Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto-sensei

Author: Akatsuki no Setsubun by Dei-kun coolz

Prepare

TANG TENG TRANG!!

"Woi--! BANGUN---! Rapat mendadak, rapat mendadak!" teriak Pein meniru suara sirine ambulans.

TANG TENG TRANG!!!

Tidur lelap anggota Akatsuki lainnya terganggu karena suara panci Pein yang bak suara paus biru (Balaenoptera Musculus). Anggota Akatsuki lainnya pun keluar dari kamar mereka masing-masing.

"Ada apa sih lo? Emang gak ada cara lain bangunin orang?!" gerutu Sasori yang keluar pertama kali dari kamarnya.

"Orang? Bukannya lo boneka?" gumam sang leader gak mau kalah.

BRAKK!

Terdengar suara pintu dibuka paksa dari kamar Kakuzu.

"Pein! Lagi-lagi lo! Sudah berapa panci yang lo hancurin, HAH?! Lo kira panci tu murah apa?!" teriak Kakuzu yang langsung menyerobot panci dari tangan Pein, tapi sayangnya dia terlambat, pancinya sudah bolong. "Lo liat nih! LIAT!! Utang lo bertambah 50% di tambah pajak 20%!!"

Pein yang hutangnya sudah berjuta-juta memprotes dengan semangatnya, "APA? Gue gak setuju! Lagian cuma satu panci! Tu panci juga gue yang beli, itu juga masih utang dengan warung sebelah!"

"Lo beli ni panci minjem dari duit kas, kan? Wajar aja utang lo bertambah--!" gerutu Kakuzu dengan otak koruptor kelas kakapnya. "Apa tadi gue gak salah denger, 'satu panci' lo bilang? Bukannya dalam satu bulan ini lo udah ngancurin 12 panci lebih, heh?!" tanya Kakuzu dengan muka horrornya.

'Ukh--! Percuma aja gue berantem ama ni koruptor, gak bakalan menang,' kata Pein membatin. Pein melihat sekeliling, "Sepertinya semua sudah berkumpul. Tapi--"

"Apa lagi, un--?" Deidara yang sedari tadi diam melihat kelakuan leader-nya angkat bicara.

"Sepertinya ada bau gak enak deh!" kata Pein sambil menutup kedua lubang hidungnya.

"Apa maksud lo liat-liat gue?!" tanya Kisame yang merasa dilihat dengan biadap oleh Pein. "Untung aja samehada gue di kamar. Kalo enggak, gue jamin leher lo gak bakalan selamat!!"

Pein yang merasa ngeri dengan perkataan Kisame barusan memalingkan pandangannya ke arah Tobi. "Oke! Lebih baik kalian mandi aja deh. Gue tunggu di ruang rapat, gpl!" katanya sambil berlalu.

"Bukannya dia sendiri juga belum mandi? Keluyuran juga cuma pake boxer, warna ijo lagi!" ujar Hidan yang gak sadar juga make boxer.

Anggota Akatsuki lainnya berlalu ke kamar mereka masing-masing.

--Di ruang rapat--

"Lo tau kan sekarang hari apa?" tanya Pein membuka rapat.

"Anak TK juga pada tau sekarang hari apa, Rabu 'kan?" gumam Hidan pertama.

"Ternyata otak lo juga sama aja dengan anak TK, bukan itu maksud gue!" cibir Pein.

"Oh, gue tau. Bukannya sekarang hari dimana matahari berada di belakang bulan dan bla bla bla--" ujar Itachi sotoy, padahal gak tau apa-apa.

"Cukup, sensei! Lo salah tempat jika ingin ngajar!" ucap Pein yang mulai menguap. "Apa di sini emang gak ada yang tau ini hari apa?" tanya Pein kembali.

"Sekarang waktunya lo semua pada bayar duit kas," ujar Kakuzu yang mulai membuka buku kasnya, "Yang pertama, Pe--"

Pein yang seakan sudah mendapatkan firasat namanya yang akan disebut duluan dengan segera memotong kalimat Kakuzu. "Payah, ah, lo pada! Otak udang semua!" gerutu Pein mulai sewot yang dibalas dengan tatapan tajam dari para anggotanya. "Bentar lagi kan risshun!" jelas Pein.

"Emang kenapa kalo risshun, un?" tanya Deidara yang tak mengerti sama sekali.

"Mo liat sakura bermekaran ya? Tapi kan masih ada waktu dua bulan lagi," kata Tobi girang.

Kisame yang sudah tak sabar lagi dengan pertanyaan Pein yang ambigu itu, mulai menarik samehada dari punggungnya lalu mengelus-elusnya, "Sepertinya samehada gue mo mencari darah segar deh!"

Pein yang sudah merasa takut memulai pembicaraannya lagi, "Setsubun! Apa gak ada yang ingat?"

"Ngapain kita ngadain acara kayak gitu? Gue kira rapat nangkep Kyuubi, padahal gue dah bela-belain gak maen game yang baru gue beli kemaren. Brengsek lo!" kata Deidara marah.

"Bener tuh! Kita kan karakter antagonis, gak penting banget sih ngadain acara kayak gitu," ujar Itachi yang setuju dengan Deidara.

"Karena kita belum dikontrak lagi dengan Kishimoto-sensei, gak salah kan kita ngadain acara kayak gitu! Emang kenapa kalo kita karakter antagonis, gak ada yang akan memenjarakan kita kan?" tanya Pein yang meminta persetujuan dari anggota lainnya.

"Masa peran antagonis kayak kita ingin ngusir setan, kan gak banget tuh!" seru Kisame.

'Kalo lo sih gue wajar karena muka lo emang mirip dengan setan,' umpat Pein. "Lo pada pernah denger pepatah 'Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung' gak?" tanya Pein kepada anggota gebleknya.

"Gak tuh! Emang ada pepatah kayak gitu?" tanya Hidan.

"Iya nih. Ketua suka ngarang," gumam Tobi dengan watados-nya -?-.

"Emang susah kalo bicara pada orang rimba kayak kalian!" hina Pein. "Ini 'kan Jepang. Nah, kalo di Jepang tuh ada acara Setsubun, sebagai warga Jepang yang baik, kita juga berhak melaksanankan Setsubun," jelas Pein.

'Orang rimba? Enak banget ngomongnya! Lagian tu pepatah gak pernah gue denger sebelumnya!' umpat Hidan kesal. Ingin sekali rasanya dia menjadikan Pein sebagai tumbalnya, tapi karena itu dilarang agama, gak jadi deh!

"Gue mo ralat perkataan lo tadi. Bukannya kita gak diakui di sini a.k.a illegal terus kita juga bukan warga yang baik a.k.a jahat," jelas Sasori yang baru ngomong.

"Udah, udah, UDAH!!" teriak Pein sambil menutup kedua telinganya. "Gue gak mau lagi dengar ocehan kalian! Pokoknya kita harus ngadain acara Setsubun, titik!" kata Pein ngotot.

"Lo kira itu gak pake du--" Lagi-lagi kalimat Kakuzu diputus oleh Pein.

"Gue anggap itu sebagai tanda setuju! Sekarang pembagian tugas!" teriak Pein mencak-mencak gak jelas. "Deidara! Lo buat 1000 boneka yang berbentuk anak-anak dan sapi dari lempung lo itu!" ujar Pein sambil nunjuk Deidara.

"Lo gila?! 1000, yang bener aja, un?! Warga Jepang lainnya juga gak sampe segitunya, di kuil juga, un!!" seru Deidara protes.

"HAH? Jadi kurang ya? Gue tambah lagi menja--"

"Oke, oke, gue setuju!" ucap Deidara menyetujui dengan terpaksa.

"Sekarang, Tobi! Tugas lo make topeng oni!"

"Horee! Oni!" teriak Tobi lebay.

'Baka mitai, un!' batin Deidara sambil menggelengkan kepalanya.

"Lalu, Kakuzu dan Sasori, tugas kalian beli kacang kedelai!" lanjut Pein.

"Kacang kedele?! Itu kan ma--" putus Kakuzu untuk ketiga kalinya.

"Oh, jangan lupa ikannya juga!" lanjut Pein lagi. Kini muka Kakuzu berubah menjadi merah, bukan karena malu tapi karena marah. "Oke, gue setuju!"

'Apa gue mimpi? Ah, mana mungkin! Mimpi apa gue semalam, oh gue inget mimpi ditabok Konan!' pikir Pein. Pein yang baru pertama kali mendapat restu dari Kakuzu langsung menepuk pundak Kakuzu berulang-ulang, "Thanks banget Kakuzu! Lo emang mengerti perasaan gue, walopun jarang banget!"

"Gue belum selese ngomong lho! Gue setuju, tapi kalian harus pada iuran. Satu kepala 15 ryo!" lanjut Kakuzu.

Pein yang tadinya bahagia karena gak diminta duit panjer oleh Kakuzu sekarang berubah loyo, 'Ternyata ini maksud dari mimpi gue semalam..."

"Ayo, ayo, pada bayar," kata Kakuzu yang mulai menarik duit dari Sasori. Pein yang kalang-kabut karena emang gak punya duit lagi mencoba untuk meminta keringanan pada Kakuzu, tapi ditolak mentah-mentah. Terpaksa dia harus meminjam duit dari anggota lainnya.

'Dasar, leader kere! Pantes aja Konan kabur!' umpat Sasori.

'Kalo tau gini mending gue gak usah rekrut koruptor kayak ini!' batin Pein. Setelah urusan duit selesai Pein melanjutkan pembicaraannya yang tertunda, "Itachi dan Hidan menggoreng kacang kedelai dan Kisame membuat sushi!" suruh Pein.

"APA? Mana gue tega membunuh sodara-sodara gue!" ucap Kisame histeris.

"Yak, sekarang urusi tugas kalian masing-masing!" kata Pein tanpa memperdulikan ucapan Kisame. 'EGP! Lagian mana ada yang mo ngakuin lo tu masih sodaraan dengan ikan, ibu lo aja gak mo ngakuin kalo pernah ngelahirin lo!'

"Lha, jadi lo ngapain?" tanya Itachi.

"Lo tau kan gue ni leader, kan gak lucu kalo leader jadi babu!" jawab Pein nyante.

"Enak banget lo ngomong!" sahut Kisame.

"Oke, gue jadi mandor, puas lo pada!" jawab Pein sewot.

"Sama aja! Tugas lo cuma liat-liat lalu nyuruh-nyuruh, gue gak setuju, un!" protes Deidara.

"Coba angkat salah satu tangan lo pada!" pinta Pein.

Semua anggota yang ada di ruang rapat menganggkat tangannya, bahkan ada yang menggangkat kedua tangannya yang membuat ruangan rapat menjadi bau dua kali lipat.

"Yang angkat tangan tadi tanda setuju, titik!"

Tsuzuku, To be Continued, Bersambung---------

* * *

Ket:

Balaenoptera Musculus: paus yang terbesar di bumi dan memiliki suara paling keras. Suara paus ini lebih keras dari pada suara motor Harley Davidson. Bahkan lebih keras dari pada suara konser rock yang paling keras, dan juga lebih keras dari ledakan bom. Untung saja paus ini tinggalnya di laut ^_^

Risshun: hari pertama musim semi. Sekitar awal bulan Februari

Setsubun: nama perayaan sekaligus istilah yang digunakan untuk hari sebelum hari pertama setiap musim. Biasanya tradisi ini dilakukan untuk mengusir oni dengan melemparkan kacang kedelai yang sudah digoreng

Oni: setan

* * *