Summary : Mello bertengkar dengan Matt hanya karena masalah sepele. Matt selalu mengurai kabel-kabel PSP nya dimana-mana. Sehingga Mello yang kesal pun memutuskan untuk memisahkan kamar mereka. Ditengah pertikaian dan adu mulut mereka yang sedang berlangsung, Matt mencoba untuk bunuh diri.

Pairing : MelloxMatt

Genre : Smut, Romance, dan OOC, Hurt/Comfort.

Rated : M

Desclaimer : Death Note is belong to Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata.

Warning : MPREG, YAOI hard, R+18.

XXXXX========XXXXX

I ONLY LOVE YOU

Chapter One : Forgive

by

Kuro Phantomhive

~Matt's POV,

Aku terdiam duduk di sofa lebar dengan sinar remang cahaya bulan di dalam apartment kosong ini. Aku menunggu, menunggu, dan terus menunggu.

Menunggu kedatangan seseorang yang sangat kunantikan sedari sore tadi hingga gelap hari tanpa bergerak, berpindah, ataupun menoleh sedikitpun dari sofa ini.

Kunaikkan kedua kakiku, hingga kedua lututku menyentuh dadaku, dan aku menopang daguku dengan kedua tanganku di atas lututku.

Aku sama sekali tidak merasa lapar, haus, mengantuk, lelah, ataupun malas.

Yang kurasakan itu saat ini hanyalah satu.

Merindukan Mello, Kekasihku yang belum kunjung pulang dari kantornya.

Tempat ini terasa kosong, begitu sunyi, tanpa ada suara sedikitpun, hanya terdengar suara detikan jam pada detik jarum jam yang tergantung di dinding.

"Mello…" Desahku, aku memeluk lututku erat, dan memendamkan kepalaku di dalamnya. Aku tidak tertidur… hanya terdiam.

"Cklek…!" aku mendengar sedikit suara kecil, tak begitu jelas sebenarnya. Makanya aku hanya tetap terdiam memendamkan kepalaku.

Setelah itu, tak ada suara sedikitpun, namun, perlahan dan sedikit demi sedikit, aku mencium aroma coklat yang sangat harum dan pekat.

Sebelum sempat aku menoleh dan mengangkat kepalaku,

"Gyut...!" seseorang melingkarkan tangannya ke leherku dan merangkulku dari belakang.

'Hangat sekali...' gumamku dalam hati.

"Me.. mello…" aku mendesah kecil saat ia mengecup pipiku dari belakang, dan menggigit telingaku sebentar.

"Matty… kau belum tidur…?" Tanya mello padaku saat aku menurunkan kakiku dari atas sofa dan memegang tangannya yang sedang dilingkarkan di leherku.

"Be-belum…" entah kenapa, aku menjawabnya dengan terbata-bata.(mungkin mau bikin rumah kali-?- jadinya bikin batu bata dulu.. XD *digampar matt*)

"Kenapa tidak tidur? Apa kau tidak lelah? Setelah pulang dari kantormu siang tadi?" ia berpindah posisi, berjalan berputar ke depanku, dan jongkok di bawahku, seraya menggenggam kedua tanganku dan mengecupnya. Kenapa ia bersikap SOK ramah seperti ini? jangan-jangan setelah ini aku akan dibunuhnya?

"Tidak… aku tidak lelah…" jawabku polos seraya mem-blushing, dan agak mengalihkan mataku dari pandangan maut-nya yang dalam seketika sudah membuatku horny bukan main. Namun entah kenapa, aku sedikit merasa sedih.

"Apa ada yang mau kau lakukan sebelum tidur? Jadinya kau tidak tidur terlebih dulu?" tanyanya seraya tersenyum namun itu tidak terlihat seperti senyuman lembutnya yang dulu.

"Aku menunggumu…" aku mencoba menatapnya, dan wajahku yang sudah merah itu menjadi semakin memanas.

"Kenapa? Kau 'kan tahu kalau aku pulang larut… apa kau bersikap bodoh lagi?

Kau mau apa? Akhir-akhir ini kau sungguh aneh matt.

Kau ingin berdebat soal apa lagi denganku?

Mungkin kau lebih mementingkan PsP mu dan batangan rokok bodoh yang akan membunuhmu sebentar lagi ketimbang aku. Aku bisa saja menerima itu, namun aku tidak dapat menerima jika kau menggangguku." ia bertanya dengan nada agak penasaran, dan alis matanya yang agak terlihat seperti… 'sinis', mungkin…

"Aku… merindukanmu Mells… aku ingin tidur bersamamu lagi… aku tidak suka kamar kita terpisah… aku tidak dapat melihatmu sejak 2 hari yang lalu karena kau terlalu sibuk dengan kasus-kasus yang kau kerjakan. Atau entah karena kau menghindar dariku…

Aku minta maaf karena perdebatan kita 3 hari lalu soal Psp ku, dan rokok yang kubuang sembarangan. Namun itu bukan berarti kita harus terpisah 'kan! Aku berjanji tidak akan berantakan seperti itu lagi! Jika kau tidak suka aku bermain Psp, aku tidak akan pernah bermain lagi!

Kalau kau benci dengan bau rokok yang kunyalakan, aku tidak akan pernah lagi merokok! Aku berjanji…

Kumohon Mells… Maafkan aku… aku sungguh-sungguh menyesal… aku tidak bisa lagi terpisah jauh darimu…!

Kalau kau tidak suka lagi padaku, aku akan melakukan apa saja untukmu agar kau tidak bosan…!

Aku akan merelakan tubuhku untuk kau gunakan sebagai eksperimen! Kau boleh melakukan apa saja padaku! Kau boleh membunuhku jika kau tidak lagi menginginkanku!

Aku sungguh tidak bisa jauh darimu Mells! Tolong aku… jika kau benar-benar tidak ingin berada di dekatku lagi…

Bunuh aku… agar aku bisa selalu dekat di hatimu… meskipun kau tidak menginginkan ragaku berada di dekatmu lagi…

Sejak hari itu… saat aku tertidur, kau belum pulang, dan saat aku bangun pagi harinya pun, kau sudah berangkat lebih dulu dibandingkan aku.

Kau tidak meninggalkan pesan apa pun untukku… sewaktu aku datang ke kantormu,… kau bilang pada bawahanmu supaya aku tidak masuk ke ruanganmu…

Aku membutuhkanmu Mells… Aku sangat kesepian…" jawabku dengan suara agak bergetar, aku hampir berteriak padanya jika aku tidak meredam emosiku.

Air mata menggenang di kelopak mataku, lalu aku dengan cepat menundukkan wajahku, membiarkan beberapa tetes air mata mengalir di pipiku dan membasahinya.

Aku menggunakan kedua tanganku untuk meremas rambutku. Kepalaku pusing sekali, semua perasaan ini beradu dan bercampur jadi satu di dalam otakku.

Aku menangis tanpa suara,tidak ingin Mello mengetahui suara sesenggukan memalukanku, apalagi sampai melihatku menangis. TOLOL sekali aku ini!

Aku kembali menekuk lututku hingga dada, menghiraukan mello yang berdiri terdiam menatapku tanpa suara.

Aku sungguh merasa malu… Muak! Dengan diriku yang seperti ini! aku juga tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku…! Aku sungguh ingin mengakhiri hidupku yang penuh dengan harga diri yang sudah hancur ini.

Terlebih lagi, Mello yang memandangku dingin dalam diam.

Dunia ini serasa terhenti. Jantungku berhenti berdegup. Tubuhku gemetar, sebelah tangan kiriku merosot dari atas lututku, tidak terkendali lagi…

Tanganku meraih pisau kecil yang ada di meja untuk memotong buah-buahan seenaknya. Aku tidak menghendaki tanganku untuk bergerak seperti itu.

Tapi aku membiarkannya, tangan kiriku gemetar, mengangkat pisau itu perlahan. Aku mendongakkan wajahku, dan menatap pisau si tanganku yang sudah kuangkat tinggi tinggi itu, dan siap untuk menikam kepalaku.

"Bye Mells…" Gumamku pelan, aku mengayunkan pisau itu ke arah kepalaku. saat pisau itu sudah menyentuh rambutku, sedikit lagi menusuk ke kepalaku…

"DORRRRRR!" sebuah peluru hampir menembak tanganku, sehingga melempar jatuh pisau itu jauh hingga ke sudut ruangan.

Tanganku masih gemetar dan jatuh ke atas sofa.

Ketika aku menoleh kaget ke arah mello…

"FUCK!" mataku terbelalak melihatnya yang sedang berteriak & menodongkan senapan ke arah kepalaku. Tatapannya seperti raut iblis, kilat matanya menusukku tepat hingga sempat membuat jantungku berhenti berdetak selama beberapa saat.

Saat ada sebuah Firework/Kembang Api/ Hanabi tak terduga entah datang dari mana, yang meletus di udara, sedikit cahayanya memantul ke wajah Mello.

Terlihat dengan jelas matanya yang menusukku dan pipinya yang basah, masih mengalirkan beberapa air mata dari matanya.

'Kenapa Mello menangis?' batinku dalam hati.

"SIAPA YANG BILANG KAU BOLEH PERGI DARIKU!" ia berteriak keras sekali dan menembakkan peluru senapannya ke kaca balkon dan memecahkan kaca-kaca itu.

Entah aku yang mulai sekarat, atau aku mendengar suaranya yang membentakku itu adalah suara bergetar hebat.

"Brakk!" Mello melempar senapannya ke sudut ruangan, dan mendekatiku dengan cepat.

Kemudian Mello dengan sigap meraih daguku, dan meniadakan jarak antara bibirnya dengan bibirku, sehingga bibir kami bersentuhan dengan anggunnya. Ia menciumku lembut, dan mengelus pelan pipiku.

Mendorongku perlahan sehingga aku terlentang di sofa, dan semakin mempercepat tempo lidahnya yang bermain di dalam rongga mulutku. Aku hanya memejamkan mata, melingkarkan tanganku di lehernya, dan memberikan ia ruang juga kesempatan sepenuhnya untuk menyentuhku.

Ia menciumku cukup lama, mengulum bibirku dengan bibirnya, terasa manis coklat yang meleleh dengan hangat dari lidahnya ke lidahku.

Sepertinya, sudah lebih dari 5 menit, dan ia masih tetap menciumku dengan lembut, perlahan, dan penuh kasih sayang. Ia menjelajahi seluruh bagian rongga mulutku yang dengan senang hati kubuka jalan untuk lidahnya masuk.

Ia menghentikan serangannya sejenak, dan menatapku dalam-dalam. Aku tahu wajahku pasti sangat merah sekali saat ini, namun aku tidak bisa lari dari pandangan matanya, seakan, aku telah terhanyut di keindahan bola matanya yang bening bercahaya.

"Maafkan aku… aku memang bodoh…

Aku belum sanggup kehilanganmu, Matty…" Mello mengelus pipiku pelan dan lembut.

"…" aku hanya terdiam, mengangguk pelan dan tersenyum pilu padanya.

"Aku terlalu sibuk dengan dunia membosankan yang mengekangku untuk melakukan perubahan, sebenarnya aku juga sangat merindukanmu. Maafkan aku karena terlalu sering meninggalkanmu sendirian 2 hari ini… aku berjanji bahwa ini tidak akan terulang lagi…

Matt… aku mencintaimu… Kumohon… maafkan aku… dan jangan pernah lagi mencoba untuk membunuh dirimu sendiri…" Ia mengecup keningku dengan penuh kelembutan.

"Janji…?" wajahku memelas saat menatapnya.

"Iya… aku berjanji…" hatiku melemas mendengar pengakuan dari bibirnya.

"Mello…" wajahku memblushing seketika saat melihat senyum indahnya yang membunuhku.

"Ya… ada apa Matty…?" ia mengelus – elus kepalaku, dan memandangku.

"Aku merindukan… sentuhanmu…" aku memohon padanya dengan raut uke's face.

Jujur saja, aku sungguh tidak kuat jika sehari saja tidak disentuh olehnya, tubuhku melemas seketika. 'itu' ku menegang bukan main.

Senyum Psycho terukir dengn sempurna di bibirnya saat aku mengucapkan hal itu.

"Dengan senang hati… Sayangku…" hormonku bergejolak tak terkontrol saat ia membelai rambutku perlahan, aku sempat menelan ludah ketika mello memelukku dan tangan kanannya meraba bagian intimku yang sudah menegang sejak kami berciuman barusan. (Barusann! Bukannya itu udah 20 menit yang lalu yah! Begitulah, terkadang, orang yang sedang bercinta suka terbawa suasana hingga sang waktu pun tak dapat menebaknya, kapan mereka akan se esai. *digampar Matt sama Mello krn dah gangguin.)

"Ngh… Me-mell…lo…" aku mengerang pelan saat ia meraba dalam kausku, dan mencubit Nipple ku.

"Teruslah mendesah… Matt sayang… kita akan bermain malam ini…" Mello terus mencubiti nipple ku, dan tangan yang satunya lagi membuka resleting celana jeans ku dengan lihai-nya.

"A… ahnn…" aku menggigit bibirku untuk menahan cairan yang sedari tadi terus bergejolak di dalam 'itu' ku.

"Matty…" Mello mulai menciumku dengan tempo yang agak cepat, makin cepat, dan lama kelamaan, menjadi seperti sungguh bernafsu.

Tangan kanannya masih menggerayangi nipple ku dengan asyik-nya. Dan tangan yang satunya telah sukses melepas celana jeans ku dan menanggalkannya dari tubuhku, kaus ku yang semakin naik ke atas pun semakin meng-expose tubuhku.

"Ngh….!" Erang-ku saat Mello mencubit nipple ku dengan kuat.

"Maaf matty… aku tidak sengaja…" mello melepas ciumannya dan membelai wajahku.

"Ti-tidak , apa apa…" jawabku dengan lemah.

Tiba-tiba Mello meremas bagian ujung intimku. Seraya menggigit ujung nipple ku.

"Akh!" aku terlonjak kaget dan meringis kesakitan.

"Sakit ya,…?" Tanya Mello padaku dengan nada agak menggoda.

"Me-mello… k-kau… agresif… sekali… ngh!" erang ku berkali kali dan hampir berteriak karena sakit sekali, pada saat Mello meremas-remas ujung batangku.

"Ini baru permulaan… Matt sayang… setelah ini… aku akan menusukmu, dan klimaks di dalam tubuhmu…" sahut Mello.

"Ce… Cepatlah… Mello… k-kun…" aku mendesah, menggerang, menjerit, dan berteriak, saat Mello memaksa keluar Klimaks dari ujung bagian intim ku.

"Bailah… bersiaplah sayang…" Goda Mello saat aku sudah mendesah dan mengerang bukan main.

Kemudian Mello membuka resleting celana kulitnya, aku melihat sesuatu menyembul keluar dari sana, dan berdiri tegak seakan menatapku penuh kemenangan.

Aku sudah menelan ludah, saking tidak tahannya melihat batang miliknya yang sudah berdiri tegak 100%. Aku ingin segera merasakan 'itu' masuk ke dalam tubuhku.

"Matty…" Mello menggendongku, mencium leherku dan meninggalkan jejak kissmark di sana. Kemudian ia membuka resleting tank top kulitnya, dan membuka kausku lalu melemparnya ke sudut ruangan.

"A… Angghhhh!" aku menahan jerit saat Mello menaruh ujung batangnya di depan lubangku dan memasukkan ujung kepala 'itu' nya ke dalam lubang tubuhku.

"Kau sudah siap?" Tanya Mello kepadaku saat ia memasukkan itu perlahan ke dalam tubuhku.

"I-iy... yach!" aku menjerit saat Mello memasukkan 'itu' nya yang berukuran king size ke dalam lubangku.

"Jangan ragu Matty… kalau ragu… agak susah memasukkannya…" sahut Mello seraya ter-engah engah memasukkan 'itu' nya sambil menggendongku.

"T…tidurkan aku… d-dan… Hentakkan s-saja… M-mello… k-kunn!" aku semakin menjerit, mengerang keras, kesakitan, dan berteriak. Mendesah tanpa henti.

Begitu pula Mello, ia akhirnya menidurkanku yang sudah dalam keadaan 'Dressless' di sofa. Keringat dingin mengalir di seluruh tubuhku.

"Nghh! Ahhh! Ha'... aaaaahhhh!" aku mengerang berkali-kali saat Mello mengeluarkan 'itu' nya yang big size sebelum masuk ke dalam tubuhku bahkan setengahnya.

Aku meremas-remas kursi sofa, Dan mendesah bukan main tanpa henti.

"Matty… aku akan segera menghentakkannya. Kalau sakit, menjerit saja… lepas semua bebanmu yang tersembunyi…" bisik Mello seraya menyiapkan 'itu' nya di depan lubangku.

"B-baik…" jawabku lemah.

"Rilex… jangan gugup…" bisik Mello seraya mengecup bibirku.

Dan kemudian,

"Zlebbb!" Mello menghentakkan miliknya hingga masuk seutuhnya ke dalam tubuhku, dengan sekali gerakan cepat.

"Gu…! ! MELLLLOOOOOOOOOO! ITAAAAIIIIIIII!" aku menjerit keras, setetes air mata menitik dari sudut mataku.

"Shhhh…tenang… semuanya baik-baik saja…" bisik Mello padaku seraya membungkam bibirku dengan bibirnya.

"Ngghh! mmmmnnn! uhnnn!" aku mendesah tidak jelas saat Mello mengulum bibirku.

'Bagaimana mungkin, aku tidak menjerit, ukuran punya Mello 'kan gede buangett! Udah gitu dia agresif bgt lg, maju mundur cepet banget! Se-enak jidatnya, maen keluar-masukinn! Terus nembak aku berkali kali, kan sakit tauk! Berdarah deh gue… eh, Tapi, nikmat juga sihhh… XD' –batin Matt dalam hati.-

"Matty… Aku akan membasahi dinding surga mu… kalau beruntung sihh, kau bisa hamil… 'kan asik, kita bisa punya anak… tapi kalau tidak juga tidak apa-apa. Berarti kita bisa bermain seperti ini setiap hari. Nanti pagi kita main lagi ya…" kata Mello yang ngatur ngatur gue se-enak udelnya. Emang nya kagak sakit apah? Gue bisa mati lama-lama! Bukannya hamil, yang ada keguguran sekaligus sama nyawa gue bisa-bisa… (Matt menggerutu gak jelas di dalam hatinya.)

"Mello… A… AKHH! … a… aku… mmmn…! B-bisa… ach! M-mat… ti,… uhnnn!" aku menjerit berkali-kali. Jujur saja, aku sepertinya tidak kuat lagi. Aku sudah klimaks 2 kali. Sedangkan Mello, dia membasahi tubuhku sudah hampir 5 kali. Kuat sekali dia.

"Maafkan aku matty…" jawab Mello seraya melepaskan klimaks ke-5 sekaligus yang terakhirnya di dalam tubuhku.

"Ngggm… nnnhh…" aku sudah tidak sanggup lagi, bahkan menjerit pun, aku sudah tak ada tenaga.

Tubuhku mnegejang, saat ia memaju-mundurkan pinggulnya. Berkali-kali aku mnegejang dan tersentak. Namun aku tidak bisa berteriak atau pun menjerit lagi.

"Kenapa matty sayang? Kemana desahan-desahan dan jeritan indahmu?" Tanya Mello padaku yang sudah terkapar dengan menggigit bibir bawahku menahan klimaks ke-3 ku. Kalau sampai aku melepaskan klimaks ku. Bisa-bisa aku langsung jatuh pingsan.

"Mello… Aku…" aku tidak sanggup lagi melanjutkan kata-kataku. Aku terdiam dengan kata-kata terputus yang belum sempat kuselesaikan.

Aku tidak kuat, akhirnya ku melepaskan klimaks ke-3 ku.

Nyawaku serasa tertarik keluar bersamaan dengan klimaks ku itu. Tubuhku terkulai tak berdaya, batangku yang tadinya berdiri tegak sebelum klimaks ke 3 kulepaskan, kini sudah tidak berdiri lagi.

"Matty… kau tidak apa-apa?" Tanya Mello cemas seraya melepaskan 'itu' nya dari dalam tubuhku, dan menepuk" pipiku pelan.

"Mells…" aku berbisik padanya, mataku mulai sayu. Aku tidak memiliki tenaga untuk menggerakkan satupun anggota tubuhku lagi.

Yang kulihat terakhir kali hanyalah, Mello yang menggendongku ke kamar. Dan kemudian menyelimutiku, setelah itu aku tidak ingat lagi.

Aku tertidur, mungkinkah ini disebut tertidur? Karena aku tidak mengendalikan mataku. Aku hanya merasa, seperti, jantungku berhenti berdetak.

~Mello's POV :

"Matt…" Aku mengelus rambut merah halus tipis milik pemuda tampan yang bernama Matt yang sedang pingsan di hadapanku.

Dia adalah kekasihku tercinta, semalam, sepertinya ia terlalu lelah, namun ia bersikeras menungguku pulang. Setelah itu sempat terjadi perdebatan sebentar di antara kami, malam tadi diakhiri dengan, Matt yang pingsan karena bercinta denganku.

Mungkin aku terlalu berlebihan ya…

Matt bilang aku terlalu agresif, aku memang bersalah, karena menembak Matt yang sedang dalam keadaan tidak terlalu sehat itu berkali-kali.

Padahal sebenarnya aku hanya menembaknya sebanyak 5 kali, dan membuatnya klimaks sampai 3 kali. Kuakui, Matt belum pernah klimaks sampai 3 kali sebelumnya.

Kalau aku sih, sudah terbiasa, karena aku yang menjadi seme Matt, sudah berpengalaman dalam menembaknya berkali-kali.

Saat aku menelfon dokter tadi malam, dokter bilang, terlalu banyak sperma yang dikeluarkan dan dimasukkan, dapat mengakibatkan kontradiksi yang fatal di dalam tubuhnya dan fungsi kerja organ intimnya.

Bisa saja ia hamil, tapi bisa juga, ia mengalami kondisi yang lebih parah dari keguguran.

Ia kehilangan banyak nutrisi, dan cairan. Jadi semalam dalam keadaan pingsan, aku menyuruh dokter menyuntikkannya suntik nutrisi, dan menginfusnya dengan cairan apa itu yang tadi disebut sebut oleh dokter fujoshi gaje barusan.

Aku sangat khawatir dengan kondisi Matt yang memprihatinkan.

Sewaktu aku menelfon Light tadi malam, Light yang sedang hamil 5 bulan -?- gara-gara L itu, Bilang kejadiannya sama dengan Light kemarin.

Namun, Light bilang, dia sempat koma 1 bulan, saat ia siuman dari koma' nya. Ia sudah mengandung janin berusia 1 bulan.

Aku takut kalau Matt juga koma seperti Light, namun aku lebih takut lagi kalau Matt keguguran dan nyawanya tidak tertolong.

"PERSETAN DENGAN DIRIKU SENDIRI!" aku berteriak di balkon dari lantai 56.

Aku sungguh merasa benci pada diriku yang tidak bisa melindungi Matt.

Sudah seharian Matt pingsan, dokter bilang, 2 hari lagi kalau Matt belum juga sadar dari pingsannya. Bisa didefinisikan bahwa itu koma. Dan itu disebabkan karena fungsi kerja bagian intimnya sedang berbalik. Lebih ke seperti halnya perempuan.

"Matty… kumohoon bangun…" aku berdiri di balkon menatap ke dalam ruangan, pandanganku hanya terpaku pada satu arah, yaitu Matt yang sedang terkulai lemah tidak bergerak di atas Spring Bed.

"Kh… Me-mello…" aku tersentak kaget saat melihat Matt yang sudah tersadar.

"Matty…" saat aku berlari menghampirinya.

"Gulp!" ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan turun kemudian berlari ke kamar mandi.

"Eeekh?" aku hanya menatapnya Freak.

"Uueekkkhhh! Uoekh! Uhuk! Uhuk!" aku khawatir mendengar suara Matt yang sedang terbatuk-batuk di depan wastafel.

"Matty… kau kenapa?" aku berlari menghampirinya di dalam kamar mandi.

"Mn… ngkh…!" ia ambruk ke lantai, dan aku segera menangkapnya, kemudian menuntunnya kembali ke atas tempat tidur.

"Apa yang kau muntahkan?" tanyaku khawatir seraya menidurkannya.

"Entah… rasanya aneh sekali… Terasa asam di lidahku. Mirip seperti rasa Sperma mu waktu itu, Mells…" jawabnya lemah.

To be continued

Hyaaaaah~

Akhirnya, chapter satu yang sudah tertunda update lebih dari satu tahun #DHUAKK! –kelamaan-, dengan perselisihan perasaan antara ragu dan tidak –lho?,

Pada akhirnya, sukses juga di update.

Yosh~! Kuro minta Review nya, Boleehh?

XD