Yep, disini autor baru yang datang tak dijemput pulang minta antar!

Sebenernya ffic ini pernah di publish di Megami Tensei, tapi di rewrite lagi, dan dipindah ke bagian Persona Series karena dirasa sang author lebih cocok. Dan oh, ini adalah persona Next Generation oke ^^ gabungan antara anak dari karakter P3 dan juga P4, tapi untuk chapter-chapter awal hanya akan dilihatin anak-anak dari P4.

Maaf jika banyak kesalahan dan penulisan yang abal anda temui. Maklum ini ffic pertama author walaupun hanya republish aja :)

So, kita mulai saja!

.

Persona : Death Star

Persona Series © Atlus

Original Character © Author

.

"Apakah kau melihat bintang yang bersinar dengan cahaya merah itu?"

Pemuda berambut abu-abu yang tampak menunjuk ke arah langit malam saat itu tampak tersenyum sambil menatap anak kecil berambut biru di sampingnya. Anak itu tampak menoleh, menemukan bintang yang dimaksud. Sebuah bintang, yang berwarna merah darah—sangat mencolok dan tidak pernah ia melihat sebelumnya.

"Ya—apa itu ayah?"

"Kau tidak perlu tahu sekarang—" senyuman lembutnya tampak cukup untuk membuat anak itu tenang dan tidak memalingkan tatapannya dari senyuman ayahnya. Ia sangat menyukainya—karena senyuman itu yang selalu ada disaat apapun yang ia hadapi, "—tetapi yang harus kau tahu, saat kau membutuhkan seseorang di sampingmu, bintang itu akan selalu ada dan menemanimu dimanapun dan kapanpun kau berada…"

"Tetapi aku tahu satu hal yang pasti—" senyumannya mengembang dan anak itu memeluk lengan ayahnya sangat erat, "—sebelum bintang itu muncul, ayah pasti akan selalu ada di sampingku, apapun yang terjadi!"

"Ya—aku akan selalu ada di sampingmu, apapun dan kapanpun, saat kau dan juga adikmu membutuhkanku," mengecup ujung kepala anak laki-laki itu dan membalas pelukannya. Menutup matanya dan membenamkan kepalanya diatas kepala anak itu.

'Karena kalian—adalah hartaku yang paling berharga…'

[ 1 Maret 2032 ]

Inaba, Residence Area

17.00

Membuka matanya—pemuda berambut biru pendek dengan mata abu-abu pucat tampak menemukan dirinya berada di kamarnya. Sebuah rumah yang cukup—sangat—luas, dan yang ia lihat pertama kali adalah langit-langit rumahnya yang berwarna putih dan juga sebuah lampu yang hidup secara tiba-tiba.

Mengejapkan matanya, menatap siapa yang membuka pintu kamarnya dan menyalakan lampunya tiba-tiba.

"Kaa-san, jangan membuatku kaget," bangkit dari tempatnya tidur, mengacak rambut birunya dan menatap seorang perempuan berambut biru se-bahu dengan mata senada. Ibunya berjalan kearahnya dan duduk di sisi tempat tidurnya sambil tersenyum dan mengusap kepalanya.

"Maaf Akito, ibu ingin kau menjemput Kumiko—ini sudah sore dan ia belum pulang juga," anak itu melihat jam digital yang ada di sebelah tempat tidurnya, sebelum bergumam 'hn' dan berdiri dari tempat tidur berukuran Queen Size miliknya.

"Aku akan menjemputnya—" menguap pelan, berjalan akan mengambil jaket dan juga payung karena melihat hujan yang turun cukup deras di luar.

"Tubuhmu tidak apa-apa bukan Akito?"

"Tenang saja, lagipula hanya di dekat sini bukan," pemuda itu tampak tersenyum dan berjalan keluar dari rumahnya yang cukup luas itu dan mencari sosok adiknya yang keluar dari rumah itu sejak siang hari.

"Tou-san, aku merindukanmu!" anak perempuan, kali ini berambut abu-abu lurus dengan mata berwarna senada namun lebih pucat itu tampak tersenyum dan memeluk tubuh ayahnya yang ada di depannya. Pria yang berambut abu-abu itu tampak tersenyum dan berjongkok, mengusap kepala anak itu, "lihat-lihat, aku juga bisa mendapatkan ikan seperti yang dilakukan oleh tou-san!"

"Hm? Kau benar-benar mencari ikan itu ya—" pria itu tertawa dan menepuk kepala anak perempuan itu, "—kau benar-benar hebat!"

"Tetapi, kakek di Samegawa River mengatakan kalau ayah bisa menangkap ikan yang sangat besar! Aku ingin menangkapnya juga—" menghela nafas dan memperagakan besar ikan yang ia dengar dari kakek-kakek yang ada di Samegawa River itu, membuat ayahnya lagi-lagi terkekeh pelan, "—lihat saja, aku pasti akan bisa menangkap ikan itu!"

"Dan tou-san akan menunggu saat itu tiba—" mengedipkan matanya sebelah, mengecup puncak kepala anak itu.

Samegawa River

17.15

Akito Narukami—pemuda berusia 16 tahun, memiliki rambut berwarna biru dengan mata berwarna abu-abu pucat. Pelajar di Yasogami High School bersama dengan adiknya. Tinggal di Inaba sejak usianya 12 tahun, setelah 2 tahun lamanya ikut dengan ayahnya pergi meninggalkan Inaba.

Ibunya dan juga adik perempuannya sudah berada di Inaba, dan tidak pernah pergi meninggalkan kota kecil yang damai itu.

Sikapnya tampak dewasa, sedikit pendiam tetapi perduli dengan sekitarnya, dan menyayangi adiknya lebih dari apapun.

Ia akan melakukan apapun selama itu membuat semua anggota keluarga dan juga teman-temannya senang dan juga bahagia. Ibunya mengatakan, kalau ia benar-benar menurunkan sifat ayahnya walaupun ayahnya sering mengatakan kalau ia lebih menurunkan sifat ibunya.

Di tengah hujan yang mengguyur kota Inaba itu, ia melewati sungai Samegawa. Salah satu tempat yang sering dikunjungi oleh ayah dan juga adik perempuannya. Ia tahu kalau adiknya akan ada di sana. Dan benar saja, ia menemukan sosok anak perempuan berambut abu-abu panjang sedang menunduk dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Di depannya, sebuah alat pancing tampak bertengger dan tergeletak begitu saja di atas tanah.

Menghela nafas—berjalan menuruni tangga sambil membuka sebuah payung lagi selain yang ia kenakan. Meletakkannya diatas tubuh anak perempuan itu tanpa mengatakan apapun selama beberapa saat.

"Ayo kita pulang Kumiko—"

"Kumiko?" mengulanginya kembali saat tidak ada respon dari yang bersangkutan. Menepuk bahunya sekali, membuatnya melonjak kaget dan menoleh ke belakang.

"A—Akito-nii, ada apa?"

"Harusnya aku yang menanyakan itu, kau bisa sakit jika hujan-hujanan seperti ini—" menghela nafas melihat adiknya itu, mencoba untuk tersenyum dan anak perempuan itu tampak menunduk sejenak sebelum mengangkat wajahnya dan tersenyum sambil berdiri.

"Maaf—karena terlalu asik memancing aku jadi tidak sadar kalau hari sudah hujan!" membungkuk sejenak lagi untuk mengambil pancingan di depannya, dan menggenggam payung yang dibawa oleh kakaknya itu. Merangkul, menarik lengan kakaknya untuk menjauh dari tempat mereka berada.

"Ayo, kaa-san pasti sudah menunggu!"

Suara deru nafas yang menyesakkan tampak terdengar—hanya itu dan juga tangan ayahnya yang mencengkramnya erat. Tidak bisa berbalik maupun beristirahat, ayahnya terus saja menariknya seakan sedang berlari dari sesuatu yang mengejar mereka. Malam tampak semakin larut, dan saat itu tidak ada awan yang menutupi langit yang dikelilingi oleh bintang.

"Tou-san, kenapa kita harus berlari!"

"Apapun yang terjadi, jangan sampai kau melihat mereka Akito—jangan menoleh sedikitpun ke belakang!" ayahnya tampak panik, tidak seperti biasanya, malah membuatnya semakin penasaran. Tetapi ia hanya bisa mengangguk dan berlari mengikuti ayahnya yang menggendong Kumiko. Saat itu, ibunya sedang berada di luar Inaba untuk bekerja selama beberapa hari.

"Ugh—" gerakannya terhenti saat tubuhnya sudah tidak kuat untuk bergerak lagi. Akito tampak mencoba untuk mengambil nafas yang sesak, dan memegangi dadanya yang sakit. Ia tidak pernah menyukai penyakitnya yang membuat ia kepayahan. Ayahnya yang tampak terkejut melihatnya segera berhenti dan berbalik.

"Akito, kau tidak apa-apa?"

"A—aku tidak apa-apa tou-san… Hanya sedikit lelah—" meremas pakaiannya dan mencoba untuk menenangkan dirinya, menutup matanya, "—sebaiknya kita bawa Kumiko ketempat yang lebih aman…"

"Akito, awas!" baru saja akan bangkit saat ayahnya tampak berteriak panik dan menarik tubuhnya dalam pelukan ayahnya. Tampak bingung dengan apa yang terjadi—tetapi yang ia tahu selanjutnya hanyalah warna merah yang membasahi tubuhnya, dan juga cahaya putih yang membentuk seperti mata—menatapnya dengan dingin, dan setelah itu kegelapan yang menguasai seluruhnya.

Residence Area

18.45

'…kito…Akito…'

"Akito?" suara ibunya tampak membuatnya tersentak, dan saat ia tersadar dari lamunannya, ia mendapati dirinya sudah berada di ruang makannya dengan tangan yang masih memegang sendok berisi makanan yang belum ia makan sama sekali. Sepertinya ia sudah terlalu lama melamun dan mengenang memori tentang ayahnya, "apakah kau tidak apa-apa?"

"Hm—aku tidak apa-apa kaa-san…"

"Akito-onii-san tampak seperti hantu—tidak bisa dipanggil sama sekali sedari tadi," Kumiko tampak memakan karage yang ada di depannya, tampak bersemangat dengan apa yang ia lakukan, "apakah onii-san memikirkan sesuatu?"

"Tidak juga—" melanjutkan makannya dan tampak Kumiko yang mengembungkan pipinya kesal dan menjulurkan lidahnya, "kau tetap saja seperti anak kecil Kumiko…"

"Biar saja!"

"Ingat usia juga—" menggerutu melihat kakaknya yang tampak senang sekali mengejeknya.

"Kakak sama dinginnya dengan otou-san!"

Suasana tampak hening saat Kumiko menyebut ayahnya. Baik ibunya maupun Akito tidak merespon apapun, dan Kumiko hanya bisa menutup mulutnya karena secara tidka sadar membuat suasana rumah itu kembali dingin.

"A—ah, aku sudah selesai! Terima kasih atas makanannya Yakushiji-san!" mengatupkan kedua tangannya dan tersenyum menatap pelayan setia ibunya yang membalas senyumannya, "aku kembali ke kamar saja—jangan mengintip kakak bodoh!"

Berlari, meninggalkan kakaknya dan juga ibunya yang hanya terdiam melihat kelakuan adiknya itu.

"Kaa-san jangan khawatir—" menundukkan kepalanya memakan kembali makanan di depannya hingga habis. Tidak menatap ibunya dan hanya menundukkan kepalanya, "—aku akan selalu menjaga Kumiko. Aku akan mencari tahu kenapa Kumiko berperilaku seperti itu sejak—ayah tidak ada…"

"Jangan paksakan dirimu Akito—"

"Tenang saja, lagipula aku malas memaksakan diriku terlalu keras…" ibunya hanya tersenyum dan tertawa kecil mendengarnya. Walaupun ia mengatakan kalau ia malas melakukannya, tetapi tentu saja itu tidak benar. Ia akan melakukannya dengan sangat baik—walaupun sifatnya terkadang memang menunjukkan kalau ia pemalas.

"Para guru berkata—" ibunya menoleh saat Akito memulai kembali pembicaraan mereka, "—Kumiko akhir-akhir ini tidak konsentrasi dalam mengikuti pelajaran. Aku sudah menanyakan alasannya tetapi ia tidak mau mengatakannya padaku…"

"Benarkah? Kau sudah menanyakan pada Arisa apakah adikmu memiliki masalah di sekolahnya?"

"Aku sudah menanyakannya pada Arisa, Yoshito, Rei dan Kei, serta Shion—mereka tidak merasakan ada yang berbeda dari Kumiko," menyuap suapan terakhir makanannya sebelum mengatupkan tangannya dan bergumam 'terima kasih atas makanannya'.

"Begitu…"

[ 3 Maret 2032 ]

Junes

12.00

"Bagaimana keadaan Kumiko dan juga Akito, Naoto?" perempuan berambut cokelat pendek tampak menatap ibu dari Akito dan juga Kumiko—Naoto Shirogane, atau yang sekarang berganti menjadi Naoto Narukami. Beberapa orang tampak berkumpul di pusat perbelanjaan Junes, membicarakan sesuatu yang tampak serius.

"Akito sepertinya tidak mengalami perubahan—tetapi, sepertinya Kumiko akhir-akhir ini menjadi pemurung…"

"Kei dan Rei juga mengatakan hal itu—tetapi, menurut mereka Kumiko tetap ceria seperti biasa. Dan tidak ada masalah yang dihadapi olehnya saat ini," perempuan berambut hitam panjang dengan bando berwarna merah yang selalu bertengger di kepalanya itu tampak menanggapinya cukup serius.

"Arisa tampaknya juga merasakan hal itu—" kali ini perempuan berambut cokelat ikal tampak menatap mereka semua yang sedang berbicara saat itu diikuti dengan anggukan dari pemuda berambut perak dengan sebuah luka di dahinya.

"Apakah ia pernah mengalami perubahan sikap seperti ini Naoto?" pemuda berambut cokelat yang tampak memakai kemeja putih dan juga celemek berlogokan Junes itu tampak menyilangkan tangannya dan melihat reaksi dari perempuan berambut biru itu—dan ia hanya menggeleng pelan.

"Mungkin—sebaiknya kita minta bantuan dari Yoshito saja, mungkin dengan berbicara empat mata dengan Kumiko kita akan tahu apa yang sebenarnya terjadi," yang ada di sana tampak menatap pemuda berambut cokelat itu sebelum mengangguk pelan.

[ 4 Maret 2032 ]

Kumiko's Room

19.00

Di sebuah kamar, bernuansa biru dengan semua atribut tampak hampir dipenuhi oleh warna biru, tampak Kumiko yang hanya diam memeluk lututnya sambil membenamkan dirinya di dalam selimut. Isakan pelan terdengar, sebelum pada akhirnya dipecahkan oleh suara ketukan halus dari balik pintu itu.

"Siapa?"

"Kumiko-chan, ini aku…!" suara yang familiar itu membuat Kumiko sedikit tersentak dan mencoba untuk bangkit sambil menghapus air matanya. Berjalan membuka pintu untuk menemukan pemuda berambut cokelat pendek dengan sebuah headset bertengger di lehernya, "yo Kumiko-chan, bagaimana keadaanmu?"

"Yoshito-senpai, kenapa kau ada disini?"

"Hanya ingin mengobrol—apakah tidak apa-apa?" cengiran lebar yang mirip dengan ayahnya itu tampak terlihat. Terdiam sejenak—mencoba untuk menelaah apa yang diinginkan pemuda di depannya, "kau akan menceritakan semuanya padaku bukan, Kumiko?"

"Entahlah senpai—" menghela nafas dan berjalan, mempersilahkan pemuda berambut cokelat itu masuk ke dalam kamarnya. Kumiko duduk, dan kembali memeluk lututnya sambil menundukkan kepalanya.

"Apakah ada yang mengganggu fikiranmu?" duduk di sebelahnya, menepuk kepala Kumiko pelan, mencoba untuk membujuk Kumiko menceritakan masalahnya.

"Tidak ada—aku hanya merasakan sesuatu yang—aneh, senpai…"

"Memang apa yang kau rasakan saat ini?"

"Kesepian—hanya itu," menaikkan sebelah alisnya, Yoshito bingung mendengar pernyataan dari Kumiko yang diikuti dengan isakan halus dari mulut Kumiko.

"Kenapa? Bukankah Naoto-san dan juga Akito selalu ada di sampingmu? Aku, dan yang lainnya juga bisa menemanimu jika kau mengatakan pada kami—" berbisik, mencoba untuk menenangkan Kumiko yang tampak perlahan terisak semakin kencang, "semua orang selalu ada untukmu. Apa yang membuatmu kesepian Kumiko?"

"Bukan itu—" menggelengkan kepalanya, isakan itu semakin jelas terdengar dan membuat Yoshito semakin panik dan juga bingung apa yang diinginkan oleh anak itu, "—semua itu berbeda… Aku hanya ingin otou-san ada disini…"

"Aku merindukannya—" isakan itu berubah menjadi tangis pelan yang terdengar menyayat hati. Yoshito tidak bisa berbuat apapun—ia tidak akan bisa menemukan kata-kata apapun untuk menenangkannya. Karena ia tahu—ia memang tidak memiliki kekuatan untuk menenangkan Kumiko disaat ia membicarakan masalah ayahnya, "—aku merindukan otou-san, Yoshito-senpai…"

"Aku mengerti—"

"Aku ingin bertemu dengannya lagi…"

In front of Kumiko's Room

21.00

Melihat Kumiko yang tampak tertidur setelah puas menangis, Yoshito hanya bisa tersenyum sedih dan berjalan keluar dari kamar Kumiko dimana Naoto dan juga yang lainnya sedang menunggunya disana.

"Bagaimana Yoshito-kun?" Yukiko menatap anak dari Naoto dan juga Yuu yang tampak hanya diam dan menundukkan kepalanya saja. Ia sudah tidak bisa mengatakan apapun, tidak bisa menjawab apapun setelah mendengar alasannya bersikap aneh beberapa hari ini.

"Eh, senpai murung? Yoshito-senpai murung bukan hal yang biasa terjadi," seorang anak perempuan berambut putih dan bergelombang panjang itu tampak kaget melihat Yoshito yang bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Yukiko. Mendapatkan jeweran dari ibunya—Rise, mengaduh pelan sambil memegangi telinganya.

"Yoshito—" menepuk pundak sahabatnya itu, Akito tampak menatapnya dengan tatapan serius, "—apakah Kumiko melakukan sesuatu yang salah?"

"Tidak—" tersenyum sedih dan menggelengkan kepalanya, ia tetap tidak sanggup menatap semua orang yang ada di sana. Ia tahu, apa yang akan ia beritahukan ini akan berdampak pada semua orang, "—ini hanya masalah, paman Yuu…"

Semua orang tampak terdiam—bahkan gerakan tangan Rise dan juga suara anaknya tampak terdiam sebelum akhirnya semua mata memandang Yoshito sejenak dan beralih pada Naoto.

Yuu Narukami, ayah dari Akito dan juga Kumiko tewas—karena sebab yang tidak jelas. Baru sebulan lamanya kejadian itu terjadi, tentu saja kesedihan masih melanda keluarga Narukami itu. Seharusnya mereka tahu, kalau kematian Yuu itu masih berefek pada anak-anak mereka—dan juga Naoto.

Mereka takut jika Naoto kembali terpukul dan menangis—seperti yang dilakukannya beberapa hari setelah kematian dari suaminya itu. Tetapi alih-alih menangis, Naoto hanya menutup matanya dan menghela nafas berat.

"Begitu ya—" menundukkan kepalanya, suaranya tampak lirih membuat Akito khawatir dengan keadaan ibunya itu, "—seharusnya aku sadar, Kumiko belum melupakan ayahnya. Satu bulan bukanlah waktu yang cukup untuk melupakan sosok Yuu di mata Kumiko…"

"Naoto—"

"Senpai—apakah aku gagal menjadi seorang orang tua?"

"Ayah—bertahanlah," semuanya tampak berjalan lamban. Akito tampak menggenggam erat tangan ayahnya yang dipenuhi oleh darah. Semuanya tempat seolah menjadi kuburan, tanpa ada seseorangpun ada di sana. Tidak ada orang yang bisa menolongnya, sementara ayahnya tampak terluka parah dengan beberapa luka ada di tubuhnya.

Ia ingat, saat itu—air matanya tampak mengalir. Padahal ia tidak pernah membiarkan orang lain, terutama keluarganya melihat ia menitikkan air mata. Bahkan saat tubuhnya sedang berjuang dengan penyakitnya, ia tidak pernah menangis walau sesakit apapun rasanya.

"Akito—" senyuman itu, tampak tidak berubah sedikitpun dari wajah sang ayah. Tangan ayahnya bergerak, mencoba untuk mengusap air mata yang ada di pipi Akito saat itu. Akito menahan tangannya yang akan terjatuh itu, menggenggamnya dengan sangat erat. Menghela nafas, pria berambut abu-abu itu menggunakan tangannya yang bebas untuk mengambil sebuah kunci berwarna biru velvet yang seolah bersinar, dan sebuah kartu tarot. Segera memberikannya pada Akito saat itu—

"Lindungi adikmu, ibumu, dan semuanya—ayah yakin kau bisa melakukannya," senyuman itu semakin pudar, bersamaan dengan kolam darah yang semakin luas menyebar di sekeliling Akito dan ayahnya. Tangan yang digenggamnya semakin dingin—hingga pada akhirnya terjatuh begitu saja.

"Tou-san…?"

Tidak ada jawaban—

"Tou-san, bangunlah…"

Tetap tidak ada jawaban—

"Tou-san, kumohon—bangunlah, jangan menakutiku!"

Mulutnya terus berucap, memanggil ayahnya—seolah ayahnya akan menjawab panggilannya dengan senyuman seperti biasa. Tetapi hati kecilnya terus berkata, kalau ayahnya sudah tidak mungkin membuka matanya. Ayahnya tidak mungkin lagi tersenyum dan tidak mungkin lagi menemaninya seperti dulu.

Mata itu sudah tertutup selamanya—sampai kapanpun…

Unknown Place

Unknown Time

Bau obat-obatan menyengat, menusuk hidung sang pemuda yang tampak membuka matanya perlahan untuk menemukan dirinya berbaring disebuah tempat tidur—seperti sebuah tempat tidur di rumah sakit. Mata abu-abunya beredar hanya untuk mencari dimana ia saat ini. Yang pasti, walaupun baunya sama—tempat serba biru itu bukanlah sebuah rumah sakit.

Saat ia mencoba untuk bergerak, ia baru menyadari seseorang duduk di depannya dan memangku dagunya dengan kedua tangannya yang terpaut.

"Selamat datang di Velvet Room—"

Te Be Ce (?)

Oke cerita abal dengan alur tidak jelas.

Jadi, intinya adalah setting yang diambil 20 tahun setelah persona 4 selesai—dan yang diambil adalah versi normal ending yang berarti Izanami masih berkeliaran. Setting Inaba, dimulai dengan dialog Akito yang merupakan anak dari Yuu Narukami dan juga Naoto Shirogane—begitu juga dengan Kumiko.

Di akhir cerita, diperlihatkan juga kalau sang ayah—Yuu Narukami sudah tewas 1 bulan sebelum cerita ini dimulai ^ ^

Ah dan yang dicetak miring adalah : Flash Back

Apakah cerita ini pantas untuk dilanjutkan, atau perlu diperbaiki dari segi penulisan dan juga cerita?

Review ya u_u