ramyun yang dia dapat dari minimarket duapuluh empat jam beberapa saat yang lalu.

Kota tempat tinggalnya sudah nampak sepi. Tidak ada lagi orang orang yang nekat keluar rumah dalam cuaca sedingin ini, tapi mungkin tidak bagi Jungkook. Tadinya sih memang ingin berdiam di rumah dengan pemanas ruangan, tapi mau bagaimana lagi kalau stok makanannya sudah hampir habis. Jungkook merasa lapar setelah seharian berkerja di galerinya, dan satu bungkus ramyun tentu saja tidak membuat perutnya diam. Memang keadaan yang cukup merepotkan di tengah musim dingin.

Jungkook menengadahkan kepalanya, menatap langit yang tidak biasa. Lelaki itu mengernyit saat sadar bahwa banyak bintang di sana. Hal yang jarang tampak saat polusi menutupi jarak pandang manusia pada langit luas seperti itu. Jungkook berhenti sejenak. Walaupun dingin, tetapi melewatkan pemandangan seperti ini juga akan membuatnya menyesal. Siapa tau, bisa menjadi inspirasi untuk lukisannya yang lain?

Srek srek

Jungkook mengalihkan fokusnya saat mendengar sebuah suara dari sekitarnya. Jungkook memutar kepalanya sedikit, kemudian mendapati seorang pemuda bertubuh kecil yang nampak sedang bermain dengan salju di tanah. Jungkook mengerutkan alisnya, siapa yang kurang kerjaan bermain salju pada tengah malam seperti ini?

Jangan salahkan dia, salahkan saja sifatnya. Sebagai lelaki berumur cukup muda, Jungkook jadi mudah penasaran. Seperti sekarang ini.

"Siapa kau?"

Pemuda bertubuh kecil itu menoleh dengan kaget. Wajahnya tampak pucat dengan kulit yang bersih, ditambah semu merah akibat hawa dingin, juga syal besar yang menutup hingga dagunya. Jungkook berpikir itu benar-benar menggemaskan. Dia jadi merasa ingin mencubit pipinya.

Tapi pemuda itu menatap Jungkook dengan takut kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada salju salju yang kini sudah berbentuk bola. Tampak berusaha untuk tidak mendengarkan.

"Apa bisa mendengar?"

Pemuda itu tidak mempedulikan. Dia masih sibuk dan sepertinya tidak ingin diganggu. Jungkook menghela nafas –mengeluarkan asap putih lagi. Kemudian menggosokkan kedua tangannya.

"Ahh, dinginnya." Gumam Jungkook cukup keras agar dapat didengar, "Sebaiknya kau pulang ke rumah jika masih ingin menjadi manusia sungguhan dan bukan manusia salju."

Pemuda yang berjongkok masih tidak mempedulikan. Beberapa detik selanjutnya, jungkook menaikkan pandangannya kemudian beranjak untuk pergi setelah mengendikkan bahu. Udara semakin dingin dan sepertinya berbicara dengan orang asing juga tidak membuat segalanya menjadi lebih baik.

Jungkook berlari-lari kecil sampai ke rumahnya yang minimalis. Dia kemudian berusaha cukup keras untuk mengeluarkan kunci dari sakunya yang tertutup pakaian dan mantel tebal, ditambah ramyun segudangnya yang cukup merepotkan saat dibawa. Namun kegiatan itu terhenti sejenak saat Jungkook merasa mendengar suara langkah seseorang. Padahal seingatnya tadi, tetangga yang lain tidak ada lagi yang keluar rumah.

Setelah berhasil mendapatkan kunci, Jungkook menolehkan kepalanya. Mencari-cari siapa tau ada seseorang dengan penampilan mencurigakan tengah memasuki daerahnya. Jungkook hampir saja terjengkang, untung saja refleksnya tidak terlalu berlebihan. Matanya jatuh pada seseorang yang tengah berjongkok di halamannya, dan bermain dengan salju.

Itu, pemuda yang tadi.

Jungkook menatapnya heran namun kemudian melangkahkan kakinya. Dia menekukkan kakinya yang panjang untuk mensejajarkan pemuda yang sedang berjongkok itu.

"Kau mengikuti ku?"

Tidak ada jawaban.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

Tidak ada jawaban.

"Hei?"

Masih tidak ada jawaban.

"Apa kau tidak bisa mendengar atau tidak mau berbicara?" Jungkook menepuk bahunya pelan setelah menghembuskan nafasnya kasar. Hei, diacuhkan itu juga menyebalkan, kan?

Akhirnya pemuda itu menoleh dari salju saljunya. Dia menatap Jungkook dengan menerawang, seolah memiliki kemampuan tembus pandang. Kemudian detik selanjutnya, lelaki yang lebih tinggi mendengar sebuah suara yang membuatnya mengerti alasan mengapa pemuda aneh itu berada di sini.

Sudah pasti. Dia lapar.

"Ayo masuk," Jungkook berjalan mendekati pintu rumahnya, "Akan kubuatkan ramyun kalau kau mau." Lanjutnya sambil berpikir apakah pemuda itu mau mengikutinya?

Namun, setelah ia berhasil membuka pintu. Jungkook yakin bahwa seseorang sudah berada tepat di belakangnya. Ternyata benar kan? dia pasti sangat kelaparan hingga terlantar seperti itu.

"Silahkan masuk. Maaf tidak terlalu besar." Jungkook melepas sepatunya dan mengganti dengan slipper, "Kau bisa gunakan yang ini." Lelaki itu menunjuk slipper lain berwarna merah. Disusul dengan gerakan lambat pemuda pendatang malam ini yang tengah melepas converse nya dan mengenakan slipper.

Jungkook menggeleng geleng. Sebagai seorang pemuda, gerakannya benar-benar lambat.

"Kau bisa tunggu di depan televisi. Akan kumasakkan." Lelaki yang lebih pendek, bergerak menuju ruangan yang ditunjuk Jungkook, sementara ia beralih ke dapur. Ruang untuk menonton televisi tidak dibatasi apapun dengan dapur. Paling hanya meja panjang yang jarang digunakan. Karena biasanya Jungkook lebih memilih makan di galeri atau di kamarnya, atau mungkin di tempat dimana pemuda tamunya duduk.

Pemuda itu masih diam saja. dia hanya duduk, memandang layar yang tidak menyala. Benar-benar aneh. Jungkook sempat berpikir kalau dia bukan manusia. Tapi setelah melihat kakinya yang menapak dan masuk kedalam slipper, Jungkook yakin presepsi nya salah.

"Ngomong-ngomong siapa namamu?"

Pemuda itu hanya menoleh pada Jungkook kemudian mengerutkan dahinya seperti mengingat sesuatu. Dia tampak akan berbicara, namun bibirnya terkatup lagi. Membuat Jungkook cukup kesal, tetapi tetap saja penasaran.

"Tidak punya nama?" Tanya Jungkook lagi sambil memasukkan bumbu bumbu ramyun kemudian mengaduknya.

Masih diam.

Jungkook jadi merasa berbicara pada dirinya sendiri. Dia memang lumayan jarang berbicara pada orang lain sih, namun setidaknya dia menjawab saat ditanya. Bukankah itu yang namanya etika?

Lelaki itu mematikan kompor kemudian mengangkat panci ramyun dan membawanya ke depan televisi. Di sana ada meja kecil untuk makan, walaupun jarang digunakan. Jungkook kemudian kembali kedapur untuk mengambil mangkuk dan sumpit lalu kembali lagi.

"Ramyunnya sudah jadi." Lelaki itu membuka tutup panci. Kemudian mengangkat mangkuk dan sumpit, "Mari makan!"

Jungkook sudah mengambil ramyun dan memakannya. Namun, hingga suapan ketiga, pemuda di hadapannya masih diam saja.

"Ayo dimakan! Rasanya enak kok. Setidaknya standar."

Pemuda itu masih diam.

Jungkook jadi merasa mungkin dia tidak tau cara menggunakan sumpit, tapi itu sepertinya tidak mungkin. Lelaki itu kemudian menyumpit ramyun kemudian memasukkannya ke dalam mangkuk milik pemuda di hadapannya.

"Ayo dimakan!"

Pemuda itu mengangkat tangannya untuk mengenggam sumpit. Kemudian menyumpit sedikit ramyun yang diberikan Jungkook. Sedang yang memberikan, tengah memperhatikannya dengan seksama.

Gerakannya lambat.

"Enak, kan?" Jungkook bertanya sambil merendahkan pandangannya, agar dapat melihat wajah pemuda bertubuh kecil itu yang tengah menunduk.

Jungkook tersenyum setelah mendapati sebuah anggukan, "Cepat dimakan sebelum dingin. Gerakanmu lambat sekali."

Pemuda di depannya menyumpit lagi, kemudian memasukkannya kedalam mulut. Jungkook bernafas lega kemudian kembali makan dengan nyaman.

Namun, tidak sama dengan beberapa saat setelahnya. Jungkook merasa hampir mati tersedak ramyun yang panas. Dia bukannya tersedak tanpa sebab. Tetapi karena –

"Kau itu banyak bicara, ya."

–pemuda dihadapannya telah mengeluarkan suara untuk pertamakalinya.

.

.

.

.

TBC


A/N :

hehehe annyeong!

sebenernya ff ini buat seseorang /jiahhh/ gak deng, buat semua readers juga boleh kok!

dan kayaknya, ini kependekan ya? ceritanya juga gaje wkwkw xD tapi gapapa lah~

btw, siapa tuh si 'pemuda'?

.

.

RnR? Kamsahamnida ^^~