DISCLAIMER : Axis Powers Hetalia belongs to Himapapa, obviously.

Genres : Historical, Drama, Angst, Hurt/Comfort, Romance

Warnings : Rated T for references and implications of colonization and war slaves. If you by chance are sensitive to the material, please refrain from reading. I do not want to offend nor trigger anyone.


"The woods are lovely, dark and deep.

But I have promises to keep, and miles before I go to sleep."

- Robert Frost

Indonesia telah diajarkan sejak kecil, bahwa ia tidak boleh sembarangan tidur di tempat tidur yang sama dengan lawan jenis. Ia mengingat itu sampai sekarang, dan seandainya ia tidak salah hitung, hanya ada empat orang lelaki yang pernah tidur di sebelahnya seumur hidupnya.

Ketika Majapahit mempertemukan ia yang waktu itu Nusantara dengan saudara kembar Melayunya, Tanah Melayu, Nusantara girang bukan main─membuat anak lelaki itu kewalahan. Nusantara menolak dipisahkan; keduanya selalu terlihat berduaan. Nusantara yang lebih tua selalu terlihat lebih dominan dan protektif meskipun masih terlihat seperti gadis kecil, dan Tanah Melayu lebih sering daripada tidak malu – malu mengikutinya.

Kemanapun Tanah Melayu pergi, baik itu untuk latihan bela diri yang dilatih oleh Majapahit, wali mereka saat itu yang menuntut untuk dipanggil Kakek oleh keduanya, atau sekadar bermain seperti memanjat pohon, yang selalu menjadi bahan persaingan keduanya. Karenanya, tidak heran kalau setiap kali seseorang mengintip ke dalam kamar Tanah Melayu di rumah Majapahit, tahu – tahu Nusantara sudah berada di dalam, menceritakan legenda dan kisah – kisah ataupun menyanyikan nina bobo kepada adik laki – laki kembarnya.

Sepuluh tahun pertama ia selalu diseret pergi baik oleh Majapahit ataupun Gajah Mada, patih kerajaan saat itu. Gajah Mada memang dekat dengan keduanya, memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Setelahnya, keduanya sudah menyerah dan membiarkan kedua personifikasi bangsa itu.

Hal itu berlangsung selama lima puluh tahun berturut – turut, membiasakan Nusantara kecil pada seorang teman yang tidak pernah meninggalkannya. Nusantara akan menyelinap ke dalam kamar adiknya ketika malam tiba dan Tanah Melayu akan terus terjaga sampai kakaknya muncul, menantikan kisah – kisah heroik pahlawan dan raja – raja, putri – putri yang cantik ataupun siluman dan nenek sihir. Terkadang, Tanah Melayu memintanya menyanyikan sesuatu yang akan membantunya tidur, dan sesekali mereka berdua hanya terbaring bersisian, menikmati kehadiran masing – masing sambil sesekali melontarkan komentar kepada yang lainnya.

Tanah Melayu, adik kembarnya merupakan laki – laki pertama yang tidur bersisian dengannya.

Polos dan sederhana, seperti anak kecil. Keduanya tidak mengetahui keadaan tanah mereka, yang perlahan – lahan bergolak oleh api pemberontakan. Yang terpenting saat itu adalah mereka tidak sendirian dan akhirnya, ada seorang teman yang tidak bertambah tua dan meninggalkan diri mereka untuk tumbuh dewasa. Adik mereka, Temasek saat itu masih terlalu kecil untuk merasakan hal itu.

Tentu saja, itu sampai perang saudara itu terjadi. Sejak itu, Nusantara jarang bertemu dengan Tanah Melayu yang mulai sibuk dengan kesultanan barunya. Keadaan Majapahit, sosok orangtuanya itu juga semakin memburuk setelah mereka mengusir Gajah Mada dari kerajaan. Nusantara tahu lebih baik daripada lainnya kalau waktu mereka semakin singkat─suatu hari nanti Majapahit juga akan menghilang. Sama seperti Kutai, Sriwijaya, dan lainnya.

Nusantara ingin percaya kalau Majapahitlah masa depannya, yang akan menjadi faktor konstan dalam hidupnya. Dalam mimpi buruknya selalu saja anggota – anggota tubuhnya ingin melepaskan diri, dan Nusantara ingin percaya bahwa suatu saat nanti mereka akan mengerti arti dari persatuan itu─arti dari Nusantara, namun Majapahit akan runtuh. Tanah Melayu dan Temasek akan meninggalkannya. Sekali lagi Nusatara akan sendirian, merasakan ancaman yang meneror tidurnya, dalam nyiur yang membisikkan kata – kata di telinganya kalau dirinya seharusnya tidak ada; hanya gambaran besar yang mereka ciptakan untuk mendeskripsikan bagian – bagian yang lebih kecil.

Hari – hari setelah Tanah Melayu menciptakan kesultanannya dan meninggalkan Nusantara sendirian bersama yang tersisa dari Majapahit, suatu malam Majapahit mengetuk pintu kamarnya. Nusantara mempersilahkannya masuk.

Majapahit masih terlihat seperti pria Asia Tenggara yang berbadan besar dan berkulit gelap. Namun kali ini rambutnya yang kelam dihiasi garis – garis tipis putih terang, matanya yang sewarna dengan mata Nusantara tidak mencerminkan senyum jenakanya yang biasa. Senyuman di bibirnya hari itu terlihat lelah, sama seperti hari – hari mereka. Keduanya tahu apa yang akan datang, dan telah siap menghadapinya.

Ketika pria itu memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah tempat Nusantara berbaring, Nusantara tidak menghalanginya. Keduanya hanya duduk disana, menatap ke arah jendela yang hanya disinari terang rembulan, seakan ada sesuatu yang ingin mereka raih di kegelapan itu. Tak ada yang tahu berapa waktu telah berlalu sampai Nusantara mengatakan sesuatu.

"Kelopak bunga katangga gugur tertiup angin dan bertaburan di atas atap," gadis kecil itu bergumam, cukup keras untuk didengar oleh pria di sebelahnya─satu lagi kerajaan yang menyongsong ajalnya. Nusantara ingin melupakan semua imperial yang meninggalkannya, semua raja dan ratu yang pernah membuat hatinya bangga, namun gadis kecil itu tidak pernah dapat melupakannya.

Saat itu barulah ia menyadari, ia tidak ingin melupakan apapun.

Nusantara tidak beranjak ketika Majapahit mengelus kepalanya dan melanjutkan kata – kata yang mereka kenal sejak dulu, oleh bahasa yang kini mengalir dalam vena dan nadi mereka.

"Atap itu bagaikan rambut gadis yang berhiaskan bunga, menyenangkan hati siapa saja yang memandangnya." Ketika hening kembali meresapi udara, Nusantara menyadari ia dapat mendengar bunyi napas keduanya yang pelan dan seritme. Detak jantung kerajaan yang telah kehabisan waktu, tenang dan menghanyutkan.

"Aku sudah mengecewakanmu, Nusantara," ujarnya kepada gadis itu, jemarinya masih menelusuri helaian rambutnya. Nusantara menggeleng.

"Majapahit membuatku bangga."

Gadis itu tidak berani untuk menatap wajah kerajaan itu─ia tahu dari bagaimana ujung jemari pria itu bergetar dan perubahan bunyi napasnya. Nusantara tahu, ia selalu tahu, tetapi seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat pria dewasa menangis. Tidak juga kali itu. Ia tidak ingin melihat Majapahit meratap, atau siapapun. Saat itu, itulah yang paling tidak bisa dilakukannya.

"Kami akan mengingatmu," ia memberitahu pria itu, "Namamu akan dikumandangkan pahlawan – pahlawan negeri ini, di jalan – jalan, di bibir semua orang terdidik selama berabad – abad. Aku akan memastikan hal itu."

Tangannya kembali mengusap rambut gadis itu, menyusuri galur – galur diantara helaian rambut. Jemari yang sama yang pernah menelusuri peta ekspedisi ke tanah yang tak pernah diraih manusia, yang terbiasa menggenggam pedang untuk insan yang mendapatkan sumpah setianya, yang telah mengukir sejarah dan melepas kepergian jiwa – jiwa.

Tangan yang serupa dengan milik Nusantara.

"Kau terlalu baik, terlalu indah untuk dunia ini." Kata – katanya tidak lebih dari bisikan, namun kata – kata itu bergema berabad – abad lamanya di telinga Nusantara, sesuatu yang menahannya dari keruntuhan dan mendorongnya tetap maju. Kalimat yang membuat Nusantara selalu mengingat, sebelum matanya terpejam oleh kantuk.

Ketika Nusantara bangun, ia tidak dapat menemukan Majapahit─hanya rakyat – rakyat yang sama dengan Tuhan yang berbeda. Ia meraba rambutnya tempat tangan orang yang telah tiada itu sempat berada dan menemukan sekuntum bunga maja putih tersemat ditelinganya.

Sirna ilang kertaning bumi. Telah sirna dan telah hilanglah kekayaan di tanah ini, bersama dengan pria kedua yang pernah berada di sisinya ketika ia tidur.

Setelah Nusantara menjadi Nederland-Indiё pun itu tidak terjadi. Kelak Indiё tahu bahwa kata – kata sang motherland yang menenangkan bahwa ia tidak boleh keluar karena dunia saat itu telah menjadi jahat dan ia harus dilindungi dengan tidak keluar dari mansion tempat mereka tinggal adalah kebohongan belaka, namun abad – abad itu adalah sedikit dari masa – masa dimana Indiё tidak merasakan kehilangan, atau setidaknya tidak tahu ia kehilangan. Personifikasi negara berambut pirang itu membuat Indiё terkagum – kagum ketika pertama kali melihatnya di Banten. Tentu saja ia menerima uluran tangannya ketika VOC menyerahkannya pada Netherlands. Ia berjanji akan mempertemukannya kembali dengan Tanah Melayu. Tidak akan ada lagi yang bernasib seperti Majapahit di hari itu. Indiё percaya sepenuhnya saat itu.

Ketika Netherlands tidak berada di sisi dunia yang lain, Indiё akan mengusahakan sebaik mungkin untuk membuatnya bangga. Ia meninggalkan sisa – sisa jiwa maskulinnya dan mengurus mansion itu bagi mereka berdua, memasakkan makanan untuknya, menjadi seseorang yang ideal baginya. Gadis itu belajar memasakkan santapan motherland-nya dan mempelajari bahasanya. Netherlands akan mengajarinya banyak hal─dari kultivasi yang dibutuhkan rakyatnya sampai ilmu pengetahuan yang tak pernah diketahuinya. Pemuda itu telah membantunya tumbuh, dan ia akan melakukan segalanya untuk membalasnya. Saat itu ia tidak tahu, seperti apa keadaan rakyatnya di luar pagar yang membatasi tempat tinggal mereka dengan negerinya.

Pada malam hari, Indiё akan meminta Netherlands membacakan cerita, seperti yang pernah dilakukan kerajaan – kerajaan yang mengurusnya saat ia kecil dan yang pernah ia lakukan untuk Tanah Melayu. Pemuda bermata hijau itu selalu terlihat salah tingkah ketika gadis itu memintanya, tapi ia tidak pernah menolaknya. Ia akan membacakan dongeng – dongeng dari tanahnya dan kisah – kisah yang terkenal di seberang lautan─cerita yang begitu berbeda dengan apa yang Indiё kenal. Andersen dengan kisahnya yang diwarnai rasa sedih dan fantasi yang menghipnotis, Carroll dengan petualangannya yang mendebarkan dan enigmatis, Grimm yang gelap dan sedalam lautan, Aesop dengan hewan - hewan yang berbicara.

Gadis itu akan berbaring di sampingnya sementara pemuda Belanda itu mengisahkannya, menatap ilustrasi yang menghiasi buku – buku bersampul karton itu dan menyadari betapa berbedanya dunia buku itu dengan dunianya, dan menutup mata, menghanyutkan diri dalam dunia yang penuh dengan peri, binatang yang bisa berbicara, putri duyung, dan pangeran berkuda putih sementara suara Netherlands menuntunnya. Ia akan membuka mata ketika kata 'Tamat' ataupun 'Het einde' telah dikumandangkan dan melihat bahwa sepasang mata hijau yang sebelumnya menelusuri aksara sedang menatapnya.

Di saat – saat seperti itulah Indiё menatap balik iris yang sewarna rumput itu, berusaha membacanya. Ada kesedihan dan penyesalan di matanya─sesuatu yang tidak dimengerti Indiё saat itu, namun tak begitu kentara dengan kehangatan dari rasa bahagia yang terpancar di ekspresinya. Hanya terkadang ia tersenyum, tetapi setelah dekade demi dekade penuh rasa canggung dan malu, Indiё dapat membaca ekspresi pemuda itu dengan mudah. Di kali lain ada sesuatu yang berbeda pada tatapan itu dan hal itulah yang membuat Indiё yang kian bertumbuh menjadi remaja merasa berbunga – bunga.

Indiё menyadari saat demikianlah ia merasakan batas antara Aku ingin membuat dirinya─Lars van Willemsen─bangga dan Aku ingin dirinya semakin menipis dan permeabel, sesuatu yang bahkan Indiё saat itu tahu salah.

Hari – hari menjelang abad sembilan belas dan setelah ia berpisah dari England Indiё merasakan hal itu.

Sesuatu yang gelap yang diabaikannya selama itu menembus alam bawah sadarnya.

Ia sadar sesuatu dalam dirinya ingin Netherlands hilang ketika ia mendapati dirinya telah menjatuhkan pecahan kaca dalam makan malamnya, menyisipkan jarum pentul dalam bantal motherland-nya. Gadis itu akan sadar tepat sebelum Netherlands celaka dan menyingkirkannya sebelum pemuda itu mengetahuinya. Kebencian yang entah dari mana datangnya ia tidak tahu.

Suatu malam Netherlandslah yang tertidur sebelum menyelesaikan ceritanya. Saat Indiё menatap wajah putih itu terlelap perasaan itu kembali berkecamuk di dalam pikirannya, akal sehat dan perasaan itu bertarung untuk menguasai pikirannya.

'Bunuh dia,' sesuatu berbisik di telinganya. Rasa dingin menjalari punggungnya.

Aku tidak ingin melakukan itu. Kenapa? Suara itu tertawa.

'Sesuatu di tanganmu berkata sebaliknya.' Indiё menatap benda yang entah sejak kapan digenggamnya dengan erat dan tersentak. Gemetaran, ia berusaha mencerna apa yang ia lihat, tangannya sedingin benda dalam genggamannya.

Pisau cukur itu memantulkan cahaya lampu yang dipasang Netherlands di kamar itu, mata belatinya tajam dan mengancam, penuh keinginan membunuh.

Indiё segera melempar benda terkutuk itu sejauh mungkin ke ujung ruangan. Pisau itu menghantam lantai dengan suara dentingan yang keras sebelum meluncur ke bawah lemari, hilang dalam kegelapan. Netherlands terlihat terusik dalam tidurnya, namun ia hanya menggumamkan sesuatu dan mengganti posisinya, buku yang dipegangnya jatuh ke lantai. Gadis itu mengambilnya dan menaruhnya di sisi pemuda itu dan menyelimutinya sebelum keluar dan berpindah ke kamar lain.

Ia sama sekali tidak dapat tidur malam itu.

Sekitar sebulan kemudianlah beberapa rakyatnya datang dan mengajak Indiё keluar dari mansion itu dan melihat kenyataan. Gadis itu akhirnya mengerti semuanya; tatapan penuh rasa bersalah itu, suara yang berkumandang di benaknya, keinginan membunuh. Itu adalah bagian darinya yang ingin memberontak, yang tahu kenyataannya meskipun tidak melihatnya karena ia bisa merasakannya, penderitaan rakyatnya. Indiё kembali ke mansion sesaat untuk mengambil sedikit barang miliknya dan beberapa buah buku sebelum─bersama dengan orang – orang yand telah membantunya─membakar mansion itu.

Lama, begitu lama sampai akhirnya Indiё dan Netherlands bertemu muka kembali. Setiap kali motherland-nya mengirim orang untuk mencarinya, gadis itu selalu melarikan diri. Ia ingin merdeka, dan karena itu berusaha membenamkan dirinya pada perasaan benci yang telah ada itu.

Sayangnya, semakin ia melakukannya, perasaan yang berkontradiksi dengan benci itu timbul, berusaha merasuki pikirannya dan hatinya, meninggalkan gadis itu berbaring terjaga di atas kasur pada malam hari, kedua kaki terbelit sarung atau entah apa yang membungkus kakinya.

Perasaan itu terasa lebih kuat daripada benci, dan itu membuat gadis itu merasa gila.

"Hanya orang – orang gila yang terlibat disini," kata Indiё yang kini menyebut dirinya Indonesia pada bayangan dirinya di depan wastafel. "Karena itu, perasaan tidak berarti. Hanya ada kebebasan yang menanti." Indonesia ingat akan Majapahit, akan Sriwijaya dan kerajaan – kerajaan yang telah berkorban untuk mencegah ini terjadi. Indonesia bersumpah akan melakukan apa saja, apa saja untuk memberikan apa yang layak bagi rakyatnya. Ia telah mengecewakan mereka selama ini, dan ia akan membalasnya.

"Apa saja?" tanya Japan bertahun – tahun kemudian. Indonesia tahu kalau pria itu bukanlah Japan yang ia jumpai beratus – ratus tahun lampau─ia telah berubah, sama seperti dirinya sendiri. Keinginan mereka kini berbeda, dengan ambisi yang baru dan lebih tinggi, dan itu mengubah mereka, secara fisik dan psikis. Indonesia kini terlihat seperti remaja delapan belas tahun pada umumnya dan Japan terlihat beberapa tahun lebih tua darinya, berseragam gelap dan bukannya putih dan bermata gelap dan dingin penuh kalkulasi. Pria yang akan mencoba segala cara untuk mendapat apa yang diinginkannya.

Sama seperti Indonesia sendiri, barangkali.

"Apa saja," gadis itu mengulangi, tanpa mengalihkan tatapan dari personifikasi negeri matahari terbit itu. Ia merasa iri padanya, menjadi sekuat itu. Seandainya ia bisa sekuat dirinya, sekuat Japan yang telah mengalahkan Russia dan America, negara superpower itu… Tapi Indonesia kenal prioritasnya. Saat itu, sebelum ia meraih hal seperti itu, ia harus dipandang sejajar oleh mereka.

Japan tidak melepaskan tatapannya dari mata gadis itu, maka Indonesia menantangnya lewat pandangannya. Seulas senyum dingin terukir di wajah pria itu. Indonesia tahu ia harus takut─ini akan berakhir buruk, namun kalau itu akan membawanya kepada kebebasan, Indonesia tidak ragu disakiti.

Apapun, ulang Indonesia di benaknya.

Ia mengetahui propaganda yang telah dibuat pria itu, kejahatan yang mereka bilang telah dilakukannya. Namun saat itu Indonesia butuh semua bantuan yang bisa didapatkannya. Genggaman Netherlands tidak boleh lebih erat dari ini, dan ia harus merdeka sebelum Perang Dunia berakhir.

Pria itu berjalan mendekat, matanya tak dapat terbaca. Indonesia mengangkat dagu dan memberanikan diri untuk membalas tatapannya. Jemarinya yang bergalur karena sering menggenggam katana itu meraih wajahnya. Indonesia menahan diri untuk tidak menelan ludah. Japan mencondongkan wajah ke telinganya.

"Bahkan misalnya, kalau itu termasuk… kehormatanmu sendiri?" bisiknya.

"Negaraku tidak akan─"

Japan mendengus, suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya.

"Maksudku bukan Indonesia. Maksudku kau, sebagai Ciethra Kusumawijaya. Bisakah kau melakukannya?" Japan kembali bertanya, menyebut nama manusia gadis itu.

Darah seakan lenyap dari wajahnya. Dalam sekejap Indonesia telah tahu apa yang Japan bicarakan─ia telah mendengar tentang para wanita yang dirampas dari negerinya untuk menjadi budak perang. Ia tahu apa yang terjadi pada mereka, penderitaan yang mereka alami, meskipun ia sendiri tidak pernah merasakannya. Para Japayuki, mereka memanggilnya. Bisakah Indonesia─bukan, dirinya yang manusia, Ciethra melakukannya?

Ia tidak pernah menceritakannya pada siapapun, tapi ada satu mimpi yang ingin ia capai sedari kecil sebagai Ciethra, dan dengan menyetujui ini, ia tidak akan pernah mencapainya.

Sebuah wajah terlintas di pikirannya; bermata hijau dan berambut pirang dengan bekas luka di dahinya, milik orang yang telah dihindarinya selama puluhan tahun. Kemarahan meluap dalam hatinya. Mengapa, setiap kali ia memikirkan angan – angan itu, ia teringat akan pria yang telah menghianatinya?

Kemarahan itu membuat ia melontarkan jawabannya, jawaban yang membuatnya menyesal bahkan bertahun – tahun mendatang.

Japan tersenyum, jemarinya menelusuri leher gadis itu. "Aku suka semangatmu itu─karena itu aku menyukaimu. Tenang saja, aku akan menjagamu. Kau tidak akan disentuh orang lain, hanya kakak laki – lakimu ini, tidak seperti wanita – wanita lain. Bukankah itu suatu kehormatan, Ciethra?"

Malam – malam yang berlangsung selama nyaris tiga tahun itu merupakan neraka bagi baik dirinya sebagai Indonesia maupun Ciethra. Ia akan terlelap oleh rasa sakit di sekujur tubuhnya dan rasa lelah. Kiku─Japan akan membisikkan kata – kata manis yang tidak berarti yang berlawanan dengan apapun yang diteriakkannya beberapa menit sebelumnya, dimana hanya ada mulut dan tangan di sekujur tubuh Indonesia, mengeksplorasi dan mengeksploitasi. Indonesia tidak pernah bersuara ketika itu terjadi, dan itu membuat Japan kesal, ia tahu itu, dan ia memang tidak ingin membuatnya senang. Ia hanya ingin lepas dari ini semua─lebih cepat lebih baik.

Japan menjadi pria ketiga dalam hidupnya yang pernah tidur bersisian dengannya.

Ketika ia mendengarkan dengung perang pada malam hari melalui dinding tenda yang tipis sebelum tidur, ia selalu teringat akan sepasang mata hijau yang mungkin, hanya mungkin, peduli untuk mengeluarkan dirinya dari sini.

Kadang kala Japan membisikinya sesuatu dari balik punggungnya setelah semuanya usai, sesuatu dalam bahasa Jepang yang ia tidak mengerti namun ia ketahui artinya melalui nada bicaranya. Suara pria itu terdengar sendu dan lelah, menyandarkan wajahnya pada punggung gadis yang dikiranya tidak mendengar. Dari sanalah ia tahu, sisa – sisa Japan yang ia kenal sebelumnya ada disana. Honda Kiku yang ingin berbalik. Yang ingin semuanya usai. Yang mengucapkan permintaan maafnya pada dunia, pada dirinya.

Indonesia yakin, suatu saat nanti ia akan memaafkannya.

Ketika mendengar tentang bom yang dijatuhkan di negeri sakura itu, gadis itu tidak tahu harus khawatir atau lega. Ia khawatir akan penjajahnya itu, yang meskipun telah merenggut mimpinya tidak pernah dibencinya. Di lain sisi, Indonesia tahu kalau itu hal terbaik yang bisa Japan harapkan, untuk ini semua usai. Japan sedang koma di negerinya, begitu yang ia dengar, dan ia mengambil kesempatan itu sebisanya untuk melakukan apa yang diinginkannya.

Proklamasi kemerdekaan.

Ia sering bertemu Netherlands sepuluh tahun setelahnya─baik di medan perang maupun dalam rapat – rapat kenegaraan yang bersangkutan dengannya. Sebisa mungkin Indonesia berpura – pura tidak melihat tatapan kecewa dan marah mantan motherland-nya, mengingat kembali orang – orangnya yang telah gugur oleh orang yang sama.

Perasaan yang telah berusaha diabaikannya kembali timbul dalam benaknya, bahkan ketika Indonesia membopong sekian banyak mayat manusia untuk dikuburkan. Bahkan ketika gadis itu membakar kotanya sendiri untuk mengusirnya.

Butuh berpuluh - puluh tahun bagi Indonesia untuk memaafkannya dan mengusir rasa bersalah Netherlands dari semua yang telah terjadi. Butuh waktu lama juga bagi gadis itu untuk membiarkan perasaan itu berkembang dan menerimanya─bukan sebagai negara, namun sebagai Ciethra. Butuh waktu untuk menyadari perasaan itu adalah perasaan cinta yang begitu manusia dan asing bagi keduanya dan butuh waktu juga untuk keduanya mencapai apa yang telah mereka capai sekarang.

Ciethra menatap sosok yang telah menjadi konstanta hidupnya belakangan ini, terbaring di atas kasur dan pulas dalam tidurnya, cukup pulas untuk tidak terbangun saat personifikasi Indonesia itu membunyikan bel rumahnya. Indonesia akhirnya menyerah dan menggunakan kunci cadangan yang diberikan Lars─Netherlands beberapa waktu lalu dan mengizinkan dirinya masuk. Penerbangan yang dilaluinya memang melelahkan dan ia tiba sangat malam, wajar kalau Netherlands tidak terbangun. Setelah Ciethra mandi ia menyelinap ke dalam kamar, berhati – hati agar negara yang kini kekasihnya tidak terbangun.

Indonesia mengendap – endap dalam gelap, teknik yang ia kuasai untuk perang beberapa masa lampau dan berbaring di sebelah Netherlands yang tidur menyamping, memunggungi pemuda itu. Perlahan, gadis itu melingkarkan tangan pemuda yang terlelap itu ke sisi tubuhnya.

Ia baru saja akan tertidur karena letih ketika kedua tangan itu menariknya mendekat, sebuah senyum menyentuh belakang kepalanya.

"Sudah kuduga kau akan menggunakan kunci itu pada akhirnya," gumam Netherlands penuh kemenangan, napasnya yang hangat berhembus ke belakang leher gadis itu ketika ia menyibakkan rambutnya, mengekspos leher gadis Asia Tenggara itu. Indonesia mencubit tangannya kesal, yang dihadiahi tawa kecil oleh mantan penjajahnya itu.

"Kembali tidur, kau pria kekanakan menyebalkan," geram Indonesia, kesal karena terpergok dalam aksi dan telah dijebak Netherlands.

"Yang benar saja, aku 'kan, pria kekanakan menyebalkan favoritmu,"gumamnya mengantuk seraya mencium leher gadis itu lembut.

Dan ya, Indonesia harus mengakui, pria keempat yang pernah tidur bersisian dengannya ini memang pria favoritnya sejauh ini.

- Ende


A/N: Well this turned out a little longer than expected. I was kind of thinking about a 2k-ish words but well, this long's fine, no?

A little explanation, the words that little Nusantara said to Majapahit is actually quoted from Nagarakertagama, the phrase that describes Majapahit in the writings. As for Japayuki, it's a more global term for jugun ianfu, or so they say. Forgive me if there's a historical inaccuracy and do tell me about it, I did quite the research about it and all.

Yes, I used Japan's human name Honda Kiku and since Netherlands and of course my original character Indonesia doesn't have official human names, I'm calling them Lars van Willemsen and Ciethra Kusumawijaya (Tjiethra Koesoemawidjaja). I know there's loads of fannames for fem!Indonesia, like Putri, Melati, and Kirana, but I think Citra is the most common name for female Indonesians so I did a little Sanskrit edit and made it Ciethra. Oh well.

And yes again, I do picture Indonesia as a female. First, Indonesians portrayed her as 'Ibu Pertiwi', and second, it just seems a little more befitting. Anyways, I hope you enjoyed the story. Favourites and follows will always be appreciated, and I'd like to hear your opinion from the reviews, too. Thanks for reading, all ye who entered here!