Genre: Sci-Fi, Drama

Rate: T

Disclaimer: God of War Series & Ubisoft (Assassins Creed Series)

Chapter 01

Malam yang berat bagi Shimasaki Mayumi.

Mayumi selesai mengerjakan tugas khusus dari dosen di mana beliau harus meninggalkan Oxford University untuk melakukan penelitian di Italia mengenai tata hukum dan aturan pada masa medieval atau abad pertengahan. Sampai-sampai, Mayumi lebih sering begadang dan nyaris mengalami insomnia.

Gadis itu tidur pulas sampai dia mengalami mimpi buruk. Dia melihat ada kejadian yang membuatnya ketakutan sekaligus mengerikan. Dia melihat Satoru terjun dari atap hotel dan tercebur ke dalam dasar laut, hingga sulit bernafas. Mayumi mencoba untuk menolong Satoru, tetapi dia tidak sampai memegang tangannya. Dia melihat di tangannya, ada sebongkah besi yang mirip seperti jangkar hingga membuat Satoru kesulitan untuk berenang.

Kemudian, Mayumi menangis keras di mimpinya hingga dia terbangun dari mimpi buruknya, dengan napas tidak karuan. Mayumi yang selama ini tegar dan semangat tiba-tiba dikejutkan mimpi buruk yang mengerikan. Rambutnya yang sekarang disemir berwarna blonde dan rambutnya panjang, Tangan kirinya mengenggam lengan kanan, sementara tangan kanannya memegang wajahnya yang ketakutan, mirip seperti dikejar oleh setan.

Mayumi menoleh jam weker di rumahnya, ternyata pukul 02.48 dini hari. Suasana kota di London terasa sepi, gelap gulita dan nyaris tidak ada orang-orang yang berlalu lalang melewati pinggir jalan rumah miliknya. Apalagi, kamarnya berduaan dengan adiknya, Mayuri yang sedang tertidur lelap sambil memeluk guling miliknya. Mayumi pasti memperkirakan kalau Mayuri pasti sedang kencan sedang Koichirou, kakak Asuna. Walaupun begitu, dia merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Satoru. Dia membuka selimutnya, dan terlihat bahwa kakinya gemetar tidak seperti biasanya. Dia mencoba menghubungi pacarnya tersebut, namun tidak bisa karena telpon tidak diangkat. Dia sms kepada Satoru, tetapi tidak dibalas. Mayumi bertanya-tanya ke mana perginya Satoru.

"Satoru…apa yang terjadi padamu?" kata Mayumi dalam hati.

"Kenapa perasaanku jadi gelisah begini? Di mana Satoru?" kata Mayumi terus meracau hingga dia membuka pintu belakangnya.

Mayumi menghirup udara sejenak sebelum tidur. Biasanya, ayahnya Shimasaki Tooru selalu membacakan dongeng tentang pahlawan, sejarah dunia maupun motivasi untuk membangkitkan semangat dalam diri Mayumi dan Mayuri supaya selalu berpikir ke depan alias move on. Namun, untuk urusan cinta, dia sulit untuk move on. Pasalnya, dia terlanjur sayang kepada Satoru, dan tidak ingin melepaskannya begitu saja. Dia terlalu baik baginya, hingga Satoru mengorbankan nyawa untuknya. Tetapi, dia tidak melakukan apapun selain mengincar masa depan, seperti karier. Yang dia butuhkan, adalah mengejar cita-cita bersama Satoru.

"Aku harus istirahat. Mungkin, Cuma feelingku saja yang gelisah. Siapa tahu, besok aku hubungi nomornya, dia baik-baik saja," kata Mayumi dalam hati memberi semangat untuk dirinya yang dirundung gelisah.

Akhirnya Mayumi memutuskan untuk tidur setelah dia menghirup udara bebas di luar. Dia menutup pintunya, dan berjalan ke tempat tidur. Dia mengenakan selimut, dan berdoa semoga Satoru baik-baik saja di sana. Angin yang masih meniup membuat tubuh Mayumi merasa lebih rileks alih-alih AC dinyalahkan dekat kasur samping kiri. Kemudian, dia memejamkan mati di dalam kesunyian yang indah dan nyaman di pulau kapuk.

~o0o~

Keesokan harinya, Mayumi terbangun, dan melihat jam weker. Ternyata, pukul 07.06 pagi. Untungnya, Mayumi sedang off kuliah dan kerja. Dia sekarang kuliah di Oxford University bersama Mayuri walaupun berbeda jurusan. Dia mengambil jurusan Hukum karena dia menentang kebijakan seperti tuduhan masyarakat kepada pelaku yang terbukti tidak bersalah. Dia miris jika para polisi menangkap orang tua tanpa mengetahui pokok permasalahannya terlebih dahulu, sehingga dia tergerak di bidang hukum supaya hukum di Jepang harus lebih tegas mengenai tuduhan maupun pembunuhan. Selain itu, Mayumi pandai bergaul dengan siapapun serta jago menggunakan naginata, tombak kesayangan miliknya yang dipajang di ruang tamu.

Bagi masyarakat Inggris yang masih belum paham soal naginata, menanggap itu hanya dekorasi semata. Namun, bagi orang Jepang, hal itu memang diperlukan jika salah satu keluarga berlatih menggunakan tombak tersebut. Naginata miliknya cukup panjang, sekitar 12 cm, ujung lancip di bagian atas dan melengkung di sebelah kiri. Mayumi sering latihan di luar jika tidak ada orang di sekitar. Dan juga, dia menggunakan senjata itu untuk menakut-nakuti orang yang berani mengancam kepada dirinya dan adiknya. Untuk itulah, dia terus berlatih supaya dia bisa menjaga dirinya sendiri dari bahaya.

"Nee-chan, ayo makan. Aku sudah siapkan makanan untukmu," kata Mayuri

"Gomen, Mayuri. Aku ketiduran lagi," kata Mayumi dalam kondisi setengah sadar. Maklum saja, dia mengenakan piyama kuning yang bermotif beruang dan rambutnya masih acak-acak.

"Ketiduran lagi? Iya udah cepat mandi sana. Habis itu, kita jalan-jalan keluar. Aku ingin kita beli pakaian untuk besok." Kata Mayuri sambil memasak sarapan untuk mereka berdua.

Beda halnya dengan Mayuri yang selalu memperhatikan penampilan. Dia selektif sekali soal fashion maupun rambut. Bahkan, dia sekali-kali memperingatkan kakaknya untuk memperhatikan kedua hal yang berbau cewek supaya satoru tertarik kepadanya. Namun, Mayumi tidak menggubrisnya. Satoru memang lebih suka natural saja, tanpa harus diberi make up maupun aksesoris lainnya. Jadi, mau tidak mau Mayuri memaksa mayumi untuk merias dengan bedak tipis. Alhasil, saat di perjalanan, Mayumi merasa tidak nyaman date dengan Satoru.

"Beli baju? Gak mau ahhh," kata Mayumi menolak malas.

"Nee-chan! Tidak boleh begitu! Kalau Satoru batalkan karena pakaianmu, bisa-bisa kencanmu batal lho!" kata Mayuri memperingatkan Mayumi untuk peduli soal fashion.

"Hahahaha. Aku tidak mau!" kata Mayumi menjulurkan lidah kepada Mayuri dan langsung mandi di kamar mandi.

"Mooouu! Nee-chan selalu bersikap seperti itu!" kata Mayuri cemberut.

Mayuri memang berbeda dari kakaknya, Mayumi. Dia selalu mengenakan kacamata walaupun rambutnya berbeda. Hal itu juga membedakan antara dirinya dan Mayumi karena mereka adalah saudara kembar. Dia sekarang kuliah di universitas yang sama dengan Mayumi, Oxford. Dia kuliah di pendidikan kimia karena dia lebih ahli dalam urusan ramuan aneh. Bahkan, dia mempelajari skill sihir di sebuah organisasi yang bernama OMC (Oxford Magic Community) serta bergabung dengan MaDom (Magic Kingdom) alias komunitas sihir di Inggris. Tujuannya ingin mempelajari sihir, di mana masyarakat memandang sihir itu Cuma mitos atau khayalan semata. Tetapi, dengan bantuan alat canggih beserta tekad besar dalam diri Mayuri, dia sedikit menguasai elemen es. Alat canggih itu bernama Glove Magic, di mana perusahaan Jepang yang bernama Hayasaku, co mengembangkan alat canggih khusus untuk masyarakat Jepang yang fanatic dengan sihir. Untuk itulah, Mayuri menjadi brand ambassador bagi perusahaan tersebut.

Diam-diam, Mayuri juga belajar memasak untuk Koichirou, karena dia ingin memberikan masakan yang special untuknya. Mengingat, mereka berdua jarang bersama karena kesibukan masing-masing. Semenjak Tim Assassin dibubarkan, mereka kembali ke kehidupan lama masing-masing. Koichirou meneruskan usaha milik ayahnya di bidang game online, Morinaga Ichinose menjadi seorang detektif terkenal di dunia, dan sering diminta untuk bekerja sama di bawah bimbingannya. Bahkan, dia mendirikan sekolah khusus untuk detektif bagi yang memiliki kemauan untuk menjadi seorang penyelidik maupun detektif terkenal seperti dirinya, dan mencari penerus seandainya dia mau pensiun dari dunia yang dia geluti. Sedangkan, Kurugawa Koji menjadi pelatih dan satu-satunya menggunakan kenpo, silat, judo, karate, dan taebo sekaligus. Bahkan, dia berlatih di Afrika Selatan bersama para muridnya dan membantu sesame manusia untuk menolong orang yang kelaparan. Konon, dia terus membantu tanpa lelah walau dia kekurangan makanan maupun air, karena dia mendapatkan bantuan dari UNICEF untuk menjadi duta bagi anak-anak.

~o0o~

Sementara itu, Mayumi sedang mandi berendam di bathtub yang berbentuk persegi panjang dan airnya menutupi lekukan tubuhnya. Dia merasa tenang jika dia terus menerus berendam di bathtub. Ada sabun, sampo di sampingnya dan handuk ditaruh di gantungan pintu.

"Ahhh…benar-benar enjoy hari ini. Tetapi…kenapa Satoru tidak menghubungiku iya? Aku kangen sama dia." Kata Mayumi menutup matanya mengingat masa-masa pacaran bersamanya.

Amusement Park Nagoya, 2 tahun yang lalu.

Satoru mengajak Mayumi ke Amusement Park Nagoya sekaligus kencan pertama mereka. Ketika itu, Satoru naik bis bersama Mayumi sambil ngobrol-ngobrol.

"Hari ini benar-benar indah iya?" Tanya Mayumi.

"Iya." Kata Satoru tersenyum.

"Huh?! Hanya 'iya' saja?" kata Mayumi terbelalak.

"Terus mau ngomong apa? Masak aku harus bilang OMG atau 'iya begitulah. Begitu indahnya sampai kangen sama kamu' maksudmu! Yang benar saja!" kata Satoru cerewet.

"Bilang aja 'iya. Begitulah'. Arrggghhh! Kenapa aku juga harus ngomong kayak gini juga! Cara ini tidak berhasil!" kata Mayumi nada stress sambil memegang kepalanya.

Satoru tertawa terbahak-bahak mendengar sisi lain Mayumi. Walaupun dia terlihat seperti Tsundere, tetapi dia menanggap Mayumi itu tomboy dan mudah diajak bergaul.

"Cara apaan? Jangan-jangan, kau Tanya kepada Koichirou dan adikmu, Mayuri iya?" kata Satoru.

Mayumi mengangguk pelan. Rencana kencan bersama Satoru gagal karena sikapnya yang terlalu nervous. Namun, Satoru masih tetap seperti dulu. Yaitu, bersikap cool kepadanya, dan bijaksana. Walau begitu, dia punya ide yang cukup cemerlang.

"Aku punya. Kita bikin jerapah bersama-sama. Dan barang siapa yang gambarnya bagus, yang kalah harus traktir apapun di taman bermain. Bagaimana?!" tantang Satoru tersenyum licik.

"Ok, fine! Aku gak takut sama kamu, Satoru!" jawab Mayumi pede.

Satoru dan Mayumi mulai menggambar bareng-bareng di kertas secara bersamaan. Setelah 5 menit berlalu, mereka sudah selesai. Saat Mayumi melihat gambar jerapah milik Satoru, dia tertawa terbahak-bahak melihat Jerapah buatannya. Gambar yang terlintas di pikiran Mayumi bukan jerapah, tetapi alien yang berleher panjang.

"Hahahahaha! Apaan itu? Gambarmu jelek sekali, Satoru!" kata Mayumi tertawa.

"Memangnya kenapa? Aku memang bisa gambar kok," kata Satoru cemberut.

"Kau ini masih kecil, iya?

"Biarin! Yang penting gambar buatan diriku lebih baik daripada kamu," kata Satoru menjulurkan lidah ke Mayumi.

"Ya ampun, Satoru! Kau sudah besar, Satoru. Mana ada orang gambar jerapah yang lehernya semrawut gak jelas begitu!" kata Mayumi menunjuk gambar jerapah yang lehernya melengkung seperti ular dan bersisik seperti ikan.

Mereka semua tertawa lepas, tanpa peduli sekitar karena di bis, penumpangnya hanya 3 orang, termasuk Supir, Satoru dan Mayumi. Selain itu, jam pukul 08.41. masih terlalu dini dibukanya Amusement Park Nagoya. Namun, mereka berdua memutuskan untuk ketemu langsung hanya 1 tujuan, yaitu bermain-main di pantai yang letaknya dekat dengan dengan kincir angin.

Pantainya sangat indah. Pasirnya putih halus, dan nyaris tidak ada sampah di sana. selain itu, mereka bisa bercengkrama melihat panorama sunset atau sunshine di sana. Selain suasanya yang tenang dan sejuk, pantai tersebut menyajikan beberapa aneka macam makanan dan souvenir untuk kenang-kenangan. Bahkan, ada pahatan yang sudah jadi berbentuk beruang, love, binatang, dan lain-lainnya. Karena itulah, Satoru dan Mayumi ke sana untuk rileks. Mereka ingin menjalani kehidupan normal selayaknya pasangan kekasih, tanpa khawatir mereka diburu oleh para Templar.

Akhirnya, mereka berdua sampai di pantai dekat Amusement Park Nagoya. Satoru dan Mayumi tiba di sana. Mereka berdua menghirup udara pantai sambil tertawa. Satoru merogoh keranjang miliknya, dan ternyata, dia membawa kucing Persia berwarna putih bergaris perak. Sontak saja, membuat Mayumi kelabakan dan mengelus pipi dan kepala si kucing tersebut.

"Lucunya!" kata Mayumi gemas melihat kucing yang imut.

Bayangkan saja, bulu kucingnya halus, lembut, di lehernya diberi kalung lonceng supaya tidak menghilang dengan mudah.

"Siapa namanya, Satoru?" Tanya Mayumi.

"Aku beri nama diaMeow. Karena dia sering meow mulu," kata Satoru mengelus-elus kepala si kucing.

"Meow. Kau suka dengan Mayumi iya?" tambah Satoru bernada imut. Hal itu membuat Mayumi kaget.

"Oi, oi! Kau menggunakan suara kucing imut? Memangnya suaramu berapa oktav?" kata Mayumi heran.

"Hahahaha. Aku gak paham apa yang kau bicarakan. Lagipula, aku suka dengan kucing ini. Hal ini membuatku semakin kangen sama kamu, Mayumi," kata Satoru tersenyum.

Deggg…

Jantung berdetak lebih kencang dari biasanya. Perkataan Satoru membuat wajah Mayumi merah padam, dan tangannya gemetaran. Dia sebenarnya senang dipuji, namun tidak mau mengakuinya karena kehormatan yang terlalu tinggi. Kemudian, Mayumi mencoba menarik napas panjang dan mulai tenang walau dalam dirinya masih gembira dengan pujiannya.

"Lalu, kenapa kau suka kucing Persia?" Tanya Mayumi.

"Karena…aku ingat dengan masa kecilku yang damai."

"Masa kecil?" Tanya Mayumi bingung.

"Iya. Dulu sebelum aku seorang Assassin, aku punya keluarga. Punya ayah dan ibu beserta adik itu rasanya seperti keluarga bahagia. Selain itu, aku sering merawat hewan kapanpun aku mau dan bermain bersama. Hal itulah membuatku teringat kembali masa kecilku yang damai. Aku yakin, kau pasti bakal mendapatkan kebahagiaan dengan caramu sendiri," kata Satoru tersenyum.

Kata-kata Satoru inilah yang membuat Mayumi jatuh hati kepadanya. Dia tidak ingin berpisah darinya walau dia tahu resiko jika Satoru adalah Mentor Assassin. Dia tidak peduli soal status itu. Yang dia pedulikan adalah bagaimana cara membahagiakan Satoru supaya dia tidak menderita di masa lalunya. Dia ingin memeluknya, tetapi takut melukai hatinya.

Saat itulah, Mayumi menatap ke jendela, dan tersenyum. Dia berkata, "Ada kalanya, Satoru bersikap kekanak-kanakan jika bertemu denganku. Kapan iya aku bertemu dengannya?"

~o0o~

Setelah memasak roti bakar dengan selai strawberry, Mayuri juga menyiapkan gelas susu untuk mereka berdua. Kemudian, dia menyalakan TVnya channel BBC.

"Pemirsa, 2 hari yang lalu, seorang pria yang menjadi saksi pembunuhan oleh segerombolan mafia masih belum diketahui keberadaannya. Pria ini berumur 27 tahun, dan terlihat dia berlari dari segerombolan para mafia yang mengintainya. Menurut sumber kami, dia terus berlari hingga ke hotel Crystal. Namun, setelah diselidiki, ternyata pria tersebut tidak ada di hotel. Para pekerja hotel mengaku, tidak tahu soal ini. Namun, dia membenarkan bahwa ada pria yang berlari ke arah atap yang tepat berada di lantai 22. Penyebab kejadian ini masih belum diketahui, tetapi pihak kepolisian akan terus menyelidiki kasus ini. Dan fotonya seperti ini."

Ketika pembaca berita menayangkan video, dan juga menunjukkan foto saksinya, Mayuri shock setengah mati. Ternyata, foto itu adalah Kirigaya Satoru, kekasih Mayumi. Dia menutup mulutnya sambil meneteskan air mata. Tangannya yang semula menyiapkan sarapan tiba-tiba berhenti. Hati Mayuri sesak, seakan-akan dirinya mengalami patah hati diputusin oleh lelaki. Jika Mayumi mengetahui soal ini, dia pasti shock berat, dan terus mencari Satoru sampai ketemu tanpa mempedulikan kondisinya.

Mayuri memutuskan untuk segera menghubungi Koichirou, Ichinose dan Koji. Mereka bertiga harus tahu kejadian ini supaya mereka bisa mencari keberadaan Satoru. Dia menelpon bertiga sekaligus di iPhone 5.

"Halo, Koichirou-sama." Kata Mayuri keluar dari ruangan dan mencari tempat sepi.

"Ada apa Mayuri?" kata Koichirou.

"Satoru…dia menghilang." Kata Mayuri terbata-bata.

Dunia seakan kiamat. Mendengar beritanya, membuat Koichirou kaget bukan kepalang. Dia ternyata memiliki firasat yang sama persis dengan Mayumi walau menganggap Satoru adalah rival sekaligus sahabat dekatnya. Mengepalkan tangan kiri, dan berkata, "Mayuri, apa benar Satoru menghilang?"

"Iya, aku tidak bohong. Aku tadi melihat channel BBC di TV." Kata Mayuri mempertegas ucapan yang menurut Koichirou masih meragukan.

"Ehhh?! Serius?!" kata Ichinose di telpon.

"Apa?! Shissou…menghilang?!" geram Koji di telpon.

"Benar. Kali ini, pihak Templar telah menargetkan Satoru sebagai buronan berbahaya. Aku yakin, mereka ingin mengambil manuscript lagi." Kata mayuri.

"Itu tidak mungkin, Mayuri. Setahuku, Manuscript sudah dikubur oleh Satoru. Bagaimana bisa Templar mengambil kembali?! Ini tidak masuk akal!" kata Koichirou nada kesal.

Memang apa yang disampaikan oleh Koichirou ada benarnya juga. Pasalnya, Kazuto, Asuna, Koichirou dan Satoru bersama-sama menggali dan menguburkan rahasia penting Templar di Paris supaya mencegah terjadinya pemberontakan untuk kedua kalinya. Namun, kenapa Satoru berada di Athens, Yunani yang notabene para dewa dewi kuno di Yunani?

"Tetapi bisa saja Satoru ingin menjauh dari kita supaya kita semua tidak terlibat dalam konflik rumit ini." Kata Mayuri menduga hal tersebut bakal terjadi lagi.

"Itu tidak mungkin Mayuri-san. Jika Templar mengincar Satoru, mereka tidak punya apa-apa, kecuali..."

"Aku tidak mengerti mengapa shissou menghilang, tetapi aku yakin ini pasti mengenai benda Templar lagi iya?" kata Koji geram kepada Templar.

Koji memang anti Templar semenjak dia disergap dan dianggap berkhianat oleh mereka. Untuk itulah, dia tidak segan-segan membunuh mereka yang bertanggung jawab soal penyiksaan maupun pembunuhan sadis kepada orang tidak mampu.

"Chip." Kata singkat di samping kanan Mayuri.

Mayuri terkejut dan menoleh ke kanan. Pria itu berambut silver, dan mengenakan baju polo shirt yang dipadu dengan jas hitam yang super tebal dan Kevlar di dalamnya. Selain itu, dia juga membawa busur elektrik dan panah di punggungnya. Terlihat jelas kalau panahnya kecil walau isinya sangat banyak.

"Etto…anda siapa?" Tanya Mayuri.

"Kau siapa?" kata Koichirou mendengar suara laki-laki di samping Mayuri dengan sinis.

Pria itu membungkukkan badan, dan menaruh busur di ikat pinggangnya dan berkata, "Namaku Max Barton. Aku adalah agen informan dari Inggris. Dan kali ini, kasusnya besar, dan pelakunya, kemungkinan kita akan dibuuh dengan mudah oleh mereka."

To be Continued