Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi
Halooo kali ini aku menyumbang fic tentang pairing kegemaranku, yaitu MidorimaxFemale!Takao. Bisa dibilang ini pelampiasan buat aku yang butuh asupan otp unyu ini, hehe. Beware of OOCness, cheesy scene, etc XD
Oh iya, satu lagi, disini aku sengaja nggak nyelipin aksen khas Midorima (-nodayo) di dialognya, soalnya bingung gimana naruhnya /duar/
Selamat membaca~
.
.
Siang itu matahari terhalang awan dan angin berhembus sejuk. Di tengah cuaca yang bersahabat itu, dua sosok berseragam nuansa hitam khas SMA Shutoku duduk bersebelahan di atap sekolah. Kedua remaja itu sibuk menyantap bekal tanpa ada percakapan mengudara. Suasana sunyi, sampai suara dering ponsel memecah keheningan.
"Ah, ada pesan. Dari siapa, ya?" Si gadis berambut hitam sepunggung segera mengambil ponsel di saku, membuka flip, lalu mengamati layarnya. "Ng? Dari Izuki-san …"
Lelaki berkacamata langsung menoleh. "Izuki … ?"
"Izuki-san, pemain tim Seirin. Masa kamu nggak kenal?" Si gadis menoleh sebentar, menatap Midorima yang sedikit mengernyit—lalu kembali pada layar ponsel.. "Ahaha, Izuki-san ada-ada saja."
Jemari si pemilik mata kelabu menekan-nekan tombol ponsel, mengetik balasan. Setelah selesai, flip ponsel ditutup dan si gadis kembali melanjutkan makannya. Sedangkan Midorima masih memasang raut heran.
"Takao, sejak kapan kamu berteman dengan dia?"
Takao nyengir. "Kemarin waktu aku ke minimarket, aku bertemu dengannya. Kami saling menyapa, lalu dia mengajakku ke kafe dekat sana. Kebetulan aku lagi ingin makan kue, jadi aku setuju saja."
Kerutan di kening Midorima bertambah.
"Terus kami mengobrol. Izuki-san orangnya asyik ternyata. Dan sebelum berpisah, dia meminta untuk bertukar nomor. Katanya kapan-kapan dia mau berbincang lagi denganku. Kukasih aja, deh."
"Apa kau tak pernah diajari agar jangan asal memberikan nomor ponsel pada orang asing?" tukas Midorima.
"Mou, Shin-chan! Izuki-san bukan orang asing. Kita 'kan sudah sering bertemu dengannya di pertandingan." Takao mengerucutkan bibirnya.
"Terserah, lagipula itu bukan urusanku."
Bibir Takao semakin maju karena sebal.
.
.
Hari-hari berikutnya, ponsel Takao selalu berbunyi saat acara makan siang mereka, bahkan ketika latihan dan ketika mereka pulang bersama. Sampai-sampai rasanya teman dekatnya yang berambut hijau itu jadi hapal nada penanda pesan masuk itu—dan bisa memainkannya di piano kalau mau. Awalnya Midorima berusaha mengacuhkannya karena merasa itu bukan urusannya, namun siang itu, akhirnya ia gatal juga untuk bertanya.
"Akhir-akhir ponselmu bunyi terus. Mengganggu, tau." Oh, tentu saja Midorima tidak akan frontal mengungkapkan rasa penasarannya.
Takao mencomot sosis dari kotak bekalnya. "Kurasa bunyi dering ponselku sama sekali tak mengganggu. Yang lebih pantas dilbilang mengganggu itu adalah lucky item-mu itu, Shin-chan." Takao menuding lampu antik di samping Midorima dengan sumpit.
Perempatan langsung muncul di kening Midorima. "Apa katamu?!"
"Bercanda, santai aja."
Midorima mendengus kesal. "Lagipula, memangnya dengan siapa sih kau berkirim pesan akhir-akhir ini?" Ujung-ujungnya bertanya juga.
"Eeh, Shin-chan penasaran, nih?" Takao melirik jahil.
"Bukan begitu! Hanya saja mencurigakan. Kudengar akhir-akhir ini siswi SMA yang terlibat prostitusi sedang marak. Tentu saja aku tak mau berteman dengan orang yang melakukan hal macam itu."
Takao langsung terbelalak. "Apa?! Mana mungkin aku melakukan hal begitu?! Aku anak baik-baik tau!" Gadis itu mencubit lengan Midorima sekuat tenaga. "Itu semua pesan dari Izuki-san, tau!"
Midorima terdiam sambil mengusap nyeri bekas cubitan superwoman barusan. Rasanya ada yang mengganggu kala mendengar nama itu. Apa jangan-jangan …
"Kau ada hubungan gelap dengannya?" Midorima menatap lekat-lekat, emerald-nya menyorot tajam.
Takao bengong sesaat sebelum—"Hah? Pfftt—hahahaha!" –tergelak sambil memegangi perut dengan tidak elitnya.
"Woi, jawab pertanyaanku, bodoh!"
Takao malah makin terpingkal dengan nistanya. Di sela derai tawanya, ia berkata, "bagaimana bisa kamu menyimpulkan begitu? Mana mungkin kami pacaran."
Mendapat reaksi tidak jelas macam itu, Midorima seharusnya merasa kesal. Tapi entah mengapa, ia malah merasa sedikit … lega. Tapi masih ada yang membuatnya penasaran.
"Memangnya dia … ah, sudah lupakan." Midorima memalingkan wajah sambil membetulkan kacamatanya.
Tawa Takao sudah berhenti, kini ia mengusap matanya yang sampai berair. "Aku dan Izuki-san cuma berteman, kok. Dia sering menanyakan kabarku dan mengirim permainan kata ciptaannya yang unik. Hmm … kutunjukkan deh." Takao mengambil ponselnya, membuka arsip pesan masuk, lalu menunjukkan layarnya pada Midorima.
From : Izuki-san
Subject : Selamat siang, Takao-chan (^_^)
Hari kamis, aku teringat pada iris kelabumu yang manis.
Jangan lupa makan siang, ya!
Midorima menaikkan sebelah alisnya. Permainan kata macam apa itu?
"Lalu, ini …" Takao membuka pesan lainnya
From : Izuki-san
Subject : Selamat malam
Melihat langit kelam, teringat rambut legam serta senyuman indahmu yang tersulam.
Midorima langsung pusing.
"Terus …" Takao berniat menunjukkan pesan lainnya, namun Midorima mencegah dengan mendorong ponselnya menjauh dengan tangan kananannya, sementara tangan kirinya yang berbalut perban memijit kening.
"Rimanya aneh sekali."
"Eh? Menurutku itu unik, loh."
"Unik kepalamu!"
"Kok kamu sewot sih?"
"Aku heran kau tak merasa terganggu dan malah meladeninya."
"Izuki-san itu baik kok, dan lagi … dia punya keahlian yang sama sepertiku, jadinya bisa berbagi cerita deh."
(Jadi kau lebih senang berteman dengan orang yang keahliannya sama sepertimu, huh? –kalimat yang melintas sekilas di benak seseorang.)
Lalu suara dering ponsel terdengar untuk yang kedua kalinya di siang itu.
"Pesan darinya lagi?" Midorima menaikkan sebelah alisnya.
"Iya … eh, Izuki-san mengajakku ke kafe sepulang sekolah, soalnya dia lagi senggang. Wah, kebetulan, hari ini kan nggak ada latihan. Kamu ikut ya, Shin-chan~ Kue disana enak sekali, lho!" ajak Takao antusias.
Hah? Kenapa pula si Izuki itu mesti mengajak Takao? Seperti tak ada orang lain saja.
Tiba-tiba bayangan Takao dan si pemain dari Seirin itu makan berdua di kafe muncul di benak Midorima, dan entah membuat si pemuda merasa kesal. Rasanya ia mesti ikut, tapi—
"Aku tak ikut. Lebih baik aku belajar daripada nongkrong tidak jelas begitu." –hanya sahutan super dingin yang dilontarkannya.
"Ayolah, sekali-sekali saja~"
"Sudah kubilang tidak."
Wajah Takao langsung mengkerut. "Shin-chan payah, deh."
Midorima tak merespon, selanjutnya ia menghabiskan sisa bekalnya dalam diam dengan wajah tertekuk kesal, membuat Takao heran dan berusaha mencairkan suasana namun tidak berhasil lantaran Midorima terus mengacuhkannya.
Hei, dia kenapa sih?
.
.
Midorima dan Takao selalu pulang bersama. Seperti sore itu seusai latihan basket, di jalanan kawasan perumahan yang sepi—dua orang berbalutkan seragam Shutoku itu berjalan bersisian dengan tas tersampir di bahu masing-masing. Cahaya oranye matahari senja menerpa tubuh dua orang dengan tinggi tubuh terpaut jauh itu.
"… kau akan jalan-jalan bersama Izuki-senpai akhir pekan nanti?" Sosok pemuda tinggi berkacamata itu menatap gadis di sebelah kirinya dengan sorot mata yang tidak bisa dijelaskan.
Si gadis raven itu langsung menjawab, "iya, dia mengajakku ke distrik perbelanjaan. Awalnya aku mau mengajakmu juga, tapi akhir pekan kamu mau pergi ke rumah kerabat 'kan? Berarti nanti aku berdua saja dengannya."
Kening Midorima langsung berkerut dalam dan sebuah perasaan aneh menelusup ke dadanya. Rasanya seperti ia tak mau membiarkan Takao pergi berdua saja dengan laki-laki lain, tapi memangnya kenapa? Ia tak punya hak untuk melarang—namun ia merasa tak rela. Mendadak otak Midorima terasa semrawut—overload. Ia mengalihkan wajahnya yang kusut itu ke arah deretan rumah di sampingnya.
Aku bahkan belum pernah mengajak Takao pergi berdua di akhir pekan selain untuk latihan basket. Sebersit pemikiran itu muncul dalam benak Midorima, membuat sang pemilik makin merasa ada yang salah dengan dirinya.
.
.
Berawal dari gelagat Takao yang berbeda hari ini—gadis itu terlihat murung sejak pagi hari dan bahkan tidak fokus saat menjalankan tugasnya sebagai manajer saat latihan basket. Akhirnya setelah seluruh anggota sudah pulang dan menyisakan dua orang—Midorima yang akan berlatih ekstra serta Takao yang menemaninya—di dalam gym, mereka duduk bersebelahan di bench dalam posisi Midorima siap mendengarkan curahan hati Takao. Demi apapun—Takao yang bermuram durja adalah hal yang janggal baginya.
"Apa ada masalah saat kau jalan-jalan dengan Izuki-senpai kemarin?" tanya Midorima untuk membuka percakapan.
"I-itu, sebenarnya kemarin—" Takao menundukkan wajahnya dengan tatapan sendu—yang baru kali ini Midorima melihatnya.
"—Izuki-san menyatakan perasaannya padaku."
Midorima tak dapat mencegah matanya untuk membelalak. "Di-dia menembakmu?!"
Hei jangan bilang kalau kau menerimanya, tapi kalau memang begitu—seharusnya Takao melonjak gembira, bukannya murung begini.
"Iya … Izuki-senpai bilang kalau dia menyukaiku, dan dia mengajakku pacaran dengannya." Kini wajah Takao sedikit memerah lantaran mengingat kejadian kemarin.
"Lalu—apa jawabanmu?"
Hening sesaat.
"Aku … tolak."
Lagi-lagi perasaan aneh muncul dalam diri Midorima. Kegusaran yang dirasakanya perlahan sirna, tergantikan oleh kelegaan. Timbul rasa syukur dalam hatinya … huh, memangnya mengapa dia mesti bersyukur?
"Begitukah?" respon Midorima seraya berusaha mendistraksi pikiran-pikiran serta perasaan lega yang terasa janggal itu dari pikirannya.
"Tapi—Shin-chan, aku merasa bersalah pada Izuki-senpai. Aku pasti telah menyakiti perasaannya. Pokoknya aku merasa bersalah."
Bulir bening terbit di mata kelabu Takao dan perlahan menuruni pipinya. "Hiks …"
Midorima terkejut kala menyadarinya. "O-oi? Takao?"
Takao berusaha mengelap air matanya dengan punggung tangan, namun air matanya terus mengalir. "Padahal Izuki-san baik padaku. Tapi aku malah—"
Kalimatnya terputus kala ia menyadari sang sahabat yang tadi duduk di sampingnya, kini berlutut di hadapannya sambil mengelap air matanya menggunakan sebuah saputangan berwarna pink. Takao sedikit terbelalak sementara jemari sang sahabat bergerak menghapus likuid bening yang membasahi wajahnya itu. Di tengah kentaranya merah yang memenuhi wajah pemuda di hadapannya, mata rajawali Takao tak luput menangkap sepercik ekspresi lembut pada emerald di balik lensa—sorot mata yang tak pernah Takao saksikan sebelumnya.
"… Shin-chan?"
"Lucky itemmu hari ini adalah saputangan merah muda. Jadi kau ambil saja." Midorima meletakkan saputangan yang berjejak air mata tersebut di pangkuan sang gadis.
"Eh?"
Midorima kembali duduk di samping Takao, lalu memalingkan wajahnya yang sudah bagai udang rebus itu ke samping sambil membenarkan kacamata. Tindakannya barusan adalah hal ter-gentle yang pernah seorang Midorima Shintarou yang dingin dan kaku itu lakukan terhadap Takao—ralat, terhadap siapapun. Impuls itu datang begitu saja kala melihat wajah sedih Takao—menghantarkan dorongan baginya untuk membuat si gadis merasa lebih baik.
"Kau ini aneh sekali. Padahal yang ditolak itu Izuki-senpai, tetapi kenapa malah kau yang berduka begini?"
"Aku merasa bersalah, Shin-"
"Aku tak begitu mengerti soal cinta, tapi kurasa tidak benar kalau berpacaran dengan orang yang tidak kau sukai. Dan juga … kalau dia berani menyatakan perasaannya padamu, berarti dia sudah siap dengan resiko ditolak. Dia harus menerima kenyataan."
Midorima meletakkan tangannya di atas kepala Takao, mengusap pelan helai hitam sahabatnya itu dengan agak canggung. Masa bodoh dengan segala tindakannya yang memalukan, yang ia inginkan sekarang hanyalah menyapu pergi kegundahan serta mengembalikan keceriaan si gadis.
"Pokoknya kau tak usah bersedih lagi."
Setelah kalimat itu, Midorima langsung berdiri dan menuju tengah lapangan, meninggalkan Takao sendiri di bench. Seperti biasa, gadis itu akan menungguinya hingga selesai.
Keheningan mengisi ruangan gym yang luas. Entah mengapa, debaran aneh memenuhi rongga dada pemuda jangkung yang tengah berkutat menembak bola oranye dari tengah lapangan—untungnya bola tersebut tetap masuk dengan mulus walau pikirannya tak setenang biasa. Dan tampaknya jantung kedua orang itu memompa darah lebih banyak—dilihat dari rona merah yang menghias wajah mereka.
Tak pernah atmosfir canggung menyelimuti mereka seperti ini sebelumnya, dan suasana aneh itu terus berlanjut hingga pulang—mulai dari perjalanan ke stasiun, di dalam kereta, hingga Midorima—yang walau rumahnya lain blok—mengantarkan Takao sampai tepat di depan kediaman sang gadis; sebagaimana yang selalu ia lakukan kala mereka pulang terlalu larut.
(Debaran aneh itu terus berlanjut dan memenuhi pikiran hingga keduanya terlelap.)
.
Keesokan paginya, keduanya berdampingan menyusuri koridor untuk menuju kelas. Awalnya bekas kecanggungan kemarin masih terasa, namun mulai tercairkan oleh lagak ceria Takao. Setelah gadis itu menyudahi celotehannya, Midorima berdeham.
"Takao," –memalingkan wajah sambil membetulkan letak kacamata—"Hari MInggu kau tak ada acara 'kan?"
"Memangnya kenapa, Shin-chan? Mau mengajakku jalan-jalan?"
Midorima mengeluarkan dua lembar kertas kecil dari sakunya.
"Aku dapat tiket ini dari ayahku."
Takao membelalak senang. "Eeh? Ini kan tiket taman hiburan? Sudah lama aku ingin kesini! Serius nih, Shin-chan?"
"Iya, tiketnya ada dua. Sepertinya aku mengajakmu saja." Lagi-lagi Midorima membetulkan letak kacamatanya.
"Beneran nih?! Asyik~ Terima kasih, Shin-chan~" Takao melompat-lompat riang, wajahnya berseri-seri. Melihat itu, Midorima tak mampu mencegah kedua sudut bibirnya yang tertarik ke atas—yang tentu langsung ia sembunyikan dengan gaya khasnya.
OWARI
.
.
Sorry for the super OOCness, aku sebenernya bingung juga ngegambarin uhukkecemburuan seorang tsundere, ya jadi gini deh. Tapi suer deh, midofemtaka itu unyu banget, cowok tsundere dan cewek dere-dere, kya~
Walau keberadaan pasangan ini hanyalah angan semata, karena jelas-jelas Takao itu cowok tulen yang coreberbatangcoret kena sial lantaran dibelokin genderya oleh seorang author yang kayaknya punya obsesi tersendiri terhadap genderbent :v
Kemudian di sini Izuki jadi agak ngenes ditolak huhu /pukpuk bang juki /cium /ditendang
Btw, green-eyed = cemburu (hasil dari google translate wkwk akibat bingung mau judulin apa)
Oke, terima kasih bagi yang bersedia membaca cerita ini sampai akhir.
Mind to write your opinion in review column? Segala bentuk pendapat, terutama kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan ^^
.
.
OMAKE
Di taman bermain yang ramai.
"Ngomong-ngomong, aku lapar nih. Ayo makan dulu," ujar pemuda beralis ganda sambil memegang perutnya.
"Oi, Kagami, kita baru saja sampai, tau! Tahan dulu hasratmu itu," sahut pemuda berkacamata yang berdiri paling depan bagai pemimpin rombongan; rombongan pemain basket Seirin yang pelatih tercintanya—secara ajaib—berinisiatif mengajak semuanya berkunjung ke taman bermain.
"Huh, aku 'kan cuma bilang lapar." Kagami sewot.
"Eh, itu kan …" Pemuda berambut biru di sebelah Kagami memaku pandangannya ke sesuatu nun jauh disana. "Midorima-kun dan … Takao-san."
Sontak beberapa buah kepala langsung menatap ke arah yang sama.
"Waduh, padahal niatnya ke sini sekalian untuk menghibur Izuki yang lagi patah hati, tapi malah ketemu penyebab patah hatinya …" ujar Koganei panik.
Sedangkan yang namanya disebut langsung suram. Seketika si pemuda berambut hitam langsung ingin gantung diri di komidi putar atau terjun dari wahana halilintar disana.
"Yang sabar ya, Izuki. Takdir memang tak selalu memberikan apa yang kita inginkan." Kiyoshi menepuk-nepuk punggung Izuki dengan kebapakan sambil melontarkan kalimat nan bijaksana. Dapat dari pengalaman hidup sendiri, eh?
"Kau kan garing, pantas saja tak ada yang mau denganmu." Hyuuga nyeplos. Perempatan muncul di dahi Izuki.
"Hoi Hyuuga, kusumpahi kau tak jadian dengan Riko sampai lulus SMA!" Dia tersinggung berat. Maklum, akhir-akhir ini temperamennya memang sangat memburuk.
Hyuuga mendelik kesal. "Apaan kau—"
"Ada yang memanggilku?" Gadis berambut coklat langsung menoleh.
"Bukan apa-apa!" Hyuuga mengibaskan tangannya. Aida memberi tatapan aneh.
Sementara Izuki hanya memandang nanar pada dua orang bersetelan kasual disana. Keduanya tampak sedang bercengkrama akrab—si gadis berceloteh riang yang ditanggapi ekspresi sebal atau gerakan membetulkan kacamata oleh si pemuda—dengan sebuah es krim di tangan masing-masing.
