Surga adalah perusahaan dan malaikat adalah pegawainya. Namaku adalah Uzumaki Naruto, aku seorang malaikat pengantar roh.
.
The Fallen angel
.
.
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Voice of song © Takamiya Satoru
A bit secret Black vownya kagamine Rind an Len
.
Warning:
Naruto POV, OOC, typo (?), GaJe, abal, dll
Cuma Dua Chapter!
.
Rated : T
.
Happy reading….
Sayap putihku mengepak pelan ketika aku sudah sampai ditempat tujuan kami dan sayapku berhenti mengepak ketika kakiku menyentuh tanah. Aku terdiam di tengah-tengah manusia yang tidak peduli akan keberadaanku. Bukannya tidak peduli, tapi tidak ada seorang pun yang melihatku, karena aku adalah seorang malaikat.
Kulirik jam saku yang ada di tanganku. Tiga menit lagi akan ada kecelakaan di sini dan aku akan menjemput seseorang yang menjadi korban tabrak lari tersebut.
BRUAK! CKIT! KYAA!
Suara-suara itu membuatku langsung bertindak. Aku bergegas melayang ke tempat kerumunan orang-orang dan berjalan menembus mereka untuk menyelesaikan pekerjaanku namun setibanya aku di depan 'klien'ku, aku terpaku di tempat. Bola mata biru sapphireku seakan ingin melompat keluar ketika aku melihat siapa orang yang tergeletak di depanku dengan darah yang bercucuran dari kening dan belakang kepalanya.
Wajah itu…
Mata yang setengah menutup itu,
Dan rambut khas itu…
"Teme~"
.
.
"Apa yang kau lakukan bodoh!" teriakan dari dalam laptop milikku tak membuatku kaget atau takut sama sekali. Di layar ada wajah Tsunade-baachan, bosku yang tengah menatapku garang. Aku terdiam. "Pergi meninggalkan orang yang seharusnya kau antar itu merupakan kesalahan terberatmu selama ini, bodoh!" maki Tsunade lagi. aku tak berucap. Pikiranku masih berada di saat beberapa menit yang lalu, saat aku melihat orang yang harus kuantar dan tanpa kukehendaki, tubuhku berlari menjauhi Sasuke, nama pemuda yang harus kuantar itu.
"Maaf," ucapku pelan membuat Tsunade-baachan menghela nafas.
"Ini pertama kalinya kau bersikap seperti ini, Naruto. Sebagai malaikat pengantar roh level A, hal ini tidak bisa dimaafkan, kau tahu itu kan?"
Aku tidak menjawab. Malaikat-malaikat pengantar roh juga di bagi dalam beberapa tingkat level. Aku termasuk level A, level kedua tertinggi setelah level S. benar, hal ini tidak bisa dimaafkan. Malaikat pengantar roh bertugas mengantarkan roh orang yang mati ke surga. Jika roh orang itu tidak diantar maka roh itu akan tersesat, dia tidak akan pernah bisa sampai ke surga.
Mengingat kenyataan itu membuat tubuhku gemetar. Bagaimana ini? Aku tidak mengantarkan roh Sasuke. Apa… apa roh Sasuke akan sampai ke surga? Tentu saja tidak akan bisa! Roh Sasuke pasti akan terombang-ambing di antara dunia dan surga.
"Ba-bagaimana ini baachan?" tanyaku. Air mataku sudah sedikit mengalir. Aku mengepalkan kedua tanganku, merutuki kesalahan yang kubuat. Aku… aku….
"Tenanglah!" ucap Tsunade-baachan membuatku mendongak menatapnya. Dia menatapku kemudian mendengus.
"Aku sudah melakukan sesuatu sehingga roh Sasuke masih ada di jasadnya. Aku mengundur waktu kedatangannya ke surga," ucapnya membuat senyumku terkembang. Aku bersyukur sekali. Syukurlah…
"Dengar Naruto, Mengantarkannya adalah tugasmu," ucap Baachan padaku, mendengar itu senyumku langsung memudar. Kelegaan yang tadi menghampiriku menguap entah kemana.
"Aku mengerti," ucapku pelan.
"Kau hanya punya waktu tiga hari, aku hanya bisa mengulur waktu kematiannya hanya tiga hari. Jadi tiga hari dari sekarang, kau harus bisa mengantarkan rohnya, kalau tidak, kau akan tahu kan apa yang terjadi kepadanya?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Tenang saja baachan, kali ini aku tidak akan gagal!" ucapku yakin. Tsunade-baachan menatapku sebentar kemudian menghela nafas lega.
"Bagus! Satu lagi, Naruto, pastikan di tempat kejadian perkara, kau tidak menangis!" ucapnya sebelum memutuskan kontak denganku.
.
.
Sebagai malaikat pengantar roh, kami memang tinggal membaur bersama manusia. Untuk mengelabui bahwa kami adalah malaikat, kami pun bersekolah atau bekerja. Entah apa alasannya kami disuruh berbaur dengan manusia, yang jelas aku menikmatinya.
Dan Uchiha Sasuke adalah teman sekelasku. Orang yang merupakan musuh bebuyutanku juga orang yang aku sukai.
Ya… aku menyukainya. Makanya aku syok berat ketika mengetahui bahwa dia adalah roh yang harus kuantar. Aku bingung apa yang harus kulakukan?
PLOK!
Sesuatu memukul kepalaku dengan pelan. Aku mendongak, mendapati wajah Sasuke yang berbalut perban.
"Kau kenapa dobe?" tanyanya.
"Memang aku kenapa?" tanyaku balik, dia hanya mengangkat bahu kemudian melangkah ke tempat duduknya, tepat di depanku.
"Biasanya kau ceria sekali seperti orang bodoh!" ucapnya pedas, membuat empat buah siku muncul di dahiku.
"Meski kemarin kau tertimpa kecelakaan, kau masih bisa berkata sinis seperti itu, ya?" tanyaku kesal membuat matanya memicing. Aku menatap heran.
"Aku memang kecelakaan, tapi kau tahu dari mana, dobe?"
Deg!
"Eh? Itu… dilihat dari lukamu saja aku tahu," ucapku gugup. Sasuke hanya ber"Hn" saja kemudian kami saling diam. Sasuke sih biasanya diam, kalau aku diam karena kepalaku penuh dengannya. Tinggal dua hari lagi aku bisa melihat Sasuke. Hanya tinggal dua hari lagi, aku bisa melihat rambut pantat ayamnya, mendengar suaranya yang sinis, perilakunya yang dingin.
Aku … apa yang harus kulakukan? Dadaku sesak sekali mengingat waktuku bersamanya hanya tinggal dua hari lagi. Hanya dua hari….
.
.
Lonceng pelajaran terakhir berbunyi. Aku menghela nafas berat. Dengan ogah-ogahan aku memasukkan buku-bukuku kemudian aku menyampirkan tasku, bersiap untuk pergi sebelum sebelah tanganku dipegang olehnya, oleh Sasuke.
"Ikut!" perintahnya sembari menarikku.
"Eh kemana? Teme… teme~"
.
.
Dan disinilah aku, taman bermain.
Aku mengerutkan kening, bingung. Sementara disebelahku, Sasuke berkacak pinggang, sepertinya puas karena membuatku bingung.
"Kita bermain," ucapnya kemudian kembali menarikku.
"Teme~ tunggu!" aku hendak protes tapi tidak bisa ketika aku dan dia sudah ada di bangku roller coaster.
"Teme, kau ini apa-apaan sih? Kenapa tiba-tiba…."
"Dobe, bersiaplah,"
"Hah?"
Sasuke tidak perlu menjawab keherananku ketika tiba-tiba saja aku bisa merasakan keretanya bergerak. Aku langsung tegang, apalagi ketika merasakan tubuhku yang langsung terdorong ke belakang karena kereta yang merangkak naik. Kemudian ketika kereta itu berhenti di rel paling tinggi dengan posisi menungkik, aku sudah merapal banyak doa keselamatan dan….
"KYAAAAAAA!"
.
.
"Ugh… UWEEEEEEKK!"
"Kau baik-baik saja, dobe?"
"Tentu saja tidak BODOH!" omelku sambil mengelap mulutku yang basah. Demi Tuhan kenapa manusia senang dengan permainan seperti itu? Roller coaster lebih buruk dari caraku mengendalikan sayapku dulu. "Sekarang jelaskan kepadaku, kenapa kau membawaku kemari!" tanyaku dengan nada setengah mengancam. Sasuke hanya menatapku datar kemudian beranjak pergi.
"Hei, kau mau kemana?" tanyaku kesal dan bingung dengan semua tingkahnya hari ini. Tapi aku tidak berniat mengejarnya berhubung tenagaku yang sudah habis karena kejadian tadi. Aku memilih menunggunya dengan duduk di bangku taman dekat roller coaster. Aku menengadah, memandang langit biru dengan awan yang berarak dengan riang.
Langit…
Kami mengirimkan roh orang yang sudah ditakdirkan meninggal ke langit, ke surga.
Tapi apakah surga benar-benar ada di langit?
Aku….
"Murung lagi?"pertanyaan itu membuatku berhenti memandang langit. aku menoleh ke samping. Sasuke berdiri di sana sembari menyodorkan sekaleng coke dingin. Aku menerimanya kemudian membukanya dan langsung menegak cokenya.
Rasanya segar sekali.
"Aku tidak murung, teme,"ucapku tidak semangat.
"Kau berbeda dari biasanya," ucapan itu membuatku kembali menatap wajahnya yang datar. Sasuke tengah menatap ke depan, menegak kaleng jus tomat. Dia memang suka jus tomat.
"Jangan-jangan kau khawatir kepadaku ya?" tanyaku setengah bercanda. Setengah lagi sih berharap. Sasuke tidak menjawab pertanyaanku, tapi sedikit aku melihat pipinya merona.
Hanya sedikit dan sepersekian detik saja sebelum ekspresinya kembali datar.
Membuatku langsung salah tingkah dan gugup. Pipiku terasa panas. Duh… jangan-jangan tebakanku benar ya?
"Ekhem," Sasuke berdehem, mencairkan suasana. Pemuda berambut pantat ayam itu berdiri, melempar kaleng minumannya tepat ke tempat sampah beberapa meter di sampingnya. Kemudian dia mengulurkan tangannya kepadaku. "Kita naik yang lain?" ajaknya membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Perlahan, aku menerima uluran tangan itu.
"Ayo," kataku kemudian aku menariknya ke wahana yang lain. "Teme~"
"Hn?"
"Arigatou"
"Hn"
Di taman bermain itu, dua hari sebelum aku menjalankan misiku, aku sudah menetapkan hati.
.
.
"Apa maksudmu dengan mendekati Uchiha, Naruto!" omel Tsunade-baachan kepadaku. Aku menutup telinga karena suaranya yang menggelegar itu.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, baachan! Aku dan teme kan memang dekat!" ucapku membela diri. Membuat Tsunade-baachan menghela nafas.
"Kau mengerti apa yang kau lakukan? Mendekati 'klien'mu, membentuk ikatan dengan mereka hanya akan memberatkanmu saat kau mengantarkan rohnya, bodoh!" ucapnya. Aku terdiam.
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa menjauhinya," ucapku. "Aku tidak akan gagal lagi, baachan," janjiku. "Dua hari lagi, aku akan menjemputnya, pasti!"
.
.
Besok, jam delapan malam, aku akan mengantarkan rohnya….
Kenapa waktu bergulir begitu cepat? Hanya tinggal 36 jam lagi dari sekarang, aku tidak akan melihat Sasuke lagi. Aku tidak akan bisa mendengar ucapannya yang sinis, aku tidak akan bisa melihat dirinya yang selalu tenang, cool dan sedikit angkuh itu.
Aku tidak akan mendengar dia memanggilku 'dobe' lagi.
Tapi jauh dari itu, Sasuke tidak akan bisa mencapai impiannya.
Sasuke pernah mengatakan kepadaku bahwa dia ingin menjadi seorang dokter. Kupikir jas putih cocok untuknya meski ekspresi datarnya membuatku tidak bisa membayangkan dia menjadi dokter.
Sebelumnya aku tidak pernah memikirkan ini tapi sekarang aku memikirkannya.
Orang yang kuantar rohnya, yang meninggal di usia yang muda, apakah orang itu tahu bahwa dia akan meninggal?
Apakah orang itu sudah mempersiapkan segalanya?
Apakah orang itu tidak akan menyesal karena dia meninggal begitu mendadak?
Bagaimana perasaannya ketika saat dia tertidur di kamarnya tetapi saat dia terbangun, dia sudah ada di surga?
Bagaimana dengan orang yang ditinggalkan oleh mereka yang kuantarkan rohnya?
Apakah ada sesuatu yang belum diselesaikannya?
Aku tidak tahu. Yang jelas pertanyaan itu bermunculan begitu saja ketika Sasuke ditetapkan sebagai 'klien'ku.
"Sasuke!" panggilku ketika aku melihatnya sudah duduk di bangkunya sembari membaca. Bahkan sebelum bel pelajaran berbunyi, dia sudah rajin membuka buku. "Hei Sasuke!" panggilku semangat, kemudian duduk di bangku Kiba, kebetulan kiba belum datang.
"Hn," hanya dua huruf itu saja yang dikeluarkannya untuk menjawab salamku. Aku mendengus. Dia memang selalu begitu. Dingin. Tapi entah kenapa sikap dinginnya itu menjadi charm pointnya.
"Ne Sasuke, apa yang paling kau inginkan sekarang?" tanyaku menatap wajahnya. Sekilas Sasuke memandangku kemudian kembali menekuni buku kedokterannya.
"Tidak ada."
"Bohong!"
"Aku tidak bohong!"
"Sasuke!" aku bersikeras. Masa sih tidak ada yang diinginkannya? Bohong! Pasti bohong deh!
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" tanyanya sembari menutup bukunya yang tebal itu, mata onyxnya menatapku. Biasanya jika dia menatap langsung mataku, aku akan grogi dan salah tingkah, tapi kali ini tidak.
Dari pada perasaan berdebar-debar seperti itu, rasa sakit dan sedihlah yang kurasakan ketika dia menatap mataku.
"Hanya ucapan terima kasih karena kemarin kau susah payah mengajakku ke taman bermain," kataku jujur sembari memperlihatkan cengiran khasku. Ucapan terima kasih sekaligus perpisahan.
Sekali saja aku ingin memberikan benda yang paling diinginkannya.
"Ya… aku sedang menginginkan sesuatu," katanya membuatku tertarik.
"Apa?"
"Ular."
"Eh?" aku tak percaya. Dia pasti sedang bercanda.
"Aku tidak bercanda!" katanya ketika melihat ekspresiku. "Aku sedang menginginkan ular untuk kujadikan peliharaanku, dobe!" katanya.
"Tidak ada benda yang lain?"
"Tidak ada."
"Benar?"
"Hn."
Aku terdiam dengan raut kecewa. Sasuke sudah kembali menekuri buku kedokterannya. Ular ya? Mana mungkin aku bisa memberikannya? Ular itu pasti mahal sekali. Kami sebagai malaikat pengantar roh memang di gaji, tapi sepertinya uang gajiku tidak sanggup untuk membelikannya ular.
"Kau menyebalkan Sasuke!" ucapku kesal.
"Terima kasih."
"Aku kan tidak memujimu, teme~" ucapku benar-benar kesal.
.
.
"Hari ini ya?"
"Iya."
"Kau tidak apa-apa, Naruto?"
"Hm…"
Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku tidak apa-apa bukan? Haruno Sakura, temanku memandangku iba. Gadis berambut pink ini juga malaikat pengantar roh. Dia tahu dilemma yang kualami.
"Aku bisa menggantikanmu," ucapnya menawarkan, aku menggeleng.
"Ibu dan ayahku bisa marah kalau aku menyerahkan tugasku kepada orang lain," kataku. "Lagipula, kupikir aku beruntung karena aku menjemput roh Sasuke."
"Naruto," sakura beranjak memelukku. Dia tahu perasaanku kepada Sasuke, dia sangat tahu akan perasaan cintaku kepadanya. Aku balas memeluknya. "Kau harus tegar. Jangan menangis saat bertugas nanti, kau mengerti kan?"
"Tenang saja Sakura, aku tidak akan menangis." Kataku. Aku ingat peraturan itu, malaikat pengantar roh tidak boleh menangis saat menjalankan tugasnya. Katanya air mata malaikat yang jatuh saat menjalankan tugasnya akan membuat kekacauan di dunia malaikat dan akan membuat malaikat itu kehilangan sayapnya. Kehilangan sayap sama saja dengan kehilangan nyawa.
Tinggal dua belas jam lagi….
.
.
Enam jam lagi….
"Sasuke!" aku menahannya ketika dia hendak keluar dari kelas. "Kali ini saja, kita pulang bareng yuk!" ajakku. Meski bingung, Sasuke mengangguk, aku tersenyum senang.
"Kalau begitu, ayo!" ajakku kemudian menarik tangannya.
.
.
"Terima kasih sudah mengantarku!" kataku riang.
"Kau yang memaksaku mengantarkanmu," ucapnya datar membuatku tertawa. Ya, memang benar sih, aku memaksanya mengantarkanku ke rumah. Sepanjang perjalanan aku berceloteh macam-macam. Sasuke hanya mendengarkanku, sesekali menanggapi dengan "Hn" saja, tapi aku tidak peduli tanggapannya apa. Asalkan aku bisa bersamanya di saat-saat terakhir.
"Aku pergi dulu." Pamitnya membuatku mencegahnya.
"Ini," ucapku sembari memberikan sebuah kotak berukuran 15 x 10 cm. "Itu gambar-gambar ular dari seluruh dunia!" kataku menjawab pertanyaan yang tidak dilontarkannya. Dia mengangkat alisnya. Aku garuk-garuk pipi.
"Kau ingin ular kan? Tapi aku tidak mungkin menghadiahimu ular sungguhan. Ular kan binatang satwa yang tidak diperjualbelikan. Kalaupun dijual harganya pasti selangit. Jadi aku memberimu gambarnya saja." Kataku.
Hening.
Ukh… aku benci suasana seperti ini. Jadi lebih baik aku masuk saja ke rumah.
"Ya sudah. Terima kasih sudah mengantarkanku! Sana pulang!"
Bagus! Saking groginya, aku malah mengusirnya. Ketika aku berbalik hendak membuka pintu pagar.
"Naruto,"
Deg! Ini pertama kalinya dia memanggil namaku.
Pertama sekaligus terakhir kalinya. Aku berbalik menghadapnya. Menata perasaanku yang tidak karuan. Perasaan yang berat, sedih dan entahlah. Aku tidak tahu pasti perasaan-perasaan yang ada di hatiku sekarang ini.
"Aku juga," katanya sembari mendekatkan dirinya kepadaku. "Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu."
"Oh ya? Apa?" tanyaku penasaran.
"Tutup matamu!" perintahnya. Penasaran, aku menutup mataku dengan hati berdebar. Beberapa detik kemudian kurasakan Sasuke menyentuh rambutku kemudian leherku. "Bukalah."
Perlahan aku membuka mata. Kudapati suatu benda asing di leherku. Sebuah kalung.
Sebuah kalung dengan tali hitam dan batu sapphire biru yang menjadi gantungannya. Aku menatapnya takjub.
"Kakakku bilang, perempuan yang menanyakan hadiah yang kuinginkan, sebenarnya menginginkan hadiah dariku." Terangnya.
Kaats…
Mukaku panas.
"Kakakmu salah!" teriakku malu. Sasuke tidak peduli dia malah memegang bandul batu sapphire itu.
"Sewarna dengan matamu, kupikir ini cocok denganmu." Katanya datar tapi membuat hatiku melonjak kegirangan. "Aku pulang dulu." Kali ini dia mengatakannya sembari berbalik pergi. Aku menatap punggungnya. Punggung yang akan kulihat untuk terakhir kalinya. Sosok Sasuke dari belakang yang akan terakhir kulihat.
Aku… aku….
Gyut!
Tanpa bisa kucegah. Tanganku menarik ujung seragam sekolahnya. Membuat Sasuke menoleh kebelakang.
"Naruto?"
Aku membelalak. Dengan cepat aku melepaskan tanganku dari seragamnya.
"Ah, maaf… itu… aku…,"
Sudah tidak bisa beralasan lagi. Sudah tidak tahan lagi. Mataku memanas. Telapak tanganku berkeringat, telapak tanganku dingin. Perasaanku sesak. Sesak oleh timbunan perasaan sedihku tiga hari ini. Semuanya mengalir. Mengalir begitu saja dalam bentuk air mata.
Akhirnya aku menangis.
"Naru, kau kenapa?" tanyanya sedikit terselip nada khawatir. Tangan pucatnya terjulur hendak mengusap air mata yang membasahi pipiku.
Aku menepisnya.
"Aku… tidak apa-apa. Maaf Sasuke, aku sedang kacau. Tapi aku tidak apa-apa," kataku kemudian dengan sekali hentakan aku membuka pagar kemudian masuk ke rumah. Aku menutup pintu rumahku dengan tubuhku yang merosot jatuh. Menangis membuatku kehilangan tenaga.
.
.
Satu jam lagi….
Aku memakai sarung tangan putihku. Sekarang aku sudah menggunakan seragam malaikat pengantar roh. Baju hitam dengan sarung tangan putih. Aku menghadap cermin. Menatap wajahku yang terlihat pucat. Kuyakinkan pada diriku sendiri kalau aku bisa. Aku harus mengantarkan roh Sasuke. Jika tidak Sasuke yang akan kesulitan. Jika aku tidak mengantarkan rohnya, Sasuke akan terombang-ambing antara dunia ini dan dunia kematian. Aku tidak mau itu terjadi.
"Naruto!" layar laptop itu menyala. Menampilkan wajah Tsunade-baachan yang serius. "Jangan sampai gagal."
"Ya."
"Jangan menangis saat kau bertugas."
"Ya."
"Kau pasti bisa."
Aku terdiam. mengumpulkan keberanian yang aku punya. Kemudian kukembangkan sayap putihku sebelum menjawab perkataan Tsunade-baachan.
"Ya."
.
.
Tinggal tiga puluh menit lagi….
Aku berada di kamar Sasuke. Sasuke sedang tidur. Wajahnya pucat, padahal tadi sore dia baik-baik saja. Aku menatapnya dalam diam. Memori-memori bersamanya diputar ulang oleh otakku. tiga puluh menit lagi, pemuda dihadapanku mati. Orang yang aku sukai. Orang yang sangat sombong dan angkuh. Orang yang dingin, menyebalkan dan orang yang selalu memanggilku 'bodoh', 'dobe', 'baka'. Tiga puluh menit lagi akan pergi. Selamanya akan pergi dari dunia ini.
Aku pernah mendenar sebuah kisah. Kisah tentang seorang malaikat yang terjatuh karena sayapnya terluka yang kemudian jatuh cinta kepada manusia yang mengurusnya. Demi bersatu dengan manusia itu, si malaikat mencabut sebelah sayapnya dan menyerahkannya kepada setan hanya untuk menjadi seorang manusia. Agar bisa bersatu dengan manusia yang dicintainya.
Namun teman malaikat itu marah. Kemudian membunuh manusia yang dicintai malaikat yang berdosa itu. Membuat malaikat itu menyesali dosanya, kemudian malaikat itu mencium si manusia. Menyerahkan sayapnya untuk mengembalikan nyawa manusia yang teramat dicintainya. Kepada manusia yang dicintainya, dia meninggalkan sehelai bulu sayap yang berubah warna menjadi hitam.
Jika cerita yang kudengar itu nyata…
Aku… apakah dengan sayap yang kupunya, aku bisa menyelamatkan Sasuke dari kematian? Apakah dengan begitu Sasuke bisa melanjutkan hidupnya? Menjadi seorang dokter?
Aku tidak peduli pada nyawaku sendiri. Meski harus mati menggantikan Sasuke, tak apa. Karena aku tidak bisa melihat orang yang kusayangi mati.
Tidak bisa….
"Dobe."
Aku tersentak kaget ketika suara itu memanggilku. Mata onyx miliknya menatapku. Benar-benar menatapku.
Kenapa bisa? Aku kan mengeluarkan sayapku. Manusia biasa tidak mungkin bisa melihatku.
Apakah karena dia akan mati, sehingga dia bisa melihatku?
Melihat wujud asliku?
"Jadi tiga hari yang lalu itu bukan mimpi ya?" tanyanya. Sasuke bangun dari tidurnya. Mengambil posisi duduk di tempat tidurnya. "Tiga hari yang lalu, aku melihatmu. Kau terbang meninggalkanku yang sekarat."ceritanya. "Apa kau adalah malaikat kematian?"
Aku menggeleng. Aku menekan kuat-kuat dadaku yang terasa perih.
"Aku malaikat pengantar roh. Aku bertugas mengantarkan rohmu sampai ke surga."
"Jadi tiga hari ini kau bersikap aneh karena ini?"
Aku diam. Sasuke menghela nafas.
"Aku sudah siap mati." Katanya. Aku memandangnya. "Dari kecil, jantungku sudah lemah. Usiaku memang tidak akan lebih dari usia tujuh belas. Tapi aku tidak menyangka aku akan mati ketika aku menemukan seseorang yang kusayang." Katanya. Sasuke lantas menggenggamku. "Tidak apa, dobe. Kau jangan sedih begitu. Aku malah bersyukur karena orang terakhir yang kulihat saat aku mati adalah kau."
Mataku terbelalak. Aku memandang mata onyxnya yang menatapku dengan lembut. Bibirku bergetar. Menahan air mata yang akan keluar.
"Apa maksudmu?" susah payah kalimat itu keluar dari kerongkonganku. Sasuke tersenyum simpul
Si manusian es ini tersenyum di saat terakhirnya. Curang!
"Aku sudah sejak lama menyukaimu, dobe."
Sakit.
Aku sakit mendengarnya. Kenapa? Kenapa dia mengatakan hal ini?
"Aku hanya ingin kau tahu perasaanku, sebelum aku tidak bisa bersamamu lagi."
Egois! Tidakkah dia memikirkan perasaanku dulu sebelum dia menyatakan perasaannya kepadaku? Apakah dia tidak tahu kalau akupun menyukainya?
"Maaf, kalau hal ini membuatmu berat mengantarku."
Kalau kau tahu kenapa kau mengatakannya?
"Dobe?"
Gyut.
Aku memeluknya. Aku memeluknya dengan erat. Hanya tinggal lima menit lagi. Lima menit lagi cowok ini akan mati. Cowok ini akan meninggalkanku.
Aku… aku tidak bisa melihatnya mati. Aku tidak bisa melihat rohnya pergi ke langit.
Tuhan… biarkan cowok ini hidup. Sebagai gantinya ambil nyawaku.
"Dobe?"
Aku melepaskan pelukanku. Mataku panas. Jangan menangis. Jangan menangis.
"Teme… aku juga menyukaimu, sangat," pelan kukatakan kalimat itu. Aku melihat senyum simpul terpatri di wajahnya. Curang! Dia tersenyum di saat kami akan berpisah. Sasuke menyapu pipiku, aku melakukan hal yang sama. Kemudian kami saling mendekatkan wajah.
"Ciuman perpisahan ya?" tanyaku bergurau. Dia diam, tidak berniat menjawab. Akupun tidak berniat mendengar jawabannya. Jarak kami semakin dekat. Waktu kematiannya pun semakin dekat.
Tuhan, jika aku menciumnya apakah dia akan hidup? Seperti cerita malaikat dalam cerita, apakah aku bisa menukarkan sayapku dengan nyawanya?
Jika bisa begitu.. kumohon Tuhan….
Aku bisa merasakan bibirnya menempel di bibirku. Aku merasakan nafasnya yang hangat, aku merasakan perasaannya yang meluap.
Kesedihannya karena sebentar lagi dia tidak akan hidup di dunia ini lagi. Keikhlasannya dan keengganannya untuk meninggalkan dunia ini.
Atau mungkin meninggalkanku.
Aku menutup mataku. Menjerit dalam hati, berdoa.
Kumohon Tuhan… biarkan aku saja yang mati menggantikannya….
.
.
Normal POV
"Terima kasih, Naruto," pemuda itu tersenyum lemah. Gadis malaikat di hadapannya menatapnya tanpa ekspresi. Melihat itu, Sasuke menjatuhkan kepalanya di bahu gadisnya. Dia merasa mengantuk sekali. Pemuda itu menggenggam tangan gadis yang amat dicintainya itu. "Sayonara Naruto," katanya sebelum kesadarannya lebih jauh lagi menghilang. "Ma… af."
Hening.
Tak ada yang bersuara. Hanya detak jarum jam yang mengisi keheningan yang menyedihkan itu. Si malaikat terdiam. gadis itu mencengkram erat kedua bahu orang yang sangat disayanginya.
"Sasuke," panggilnya lirih. Tak ada jawaban, atau "Hn" biasa yang selalu diucapkan olehnya. "Teme," panggilnya lagi-lagi tak ada jawaban. Gadis itu menggigit bibirnya kuat-kuat. Menahan rasa yang ingin keluar lewat air mata. Tidak! Gadis itu tidak boleh menangis. Dia harus mengantarkan roh orang yang dicintainya.
Dia harus….
Tidak bisa!
Tes!
"Ugh… Tidak… tidak bisa!" ucapnya. Seketika air mata menetes dengan deras. Tidak bisa. Dia tidak bisa mengantarkan roh orang yang disayanginya itu. Dia tidak bisa melihat orang yang disayanginya mati. "Tuhan… kumohon,"
Untuk kesekian kalinya, Naruto memohon, kini air matanya mengalir. Gadis itu menangis, melupakan peringatan dari Tsunade dan sahabatnya.
Maaf… maaf baachan, Sakura-chan
Dan ketika air mata itu jatuh ke lantai, cahaya putih membungkus mereka berdua, gadis itu memeluk erat orang yang amat dicintainya.
Aku tidak peduli pada nyawaku sendiri. Meski harus mati menggantikan Sasuke, tak apa. Karena aku tidak bisa melihat orang yang kusayangi mati.
…
To Be Continued
…
Hum… rencananya mau oneshoot aja, tapi ternyata gak bisa! Tadinya mau fin sampai di sini aja. Tapi kayaknya ngengantung banget. Iya gak?
Jadi chapter depan rencananya full Sasuke POV. Gimana? Gimana?
Aku udah bikin chap dua lho… dengan dua versi berbeda. Yang menentukan ending fict gaje ini adalah kalian lho… *Promosi mode on*Jadi… ayo review!
So? Mind to Review?
Banyak review mempercepat pengupdate-an (?) ini fict.
