Tadinya aku sempet mikir, udahan dulu ah dari fandom Boboiboy. Cuma, well, namanya inspirasi ya. Sempet pengen bikin fanfic tentang Elemental Siblings lagi, cuma... bosen deh. Yang lain juga udah mulai pada bikin Elemental Siblings, jadi ini bukan. Masih tentang Elemental Boboiboy tapinya (because I love them so much!).

Fanfic ini terinspirasi dari fanfic Danny Phantom, judunya The Reality of Virtuality. It is a really nice fic! Tapi, ini beda. Mungkin, agak terinspirasi dari Yu-Gi-Oh! juga... Judulnya kuambil dari Kamen Rider Wizard, ehehehe...

Ini adalah sisi lain Elemental Boboiboy, bagaimana mereka sebenarnya ada di dalam Boboiboy. Settingnya harusnya, ya harusnya, setelah episode 16, dan Air memang belum muncul.

Silahkan dinikmati

Warning: No pairing, friendship, elemental Boboiboy, miss-typo, OOC!

Disclaimer: Monsta atau Animonsta sebenarnya? Animonsta itu studionya? Yang punya sahamnya Monsta? Udahlah, yang penting Boboiboy bukan milikku


Boboiboy's Underworld

Otak manusia adalah sesuatu yang paling hebat dan misterius yang ada di bumi ini. Belum ada yang mengerti seratus persen bagaimana otak manusia sebenarnya bekerja. Bagaimana kesadaran manusia itu sebenarnya.

Dan itu ternyata menjadi masalah hari ini.

Si alien kepala kotak itu memang tidak pernah kehabisan akal untuk menguasai dunia, atau singkatnya, mengambil coklat Tok Aba.

Keempat pahlawan super hanya bisa tercengang saat Adu Du menembakkan sebuah pistol laser dan mengenai Boboiboy dengan telak.

"Ahahaha! AKHIRNYA AKU BERHASIL MENGALAHKAN BOBOIBOY!"

Yaya, Ying, Gopal dan Fang sangat terkejut melihat Boboiboy langsung hilang kesadaran dan tak bergerak.

"Apa yang kau lakukan!?" seru Yaya marah.

Adu Du hanya menyeringai kejam pada gadis berkerudung pink itu.

"Aku menguncinya di alam bawah sadar dia! Selamanya dia tak akan bisa keluar!" seru Adu Du, menikmati saat-saat kemenangannya yang sangat langka.

"Apa!?" seru Gopal panik, khawatir melihat Boboiboy yang tak sadarkan diri.

"Selamat menikmati rasa kekalahan dan kepedihan karena teman kalian itu tidak akan bangun lagi untuk SELAMANYA!" seru Adu Du, naik ke atas Mega Probe dan terbang ke angkasa.

Keempat teman Boboiboy menatap teman mereka yang bertopi dinosaurus itu. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.

IoI

Biasanya, apa yang dilakukan Adu Du selalu gagal, terutama saat dia jahat. Namun, para pahlawan super cilik dari Pulau Rintis kini sedang merasa kegelisahan. Karena, mereka mulai berpikir, mungkin akhirnya dewi fortuna berbelas kasihan pada Adu Du dan akhirnya memberikan alien berkepala kotak itu kesempatan untuk menang.

Karena, Boboiboy tidak kunjung sadar dari tidurnya.

"Dia seperti dalam koma. Hanya saja, nyawanya tidak dalam bahaya, tapi..." kata-kata Ochobot terputus. Robot kuning itu sudah menscan tubuh Boboiboy berkali-kali, tapi tak menemukan solusi apa yang sedang terjadi.

"Cucuku... Boboiboy...," desah Tok Aba sedih, melihat cucu kesayangannya hanya terbaring di atas tempat tidur tanpa tanda-tanda akan bangun.

"Kata Adu Du, Boboiboy terkunci di dalam alam bawah sadarnya, mungkin yang perlu kita lakukan adalah membukanya kembali," saran Yaya, namun gadis itu tampak ragu.

"Iya, bagaimana caranya?" tanya Fang dengan nada sarkartis. Gadis itu hanya bisa diam, tak tahu harus menjawab apa.

"Ochobot, kau bisa lakukan sesuatu? Kau kan pintar membuat alat-alat begitu..." Ying menoleh pada robot bulat kuning yang sedang terbang di samping Boboiboy.

"Aku tak tahu, aku tidak pernah mencoba membuat alat yang bermain-main dengan otak manusia. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Boboiboy, aku bahkan ragu apa benar Boboiboy terkunci di alam bawah sadarnya," gerutu Ochobot dipenuhi nada putus asa.

"Aha! Bagaimana kalau kita masuk ke dalam pikiran Boboiboy? Itu lho, yang seperti di tv!" saran Gopal, semuanya menoleh pada Gopal dengan pandangan meragukan kewarasan bocah keturunan India tersebut.

"Ah, kalau yang itu mungkin bisa," timpal Ochobot membuat semua orang yang ada di ruangan kaget.

"SERIUS!?" seru mereka tak percaya.

"Aku tidak tahu bagaimana Adu Du mengunci Boboiboy di alam bawah sadarnya, jadi aku tak bisa membukanya. Tapi, aku bisa memasukkan kalian ke dalam alam bawah sadar Boboiboy dan mungkin kalian bisa membukanya dari dalam," jelas Ochobot, kini dengan nada lebih percaya diri.

Semuanya saling pandang dan mengangguk setuju.

"Ayo kita lakukan!" seru Yaya.

"Ah, Tok Aba sebaiknya di sini saja. Aku tidak tahu alam bawah sadar Boboiboy seperti apa, jadi Tok tidak usah ikut," tambah Ochobot.

"Eh, memangnya berbahaya?" tanya Gopal mulai takut.

"Aku tidak bisa menjamin apa-apa," kata Ochobot ambigu. Gopal merinding, namun teman-teman Boboiboy yang lain sudah membulatkan tekad.

"Tidak apa-apa, aku yakin semuanya akan baik-baik saja, tenanglah Gopal," hibur Yaya. Gopal tidak begitu percaya, namun ia juga tak mau meninggalkan sahabat baiknya begitu saja. Meski takut, ia akan tetap menolong Boboiboy.

"Dia benar-benar merepotkan," keluh Fang, membetulkan kacamatanya. Namun, tak ada orang di ruangan tersebut yang mendengarkan keluhannya.

"Ayo kita pergi ke alam bawah sadar Boboiboy!" seru Ying dengan semangat.

"Baiklah, bersiap...," Ochobot memberi aba-aba.

"Tunggu, kita harus bawa bekal-" omongan Gopal terputus.

"START!"

IoI

Keempat pahlawan cilik mengerjapkan mata dan agak bingung menemukan keadaan mereka yang terbaring di tanah. Saat mereka bangun, mereka memperhatikan sekeliling mereka dan makin kebingungan.

"Ini dimana!?" seru Gopal ketakutan.

"Kau lupa? Kita ada di alam bawah sadar Boboiboy... sepertinya...," jawab Yaya, memperhatikan sekeliling mereka dengan seksama.

Mereka semua ada di tempat yang sangat aneh, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tak ada langit ataupun tanah, meski terasa seperti berpijak akan sesuatu, tapi tak ada tempat yang mereka pijaki. Sekeliling mereka dipenuhi pusaran warna-warna yang bergelung, berputar, membaur dan melayang memenuhi semua tempat. Seperti terjebak di dalam aurora yang ada di langit kutub.

"Nah, kuncinya dimana?" tanya Ying, tidak menemukan sesuatu yang mirip kunci di tempat aneh itu.

"Kalau bicara soal kunci, maka seharusnya ada pintu kan?" komentar Fang, memberikan logikanya.

"Kenapa kalian ada di sini?"

Sebuah suara yang sangat familiar namun seharusnya tidak ada di antara mereka membuat keempat teman sekawan itu terkejut.

"Boboiboy!?"

Merkea semua berpaling ke arah sumber suara namun mengerjap kebingungan saat melihat sosok teman mereka yang ada di hadapan mereka.

Pertama, Boboiboy tidak pakai topi ciri khasnya. Rambutnya yang pendek tidak ditutupi oleh apapun. Ia pun mengenakan kaus lengan panjang dan celana panjang dengan paduan warna hitam dan putih, sangat kontras dengan tempat mereka berada yang dipenuhi warna seperti aurora.

"Boboiboy?" tanya Yaya sedikit tidak yakin.

Bocah dihadapan mereka hanya diam. "Kurasa kalian bisa memanggilku begitu kalau kalian mau. Sekarang, jawab pertanyaanku yang tadi," katanya. Cara bicaranya tidak dingin, tidak juga hangat, seperti tidak ada ekspresi. Wajahnya pun sangat datar, namun tidak seperti boneka. Wajah bocah itu terlihat tenang dan dewasa, sedikit asing bagi mereka.

"Kami ada di sini karena kau tidak mau bangun," jawab Fang, sembuh dari rasa syoknya.

'Boboiboy' itu mengerjap, seperti sedang berpikir. Kemudian sepertinya akhirnya ia mengerti apa yang sedang terjadi.

"Oh, Boboiboy tersesat di sini?" tanyanya.

Sekarang, Yaya, Ying, Gopal dan Fang yang bingung.

"Tersesat?" tanya Ying.

"Seharusnya dia tidak ada di sini. Pantas saja daritadi aku merasa aneh...," kata 'Boboiboy' itu, lebih ke dirinya sendiri. Dia berbalik dan tidak mempedulikan mereka semua.

"Hei! Kau mau kemana?" seru Gopal, meski takut, tapi ia merasa 'Boboiboy' itu tidak berbahaya. Hanya sedikit aneh.

"Mencari Boboiboy," jawab 'Boboiboy' dengan lugas. Keempat teman Boboiboy itu mengikuti dirinya.

"Biarkan kami bantu mencari," tawar Yaya dengan penuh senyum. 'Boboiboy' yang ada di depan mereka hanya memandang mereka lurus kemudian berbalik memandang ke depan.

"Selama kalian menuruti perkataanku, silahkan."

Keempat teman Boboiboy itu tampak senang, sekarang akhirnya mereka menemukan cara agar Boboiboy bisa terbangun kembali.

IoI

"Jadi? Namamu sebenarnya siapa?"

'Boboiboy' menoleh pada Yaya, mereka semua berjalan beriringan di tempat aneh, yang seharusnya merupakan alam bawah sadar Boboiboy.

"Aku tidak punya nama tetap, jadi kalian bisa memanggilku Boboiboy," katanya dengan lurus. Wajahnya tanpa ekspresi membuat yang lain agak merasa tidak nyaman, namun perlahan mulai terbiasa.

"Susah kan, nanti tertukar dengan Boboiboy yang sedang kita cari. Uuuhmm... bagaimana kalau Boi?" usul Ying.

"Itu jelek, bagaimana kalau Bewe," usul Gopal.

"Rizki?" usul Yaya.

"Xiao?" usul Fang.

'Boboiboy' tidak menunjukkan ekspresi apapun, tapi dia menyela. "Balance."

Keempat pahlawan super yang berasal dari dunia nyata menoleh padanya.

"Panggil aku Balance," katanya dengan datar.

"Uhm... baiklah," gumam Ying, agak merasa malu karena sudah meributkan nama panggilan seperti itu.

Balance tidak kelihatan marah, ia terlihat tetap tenang dan tidak tergganggu.

"Kita sebenarnya mau kemana sih?" tanya Gopal, bingung dengan arah tujuan mereka. Dari penglihatannya, pemandangan sedari tadi tidak ada yang berubah.

"Kau akan tahu," jawab Balance tanpa memandang Gopal, tetap melihat lurus ke depan.

Semua teman Boboiboy itu tidak ada yang tahu bagaimana merespon perkataan Balance, jadi mereka hanya menurut dan mengikuti kemana bocah aneh itu melangkah.

Di luar dugaan, sebuah pintu terlihat di kejauhan.

Pintu itu hanya berdiri sendiri, tanpa melekat ke dinding atau apapun. Baik di depan, di samping ataupun di belakang pintu itu tidak ada apa-apa. Namun, di tempat yang tidak ada apa-apanya selain warna-warni di langit, pintu berwarna merah itu terkesan menonjol.

Mereka semua berhenti di depan pintu itu. Keempat pahlawan cilik bingung dengan pintu ini. "Ini apa?" tanya Fang, menyuarakan kebingungannya.

"Mungkin, Boboiboy ada di sini, meski aku ragu," jelas Balance.

Sebelum yang lain bisa bertanya, Balance meraih gagang pintu dan memutarnya. Sebuah pemandangan terlihat di balik pintu itu, padahal rasanya sebelumnya di balik pintu itu tidak ada apa-apa. Tapi ternyata ketika dibuka, pintu itu bersambungan dengan sebuah ruangan.

IoI

Keempat anak kecil itu terlihat takjub, mereka mengikuti Balance yang masuk ke dalam ruangan di depan mereka.

Ruangan tempat mereka berada cukup luas namun sangat gelap.

Koreksi, mereka masih bisa melihat satu sama lain. Ruangan itu bukan gelap, hanya saja seluruh ruangan bercat hitam.

Saat mata mereka menyisir seluruh ruangan, mereka menemukan sesuatu di tengah ruangan.

Seseorang tergantung di sana.

"Boboiboy?" seru Yaya panik, namun sebelum ia bisa menghampiri temannya, Balance mengangkat lengannya, mencegah Yaya melangkah lebih jauh.

Gadis itu agak bingung, namun saat memperhatikan lebih seksama, ia merasakan ada suatu kejanggalan pada apa yang ia lihat.

Boboiboy itu mengenakan pakaian serba hitam dan sebuah topi hitam yang menghadap ke depan. Namun yang paling mencolok adalah semua tali yang menggantungnya berwarna putih. Tali itu mengikatnya dengan erat, hingga terlihat menyakitkan.

Namun, sebuah erangan membuat keempat pahlawan cilik itu bergidik.

"Eerrgh... uhhk...," itu seperti sebuah erangan campuran kesakitan dan kemarahan. Mata Boboiboy yang tergantung itu tersembunyi di balik topi yang ia kenakan, namun semuanya bisa melihat kalau ia sedang mencoba memberontak melepaskan diri.

"Halilintar?"

Balance menoleh pada Ying, yang lain pun mengikuti arah pandangannya. Sang gadis keturunan cina itu sedikit malu, namun yakin dengan dugaannya.

"Dia Halilintar kan? Ekspresi dan cara dia memakai topi itu, tak mungkin aku salah," kata Ying dengan yakin.

Yaya, Gopal dan Fang memperhatikan apa yang dijelaskan oleh Ying. Setelah dikatakan begitu, mereka mulai mengerti apa yang dimaksud gadis bermata sipit itu.

"Kurasa, dia memang dikenal seperti itu bagi kalian," jawab Balance, mengkonfirmasi tebakan Ying.

Halilintar seperti tidak menyadari kehadiran mereka, ia terus memberontak dari semua jeratan tali yang membelenggunya. Tali-tali itu mengikis kulitnya, namun tidak timbul luka. Meksi begitu, ia tetap terlihat kesakitan.

"Kau melihat Boboiboy?" tanya Balance pada Halilintar.

Saat itu, akhirnya mata Halilintar menatap mereka semua. Semua bocah yang ada di ruangan tersebut, kecuali Balance, terkejut melihat Halilintar memberontak makin hebat.

"AAARGH! LEPASKAN AKU DARI SINI!" seru Halilintar dipenuhi kemarahan.

Tapi, mereka pun bisa mendengar nada tersiksa, menyayat hati mereka.

"Kurasa itu artinya tidak, ayo kita keluar," kata Balance seperti tidak terpengaruh apapun yang dikatakan dan dilakukan Halilintar.

"Tidak kah kita harus membebaskannya? Ia terlihat menderita...," tanya Yaya, sedikit takut dengan teriakan kemarahan Halilintar, namun tidak tega melihat kondisinya.

Balance hanya menatapnya dan terus melangkah keluar. Karena tidak punya pilihan lain, seluruh teman Boboiboy mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.

"Sebenarnya kenapa dia?" tanya Gopal, begitu ada di luar ia tidak merasa begitu takut lagi.

Balance tidak menatap mereka dan hanya berjalan kembali. "Di sini adalah alam bawah sadar. Dulu bentuknya tidak seperti ini. Dulu lebih banyak emosi-emosi yang berbaur di sini. Tapi, sejak Boboiboy dapat jam kuasa, semuanya berubah," jelas Balance.

Keempat pahlawan super hanya mendengarkannya dengan seksama.

"Di sini, terpendam semua yang dipendam oleh Boboiboy selama ini. Karena jam kuasa itu, muncul persona-persona yang mulai mengambil alih emosi-emosi seperti tadi."

"Jadi, Halilintar...," gumam Ying, sedikit mulai paham.

"Dia membawa kemarahan, kedengkian, kebencian, rasa sakit, rasa trauma, yang dipendam oleh Boboiboy," jelas Balance. Semua teman Boboiboy tertegun mendengarnya. Mereka memang tahu kalau selama ini Halilintar mewakili kemarahan Boboiboy, tapi tidak pernah tahu kondisinya sampai seperti itu.

"Lalu yang tali-tali putih yang membelit Halilintar itu apa?" tanya Fang.

"Itu macam-macam. Salah di antaranya, agama, aturan, moral, dan lain-lain, boleh disingkat, 'kontrol diri'," jawab Balance.

"Tapi kelihatannya menyakitkan...," gumam Yaya, masih terbayang-bayang bagaimana kondisi Halilintar yang ia lihat barusan.

"Percaya atau tidak, Halilintar sendiri juga yang membuat tali-tali itu dan mengikat dirinya sendiri. Ia membawa kemarahan Boboiboy dan punya tugas untuk menahan semua amarah itu, meski memang menyakitkan," jelas Balance lagi, membuat semuanya terperanjat.

"Tapi, tadi dia bilang lepaskan...," Gopal jadi bingung sendiri.

"Akhir-akhir ini, tugas dia semakin berat...," kata Balance lirih, sekarang wajahnya terlihat sendu.

Yaya terus memandang ke belakang, dimana pintu merah itu masih berdiri. Di luar sini, tidak terdengar apapun dari pintu merah itu. Tapi, gadis itu masih bisa membayangkan erangan kesakitan dan kemarahan Halilintar.

"Apa tali itu tidak boleh di lepas?" tanya Yaya.

Balance akhirnya menatap matanya, meski ekspresinya tidak terlalu kentara, namun Yaya paham kalau tatapan mata itu sangat serius. "Itu artinya Halilintar akan lepas kendali dan kalian seharusnya paham apa yang akan terjadi selanjutnya," katanya dengan nada dingin.

Semua teman Boboiboy, kecuali Fang, masih ingat bagaimana saat Halilintar hilang ingatan dan menyerang mereka semua tanpa ampun. Itu masih menyisakan sedikit trauma dan mereka sama sekali tak punya niat untuk mengulang semua itu kembali.

Namun Yaya hanya bisa tertegun di tempatnya. Meski begitu, ia tetap merasa sedih tidak bisa melakukan sesuatu. Ia tidak pernah berpikir Boboiboy adalah anak pendendam dan pemarah, tapi bukan berarti ia tidak bisa marah dan dendam. Mungkin selama ini bocah bertopi itu memendam jauh semua perasaan negatifnya hingga menumpuk dan menyiksa Halilintar seperti itu.

Balance berhenti melangkah, membuat Ying, Gopal dan Fang sedikit bingung namun mereka sadar kalau Yaya sudah tak bersama mereka. Mereka menoleh ke belakang dan melihat sang adis Ketua Kelas itu sedang berlari kembali ke pintu merah.

"YAYA!" panggil Ying panik.

Mereka semua mengejar Yaya, namun Balance seperti menghilang dan muncul kembali di depan pintu merah, membuat semuanya kaget. Dia punya kemampuan teleportasi?

"Kau mau apa?" tanyanya mencegat Yaya.

Sang gadis berkerudung menatapnya dengan pandangan tajam.

"Aku tidak akan melepaskan talinya," katanya dengan serius.

Balance menatap Yaya secara seksama kemudian menutup mata dan menyingkir. Gadis itu segera masuk ke dalam 'ruangan' Halilintar dimana kini sang persona hanya terkulai lemas digantung tali-tali putih.

Ia menghampirinya, namun satu langkah terakhir Halilintar mendongakkan wajahnya dan menggeram keras ke arahnya.

"Grrrr..."

Yaya mengerjap, sedikit takut namun kemudian merasa pilu. Entah kenapa, reaksi Halilintar mengingatkannya pada reaksi seekor kucing liar yang terlalu sering dilukai orang sehingga tidak percaya lagi dengan kasih sayang orang lain. Namun, sang gadis memberanikan diri dan berdiri di depan Halilintar.

Ying, Gopal dan Fang hanya bisa melihat dengan napas tertegun. Sementara Balance memandang dari jauh dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Yaya menarik napas dalam, mencoba untuk bertahan di bawah pelototan mata tajam namun sarat dengan luka. Kedua tangan kecilnya perlahan meraih tali yang menjerat leher Halilintar. Kemudian menariknya untuk mengendurkan lilitannya ke leher persona tersebut.

Talit putih itu mirip tali tambang, kecil namun kuat. Yaya tidak heran saat ia merasa tak bisa menggunakan kekuatan supernya di sini. Mana ada gravitasi di dalam alam bawah sadar. Tapi, ia terus menarik, berusaha agar tali itu tidak begitu tegang dan lebih kendur menjerat Halilintar.

Halilintar sudah berhenti menggeram dan hanya memandang Yaya dengan pandangan heran.

Gadis itu tersenyum saat melihat tali di tangannya mulai kendur. Ia kemudian beralih ke tali lain. Tangan, kaki, dada dan perut. Sesungguhnya terlalu banyak tali yang menjerat Halilintar, namun Yaya merasa ia hanya perlu mengendurkan beberapa tali yang terlalu erat lilitannya.

Tangan kecilnya mulai terasa sakit, namun usahanya membuahkan hasil. Daripada dijerat tali, kini Halilintar lebih mirip tergantung di atas tali. Kulitnya masih berbekas lilitan tali, namun setidaknya ia tidak terlihat kesakitan lagi.

Yaya akhirnya puas dan tersenyum padanya, Halilintar hanya menatapnya dengan tatapan lurus, tidak mengatakan apapun.

"Kau sudah berjuang," puji Yaya. Ia tak menyangka, Halilintar yang pemarah sebenarnya berjuang mati-matian memikul semua rasa sakit ini sampai melukai dirinya seperti ini.

Sang gadis membetulkan posisi topi Halilintar agar lebih nyaman di pakai dan tak terlalu menutupi wajahnya.

Ia kemudian berbalik, dari awal ia memang tak menunggu Halilintar mengucapkan terima kasih. Namun ia bisa merasakan pandangan Halilintar padanya, bukan pandangan mengancam, rasanya lebih sendu. Entah apa yang dipikirkan oleh persona itu, tapi Yaya sudah puas dengan apa yang sudah ia perbuat.

"Sudah selesai?" tanya Balance.

Yaya mengangguk. Ying segera berlari kecil ke arahnya dan menyikutnya dengan lengan secara pelan. Sang gadis berkerudung menoleh pada sahabatnya yang menyugingkan senyuman lebar.

Mereka pun berlalu ke luar dari ruangan tersebut, kali ini tanpa diiringi oleh erangan kesakitan.

Setelah berjalan beberapa saat, sebuah pintu kembali hadir di hadapan mereka entah sejak kapan. Kali ini sebuah pintu berwarna biru langit.

Mereka memandang Balance meraih gagang pintu dan membuka pintu itu.

IoI

Di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan bercat putih. Seluruh ruangan sangat putih, hingga agak membuat mata mereka silau.

Seorang yang mirip dengan Boboiboy berdiri di tengah ruangan.

"Hihihi..."

Ia tertawa sendiri, baju yang ia kenakan berwarna putih namun anehnya sekujur badannya dibalut perban berwarna hitam. Di kulit yang tidak ditutupi oleh perban hitam, terlihat luka-luka kecil. Topi yang dikenakannya miring dan ia hanya terus tertawa, membuat mereka heran apa yang sedang ia tertawakan sebenarnya.

"Taufan...," tebak Yaya. Semuanya hanya diam, dalam hati setuju. Kali ini, tak perlu konfrimasi dari Balance untuk mengetahui kalau yang dikatakan gadis berkerudung pink itu benar.

"Hahaha... hihihi...," tawa yang terdengar dari Taufan sedikit membuat bulu kuduk mereka merinding. Tawa itu bukan tawa senang, tawa bahagia atau tawa normal lainnya. Tawa itu seperti tawa yang mengingatkan mereka semua akan tawa orang yang sudah kehilangan akal sehat.

"Taufan, kau melihat Boboiboy?" tanya Balance, tampaknya kali ini pun tidak terpengaruh dengan keanehan Taufan.

Taufan akhirnya menoleh pada mereka. Wajahnya terlihat masih geli namun tawanya sudah berhenti.

"Kenapa? Dia tersesat? HAHAHAHA!" tawa Taufan pecah, membahana memenuhi seisi ruangan.

Tawa yang janggal, terasa aneh dan mulai membuat semua teman Boboiboy merasa takut.

"Kusimpulkan itu artinya tidak," kata Balance, tidak didengarkan oleh Taufan.

Balance berbalik dan semua teman Boboiboy pun mengikuti langkahnya keluar ruangan.

Yaya sempat menoleh pada Taufan, melihat tubunya yang dipenuhi luka dan dibalut perban hitam, namun tawanya seakan tidak mempedulikan semua luka-luka tersebut.

Namun ternyata Ying tetap di tempat. Sang gadis berkacamata itu sedikit takut dengan tawa abnormal Taufan, ia tidak tahan mendengarnya. Rasanya apa yang ia lihat sangat aneh dan tidak masuk akal. Dimana ada orang tertawa seperti itu dengan seluruh luka di sekujur badan?

Tapi, semakin di dengar, semakin Ying menyadari kalau tawa itu adalah sebuah tawa paksaan, tawa yang rusak dan begitu memilukan.

Sang gadis merogoh sesuatu di sakunya dan berlari kecil menghampiri persona yang masih sibuk tertawa sendiri. Ia menarik salah satu tangan Taufan yang terluka dan tidak diperban. Tawa aneh itu mati sesaat dan Taufan menoleh kepadanya dengan tatapan bingung, namun Ying memutuskan untuk tidak mempedulikannya.

Matanya fokus kepada luka yang ada di kulit Taufan. Tidak berdarah, namun menghitam, dilihat dari dekat terlihat sedikit mengerikan apalagi luka itu sangat kontras dengan kulit putih Taufan. Ying menahan rasa takutnya pada luka seperti itu, mengambil sapu tangan dari sakunya dan membalut luka tersebut.

Sapu tangannya yang berwarna biru sangat menonjol dibandingkan pakaian putih dan semua perban hitam yang menyelimuti Taufan. Saat Ying selesai membalut luka itu, ia bertemu mata dengan Taufan.

Persona itu masih terlihat bingung, seakan tidak mengerti apa yang gadis itu lakukan. Namun, Ying hanya menyugingkan senyuman padanya dan Taufan, seakan meniru apa yang ia lakukan, menyugingkan senyuman yang sama. Kini, terlihat lebih natural dan tulus.

"Rawat baik-baik ya lukamu," kata Ying. Taufan tidak merespon, namun Ying memutuskan kalau mungkin tidak ada persona di sini yang bisa berinteraksi dengan benar, jadi ia berbalik kembali pada teman-temannya yang menunggunya sedari tadi.

Ketika pintu akhirnya ditutup, akhirnya mereka semua menarik napas lega. Meski tidak semenyeramkan ruangan Halilintar, namun tawa Taufan sangat mengganggu bagi mereka. Tindakan Ying yang menghentikan tawa itu sebenarnya cukup menganggumkan dan menyentuh.

"Dia gila ya?" celetuk Gopal, Yaya menoleh tajam padanya sementara Ying dan Fang memutar mata mereka.

"Hampir, tapi belum," jawab Balance lirih, membuat mereka semua terkejut.

"Beneran?" tanya Ying tidak percaya. Kali ini, akhirnya, Balance tersenyum, namun sebuah senyuman yang ironis.

"Dia terlalu memaksakan diri," jelas Balance.

"Kukira Taufan mewakili rasa riang," gumam Yaya sedikit bingung.

"Iya kau benar, tapi terus menerus berusaha senang tidak mudah," jelas Balance lagi, kali ini wajahnya terlihat sendu.

"Luka-luka dan perban hitam itu...," gumam Fang, Balance menoleh padanya.

"Menurutmu apa?" tanya Balance pada bocah berkamata itu.

Fang terdiam. "Rasa sakit?" tebaknya.

"Hampir tepat, itu adalah rasa-rasa negatif. Tak mungkin semua rasa negatif yang dipendam oleh Boboiboy bisa ditopang oleh Halilintar seorang diri, karena itu yang lain mulai ikut merasakannya," jelas Balance.

Semua pahlawan cilik di sekitarnya hanya terdiam. Melihat Taufan yang tertawa dengan semua luka yang ada di badannya terasa begitu ironis.

Namun, Balance menatap Ying, gadis itu bisa melihat pandangan 'Boboiboy' misterius itu terlihat melunak padanya. Ying hanya mampu tersenyum tipis padanya, agak malu karena sudah melakukan hal seperti itu tanpa ijin, namun karena Balance tidak mengatakan apa-apa, seperti itu bukan sesuatu yang salah.

IoI

Keempat teman Boboiboy berdiri di hadapan pintu kuning. Balance yang ada di depan mereka, membuka pintu tersebut dan memperlihatkan isi ruangan di baliknya.

Kali ini, isi ruangan tersebut paduan antara hitam dan putih.

Namun, saat semuanya memperhatikan dengan lebih baik, ruangan tersebut sebenarnya bercat hitam namun dipenuhi coretan berwarna putih. Rasanya seperti melihat papan tulis hitam dipenuhi coretan kapur putih.

Kemudian, mereka menemukan seseorang yang sedang sibuk mencoret ruangan tersebut di sela-sela dinding yang masih tersisa.

"... kalau Adu Du begini... nanti selanjutnya... bukan, salah, ini... setelah itu... nanti aku... seharusnya begini..."

Itu adalah gumaman yang memenuhi seisi ruangan, seperti bagaimana semua coretan itu menghias dinding.

"Gempa?" tebak Fang kali ini.

Persona itu memakai baju paduan hitam dan putih, mirip seperti Balance. Cara pakai topi yang dikebelakangkan pun memang ciri khas persona itu.

Namun, saat matanya bertemu pandang dengan semua mereka, wajahnya dengan cepat berubah menjadi horor.

"Kenapa kalian semua ada di sini!?" serunya dengan sangat panik dan cepat menghampiri mereka.

"Boboiboy tersesat di sini, aku kemari untuk mencarinya," jawab Balance dengan tenang.

"APA!?" seru Gempa lebih panik.

Gopal hanya mengernyit, selama ini ia pikir Gempa adalah sosok persona paling bertanggung jawab, paling bisa diandalkan, paling rasional dan bijaksana dibanding yang lain. Namun jujur saja, semua coretan yang ada di dinding membuatnya sedikit takut. Ia bsa membaca samar-samar itu semua adalah rencana, atau lebih tepatnya rancangan rencana.

Mulai dari bagaimana bila Adu Du menyerang hingga rencana berangkat ke sekolah. Melihat rencana-rencana itu terjabar sangat detil di dinding hingga ke langit-langit mengintimidasi sahabat terbaik Boboiboy itu.

"Kita harus mencari dia cepat! Ya ampun! Dia tidak akan bisa bangun! Lalu bagaimana kalau Adu Du menyerang lagi? Bagaimana kalau-"

Balance mengguncang tubuh Gempa agar persona itu berhenti bicara.

"Diam dulu, semuanya masih aman terkendali," kata Balance dengan tenang. Gempa berhenti bicara namun wajahnya masih sangat khawatir.

Ia segera mundur dan menghampiri dinding terdekat dan mulai kembali mencoret.

"... pasti yang pertama Halilintar, kalau tidak ada di sana berarti..." dan gumaman itu terus berlanjut dan dinding semakin penuh dengan coretan-coretan yang saling bertabrakan.

"Hei kau ini kenapa sih? Tenanglah, makanya kami datang kemari untuk membantu Boboiboy!" seru Gopal, tidak tahan melihat temannya, atau persona temannya itu, stres .

Gempa hanya menoleh padanya, masih dengan pandangan khawatir.

"Kalian tidak mengerti bagaimana kerja alam bawah sadar di sini. Kalian tidak boleh merusak keseimbangan yang ada di sini! Kau tahu, kalau sampai keseimbangannya rusak Boboiboy bisa gila! Oh iya, Boboiboy bahkan belum bangun! Besok ada ulangan Bahasa Malay dan-"

Gopal mengacungkan tangannya, tanda berhenti. Gempa berhenti bicara dengan wajah terpaksa.

"Tenanglah... tarik napas...," kata Gopal, membujuk persona paranoid di depannya.

Gempa mengambil napas, kemudian mengikuti Gopal mengeluarkannya.

"Sudah kubilang, kau bisa tenang. Kami semua ada di sini dan aku kan sahabat terbaik Boboiboy, aku pasti bisa menemukannya!" seru Gopal, untuk kali ini berpikiran optimis.

Karena biasanya, dia yang berpikiran pesimis sementara Boboiboy yang berpikiran positif. Maka, Gopal merasa ia harus bisa meluruskan jalan pikir persona yang pesimis ini, karena ia tidak tahan sendiri melihatnya.

Lucu rasanya bagaimana mereka bisa bertukar peran seperti ini.

"Percayalah pada kami!" seru Gopal lagi, menyugingkan senyum terbaiknya.

Gempa hanya diam di tempat kemudian menyugingkan senyum tipis.

"Kurasa, kau benar...," gumamnya, kini tidak terdengar panik.

"Ayo, kita masih harus mencari tempat lain," kata Balance, merasa permasalahan sudah selesai. Gopal mengangguk dan melambai pada Gempa.

Persona itu melambai balik dengan kaku.

Akhirnya mereka semua keluar dari ruangan tersebut, lebih lega melihat Gempa sudah tidak lagi panik.

"Dia kenapa?" tanya Ying pada Balance.

"Ah, dia menerima banyak rasa negative, seperti rasa khawatir, rasa bersalah, rasa kecewa dan semacamnya. Cara dia untuk bisa membentuk keseimbangan bagi dirinya dengan mengontrol semuanya," jelas Balance.

"Control freak," Fang menarik kesimpulan.

"Hanya semakin banyak rasa negatif yang ia terima, berarti semakin banyak yang harus ia kontrol, makanya dia jadi seperti itu," jelas Balance lagi.

Semua teman Boboiboy akhirnya paham. Seperti saat akan ujian. Untuk menghilangkan rasa gelisah menjelang ujian, maka cara terbaik adalah belajar sebaik-baiknya. Untuk menghilangkan rasa takut, cemas, khawatir dan sebagainya, Gempa harus membuat banyak rencana dan mengontrol semuanya agar bisa menangani apapun yang akan terjadi.

Gopal hanya menoleh pada pintu kuning di belakangnya. Ternyata memang jadi yang paling diandalkan memang punya beban tersendiri. Ia jadi merasa kasihan.

IoI

Keempat pahlawan cilik kembali berhadapan dengan semua pintu. Namun yang berbeda dari pintu berwarna merah cerah ini, pintu ini dipasangi garis seperti garis polisi dan banyak sekali gembok yang terpasang.

Mereka semua menatap Balance yang ada di belakang mereka.

"Kurasa dia tak akan ada di sini."

Balance memasang wajah datar, namun semuanya menjadi penasaran dengan apa yang ada di balik pintu ini.

"Jangan-jangan... si Api?" tebak Gopal.

Balance menatap ke samping, entah kenapa tidak mau menatap mata mereka semua.

"Kenapa pintu di kunci dari luar seperti ini?" tanya Yaya, takjub dengan jumlah gembok yang terpasang di pintu itu.

Rasanya, semua pintu yang mereka temui selama ini tidak ada yang dikunci dari luar, bahkan pintu Halilintar pun tidak.

"Karena Api selalu mencoba untuk kabur," jawab Balance dengan nada datar.

"Kabur?" tanya mereka semua. Kemudian, mereka teringat bagaimana Api kerap kali mengambil alih kesadaran Boboiboy saat bocah bertopi dinosaurus itu tertidur. Memang benar, rasanya tak ada persona elemental lain yang melakukan hal semacam itu.

Kemudian mereka menatap Balance lekat-lekat, yang seperti jelas tidak mau masuk ke dalam pintu tersebut.

"Siapa tahu Boboiboy ada di dalam? Karena di kunci seperti ini, makanya dia tidak bisa keluar?" tanya Yaya. Balance masih tidak mau menatap mereka semua.

"Oh ayolah... kau bisa buka pintunya kan?" pinta Gopal.

Balance memutar matanya, salah satu ekspresi yang akhirnya bisa dilihat yang lain. Ia mengeluarkan rangkaian kunci dari sakunya, merobek garis polisi dan membuka semua gembok yang terkunci satu persatu.

Balance membuka pintunya dengan sangat perlahan. Namun, saat pintu itu hanya sedikit terbuka, pintu itu seperti didorong untuk dibuka dan seseorang kabur dari balik pintu itu.

Semuanya terkejut namun Balance sudah berteleport ke lain tempat dan menangkap orang yang kabur tersebut.

"Sudah kubilang kau tidak boleh melarikan diri!" seru Balance, untuk pertama kalinya terdengar marah.

"Aku bosaaaan di dalam terus! Tidak tahan lagi!" seru sosok Boboiboy yang lain. Dengan cara memakai topi ke depan dan agak terangkat, itu adalah khas Api. Bajunya berwarna putih, seperti milik Taufan.

Balance menarik Api kembali ke dalam ruangan berpintu merah terang dengan kasar. "Ayo masuk!" omelnya.

Api jelas mencoba untuk memberontak, namun di alam bawah sadar dimana tidak ada yang bisa menggunakan kekuatan super, ia tampaknya tidak bisa menang melawan Balance.

Akhirnya semuanya berhasil masuk ke dalam ruangan tersebut, termasuk Api dan teman-teman Boboiboy yang lain. Balance segera mengunci ruangan tersebut dan Api hanya mendengus dengan kesal.

"Aku kan cuma mau main sebentar," keluh Api dengan kesal.

Fang, Gopal, Yaya dan Ying memperhatikan ruangan dimana mereka berada. Semuanya putih, seperti milik Taufan namun yang mengejutkan adalah bayangan Api. Di dunia alam bawah sadar dimana hukum alam tidak berlaku, entah bagaimana Api memiliki bayangan sementara yang lain tidak.

Bayangannya sangat hitam, besar dan bergerak bertolak belakang dengan api. Rasanya seperti Fang yang menggunakan kekuatan bayang dan menggerakkannya semaunya, tapi tentu saja itu bukan perbuatan Fang.

Api terlihat mengambek dan pergi ke sudut ruangan.

"Dia...," Ying bahkan tak tahu pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan pada Balance.

"Dia itu kekanakan," jelas Balance singkat.

Semuanya mengangguk setuju, mereka tahu yang satu itu.

Namun, bayangan Api sedikit mengganggu mereka, terlihat sangat besar dan seram.

"Itu sebenarnya bayangan apa?" tanya Fang, sedikit tergganggu karena bayangan merupakan kemampuannya.

"Menurutmu?" tanya Balance balik. Fang mengernyit kesal, namun kali ini yang menjawab Yaya.

"Sepertinya... tanggung jawab... atau rasa lelah?" tebak gadis berkerudung tersebut. Balance mengangguk.

"Ya, kira-kira seperti itu," jawab Balance.

Kelihatan jelas dari sikap Api yang memandang ke segala arah namun tidak mau melihat bayangannya sendiri.

Tapi, dari wajahnya yang tergganggu, tampaknya bukan berarti ia tidak tahu bayangan itu ada. Tapi, berusaha menganggapnya tak ada.

Mereka masih ingat bagaimana Api menjelaskan lelahnya menjadi seorang pahlawan dan yang ia inginkan hanya bersenang-senang.

Fang mendengus, tidak suka melihat seseorang merasa tergganggu dengan sebuah bayangan. Karena bagaimana pun, bayangannya memang spesialisasinya.

"Hei, ngapain kau merajuk seperti bocah manja begitu?" tegur Fang, yang memang susah berkosa kata baik dalam banyak kesempatan.

Api menoleh padanya dengan kesal.

"Coba lihat ini," kata Fang. Ia membuka kedua tangannya, memperlihatkan telapak tangannya. Ia kemudian mengepalkan kedua tangannya menumpuknya. Ia membungkus satu ibu jari dengan telapak tangannya yang lain.

"Hmmph~" Fang berpura-pura menarik ibu jarinya dan membuat suara 'pluk' dengan decakkan lidahnya dan menunjukkan ibu jari tangan lain sementara ibu jari tangan satunya dikepal ke dalam.

"Lihat, lepas," katanya.

Yaya, Ying dan Gopal bahkan tidak bisa berkomentar. Itu sulap paling sederhana yang pernah mereka lihat.

"WUAAAH! KEREEEN! LAGI-LAGI!" seru Api, melonjak kegirangan, membuat mereka semua sweatdrop.

"Dia simpel banget," komentar Gopal lirih, baru ingat kalau perhatian Api memang mudah teralihkan.

Fang menyilangkan kedua kakinya dan duduk bersila sementara Api duduk di depannya dengan wajah sangat senang.

Semuanya hanya bisa tersenyum tipis melihat Api dihibur dengan sulap-sulap murahan oleh Fang. Tapi, yang menyedihkan, Api benar-benar senang. Memperlihatkan bagaimana sebenarnya persona itu stres selama ini.

Bayangan gelap yang bergerak dan menghantuinya setiap hari pasti menyiksa mentalnya.

"Fang! Kita masih harus mencari Boboiboy lho!" seru Ying, mengingatkan pemilik kuasa bayang tersebut.

Fang menoleh dan mengangguk, ia bangkit, agak sedikit tidak tega melihat wajah sedih Api. Entah kenapa, Api memang seperti anak-anak, Fang menganggapnya lebih muda dari Boboiboy yang biasa bertemu dengannya.

"Bayangan itu bukan sesuatu yang harus kau takuti," kata Fang, membetulkan kacamatanya. Api tidak mengatakan apa-apa. Memang yang ditakuti, bukan bayangannya, tapi apa sebenarnya bayangan itu.

"Hm... makasih," kata Api, menyugingkan senyum kekanakan.

Fang tersenyum tipis dan kembali kepada teman-temannya. Mereka masih harus mencari Boboiboy.

IoI

"Kalau tidak ada di sini berarti...," Balance menggumam namun terdengar oleh semua teman Boboiboy.

"Masih ada ruangan lain?" tanya Gopal, sadar kalau mereka semua sudah bertemu dengan semua persona Elemental Boboiboy.

Balance tidak mengatakan apapun, ia hanya melangkah lagi. Semua teman Boboiboy tidak punya pilihan selain mengikutinya. Mereka tidak menemukan Boboiboy bersama dengan salah satu persona miliknya, sebenarnya dimana Boboiboy berada?

Semakin mereka melangkah jauh, pemandangan berubah perlahan menjadi gelap. Warna-warna yang berpendar di atas langit digantikan dengan warna hitam kelam. Semuanya menjadi takut dan berjalan lebih rapat dengan satu sama lain. Hanya Balance yang berjalan jauh di depan.

"Kita mau kemana?" tanya Ying, takut dengan suasana tempat mereka berada.

"Kau akan tahu," kata Balance, seperti biasa, ambigu.

Akhirnya merika bisa melihat sesuatu selain warna hitam.

Ada sebuah danau di depan mereka dengan air yang sedikit memancarkan cahaya.

Saat mereka semua akhirnya sampai ke tepinya, mata mereka terbelalak menemukan sosok teman yang mereka cari selama ini tenggelam di dalamnya.

"Boboi-" belum sempat mereka terjun, Balance sudah mencegat mereka.

"Kalau kalian masuk, kalian hanya akan tenggelam sepertinya," Balance memberi peringatan.

"Kalau begitu kau?" tanya Fang. Balance menggeleng.

"Aku juga akan tenggelam."

"Lalu bagaimana cara kita menyelamatkannya?" tanya Yaya dengan kesal, Balance hanya diam dan menatap lirih pada Boboiboy yang tenggelam di dasar danau.

"Kita cuma bisa menunggu," jawab Balance. Semuanya terkejut dan menatap Boboiboy yang ada jauh di bawah air.

Mereka ada di dalam alam bawah sadar, jadi sepertinya Boboiboy tidak akan mati tenggelam. Namun, mereka paham kalau mereka tidak bisa mengeluarkan Boboiboy dari tempat ini, Boboiboy akan tidur selamanya.

Itu sama saja dengan mati.

"Sebenarnya air apa ini...?" tanya Gopal, penasaran dengan air danau yang jernih, sedikit memancarkan cahaya namun pada saat yang sama memberikan perasaan yang tak enak di dalam dada.

Balance tidak mengucapkan apapun, dari wajahnya, tampaknya ia tak akan mau menjawab pertanyaan itu.

"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Ying, duduk dengan lemas.

"Untuk apa kita kemari kalau begitu?" seru Yaya kesal. Ia paling kesal saat tidak bisa melakukan apapun.

"Kalian salah sangka."

Mereka semua menatap Balance yang berdiri jauh dari mereka, menatap air danau dengan pandangan yang sedikit aneh.

"Kalian pikir, Boboiboy selemah itu?" tanyanya.

Mereka semua hanya mengerjapkan mata.

"Selama ini, ia selalu bisa bangkit, sesulit apapun keadaannya. Seberat apapun rintangannya. Kalian harus percaya padanya," kata Balance, menutup matanya.

Fang menatap sosok 'Boboiboy' misterius itu dengan penuh selidik.

"Kau sebenarnya apa?" tanyanya.

Balance menatap Fang dalam diam.

"Kau bukan salah satu persona Boboiboy, apa kau salah satu 'emosi' Boboiboy yang tersisa?" tanya Fang lagi.

Balance mendengus pelan.

"Nama lainku, selain Balance, adalah Subconscious. Artinya, Alam Bawah Sadar."

Mereka semua hanya terperanjat.

"Maksudnya?" tanya Gopal tidak mengerti.

"Aku adalah tempat ini, bisa dibilang personifikasi dari Alam Bawah Sadar," jelas Balance. Ia kemudian menatap Boboiboy yang tenggelam di dasar danau.

"Dan dia, Conscious, artinya, Alam Sadar, dengan kata lain sosok Boboiboy yang sadar di dunia nyata dan kalian kenal selama ini," kata Balance lagi.

"Aku masih tidak mengerti...," Gopal tersenyum nervous. Balance hanya menutup matanya.

"Tidak masalah, ini semua memang membingungkan. Singkatnya, aku cuma sosok Boboiboy yang tidak kalian tahu selama ini," jawab Balance dengan lirih.

"Tapi, yang memegang kendali kesadaran adalah Boboiboy yang di bawah sana, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat Boboiboy sadar. Kalau ia masih ada di bawah sana, ia tidak akan sadar," jelas Balance lagi.

Semuanya terdiam dan menatap Boboiboy di bawah sana.

"Tapi ia kuat, aku tahu itu," kata Balance lagi, menutup penjelasannya.

Yaya menggigit bibirnya. Ia ingin sekali langsung terjun dan menolong temannya itu. Namun, ia tahu, Balance tidak mungkin berbohong. Kalau ia tenggelam, hanya akan menambah masalah.

"BOBOIBOY!" serunya keras, merasa putus asa.

"Boboiboy! Bangun! Kau harus berenang ke atas sekarang!" seru Ying, mengikuti tindakan Yaya.

"Boboiboy! Ayolah! Aku tahu kau bisa!" seru Gopal.

Fang mendengus. "Kau tidak keberatan aku yang akan jadi paling populer sekarang?" ujar Fang. Semuanya menatapnya, namun pemuda cina itu tidak mau peduli.

"Boboiboy!"

"Ayo Boboioy bangun!"

"Boboiboy!"

Balance hanya memperhatikan semua itu dari kejauhan. Perlahan, sebuah senyum kecil mengulum di bibirnya.

IoI

Rasanya sangat pilu...

Juga sangat berat...

Rasanya sesak dan menyakitkan...

Tubuhnya tidak mau bergerak...

Namun, samar-samar ia merasakan ada seseorang, tidak, orang-orang yang memanggilnya di kejauhan.

Ia tahu ia harus bangun.

Namun rasa sangat berat...sangat lelah, sangat sedih... ia ingin menangis, ia ingin berteriak, ia ingin semuanya berakhir tanpa rasa sakit...

"Boboiboy!"

Tapi, ia harus pergi ke arah sumber suara itu...

Ia harus bangun...

Ia harus bangun...

Banyak yang harus ia lakukan...

Tapi ia sangat lelah, ia merasa ingin semua menghilang... temasuk dirinya sendiri...

"Boboiboy!"

Tidak boleh!

Ada orang-orang yang menantinya... ya... ada orang-orang yang menantikan kepulangannya...

Karena itu, ia harus pulang...

IoI

"BOBOIBOY!"

Balance memperhatikan bagaimana Boboiboy sadar, terkejut, panik dan bingung berada di dalam air. Semua temannya panik dan menyahut lebih keras.

Boboiboy mencoba berenang ke atas, namun ia tak bisa naik ke permukaan.

Tentu saja, memang tidak akan semudah itu...

Namun, semua teman-teman Boboiboy terus memberi semangat, menyahut, hingga pita suara mereka hampir putus.

Air bergejolak, Balance menggenggam dadanya. Air yang mulai merembes ke luar danau dan bercipratan di sana-sini. Balance hanya mengernyit kesakitan, namun tidak mau teriak karena tidak mau mengganggu.

Rasa pilu, sakit, sedih menyerang kepala Balance. Ia bisa merasakan bagaimana semua persona Elemental meronta di dalam ruangan mereka masing-masing, jeritan dan raungan yang tak terdengar.

"Boboiboy!"

Balance melihat bagaimana teman-teman Boboiboy menarik 'Conscious' dari air.

Boboiboy batuk hebat, namun dia masih utuh dan terlihat akan baik-baik saja.

Balance mendesah lega dan menghampiri mereka semua. Setidaknya semuanya sudah berakhir sekarang dan keseimbangan akan kembali lagi.

"Saatnya kalian kembali ke dunia nyata," kata Balance, tidak memberikan peringatan dan mengembalikan mereka semua kembali ke dunia asal mereka.

IoI

"Boboiboy! Boboiboy!"

"Uuuh... Ochobot?"

"Syukurlah kau sudah sadar!" seru robot bulat kuning tersebut, berhambur ke dada Boboiboy. Boboiboy hanya sedikit kebingungan namun tersenyum dan memeluk balik robot tersebut.

"Untunglah kau sudah sadar...," kata Tok Aba di samping tempat tidur Boboiboy.

Sang cucu hanya bisa membalas senyum namun kemudian bingung melihat semua temannya terkapar di sekeliling tempat tidurnya.

Belum sempat ia berteriak panik, satu persatu dari mereka terbangun.

"Uuuh..."

"Aduuuh..."

"Semuanya! Kalian sudah bangun! Kalian sudah berhasil!" seru Ochobot senang, semuanya bangun kembali tanpa ada pengecualian.

"Apa yang terjadi?" tanya Boboiboy tidak mengerti.

"Panjang ceritanya... kau pasti lelah, istirahatlah dulu," saran Tok Aba. Boboiboy menatapnya dengan ragu, namun ia memang merasa sangat lelah. Aneh, padahal dia baru bangun tidur.

Boboiboy berbaring kembali dan dengan segera terlelap.

"Kita bangun, dia malah tidur lagi," gerutu Gopal, segera disikut oleh Ying.

"Tak apalah, dia pasti capek," tegur gadis cina tersebut.

"Bagaimana kalian menyelamatkan Boboiboy?" tanya Tok Aba, dipenuhi rasa terima kasih karena cucunya sudah bangun kembali.

Mereka semua membuka mulut namun tak ada kata yang keluar, mereka mengerjap dan terlihat kebingungan.

"Lho? Aku tidak ingat apa-apa...," gumam Gopal.

"Aku juga!" seru Ying bingung.

"A-aku juga tidak ingat...," Yaya gelagapan, padahal biasanya ia tidak pelupa.

"Sama, aku juga," kata Fang, merasa lebih lega karena bukan cuma dia yang lupa.

"Ya sudahlah, yang penting kan semuanya baik-baik saja...," hibur Ochobot.

Fang, Ying, Yaya dan Gopal merasa sedikit tidak puas. Mereka samar-samar masih ingat persaan pilu, sedih, panik dan berbagai hal lainnya. Tampaknya, mereka mengalami banyak hal di dalam alam bawah sadar Boboiboy, tapi mereka sama sekali tak ingat apa yang terjadi.

"Kalian juga pasti lelah, pulanglah dan cepat istirahat," saran Tok Aba. Mereka semua hanya mampu saling pandang dan mengangguk.

Meski ada yang mengganjal, tapi setidaknya semuanya sudah baik-baik saja sekarang.

End


Air nggak muncul.

Kenapa? Ya karena dia belum muncul di kartunnya. Sebenarnya ada ruangan baru di alam bawah sadar Boboiboy, tapi belum bisa dibuka. Tapi karena terlalu ngehints kalau bakal ada elemental baru, jadi nggak kumasukkin.

Soal air di danau itu, itu bukan dari Air. Tapi... itu semacam kesedihan yang dipendam Boboiboy, kayak air mata yang selama ini nggak menetes, cuma bisa ditampung di suatu tempat sampai tempat itu kehabisan tempat. Makanya, Boboiboy tenggelam di dalam sana, makanya Balance juga nggak bisa masuk ke sana. Kenapa yang lain nggak boleh masuk? Nanti mereka ikut tenggelam dalam kesedihan Boboiboy juga...

Dan... ini pertama kalinya aku nulis Api, bukan masuk character study! Hehe...

Sorry ya, fanfic ini jelek dan membingungkan. Mimpi apa bikin ginian?

Udahlah...

Silahkan review bila berkenan...