*hormat* Perkenalkan... saya AoiUmay, author baru ^w^. Sudah sekitar dua minggu ini saya membaca fic-fic disini dan membuat saya ingin membuat fic juga, mungkin masih banyak kekurangan dalam fic perdana saya ini, mohon kritik dan sarannya agar saya bisa termatifasi untuk menjadi author yang lebih baik. Mohon bantuannya ^^ *hormat*
Disclaimer:
©Yana Toboso
Summary:
Kehidupan Ciel Phantomhive yang sempurna tiba-tiba berubah menjadi malapetaka kala diusik dengan datangnya anggota baru keluarga Phantomhive, bagaimana mungkin Ciel yang sejak lahir merupakan keturunan tunggal keluarga Phantomhive bisa memiliki seorang kakak laki-laki?
oooooOooooo
*Chapter 1 : Datangnya Anggota baru?
Mentari sudah merangkak naik, seiring dengan berjalannya waktu yang semakin siang masih terlihat sesosok yang mengeliat di atas tempat tidur, seolah dia masih ingin berada di alam mimpi dan enggan keluar dari balik selimutnya.
Terlihat pergerakan lagi di atas tempat tidur, mungkin dia merasa sudah saatnya bangun, walau hari ini adalah hari minggu, tapi perutnya yang keroncongan memaksakan kedua matanya untuk membuka. Iris biru yang bagaikan langit pagi itu membuka perlahan, meyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela lantai dua kamarnya. Pemuda beriris biru itu mengerjamkan matanya perlahan dan mulai meririk jam yang ada dimeja samping tempat tidurnya. Matanya membelalak seketika saat dia sadar jam yang berada di samping tempat tidurnya telah berkhianat dengan menunjukkan pukul 10 pagi, namun setelah mengamati keadaan sekeliling dan menyadari bahwa cahaya matahari yang terang telah menyerobot disela-sela jendelanya, pemuda itupun yakin bukan jam yang mengkhianatinya tapi ibunya yang telah lupa membangunkannya.
T^T
Terdengar suara gubrak gubruk dari lantai dua, mendengar keributan yang terjadi diatas, sepasang suami istri yang sedang merada di ruang tamu itupun sadar bahwa pangeran kecil mereka sudah bangun. Pasangan suami istri itu pun segera tersenyum pada tamu yang datang ke rumah lantai dua bergaya minimalis modernnya tersebut.
"adikmu baru saja bangun, dia memang susah untuk bangun pagi" ucap yang istri sambil tersenyum ramah.
Pemuda yang tengah duduk di hadapan pasangan suami istri itupun hanya tersenyum maklum mendengar keributan yang didengarnya.
Sedangkan di lantai dua, pemuda beriris biru itu sedang berusaha berdiri dari lilitan selimutnya sendiri, bagaimana mungkin remaja berusia 17 tahun masih menimbulkan suara yang begitu menghebohkan ketika bangun. Dengan masih terlilit pada selimutnya sendiri membuatnya sulit untuk beranjak dari atas tempat tidurnya, membuat si surai kelabu harus iklas menyerahkan kepalanya terbentur pada lantai kayu kamarnya dengan posisi separuh tubuh masih berada di atas tempat tidur dan sisa tubuh yang lain terjun dengan indah ke dasar lantai, hal itu sukses menimbulkan suara berdentum yang keras. Kini si iris biru benar-benar harus bangun.
"Mom... kenapa tidak membangunkan aku!" teriak si iris biru sambil menuruni tangga depan kamar tidurnya
"Ciel... jangan teriak-teriak kita sedang keadatangan tamu" ujar si ibu yang bergegas menghampiri putranya yang sudah turun ke lantai satu
Si iris biru yang di panggil dengan nama Ciel itu hanya mengerjapkan matanya dua kali dengan tatapan penuh tanda tanya pada sang ibu
"Siapa mom? Kenapa pagi-pagi sudah ada tamu?" tanya si surai kelabu penasaran
"Kakakmu" jawab sang ibu pendek seraya menyeret tangan sang putra dengan sayang
Ciel hanya terkaget-kaget saat tahu ibunya tiba-tiba menyeretnya menuju ruang tamu
"Ciel kenalkan, ini adalah kakakmu" ujap sang ibu sambil menujuk sesosok pemuda berparas tampan, berkulit putih pucat dan bermahkotakan rambut hitam yang menawan, yang tengah duduk dengan santai di depan kepala keluarga Phantomhive.
Pemuda yang diperkirakan Ciel berusia sekitar awal 20 tahunan itu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Ciel berdiri sambil menyunggingkan senyum membuat iris merahnya menyala menggoda, hanya tinggal beberapa langkah dia menjangkau Ciel dan kemudian... Greb, sebuah pergerakan yang tiba-tiba diberikan pada Ciel membuat tubuh kecil Ciel tak mampu membuat pergerakan yang dapat menguntungkannya, dia harus terima kalau tubuh mungilnya itu udah dalam kungkungan tangan si raven.
"Ciel.. aku tak meyangka engkau adik yang manis" ucap si raven pelan di dekat telinga si kecil
"Aaaaaghhhh... lapaskan aku" teriak Ciel menulikan telingan semua penghuni rumah
T^T
Ciel Phantomhive masih merasa dalam dunia mimpi hari itu, bagaimana mungkin kehidupan Ciel yang indah dan sempurna menjadi sebuah malapetaka dalam kurung waktu kurang dari sehari, bagaimana mungkin dia bisa punya seorang kakak jika dari lahir dia adalah seorang anak tunggal dari keluaga Phamtomhive.
Ciel masih menatap nanar pemuda yang tengah duduk di hadapanya kini, pemuda itu memakai hem hitam di padukan dengan celana biru tua mambuat kesan yang sangat maskulin tertanam dalam dirinya sangan berbeda dengan penampilan Ciel yang sekarang, dia yang masih memakai kaos oblong di padu dengan celana pendek merupakan seragam yang menemaninya saat di rumah, di tambah lagi sisa-sisa saliva yang masih bertengger di sudut mulutnya. Nenek-nenek naik ojek pun dapat mengenali bahwa manusia ini baru saja bangun tidur tanpa sempat pergi ke kamar mandi terlabih dahulu.
Si iris merah bagaikan darah itu mengamati setiap inci penampilan 'adik'nya ini dengan teliti, dia segera tersenyum ke arah Ciel kerena dia sadar kalau Ciel juga memperhatikanya.
"Ciel, kenalkan ini kakakmu Sebastian Michaelis" terang pria bermahkota biru kelabu yang tengah duduk di sebelah kanan Ceil. Pria bermahkota biru kelabu dan beriris biru kelam yang sama seperti Ciel merupakan kepala keluarga Phantomhive, Vincent Phantomhive
"Kau pasti senang kan Ciel? Kini kau tak akan sendirian lagi" sebuah suara sopran membuat Ciel menoleh kearah kirinya dan menatap tajam ke arah suara ibunya. Wanita berparas cantik dan berkulit putih bagaikan polselen itupun hanya tersenyum menanggapi tatapan tajam sang putra tercinta. Rachel Phamtomhive tidak akan mampu marah pada putra semata wayangnya itu.
"Tapi bagaimana bisa dia menjadi kakakku" tunjuk Ciel pada pemuda di hadapannya itu, sedang yang di tunjuk hanya tersenyum menanggapi ulah lucu adiknya
"Ciel yang sopan bersikap pada kakakmu" tegur Vincent pelan, sedangkan Ciel hanya mampu ber-ich dalam hati.
"Dia adalah putra 'baptisku'" jelas Vincent mengawali ceritanya yang super panjang
Vincent Phantomhive dan Tanaka Michaelis merupakan sahabat lama, Tanaka yang berupakan blasteran Jepang-Inggris, hidup bersama sang ayah di Inggis setelah sang ibu meninggal dunia. Tanaka muda yang memiliki ketertarikan pada bisnis mengajak Vincent muda untuk mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang mainan anak-anak. Keduanya adalah pemuda yang tekun sehingga perkembangan perusahaan mareka maju pesat, sehingga akhirnya Tanaka ingin kembali ke negara asal ibunya yaitu Jepang, bagaimanapun dia nyaman berada di Inggris dia juga ingin mengembangkan perusahaannya sampai ke negeri ibunya. Sekitar 20 tahun yang lalu Tanaka menginggalkan Inggis dan menyerahkan seluruh tanggung jawab perusahaan pada Vincent Phantomhive serta memboyong seluruh keluarga Michaelis pindah ke Jepang.
Dan sekitar sebulan yang lalu, sepasang suami istri keluarga Michaelis meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di pinggiran kota Tokyo, Sebastian yang saat itu tinggal di Inggris karena kuliah, ditinggali sebuah wasiat yang mengatakan dia harus mencari ayah baptisnya yang berada di Inggris, dan meminta bantuan sang ayah baptisnya agar mengurusi cabang perusahaan di Jepang yang sedikit kacau karena kematian mendadak presdirnya itu.
Ciel hanya bisa melonggo saat sang ayah selesai bercerita, semua orang di ruangan itu sedang menantikan reaksi apa yang akan Ciel tunjukkan. Akankah Ciel terkejut karena mereka kedatangan anggota keluarga baru, senang karena dia punya saudara atau malah marah karena tiba-tiba dia harus menerima kenyataan menjadi seorang adik. Tak ada yang mampu mengartikan seperti apa ekspresi Ciel sekarang ini, dan tidak ada yang bisa menebak apa isi kepala pemuda berambut kelabu tersebut. Namun saat bibir mungil Ciel berucap mampu membuat ketiga manusia yang menatapnya lekat-lekat menjadi sweatdrop.
"Mom, ayo kita makan aku sudah kelaparan"
