A FangxBoBoiBoy fanfiction

Pair: FxBBB

BoBoiBoy belongs to Animonsta Studios, if the show belongs to me there would be more FangBBB moments :^)

Note:
This is my first story! I am a newbie, so, kritik dan saran sangat diperlukan! I write this on my phone. I'm trying my best to not let any mistake pass my eyes, but I'm only human jadi mohon bantuannya! Gaya tulisanku aneh, aku emang anak kampung, sih. Banyak juga kesalahan dalam entah pengejaan, kata depan dan semacamnya sebab aku tak begitu suka pelajaran Bahasa Indonesia.

Here's your story! Enjoy! ^^

1. Of Basketball and Dihydrogen Monoxide

Namanya Fang. Seorang pemuda keturunan Chinese yang agaknya beruntung, dianugerahi wajah tampan dan otak yang tidak bisa disebut pas-pasan. Bila Kawan menilai dia sepintas, maka yang terbayang olehmu adalah masa depannya di sebuah laboratorium, berjas putih, mikroskoplah sahabatnya.

Atau jika Kawan punya imajinasi yang lebih ekstrim, mungkin kau membayangkan membunuh dia dengan memberi racun di lembar buku-buku yang tak pernah lepas dari jemarinya, lalu saat dia makan donat lobak merah kesukaannya, dengan jari berlumuran racun, kita akan menemukan mayatnya di perpustakaan. Atau mungkin kamu hanya ada sedikit kelainan jiwa saja. Hei, tak baik memikirkan yang jelek tentang orang lain, tahu tidak?

Tapi racun sesungguhnya bagi lelaki muda berambut biru gelap ini bukanlah seperti yang Kawan pikirkan itu. Racun ini lebih kejam dari idemu, karena racun ini seakan-akan membunuhnya perlahan, dan dia membiarkan hal itu. Sekuat jiwanya dia berusaha untuk tidak mengacuhkan sakit di dadanya akibat racun itu. Jangan kau sebut dia bodoh karena ia berusaha tak peduli, lihatlah kacamata yang menempel dimukanya, dia cerdas bukan buatan! Racun ini memang, oh, sangat berbahaya, karena membikin kecanduan juga.

Racun bagi insan tampan satu kita ini, tak lain dan tak bukan, sudah di dendangkan banyak pedangdut, adalah cinta. Oh, peliknya~

Ya, memang cinta, Kawan. Racun baginya, sebab makin hari cintanya pada 'seseorang' ini semakin besar saja, tak tertahan, tidak terperi dan menyesakkan.

Bentuk pernyataan cinta Fang kepada 'seseorang' tadi sebenarnya jelas bagi orang lain-teman-teman mereka- tapi tidak bagi yang dituju, sebab walau tak terucap ia selalu ada bagi 'seseorang' ini. Dia pernah menawarkan diri mengajar 'seseorang' tersebut ilmu pasti tiada 'mungkin'; matematika, dan walau dianggap hanya sombong dia benar-benar melakukannya. Dia hanya bicara diluar karakter dirinya dengan 'seseorang' itu, dari asli sifatnya yang dingin dan pendiam, tapi pada 'seseorang' ini dia menjadi jahil dan banyak bicara. Jahil? Ya, dia juga senang melihat wajah marah 'seseorang' ini. Wajah merona 'seseorang' itu juga sering dicarinya, dengan memuji dia diam-diam. Apa pun dilakukannya, demi agar orang itu selalu melihatnya. Jelas sekali, bukan?
Astaga, Kawan, hampir 4 tahun mereka sudah saling kenal! Keduanya 15 tahun sekarang, ya, ya, hitunglah sendiri sejak umur berapa mereka berjumpa. Tapi cintanya tak kunjung peka.

Mungkin kau mulai bertanya-tanya siapa si bodoh yang tidak peka itu, dan untuk apa Fang mengharapkan orang seperti dia? Mungkin kau juga sudah bosan membaca kata 'seseorang' yang kupakai menyamarkannya? Tidak? Apa peduliku, cerita tetap berlanjut. Sabarlah sedikit.

Salah sekali engkau mempertanyakan hal itu, Kawan, karena seseorang yang dicintai Fang setengah mati ini, memang menawan. Sungguhan, dia cerah menyejukkan bagaikan langit senja. Ceria, juga lembut dan baik hatinya. Malah, yang perlu kau tanyakan sebetulnya; sudah pantaskah Fang bagi dia? Sudah cukupkah usaha yang dilakukan Fang untuk mendapatkannya? Usaha = gaya x kecepatan, maka...- Oh, maaf.

Baik, mari kita kupas, eh, mari kita bahas cintanya Fang ini. Shall we begin?

Adalah seorang pemuda bernama BoBoiBoy, yang telah mencuri hatinya. Merampas seluruh bagian dirinya. Oh, kawan, kamu tak tahu betapa pusing Fang memikirkannya. Bermalam-malam tak tidur, hanya berusaha meredam debaran jantungnya yang tak karuan.

BoBoiBoy mungkin tidak seperti Fang yang pandai dalam bidang matematika dan basket. Dia juga tidak tinggi, atau memiliki tubuh yang, oh, mendebarkan seperti subjek awal pada cerita ini, dia kurus, walau pipinya nampak chubby dengan wajah "baby face" dan beberapa senti lebih pendek dari Fang.

Pesona BoBoiBoy terletak di kebaikan hatinya. Oh, bisa saja Fang mendaftar semua keistimewaan BoBoiBoy -nanti akan ada di cerita, kembali kuucapkan, sabarlah-namanya juga lagi jatuh cinta, tapi ada yang mengganjal, yaitu:

BoBoiBoy itu keterlaluan polosnya.

Ah, bukan cuma itu, harga diri Fang terlalu tinggi untuk menyatakan perasaannya secara langsung-bukan dengan tindakan-.

Maka jadi tak jelas bagi Fang, apa cinta Fang bertepuk sebelah tangan atau tidak, hanya Tuhan yang tahu, sebab BoBoiBoy sendiri tidak menyadarinya... Atau belum.

Banyak hal terjadi diantara mereka, konyol dan sedih, layaknya kisah cinta pada umumnya.

Apakah mereka akan berakhir bersama? Kau mau tahu kisah mereka?

Baiklah, mari kita mulai saja dari bagaimana Fang jatuh cinta.

FXBBB

Sebuah pagi yang cerah, sinar matahari menghangatkan walau ia masih malu-malu bersembunyi dibalik awan-awan, bunyi kicauan burung yang menyejukkan jiwa siapapun yang cukup sentimental untuk menikmatinya, serta udara segar dengan khasnya bau tanah sehabis hujan -semalam- telah retak keheningannya akibat sebuah teriakan mengerikan dari pemuda bersuara tinggi -yang sepertinya suaranya tak kunjung berubah bahkan dalam masa pubertas tapi bisa dikenali itu suara lelaki- bernama BoBoiBoy. Begini teriaknya:

"FAAAAAAAAAAAANG!"

Sama sekali tak salah bila BoBoiBoy berteriak, pasalnya, sebuah bola basket terpental dan mengenai kepala malangnya. Padahal dia punya niat baik datang ke lapangan basket sekolah dihari libur. Dia duduk sambil mengelus-elus kepalanya, sementara orang aneh yang main basket sendirian pagi-pagi itu segera berlari mendatanginya.

"BoBoiBoy! Aduh, sorry, aku tak lihat kau disitu!" kata orang aneh itu padanya. BoBoiBoy masih sibuk mengoceh dan mengomel, mengeluh sakitlah, bakal benjollah, inilah, itulah. Matanya berkaca-kaca pula!

"Oi, kubilang maaf!" ucap pemuda tinggi yang gila basket itu, dan mencubit pipi BoBoiBoy. BoBoiBoy menepis tangannya. "Fang jelek!" katanya sambil mendengus. Fang lalu berjongkok.

"Haha, kau kecil, sih, makanya kena bola. Main basket, 'dong, biar sepertiku." jawab Fang balas meledek dan tak tersinggung dengan ucapan BoBoiBoy. Semacam tak ada artinya baik besar atau kecil tekanan yang diberikan pada bidang. Tak pengaruh, lah.

"Heh, mana mau aku jadi sepertimu, dasar menyebalkan, hari libur main basket sendiri seperti orang bodoh. Lebih seru juga sepak bola!" bantah BoBoiBoy. "Lagipula, tak ada hubungannya aku kecil dan bola basket yang mengenai kepalaku olehmu, bodoh!" tambahnya. Fang tertawa kecil, "Lantas, kau datang ke lapangan basket ini 'ngapain? Mau ikut jadi bodoh juga?" BoBoiBoy terdiam, sepertinya putri dari cerita kita ini kelupaan sesuatu. Dia menggaruk kepalanya seakan-akan tadi ia tidak terkena bola basket.

BoBoiBoy menundukkan kepalanya, meraih tas selempang kecil berwarna hitam merah berbahan kain yang sudah merosot dari bahunya. "A-aku lihat kau selalu kesini tiap akhir minggu dan liburan, jadi hari ini aku mau menonton kau main," mulainya, "dan kubawakan kau minum, jika kau mau, tentu saja." kepalanya semakin dalam menunduk, sambil menyodorkan sebotol air mineral. 'Tahu darimana anak ini aku tak bawa minum?' batin Fang. Tapi dia menerima botol plastik itu dan meneguk air sekenanya. Sembari mengelap mulutnya, dia mengucapkan terimakasih.

BoBoiBoy mendongak dan tersenyum/asdfghjklmanisnya/.

"Sama-sama!"

Saat melihat senyum itu, seperti beberapa bagian dari Fang jadi retak. Kebaikan hati BoBoiBoy itu, perhatian khususnya untuk Fang, caranya tersenyum... Senyumnya... Semua sangat memesona.

"Fang?"

Hanya perlu beberapa detik senyuman dan sedikit kebaikan bagi Fang untuk jatuh cinta.

Padahal sudah saling kenal lama. Kenapa malah sekarang timbul ada rasa? Aduh...

"Faang? Apa kau akan main lagi tidak?"

Ah, ia harus segera kembali ke dunia nyata.

"Hoi, kalau sudah tak main biar aku pulang, nih!"

"Tidak, tidak, aku main lagi kok." jawab Fang cepat. "Bagus, aku nonton dari sini, ya?" "Iya."

"Ngg... Fang?"

"Ya?"

"BOLANYA KULEMPAR, YA, HIAAAAATTT-" teriak BoBoiBoy yang tahu-tahu sudah berdiri dan sekuat tenaga melempar bola basket ke tengah lapangan. Fang kelabakan! Tapi akhirnya dia bangkit dan berlari juga mengejar bola itu, menangkapnya, mendribblenya kesana-kemari, meng-shootnya ke ring, begitu terus, dan dia bermain sedikit tidak karuan karena- "TERBAIKLAH KAU FANG!" -sorakkan BoBoiBoy.

'Oh, Tuhan, lenyapkanlah aku sekarang juga, perasaan ini terlalu menyenangkan dan menyiksa di saat yang sama...' kira-kira begitulah isi pikiran Fang mengusaikan permainannya, sambil dia berjalan ke arah seseorang, yang baru saja membuatnya jatuh cinta itu.

'Ayo, Fang, pikirkan sesuatu- ah, hausnya... Haus? Air? Minum? Oh!'

"Oi, BoBoiBoy!"

"Apa?"

"Mulai sekarang tiap aku main basket kau bertugas membelikan aku minum, ya!"

"Hah?!"

Dan di minggu selanjutnya BoBoiBoy muncul lagi di lapangan itu sambil membawa, kali ini, dua botol air mineral.

FIN or TBC?

Haaaaa, jadi ini adalah pengenalan(halah) plus awal! Mungkin nampak plotless, karena sejatinya ini pengen kubuat jadi semacam kumpulan cerita aja, tapi semoga tetap dapat menghibur! :)
Membosankan, ya? Kuharap aku bisa meningkat jadi lebih baik lagi. Menulis ini, yaaaa, sekedar hobi kala senggang saja ^^