"THAT PERSON"
.
-DoIl OneShot-
.
_
Doyoung pertama melihatnya saat masa orientasi siswa menengah pertama.
Doyoung adalah adik yang dibimbing oleh Taeil. Dan sejak saat itu ia menyukainya.
Menyukai kakak kelas yang berbeda 2 tahun darinya. Bagi Doyoung, Taeil adalah orang yang baik dan berhati lembut, ia bahkan menangis saat Doyoung dan teman-temannya memberi cokelat dan ucapan terima kasih saat hari terakhir orientasi. Doyoung semakin menyukainya.
"Doyoung-ah, siapa cinta pertamamu?" Tanya temannya. Dulu, Doyoung akan menjawab "buku dan perpustakaan". Namun sekarang ia memiliki jawaban lain, "aku menyukai dal (bulan)".
Doyoung menyukai bagaimana Taeil bernyanyi. Suaranya begitu lembut dan ia dapat mencapai nada tinggi dengan stabil. Dari situ juga, Doyoung jadi ingin bernyanyi seperti Taeil. Doyoung sangat ingin mendapat perhatian dari Taeil, maka itu ia mulai mengejar Taeil. Namun, dalam diam.
"Taeil-ah, kau merasa ada yang mengikutimu?" Tanya temannya. Taeil hanya mengangkat bahunya.
"Aku tidak tahu, mungkin saja, aku tidak peduli" kata Taeil menjauh. Meninggalkan Doyoung yang mengintip dibalik tembok.
"Taeil-sunbae akan bernyanyi saat perpisahan, tapi ia belum menemukan pasangan bernyanyinya" kata seorang temannya. Doyoung yang mendengar itu semangat, jiwa kompetitifnya naik.
Ia berlatih vokal mati-matian agar bisa mendapat posisi sebagai partner bernyanyi Taeil.
Tapi usahanya sia-sia saat ia di karantina untuk olimpiade matematika nasional.
Doyoung patah hati, ia tetap memenangkan mendali emas, tetapi ia tidak tahu harus dipamerkan ke siapa. Toh, Taeil sudah lulus.
.
.
Tak terasa, sudah lewat 2 tahun, dan Doyoung masih menyimpan perasaannya untuk Taeil. Dan di ujian kelulusannya kali ini, ia memantapkan diri untuk masuk ke sekolah menengah atas yang sama dengan Taeil!
"Kau yakin masuk ke sekolah seni nak?" Tanya ibunya. Doyoung mengangguk mantap, "ya! Aku akan masuk ke Seoul art school!"
"Kenapa tidak masuk ke sekolah biasa saja? eomma kira kau tertarik di matematika". "Ah itu.. aku.. lebih berminat di musik.. aku ingin menjadi penyanyi hebat! (Dan menunjukkannya didepan Taeil)" jawab Doyoung.
"Baiklah jika itu keputusanmu, eomma hanya bisa mendukungmu" ibunya tersenyum dan mengelus kepalanya.
Doyoung benar-benar bekerja keras agar ia bisa masuk ke Seoul Art School, ia tidak hanya berusaha di akademis, tetapi juga di seni. Ia terus meningkatkan vokalnya, bahkan ia sering ditegur ibunya karena terlalu sering bernyanyi di kamar mandi.
Namun usahanya berbuah manis, ia lulus dengan nilai tertinggi, dan diterima di sekolah pilihannya. Ia memegang surat pemberitahuan penerimaan siswa dan berteriak di balkonnya, "Dal-hyung! Aku datang!!!"
.
.
Hari pertama Doyoung sangat gugup. Setelah 2 tahun tidak bertemu dengan Taeil, sekarang ia akan kembali bertemu pujaan hatinya.
"Dimana dia? Dimana??" Doyoung mengedarkan pandangannya ke sekeliling anggota OSIS dan para siswa baru. Dan tidak menemukan sosok yang ia cari.
Bahunya turun kecewa.
"Oi! Kelinci!" Ada yang berteriak, Doyoung diam saja. Toh, dia tidak merasa terpanggil.
"Kelinci disana! Yang pakai seragam SMP negeri!" Teriak orang itu lagi. Oke, kali ini Doyoung mulai menengok, mencari sumber suara. Ia merasa karena ia memakai seragam SMP negeri. Dan ia menemukan seseorang, senior dengan tinggi menjulang dan beberapa siswa berkumpul dibelakangnya.
"Kau grup A kan? Kemarilah!" Senior itu memanggil Doyoung.
"Aku John Seo, mentor kalian selama masa orientasi. Jadi tolong bantuan dan kerja samanya" senior itu memperkenalkan diri. Dan selama perkenalan itu juga Doyoung tidak fokus, ia masih memikirkan Taeil. Apa benar ia sekolah disini? Apa jangan-jangan ia salah daftar sekolah? Kenapa ia belum menemukan batang hidung Taeil?
Doyoung terus berpikir sampai ada suara yang menginterupsi pikirannya. "Johnny..!" Bukan teriakan kencang, hanya panggilan. Orang itu sedikit berlari kearah sang mentor.
"Ada apa Taeil-hyung?" Tanya Johnny.
Tunggu.
Siapa?
Doyoung mengangkat kepalanya dan matanya membulat saat melihat orang yang memanggil Johnny. Itu.. Taeil!
Setelah sekian lama akhirnya ia menemukan sunbae kesayangannya. Pujaan hatinya. Dan dimatanya, Taeil terlihat makin manis dengan rambut yang diwarnai agak kecoklatan dan rambutnya juga sedikit lebih panjang.
Menambah kadar kemanisan seorang Moon Taeil menjadi 10000%.
Doyoung menunduk, lalu ia berpikir. Kali ini ia tidak boleh kehilangan kesempatan lagi. Ia harus mendapatkan perhatian Moon Taeil. Ya! Doyoung tidak mau lagi bersembunyi seperti saat dia masih di menengah pertama, masa SMA-nya harus indah seperti di novel percintaan!
"Hei, mereka terlihat dekat"
"Siapa? Mentor kita dengan senior itu?"
Doyoung jelas tahu siapa yang mereka sebut senior itu. Tapi ia memutuskan untuk terus menguping daripada mengangkat kepalanya.
"Mereka terlihat cocok, Johnny-sunbae yang badannya besar cocok untuk menenggelamkan sunbae itu dipelukannya"
"Oh ya, aku mendengar desus kalau Johnny-sunbae sudah memiliki kekasih"
"Oh! Apa kekasihnya sunbae itu?"
Cukup.
Telinga doyoung panas.
Doyoung mengangkat kepalanya Tan melihat Johnny yang sedang mengusak rambut Taeil, dan Taeil yang memberonta.
Doyoung hanya tersenyum getir, apa saja yang sudah ia lewatkan selama 2 tahun belakangan?
"Ish, jangan mengacak rambutku! Kuadukan ke pacarmu baru kau tahu!" Doyoung tidak sengaja mendengar omelan Taeil.
Jadi? Taeil bukan pacar Johnny? Biarkan Doyoung menjadi anak gereja minggu ini.
Selesai hari pertama, saat Doyoung akan mengambil sepatunya, Taeil lewat di hadapannya dengan beberapa temannya. Sambil tertawa dan bercanda.
"Hyung.." Doyoung ingin menguruk mulutnya yang sudah kelepasan memanggil Taeil, juga tangannya yang secara reflek memegang tangan Taeil.
Taeil tertahan, ia lalu menatap Doyoung. Memberi isyarat ke teman-temannya untuk pergi lebih dulu. Dan disana hanya ada Doyoung dan Taeil. "maaf, apa kita saling mengenal?" Tanya Taeil.
"Ah, itu hyung -eh, sunbae.. aku adik yang dimentorimu saat SMP, Doyoung.. Kim Doyoung" kata Doyoung.
"Doyoung..? Ah! Kim Doyoung yang itu.. tak kusangka kau masuk ke sini, kukira kau lebih suka di sekolah formal" kata Taeil. Rasanya Doyoung berbunga-bunga saat mendengar Taeil mengingatnya.
"A..ah.. aku ingin menjadi penyanyi sunbae.." kata Doyoung menggaruk tengkuknya.
"Bagus! Kau bisa menjadi penyanyi hebat, kau tampan, agensi besar pasti banyak yang mengincarmu!" Kata Taeil tersenyum. "Ya sunbae! Karena itu siapkan kertas dan pulpen, karena aku akan segera terkenal! Hahahaha" canda Doyoung. Taeil hanya tertawa.
"Kau berminat ikut klub musik? Aku juga berada di sana" tawar Taeil. Doyoung mengangguk cepat, kapan lagi kesempatan ini datang?
"Aku akan ikut, Hyung!(aku akan ikut Hyung kemanapun Hyung pergi!)" Kata Doyoung, setengah kalimatnya berlanjut didalam hatinya.
"Bagus! Aku pergi dulu!" Taeil menepuk bahu Doyoung dan pergi.
Doyoung menyentuh bahunya, sentuhan langsung itu membuat jantung Doyoung berdetak kencang. Dan keinginannya untuk mendapatkan Taeil semakin besar.
Hyung manisnya itu akan jatuh ke pelukannya! 1000%!
.
.
Doyoung benar-benar masuk ke klub musik, dan di sub Vokal. Satu sub dengan Taeil. Dan Doyoung berusaha sangat keras untuk bisa setara dengan Taeil.
"Oke, jadi kita akan mengisi acara amal sekolah, dari klub kita sendiri mengajukan banyak perwakilan.. dari sub instrumen ada Himchan, Chanyeol, dan Jihoon, dan dari sub Vokal ada Jaehyun, Taeil, dan Doyoung"
Doyoung sangat ingin melompat saking bahagianya karena namanya tersebut. Dia akan satu projek dengan Taeil! Kesempatannya mendapatkan Taeil semakin dekat!
Jadi sub-nya sekarang sedang berdiskusi tentang pembagian lagu, mereka akan perform bersama sub instrumen
"Jadi ini bagian ku, lalu setelah part Doyoung dilanjutkan Taeil-hyung.." jelas Jaehyun membagikan bagian bernyanyi dengan stabilo warna.
Doyoung memperhatikan Taeil, Taeil tidak banyak bicara dan hanya memperhatikan ucapan Jaehyun. Kadang saat Taeil melakukan kontak mata dengan Doyoung, ia akan tersenyum canggung dan menunduk, kembali memfokuskan dirinya dengan topik Jaehyun.
Dan Doyoung mengulum senyumnya gemas. Seniornya ini sangat manis. Doyoung jadi ingin memasukkan Taeil kedalam ranselnya :)
.
.
Setelah berlatih keras dan melaksanan showcase yang meriah, mereka beristirahat di depan aula.
"Hyung tadi itu sangat hebat!" Kata Doyoung.
Taeil hanya tersenyum, dan Jaehyun tertawa.
"Hyung kenapa diam saja? Bicaralah sesuatu.. apa penampilanku baik? Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Doyoung, Taeil hanya tersenyum dan menggeleng.
"Hyung! Aku yakin orang agensi itu akan menarikmu!" Kata Jaehyun.
"Agensi apa?" Tanya Doyoung.
"Kau tidak tahu? Tiap acara amal seperti ini biasanya ada orang dari agensi besar yang mencari bakat dan mendaftarkannya ke list trainee yang sedia debut!" Jelas Jaehyun.
Doyoung diam, kenapa ia tidak tahu? Kalau ia tahu, ia akan berusaha lebih keras lagi. Karena jelas kalau ia berhasil menjadi trainee itu, ia bisa membuat Taeil melihatnya.
"Moon Taeil, kau dipanggil ke ruang komite" kata seorang staff.
Taeil tersenyum, lalu mengangguk. Dan ia pergi dari sana.
"Hey, kau merasa aneh?" Tanya Jaehyun.
"Aneh apa?"
"Taeil-hyung jadi diam.. lebih diam dari sebelumnya.." kata Jaehyun. Doyoung mengangguk. Ia juga merasa kalau Taeil lebih diam dari kemarin-kemarin
"Tapi aku khawatir..". Doyoung memperhatikan Jaehyun, "karena tadi pagi ia mengeluh suaranya sedikit serak"
Baru akan menimpali, Doyoung dipanggil staff yang sama, ke ruangan komite juga.
"Ada apa? Kenapa aku juga dipanggil?" Tanya Doyoung penasaran.
"Tidak tahu, kepala komite menyuruhku memanggilmu"
Doyoung merasa kalau ini kesempatan bagus. kalau ternyata ia yang dipilih sebagai trainee khusus, ia akan mengajak Taeil kencan sore ini! Ya! Sore ini!
Ia membuka pintu ruang komite perlahan. "Permisi.."
"Nah, itu dia, penggantimu" kata ketua komite itu. Sejenak Doyoung tidak mengerti, tapi begitu ia melihat kepala komite bicara dengan siapa, ia terkejut.
"Maaf Taeil-ssi, kau harus tersingkir"
Begitu Taeil berbalik, ia bisa melihat Taeil dengan matanya yang sembab. Berjalan perlahan kearah pintu.
"Selamat" ucapnya pelan, sangat pelan. Doyoung hampir tidak bisa mendengarnya.
.
.
2 tahun kemudian..Taeil keluar dari ruangan klub musik, ia habis memberi arahan kepada anggota klub yang ikut berpartisipasi dalam konser amal sekolah.
Ah.. konser amal..
Taeil pertama dekat dengannya disini, di acara ini.
Ya, siapa lagi kalau bukan Kim Doyoung.
Junior yang sudah membuat Taeil menangis 2 hari dan sampai masuk rumah sakit karena down saat Doyoung menggantikan posisinya sebagai trainee khusus.
Padahal itu adalah impiannya.
Tapi ya sudahlah, masalah itu sudah lewat, Taeil hanya bisa menghela nafas kalau mengingat itu. Ia sudah bekerja begitu keras namun hasilnya ia digantikan karena suaranya yang hampir habis setelah konser amal.
Ia pergi ke aula, ruangan yang sedang di dekorasi. Dekorasi yang sama seperti 2 tahun lalu.
"Siapa bintang tamunya?" Tanya Taeil ke Jaehyun yang kebetulan sedang mencatat sesuatu di papan jalan.
"Ung? Oh, halo Hyung! Kami mengundang artis lokal untuk acara kali ini" jawab Jaehyun.
Taeil hanya mengangguk.
Ia berjalan, sesekali tersenyum kepada junior yang menyapanya.
Ia berhenti didepan stage, dimana dulu dia tampil. Nah kan, ia jadi flashback. Ia membelakangi panggungnya, memperhatikan orang-orang mulai keluar dari aula karena ada bintang tamu yang akan melakukan rehearsal.
"Kudengar itu Kim Doyoung!"
"Benarkah? Kim Doyoung trainee spesial itu?!"
"Aku harus melihatnya!"
Tunggu
Kim Doyoung?
.
.
Doyoung sedang menghafal lirik di balik panggung bersama pasangan bernyanyinya, Koeun.
Trainee SM entertainment yang sedang sibuk untuk menyambut debutnya itu menyempatkan diri untuk datang ke sekolahnya untuk menghadiri konser amal.
Ia mengintip stage dari balik tirai, masih sama. Masih sama seperti dulu, saat ia tampil bersama Taeil dan Jaehyun.
Ah, bicara soal Taeil, Doyoung masih menyukainya. Doyoung masih menyimpan perasaannya rapat untuk Taeil, dan hanya Taeil.
Ia merindukan senior pendeknya itu, senyumnya yang manis, terlebih saat kedua pipi itu memerah, ugh, ransel Doyoung sudah sedia untuk Taeil.
"Doyoung-ssi, dan Koeun-ssi, silahkan naik ke stage untuk rehearsal" kata seorang staff.
Doyoung naik ke stage, dan ia terkejut melihat punggung seseorang.
Punggung yang sangat ia rindukan.
Doyoung tersenyum tipis, rambutnya masih sama panjangnya seperti 2 tahun lalu, hanya saja warnanya sudah berwarna hitam. Coat coklat kebesarannya menenggelamkan tangan dan jari-jarinya. Uhh, Doyoung sangat ingin memeluknya sekarang, saking rindunya.
Musik dimulai, Taeil yang terkejut reflek berbalik, dan ia melihat Doyoung dan Koeun yang sedang bernyanyi.
Taeil bahkan tidak berkedip.
Mereka menyanyikan lagu 'beauty and the beast'. cocok sekali. Dan sangat menyentuh.
Saking menyentuhnya, Taeil tidak bisa menahan air matanya, dan meluncur begitu saja dari matanya. Doyoung reflek berlari dan turun stage untuk menghampiri Taeil, namun Taeil malah berlari menjauh.
"H..Hyung! Tunggu.." namun Doyoung tidak bisa mengejar Taeil karena ia masih harus rehearsal.
Taeil berlari ke toilet, entah kenapa ia ingin ke toilet.
"Kenapa ini tidak mau berhenti? Kenapa? Kenapa benda ini keluar??" Taeil mengusap matanya berkali-kali, dan ia masih mengeluarkan air matanya.
Apa karena Doyoung? Tapi kenapa?
Hatinya berdetak kencang begitu bertemu mata dengan Doyoung, namun ada denyutan lain yang membuat ia ingin menangis.
"Aku tidak mengerti.. kenapa ini sangat sakit.." Taeil memukul dadanya sendiri.
.
.
Acaranya sudah dimulai, konser amal sekolah.
Sudah diisi berbagai murid yang menampilkan bakatnya, dan sekarang saatnya muncul bintang tamu, dan entah kenapa rasanya Taeil ingin pergi dari tempat itu.
Dan kenapa pula Johnny membawanya ke kursi paling depan tepat didepan stage.
Lampu diredupkan, musik mulai mengalun, dan muncul Doyoung dan Koeun menyanyikan lagu yang kemarin mereka latih.
Tapi kali ini sedikit berbeda, karena setelah lagu habis, lampu tiba-tiba mati dan ada yang menarik Taeil pergi dari sana.
"Ya..ya! Lepas..!" Ronta Taeil.
Mereka lalu sampai di rooftop.
Dan dibawah cahaya bulan, ia bisa melihat orang yang menariknya.
"Do.. Doyoung?" Bingung Taeil.
"Hyung, aku ingin mengatakan sesuatu" kata Doyoung masih memegang erat tangan Taeil, malah sekarang ia memegang erat kedua tangannya.
Taeil hanya menatap Doyoung bingung.
"Aku.. sudah lama memperhatikanmu.. lama sekali.. sejak aku masuk sekolah menengah pertama, dan aku menyukaimu.." kata Doyoung. Taeil bersemu, ia menundukkan kepalanya.
"Aku diam-diam memperhatikanmu dari jauh, aku tidak berani mengatakannya karena kau senior ku, aku takut kau akan menolakku, karena aku tidak pernah muncul di hadapanmu.." lanjut Doyoung.
"Jadi.. orang yang selalu mengikutiku itu.. kau?" Tanya Taeil, Doyoung mengangguk. "Aku Hyung, aku terlalu takut mengutarakannya karena aku pikir kau pasti akan langsung menolakku"
"Lalu saat aku lulus menengah pertama, aku memutuskan untuk masuk sekolah yang sama dengamu.. karena aku ingin menunjukkan diriku didepanmu.. ingin menunjukkan kalau aku ada"
"Saat masa orientasi, aku senang bisa melihatmu kembali, dan aku semakin ingin menunjukkan diriku didepanmu.. dan aku tidak sengaja memanggilmu, dan dari situ aku merasa kalau kesempatan meraihmu semakin dekat.."
"Aku mengikuti setiap langkahmu, aku berlatih keras agar bisa satu stage denganmu saat konser amal waktu itu.. dan benar aku bisa satu stage denganmu! Aku senang!"
"Dan aku tidak tahu kalau suaramu habis, aku juga tidak tahu kalau ada pemilihan trainee khusus, aku tidak tahu apa-apa.. makanya saat aku tahu aku akan menggantikan posisi trainee khusus itu, aku sangat senang.. aku pikir aku bisa membuatmu melihatku dengan mata yang berbinar, aku bahkan berencana mengajakmu kencan saat itu juga Hyung..!"
Taeil kembali menunduk, wajahnya sudah sangat merah. Ia ingin kabur dari situasi ini secepatnya.
".. tapi begitu tahu kalau aku menggantikanmu, aku ikut sedih, apalagi kata Jaehyun ini adalah impianmu.. aku sudah merebut impian orang yang ku suka.. aku sangat ingin mundur.. tapi itu adalah satu-satunya kesempatanku.."
"Seminggu lagi aku debut" Doyoung tersenyum lebar, membuat Taeil ikut tersenyum. "Selamat" kata Taeil.
"Hanya itu Hyung?"
Taeil mengangguk, "ya, hanya itu.. apalagi?"
Doyoung memajukan wajahnya dan mengecup bibir Taeil dengan cepat.
Taeil terkejut dan membolakan matanya. "A..apa yang kau.."
"Hyung.. kurasa aku sudah cukup menunggu, aku bosan menunggu.. selama 2 tahun aku tidak melihatmu, rasanya sangat hampa.. saat pertama melihatmu aku sangat ingin memelukmu dan mengatakan seberapa aku merindukanmu.."
"Jadi sekarang.. Hyung, maukah kau menjadi kekasihku? Kumohon.. aku sudah menunggu selama 6 tahun untuk mengatakan ini Hyung.." Doyoung menatap lurus ke mata Taeil, genggamannya mengerat.
Taeil tidak mengatakan apapun, ia melepas genggamannya, dan mencium bibir Doyoung.
Doyoung pun, tanpa perlu mendengar jawaban dari Taeil, ia sudah tahu jawabannya.
"Gomawo Hyung.." katanya saat Taeil melepas ciumannya, dan tertawa gemas saat hyungnya itu menyembunyikan wajahnya malu di ceruk leher Doyoung.
.
.
Doyoung berjalan dengan wajah yang berseri, berbeda dengan Taeil yang masih malu-malu, karena Doyoung terang-terangan menautkan jari mereka di sepanjang jalan.
Tanpa Taeil sadar, Doyoung menarik Taeil ke atas stage dan mengambil mic.
"Yeorobun! Aku ingin memperkenalkan seseorang!"
Taeil langsung bersembunyi dibalik Doyoung, tidak mau menampakkan wajahnya.
Doyoung menarik Taeil yang menutup wajahnya.
"Moon Taeil-sunbaenim! Adalah kekasihku sekarang!" Katanya dengan bahagia merangkul pinggang Taeil.
.
.
Dan para alumni memaksa Taeil, doyong, dan Jaehyun untuk kembali menyanyikan lagu 'without you' seperti dua tahun lalu.
"Keobeorin aicheoreom
Honjadoen namucheoreom
Oerowo jichin nugungaui sesangeul bwa
(Seperti anak kecil yang tumbuh dewasa
Seperti pohon yang tumbuh sendiri
Seseorang yang sedang kesepian dan letih
Lihatlah dunia mereka)" -Doyoung
"Barago baraetdeongeol
Gyeolgugeun chajji mothae
Millyeonatdeon jaui
Gamchuryeodeon sangcheoreul bwa
(Hal yang ku harapkan dan ku inginkan yang akhirnya tidak bisa ku temukan
Lihatlah bekas luka yang telah disembunyikan karna kegagalan)" -Jaehyun
"Urin oetoriro taeeona
Jom neurin nawa gachi georeojul
Nugungareul gidaryeo
(Kita terlahir kesepian
Aku menunggu seseorang yang akan berjalan bersama denganku dengan lambat)" -Taeil
"Nae soneul jaba woneul geuryeo
I mankeum nanwo gajin geojanha
Nae on maeumi ne gyeote
Ne kkumi nae gyeote
Sandaneun geo gyeondineun geo
Hamkkeramyeon jogeum deo haengbokhaejyeo
Kkeuteopsi yeongyeoldwae dasi
Can't live without you
(Genggamlah tanganku, membentuk sebuah lingkaran
Ini akan berapa banyak kita saling berbagi
Seluruh hatiku ada di sisimu.
Mimpimu di sisiku
Hidup dan bertahan
Jika kita bersama-sama, kita dapat sedikit kebahagiaan
Sekali lagi, kita terhubung tanpa akhir
Tidak bisa hidup tanpamu)"
Doyoung memegang erat tangan Taeil selama bernyanyi.
Kebahagiaannya sudah berhasil ia dapat, penantiannya selama 6 tahun terbayar sudah.
Dan ia bahagia.
.
.
.
.
.
.
End.
ura suka doyoung seme, jangan hujat ura ;-;
