Junmyeon jelas bukan seorang jenius, ia hanya merasa dirinya beruntung karena mendapatkan beasiswa Ashinaga—beasiswa pertukaran khusus untuk anak-anak yatim, piatu, dan yatim piatu yang membawanya tinggal di Tokyo. Dan karena kebodohannya sendiri, ia terlambat mendaftarkan dirinya guna mendapatkan kamar nyaman di asrama mahasiswa kampusnya. Beruntung, Yayasan Ashinaga memberikannya uang tambahan untuk tinggal di asrama pinggiran yang lumayan nyaman.

Malam itu, hampir saja Junmyeon tertinggal kereta. Maklum saja, daerah Hagiyama termasuk daerah pinggiran dengan sewa kamar murah, dengan fasilitan transportasi umum terbatas. Akses kereta dibatasi hanya sampai jam sepuluh malam saja. Dan hanya dilewati oleh dua jenis kereta—ekspress dan jenis biasa, yang hanya bisa diakses dari stasiun Takadanobaba. Kampus Junmyeon sendiri terletak di daerah Ikebukuro—daerah yang tak pernah mati, termasuk pusat kota dengan jalur kereta Yamanote yang terkenal di Tokyo itu—yang dilewati kereta hingga lewat tengah malam.

"Ugh sial. Dingin sekali malam ini." gumam Junmyeon sembari merapatkan coat cokelatnya. Udara di bulan Desember memang tak sedingin bulan Januari, tapi tetap saja membuat Junmyeon sanggup berhibernasi di gelungan selimut selama berhari-hari.

Di udara sedingin ini, hanya satu makanan yang ada dibenak Junmyeon.

Apa lagi bila bukan oden?

Oh, bahkan membayangkannya saja membuat Junmyeon menelan ludahnya.

Oleh karena itu, Junmyeon melangkahkan kakinya cepat-cepat menjauhi stasiun kecil yang nampak gelap tanpa penjagaan itu—terkadang ini membuat Junmyeon beruntung, karena ia dapat melewati tiang pembatas tanpa menekan kartu transportasinya, menuju kombini—convenience store berwarna hijau yang terletak tak jauh dari asramanya. Dengan langkah seribu, Junmyeon melewati tempat parkiran sepeda yang ramai saat siang, namun sangat sepi di kala malam, dan segera menapak menuju kombini yang letaknya hanya seratus meter dari parkiran sepeda tersebut.

Junmyeon menghela nafasnya saat berhasil memasuki Seven Eleven—nama kombini di dekat asramanya. Dan bersyukur karena kombini tersebut memiliki reibo—penghangat ruangan yang sangat nyaman. Sebelum memilih oden yang terdapat di samping kasir, Junmyeon terlebih dulu menghadap rak minuman hangat yang ada di sebelah rak makanan kotak—bento. Beer bukan pilihan bagus, mengingat Junmyeon memiliki morning class esok. Dan begitu juga dengan kopi.

Lama ia berpikir dan menimang-nimang dua jenis teh—teh hijau dan teh susu dengan label yang sama, lalu berakhir dengan ia yang menenteng teh susu favoritnya menuju bagian oden. Oh betapa girangnya hati Junmyeon karena pria pirang tinggi itu akhirnya datang lagi! Bukan bukan, pria itu bukan pembeli. Pria pirang itu adalah alasan mengapa Junmyeon mendatangi Seven Eleven setiap malamnya, selain karena ia lapar. Pria pirang itu adalah kasir di sana, dan sepertinya dia adalah pekerja paruh waktu. Sudah tiga hari kemarin, pria itu menghilang, dan itu cukup membuat Junmyeon melewati malamnya dengan uring-uringan.

"Oh, tunggu sebentar." ujar pria pirang itu.

Nampak Si Pirang sedang melayani tiga pelanggan—dua wanita dan satu pria melambai yang sedang memilih oden mereka. Ketiga pelanggan itu jelas bukan orang Jepang, karena satu pria dan satu wanitanya menggunakan bahasa Inggris dan entah bahasa apa yang Junmyeon juga tak pernah paham, sedang satunya lagi nampak menanya-nanyai Si Pirang dengan bahasa Jepang yang lumayan fasih. Junmyeon tersenyum ketika Si Pirang membalas ketiga pelanggan itu dengan bahasa Inggris yang baik. Satu poin lagi untuknya—Junmyeon adalah seorang gay dengan selera aneh, ia menyukai pria yang tampan dan pandai berbahasa Inggris.

Ketiga pelanggan yang berisik itu akhirnya berlalu, menyisakan Junmyeon dengan Si Pirang berdua di kombini yang sepi itu. Tentu saja, siapa orang yang sanggup keluar rumah pada larut malam di musim dingin seperti ini?

"Aku mau mochi, daikon, dan chikuwa." kata Junmyeon yang menunjuk masing-masing oden.

"Oh, hanya tiga?" Si Pirang seperti kecewa. "Aku sudah menyiapkan wadah large."

Sekedar informasi, wadah oden terbagi menjadi dua di Jepang. Yang satu regular, dengan kapasitas tiga jenis oden, yang lainnya adalah large, dengan kapasitas lebih dari tiga jenis.

Junmyeon tentu saja tak tega melihat wajah kecewa Si Pirang. Memang, biasanya ia akan memborong minimal lima jenis oden. Tapi tadi sore, ia sempat memakan onigiri salmon di kombini kampusnya.

"Ehm….." Junmyeon melihat-lihat panci oden itu sekali lagi sebelum menunjuk dua jenis lagi. "Toriniku satu dan shiratakinya satu." lanjutnya dengan yakin.

Si pirang segera memasukkan dua oden tambahan itu, dan segera membungkusnya. Setelah itu, ia menotal pengeluaran Junmyeon.

"Terima kasih. Datang kembali esok ya, manis." Si Pirang menyerahkan uang kembaliannya.

Junmyeon terkesima. Ia tak salah dengar, kan?

.

.

.

Junmyeon tahu jelas malam itu akan turun hujan. Namun ia tak membawa payungnya, karena ia mengira tak akan pulang selarut ini. Terima kasih atas ajakan teman sekelasnya, yang membawanya menuju restoran cepat saji di samping stasiun, berdalih untuk mempererat pertemanan mereka. Junmyeon sendiri memesan sepaket rice baagaa—burger nasi, namun pelayan di sana malah membuatkannya dua paket. Terpaksa ia membawa pulang sepaket lainnya! Ugh, mengingatnya saja membuat Junmyeon kesal.

Kaki pendeknya berlarian melewati jalan setapak yang menurun, dan tanpa pikir panjang ia berteduh di kombini tempat Si Pirang bekerja. Junmyeon butuh teh susu hangatnya sekarang juga! Dengan melewati rak makanan, Junmyeon langsung menyambar segelas teh susu kemasannya yang hangat.

"Tumben hanya membeli teh?" Si Pirang menanyainya setelah meng-scan barcode di teh susu kemasan yang ia ambil.

Junmyeon mengibaskan rambutnya yang basah. "Uhng. Aku hanya ingin minum malam ini." Ia kemudian membayar teh susu itu dengan pecahan koin yang kebetulan pas dengan harga minuman tersebut.

Dan ketiga Junmyeon hendak melangkah keluar, teriak Si Pirang terdengar.

"Tunggu saja di sini lebih dulu. Hujannya semakin deras."

Junmyeon menoleh, dan menuruti si Pirang. Ia kemudian berdiri tepat di samping panci oden, yang membuatnya mau tak mau mencium aroma ikan yang sedap dari kuah makanan itu.

"Kau mau oden?" Si Pirang menghentikan Junmyeon yang menghembuskan nafasnya dalam-dalam.

Junmyeon menggeleng.

"Tak apa. Aku memberikannya padamu gratis hari ini."

"Tidak tidak." Junmyeon menggeleng lebih keras. "Aku sudah makan malam tadi."

"Ayolah, terima saja tawaranku ini." Si Pirang tanpa persetujuan Junmyeon sudah mengambil wadah large, dan memasukkan kelima jenis oden yang sering Junmyeon beli. "Anggap saja ini bonus dariku, karena kau selalu membeli oden di tempat ini setiap malam, sejak akhir musim gugur."

Tunggu….Junmyeon terdiam. Sejak akhir musim gugur…. Apa artinya pria itu memperhatikannya juga?

"Eh? Bagaimana kau tahu?" Junmyeon bertanya.

Si Pirang tersenyum penuh arti sembari menyodorkan wadah oden itu—yang langsung diterima Junmyeon.

"Anyway, namaku Yifan. Wu Yifan."

Rasa-rasanya pipi Junmyeon menjadi lebih panas dari kuah oden yang ada di tangannya itu. Yifan, yah Yifan. Junmyeon akan selalu mengingat namanya mulai sekarang.

.

.

.

END! xD

Edisi kangen Tokyo dan segala isinya T_T

UHNGGGGGG, BAWA AKU KE SANA LAGI PLEASE!

Dan kebetulan juga Exo barusan ngerilis single Jepang xDDDDD (KALIAN UDAH DENGER BELOM NIH? xDDDD)

Semua tempat di ficlet ini beneran ada ya di Tokyo. Soal stasiun yang sepi dan bikin Junmyeon bisa ngelompatin palang tanpa menggesek kartu kereta itu, memang benar adanya xDDD Aku dan temanku beberapa kali melewati palang pintu Hagiyama eki—stasiun tanpa menggesek kartu xDDDDDD Dan juga Sevel itu, yang jadi sahabatku kala tinggal di Hagiyama

UGH, JADI KANGEN LAGI KAN!

NB: Besok mau ngepublish ficlet lagi ~ Aku menamainya Tokyo Monogatari project~ Dan besok bingung antara mau ngepublish yg Harajuku ato Akihabara ~ Menurut kalian gimana?