Just in love with Jaemren, so I decided to write a simple story about them... So simple, nothing special, because I lost my ability in lámatyávë...

Cemburu

JaemRen

BxB? GS? 몰라

-000-

"Na Jaemin."

"Itu namaku."

"Dia brengsek."

"Memang, tapi tidak brengsek sekali kurasa."

"Selalu saja membuatku kesal."

"Kau hanya terlalu terbawa perasaan."

"Seenaknya sendiri."

"Hmm, kuakui kadang-kadang begitu."

"Dia tak peduli padaku."

"Ng?"

"Dia hanya peduli pada Sofia saja."

"Pardon?"

"Dan dia bersikap manis... Hanya pada Sofia."

"Karena Sofia begitu manis dan kau tidak."

"Lort*... Aku cemburu pada Sofia..."

BRUK

Benturan itu mendadak mengakhiri dialog di antara mereka berdua.

"Astaga! Jaemin-ah!"

Sosok tinggi jangkung, tampan dengan mata yang berbentuk bulan sabit tampak tergopoh-gopoh menghampiri meja mereka. Dari seragamnya jelas dia berstatus salah satu waiter di bar ini. Waiter jangkung itu tampak ngeri menyaksikan sosok berparas manis yang barusan berbicara dengan Jaemin kini tertelungkup di meja setelah kepalanya sesaat membentur permukaan meja yang mengilap.

"Jaem, dia baik-baik saja? Kepalanya barusan membentur meja, kan?" Sang Waiter menanyainya.

Berkebalikan dengan Sang Waiter yang tampak khawatir, yang ditanyai justru tertegun menyaksikan sosok yang tertelungkup di meja, berteman botol-botol Elephant produksi Carlsberg. Na Jaemin, demikian nama lelaki muda yang satu ini. Sosok muda yang memenuhi segala definisi ketampanan dalam semua bahasa.

"Jaemin-ah!" Sang Waiter menepuk bahunya.

Jaemin terkejut. Refleks ia menoleh pada Sang Waiter.

"Dia hanya terlalu mabuk," Jaemin yang segera pulih dari keterkejutannya menjawab dan berdehem sekaligus.

"Tak apa, Jeno-ya. Kepalanya jauh lebih keras dari batu. Toh ini bukan pertama kalinya dia membentur meja saat mabuk," beber Jaemin dengan nada enteng.

"Kuperhatikan Renjunnie jadi senang mabuk-mabukan sejak kembali dari Aarhus. Padahal sebelumnya dia paling anti pada alkohol. Semudah itukah Denmark mengubahnya?" Waiter yang diketahui bernama Jeno berkomentar, nadanya kedengaran jelas prihatin.

"Sebaiknya cepat kau bawa dia pulang, Jaem," saran Jeno. "Dia sudah berjam-jam di sini, meracau tak jelas menyebut-nyebut namamu."

"Ya, Jeno-ya," Jaemin menyahut seraya bangkit berdiri dari kursinya.

"Akan kubawa dia pulang."

Dengan cekatan Jaemin mengulurkan kedua tangannya meraih kedua bahu milik sosok bernama Renjun yang tengah tertelungkup di meja. Tampak sebuah tato menghiasi lengan kekar milik Jaemin, memberikan kesan mengilap ditimpa cahaya lampu. Dibantu Jeno, dalam hitungan detik Renjun telah berpindah ke punggung kokoh Jaemin.

"Aku pamit dulu, Jeno-ya," Jaemin mohon diri. "Tenang saja, minuman Renjun sudah kubayar tadi."

"Ya, ya." Jeno menganggukkan kepalanya. "Hati-hati di jalan."

Jaemin gantian mengangguk pada Jeno sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu bar. Tegap langkahnya, seolah berat badan Renjun tak berarti apa pun.

"Dasar konyol," Jaemin menggumam begitu langkah kaki membawanya keluar dari bar. Nadanya kedengaran tak simpatik, begitu pun raut wajahnya.

"Cemburu pada Sofia, katamu?"

Ia melirik kepala Renjun yang terkulai di bahu kirinya.

"Cemburu pada anakmu sendiri, tapi masih tak mau mengaku kalau kau mencintai ayahnya. Dasar Huang Renjun, apa-apa selalu gengsi."

Na Jaemin mendadak tersenyum. Lembut. Kesan tak simpatik seketika memudar dari parasnya yang tampan.

"Na Jaemin..."

Tiba-tiba terdengar suara milik Huang Renjun. Sayup-sayup, tetapi seketika membuat Jaemin waspada.

"Namaku," Jaemin menyahuti dengan lirih.

"Na Jaemin..." Renjun kembali menyebutkan nama lengkap Jaemin tanpa membuka matanya.

"Kubilang itu namaku," Jaemin mendesis.

"Jeg elsker dig*..."

Jaemin memang tidak bisa bahasa Denmark, tapi khusus untuk satu kalimat yang baru saja meluncur dari bibir ranum Renjun, dia lebih dari sekadar tahu artinya. Walhasil begitu mendengarnya, Jaemin langsung terdiam. Ia bahkan menghentikan langkahnya.

"Kau bilang apa barusan?" Jaemin bertanya.

Tak ada jawaban. Renjun diam seribu bahasa.

Jaemin menunggu sejenak, sayangnya tetap tak ada respon dari Renjun. Laki-laki itu melirik ke arah kepala Renjun, tetapi kepala milik sosok itu tetap terkulai lemas tak bergerak.

Na Jaemin sejenak menghela napas. Seulas senyum perlahan kembali menghiasi bibirnya, kali ini jauh lebih lembut.

"Sayangnya hanya alkohol yang mampu membuatmu mengatakan demikian. Sofia, ibumu ini benar-benar..."

Jaemin menggeleng-gelengkan kepalanya. Di bawah kerlap-kerlip lampu milik Hongdae, laki-laki gagah itu masih mengulum senyum, diam-diam tampak puas.

FIN

-000-

Lort: Sh*t

Jeg elsker dig: I love you