TRUE LOVE SWEET LIES
Disclaimer: Masashi Kishimoto
SasuSaku
Rate: M
typo, eyd berantakan, ooc
.
.
.
Di persimpangan jalan pusat kota Konoha seperti biasanya telah dipenuhi dengan banyak wanita dan pria dari segala umur yang berlalu lalang untuk mengawali hari. Beberapa mereka terus berjalan sangat cepat tanpa memperhatikan keadaan sekitar, namun beberapa dari mereka sesekali menoleh dan adapula yang berhenti untuk melihat berita yang sedang disiarkan pada setiap layar besar di beberapa bangunan.
"Menurut berita di koran pagi ini, mantan perdana menteri Orochimaru kemungkinan akan mempertimbangkan untuk mengikuti pemilu yang akan diadakan bulan depan..."
Ini dia! Seorang gadis mengepalkan tangannya antusias. Foto yang berhasil dia ambil secara rahasia saat rapat antara mantan perdana menteri dan kepala sekretaris kabinet telah diterima dan sekarang sudah tersebar ke semua media. Sudah setahun semenjak dia menjadi seorang freelance photographer. Dan dia akhirnya berhasil membuat fotonya dipajang di halaman paling depan pada koran pagi ini.
Drrrt drrrt
Hm? Sakura bergumam sambil mengambil ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.?
Berikan data foto yang kau ambil dari rapat rahasia itu.
Apa ini? Siapa yang mengirimiku pesan ini? Sakura mengernyitkan dahinya, terlebih dia tidak mengerti apa dengan maksudnya untuk memberikan data fotonya, padahal foto tersebut sudah tersebar keseluruh kota.
"Ah, sial! Aku akan terlambat rapat!" Sakura memasukkan kembali ponselnya tanpa mempedulikan siapa yang baru saja mengiriminya pesan kemudian berlari ke kantor yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Whew. Hampir saja.. Sakura merapikan rambut dan pakaiannya kemudian mulai masuk kedalam gedung. Hari ini dia ada rapat dengan Kankuro salah satu seorang editor dari departemen Life and Style. Sakura menarik napasnya lalu masuk ke lift dan menekan tombol menuju lantai 3.
"Tolong tahan liftnya!"
Sakura menahan liftnya saat melihat seorang pria berlari panik menuju kearahnya.
"Terima kasih banyak." Pria itu menyeka keringatnya sambil tersenyum lebar kepada Sakura.
"Tentu." Sakura mengangguk sambil terus menatap kagum kearah pria yang baru saja masuk.
Woaaa, dia terlihat mengagumkan. Sakura menganga. Dan dia juga tampan. Huh, tunggu. Sepertinya aku pernah melihat pria ini disuatu tempat.
"..." Sakura memiringkan kepalanya dengan dahi berkerut. Tak lama setelah itu dia terdengar menjentikkan jarinya.
Oh iya aku ingat. Dia adalah Akasuna Sasori, aktor yan sangat populer! Ya tuhan, aku sedang berada berdua di dalam lift bersama seorang aktor! Sakura mulai bergerak panik sambil sesekali melirik kearah sang aktor yang masih melihat kearahnya. Dan entah mengapa udara di dalam lift kian lama kian panas, beberapa kali Sakura menghembuskan napasnya dan mengipatkan tangannya. Dan setelah keadaan yang aneh tetapi menggembirakan berlangsung bunyi 'ding' akhirnya membuyarkannya, membiarkan mereka tahu bahwa mereka sudah sampai di lantai 3. Sial, sekarang aku harus keluar. Umpat Sakura sambil melangkahkan kaki meninggalkan sang aktor di belakang.
"Tunggu."
Sakura menoleh dan melihat Sasori memendek jarang antara keduanya.
"A-apa ada yang bisa aku bantu?"
Sentuhan halus tangan Sasori di lehernya membuat Sakura tersentak.
"Sudah selesai." Ujar Sasori, "krahmu berantakan."
"O-oh, terima kasih."
"Tentu.."
Sakura menghela napasnya kemudian kembali berjalan. Dia tidak percaya bahwa hal seperti ini akan terjadi padanya. Sakura menyentuh lehernya yang masih terasa panas.. Dia memiliki aroma yang manis, dan kehadiran yang menakjubkan. Itu baru namanya selebritis!
"Oh, disini kau rupanya, Sakura." Kankuro berlari kecil menghampirinya.
"Selamat pagi, dimana kita rapat hari ini?"
"Aku mengadakannya di ruang nomor 503. Bisa kau kesana dulu?"
"Baik."
Sakura kembali berjalan ke ruang paling belakang dimana ruang nomor 503 berada. Saat sampai seorang pria sedang berdiri di depan pintu dengan penampilan serba hitamnya, tak ingin terlalu lama membuang banyak waktu dia segera masuk ke ruangan.
"Haruno Sakura?"
"Ya...?"
Tepat setelah membuka pintu, seorang pria lain berambut klimis berdiri dengan pakaian serba hitam seperti pria di luar tadi. Ia memakai kacamata dan senyuman yang menurutnya mengerikan tersungging di bibirnya.
"Namaku Hidan. Apakah kau yang memiliki data untuk foto yang dipublikasikan pagi ini?"
"... Ya, aku memilikinya."
"Kalau begitu berikan itu padaku." Kata Hidan.
"Apa?" Sakura tidak salah dengarkan? Pria ini baru saja meminta data fotonya kan?
"Aku tidak memintanya secara gratis tentu saja." Hidan membuka koper yang sedari tadi dia bawa dan menunjukkannya pada Sakura. Koper yang sedari tadi berada di tangan Hidan ternyata berisi setumpuk penuh uang. "500ribu dollar semuanya. Bagaimana menurutmu?"
Sakura melihat ke arah Hidan, ia tak tahu apa yang harus dia katakan. Bagaimana bisa seseorang mau membeli SD cardnya dengan harga yang begitu fantastik.
"Maaf, tapi bisakah aku diberi waktu untuk berpikir?" Sakura akhirnya menanggapi pertanyaan Hidan.
"Apa 500ribu dollar tidak cukup bagimu?" Hidan bertanya dengan nadanya yang terkejut.
"Tidak, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah..."
"Lalu bagaimana kalau kami memberi 1juta dollar."
Huh?
"Bagaimana sekarang?"
"T-tunggu sebentar." Menaikkan harga dengan begitu mudah malah membuat Sakura semakin ragu.
"Apa kau memiliki urusan dengan fotograper kami?" seorang pria berambut hitam dengan dua garis di wajahnya masuk dan menyela obrolan mereka.
"Oh, kami sedang berada di tengah negosiasi." Hidan menatap pria berkacamata itu tak suka.
"Negosiasi?" si pria kacamata mengernyit penuh tanya.
"Pria ini ingin aku menjual SD card dimana di dalamnya terdapat foto yang dipublikasikan pagi ini." Kata Sakura.
Pria berkacamata itu mengangguk, "Sayangnya perusahaan kami telah lebih dulu mendapatkan penawaran tentang SD card tersebut. Jadi dia tidak bisa mejualnya padamu."
"Apa tidak bisa kau memberikannya pada kami dengan bayaran yang..."
"Maaf, tapi aku harus memintamu untuk pergi." Pria itu mengangguk sambil mengarahkan tangannya pada pintu di belakang Sakura.
"Baiklah. Permisi." Tanpa penolakan yang berarti Hidan mengangkat kopernya dan pergi.
"Apa dia melakukan sesuatu padamu?" tanya si Kacamata.
"Apa?"
"Koper itu berisi uang bukan? Kira-kira ada sekitar 400 atau 500ribuan dolar."
"lebih tepatnya 500."
"Sudah kuduga." Pria itu tertawa renyah. "Sepertinya aku telah menghancurkan bisnismu, ya?"
"Tidak, sebenarnya aku memang ingin dia pergi. Maaf, tapi siapa kau?"
"Oh aku Wakaba, dari perusahan berita lokal."
"Tuan Wakaba..."
Sakura dan tuan Wakaba akhirnya mengobrol beberapa saat tentang pekerjaan di selingi dengan obrolan pribadi, hingga rapat di mulai dan tuan Wakaba berpamitan untuk pergi.
"Ah sial! Aku lupa memintanya untuk bertukar tanda pengenal."
.
.
.
Setelah itu, rapat berjalan lambat. Bahkan sampai sore Sakura baru selesai dalam rapatnya. Karena tempat tinggalnya yang tidak begitu memakan waktu yang lama Sakura sama sekali tidak ambil pusing. Sakura berhenti berjalan saat merasakan ponselnya bergear, saat ia mengeluarkan ponselnya dari tasnya tiba-tiba...
Duk
Laki-laki asing datang entah dari mana, dia berlari dari pojokan dan dengan cukup keras menghantamnya. Sakura merunduk dan mendapati barangnya sudah bercecer dan berbaur menyatu dengan barang milik pria asing itu.
"Maaf." Pria asing itu membungkuk lalu mulai memberesi barangnya.
"Ti-tidak, aku juga minta maaf." Sakura mengikuti pria itu dan memberesi barangnya.
Hm. Dompet koin ini bukan milikku. Tapi ini adalah buku catatanku. Huh?
"Hey tunggu, tempat pensil itu milikku!" Sakura menggapai tempat pensilnya yang kini berada di tangan pria asing itu.
"Tidak, ini milikku." Elak si pria.
"Tidak bukan! Aku tahu itu milikku!"
Untuk sesaat Sakura dan pria itu terlibat saling tarik menarik. Sakura terus mengatakan bahwa tempat pensil itu miliknya, sementara pria asing tetap yakin bahwa benda tersebut miliknya.
"Bagaimana mungkin pria sepertimu memiliki tempat pensil pink seperti ini." Kata Sakura.
"Aku suka pink." Jawaban pria itu membuat Sakura nganga, namun mereka masih enggan melepaskan tarikan masing-masing.
"Apa sesuatu terjadi?"
Tepat saat tuan Wakaba datang tarikan Sakura terlepas, dan itu digunakan oleh pria tersebut untuk melarikan diri.
"Tuan Wakaba! Pria itu..." Sakura menuding panik padanya. "Hey berikan kembali tempat pensilku!"
"Aku akan pergi. Tinggallah dan bereskan barangmu." Wakaba menepuk bahu Sakura dan berlari menyusul si pria asing.
"Baik." Sakura buru-buru merapikan barangnya yang tercecer. Dan tak lama setelah itu tuan Wakaba kembali sambil membawa tempat pensil di tangannya
"Aku mendapatkan kembali tempat pensilmu."
"Terima kasih." Sakura mengelus dadanya dan lalu memasukkan tempat pensilya kedalam tas
Wew, hampir saja.
"Sungguh, aku benar-benar berterima kasih. Ini sudah kali keduanya kau menolongku." Ujar Sakura.
"Aku juga terkejut seperti kamu." Wakaba terlihat tersipu lalu menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Apa?"
"Kau kembali muncul di hadapanku, itu seperti sebuah takdir.." Wakaba melemparkan senyumnya.
"M-mungkin saja." Sakura membalas dengan wajahnya yang sudah memerah.
Mungkin saja memang ini adalah sebuah takdir yang digariskan Tuhan. Tuan Wakaba telah menyelamatkannya dua kali hari ini. Ini seperti sebuah takdir. Atau mungkin...
"Cinta..." Sakura bergumam.
"Cinta?" Wakaba menaikkan sebelah alisnya, rupanya gumaman Sakura cukup bisa didengar olehnya.
"Oh, um err." Sakura menggaruk lehernya sambil menggeleng, "ti-tidak apa-apa.."
Tenanglah sakura. Ini adalah kesempatanmu. Jangan menghancurkannya. Senyum...
"Terima kasih atas segalanya." Sakura membungkukkan badannya.
"Tentu."
"Aku benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk membayar kebaikanmu." Kata Sakura.
"Membayar kebaikanku?"
Sakura mengangguk, "ya untuk bantuanmu."
"Baiklah kalau begitu." Wakaba mengelus dagunya sambil berpikir, "Maukah kau menemaniku?"
Huh? Apa dia memintaku untuk berkencan? Secepat ini?
.
.
.
Sekitar 20menit kemudian mereka sudah berada di dalam bar. Mereka duduk berdampingan, sementara di hadapannya bediri seorang bartender tampan yang sedang menunggu pesanan mereka...
Wakaba memutar kursinya menghadap Sakura, dan dia kembali memberikan senyuman ramahnya itu, "terima kasih sudah bersedia menemaniku. Aku sedang merasa ingin minum malam ini."
"o-oh benarkah? Ahaha..."
Sakura mengutuk dalam hati. Dia pikir tuan Wakaba akan memintanya untuk pergi makan malam atau nonton atau melakukan hal romantis lainnya. Tapi nyatanya dia hanya ingin ditemani minum. Tapi Sakura segera berpikir positif, ini adalah pertemuan mereka, jadi ini sepertinya tak masalah. Dan ini mungkin bisa dia gunakan untuk yah mendapatkan pasangan. Shannarooo!
Wakaba mengangkat tangannya dan sang bartender siap mendengarkan, "aku ingin summer delight. Kau, Sakura?"
"Um, maaf, aku tidak terlalu tahu tentang cocktail."
Aku biasanya minum bir atau sake.
"Oh, alkohol macam apa yang kau suka? Kau suka manis?" tanya Wakaba.
"Sebenarnya asa..." Sakura menghentikan ucapannya dan menggeleng. Bu-bukan... itu bukan jawaban seorang gadis.
"Uhm, bagaimana kalau manis. Sedikit manis.." kata Sakura.
"Hmm, tolong berikan nona ini segelas kahlua milk."
Sang bartender tidak menjawab dan segera membuatkan pesanan mereka.
Sepertinya itu hanya semacam es kopi.
"Ini minumannya tuan." Bartender tampan itu meletakkan dua gelas minuman di meja mereka.
Wakaba mengambil dan mengangkat gelasnya, "mari bersulang untuk merayakan persahabatan baru kita. Cheers!"
"Cheers."
Trang.. mereka berdua saling membenturkan gelasnya dengan ekspresi senang, kemudian meminumnya.
Glug glug
Wakaba dan si bartender melongo saat Sakura dengan antusias meminum minumannya.
Woaaa ini benar-benar terlalu manis. Tidak terasa seperti alkohol sekalipun. Sakura mengernyitkan dahinya, lalu menatap kearah bartender dan Wakaba secara bergantian.
"A-apa kau baik-baik saja?" Wakaba meletakkan gelasnya dan menerawang wajah Sakura.
Huh?
"Kau baru saja menghabiskannya dengan sekali minum." Sang bartender menyahut dengan wajah datarnya.
"Oh, aku baik baik saja." Sakura terkekeh.
"Baiklah kalau begitu. Tolong berikan nona ini yang sedikit ringan." Wakaba kembali memesan minuman.
"...Segera datang."
.
.
.
"Phew.."
Oops. Kosong lagi. Cocktail tidak bertahan lama, benarkan. Mereka seharusnya menaruhnya di gelas yang besar. Sakura bergumam namun tiba-tiba merasakan pusing menyerang kepalanya.
Wakaba berbalik dan melihat Sakura sedang memegangi kepalanya, "kau baik-baik saja?"
Sakura mengangguk meskipun ia masih merasa cukup pusing, "ya, kupikir begitu."
"Santai saja. Sepertinya kau hanya mabuk." Kata Wakaba.
"Mabuk?" Sakura menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, kau sudah menghabiskan 5 gelas."
"5 gelas?"
Itu aneh. Sakura tidak pernah mabuk hanya dengan minum 5 gelas sebelumnya. Bahkan biasanya dia tidak pernah merasa pusing.
Wakaba menggeser kursinya dan menepuk bahunya, "kau bisa bersandar padaku kalau mau."
Tak mendapat respon Wakaba mendekatkan wajahnya pada Sakura, "Apa kau tertarik padaku?"
Terlihat jelas bahwa Sakura sangat terkejut mendapat pertanyaan semacam itu.
"Kalau begitu tutup matamu." Lanjut Wakaba.
Lagi, Sakura tidak merespon perintah dari Wakaba.
"Atau kamu adalah wanita yang lebih suka melakukannya dengan mata terbuka?" tanya Wakaba sedikit berbisik
"Tidak.."
Sakura perlahan menutup matanya.
"Gadis yang baik..." Wakaba meraih dagu Sakura dan mulai menciumnya dengan lembut.
Sakura tak bereaksi, namun wajahnya sudah sangat memerah.
Wakaba berbisik diantara ciumannya, "bagaimana kalau kita..."
Drrt drrrt
Sakura merasakan ponselnya berbunyi, dan dengan spontan dia menggerakkan tangannya.
Duk.
"Aduh." Wakaba meringis ngilu.
Sakura rupanya tidak sengaja menampar wajah Wakaba saat dia mengambil ponselnya.
"Ma-maaf."
"T-tidak, jangan khawatir." Wakaba mengangguk sambil mengipatkan tangannya.
Sakura melihat layar ponselnya dan segera tahu bahwa itu telepon dari Kankuro.
"Apa kau keberatan kalau aku menjawabnya?" tanya Sakura.
Wakaba menggeleng, "tidak. Silakan."
"Halo, ini Sakura."
"Sakura, ini Kankuro. Apa aku menelpon disaat yang tepat?"
"Ya.."
Sakura membungkuk pada Wakaba dan mulai berjalan keluar.
.
.
.
"Aku akan merasa sangat terbantu jika kau mau melakukan projek ini."
"Tentu saja. Aku sudah tidak sabar untuk melakukannya. Terima kasih!"
Sakura mematikan ponselnya dan memasukkannya kedalam tas. Namun saat dia berencana kembali, dia melihat tuan Wakaba sedang berjalan bersama bartender yang melayaninya tadi. Dan karena rasa penasarannya yang besar Sakura mengikuti mereka diam-diam menuju tangga darurat.
"Bisakah kau langsung saja mencuri data itu? Sialan!"
Sakura perlahan melongok dari pintu.
"Dia hanyalah seorang amatir. Apa yg membuatmu begitu lama?" ujar bartender.
"Berisik. Kaulah yang tidak memasukkan cukup pil tidur di minumannya, Sasuke." Wakaba berbalik menyerang si bartender bernama Sasuke itu.
"Aku sudah melakukannya. Aku memberinya dosis dobel." Kata Sasuke.
"Tapi kenapa juga dia masih terbangun?"
Dahi Sakura mengernyit, apakah mereka sedang berbicara tentang dirinya?
"Tapi bukankah ini semua salahmu, Gaara? Andai saja kau bisa melakukan tugasmu saat itu, hal ini tidak akan terjadi." Sasori menimpali dengan amarahnya.
"...maaf." seorang pria lain yang juga berambut merah membungkuk.
Sakura melebarkan matanya saat melihat Sasori dan pria seram yang menabraknya tadi berkumpul bersama Wakaba dan si bartender.
"Jangan meminta maaf, Gaara. Aku juga sudah sempat memeriksa tempat pensil itu.." kata Wakaba.
"Tapi SD cardnya tidak berada disana?" Sasori menebak.
"Tidak. wanita sialan itu." Wakaba mengepalkan tangannya, "aku tahu dia memilikinya."
"kau yakin dengan itu, Itachi?" tanya Sasori.
Itachi?
"Ya, begitulah yang dia katakan pada Hidan." Itachi atau lebihnya pria yang menyamar dengan nama Wakaba menjelaskan secara singkat.
"Jadi harusnya dia masih membawanya bersama dirinya." Kata Sasuke.
Sakura mengangguk, dia memang masih memiliki benda itu.
"Jadi bagaimana kau akan mendapatkannya?" Sasori menatap kearah Itachi, begitu pula pria lainnya.
Itachi menghela napasnya, "sepertinya aku akan membawanya ke hotel."
Sakura menganga.
"Oh, aku mengerti. Dan kau akan menukar SD cardnya?" Sasori merespon dengan seringaiannya.
"Ya."
"Kau yakin bisa melakukannya?" Tanya Sasuke.
"Ini sangat mudah. Tidak akan memakan waktu satu jam."
Sakura menggertakkan giginya kesal. Ia baru saja tahu bahwa mereka hanya menginginkan SD cardnya tidak lebih. Dan mereka semua bekerja sama? Orang yang menabraknya dan orang yang menolongnya? Semuanya?
"Baiklah, ayo kita kembali kedalam." Kata Itachi, "Sasori dan Gaara tetap disini dan tunggulah..."
Brak
Itachi beserta komplotannya menoleh kearah pintu, Sakura sudah berdiri disana dengan wajah marahnya.
"Maaf, tapi asal kalian tahu aku sudah mendengar semuanya!"
"Huh?" Itachi melebarkan matanya saat entah sejak kapan Sakura sudah berdiri di hadapannya dengan memakai sepatu di tangannya.
"Kau BAJINGAN!"
BUK
.
.
Benar-benar, dasar brengsek! Setelah meninju bajingan itu Sakura berlari keluar dari bar. Padahal kalau boleh jujur Sakura mulai menyukainya. Itu dia! Aku tidak akan pernah percaya bualan manis pria. Aku akan buat kerjaku menjadi prioritas utamaku. Semua yang harus aku lakukan adalah mendapatkan gambar yang hebat untuk bisa dipajang di bagian depan... Sakura mengepalkan kedua tangannya, lalu kembali berpikir kenapa mereka sangat menginginkan SD card itu? Padahal mereka tahu bahwa foto tentang rapat rahasia itu juga telah tersebar.
"Haruno sakura?"
Sakura mendengar suara dari belakang dan mulai berbalik, tetapi seseorang segera membekap mulutnya dengan sarung tangan.
"mmmmpphh!"
"Kau ikut denganku!"
Apa? Tidak! Kenapa?
Sakura mencium aroma manis dari sarung tangan itu dan kesadarannya mulai menghilang.
.
.
.
"Mmm?"
Huh, dimana aku? Aku ingat, aku baru saja ingin pulang tapi tiba-tiba...
"Kau bangun?" Hidan berkacak pinggang sambil menatap gadis yang baru saja ia culik.
"Kau...?" Sakura mngernyikan dahinya.
Pria yang tadi pagi menemuinya ternyata yang melakukan semua ini. Sakura menggerakkan tubuhnya dan sadar bahwa dirinya sedang terikat.
"Jadi haruskah kita meneruskan obrolan kita tadi siang?" kata Hidan, "maukah kau memberiku data itu?"
Sakura diam.
"Jika kau memberikannya padaku, aku akan melepaskanmu."
"...kalau begitu lepaskan aku."
"Tidak sampai kau memberikan datanya."
"...baiklah."
Sakura menghela napasnya, dia tidak punya pilihan lain. Nyawanya lebih berharga dari data itu.
"Benda itu ada di dalam sakuku." Lanjut Sakura
"Di dalam saku? Oh ini dia." Hidan merogoh saku Sakura dan berhasil mendapatkannya, "ini datanya bukan?"
"Ya."
"Bagus, aku akan melepaskanmu sesuai janjiku."
Senyum Hidan mengembang, pria itu mengambil sebuah pistol dan menodongnya tepat di dahi Sakura.
"Tu-tunggu..."
"Tapi aku tidak pernah bilang akan melepaskanmu hidup-hidup,"
Dengan panik Sakura menggerakkan badannya, tapi semua itu percuma.
"Kasihan. Semua yang kau lakukan hanyalah mengambil gambar. Tapi mulai sekarang kau yang akan dipajang di dalam berita. Selamat tinggal. " Hidan tersenyum sambil perlahan menarik pelatuknya.
Tidak! aku tidak ingin mati! Seseorang selamatkan aku! Sakura menutup matanya saat tiba-tiba...
Crasssss
"Apa—" Hidan dan para anak buahnya terkejut saat dua buah motor masuk dengan memecahkan jendela.
"Siapa kau?" salah satu anak buah Hidan menggertak.
"Kelihatannya apa? Aku superhero tentu saja."
Sakura membuka matanya, orang yang baru saja datang itu melepaskan helmnya.
Tuan Wakaba?
"Hey, nona bermasalah." Itachi tersenyum mengejek, "inilah yang kau dapat setelah memukulku."
Sakura menggerutu dalam hati, pria brengsek itu benar-benar berbeda dari yang dia temui tadi pagi. Terlebih dia sempat menciumnya tadi.
"Sekarang, dimana data itu?" tanya Itachi.
Salah seorang dari mereka mendekat dan mencoba untuk menjatuhkan Itachi tetapi dia berhasil mengalahkannya dengan sekali tendang.
.
.
.
Pertarungan masih terjadi, Itachi terus bertanya dimana data itu. Namun tak ada yang mau menjawab. Sementara Sakura meneguk ludahnya saat melihat bagaimana Itachi menghajar semua anak buah Hidan seorang diri.
"Sial, semuanya keluar!" Hidan panik dan berusaha melarikan diri dengan berlari menjauh dari Itachi.
"Kau pikir kami akan membiarkannya terjadi?"
Pria lain yang datang dengan Itachi menendang kepala Hidan.
"Arrggg!"
"Ah dia pingsan." Kata Sasuke, "heh, dia lebih mudah dari yang aku perkirakan."
Sasuke melepaskan helmnya. Itu sang bartender
"Jadi dimana datanya?" Sasuke menoleh kearah Sakura
"Pria itu membawanya. Masih disakunya." Kata Sakura
"Disakunya? Oh ini dia." Kata Sasuke, " baiklah kita pergi."
"Bagaimana dengan aku?" Sakura berontak panik saat kedua pria itu memutuskan untuk pergi.
"Kau ingin kami menyelamakanmu?" tanya Sasuke.
"Tentu saja!"
Bang
Sebuah peluru baru saja menembus lantai antara Sakura dan si bartender
"Berikan datanya." Hidan berdiri sempoyongan sambil mengacungkan pistolnya.
"Dan jika aku berkata tidak?" Sasuke memasukkan SD card itu ke sakunya.
"Aku akan membunuhmu."
"Silakan tembak aku." Sasuke tersenyum miring.
"Apa?!" Hidan menggertakkan giginya.
"Jika kau memang yakin bisa menembakku, lalu..."
Sebelum dia menyelesaikan omongannya, Itachi melayangkan tendangannya pada Hidan. Dan kali ini dia benar-benar kehilangan kesadarannya. Pistolnya terlepas dan Itachi mengambilnya.
"Lihatlah pistol murahan yang dia gunakan." Itachi terkekeh, "jadi dimana datanya?"
Sasuke mengacungkannya, "disini."
"Kalau begitu kita pergi." Kata Itachi
"Hey tunggu. Apa kalian tidak ingin menolongku?" Sakura berteriak.
"Menolong siapa?" Itachi menoleh dengan tampang mengejeknya.
"Aku. Tidak ada orang lain disini!" kata Sakura.
Itachi mengeluarkan pisau dan memotong ikatannya, dia kemudian berkata, "Ikut denganku, aku akan memberimu tumpangan kembali ke kota."
Sakura memeluk erat Itachi saat mereka menyusuri jalan yang gelap. Sakura bisa merasakan hangat tubuh Itachi yang merembet dari jaketnya, pria ini kali ini benar-benar sudah menolongnya. Sakura kembali mengeratkan pelukannya saat sepeda motornya melaju semakin cepat. Dan setelah beberapa saat, dia berhenti pada...
"Sampai." Itachi melepaskan helmnya
Sakura melihat ke gedung-gedung yang sangat asing baginya, "Dimana ini? Ini xxxx kan? Apa yang kita lakukan disini?"
Pria yang tadi siang menabrak Sakura keluar dari gedung tempat mereka memarkirkan motornya. Dia berjalan mendekati mereka dan tiba-tiba membopong Sakura.
Itachi menatap terkejut pada rekannya itu, "Apa yang kau lakukan, Gaara?"
"Menggendongnya." Gaara menjawab singkat
"Aku bisa melihatnya. Kenapa?"
"Kakinya terluka."
Dan setelah ucapan itu Sakura melongok kearah kakinya. Sebuah luka yang cukup dalam entah sejak kapan dia mendapatkannya.
"Dan dia bilang aku harus membawa wanita ini kedalam." Lanjut Gaara.
"Siapa?" tanya Itachi.
"Si bos."
Siapa bosnya? Bos mereka? Tunggu sebentar, saat dia bilang bos dia bukan bos yakuza kan?
.
.
.
Setelah masuk kedalam ruangan, Gaara menurunkan Sakura di hadapan seorang pria lain berambut oren.
"Oh, halo, aku bos disini namaku Pain." Pria bertindik tersebut memberikan senyumnya namun Sakura tak merespon apapun, "oh benar, ini kartu pengenalku."
Sakura menerima kartu pengenal tersebut dan mulai membacanya. Pain, pemilik dan bos dari Yahiko investigation.
"Apa yg membuatmu sangat lama kembali kemari?" Sasori menyilangkan tangannya meminta penjelasan pada Itachi.
Sasori?
"Kalian pasti berhenti disuatu tempat." susul Sasuke.
Si bartender?
"Tidak. kami hanya terjebak macet." kata Itachi.
"Hm, begitu..." gumam Sasuke.
"Apa yang ingin kau katakan?" Itachi bertanya dengan nadanya yang terdengar kasar, namun Sasuke hanya mengendikkan bahunya.
"Baik baik itu cukup, tolong tenang." Pain menghela napasnya, "baiklah kita kembali ke topik."
Pain berbalik dan melihat kearah Sakura dengan senyumnya.
"Jadi tentang data yang Sasuke dapat darimu. Kau bisa mengambilnya kembali."
Itachi menoleh kaget pada Pain, "setelah semua masalah yang kami dapat, kau mengembalikannya?"
"Fotonya tidak berada disana." Sasuke menimpali.
"Jadi ini bukan SD card yg kita butuhkan?" Itachi kembali bertanya.
Mereka tahu bahwa itu bukan SD cardnya. SD card yg asli sebenarnya berada di dalam dompet, bukan di saku.
Itachi menoleh kearah Sakura yang sedari tadi diam, "Jadi dimana datanya?"
"Kau tidak bisa mengatakannya? Kami tidak akan melakukan hal yg buruk padamu." Sasori tersenyum.
Sakura memutar otaknya. Apa yang sebaiknya dia lakukan? Apakah dia harus memberikan data itu pada mereka? Namun, bagaimana jika mereka sama saja dengan Hidan? Sakura melirik kearah Itachi, bagaimana bisa dia mempercayai mereka, sebelum ini mereka berniat membuatnya tertidur.
"Tidak.."
"Apa yang kau katakan?" Itachi menyahut kaget, gadis di hadapannya malah memasang wajah menantangnya.
"Sekali aku memberikannya, kalian mungkin akan kembali membuangku ketempat itu." Kata Sakura.
"Kami tidak akan melakukan itu." Kata Itachi.
"Tapi mereka melakukannya!"
"Mungkin karena kau memberinya yang palsu." Tukas Itachi.
"Tidak." Sakura menggeleng, "dia mengambilnya sendiri dan tidak tahu bahwa itu palsu. Dia mengacungkan pistolnya padaku sebelum memeriksanya."
"Apa yang terjadi disini?" Sakura menatap satu persatu pria yang berdiri di sekelilingnya " kenapa semua menginginkan data itu?"
Semua pria tersebut diam dan hanya saling pandang satu sama lain.
Sakura menyilangkan tangannya di dada dan melanjutkan, "Aku tidak akan memberikannya kecuali kalian memberiku alasan."
"Baiklah." Pain menghela napas ringannya, "aku akan memulai dari awal. Sebelumnya... coba lihat lihatlah gambar yang kau ambil di koran ini." Pain mengambil koran tadi pagi dan meletakkannya diatas meja.
"Kenapa?" Sakura mendekat pada Pain yang mulai menunjuk sesuatu disana.
"Disini, disebelah sini." Pain menggerakkan jarinya melingkar pada sosok di gambar tersebut, "ada seorang yang muncul di sebelah sini."
"Uh-uh." Sakura mengangguk.
"Yah, orang ini adalah orang yang tidak ingin gambarnya tertangkap. "
"Apa?"
"Dan maksudku dengan itu adalah..." Pain menatap Sakura dengan wajahnya yang berubah menjadi serius, "sejak foto ini menyebar keadaan menjadi tidak stabil. Mereka berteriak 'hapus datanya' atau curi datanya. Semacam itu."
"Jadi pria yg menculikku..."
"Dia salah satu dari mereka." Kata Itachi.
Begitu rupanya...
"Tapi mengapa mereka ingin SD card itu sendiri? Kalau poto yang terpampang adalah sebuah masalah, mereka harus menyingkirkan itu, mendatangi media dan meminta mereka menghapusnya."
"Kau benar, kalau itu hanyalah satu buah poto mereka tak harus melakukan ini padamu.." kata Pain, "Tapi tidak."
"Maksudmu?"
"Saat menjadi seorang fotografer kau tidak akan hanya mengambil satu foto kan? Kau pasti akan mengambil banyak foto untuk kemudian dipilih mana yang cocok dan tepat untuk diajukan."
Sakura mengangguk, membenarkan penjelasan dari tuan Yahiko.
"Jadi apa kau mengerti? Mereka yakin wajah orang itu juga muncul di fotomu yg lain. Dan mungkin mereka akan lebih terlihat dari pada di koran ini." Lanjut Pain.
Sekarang aku mengerti apa yang dia maksud.
"Jadi itulah mengapa mereka ingin SD cardnya?" tanya Sakura.
"Itu benar. Begitu juga kami. Bisakah kau memberikannya, Sakura? Kami tidak memintanya tanpa balasan. Jika kau membiarkan kami memilikinya, semua masalah yang kau dapatkan darinya atau lebih jelasnya selama 3bulan kami akan menjagamu dari orang-orang itu dan semua kemungkinan buruk yang mungkin terjadi." Kata Pain, "persetujuan yg tidak buruk bukan? Selama kita mengatasi ini, tidak akan ada gangster yang akan mengejarmu lagi. Kamu tidak akan diculik lagi seperti yang terjadi hari ini."
"Baiklah tapi. Bisakah kalian melakukannya meski bukan polisi?"
"ya, kami bisa." Pain menepuk bahu Sakura, "karena kami telah melakukan semua yang polisi tidak bisa lakukan."
...
"Pernahkah kau dengar pepatah 'gunakan pencuri untuk menangkap pencuri?' hal yg sama kami gunakan disini, kami lebih baik dari polisi dalam hal ini."
...
Sakura tidak yakin akan hal ini, benarkah mereka benar-benar bisa menjaganya?
"Jika kau tidak bisa percaya padanya, katakan tidak." Gaara menyahut tidak sabar dengan ketenangan dari Sakura," tapi tidak ada jaminan kau akan selamat."
"Kau bahkan sudah tahu itu bukan?" susul Sasori, "karena kau hampir mati tadi.."
"Aku tahu itu tapi..."
"Gaara apa kau tahu sindikat mana yang mengejarnya?" Sasori menoleh keara Gaara.
"Aku bisa memikirkan 5 sindikat berbahaya di pikiranku." Jawab Gaara
"Sasuke, kapan kira-kira salah satu mereka akan bergerak untuk menangkapnya?" Sasori berganti menoleh kearah Sasuke.
Dan Sasuke menjawab dengan kalemnya, "90% terjadi dalam waktu 24 jam."
"Tidak mungkin! Kalian pasti bohong kan?!"
"Kalau kami bohong kenapa juga kau diculik?" Gertak Itachi, "cukup kau tahu bahwa sekarang yakuza itu sudah mendapatkan profilmu."
"Mereka sudah tahu tentang tempat kerjamu, teman, dan keluargamu, juga tempat tinggalmu." Sasori menunjukkan sebuah foto, "ini adalah poto tempat tinggalmu yg diambil siang tadi."
Sakura melebarkan matanya, tidak salah lagi itu adalah apartemennya!
"Dan sebelum kau bertanya, bukan kami yang melakukannya." Kata Sasori.
"Aku turut menyesal, Sakura. Aku yakin ini begitu membingungkan. Tapi kami hanya ingin membantumu." Pain menampakkan wajah sedihnya, "jadi bagaimana? Setidaknya percayalah pada kami."
...
Aku tidak tahu... Mereka memang menyelamatkanku tapi, mereka juga bohong dan memberiku obat. Aku sebenarnya tidak bisa mempercayai mereka, tapi... aku tidak tahu harus meminta bantuan siapa lagi.
"Jadi kalau aku bersedia, apa kalian yakin bisa menyelesaikannya dalam 3bulan?"
"Kami bisa." Pain mengangguk yakin.
"Jadi apa kalian bersedia menunggu selama 3 bulan iu, setelah itu aku akan memberikan SD cardnya."
"Tentu. Aku yakin itu akan membuatmu lebih yakin pada kami." Kata Pain.
"Ya."
Baiklah aku sudah membuat keputusan.
"Baiklah aku setuju."
"Bagus. Kita sepakat sekarang." kata Pain, "Sekarang karena semuanya telah berjalan sesuai rencana, kamu harus tinggal disini sementara waktu."
Huh?
"Akan lebih aman selama itu untuk tinggal disini, terlebih mereka sudah menemukan tempat tinggalmu." Lanjut Pain.
"Disini? Maksudmu tidur disini?" Sakura mengedarkan pandangannya pada kantor yang dipenuhi buku dan sebuah sofa.
"Tidak juga. Semua orang tinggal digedung ini." Pain menjelaskan lalu menoleh kearah Gaara, "apa masih ada ruang kosong, Gaara?"
"Tidak."
"Baiklah sekarang kau hanya harus tinggal disalah satu kamar mereka." Pain menyilangkan tangannya sambil mengangguk berulang kali, "baiklah Sakura. Siapa yang akan kau pilih?"
Ha? Tinggal satu kamar dengan mereka? Sakura menatap semua pria disana namun mereka membuang muka mereka. Dia tahu itu, tak ada satu pun yang bersedia menerimanya disini. Sakura menoleh kearah tuan Wakaba yang sedang bersiul sambil menatap kearah lain, ugh mengingat ciuman tadi pagi sudah jelas Sakura ingin menghindar darinya. Jadi tidak untuk Tuan Wakaba. Pandangan Sakura beralih kearah Sasori, hm dia ingin sih satu kamar dengan seorang aktor terkenal seperti dia tapi... Sakura menyentuh lehernya.. hm, sepertinya tidak.. selanjutnya Sakura menatap kearah Gaara yang berpura-pura sibuk dengan ponselnya, uhmm dia terlalu menakutkan, dia bahkan tidak terlihat ramah.. pandangan terakhir jatuh pada Sasuke, si bartender ini sedari tadi tidak pernah menatapnya begitu lama, jadi...
Sakura mengambil napas panjang dan menghembuskannya, "baiklah, si bartender kurasa."
"Dia memilihmu Sasuke." Sasori menyiku lengan Sasuke dengan kekehannya yang meledek.
"TIDAK MAU!"
Apa?
"Tidak ada ruang untuknya." Kata Sasuke.
Oh baiklah.
"Kalau begitu aku hanya harus tinggal bersama org lain." Kata Sakura.
"Kamar kami semua sama." Sasori membuka mulutnya secepat kilat saat dia melihat Sakura mulai memilih lagi, "benar kan Gaara?"
"Ya."
Oh tidak...
"Biar kutebak." Itachi menatap kearah Sasuke dengan senyumannya yang aneh, "kau berpikir kau akan kehilangan kendali jika tidur bersamanya?"
Sasuke dan Sakura menatap kearah Itachi secara berbarengan.
"Aku benar bukan, makanya kau menolak untuk tidur bersamanya." Senyum di bibir Itachi semakin mengembang.
Apa maksudnya itu?
"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan. Kenapa kau bicara tentang kontrol?" kata Sasuke.
"Karena kalian akan tidur satu ranjang." Itachi menjawab sambil menekankan kata-kata terakhir
"Seperti yang aku bilang, tidak ada ruang baginya." Sasuke mengerutkan dahinya.
"Sudah cukup." Entah sudah yang keberapa kalinya Pain menghela napasnya, "Sasuke ini sudah keputusannya."
"Oleh siapa?" ketus Sasuke.
"Aku, bosnya." Pain menepuk dadanya, "dan Sakura karena dia memilihmu."
...
"Aku yakin akan baik-baik saja jika kau membiarkan dia tinggal bersamamu." Pain mendekati Sasuke dan mulai membisikkan sesuatu padanya.
"Baiklah, ayo." Sasuke membalikkan badannya dan mulai berjalan.
"Apa?"
"Kau bisa tidur di ranjangku."
Apa yg tuan Nagato janjikan padanya..
.
.
.
"Masuklah." Sasuke menahan pintu dan menyuruh Sakura untuk masuk dengan nadanya yang tidak sabaran.
Sakura membungkuk lalu memasuki kamar milik Sasuke. Kamar yang cukup luas, dengan ranjang bertingkat di dalamnya.
"Cepatlah dan tidur." Sasuke berdecak sambil menutup pintunya.
"Oh benar, dimana aku harus tidur?"
"Bawah, cepatlah."
"...baik."
Sakura meletakkan tasnya. Kemudian tersenyum saat melihat ranjang bertingkatnya. Ia seperti kembali kejaman dulu. Tapi kenapa dia bilang bahwa tidak ada tempat untukku?
"Geser sedikit."
Sakura menoleh saat Sasuke duduk disebelahnya.
"Atau tidak ada ruang untukku tidur." Lanjutnya lagi.
Tubuh Sakura bergetar, padahal masih ada ranjang kosong, mengapa mereka harus tidur satu ranjang?
"Tidakkah kau harusnya tidur diatas?" kata Sakura.
Sasuke mulai membaringkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut"Milikku dibawah."
"Ka-kalau begitu aku akan tidur diatas."
"Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu."
...
"Aku tidak pernah menginginkannya asal kau tahu."
Itu hanya perasaanku atau dia memang kasar?
"Aku tidak tahu apakah aku akan nyaman dengan ini."
"zzzzz"
Ha?
"zzzzzz"
Sakura melirik kearah Sasuke yang sudah tertidur begitu cepat. Baiklah, sepertinya memang tidak ada pilihan lain. Sakura membaringkan tubuhnya di samping Sasuke.
"Oyasumi."
"Zzzzzz"
.
.
.
Sejam kemudian
...
"Zzzzz"
Sakura masih terjaga sepanjang waktu. Dia mengumpat dalam hati, mengapa hanya dia satu-satunya yang tidak bisa tidur? Terlebih, diposisi yang sama sepanjang waktu membuanya lelah. Oh itu dia, Sakura mengangguk lalu membalikkan tubuhnya. Punggung yang lebar terpampang jelas di depan matanya. Namanya Sasuke kan? Dia memiliki mulut yang tajam 'aku tidak pernah ingin melakukannya' tapi dia bahkan menyelamatkanku.
Sakura menyunggingkan senyumnya, "terima kasih."
"Mmm..."
Huh? Apa dia baru saja meresponku?
"Mmm..."
Sasuke membalikkan tubuhnya tiba-tiba dan...
Cup...
...
Sakura menyentuh bibirnya, matanya bergetar saat mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Zzzzz"
"Apakah dia baru saja menciumku?"
Tbc
Terima kasih sudah membacanya, mind to rnr?
