"Sampai kapan kau akan menyakitiku, Aominecchi?" Tanya Kise dengan blak-blakan, airmatanya sudah mulai mengalir di pipinya yang putih. 'Aominecchi' hanya mengangkat bahunya. "Mungkin sampai kau rusak?" Kata Aomine dengan tatapan nakal namun berbahaya. "…." Kise terdiam ketika mendengar kata-kata Aomine, lalu matanya terpejam seakan menahan suara tangisan yang mulai memaksa keluar dari tenggorokan. Aomine hanya bergumam seakan hari ini adalah hari yang normal. Hari dimana Kise tidak menangis dan bertanya pertanyaan yang cukup absurd. Tapi untuk Kise, hari ini adalah hari puncak dimana ia bisa menahan kata-kata Aomine yang tajam dan langsung dilontarkan tanpa dipikir. Kise sudah cukup menghadapi keegoisan Aomine, kekasaran Aomine—Seluruh sifat Aomine yang benar-benar tidak bisa dipertimbangkan lagi.

"Persetan denganmu, Aomine." Kata Kise dengan dingin, lalu bangkit dari sofa yang ia duduki sebelumnya. Aomine terbingung ketika mendengar kata-kata Kise. Jujur saja, dia shock. Ini pertama kalinya Kise memanggilnya tanpa honorifik '-cchi'. Padahal ketika diminta, dia tidak pernah berhenti. Kenapa sekarang? "O-oi, Kise! Berhenti!" Teriak Aomine yang terburu-buru menghentikan kekasihnya untuk membereskan pakaiannya di kamar mereka. Di wajah Kise yang biasa tersenyum kini terhias dengan kerutan di kening, lalu matanya hanya melirik Aomine dengan dingin lalu lanjut membereskan. Tentu saja Aomine makin bingung.

"Kise, apa yang salah?!" Teriak Aomine sambil menarik lengan Kise dengan kasar. Hal itu membuat Kise berhenti menge-pack barang-barangnya. Ia langsung menarik tangannya dengan sama kasarnya, yakin kalau di lengannya akan muncul ruam kebiruan di kulit porselennya. Ia hanya menghela nafas dengan keras lalu lanjut membereskan. "Aomine Daiki." Kata Kise pelan, membuat Aomine yang masih bingung langsung memusatkan perhatiannya kepada sang pirang. Kesunyian mengisi ruangan itu, membuat Aomine tidak nyaman namun Kise tidak peduli. Kata-kata sang bluenette tadi sudah keterlaluan, dan Kise muak.

.

"Kita putus."

.

Dan waktu seakan berhenti disekitar Aomine Daiki. Ia tidak pernah tahu Kise akan berkata seperti ini, tetapi ia sendiri terlalu kaget untuk melakukan sesuatu. Kise langsung memanggul tasnya dan menjatuhkan kunci apartemen miliknya, lalu memakai sepatunya.

"OI, kau nggak serius kan?!" Bentak Aomine dengan marah dan lagi-lagi dipenuhi dengan kekasaran yang terjanjikan kepada Kise apabila dia menolak. Kise terdiam sambil terus memakai sepatunya, lalu melihat Aomine. Ia menatap Aomine dengan tajamnya seakan apabila tatapan bisa membunuh, maka Aomine sudah mati sekarang. Aomine terlihat agak gugup sebelum memperbaiki posturnya. "Kau kira aku bercanda, Aomine?" Suara Kise memecah kesunyian diantara mereka, namun suaranya masih terdengar dingin seperti es. "Aku sudah rusak, bukankah itu yang kau mau?" Lanjut Kise, membuat mata Aomine terbuka dengan lebarnya.

Percakapan tadi pagi mulai terputar di otaknya, tentang pertanyaan Kise, tentang jawabannya, tentang perilakunya selama ini—

"Oke, aku minta maaf Kise! Tapi—" Kata-kata Aomine terpotong ketika Kise membuka pintu apartemen itu. "Nggak ada kata maaf yang bisa membuatku memaafkanmu, Aomine Daiki." Suara Kise dipenuhi dengan kemarahan, kelelahan, kebencian—kesedihan. Suara yang dibenci Aomine, tetapi kali ini ialah penyebab dari suara itu. Dari nada itu. "Sayonara." Kata Kise pendek, lalu turun melalui lift dengan cepat, memencet tombol ke lantai paling dasar lalu melihat pintu itu tertutup tanpa ada pengejaran. Kise menghela nafas pendek, airmatanya mulai mengalir di pipinya. "Aomine baka.." Gumamnya pelan sambil terus menangis. Ia meraih hpnya yang bersarang di kantong celananya, lalu menelefon seseorang yang dia tahu akan menenangkannya di situasi seperti ini.

.

"Konnichiwa, senpai?"

.

Saat Kise berlari ke lift itu, Aomine merasa jantungnya berhenti. Seakan setengah hatinya telah robek dan diambil oleh seseorang. Dan seseorang itu adalah Kise Ryouta, sang model. Oke, dia tahu perbuatannya telah keterlaluan, tetapi kenapa hari ini? Padahal hari ini adalah hari anniversary-nya dengan sang model.

"Sialan kau Kise…" Geram Aomine sambil terus melihat lift yang telah mencapai lantai dasar.

Kise langsung menaiki taksi dan mengucapkan alamat senpai-nya yang paling mengerti dirinya. Ia menunduk dan diam, seakan Kise yang dulu telah pergi dan tidak akan kembali ke sisinya lagi. Ia tahu hari ini adalah hari jadinya, namun Kise sudah tidak tahan. Setahun penuh dengan penderitaan, apakah itu setimpal dengan yang dia rasakan? Sama sekali tidak. Perlahan, ia menutup matanya lalu jatuh tertidur. Ia bahkan tidak peduli apabila sesuatu terjadi kepada diri—

"Ugh-!" Teriaknya ketika menabrak kursi supir. Keningnya mulai berdarah dan rasa panas mulai menjalar di seluruh sisi tubuhnya. Matanya terbuka dengan lebar ketika ia menyadari ia harus keluar untuk hidup. Sekuat mungkin, ia menendang pintu disampingnya, mengambil tasnya lalu keluar dari taksi yang terbungkus api. Ia merasa beruntung karena bisa keluar, namun tatapannya langsung memudar. Ia lelah, ia hanya ingin tidu—"OI KISE! BERTAHANLAH BODOH!" Teriak sebuah suara yang ia kenal baik.

"Kasa—matsu…sen—pai—" Kata Kise dengan nafas yang cukup pendek. Seakan dia bahkan sudah tidak punya kekuatan untuk berbicara. Untuk bernafas. Untuk menyentuh tangan kakak kelasnya yang terlihat panic dan mulai mengambil hpnya untuk menghubungi rumah sakit. Matanya perlahan-lahan terpejam, menerima apapun yang akan terjadi. Mati atau hidup, itu tidak penting kan?

"Oi Kise, kalau kau bisa mendengarku—Hiduplah demiku. Demi Kaijou. Demi seluruh teammate-mu. Berjanjilah Kise." Gumam Kasamatsu sambil terus menggenggam tangan kiri Kise dengan erat, membuat Kise tersadar dengan apa yang terjadi di kehidupannya.

Dia punya Kaijou, dia punya semua senpai-nya, dan dia punya member GoM yang menunggunya. Kenapa dia menyerah begitu saja?! Ini tidak bisa dimaafkan—pikir Kise yang terus memarahi dirinya yang mulai menyerah.

Suara ambulan mulai memenuhi udara. Kehangatan di tangan kirinya hilang, digantikan oleh sebuah tangan yang terbungkus dengan sarung tangan. Dan baru saat itulah, Kise memperbolehkan dirinya untuk istirahat setelah waktu yang lama.

Kasamatsu merasa panik ketika ia melihat tabrakan itu. Karena Kise akan berkunjung, makanya dia berjalan ke minimarket terdekat yang cukup jauh dari rumah Kasamatsu. Ia tahu sang blonde sedang sedih, makanya ia pergi untuk membeli beberapa coklat. Begitu ia sampai di dekat supermarket itu, sebuah truk menabrak sebuah taksi yang berpenumpang. Matanya terbuka lebar ketika ia melihat orang yang begitu ia kenal—ia sayang menjadi penumpang di taksi itu. "KI—" Teriakannya terpotong dengan suara tabrakan yang begitu keras, membuat sang supir langsung hancur karena kekuatan tabrakan tersebut. Mobil itu hancur dan mulai terbakar pelan-pelan, namun ia melihat pintu penumpang dibuka dengan paksa dan keluarlah sang model.

Mukanya yang biasanya dihiasi oleh senyuman kini dipenuhi oleh luka. Matanya yang terisi kehangatan kini dipenuhi dengan rasa sakit dan kesedihan—putus asa. Tubuh sang model juga tidak berbeda dengan mukanya, dipenuhi luka yang cukup bervariasi. Dengan cepat, Kasamatsu langsung berlari kearah Kise, melupakan rencana awalnya.

Ia terus berteriak dan bergumam pelan untuk membuat Kise tetap sadar, dan sepertinya rencana lancar. Ia langsung mengambil hpnya lalu menghubungi rumah sakit terdekat untuk mengirim ambulan secepatnya. Ia terus menelefon sambil terus menatap wajah Kise yang terlihat seperti ingin berkata sesuatu. Ia merasakan orang yang tangannya digenggam langsung menggenggam balik, walaupun cukup lemah. Begitu merasakan kalau otot Kise melemah, Kasamatsu langsung bergumam. "Oi Kise, kalau kau bisa mendengarku—Hiduplah demiku. Demi Kaijou. Demi seluruh teammate-mu. Berjanjilah, Kise.". Begitu sang kapten mengangkat wajahnya, ia mendapat harapan. Kise berusaha tersenyum sedikit. Senyuman yang membawa kehangatan ke hatinya yang terasa seperti dicabik-cabik.

Suara ambulan.

Kasamatsu langsung melepas genggamannya, lalu membiarkan Kise dibawa ke ambulan. Ketika ia ditawarkan untuk ikut, ia langsung menyanggupi tanpa berpikir dua kali. Sang dokter langsung mengangguk lalu mempersilahkan Kasamatsu untuk masuk ke ambulan, duduk di sebuah kursi. Matanya terus menatap tajam Kise yang tidak sadarkan diri. Menghela nafas, Kasamatsu mengenggap pinggiran kasurnya Kise dan meremasnya. "Sialan kau Ryouta.."

.

.

Begitu sampai di rumah sakit, Kise langsung dibawa ke ruang operasi. Karena lukanya terlihat cukup parah, para dokter merasa kalau operasi itu dibutuhkan untuk menyelamatkan hidup sang blonde. Sang senpai langsung menghubungi orang tua Kise, teman satu tim, lalu para GoM. Semua langsung berkata kalau mereka akan bergegas menuju rumah sakit itu. Kasamatsu bersandar di kursi rumah sakit sambil menunggu operasi itu berakhir. Ia tidak berniat untuk menyentuh hpnya lagi.

"Ano, maaf." Panggil seorang suster sambil membawa sebuah tas. Kasamatsu langsung mengenali tas itu sebagai tas milik Kise, membuat sang suster terkaget lalu memberikan tas itu ke Kasamatsu. Ia berterima kasih ke suster itu lalu mulai membuka-buka tas tersebut. Isinya rata-rata baju dan buku-buku, namun akhirnya ia menemukan barang yang ia cari-cari. Menyalakan hp Kise, ia melihat wallpaper-nya adalah fotonya bersama Kise beberapa waktu yang lalu.

"Senpai!" panggil Kise sambil berlari kearah Kasamatsu yang sedang membereskan barang-barangnya. Wajah Kasamatsu langsung terangkat lalu menatap orang yang daritadi memanggilnya. "Ada apa, Kise?" Tanyanya. Kise tersenyum lebar—senyuman yang bisa melelehkannya—lalu mengangkat hpnya. "Ayo foto bareng!" Kata Kise dengan semangat, membuat Kasamatsu bingung. Kenapa ia jatuh cinta dengan idiot ini, dia bingung. Kise terus menatapnya dengan tatapan puppy-nya, membuat Kasamatsu tidak mampu berkata 'tidak'. Ia menghela nafas dengan keras, lalu mengangguk. Kise langsung tersenyum lebar dan memeluk kakak kelasnya itu. Yang dipeluk mukanya langsung memerah dan berusaha mendorong yang lebih tinggi—yang langsung melepas tanpa bertanya.

"Ini bakalan jadi kenang-kenangan! Hehe~!"

**
Kasamatsu tersenyum ketika ia mengingat kejadian itu. Senyuman yang jarang terlintas di wajahnya—senyuman tulus.

Kasamatsu langsung mengangkat wajahnya begitu ia mendengar plang yang mengatakan 'operasi' dimatikan, tanda kalau operasi milik Kise selesai. Begitu seorang dokter keluar, ia langsung menghadang dokter tersebut dan bertanya tentang keadaan Kise. "Berita baiknya, Kise Ryouta baik-baik saja." Kata sang dokter, membuat Kasamatsu menghela nafas lega. "Berita buruknya—" Kasamatsu langsung menatap dokter itu dengan tegang. "Ditemukan luka yang mulai sembuh di tubuhnya, jadi kemungkinan dia harus tinggal di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama itu ada." Kata sang dokter sambil memperbaiki kacamatanya. Kasamatsu hanya mengangguk, namun otaknya berpikir keras.

'Luka lain? Darimana ia dapat luka lain ini? Jangan-jangan—' matanya langsung menatap pintu operasi itu. "Dan Kise Ryouta sudah bisa ditemui. Dia di kamar—" Kasamatsu langsung mengangguk begitu ia mendengar nomer kamar milik Kise. Tanpa buang-buang waktu, ia langsung berlari ke lift, lalu memencet tombol menuju lantai 5. Perjalanan menuju kamar Kise benar-benar membunuhnya, namun ia tetap berusaha tegar. Begitu membuka pintu kamar Kise, ia melihat sang blonde.

Kise terbalut dalam begitu banyak perban, membuatnya seperti mumi yang begitu ditakuti. Wajahnya begitu tenang seakan tertidur, dan di pergelangan tangan kiri Kise terpasang sebuah infus. Kasamatsu menghela nafas lalu menarik sebuah kursi lebih dekat dengan kasur Kise. Ia mengelus pipi Kise dengan lembut, lalu menatap wajah yang sedang tidur dengan sama lembutnya.

Ketenangan itu terganggu ketika suara derap kaki yang begitu banyak memasuki kamar Kise dengan cepat. Ia langsung menarik tangannya yang mengelus pipi Kise lalu menatap orang-orang yang baru saja masuk dan merusak momen-nya.

Anggota GoM yang datang pertama.

Semua wajah GoM terlihat khawatir menatap mantan anggota timnya yang terbalut dengan luka. Bahkan Akashi yang biasanya terlihat menyeramkan sekarang terlihat begitu lelah. Semua langsung mengelilingi ranjang Kise. Kesunyian mengantung di ruangan itu, karena tidak ada satupun yang ingin berkata apapun. "Jadi.." Sebuah suara memecah ketenangan itu, yang ternyata sumbernya dari si kapten. "Bagaimana keadaan Ryouta?" Kata Akashi dengan setenang yang ia bisa. "Kata dokter dia nggak papa." Kata Kasamatsu pendek. Hal itu membuat seluruh Kiseki no Sedai menghela nafas dalam lega. "Namun kata dokter juga lukanya cukup buruk. Ada luka lama yang terbuka ketika kecelakaan itu." Jelas Kasamatsu sambil melirik Aomine yang berada di sebelah Kise. Tatapannya tajam, membuat yang bersangkutan langsung menatapnya dan terlihat bingung. "Maksudmu—" Sekarang Midorima yang berkata, seakan mengerti sesuatu. Kasamatsu mengangguk, lalu menatap Aomine lagi. "Jelaskan, Aomine. Kenapa Kise bisa ada luka di tubuhnya? Kata dokter begitu banyak hingga dokter bingung kenapa kecelakaan menyebabkan semua luka itu." Kata Kasamatsu dengan nada yang menuduh. Aomine terlihat gugup lalu menatap sang kapten yang terlihat bersiap membunuhnya. "Hngg—" Tekanan itu hilang begitu sebuah suara baru muncul didekat mereka. Suara lembut milik Kise mengisi suara itu, membuat seluruh orang yang berada di ruangan itu tersenyum. Bahkan Midorima, Kuroko dan Akashi yang terkenal jarang tersenyum juga tersenyum. Kise membuka matanya, lalu menatap sekitarnya. "S-senpai.." Gumamnya sambil terus melihat sekitarnya seakan mencari seseorang. Kasamatsu tentu saja, langsung menggenggam tangan kanan Kise sambil tersenyum dengan lembutnya. "Aku disini Ryouta, aku disini." Kata Kasamatsu dengan lembut, membuat Kise tersenyum sebisanya. Kise langsung menatap seluruh anggota GoM, lalu melihat Aomine yang berada disisi kirinya. Ia hanya menatap Aomine dengan kebencian, lalu menatap sang kapten yang seperti ingin berbicara sesuatu. "Ada.. apa.. Akashicchi..?" Kata Kise dengan lemah. "Ryouta, apakah benar kalau Daiki yang menyebabkan luka di tubuhmu?" Kata Akashi dengan pelan-pelan. Cukup langka, mengingat sang kapten yang memiliki harga diri yang tinggi. Kise terlihat berpikir sebentar, lalu senyuman lemah menghiasi wajahnya yang terlihat pucat. Kise mengangguk kecil, tanda yang cukup untuk membuat semua orang menatap Aomine dengan tatapan yang tajam. "A..no…?" Panggil Kise dengan lemah, membuat semua orang menoleh termasuk Aomine sendiri. Dalam hatinya, Aomine berharap Kise menyelamatkan dirinya. Mengatakan kalau ia hanya bercanda. Mengatakan kalau ia—

"Ceritanya…" mulai Kise, membuat semua orang menyimak sebaik mungkin. Aomine langsung menatap ke arah lain, tahu kalau Kise tidak akan menyelamatkannya setelah apa yang dia lakukan. Akashi yang terlihat tenang sebelumnya sekarang terlihat begitu marah, begitu juga dengan Murasakibara dan Midorima. Bahkan Kuroko dan Momoi yang sudah mengerti kebiasaan Aomine sekarang terlihat kesal dan benci kepada sahabat mereka yang begitu kasar kepada mantan anggota tim mereka.

Kise hanya bisa bercerita jujur, karena kalaupun dia berbohong—pasti Aomine akan merasa bahagia. Lagipula ia terlalu lemah untuk berbohong. Kasamatsu tahu Kise kesulitan untuk bercerita di beberapa bagian, akhirnya ia memutuskan untuk membantu adik kelasnya itu dalam beberapa bagian. Mengingat ia telah menjadi tempat curhat sang blonde membuatnya tahu seluk beluk ceritanya. Ia terus meremas tangan Kise ketika Kise sudah siap menangis. Kise langsung menatapnya dan ia balas dengan tatapan lembut, menandakan kalau ia tidak sendirian. Akhirnya begitu cerita itu selesai, suasana di ruangan itu langsung mencekam.

"Tunggu! Aku sudah minta maaf ke Kise tadi pa—" "Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak menerima maafmu, Aomine?" Kata Kise dengan semanis mungkin, membuat Aomine menelan ludahnya. Ia tahu, ia akan masuk rumah sakit berikutnya.

"Kasa..matsu-senpai." Kata Kise pelan, membuat sang kapten dari Kaijou menatap sang ace dari Kaijou itu sambil bergumam "hmm?", menandakan kalau ia mendengarkan.

"Suki. Senpai ga daisuki." Kata Kise dengan pelan. Pipi Kasamatsu langsung memerah hingga mencapai telinganya, membuatnya menunduk. Kise hanya tertawa tanpa suara, lalu bersandar di bantalnya lagi setelah menyadari kalau daritadi dia duduk tegak ketika bercerita ke anggota GoM. Kasamatsu langsung tersenyum dan menatap adik kelasnya.

"Aku juga. Suki yo, Ryouta." Kata Kasamatsu dengan yakin, namun pipinya masih merah. Kalau mungkin, merahnya pipi Kasamatsu makin parah, membuatnya terlihat seperti tomat yang ranum. Kise yang melihat kakak kelasnya yang seperti ini langsung tertawa kecil, membuat perhatian seluruh tim ajaib itu mengangkat wajahnya dan menatap Kise.

Tak lama kemudian, orang tua dan regular tim basket Kaijou langsung muncul dan bertanya tentang kondisi Kise. Kasamatsu langsung menjawab pertanyaan, tidak menyembunyikan fakta soal luka itu. Mama Kise langsung melarang Kise untuk bertemu dengan Aomine lagi yang disanggupi oleh Kise dengan sepenuh hati. Tim Kaijou terlihat panik, tetapi begitu melihat Kise yang sudah mulai tersenyum, mereka langsung tenang dan mulai bercanda dengan Kise lagi.

Begitu malam telah tiba, seluruh orang pamit untuk pulang kecuali Kasamatsu yang tetap berada disisi Kise. Kise memiringkan kepalanya sambil menatap kekasihnya. "Yukiocchi, kau tidak pulang..?" Tanya Kise, membuat Kasamatsu mengangkat wajahnya lalu menatap Kise. Ia hanya menggeleng, lalu lanjut mengetik email kepada kedua orang tuanya tentang ia menginap di rumah sakit untuk menemani Kise. "Aku tahu kau akan kesepian begitu aku pergi, Ryouta. Dan aku tahu kau benci rumah sakit atau rasa sendirian kan?" Kata Kasamatsu sambil mengatakan fakta yang diberitahu oleh Kise beberapa waktu yang lalu. Kise hanya tertawa kecil, lalu mencium pipi Kasamatsu dengan lembut. Yang dicium hanya bergumam beberapa hal, pipinya memerah.

"Two can play the game, Ryouta." Kata Kasamatsu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kise. "Y—Yukio—cchi..?" Kata-kata Kise langsung terpotong begitu ia merasakan sepasang bibir di bibirnya, membuatnya tersenyum dan berusaha memperdalam ciuman itu. Kasamatsu langsung melepaskan ciuman itu, pipinya makin merah. "Disimpan untuk lain kali saja." Kata Kasamatsu pelan, membuat Kise tertawa geli karena perilaku kakak kelasnya itu.

"Aaah, kau tahu Yukiocchi…" Kata Kise memulai ceritanya. "Pagi ini—sebelum kecelakaan itu—aku memutuskan Aomine." Kata Kise, membuat Kasamatsu teringat kenapa ia bisa melihat kecelakaan itu. "Aku merasa Aomine sudah berlebihan, menyakiti dan menyiksaku seperti boneka—aku merasa aku sudah merasa rasa sakit yang cukup, akhirnya aku memutuskannya." Kata Kise dengan nada yang cukup tenang, namun wajahnya sulit dibaca. Kasamatsu berdiri lalu menarik Kise ke pelukannya. Kise yang agak kaget dengan gerakan Kasamatsu langsung membenamkan wajahnya ke pundak Kasamatsu. "Apabila ingin menangis, menangislah. Aku disini kan?" Bisik Kasamatsu dengan lembut di telinga Kise sambil mengelus punggung Kise yang juga terbalut perban.

Dan itu membuat Kise lepas kontrol.

Ia mulai menangis, berteriak, meng-komplain tentang banyak hal yang telah ia pendam. Ia meremas kemeja Kasamatsu hingga kemeja itu mulai terlihat kusut, namun dua orang itu tidak peduli. Pundak Kasamatsu juga mulai basah karena air mata Kise, namun Kasamatsu juga tidak peduli tentang hal itu. Yang ia lakukan hanyalah untuk menenangkan sang blonde. Ia sendiri juga kaget atas banyaknya hal yang telah disembunyikan Kise di mata publik, membuatnya khawatir. Ia khawatir atas alasan kenapa ia tidak bercerita ke seseorang tentang semua hal ini.

Pelan-pelan, tangisan Kise mulai mereda. Ia melepas pelukan itu lalu menghapus airmata yang masih menetes. Kasamatsu mengelus kepala Kise dengan lembut, dimatanya penuh dengan kekhawatiran. "Ryouta, kau.. Tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang hal-hal barusan?" Kasamatsu langsung dijawab dengan gelengan. "Semua nggak terlalu peduli." Kata Kise pendek sambil berusaha tersenyum. Namun Kasamatsu benci senyuman Kise yang seperti itu. "Aku tidak peduli atas apa kata orang, namun aku disini untukmu Kise. Jadi jangan pernah sembunyikan apapun yang menganggumu. Aku.. Tidak ingin kau rusak dan pecah untuk kedua kalinya. Aku akan menjagamu dengan baik." Kata Kasamatsu dengan yakin. Pipi Kise agak memerah, lalu memalingkan wajahnya.

"Yukiocchi mudah sekali ya, berkata seperti itu." Kata Kise sambil menunduk, pipinya masih merah. Kasamatsu hanya tertawa kecil melihat perilaku kekasihnya itu lalu menangkat dagu Kise, membuat Kise menatapnya. Kasamatsu menyandarkan keningnya di kening Kise. Jarak mereka begitu dekat hingga mereka berdua mampu bernafas dalam satu nafas yang sama. Kehangatan diantara mereka cukup nyaman, namun posisi mereka cukup aneh. Kasamatsu hanya tertawa, lalu tersenyum. "Walaupun ada hujan, ada badai, jika kau merasa terluka langsung telfon aku, oke?" Kata Kasamatsu dengan lembut. "Aku akan datang secepat mungkin." Lanjut Kasamatsu dengan yakin. "Um, Yukiocchi.. Tapi aku sudah tidak ada tempat tinggal.." Kata Kise lemah. Kasamatsu langsung menaruh sebuah kunci di tangan Kise. "Kunci menuju apartemenku." Ucap Kasamatsu sambil nyengir, membuat Kise tersenyum bahagia seakan dia baru saja mendapat hadiah natal.

"Hai!"

** Owari **

A/N ; Oke, ini FF—Aku nggak tahu mau ngomong apa. Aku emang suka Aokise, tapi.. Mood berkata lain(?). Urgh. Mana ini FF pertama di fandom Kurobasu lagi. Speechless deh. :I GAAHH—oke.

Flame aja sesuka anda, mohon kritik saran juga ya. Review gitu. Hehe. Sankyuu nee. /bows/
Dan selamanya Kurobasu itu bukan milikku. C: