Salam kenal, minnaaa…
Ini fanfic pertama Puff. Maaf kalo emang fanficnya jelek.
Cerita ini terinspirasi dari sebuah manga yaoi(=.=)" yang judulnya Boy's Next Door. Tapi ceritanya gak begitu sama, kok. Soalnya kalo Puff pake plot manga aslinya, ratednya malah bisa jadi M. Tapi yang pasti fanfic ni memakai nama-nama chara Bleach. Pairing IchiRuki.
Warning: AU, pendek, rated mungkin bisa berubah sewaktu-waktu, bloody(?)
Puff mohon reviewnya…
Disclaimer:
Bleach -by Kubo Tite-
Boy's Next Door -by Yuki Kaori-
.
THE GIRL IN BLACK
-by Fuchsia Puff-
"Hahh…Hahh…," peluh membasahi tubuhnya. Tarikan nafas terasa begitu berat baginya. Perlahan-lahan Ichigo membasuh darah yang terpercik ke wajahnya. "Untuk malam ini, pekerjaanku sudah selesai."
Ichigo memandangi lelaki yang terbujur kaku dan bersimbah darah di depannya. "Kau terlihat lebih baik seperti ini,"dan Ichigo perlahan menjilati pisau merah di tangannya.
Ia berbalik. Malam ini seperti biasa, ia memburu para anak geng motor yang berkeliaran di daerah itu. Lorong gelap seperti inilah yang menjadi tempat favoritnya. Karena dekat dengan markas geng motor dan jarang dilewati orang.
Ketika ia mulai bernafas lega, ia menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Nafasnya terhenti sejenak. Seorang gadis yang… sangat cantik. Dengan pakaian serba hitam dan rok mini 7 inchi di atas lutut, Ichigo langsung menyadari kalau gadis itu salah seorang dari anggota geng motor tersebut. Ia memandang Ichigo tanpa ekpresi. Ia tak tampak takut, bingung, atau gentar. Tak ada reaksi apa pun, layaknya sebuah boneka. Untuk sesaat, Ichigo terpaku memandangnya, hingga kemudian beberapa orang terlihat melintasi lorong itu.
"Rukia, apa yang kau lakukan disini?" tanya salah seorang dari mereka.
Ichigo kalut. Ia langsung berlari menyusuri lorong sempit yang biasanya ia gunakan sebagai tempat pembunuhan itu. Sekawanan laki-laki tadi hanya diam, lalu menghampiri seseorang yang bernama Rukia tadi. Namun, saat itu mereka melihat…
"Haahhh? Apa ini?" teriak mereka begitu melihat lelaki bersimbah darah bersandar di dinding lorong. "Jangan-jangan dia pembunuh anggota geng motor yang sering diberitakan itu! Ayo kita lapor pada boss!" mereka berlarian keluar dari tempat itu. Sementara Rukia hanya terdiam. Matanya menangkap sesuatu diantara lumuran darah itu. Ia mengambilnya. Ternyata itu adalah sebuah kalung. Kalung dengan inisial nama terukir diatasnya.
"Kurosaki…Ichigo?"
"Kurosaki-san, anak muridmu berulah lagi."
"Ulah?" Ichigo melihat dua orang anak SMP yang tengah digandeng oleh guru wanita bernama Orihime tadi. "Neliel, kau bertengkar lagi?"
"Bukan begitu, Pak. Grimmjow minta putus. Padahal kami baru pacaran seminggu," lalu Nel melirik Grimmjow di sampingnya dengan sinis. "Dasar buaya darat…"
"Heh! Buat apa juga aku pacaran ama cewek matre macam kau?"
"Dimana-mana itu cowok yang membayar. Kalo emang gak punya uang yang gak usah nembak segala!"
"Kauuu! ! !"
"Sudah, sudah," Ichigo segera menengahi mereka. "Kenapa sih, hanya masalah sepele begini saja dipermasalahkan? Kalau memang soal biaya kan bisa patungan?"
"Pak, ini bukan rapat kelas yang kalau mau ada acara harus kumpul uang dulu! Ini kencan!"
"Ya, ya. Bapak tau, kok," ujar Ichigo sabar.
"Bapak yang gak pernah punya pasangan mana mengerti hal seperti itu!"
Ichigo terhenyak. Nel langsung cepat-cepat menutup mulutnya diikuti tatapan tajam dari Orihime. Itu memang sudah lama menjadi topik diantara pergunjingan para siswi. 'Pak Kurosaki selalu membujang padahal ia memiliki wajah yang tampan'. Banyak yang bahkan mengatakan Ichigo membenci wanita dan sebagainya
"Neliel!", Orihime menyenggol lengan Nel yang masih terdiam.
"Ma, maafkan saya," Nel langsung berlari menjauhi mereka. Grimmjow yang melihatnya ikut mengejar.
"Neliel! Grimmjow!" Orihime berteriak memanggil mereka, namun sia-sia saja karena mereka sudah kabur.
"Anak itu…Fiuh, dia memang tidak sadar diri. Padahal kau hanya ingin menasehatinya," ujar Orihime
"Tidak, memang benar aku yang salah. Aku yang tak pernah mengerti cinta mana bisa mengerti perasaannya? Benar-benar payah."
"Bukan seperti itu, Kurosaki-san," Orihime tersenyum kecil ke arah Ichigo. "Hanya saja kau telalu sibuk mengurusi masalah anak-anak nakal itu sehingga kau pun melupakan kebutuhan pribadimu sendiri."
"Yah, bukan hanya sibuk, tapi aku juga tak berpengalaman dalam menyenangkan hati para wanita. Topik yang selalu kubicarakan paling hanya soal pekerjaan. Aku bukanlah orang yang romantis."
"Tapi setidaknya kau pernah mencintai seseorang, kan, Kurosaki-san?"
"Ehm, yah… Itu pun gagal." ujar Ichigo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau tahu? Cinta pertamaku ternyata seorang pengedar narkoba."
"Eh?" Orihime tersentak.
"Dulu kukira dia adalah gadis baik-baik. Ternyata setelah kudekati, dia malah mengajakku bergabung dengan kelompoknya. Huff, untunglah perasaan tidak membutakan akal sehatku."
"Oh, maaf. Aku tak bermaksud untuk…"
"Tidak apa," Ichigo tersenyum ke arah Orihime. "Mungkin trauma itulah yang menyebabkan aku takut untuk memiliki perasaan itu lagi, Inoue-san."
Orihime tertegun mendengarnya. "Mungkin, kau bisa mengulanginya dari awal, Kurosaki-san."
"Dari awal? Maksudmu?"
"Yahh…Melupakannya dan mencari yang baru," wajah Orihime langsung memerah.
Ichigo tersenyum penuh arti mendengarnya. "Tapi kurasa, tak akan ada yang mau denganku."
"Ku, Kurosaki-san. A…Aku…Aku…"
Mata keduanya pun bertemu. "Aku…Aku…me…me…"
"Kurosaki? Jadi namamu adalah Kurosaki Ichigo?" tiba-tiba seseorang memeluk tubuh Ichigo erat sambil mengulurkan sebuah kalung. "Ah, maksudku apakah kalung ini milikmu? Bahkan tertera juga nomor telepon yang bisa dihubungi kalau kalung ini hilang."
Orihime langsung cengo di tempat. Ichigo memberontak dan melepaskan diri dari tangan tadi. "Siapa kau?"
"Kurosaki Ichigo… Nama yang bagus."
Ichigo terperangah. Tak salah lagi dia adalah gadis yang melihatnya tadi malam. Dari seragamnya, jelas kalau dia murid SMA. Wajah yang cantik dan rambutnya hitam sebahu… tak salah lagi. Dialah orangnya!
"Kalung itu pasti terjatuh pada saat itu. Habislah aku! Dia pasti akan menceritakan semuanya," batin Ichigo. "Yang lebih membuatku tak percaya, bagaimana bisa ternyata ia murid SMA sekolah ini?"
"Hei, kau ini siapa?" tanya Orihime curiga. "Dia bukan guru SMA, jadi tak mungkin kau muridnya. Lalu, apa urusanmu seenaknya saja memeluk Kurosaki-san?"
"Ya," lalu ia berbalik ke arah Ichigo. "Aku hanya ingin bertemu dengannya, Sudah lama kita tak bersua. Dan ternyata ia bekerja menjadi seorang guru SMP di kota ini. Iya, kan? Kak Ichigo?"
"Ah! Jadi kau adiknya? Waahhh… Kurosaki-san tak pernah bilang kalau dia punya adik semanis ini!" ujar Orihime sambil bernapas lega. "Oh,ya. Siapa namamu?"
"Kau boleh memanggilku Rukia."
Ichigo mundur beberapa langkah. "Apa maunya dia? Kenapa dia tidak menyerahkan kalung itu ke polisi? Apa dia tak tahu kalau aku yang selama ini membunuh teman-temannya? Apa dia tak takut suatu saat aku juga akan membunuhnya?" beribu tanda tanya tersirat di benaknya.
Rukia mengalungkan kalung tadi ke lehernya. "Apa aku cocok memakainya, senpai? Kalau kau ingin mendapatkannya kembali, temui aku malam ini," ujarnya seraya menyelipkan sebuah kertas kecil ke kantong baju Ichigo. Tak lupa sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Ichigo.
Ichigo terpaku. "Apa yang dia pikirkan?"
Rukia mengibaskan rambutnya seraya membalikkan badan dan berlalu. Sedangkan Orihime masih bengong dengan mulut terbuka lebar.
Krekk… Ichigo menekan cutter yang tersembunyi dalam saku celananya.
"Malam ini adalah giliranmu, gadis kecil…"
-To be continued-
Huaahh… Akhirnya publish juga *ngos-ngosan sambil ngelap keringat*
Pendekkah? Terlalu pendekkah? Atau porsinya pas?
Review pleaseee…
