Disclaimer: Boku no Hero Academia © Kouhei Horikoshi

Todoroki Shouto x Midoriya Izuku

(AU, nggak ada quirk, berusaha IC tapi OOC sulit dihindari)

x

Musim Panas (1)

Izuku's POV

x

"Panas."

Ochako bersandar di punggung telanjang Izuku dengan tanktop tipis dan celana hotpants. Kalau dulu pasti rasanya canggung melakukan ini, tapi setahun sudah berlalu dan mereka tidak peduli apapun lagi.

"Kenapa ACnya pakai mati segala?" Izuku bersungut dengan es loli di mulut dan satu tangan mengerjakan PR musim panas yang belum selesai.

"Tidak tahu, padahal sampai lantainya juga panas." Ochako ingin menghentakkan kaki tapi tidak punya tenaga lagi. "Ugh rasanya aku ingin lepas baju sekalian."

"Jangan. Aku risih."

Ochako cemberut. "Tidak adil! Izuku sendiri sudah topless dari pagi!"

"Ochako kan cewek. Lagipula bagaimana kalau Kacchan tiba-tiba masuk lewat jendela?" Izuku mendengus.

"Kalau soal badan atasku, Katsuki-kun sudah pernah lihat."

Gerakan pulpen Izuku berhenti. "Apa?" Kepala berambut hijaunya hampir menoleh ke belakang.

"Dia… cuma lihat dan pegang sedikit kok." Ochako melanjutkan dengan cengiran bodoh.

"Ugh! Aku tidak mau tahu." Izuku kembali konsentrasi ke PR, perutnya mendadak mual. "Tolong jaga badanmu, Ochako. Kita masih sekolah."

"Kita sudah SMA."

"Kita masih SMA." Izuku menulis paragraf terakhir dan menutup bukunya sedikit keras. "PRku sudah selesai. Kau minta pergi kemana tadi?"

Ochako tersenyum sumringah. "Yaaayyy! Ayo kita berenang!"

xXx

Badan Ochako memang sudah banyak berkembang. Izuku baru menyadarinya karena dia sudah berhenti memperhatikan Ochako sejak setahun terakhir. Sekarang gadis itu sudah bisa memukul sendiri cowok-cowok yang hampir merengkuh pinggangnya, Izuku bukannya peduli juga sih kalau Ochako digoda.

"Lama!" Gadis itu cemberut sambil melipat lengannya di depan dada.

"Jangan kasar-kasar." Izuku memberikan es krim Ochako ogah-ogahan. "Kenapa juga kau pukul mereka? Cuma ditampar kan bisa."

"Kalau Katsuki-kun ada disini, mereka bisa dapat yang lebih dari sekedar pukulan." Ochako menjilat es krimnya ceroboh, tetesan krim putih sedikit berjatuhan ke dadanya yang dibalut ketat bikini fuchsia.

"Seharusnya kau ajak Kacchan kesini, bukan aku." Mata hijau Izuku melirik diam-diam para cowok yang tadi dipukul Ochako masih saja bernafsu memandangi gadis itu. "Kau seperti ikan di tengah kucing kelaparan."

"Makanya lindungi aku dong…" Ochako memeluk lengan Izuku dengan senyum manis, "…nii-chan."

Izuku memutuskan untuk mematikan debar-debar jantungnya saat berdekatan dengan Ochako sejak setahun lalu karena panggilan itu, dan tentu saja Izuku berhasil, buktinya sekarang dia bahkan tidak merasakan apapun padahal dada bulat Ochako sedang menempel erat di lengannya.

"Sepertinya aku tidak bisa. Kau tahu kan, aku tidak punya badan macam bodyguard atau muka preman seperti Kacchan. Masih banyak cowok yang menatapmu, tidak peduli kau jelas-jelas menggandengku begini." Izuku memutar pandangannya ke sekitar. "Ah, tapi yang itu lumayan tampan."

"Ugh… mana?" Ochako cemberut kesal karena sikap cuek Izuku tapi tetap mengikuti arah pembicaraan cowok beriris hijau itu. "Hah? Yang rambut merah putih? Serius? Tampan sih, tapi sayang bekas lukanya—"

"Memangnya Kacchan mulus banget ya?" Izuku nyaris mendengus.

"Iya. Banget." Ochako mengangguk mantap yang membuat Izuku melongo.

Memangnya si Ochako ini sudah melihat Kacchan sejauh mana sih?

"Lagipula sudah ada ceweknya." Ochako mencibir ke arah gadis berambut ponytail dengan ukuran dada di atas rata-rata yang berjalan menghampiri si pemuda rambut merah putih. "Ngapain dari tadi dia melihat kesini kalau sudah punya cewek? Ck… playboy!"

"Mungkin Ochako memang terlalu menarik?" Izuku tertawa kecil. "Hei, es krimmu meleleh tuh."

"U-uwah!" Ochako buru-buru menjilati es krimnya yang membuat Izuku semakin tertawa geli.

"Cuacanya memang sedang panas sekali ya."

Mendadak suara bariton itu seperti terdengar tepat di telinga Izuku. Wangi maskulin tiba-tiba saja tercium kuat, dan saat Izuku menoleh ada pemandangan dada bidang terbuka yang bisa membuat gadis-gadis mimisan berjamaah.

"E-eh… apa…" Izuku mendadak gagap. C-cowok merah putih yang tadi! Izuku nyaris mengutuk diri sendiri karena bisa-bisanya dia grogi di depan sesama cowok.

"Apa kau mau es krim lagi?"

"Uh…" Izuku bingung, kenapa mendadak ditawari es krim oleh orang yang tak dikenal. Walaupun orangnya jauh lebih tampan dilihat dari dekat ternyata. Izuku baru sadar kalau tidak cuma rambutnya, tapi manik mata orang itu juga berbeda warna.

Sepertinya Izuku terlalu terpesona sampai dia mematung lama dengan wajah bodoh.

"Oh… maaf kalau kau tidak mau." Mata heterokrom itu meredup. "Kalau begitu bagaimana dengan nomor telep—"

"TODOROKI-SAN! AHAHAHAHAHAHA!"

Izuku dan Ochako hampir terlonjak kaget saat gadis berponytail merangkul si cowok merah putih dengan tawa keras yang sangat dipaksakan.

"Kau tidak boleh begitu…" Gadis itu sepertinya berusaha berbisik walaupun suaranya masih kedengaran.

"Memangnya kenapa?" Si cowok menautkan alis bingung.

"Karena mereka kan—"

"Maaf." Ochako memutuskan untuk memotong pembicaraan dua orang entah siapa itu dengan senyuman canggung. "Ada yang bisa kami bantu?"

"I…itu… sebenarnya kami… dia…" Gadis berponytail gugup untuk beberapa saat sebelum wajahnya merah padam dan menunduk lemas. "Nama saya Yaoyorozu Momo." Dia mengulurkan tangannya ke arah Ochako.

"Saya Midoriya Ochako." Ochako tidak tahu kenapa dia jadi ikutan formal sambil menyalami Yaoyorozu.

"Dan teman saya ini Todoroki Shouto-san." Telapak tangan Yaoyorozu mengarah sopan ke arah si cowok heterokrom.

"Ini kakak saya Midoriya Izuku." Ochako menunjuk ke arah Izuku.

"O-oh…" Yaoyorozu terlihat terkejut sampai menutup bibirnya dengan sebelah tangan. "Saya kira kalian pacaran."

Ochako menggeleng sementara Izuku tertawa garing.

"Sebenarnya tadi saya mau minta maaf karena saya kira kami mengganggu kencan kalian, tapi sebenarnya…" Yaoyorozu menyikut Todoroki.

Todoroki reflek mengeluarkan hpnya. "Nomor tel—"

Dukkk!

Pinggangnya disikut lebih keras lagi oleh Yaoyorozu sampai hampir oleng ke samping.

"Jadi intinya…" Yaoyorozu memijat keningnya sementara Izuku dan Ochako menatap prihatin ke arah Todoroki yang meratapi nasib pinggang. "Intinya, Todoroki-san ini tertarik dengan Midoriya-san."

Izuku dan Ochako berkedip bingung.

"Ah, maksud saya…" Yaoyorozu buru-buru meralat, "…Midoriya Izuku-san."

"EEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH?"

Izuku masih berkedip bingung. Yang barusan berteriak itu Ochako.

"Ja… jadi… dari… tadi…" Telunjuk Ochako heboh menunjuk-nunjuk Todoroki dan Izuku bergantian. "Oh ya ampun!"

Yaoyorozu tertawa sopan dengan canggung.

"Ka… kalau begitu, ayo kita pergi dulu, Yaoyorozu-san!" Ochako memeluk lengan Yaoyorozu dan ngibrit entah kemana.

"Um…" Todoroki mengusap belakang kepalanya dan pipinya merona samar. "Aku minta maaf."

Izuku mengerjap. "Untuk apa?"

"Aku tidak tahu kenapa tapi rasanya aku melakukan kesalahan." Si tampan menutup mulut dengan ibu jari dari tangan yang terkepal, hampir menggigiti kukunya. "Jantungku rasanya tidak nyaman."

"Ahahaha…" Izuku tertawa garing. Saat ini dia ingin mencubit pipi Todoroki tapi posturnya yang tinggi dan wajahnya yang dewasa membuat Izuku sungkan. "Jadi Todoroki-kun menyesal nih?"

"Bukan begitu!" Wajah Todoroki mendadak bersinar tegas. "Aku… tidak…"

Ini mimpi apa ya…

Izuku cuma pernah menyukai seseorang satu kali, dan dia super gugup saat proses pdkt. Tapi kenapa sekarang ada cowok tampan begini yang salah tingkah mendekatinya? Rasanya Izuku tidak bisa percaya.

Si mata hijau menggenggam tangan Todoroki dengan senyum ramah.

"Todoroki-kun, ayo makan es krim dulu supaya tenang."

xXx

"Oi! Bakugou! Ada pesan masuk bunyi terus nih!"

Memang sedari tadi hp Katsuki berisik, tapi tidak dia hiraukan.

"Kubuka ya!"

"Terserah!" Si pirang jabrik masih tenggelam dalam kecepatan keyboard dan mouse dengan mata fokus ke arah pesawat alien yang berjatuhan di layar datar komputer.

"Dari Midoriya-san nih! Serius boleh kubuka?"

"Terserah!"

"Oke lah…" Kirishima, si lawan bicara, menggaruk kepalanya rikuh. "Um… Katsuki-kun! Coba tebak apa yang terjadi? Katsuki-kun! Oi! Balas dong! Katsu—"

"BERISIK! LANGSUNG INTINYA AJA KENAPA?"

"Hahhaha… iya, sebentar." Kirishima sempat-sempatnya tertawa garing walaupun tadinya hampir jantungan dibentak Katsuki. Ibu jarinya terus mengusap layar hp ke atas untuk menemukan inti pembicaraan dari chat panjang Ochako. "Dia heboh sekali sih… tapi kurasa intinya Midoriya didekati cowok tampan di kolam renang."

"Tch… masih ada aja yang tertarik dengan cewek muka bulat begitu. Kalau aku disana bisa kubunuh mereka semua."

"Ng… aku bilang Midoriya loh, bukan Midoriya-san."

Suara berisik keyboard mendadak berhenti. "Ha?"

"Dan sekarang mereka sedang kencan makan es krim."

"Siapa?"

"Ya, Midoriya."

"Ochako?"

"Tenang saja. Tentu saja bukan. Izuku yang ken—"

"MAKSUDMU SI DEKU?!"

Kirishima terlonjak lagi. "I…iya."

"ADA YANG AJAK KUSO DEKU KENCAN?!"

"I…ya… kenapa kau marah gi—"

"DIMANA?"

"Ya, di water park mana lagi yang paling dekat si—OI! BAKUGOU! MAU KEMANA? KOK PERGI?"

BRAKKK!

Pertanyaan Kirishima cuma dijawab bantingan pintu.

xXx