Fairy Tail milik Hiro Mashima
Letter to You by Mbik Si Kambing
Warning: mungkin ada typo yang nyempil, diksi yang membosankan, terlebih berlatar AU dan karakter yang OOC
Pair: NatsuXLucy
Genre: Romance
Rated: K+/T
Selamat membaca!
Nama pemuda itu Natsu Dragneel.
Remaja tanggung yang baru duduk di kelas dua SMA, memiliki model rambut mencuat ke atas yang berwarna sedikit aneh, merah muda. Teman-temannya menganggapnya pemuda yang periang, punya banyak teman, supel, tukang bikin onar, dan ceria. Meskipun terkadang Natsu sering berbuat nakal dan jahil, semua orang disekitarnya sayang padanya.
Namun saat ini, ia bosan. Amat sangat bosan. Mungkin orang akan tertawa jika mendengarnya, tapi ia sama sekali tidak berbohong. Kehidupannya serba teratur, damai, dan mudah. Lancar, bagai jalan tol bebas hambatan. Terkadang ia iri dengan kehidupan temannya yang lain.
Dan hidupnya yang lurus lurus sajalah yang membuatnya jenuh.
Mari kita lihat tokoh utama dari cerita ini, Natsu Dragneel―remaja berumur tujuh belas tahun, memiliki tinggi 178 sentimeter, dan berwajah lumayan tampan―mendesah pelan, entah untuk yang kesekian kalinya. Pemuda berambut merah salmon itu menopang dagu sambil melihat ke luar jendela. Memandang matahari yang perlahan tenggelam.
"Sepertinya kau kurang sehat, Natsu."
Kepalanya ditepuk dari belakang, sedikit keras dan membuat Natsu mengernyit kesakitan. Tak perlu melirik, dari suara khasnya saja, Natsu tahu siapa gerangan yang memukulnya.
"Bukan urusanmu, Gray," ucapnya ketus.
Gray Fullbuster―pemuda berkulit putih, berambut hitam gagak, dan memiliki kebiasaan aneh membuka baju di sembarang tempat―hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat tingkah sahabatnya itu. Tidak biasanya Natsu acuh padanya, biasanya sedikit pukulan dapat membuat Natsu naik pitam dan pertengkaran kecil bisa terjadi.
"Sudah sore," Gray menggeser kursi di depannya kemudian duduk, menatap Natsu, "ayo kita pulang."
Yang diajak bicara malah menenggelamkan kepalanya di atas meja dan menutupnya dengan kedua lengan. "Kau duluan saja, Gray. Aku ingin di sini lebih lama lagi," ucapnya dengan suara teredam.
Gray terdiam beberapa saat, mengernyit saat melihat sifat Natsu yang sedikit aneh, dan akhirnya mendesah.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku pulang duluan," ucap Gray.
Pintu geser tertutup, Gray pun sudah pergi meninggalkan Natsu di ruang kelas sendirian. Sore ini hanya sedikit siswa yang masih berada di sini, hanya anak-anak klub olah raga yang masih betah bergulat bermain di lapangan dan bersimbah keringat, ada pula anak-anak dari kelas melukis yang masih asik dengan kuas dan cat minyaknya. Natsu, yang tidak mengikuti klub manapun seharusnya sudah pulang lebih dari dua jam yang lalu, tapi tubuhnya terlalu malas untuk pulang ke rumah. Ia lebih memilih tidur-tiduran di atas meja, memandangi langit yang mulai berubah warna menjadi jingga, dan menikmati semilir angin sejuk di sore hari, daripada harus pulang ke rumahnya yang luas namun sepi.
Natsu memejamkan mata, menikmati suara jangkrik yang mulai bernyanyi di kebun belakang sekolah. Mungkin tidur beberapa menit tidak masalah, pikir Natsu. Sesaat kemudian, matanya terasa berat dan kelopak matanya perlahan tertutup.
Ting.
Dentingan piano terdengar samar, membuat Natsu bangun dari tidurnya. Ia membuka mata, memandang ke luar jendela. Ck, rupanya ia ketiduran dan langit sudah berubah warna menjadi gelap, menggantikan matahari menjadi bulan dan ribuan bintang.
Ting ting.
Kembali Natsu menajamkan pendengaran, mengernyit saat mendengar nada asing itu.
Siapa gerangan yang bermain piano malam-malam begini? Bukannya sudah lama ruang musik terkunci dan tidak ada satu pun siswa yang bersekolah disini pernah memainkan piano tua tersebut. Jadi siapa? Apa jangan-jangan hantu?
Natsu membuang pertanyaan terakhir itu jauh-jauh dari pikirannya. Sejak kapan ia tidak berpikir rasional begini? Natsu berdiri, berjalan ke arah pintu dan membukanya perlahan. Lorong yang biasanya ramai akan canda tawa anak-anak kelas dua, sore ini sepi dan sedikit gelap. Natsu berdehem, memasukkan kedua tangan di saku celana, dengan santai ia mengikuti asal suara itu, menuntunnya menuju ruang musik yang terletak di lantai bawah.
.
Hentakan sepatunya bergema ke penjuru ruangan, langkahnya kian dekat ke tempat tujuan. Ia terdiam sebentar sambil menutup mata, meresapi alunan indah tersebut.
Ah, Natsu ingat lagu ini. Mondlight Sonata. Salah satu karya dari maestro musik asal Jerman, Ludwig van Beethoven, yang disebut-sebut sebagai Mozart kedua karena permainan pianonya yang jenius dan memukau.
Tanpa terasa Natsu sudah sampai di tempat tujuan, namun tak kunjung juga membuka pintu. Rasanya tubuhnya mendadak kaku, bahkan untuk membuka pintu saja ia tak sanggup. Seolah terhipnotis oleh alunan merdu dari sonata tersebut, mata obsidiannya tak bisa lepas dari sosok yang ada di balik pintu.
Deg.
Tentu Natsu masih sadar dan matanya tidak rabun. Seorang gadis. Tepat, seorang gadis duduk sendirian di ruang musik yang berdebu itu sambil memainkan piano. Jarinya menari sangat lincah, helaian rambut pirangnya terlihat menari saat angin nakal berhembus, dan gadis itu tersenyum saat memainkan melodi tersebut. Senyumnya terasa hangat di hati Natsu, tapi wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena penerangan yang kurang, namun perlahan awan yang menutupi bulan berarak pergi, disusul kemudian sinar keperakan menembus jendela dan menerangi ruangan.
Astaga, rasanya Natsu lupa caranya bernapas saat mendapati sosok gadis itu sepenuhnya diterangi cahaya rembulan. Sial, kenapa tiba-tiba jantungnya terasa sakit dan wajahnya terasa panas?
Natsu memegang wajahnya yang memerah bertepatan dengan selesainya permainan piano si Gadis Misterius itu. Natsu masih mengamati bagaimana gadis itu tersenyum pada benda hitam di depannya, mengelap entah berapa puluh tuts hitam-putih dengan saputangan, dan terakhir ia menutupnya dengan perlahan. Sepertinya si gadis sudah selesai dan ingin segera pergi, tapi Natsu masih belum bergerak sama sekali.
'Ayo, Natsu sadarlah! Mungkin ini terakhir kalinya kau melihat gadis itu, dan terakhir kali mendengar melodi indah itu.' Pemuda itu menepuk pelan kedua pipinya.
Tidak, Natsu tidak mau pertemuan ini menjadi pertemuannya yang terakhir. Ia ingin tahu nama gadis itu, dimana ia tinggal, apa hobinya, makanan kesukaannya. Semuanya, Natsu ingin tahu segala hal tentangnya. Aneh memang, Natsu akui itu. Tapi ini pertama kali selama tujuh belas tahun hidupnya ia merasa semangat. Seolah ada angin segar yang tiba-tiba membangunkannya dari rasa kantuk dan kebosanan.
Dan sungguh sangat diluar karakter aslinya, Natsu membuka pintu geser itu dengan tenaga berlebih, terlalu bersemangat sepertinya, dan memecah keheningan yang ada.
Gadis itu tersentak kaget, memandang ke arah timbulnya suara.
Ah, ternyata warna matanya seperti itu. Natsu tidak bisa mendiskripsikan dengan tepat warna matanya. Coklat? Entahlah, yang jelas warna itu mengingatkannya pada karamel dan madu.
"Siapa?" tanyanya. Suaranya lirih, ada rasa takut dan keraguan di dalamnya.
Natsu melangkah masuk, menuju si surai pirang, dapat ia cium aroma lembut vanila.
"Si-siapa disana?" kali ini dengan suara bergetar, Natsu merasa aneh dengan sifat gadis itu. Gadis itu memakai seragam SMA lain, jelas sekali ia bukan siswa sekolah sini.
Semakin dekat jarak antara mereka dan akhirnya pemuda bermarga Dragnell itu membuka suara, "Apa yang kau lakukan malam-malam disini?"
Sumpah, sejujurnya Natsu tidak ingin berkata sedemikian dingin dan ketus. Dimana suaranya yang riang dan terkesan ramah itu pergi?
"Maaf. Aku memakai piano ini. Apa permainanku mengganggumu?"
'Tidak juga, justru aku senang mendengarnya,' sebenarnya ia ingin berkata demikian, namun bibirnya hanya berucap 'Hn'. Gadis itu terdiam saat mendengar penuturan Natsu, ia mengira pemuda itu marah karena terganggu akan permainan solonya barusan.
"Ba-baiklah, kalau begitu. Sekali lagi maaf kalau aku mengganggumu, Tuan."
Natsu tersentak saat dirinya dipanggil tuan. Apa wajahnya setua itu? Tanpa sadar tangannya memegang ujung dagunya.
"Kau memanggilku tuan? Aku tidak setua itu, Nona," Natsu pura-pura mendengus kesal, padahal dalam hati ia geli melihat mimik dan tingkah laku gadis yang sekarang menundukkan kepala, menutupi wajahnya yang merona malu.
"Beri tahu namamu baru aku akan memaafkan sikapmu yang kurang sopan tadi."
Gadis itu mendongak, tersenyum gembira saat mendengar penuturan dari Natsu.
"Lucy. Lucy Heartfilia desu," ucapnya sambil memamerkan deretan gigi putih yang tertata rapi.
Ah, ternyata namanya manis juga, Natsu tersenyum dalam hati.
"Kalau begitu salam kenal, Lucy. Namaku Natsu Dragneel."
Natsu mengulurkan tangan, berharap dapat menjabat tangan gadis yang bernama Lucy tersebut, mungkin ia bisa merasakan hangat dan lembutnya tangan gadis itu. Astaga! Sejak kapan ia ketularan teman kelasnya, Loke yang suka menggoda wanita itu?
Sepuluh detik, dua puluh detik, hampir semenit Natsu mengulurkan tangan, namun Lucy tidak juga merespon. Gadis itu masih tersenyum dan memandang lurus ke depan, namun―
Natsu meneguk ludah, apa jangan-jangan―
Pemuda itu melambaikan tangannya tepat di depan mata Lucy, namun tidak ada pergerakan yang berarti, tak ada respon apa-apa. Astaga, ternyata pianis muda ini―
.
.
―Buta?
.
.
"Ehm." Natsu berdehem, mencoba menghilangkan rasa kikuk yang tiba-tiba melandanya. "Jadi, sejak kapan kau bermain piano?" tanya Natsu.
"Emm…" gadis itu tampak berpikir, menelengkan kepalanya sedikit ke kiri, "mungkin sejak aku umur enam tahun." Lagi, gadis itu tersenyum. Ia sedikit bergeser dari posisinya, tangannya menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya, rupanya gadis itu ingin Natsu duduk di sampingnya.
Natsu menurut, ia duduk dan rasa hangat itu kembali muncul, menciptakan gelenyar aneh di dadanya. Natsu menelan ludah dengan susah payah.
"Kalau Natsu sendiri. Apa sekolah di sini?" tanyanya polos. Gadis yang baru dikenalnya beberapa menit lalu bahkan langsung memanggilnya dengan nama kecilnya, namun anehnya Natsu tidak keberatan sama sekali.
"Ya, aku kelas dua."
"Ah. Begitu ya?," ucapnya sambil menganguk-angguk.
"Ne, Natsu," Lucy kembali berucap, "Mungkin ini terdengar aneh karena kita baru saja bertemu, tapi maukah kau mengabulkan permintaanku?"
Lucy membuka tutup piano tersebut, jemarinya menekan sembarang tuts, sepertinya itu adalah cara yang dilakukan untuk mengurangi kegugupannya. Sementara Natsu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan
"Apa?" Nada suaranya terdengar datar, namun adrenalinnya berpacu cepat.
"Maukah kau membacakan sebuah surat untukku?" Gadis berambut panjang itu menunduk, mencari dimana tasnya berada, setelah ketemu ia mengangkatnya dan menaruhnya di pangkuan. Resleting dibuka dan tangan kanan bergriliya, "Ah! Ini dia," ucapnya saat menemukan apa yang dicari.
Sebuah surat dibungkus amplop berwarna biru toska, terlihat rapi dan belum pernah dibuka sebelumnya itu disodorkan Lucy pada Natsu. Natsu tidak bisa berkelit, jelas sekali benda dihadapannya itu adalah sebuah surat.
Sebuah surat cinta, lebih tepatnya.
Natsu terdiam, pandangannya tertuju pada surat dan Lucy berulang-ulang. Ia tak habis pikir, kenapa dadanya terasa sakit saat mengetahui hal tersebut, padahal ia baru mengenal Lucy dan merasa tidak rela jika ada orang lain yang mengisi hati gadis itu
Karena tidak ada respon, Lucy kembali membuka suara, "Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa melihat," gadis itu tertawa kikuk. Natsu jadi merasa tidak enak, ia menggaruk tengkuknya.
"Sebenarnya ini dari pacarku, tapi sekarang ia tinggal di luar kota dan sudah seminggu surat ini aku terima, namun aku malu meminta ayahku untuk membacakannya." Lucy menunduk malu, sementara Natsu hanya bisa diam seribu bahasa.
Okey, Natsu benar-benar bingung sekarang. Ia ingin menolak permintaan gadis itu, tapi terlalu enggan untuk bertindak, jadinya dengan berat hati ia menerima permintaan Lucy. Mengambil amplop tersebut, perlahan ia membuka amplop itu, melirik Lucy dengan ekor matanya, dan berkata, "Baiklah akan aku bacakan."
"Ah, arigatou." Lucy memekik girang dan senyum itu terlihat lagi.
Kembali Natsu menghela nafas, menutup matanya sambil menenangkan deru jantungnya yang kembali berpacu cepat.
Manik obsidiannya terbuka, bergerak dari kiri ke kanan berulang-ulang. Dalam hati ia membaca apa yang tertulis disana. Dan tenggorokannya tercekat, menoleh ke arah Lucy dan mendapati gadis itu menunggu Natsu untuk berbicara.
.
Untuk Lucy,
Sebenarnya aku masih mencintaimu, tapi alangkah baiknya mari kita akhiri hubungan ini…
Sepertinya aku tidak sanggup menjadi kekasihmu lagi,
Gomen ne.
.
.
'Bagaimana ini?' Natsu membatin, keringat membasahi dahinya. Ia masih membisu, bibirnya mendadak kelu.
Tiba-tiba saja ia dihadapkan pada situasi yang membingungkan. Apa yang akan ia katakan? Apa dia harus jujur? Sungguh, Natsu sama sekali tidak menyangka isi surat ini. Ternyata surat yang dipegangnya ini bukan surat cinta, melainkan sebuah ajakan untuk berpisah.
Entah ia harus senang atau apa, yang jelas saat melihat kilau karamel milik Lucy yang begitu mendamba ingin mendengar isi surat itu, hatinya merasa nyeri. Dan itu sangat tak tertahankan.
.
.
.
Keep or delete?
Oke, minna-san. Saya baru di fandom ini, jadi salam kenal dan mohon bantuannya. Kalian bisa panggil saya Mbik. Cukup Mbik aja, ya ;)
Dari dulu saya ingin sekali buat fic dengan pair ini dan baru kesampaian sekarang. Semoga kalian suka dan berkenan untuk memberikan kritik dan sarannya.
Salam bau,
Mbik si Kambing
