Because, Trust is Love
Naruto © sampe bangkotan masih milik om Masashi Kishimoto kok:0
Because, Trust is Love © Amabelle Caltha
Warning : AU, OC, Typo(s), SasuSaku Slight ItaSaku, step by step, maaf jika ada kesamaan latar ataupun alur. Itu semua hanyalah kesamaan biasa dan juga suatu kebetulan, karena semua itu sangat berpengaruh terhadap jalannya cerita.
Tidak suka? Klik tombol back sekarang juga….
.
.
.
.
.
"Sakura-chan, bisakah kau tolong kaa-san," seru wanita paruh baya di depan pintu kamar sang anak. Sesekali wanita itu mengetuk pelan pintu kamar agar tak membuat anak kesayangannya terganggu.
Tak ada jawaban dari dalam.
"Sakura-chan? Apa kau tak dengar?" tanya Mito yang masih berdiri di depan kamar.
Sakura yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung memutar bola matanya. Apa kaa-san-nya tak tahu kalau ia sangat lelah? Huh.
"Iya-iya kaa-san aku dengar! Tunggu sebentar." alih-alih, Mito yang mendengarrnya langsung menggeleng kepala. Kemudian pergi meninggalkan kamar Sakura.
Sakura yang sudah siap dan sudah terlihat rapi, kini ia turun ke bawah untuk menemui Mito yang sudah lama menunggu. "Kaa-san." Sakura melembutkan nada suaranya karena di samping Mito terdapat seseorang yang sangat Sakura takuti. Siapa lagi kalau bukan ayah-nya sendiri Haruno Jiraiya. Terlihat Mito sedang menghitung sesuatu, sedangkan Jiraiya terlihat sedang membaca sebuah berkas yang entah berkas apa.
Mito menengok bersamaan dengan Jiraiya. "Kau sedang apa lama sekali Saku-chan, kaa-san lelah menunggumu." Sakura hanya tersenyum mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Mito.
"Maaf kaa-san, aku cuci muka dan ganti baju dulu. Kaa-san tak mau 'kan anak kesayangan kaa-san bau nantinya, hehe." Sakura tersenyum, Mito hanya dapat menggelengkan kepala—lagi.
"Kalau begitu tolong belikan bahan-bahan yang sudah kaa-san cantumkan di sini—'' ucap Mito sembari memberikan sebuah catatan kecil berwarna putih dengan garis biru serta uang pada Sakura.
"Ingat, sesuai dengan yang ada di kertas itu ya…," sambung Mito.
Sakura memperhatikan sekilas apa saja yang akan ia beli. Sakura sedikit mengerutkan keningnya saat melihat daftar belanja itu. "Banyak sekali?" tanya Sakura.
"Tentu Saku-chan, besok 'kan tou-san akan mengajak teman lamanya makan malam di sini." Sakura hanya ber-oh ria mendengar jawaban dari sang ibu.
"Jika sudah selesai berbelanja, langsung pulang Sakura…" ucap Jiraiya tanpa melirik ke arah Sakura. Sedangkan Sakura hanya menjawab 'Ya' dan langsung melesat ke luar rumah.
oO Because, Trust is Love Oo
Sakura segera memarkirkan mobil Honda Jazz berwarna putih miliknya di tempat parkiran supermarket di bawah tanah. Kemudian ia keluar dari mobil. Sebelum itu, tak lupa ia kunci mobil miliknya dan berjalan masuk ke dalam supermarket. Setelah masuk ke dalam, segeralah ia mencari tempat bahan-bahan yang akan ia beli berada. Sebelum itu ia ambil satu troli ukuran besar. "Akan membutuhkan waktu yang lama, kalau begitu aku akan mencari yang lebih dekat dulu," gumam Sakura.
Pertama-tama ia pergi kebagian daging, karena lokasinya lebih dekat. Lalu pergi kebagian sayuran dan buah-buahan. Sakura memang jenius, ia mempergunakan waktunya dengan baik padahal bahan-bahan yang akan dibeli amatlah banyak namun ia bisa selesai hanya dengan waktu setengah jam.
"Apalagi ya? Sepertinya sudah semua." Sakura melirik secarik kertas yang ada di genggamannya.
"Aaaa … kaa-san ceroboh! kenapa bisa kecap asin ditulis di bagian bawah sendiri? Dasar! Padahal 'kan tempatnya sangat jauh kalau dari sini," teriakan Sakura membuat beberapa orang yang mendengarnya menengok ke arah-nya.
Walaupun Sakura memang seorang yang jenius, tapi ia adalah orang yang ceroboh. Mungkin itu adalah penyakit keturunan yang ditularkan oleh sang ibu pada anaknya. Lihat saja, bukankah kecap asin sangat penting? Kenapa penulisannya harus di bawah? Hah ... sangat ceroboh.
Mau tak mau Sakura harus mencari kecap asin, kalau tidak pasti ia akan dimarahi Mito. Padahal kenyataannya Mitolah yang salah.
Barang belanjaan yang Sakura bawa sangatlah banyak. Bahkan sampai empat katung plastik besar. Sakura sendiri kewalahan membawanya ke mobil. Sampai-sampai Sakura berkeringat setelah membawanya.
Setelah semuanya masuk. Segeralah Sakura menstater mobilnya dan berjalan pulang. Saat berada di sebuah taman, lampu lalu-lintas berubah warna menjadi merah.
Sembari menunggu lampu kembali hijau Sakura sedikit melirik ke arah taman yang diwarnai dengan berbagai lampu hias yang indah. Sakura baru sadar bahwa tempat ini sangat indah saat malam hari.
Iris emerald-nya kini tertuju ada sebuah objek yang sedang duduk bersilang di taman itu sembari memainkan gitar. Terlihat juga orang-orang yang sepertinya sedang menonton seseorang yang barusan bermain gitar itu. Sedikit membuat Sakura penasaran akan objek yang ia lihat.
Sepertinya Sakura pernah melihat seseorang yang sekarang terlihat sedang berkemas-kemas. Sakura melirik arah lampu lalu-lintas. Setelah lampu itu berubah hijau segeralah Sakura menjalankan mobilnya dan berhenti di dekat taman itu.
Sakura berlari keluar menuju tempat orang itu berada. Namun saat ia sudah sampai, hasilnya nihil, tak ada! orang itu sudah tak ada di sana. lalu, ke mana dia?
Sakura memperhatikan sekeliling. Menengok ke sana ke mari mencari orang itu. Matanya sedikit melebar saat melihat orang itu sedang berjalan dengan menjinjing sebuah koper besar.
Tanpa pikir panjang Sakura langsung mengejar pria itu. Berharap ia akan menemukannya dan memastikan kalau orang itu memang benar 'Dia'. Di tengah keramaian orang-orang di taman itu, Sakura kehilangan pria tadi. "Hosh … hosh…," Sakura berhenti berlari. Sepertinya ia kelelahan mengikuti orang itu. Karena jalannya begitu cepat.
"Di mana dia? Hosh … dia berjalan seolah berlari," gumam Sakura, kedua tangannya ia letakkan di kedua sisi lututnya. Kepalanya menengadah ke depan. Keringat kini mulai membasahi wajah putih miliknya.
"Padahal tadi hampir ketemu, aku ingin tau sebenarnya aku salah lihat atau tidak." Sakura berjalan pergi meninggalkan taman itu dengan sedikit menyesal karena orang itu tak dapat ia temukan.
Raut wajahnya juga kini berubah. Sesekali ia menendang kerikil kecil yang ia lihat. beberapa pasang mata melihatnya dengan tatapan heran melihat tingkah Sakura yang seperti itu. Hingga ia sampai di tempat mobilnya diparkirkan. Kemudian melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan taman kota Tokyo tersebut.
oO Because, Trust is Love Oo
Kini Sakura sedang asyik berkutat dengan laptop kesayangannya. Jari-jari lentiknya dengan cekatan menekan satu demi satu huruf yang berada di keyboard sehingga menghasilkan rangkaian kata yang Sakura inginkan.
Tugas-tugasnya sekarang lebih banyak dari semester lalu, tentu saja, menengok Sakura sudah semester empat. Apalagi ia mengambil jurusan kedokteran.
"Sakura, ini sudah jam empat sore, cepat mandi dan berdandan yang rapi," seru wanita paruh baya yang berada di dapur. Terdengar suara ketukan pisau dengan talenan, tak hanya itu.
"Iya kaa-san, tenang saja," teriak Sakura yang sedang sibuk dengan laptopnya. Sedikit terganggu, oh bukan, Sakura memang terganggu oleh perintah sang ibu yang menyuruhnya mandi.
"Kalau kaa-san sudah mengatakan cepat, ayo laksanakan Sakura sayang." Sakura memutar bola mata emerald-nya. Sebal, ya, sebal. Padahal ia sedang asyik bermain dengan laptop Apple pengeluaran baru yang lebih bagus dari milik Ino yang katanya beli di Jerman itu.
"Baiklah…." Mito tersenyum simpul mendengarnya. Kemudian melanjutkan pekerjaannya—memasak.
Terlihat seorang gadis baru saja keluar dari dalam kamar mandi pribadi di dalam kamarnya. Aroma cherry yang kuat menguar dari tubuh gadis bermahkota merah jambu ini.
Ia berjalan menuju ke sebuah lemari kayu berwarna putih yang memiliki tiga pintu di setiap sudutnya. Jemari putih itu kemudian berjalan menuju kenop pintu lemari yang berbentuk seperti bola pingpong berwarna kuning keemasan.
"Mmm … yang mana ya?" Sakura nampak berpikir sembari memilah-milah rentetan baju yang ada, sekarang semua pintu lemari sudah terbuka. Menampilkan beragam baju dari segala merek yang ada.
"Baju yang kemarin aku beli saja, atau baju musim semi tahun lalu?" saking banyaknya baju yang ia miliki terkadang Sakura bingung untuk menentukannya. Bahkan Sakura sendiri tidak ahli dalam memilih baju untuk berbagai acara, resmi maupun tidak resmi. Berbeda dengan Ino, bisa dibilang Ino adalah ahlinya. Apalagi dalam hal kecantikan.
"Sakura … pakailah baju yang tou-san belikan saat di Paris itu," Tiba-tiba kaa-san-nya mengatakan itu dan membuat Sakura tersenyum sumringah.
"Ah … kenapa aku tak berpikir untuk memakainya ya?" gumam Sakura.
"terima kasih kaa-san," teriak Sakura pada sang ibu yang telah membantunya menemukan baju yang cocok untuknya pakai mala mini.
Jam kini menunjukkan pukul 07.25 PM. Segeralah Sakura keluar menuju ke tempat tou-san dan kaa-san-nya berada—ruang tamu. Lalu ikut duduk di sofa, sesekali Sakura bermain dengan ponselnya. Sedangkan kaa-san-nya nampak gelisah. Kalau, tou-san-nya jangan ditanya. Beliau sibuk dengan koran tadi pagi yang belum selesai ia baca.
Tak lama kemudian, bunyi bel dari pintu terdengar nyaring ditelinga keluarga Haruno ini.
'Ding Dong'
Dengan sigap Mito langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu untuk menyambut tamu spesial yang sudah ia tunggu.
Perlahan namun pasti. Pintu itu terbuka, menampilkan sesosok lelaki tua yang tengah tersenyum pada Mito. Di belakangnya, terlihat seorang pemuda gagah yang mengenakan jas berwarna putih tulang dengan dasi coklat bergaris kuning.
Segera Mito mempersilahkan mereka untuk masuk. Di dalam ruang tamu, Sakura berserta tou-san-nya—Jiraiya berdiri dengan senyum yang mereka sunggingkan.
Tampak pemuda tadi sedikit terpesona dengan gadis Haruno yang berdiri di samping ayahnya ini. Terang saja, ia mengenakan dress selutut polos berwarna putih tanpa lengan, dipadukan dengan sweater pink, dengan hiasan bunga tulip putih di bagian kiri sweater-nya. Tak lupa juga, jepit rambut bergambar bunga sakura tertengger rapi disebelah kanan sisi rambutnya.
Semburat merah tipis juga sudah terlihat di antara pipi putih sang pemuda. Pemuda ni memiliki sebuah garis memanjang di antara kedua sisi pipinya. Mungkin hanya luka gores. Sakura yang malu memalingkan wajahnya.
Tak lama, Jiraiya—ayah Sakura mempersilahkannya tamu itu untuk masuk dan menuju ke ruang makan.
Meja itu tampak rapi dengan hidangan yang berjejer-jejer. Di tata sedemikian rupa mengepaskan bentuk meja yang lonjong. Di tengah-tengah meja itu tampak buah-buahan segar yang menghiasinya. Piring dengan sendok dan garpu pun sudah di tata sedemikian rapi di setiap sisi meja dan kursi yang ada.
"Ittadakimasu…."
Saat makan malam di mulai. tak ada suara sedikitpun. Yang terdengar hanya gesekan antara sendok-garpu dengan piring. Mereka menikmati hidangan yang khusus nyonya Haruno buat.
Seperti bangsawan biasa makan, perlahan dan tak tergesa-gesa. Nampak sekilas pemuda yang tadi itu memperhatikan Sakura lagi. Sakura yang merasa diperhatikan cuek saja. Walaupun sedikit tak enak juga. Karena membuat Sakura salah tingkah.
Setelah selesai makan malam. Semua diam di tempat duduk masing-masing. Dan menunggu Sakura yang masih melahap makanannya. Urung sakura menghabiskannya, sang ayah berdehem mengisyaratkan agar ia berhenti. Sakura hanya memutar bola mata lentiknya, merasa sebal karena diganggu oleh ayahnya. Walaupun dia tau kalau ada tamu di rumahnya.
"Bagaimana kabar perusahaanmu Madara?" tanya Jiraiya pada teman lamanya.
"tentu baik, oh ya, anakmu ini belum tau nama cucuku bukan?" tanya Madara. Seseorang yang bernama Madara itu, sudah sangat tua, terlihat dari kerutan disekitar mata dan pipinya. Namun, beliau terlihat masih sangat bugar dan segar.
"Perkenalkan namamu nak," ucap Jiraiya pada pemuda yang duduk di sebelah Madara itu. Pemuda yang dipanggil oleh Jiraya kini berdiri. Dan menghadap Sakura.
"Namaku Itachi Uchiha salam kenal," ucapnya dengan nada khas seorang laki-laki kemudian membungkuk 90 derajat.
Kini giliran Sakura yang berdiri "Namaku Sakura Haruno salam kenal.'' Lalu mereka berdua kembali duduk seperti semula.
"Namanya Sakura ya, indah seperti bunga Sakura," ucap Madara sembari melirik Sakura yang tengah tersenyum.
"Dulu Sakura masih sangat kecil saat, kira-kira hanya setinggi meja ini saat aku berkunjung ke mari, iya 'kan Jiraiya," Jiraya hanya mengangguk. Pertanda kalau ia menyutujui perkataan teman lamanya ini.
"Sepertinya mereka berdua sangat cocok Jiraiya," ucap Madara lagi. Dan membuat pipi kedua insan berbeda genre ini memerah.
Dalam hati Sakura berpikir, kalau seseorang yang ada di hadapannya itu sangat mirip dengan seseorang yang biasa ia temui di café dan di taman kota hari lalu. Tapi, tak mungkin Sakura langsung menafsirkan kalau kedua orang ini masih berhubungan. Menengok gaya mereka itu tak sama.
Yang biasa Sakura lihat mempunyai rambut yang mencuat di bagian belakangnya dan penampilannya juga terkesan sangat anak muda. Walaupun tidak seperti anak muda biasanya. Tapi, yang ini sangat rapi dan sangat terhormat sekali, rambutnya yang panjang juga lebih klimis dan diikat. Walaupun dilihat sekilas warna kulitnya lebih gelap dari seseorang yang biasa Sakura lihat.
Kini, Sakura dan Itachi berada di taman belakang rumah kediaman Haruno. Mereka duduk di sebuah bangku yang hanya cukup untuk dua orang saja. Sedikit canggung memang. Sebab mereka baru saja saling mengenal bukan?
Tak ada yang berbicara satu sama lain. Mungkin keduanya teramat sangat canggung.
Sampai akhirnya Sakura yang memulai duluan. "Jadi, sebenarnya apa yang mereka bicarakan?" ucap Sakura seketika.
Itachi menengok,kemudian tersenyum. "Sesuatu yang sangat penting mungkin."
Mereka terdiam kembali. Tak berani saling menatap. "Hei, jadi kau kuliah di Universitas Tokyo? Jurusan apa?" karena bingung, Itachi bertanya apa adanya. Yang langsung dijawab oleh Sakura dengan antusias.
"Iya, tentu saja kedokteran," jawab-nya bersemangat.
"Kenapa kau memilih kedokteran?"
"Mungkin itu karena aku ingin sekali mengobati semua orang. Cita-citaku sejak kecil. Biasanya anak kecil bercita-cita jadi dokter 'kan?" jawab Sakura, tangan kanannya mengepal pertanda ia sangat bersemangat.
Itachi tersenyum lagi dibuatnya. Entah apa yang membuat ia begitu nyaman berada dekat dengan Sakura. Mungkin karena tak punya teman selama ini. Benarkah tak punya teman?
Sakura menengadahkan kepalanya menatap langit yang terlihat cerah. Matanya memejam bersamaan dengan hembusan angin yang lewat.
Tak lama, kaa-san-nya memanggil Sakura. Karena sudah terlalu larut dan besok harus kembali bekerja, Itachi beserta Madara harus pulang. Sebelum itu, Madara juga mengucapkan terima kasih atas undangan makan malam yang diberikan oleh keluarga Haruno.
Sakura menarik napas berat, ia lelah. Lelah karena tamu tadi terus mengajak keluarganya berbincang dan membuatnya harus bersama Itachi karena kedua orang tuanya dan tamu tadi harus membicarakan sesuatu yang sangat penting.
Tapi,walapun begitu Sakura jadi sedikit akrab dengan yang namanya Itachi itu.
Ia berumur 25 tahun, seorang pewaris perusahaan 'Uchiha corp' menggantikan kakeknya Madara yang sudah tua. Lulusan Georgia dalam jurusan jurnalistik. Tampan, tinggi. Sangat dewasa. Itulah yang ada dipkiran Sakura sekarang.
Sakura juga berpikir, lelaki itu sangat ramah dan baik sekali. Terlihat jelas dari wajah yang selalu ia tampakkan.
"Hoaaaahh…," kini Sakura mulai menutup matanya perlahan, lalu menarik selimut agar tubuhnya sedikit lebih hangat karena udara malam ini sangat dingin.
oO Because, Trust is Love Oo
"Taruh saja map itu di atas meja Konan," ucap seorang pemuda yang tengah sibuk berkutat dengan komputer. Dari balik monitor itu, seorang gadis yang mengenakan blazer berwarna biru tua, dengan rok selutut yang menampilkan setiap lekuk tubuhnya yang ramping serta rambut biru sebahunya yang ia biarkan tergerai dengan hiasan bunga mawar di bagian kananya sedang memperhatikan pemuda itu. Konan memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dikerjakan oleh direktur muda itu.
Sesekali Konan tersenyum melihatnya, bukan karena apa yang ada di dalam komputer itu, melainkan seseorang yang tengah sibuk itu. Kacamata yang membingkai wajahnya juga yang membuat Konan senang memandang sang direktur ini.
Merasa diperhatikan, pemuda itu kemudian melirik ke arah Konan. "Apa ada yang salah denganku Konan?" tanyanya pada asistennya itu.
"Eh, ti-tidak Itachi-san, hanya saja saya melihat ada yang berbeda dari anda," ucap Konan seadanya.
"Benarkah? Apa itu?"
"Anda lebih terlihat bersemangat hari ini." Kemudian Konan tersenyum dan pamit untuk keluar ruangan tersebut.
Itachi hanya memperhatikan sampai pintu ruangannya ditutup dengan rapat kembali, kemudian berkutat lagi dengan monitor dan keyboard di depannya.
Matahari kian meninggi, bersamaan dengan cahaya yang kian panas tepat berbada di atas kepala. Itachi yang telah selesai dengan kerjanya, kemudian melirik jam dinding yang tepat berada di atas pintu ruang kerjanya. "Jam makan siang, lebih baik aku jalan-jalan saja," gumam Itachi kemudian mengambil jas yang ia letakkan di sofa dekat meja kerjanya.
Kemudian ia berjalan keluar ruangan.
"Konan, pekerjaanku sudah selesai, kalau presdir datang katakan aku pergi sebentar," ucapnya yang sekarang berdiri tepat di depan meja asistennya.
"Baik Itachi-san," balas Konan.
"Oh ya satu lagi, katakan pada presdir kalau aku makan siang di luar ya," ucap Itachi lagi. Konan hanya mengangguk pelan lalu duduk kembali. Sebelum itu Itachi sudah terlebih dahulu pergi dari hadapannya.
Konan memperhatikan dari meja kerjanya. Ada rasa heran juga, Itachi tidak penah meninggalkan meja kerjanya dan memilih untuk makan siang di luar. Biasanya Konanlah yang mengantar makanannya. "Tak seperti biasanya Itachi-san pergi di waktu makan siang seperti ini," gumam Konan kemudian melanjutkan tugasnya.
.
.
.
TBC
Hoeee.. maaf untuk semuanya, saya sebagai author tidak konsisten dan meninggalkan fic yang belum ada chapter lanjutannya ini, sebenarnya ini sudah di buat jauh-jauh hari sebelum saya hiatus, tapi karena saya malas untuk mengupdate dan kondisi saya yang tidak memungkinkan untuk terus menulis saya biarkan fic-fic saya yang sudah saya simpan termasuk ini.
Taulah… saya sibuk dengan sekolah saya, maklum juga kan sekarang saya kelas 9 smp. Jadi tugas segala macem dan segala rupa banyak sekali. Sekali lagi saya minta maaf kepada semuanyaa… dengan sangat menyesal saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya.
Dan untuk para pereview sejati(?) saya sangat berterima kasih sekali kepada kalian, semoga kalian mau kembali mereview fic saya.
Kritik, Saran, concrit, dengan senang hati aku terima kok…
FLAME? Asalkan yang membangun saya sangat berterimakasih! d(^^)b
REVIEW PLEASE… ?
