Difficult
文豪ストレイドッグス Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka/Harukawa35
Story and Fiction by: satsuki grey
.
.
.
.
.
Declaimer:
Pairing:
Dazai Osamu x Nakahara Chuuya
Rated:
T
Warning:
Gaje berlebihan, Typo bertebaran, Sho-ai Sei-ai, YAOI adalah kewajiban, OOC itu mutlak, AU/AR, Slash of Love, dan lain warning gak jelasnya.
Summary:
Double Black di kenal sebagai senjata andalan milik Port Mafia, Dazai Osamu dan Nakahara Chuuya, walaupun begitu mereka juga memiliki kehidupan pribadi mereka di balik eksetensi dan cerita yang ada, dan itu menjadi sebuah rahasia yang sulit, di tambah dengan anak kecil dari panti asuhan yatim piatu.
Bungou Stray Dogs
Drama, Family, Tragedy, Hurt/Comfort, Indonesia, Soukoku fanfiction-serial, Dazai Osamu x Nakahara Chuuya
(Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fiksi ini)
.
.
.
.
.
Chapter 1. Itterasshai
.
.
Malam di bulan Juni, udara mulai semakin panas memasuki musim panas di Jepang, surai coklat yang lebat lembab karna keringat akan pekerjaan kotor yang di jalaninya, membersihkan gudang dengan tumpukan mayat yang berserakan bukanlah hal yang menyenangkan sama sekali bahkan untuk orang yang sudah terbiasa melihat darah dan sejenisnya. Port Mafia bukanlah organisasi hitam sembarangan, Yokohama berhutang sedikit pada mereka karna keamanan terjaga di metropolitan dengan ekonomi tingginya, yahh kita lupakan soal kehidupan mafia suram ini.
Masih sama, si surai coklat berjalan di trotoar kota masih dengan santainya sementara orang orang sudah kebingungan di buatnya, antara dengan bau tubuhnya yang sudah seperti mayat atau pakaiannya serba hitamnya yang terlihat menyeramkan, beberapa menit berjalan di trotoar sembari menghirup udara segar di awal musim panas.
Dia berhenti di sebuah apartemen cukup mewah, mengetuk pintu dengan kode miliknya, beberapa ketukan dan langsung masuk tanpa aba-aba pintu itu akan terbuka atau tidak, di lepasnya sepatunya dan meletakkannya di dekat si pemilik apartemen aslinya, seenaknya.
"Tadaima" ucapnya, dan bertemu pandang dengan pria bertubuh mungil nan ramping yang tengah duduk di sofa sambil menghisap rokok yang baunya mengisi ruangan.
"Kau ngapain ke mari, Dazai?" ucap pria kecil itu dengan aksennya lalu membuang wajahnya tapi masih menikmati rokok di tangannya.
"Eh? Memangnya tidak boleh, ya? Padahal kita sudah me-"
DAKK! Tanpa mau tau dengan lanjutan kata-katanya si surai orange melempar majalah yang ada di atas meja ke arah Dazai, wajahnya memerah lantaran marah atau apa?
"Bangsat, diam kau!" ucapnya ketus.
Sementara si surai coklat terkekeh pelan dan duduk di sampingnya langsung saja memeluknya, seketika yang di peluk berkata sambil berteriak, "ASTAGA KAU BAU SEKALI, PERGI SANA!"
"eh? Wajar dong Chuuya, aku baru saja membersikan gudang dengan tumpukan mayat di dalamnya" ucap Dazai dengan senyum kekanakannya.
"Bukan urusanku pergi sana!" Chuuya masih berusaha menjauhkan gumpalan rambut itu dari pundaknya.
"Eh? Setidaknya sapa dulu kek sua-"
"MANDI SANA!" teriaknya tak senang.
"Eh? Belum siap ngomong jangan di cerocosin napa~" nada suaranya manja.
"MANDI KAU BERENGSEKK" sekarang urat nadi sudah bukan lagi perempatan di kening Chuuya.
"Mandii…, Mandii aku Chuuya!" Dazai masih mayun.
"BANGSAT DAZAII!" satu tunjangan hampir mengenai kepalanya namun si Dazai langsung menghindar dan lari entah kemana, yang pastinya ke kamar mandi.
"Eh? Chuuya harus ikutan mandi dong, karna kamu sudah ku peluk kan baunya menempel" ada seringai nakalnya yang Dazai tau Chuuya langsung memerah karna marah atau malu lalu berteriak geram, dan Dazai benar-benar sudah menghilang entah di mana.
Chuuya mengendus tubuhnya, sialan Dazai, kenapa Modus dan Alibinya sangat kuat?
.
.
.
.
.
Beberapa minggu yang lalu tepat di apartemen Dazai sebagai anggota eksekutif Port Mafia di ruangan membacanya, dia menunduk membuka sebuah kotak merah dan menggenggam lembut tangan Chuuya, malam dengan bulan penuh di jam 12 malam Dazai Osamu memberikan dirinya sepenuhnya untuk Nakahara Chuuya. Pipi merona di lontarkan si surai orange tangannya bergetar saat mendengar suara Dazai saat itu, parau menggema, dalam dan sedikit erotis? Tunggu aksen Dazai memang begitu, apalagi jika sudah bersama Chuuya, namun dia mengangguk pelan dengan wajah tsun imutnya dan dia terlihat sangat manis saat itu juga. Ke esokan harinya mereka menikah secara diam-diam dengan saksi mereka hanyalah Bos mereka sendiri, Mori Ougai, juga sebagai pendeta kala itu yang meresmikan mereka di hadapan Tuhan.
Dan semua itu juga termaksud rahasia hitam dari Port Mafia, apalagi mereka yang di sebut dengan Double Black tanpa di sangka-sangka sudah memiliki hubungan lebih dari teman ataupun rekan, itu rahasia dan tak ada yang mengetahuinya.
"Nee Chuuya…" Panggil Dazai yang sedang berpangku pada Chuuya, pahanya menjadi bantal untuk tiduran sementara Chuuya memainkan rambut sang Suami dengan lembutnya sambil bermain Handphone.
"Hmm? Apa?"
"Sepi, ya…"
"Maksudmu?"
"Aku kesepian"
"Kan ada aku" ada tatapan heran dia menatap Dazai.
"Aku tau masih ada yang kurang"
Butuh sekitar 1 menit untuk Chuuya agar tersadar dengan ucapan Dazai, yahh apa boleh buat, tidak seperti Dazai yang memiliki otak yang cerdas namun dengan kebodohan di dalamnya, Chuuya tidak termaksud orang yang pintar sama sekali di tambah lagi dia juga emosional.
"HAH!?" suara teriakkan sangat hebat terlontar begitu saja di tambah pipi memerah padam.
"Lemot amat kam-"
DUAKK! Satu pukulan tepat di kepala Dazai dan seketika dia mengaduh, dan Chuuya dengan emosinya berkata, "Jangan bodoh ya, kalau mau punya anak lakukan itu dengan wanita bukan dengan pria" dan di tariknya kakinya membuat kepala Dazai terbanting di atas kasur.
"Tapi kamu kan Istri aku" Dazai bangkit terduduk mengusap belakang kepalanya di sertai bibir mayun tak senang.
"Bangsat Dazai, aku ini laki-laki mana bisa memberimu anak otak dungu!" Chuuya bersiap-siap untuk melayangkan pukulan namun tidak di lakukannya.
"Ihh, jangan malu-malu Chuuya, aku punya terobosan malam ini" senyuman iblis penggoda di lontarkan begitu saja yang membuat pria Nakahara menatapnya jijik.
"Persetan dengan terobosanmu aku mau tidur!" dan Chuuya langsung membenamkan dirinya ke dalam selimut rapat-rapat.
"Chuuya~" suaranya merengek.
"Tidak untuk malam ini, aku kelelahan idiot, carilah wanita di bar sana, selamat bersenang-senang" ucap Chuuya yang tubuhnya sekarang berbalut di selimut tebal.
"Nanti kamu cemburu aku bawa perempuan di apartemenmu…"
"Pergi ke apartemenmu bukan ke tempatku, lagi pula takan ada wanita yang mau dengan orang gila sepertimu, di tambah kalau kau terus-terusan ke mari kita bisa ketahuan bodoh, sana pulang!" ucap Chuuya ketus yang masih sama berada di dalam selimutnya. Dazai menatapnya dengan guratan bosan.
"Chuuya Tsundere sekali" komentarnya begitu saja.
"Matamu Tsundere, pulang sana!" dan Chuuya hanya membalas begitu saja.
"Chuuya jahat sekali" Dazai duduk di sampingnya sementara Chuuya masih membenamkan diri di dalam selimutnya, tidak menjawab sama sekali.
"Chuuya…"
Tidak ada jawaban.
"Chuuya~"
Masih sama tidak ada jawaban.
"Kau membenciku, ya? Baiklah!" Dazai bangkit dari tempat tidur berukuran besar itu.
Mengambil jas miliknya yang tergantung rapi dan memakainya, matanya melirik ke arah Chuuya yang masih setia menetap di dalam selimutnya. Saat Dazai membuka pintu dia berkata, "Mungkin kau benar aku harus mencari wanita siapa tau kita ketahuan, ya? Tapi karna aku akan menikah dengan wanita jelas-jelas itu tuduhan ampas, selamat malam…" ucap Dazai santai.
BLAM! Suara pintupun tertutup, dan di ikuti langkah kaki menjauh. Perlahan Chuuya menyingkirkan selimut putih tebal itu dari dirinya lalu berhumpat, "Persetan kau, Dazai" gumam Chuuya yang langsung terlelap di beberapa menit kemudian.
.
.
.
.
.
Matahari menyapa lembut kota Yokohama di jam 6 pagi, tubuh mungil itu masih berbaring di ranjang dan perlahan kepala dengan surai orange yang indah memejapkan matanya dan terduduk di ranjangnya, mengumpulkan kesadaran sejenak dan menoleh kesana kemari mencari sosok menyebalkan yang membuatnya nyaman. Hanya satu, dan kau tau.
"Dazai?" pekiknya sadar tak sadar.
Pagi yang biasanya selalu di ributkan akan Dazai yang merengek atau menggodanya, tapi tidak pagi ini, tidak ada Dazai sama sekali. Chuuya memijitkan kepalanya dan mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Padahal malam tadi dia tidak mabuk sama sekali.
"Mungkin kau benar aku harus mencari wanita siapa tau kita ketahuan, tapi karna aku akan menikah dengan wanita, jelas-jelas itu tuduhan ampas, selamat malam"
"Dazai?" pekik Chuuya dan tersadar. Dia diam sejenak, mencoba berpikir.
"Dasar maniak bodoh sialan, tidak tau diri" umpatnya dalam hati setelah benar-benar sadar dari mimpinya di tidurnya.
Membayangkan Dazai dengan wanita cantik serta merangkulnya? Benar benar mimpi buruk. Sayangnya si hazel lautan ini orang yang tidak pernah jujur akan perasaannya sendiri.
"Tidak, aku tidak mau…" ucapnya yang mengacak rambutnya sampai berantakan.
.
.
.
.
.
Jalanan kota Yokohama di pagi hari sudah ramai dengan para pekerja kantoran ataupun pelajar yang mondar-mandir ke sana dan kemari, masih dengan penampilannya yang sedikit berantakan dia menghentakkan kakinya ke atas trotoar melihat jalanan dan beberapa toko di pinggiran jalan, lalu maniknya menangkap salah satu toko yang membuatnya sedikit bersemangat. Memandang toko roti yang melontarkan bau harum manis dari tokonya. Menyimpulkan senyum, pria ini melangkah masuk dan membeli beberapa roti untuk sarapan, yang pastinya sangat di sukai pasangannya, juga sebagai tanda minta maaf untuk yang tadi malam. Tentu saja Dazai yang salah, seharusnya dia tau kalau Chuuya itu bukan tipe yang suka di paksa.
Dengan hati yang berbunga, dia bisa membayangkan wajah Chuuya memerah antara marah dan malu saat menerima sarapan darinya.
Setelah keluar dari toko roti tersebut dia melewati taman bermain anak-anak memang rute menuju apartemen Chuuya dia sedikit terdiam di tempatnya dan tatapannya tertuju pada anak kecil yang duduk termurung di ayunan yang hampa, menangis terisak.
Entah apa yang merasuki pria bernama Osamu ini, dia mendekat dan bertanya, "Hei, ada apa? kamu kenapa?
Anak itu sedikit terkejut mendengar suara menyapanya.
"Di mana ibumu, nak?" tanya Dazai dengan senyuman ringan.
Perlahan anak itu mengangkat kepalanya, matanya berwarna kuning keunguan di tempa cahaya mentari pagi dan ada sedikit lebaman di pipi anak tersebut. Dazai memijitkan matanya dan menunduk memposisikan tinggi badannya sesuai dengan anak tersebut.
"Ada apa? Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu, aku orang baik-baik lhoo taar hukum pula…" di usapnya surai abu-abu cerah milik anak tersebut dengan lembutnya sambil bercanda ringan.
"A-a…, aku lapar..." ucapnya dengan nada lirih dan memegang perutnya yang sudah berbunyi, dia menahan perutnya dnegan lengannya agar tetap kuat.
Dazai mengeluarkan ekspresi kaget, lalu di detik berikutnya dia edikit terkekeh dan di bukanya bungkusan dari toko roti yang di hampirinya tadi dan memberikan sepotong roti.
"Makanlah"
"Ti-tidak bisa, i-ini sarapannya kakak, kan?" sang anak itu berusaha menjaga sopan santunnya, namun perutnya tidak.
"Tidak apa, nanti Istriku pastinya akan membuatkan masakan lebih enak dari roti ini" tawar Dazai semakin dekat.
Perlahan anak itu meraih roti tersebut dengan tangan mungil miliknya, Dazai memandang tangan anak tersebut yang kotor penuh debu, di masukkannya roti tersebut dan mengambil saputangan di saku jasnya, matanya sedikit kaget dengan bercak darah di sana, ah dia lupa mencucinya dan mengganti yang baru, dan untungnya anak tersebut tidak melihatnya. Dia memeriksa jas miliknya kembali dan mendapati saputangan yang bersih di usapnya tangan anak kecil tersebut dengan halus.
"Maaf, ya"
"Eh?"
"Dilarang makan dengan tangan kotor"
"Ti-tidak apa, kak" anak tersebut semakin malu, Dazai memperhatikan saja.
"Tidak boleh, nah. Ambillah yang kamu suka" Dazai meraih kantong rotinya dan menunjukkan beberapa pilihan di sana, tangan kecil menyusup ke dalam kantong tersebut dan meraih roti dengan selai coklat di dalamnya. Dazai tersenyum memandang anak tersebut dan dia duduk di ayunan di sebelah anak kecil tersebut yang tengah melahap roti coklatnya.
"Ah, m-maaf, kalau istrinya kakak akan membuatkan sarapan kenapa kakak harus membeli roti?"
Pertanyaan itu membuat Dazai mengeluarkan tawa kecil dan menjawab, "Dia marah padaku tadi malam, ini tanda minta maaf dariku untuknya, sih" di ikuti tangan Dazai yang menggaruk belakang kepalanya padahal tak gatal.
"Berarti aku me-memakan sesutau yang berharga dong" anak tersebut nampak panik saat itu juga.
"Tidak tidak tidak, tidak apa, aku bisa beli lagi kok" Dazai mengibas-ngibaskan tangannya dan tersenyum paksa melihat reaksi sang anak.
"Tadi malam kami sedikit berkelahi karna aku ingin punya teman bermain" ucap Dazai sambil menggaruk belakang tangannya.
"Teman…, bermain?"
"Hahahaha tidak usah kau pikirkan, anu namamu siapa, nak?" tanya Dazai.
"U..umm, Nakajima.., Atsushi" ucap anak dengan nama depan Atsushi itu.
"Atsushi-kun, kenapa kau sendiri di taman ini? Mana ibumu?"
"Aku tidak punya ibu…."
Sontak jawaban itu membuat Dazai sedikit terdiam, tapi dia kembali bertanya, "Lalu, kenapa kamu bisa sampai di sini?"
"Aku kabur dari panti asuhan" jawab Atsushi, sepertinya dia jujur, pekik Dazai amun matanya masih heran.
"Kabur?" tanya Dazai memastikan.
"I…, iya"
Dazai sudah tau seperti apa kelanjutannya, anak ini kabur lantaran kekerasan pastinya. Melihat wajahnya yang sedikit lebam dan tubuhnya yang kurus, umurnya sekitar 5 tahun dan masih terlalu dini mendapat kekerasan, lagipula mendidik anak dengan kekerasan itu tidak ada dampak baiknya baik mental atau fisik sekalipun. Dazai memandang Atsushi yang tengah makan sambil dengan menopang dagunya, lalu dia berkata, "Atsushi-kun, kau mau tinggal bersamaku?"
Atsushi menoleh kaget dan terheran dengan ucapan Dazai "Serius,kak?" tanyanya spontan, Dazai juga ikut kaget dengan senyumannya.
"Iya, kau mau?"
Dengan mata berbinar dia berkata 'iya' dengan senangnya dan mengangguk, Dazai berdengus kecil yang bibirnya setia dengan senyuman dan meraih tangan Atsushi,
"Ayo, Atsushi-kun. Selamat datang di kehidupanku-" lontarnya dengan senyuman manis kepada Atsushi yang di genggamnya, yang Atsushi juga sama tersenyum manis.
Menoleh lurus ke depan dan bergumam "Yang kelam." Dan senyuman itu pun luntur.
.
.
.
.
.
Dazai mengetuk pintu dan masuk ke dalam apartemen milik Chuuya dan menyuruh Atsushi untuk menunggu sejenak, mencari sosok Chuuya dan mendapatinya tengah menyeruput kopi di sofa sambil memainkan handphonenya, Dazai mengecup pelan puncak kepala Chuuya dari belakang dan berkata, "Selamat pagi"
Chuuya menoleh ke tempat suara itu berada, dan berdiri memandang Dazai, "Dazai" panggilnya.
"Hm?"
"K-kau tidak pergi dengan wanita kan tadi malam?"
Dazai tertawa pelan dan berkata, "Kau cemburu? Ya..mana tau kau menungguku untuk melihat calon istriku nanti, kan?"
Chuuya melipat kedua lengannya di depan dada dan berkata, "Iya"
Dazai sedikit kaget "Ah, jangan marah-marah gitu dong, Chuuya"
"Aku gak marah kok" Chuuya membuang wajahnya dan menghentakkan kakinya. Membuat Dazai sedikit tertawa dengan sifatnya itu.
"Tidaklah, mana mungkin aku melakukannya" Dazai jalan memutari sofa dan berdiri tepat di hadapan Chuuya menunduk dan mengecup bibirnya.
"Kau adalah istriku, dan selamanya akan begitu" ucap Dazai dengan nada suara rendahnya, meyakinkan.
Bola mata Chuuya berputar sejenak, mencari kata-kata, "Walaupun aku tidak bisa memberimu anak?" Chuuya menunduk dan meraih pundak Dazai.
"Yang itu tidak usah kau pikirkan"
"Hm? Kenapa?"
"Atsushi-kun, kemarilah..!" Dazai berteriak, dan siluet anak kecil dengan pipi bulatnya serta tangannya membawa tas lusuh miliknya, Chuuya memandang heran Atsushi lalu Dazai.
Dazai menarik pinggul Chuuya mendekat padanya dan berkata "Atsushi-kun perkenalkan, ini Chuuya, istriku"
Chuuya terkaget, "Apa maksudnya Dazai?" Chuuya menepis tangan Dazai dari pinggulnya.
"Atsushi akan tinggal bersama kita" ucap Dazai tanpa dosa.
Chuuya menatap Dazai dengan mata yang tajam, di raihnya tangan milik Dazai dan membawanya dari jangkauan pendengaran Atsushi.
"Kau gila!? Kita adalah anggota Eksekutif Port Mafia, Mafia, Dazai. Kau tau apa itu Mafia, perlu ku jelaskan? Darah, peluru, kekuatan, kelicikan, pengkhianatan, dosa dan-"
"Aku tau" ucap Dazai masih dengan suara tenangnya memotong kata-kata Chuuya.
"Kalau begitu ke-"
"Aku ingin menambah kehidupanku menjadi sedikit berwarna ,salah ya Chuuya?" di tatapnya Chuuya dengan lekat dan sedikit tersenyum.
"Kau tidak puas denganku?" tanya Chuuya, tatapannya datar.
"Aku tidak bilang begitu"
"Lalu kenapa kau sangat-"
"Chuuya" Mata Dazai lebih kejam dan tajam saat ini juga, membuat Chuuya sedikit tersentak, dan Dazai kembali tersenyum ringan, "Aku ingin memiliki keluarga"
Chuuya terdiam sesaat lalu menghela nafas dan berkata, "Lakukanlah sesukamu"
"Benarkahh?"
"Humm, terserahmu, tapi kau yang mengurusnya"
"Hah? Kita urus sama-sama dong! Chuuya kok begitu sihh, Atsushi-kun perlu seorang ibu"
"Bodoh amat!" balas Chuuya ketus.
"Ih,Chuuya kok Tsundere sihh" tanya Dazai dengan sweetdropnya.
"Aku gak tsundere bego!"
"Lha? Terus?"
Chuuya melipat kedua lengannya di depan dadanya, pipinya memerah "A-a-a…, aku inginnya anak perempuan!" ucapnya dengan bibir yang sedikit di mancungkan.
Suasana hening sejenak, lalu Dazai tertawa yang sontak membuat Chuuya langsung meraih kerah bajunya dan berkata, "JANGAN KETAWA SIALAN!"
"Aku gak ketawa kok aku senang lho" jawab Dazai sambil mengangkat kedua lengannya tanda menyerah.
"Hah?"
"Chuuya terlihat sangat manis saat mengatakannya tadi" lalu senyuman menggoda di lontarkan pada Chuuya.
Sontak pipi Chuuya memanas dan di lepasnya tangannya dari kerah baju Dazai seraya berkata "Sialan kau!" menghentakkan kakinya dan pergi ke arah ruang tamu.
Atsushi tengah duduk di sofa sambil mengayunkan kedua kakinya, di tatapnya Chuuya dengan sedikit kaget dan menunduk. Chuuya menghela nafas dan menghampiri Atsushi dia menunduk menyamai tingginya dengan anak kecil itu.
"Halo, perkenalkan,ya namaku Chuuya, panggil saja Chuuya, ya. Atau apapun, yang Dazai katakan" ucap Chuuya yang tak mau mengakui posisinya sekarang, seorang Ibu.
"U…umm, namaku Atsushi, Nakajima Atsushi" pipi Atsushi sedikit memerah dan dia menunduk. Chuuya sedikit tertawa dan mengusap puncak kepala anak kecil tersebut.
"Jangan takut, tadi aku sedikit emosi dengan Dazai, dia memang selalu membuatku emosi. Maaf kalau itu menakutimu,ya…"
"M-maaf" ucap Atsushi yang masih malu-malu.
"Tak usah segan, santai saja. Dimana Dazai bertemu denganmu?" tanya Chuuya. Dan dia memang selalu santai.
"Di taman tadi" jawab Atsushi semangat.
"Hee?" Chuuya berpikir, memangnya kau anak-anak main di taman Osamu? Pekik Chuuya.
"Dazai-san memberikan rotinya padaku, m-maaf…, seharusnya roti itu untuk Chuuya-san" dan Atsushi kembali menunduk.
"Ahaha…, tak apa, tak apa…" Chuuya berpikir sejenak, oh sogokan rupanya untukku,ya? Sialan kau Dazai, jangan sogok aku. Pekiknya kembali dalam hatinya dengan dechan kesal. Tentunya dia menghubungkan itu dengan kejadian tadi malam.
"Lalu Atsushi, kamu dari mana? Kota mana?"
"Eh? Tidak terlalu paham, Atsushi hanya berputar-putar saat berhasil kabur dari panti asuhan"
"Panti asuhan?" tanya Chuuya heran.
Pandangannya teralih ke pipi Atsushi yang merah dan sedikit lebam, lalu dia bertanya dengan berat hati, "Atsushi, siapa yang melakukan ini padamu?"
Atsushi sedikit kaget dan menunduk, Chuuya pun mengeluarkan ekspresi yang sama dan membuang wajahnya seraya bergumam, "Anak ini pasti kabur karna kekerasan, ah sialan"
"Nahh, karna kalian sudah berkenalan Atsushi-kun harus ganti baju dan tidur, ya…, kamar tidur ada di sana, aku sudah merapikannya, kami akan pulang jam 7 malam. Ah kalau mau makan siang, ada sedikit makanan di kulkas, Atsushi-kun bisa memanasinya di kompor langsung" suara Dazai sedikit mengejutkan Chuuya dengan pemikirannya. Dazai datang membawa pakaian milik Chuuya saat umurnya masih 5 tahun, kemeja putih polos dan celana berwarna hitam yang panjangnya selutut.
"Nih Chuuya, pakaikan" ucap Dazai menyerahkan baju tersebut ke Chuuya, Chuuya malah berdecih kesal dan berkata, "Kenapa tidak kau saja yang pakaikan?"
"Ekh, tapi sudah tugas seorang ibu memakaikan baju pada anaknya, kan?"
"Atsushi bisa pakai sendiri" Atsushi menyahut di antara perdebatan mereka berdua yang membuat Dazai dan Chuuya harus belajar agar tidak melibatkan ego mereka dalam mengurus anak, mengurus anak kecil itu repot juga, pikir mereka dalam hati.
"Dazai-san dan Chuuya-san pergi bekerja saja, kalau soal makanan dan lainnya Atsushi akan mengaturnya" ucap Atsushi yang meraih pakaian tersebut.
"Bagus, bagus. Ah, maaf ini mendadak soalnya, dan lagi jangan buka kamar nomor 1, ya" ucap Dazai, kamarnya dan Chuuya.
"Ah…, baik" ucap Atsushi agak heran, ingin bertanya namun dia harus menjaga sopannya karna sudah di izinkan tinggal.
"Anu, Dazai-san dan Chuuya-san, pekerjaannya apa?"
Dazai dan Chuuya sedekit tersontak saat mendengar perntanyaan Atsushi, mereka harus menghadapi 2 kenyataan di sini. Yang pertama tentang hubungan mereka yang sangat rahasia yang kalian tau di dalam Maifa hubungan seperti ini tidak boleh sama sekali dan kedua tentang Atsushi yang tidak mengerti apapun soal Mafia serta kehidupan suram lainnya. Dazai berdehem agak keras memecahkan suasana yang kala itu sunyi karna lontaran Atsushi dan berkata,
"Kalau begitu Atsushi-kun, ayah dan mamamu pergi bekerja ,ya" ucap Dazai yang memakaikan topi milik Chuuya di kepala sang pemilik. Dia berusaha mengalihka pembicaraan.
"Oi Dazai!" ucap Chuuya tak senang.
"Ah, baik" ucap Atsushi yang Dazai berhasilmengalihkannya.
Dua anggota Eksekutif ini melangkah menuju pintu apartemen, Chuuya meraih mantel hitam miliknya memakainya menggantung di tubuhnya dan Dazai membukakan pintu, Atsushi mengikuti tak jauh dari mereka.
"Nehh Atsushi, jangan panggil kami dengan nama kami, tapi panggil aku dengan sebutan Ayah dan Chuuya dengan sebutan Ibu" ucap Dazai yang melirik Chuuya, yang di lirik membalas tak senang namun biarlah, dia juga harus menjaga emosinya di depan Atsushi.
"Baik!" ucap Atsushi masih dengan senyum meriahya.
"Oi Dazai, cepat" ucap Chuuya yang sudah berlalu.
Saat Dazai hampir menutup pintu Atsushi pun berkata, "Itterasshai, Ayah, Ibu…" dengan tatapan yang mengharapkan mereka pulang dengan senyuman.
Dazai tersenyum kecil dan menutup pintu dan langsung menguncinya dari luar, tentu saja. Mana mau mereka kehidupan pribadi mereka di ketahui bergitu saja, terutama Atsushi yang tak boleh ada yang mengetahuinya.
"Oi Dazai" Chuuya memanggilnya, mereka berdiri bersebelahan.
"Hm?" tanya Dazai.
"Kenapa tidak menjawab tadi?" Chuuya menatapnya heran seraya membetulakan sarung tangannya.
Dazai tertawa kecil dan berjalan di ikuti Chuuya di belakangnya dan berkata, "Aku tidak yakin bisa pulang tanpa luka" ucapnya dengan senyuman dan hari pun dimulai kembali.
"Dasar mengerikan!" ketus Chuuya dengan sedikit senyum.
Mereka berjalan bersebelahan, bersama, yang kemungkinan juga tidak bisa bersama. Siapa yang tau?
.
Kisahnya baru saja di mulai…
.
.
.
.
.
To be countinued
.
.
.
.
.
Omake
Haiii satsuki grey in here!
Lagi-lagi membuat Soukoku ya saya ( T ~ T ) entah mengapa saya suka dengan OTP yang satu ini mereka unik sekali dan terlihat menggemaskan bagi saya, ah katanya spolier yang bertebaran bsd movienya dimana sampulnya bergambar Chuuya dan Dazai menghadap mentari, eh ehe heh apa jangan jangan itu flashback tapi untuk soukoku ya?
HOHOHOHOHOHO gak papa kok animatornya tolong jangan di setop soukoku its life :v wwwwwwwwwwwww
Saya kok bahas spolier sudahlah di tunggu saja toh kita cuma bisa donlod darifansub wwwww
Terimakasih karena meluangkan waktu membaca karya milik saya ehehehe ini ngebut buatnya dan setiap tengah malam uehehehehe saya kurang berpengalaman membuat fic komedi, eh sebenarnya ini mau di buat komedi tapi malah jatuh ke drama hadoehhhh susah juga ya menulis ff, maafkan OOCNYA YOOO keknya saya nulis ini seenak jenong wkwkwkwk
Maaf karna debut untuk soukoku yang awalnya sangat ekstream wwwwwwww :'V
Mohon tunggu untuk update chapter berikutnya yaaa!
salam
satsuki grey
.
.
(Telah di ubah dari naskah aslinya karna mengandung banyak typo, mengubah sedikit demi pencocokan plot, jika ada kata yang kurang atau tertinggal atau apapun, mohon bantuannya lewat review, mohon b-a-n-t-u-a-n-n-y-a!)
(The bmg was = "amazarashi - あとがき" (atogaki) )
