Hubungan jarak jauh? Bukan masalah. Selama hati kita masih mampu menampung cinta yang semakin terasa menyesakkan. Bukan keluhan, hanya sebatas menyampaikan perasaan yang terus-menerus membuncah dalam dada. Dua orang ini bukanlah filsuf yang mampu mewakilkan isi hati dengan kata-kata. Hanya percakapan singkat dan simpel yang terus menyatukan mereka saat jarak menjadi benteng megah yang memisahkan diri mereka. Hanya diri mereka, tidak untuk hati mereka.
.
.
.
Kim Joonmyeon – Zhang Yixing
This fict obviously is mine. Not for the cast.
OOC/AU/BoyxBoy
Romance/Drama/LittleHumor
Yo check this out~!
.
.
.
Sky
.
.
.
Tengah malam di mana waktu untuk mengistirahatkan tubuh sudah di mulai. Namun pekatnya langit tak membuat seorang laki-laki tersambungkan ke alam mimpi. Terus menggeliat di atas ranjang dalam kungkungan selimut tebalnya. Sesekali terdengar geraman putus asa darinya. Well semua orang tahu dia ini tak menyukai udara dingin.
"Gah! Bagaimana aku bisa tidur jika sedingin ini?!"
Ia menyibak selimutnya kasar kemudian merubah posisi menyandar pada dashboard ranjang. Manik matanya melirik sosok yang terbaring di ranjang seberang. Tak ada pergerakan sedikitpun.
Satu helaan napas keluar, "..enak saja dia. Aku?" gumamnya seraya turun dari ranjang, memakai sandal wolnya dan meraih sweater tebal yang menggantung di kursi, "..mungkin cokelat panas sedikit menenangkan."
Berkutat di dapur seorang diri pada tengah malam. Suatu kemajuan yang sangat pesat mengingat dia—Kim Junmyeon—orang yang paling penakut se-EXO. Dia menyumpal kedua telinganya dengan headset ungu milik—ekhem—kekasihnya guna menyamarkan suara-suara yang berkemungkinan ia tangkap. Ikut bersenandung—lirih—dan itu ia lakukan dengan tujuan tak jauh beda dari yang pertama. Sebisa mungkin hanya lagu yang berputar dan suaranya saja yang terdengar.
Derap langkah kakinya ia percepat ke arah kamar. Menutup pintu kemudian menguncinya lekas-lekas. Dengan secangkir cokelat panas di tangan Junmyeon mendekati pintu balkon. Menyibak kelambu putih kemudian membuka dua belah pembatas antara kamar dan balkon itu. Salju sudah berhenti. Langit terlihat cerah dengan teburan kerlip kecil di atas sana. Junmyeon menarik kursi kayu sampai sebatas pintu. Duduk di atasnya dengan lutut dalam pelukan. Kepulan asap yang berasal dari cokelat panas mencium wajah. Aroma lembut menguar di dalam rongga hidung saat saraf penciumannya menangkap impuls.
Perlahan-lahan ia menyesap cokelatnya. Pendangan mata masih tertuju pada cakrawala petang. Menakjubkan kala kristal salju kembali turun menghiasi udara malam. Sangat indah kerlip bintang berkolaborasi dengan titik pucat itu. Tetapi Junmyeon lebih menyukai langit polos tanpa ada hiasan langit lain karena mengingatkannya pada kepolosan seseorang yang jauh di sana. Sebuah senyum kecil terulas di bibir Junmyeon kala pikiran tentang orang itu melintas di otak.
Drrt.. Drrt..
Perhatiannya teralihkan saat telinga yang sudah terlepas dari sekapan headset itu mendengar sebuah getaran. Ia melongok ke dalam kamar di mana benda persegi panjang di atas nakas bergerak seiring dengan kedipan layar. Junmyeon beranjak dari singgasananya, meraih ponsel, dan betapa cerah binar matanya melihat siapa yang melakukan panggilan.
Xingxingie..
Calling..
Segera ia mengusap layar dengan gambar telepon hijau.
"Halo.."
"Halo.."
Junmyeon tersenyum lalu berjalan menuju kursi di balkon.
"Kau belum tidur, Myeon?"
"Lebih tepatnya tak bisa tidur."
Terdengar kekehan dari seberang telepon.
"Hehe.. pasti gara-gara Sehun."
"You know so well, lah, Xing."
Kembali menyesap cokelat panasnya perlahan.
"Geurae. Kau sedang apa?"
"Ditelpon kamu.."
"Aish~ sejak kapan kau menggunakan kata 'kamu'? Dan hal itu sudah sangat jelas, bodoh."
Junmyeon tersenyum kecil. Membayangkan wajah orang di seberang teleponnya. Bibir itu pasti terlihat lucu. Junmyeon tahu itu.
"Aku sedang di balkon. Kau belum tidur? Ini sudah tengah malam."
"Tengah malam? Myeon, kau lupa negara kita berbeda? Di sini masih menuju tengah malam dan aku belum tidur. Jika sudah kenapa aku bisa berbicara saat ini? Luhan berisik dengan dua orang tua lain."
Menepuk keningnya pelan menggunakan cangkir cokelat panasnya menyadari dia dan orang ini terpisah negara. Hha~ menyedihkan
"Aku lupa. Orang tua? Minseok dan Yifan?"
"Obviously you know that. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di balkon? Kan musin dingin. Kau tak merasa dingin? Apa kau mengenakan jaket? Kuharap begitu. Aku tak mau diperintah Sehun yang kalang kabut saat tahu kau sakit. Kau—"
"Sayang, stop!"
Hening. Hembusan angin mendominasi. Tak ada suara di seberang dan Junmyeon tahu Yixing saat ini pasti sedang merona.
"Kau seperti ibu-ibu. Aku mengenakan sweater dan ditemani cokelat panas, lumayan mengusir hawa dingin tapi sepertinya cokelatku mulai membeku .." ia menunduk, melihat ke dalam cangkirnya di mana cokelat itu sudah tak berasap.
"..dan yang aku lakukan di sini, melihat langit." Lanjutnya.
"Myeon?"
"Hmm?"
"Kau tak bertanya aku sedang di mana?"
Alis Junmyeon bertaut. Terkadang kekasihnya ini sulit ditebak.
"Kau di mana?"
"Balkon?"
"Eh? Sedang apa?"
"Sama sepertimu, Myeon."
"Ya! Kalau sama kenapa kau menyuruhku bertanya?"
"Hehehe.."
Junmyeon menggeleng.
"Myeon, langitnya indah."
"Kenapa?"
"Banyak taburan bintang. Aku jadi ingin kue dengan taburan sparkle di atasnya."
Gezz~ -_-
"Di sini juga banyak bintang. Tapi menurutku lebih indah jika tak apa benda langit lainnya. Polos."
Matanya kembali bersirobok dengan cahaya kecil di atas.
"Eh? Bukankah banyak bintang lebih menawan?"
"No, no, no. Mau tahu alasannya?"
"Of course."
"Karena.."
Tatapannya meneduh. Semakin mengeratkan pelukan dengan cangkir cokelat panas terjepit diantara dada dan lututnya.
"..langit yang polos itu mengingatkanku pada seseorang "
"SIAPA?!"
Junmyeon menjauhkan ponselnya saat suara di seberang begitu menggelegar di telinga.
"Tak bisakah untuk tidak berteriak, Xing ?" ia sewot.
"Eum~ maaf. Aku hanya terkejut."
Melunak, "..dengarkan aku dulu, sayang."
Tak ada jawaban.
"Orang yang polos selalu menarikku untuk selalu menjaganya. Sebisaku, kau tahu. Tetapi dia jauh. Waktuku bersamanya selau terhalang jarak meski tak jarang aku dan dia bersama juga. orang yang polos itu menggemaskan, terutama saat ia berbicara. Bibirnya, hah~ dia terlihat seperti bintang iklan pemulas bibir."
"Hah?"
"Diam dulu, Xing."
Tak ada jawaban lagi.
"Satu yang aku takutkan. Perasaannya memudar seiring dengan tiap jengkal jarak yang semakin menjauh. Apa ucapanku terlalu hiperbola, Xing? Tapi aku jujur. Oh Tuhan~ aku mencintainya~"
Junmyeon memeluk cangkirnya erat-erat. Cukup lama sampai Junmyeon tersadar masih tak ada suara dari seberang.
"Xing? Kau masih di sana? Aku tak sedang mendongeng."
"Tidak, Myeon. Aku sedang mencerna ucapanmu."
Mata Junmyeon membulat. Ia membeku. Terkadang bicara dengan Yixing membutuhkan waktu lama dan beberapa potong roti untuk energi yang besar.
"Myeon?"
"Hmm?"
"Kau percaya padaku?"
"Kau tak berselingkuh dengan Yifan di sana, bukan?"
"Tidak, bodoh. Kau gila!"
"Well, yeah~ itu salah satu poin dari daftar ketakutanku."
"Myeonie, selama kita masih melihat langit yang sama, selama kita berasa dalam naungan tempat yang dinamakan dunia, selama itu pula aku mencintaimu."
"Xingie?"
"Yeah?"
"Kau tak sedang bersama Luhan di sana?"
"Tidak. Memangnya kenapa?"
"Mungkin saja dia menuntunmu untuk berkata seperti itu."
"MATIKAN!"
Junmyeon tertawa keras.
"Hehe.. kau marah?"
"Aku membencimu!"
"Baru saja kau mengatakankan kau akan selalu mencintaiku."
"Aku tidak berkata seperti itu."
"Bohong :p"
"Terserahmu, lah, Myeon."
Kembali melunak, "..eum~ aku mencintaimu.."
"Aku lebih mencintaimu."
"Dua kali lipat lebih mencintaimu."
"Empat kali lipat lebih mencintaimu."
"Yixing bodoh, kenapa kau teruskan -_- ?"
"Itu Luhan yang bicara, Myeon!"
Mata Junmyeon kembali menyipit akibat pipi yang tertarik ke atas karena tawa kecilnya.
"Baiklah, mau berapa kali lipatpun tetap aku yang lebih mencintaimu dan tak akan melepasmu, kau tahu itu. Sudah malam, kau harus segera tidur."
Tak ada jawaban, mengundang kerutan di kening Junmyeon.
"Xing?"
"Eum~ Myeonie?"
Bibirnya melengkung ke atas, "..tidurlah.."
"Aku merindukanmu."
Tak ada alasan untuk tidak mencintai laki-laki ini.
"Aku juga. Sekarang matikan teleponnya dan lekas tidur, arra?"
"Kau juga."
"Tentu, sayang."
"Ehm~ baiklah, selamat malam."
"Malam..."
Telepon terputus.
"...dear~"
Memejamkan matanya beberapa detik saat angin berhembus lembut. Membawa kristal salju untuk menyentuh wajah tampan itu. Dingin, namun hangat di dada Junmyeon lebih mendominasi. Sepertinya malam ini leader EXO-K kita akan tertidur nyenyak dan sangat nyenyak.
.
.
.
To Be Continue
Halo ^^
Sebenarnya ini fanfic lama Dae yang menghilang entah ke mana. Berhubung ada yang sempet nge-request Sulay fluff jadilah Dae re-publish fanfic ini. Ada beberapa perubahan dari yang lama tapi alur tetap sama.
At last, isi kotak review, oke ;)
Terimakasih
Daexoxo
