Furihata Kouki, 12 tahun, pelajar SD. Status: belum mau pacaran.

Jika dibandingkan dengan anak sebayanya, hidupnya bisa dibilang jauh dari kata cukup. Ayahnya hanya bekerja sebagai tukang gali kubur sehingga penghasilan dari itu tidaklah seberapa. Uang yang keluarga mereka dapatkan hanya cukup untuk membuat mereka tinggal di sebuah kontrakan kecil di pinggir kota, makan terkadang hanya dengan nasi putih saja, dan sekolah di SD Seirin; sekolah paling murah yang pernah ada.

Sudah jadi rahasia umum kalau sekolah itu memang kurang laku. Alasannya sederhana, setiap musim hujan melanda, banjir tak pernah absen mengunjungi sekolah itu. Makanya, tak jarang Kouki berangkat sekolah pagi-pagi hanya untuk berlumpur-lumpur ria di sekolah. Anak-anak sih senang-senang saja, guru-guru yang stress karena khawatir kompetensi dasar pelajaran selama setahun jadi tidak selesai karena banyak kendala.

Mungkin kalian akan berpikir bahwa Kouki merasa bosan hidup atau semacamnya karena hidupnya begitu menyedihkan. Tapi, tidak. Tidak sama sekali. Justru ia merasa hidupnya begitu lengkap. Ia punya dua orang tua, lengkap dan sehat. Papa Junpei dan Mama Riko yang hampir setiap hari memainkan lakon suami-suami takut istri di hadapannya, serta teman-teman sepermainannya yang setia dan selalu ada di sisinya.

Tapi, sepertinya takdir sedang ingin bercanda sedikit dengan si pecinta anjing chihuahua kita yang penakut itu.


Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

Rentenir dan si Miskin (c) Erry-kun

.

.

.

Warning: OOC, typo, AU, shounen-ai/boys love.


Rentenir dan si Miskin

.: Chapter 1 :.


Waktu itu, pagi yang agak mendung, di tengah musim hujan. SD Seirin bubaran cepat karena waktu hanya dihabiskan dengan bersih-bersih saja. Dengan semangat, lima kaki kecil dipacu riang menuju lapangan basket depan blok kontrakan Mpok Satsuki.

Kagami Taiga yang duluan sampai di lapangan sementara empat teman lainnya tertinggal agak jauh di belakang. Taiga sedikit lebih elit hidupnya dari Kouki. Meskipun sama-sama tinggal di blok kontrakan Mpok Satsuki, setidaknya seminggu sekali dia bisa makan dengan ayam KFC. Ditambah lagi, si alis terbelah ini sangat jago main basket. Masa depannya cukup terjamin dengan itu. Hidup Taiga bisa sangat sempurna jika saja tidak ada makluk bernama Aomine Daiki. Om-om yang lumayan ganteng meskipun dekil tapi suka sekali menggoda Taiga ini.

Fukuda Hiroshi, Kawahara Koichi, dan—tentu saja—Kouki menyusul kemudian. Tak lama, yang paling terakhir, Kuroko Tetsuya menyusul dengan napas yang tersenggal-senggal. Malang sekali dia.

"Yang paling terakhir dihukum!" teriak Taiga, riang. Tetsuya sebenarnya ketakutan setengah mati, tapi wajahnya datar saja semacam dada Mama Riko.

"Kerjalan PR kita semua!" usul Hiroshi.

"Bersihkan tempat tidurku," kali ini suara Kouki, hukumannya sangat angel sekali, berhubung dia kasihan pakai banget sama Tetsuya.

"Main four-on-one lawan kita!" kali ini kata Koichi. Hukuman yang sangat kejam. Bisa dipastikan Tetsuya kalah tanpa memasukan satu bola pun ke dalam ring.

Taiga diam, di saat tiga teman yang lain ribut mengusulkan hukuman untuk Tetsuya. Dia sedang berpikir. Iya, dia bisa berpikir meskipun bukan untuk hal-hal yang rumit, kok.

"Jangan begitu, ah!" seru Taiga, tiba-tiba. "Aku tahu hukuman yang tidak mainstream!" usul Taiga. Semuanya menaruh perhatian padanya, termasuk Tetsuya yang sudah dag-dig-dug duluan.

"Kuroko," Taiga tidak menunggu siapapun membalas, ia menatap Tetsuya dengan tatapan biasa saja. Tapi Tetsuya jadi merasa terpojok sendiri.

"Kamu ..."

Tetsuya balas menatapnya ketika Taiga menggantung kata-katanya.

"Kamu—"

Ya Tuhan, selamatkan hambamu dari hukuman yang berat. Tetsuya berdoa di dalam hati.

"—curi pakaian dalam Mpok Satsuki dari jemuran!"

Ujar Taiga, telak. Langsung menusuk ke dalam ulu hati Tetsuya yang malang.

Oh my god! Tetsuya ingin sekali menangis, tapi sayangnya menangis tidak ada di dalam kamus hidupnya.

Sebenarnya hukumannya tidak berat-berat amat bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagi Tetsuya. Berhubung Mpok Satsuki semacam kelihatan punya ketertarikan tersendiri padanya. Bahkan ada gosip yang beredar di kampung mereka bahwa Mpok Satsuki cerai dari mantan suaminya karena keberadaan Tetsuya. Mengerikan sekali.

Mungkin jika Taiga yang mencuri pakaian dalamnya, Satsuki akan berlari mengejar-ngejar anak itu dengan sebelah tangan memegang sapu dengan teriak-teriak khas emak-emaknya. Tapi lain kejadiannya jika Tetsuya yang melakukannya. Bisa dipastikan besok-besok Tetsuya sudah berakhir di pelaminan dengan sang janda juragan kontrakan.

Hal yang ditakutkan Tetsuya terjadi. Tiga teman lainnya mengangguk-angguk setuju.

"Cepat lakukan, Kuroko ..." desis Taiga tidak sabaran.

Tetsuya ingin lari ke rumah dan mengadu pada Mamanya. Tapi Taiga pernah bilang padanya bahwa seorang laki-laki sejati tidak akan pernah lari dari kenyataan. Dan Tetsuya sudah cukup yakin bahwa dirinya adalah seorang laki-laki sejati nan jantan.

Lalu dengan wajah sok yakin sementara kedua kaki gemetar, Tetsuya berlari ke dekat jemuran Mpok Satsuki yang melambai-lambai terbawa angin di dekat lapangan basket itu. Empat temannya tidak menyangka Tetsuya akan melakukan hukuman itu. Mereka tertegun.

Tetsuya berhenti di hadapan bra Mpok Satsuki yang digantung di sana. Ukurannya sangat wow, tangan Tetsuya tidak seberapa jika dibandingkan dengan ukuran benda tersebut. Dengan perlahan-lahan Tetsuya berjinjit untuk menggapainya. Sementara dalam hati ia berkomat-kamit mengumandangkan mantra yang diajarkan Midorima Shintarou, dukun sakti dari desa seberang.

Tetsuya berjinjit sekuat tenaga demi menggapai bra tersebut.

Tapi ketika tangan kecil itu hampir menyentuhnya, gerakan Tetsuya terinterupsi teriakan heboh teman-temannya. Ia sempat berpikir bahwa empat temannya itu sedang menertawakan nasibnya. Tapi pikiran itu kandas ketika ia berbalik dan mendapati sebuah mobil sport mewah berwarna merah mengilap melaju dan terparkir manis di lapangan basket kecil mereka. Tetsuya terkejut bukan main. Mobil seperti itu hanya pernah dilihatnya di TV Pak RT—karena sekampung yang punya TV hanyalah Pak RT Ryouta seorang, mantan cover boy majalah semasa SMA.

Sekian menit terbengong, pintu mobil sport itu terbuka. Keluarkan pemiliknya yang kece aduhai. Rambutnya yang merah menyala itu bergoyang-goyang indah ditiup angin. Kedua matanya tidak terlihat karena ditutupi kaca mata hitam super keren. Kemeja yang dikenakannya sudah pasti merk ternama.

Di saat empat temannya yang lain terpesona akan gaya keren dan kekayaan orang tersebut, Kouki adalah satu-satunya yang terdiam kaku ketakutan. Entah kenapa orang itu punya hawa mengintimidasi yang kuat.

Dibukanya kaca mata itu dengan gaya yang superkeren. Maka terlihatlah kedua matanya yang berlainan warna. Tepat ketika tatapan itu mengarah pada empat anak yang terpaku di sisi lapangan basket, semuanya berdiam diri ketakutan—bahkan termasuk Taiga yang mendadak lupa caranya menahan pipis. Ada sesuatu di dalam mata itu yang membuat mereka tidak berani membantah pada pemiliknya, entah kenapa.

Akashi Seijuurou, 20 tahun, pengusaha kaya. Terkadang dia jadi rentenir kejam kalau lagi mood. Statusnya jomblo bahagia.

Seijuurou tidak mengindahkan keberadaan anak-anak dekil yang memandangnya dengan tatapan menggelikan itu. Ia berjalan dengan tenang ke arah blok kontrakan Mpok Satsuki di dekat sana. Sontak semuanya merasa ingin pipis di celana. Mungkinkah laki-laki itu adalah pacar baru Mpok Satsuki? Kalau iya, Tetsuya adalah orang pertama yang akan mendeklarasikan kebahagiaannya.

Sayangnya, tempat tinggal Mpok Satsuki di dekat sana justru dilewatkannya. Ia berjalan naik tangga ke atas. Ada tempat tinggal Kouki di sana, kontrakan nomor dua belas. Dalam hati Kouki mengucapkan mantra semoga saja orang itu tidak menuju ke kontrakannya. Karena sepertinya dia orang yang sebaiknya dihindari.

Kouki hampir pingsan di tempat. Orang itu berhenti di depan tempat tinggalnya, bahkan ia sekarang sudah mengetuk pintu! Oh my god, bagaimana ini?

Ketakutan itu kandas ketika Kouki ingat bahwa di rumah hanya ada Mama Riko sendirian. Oh tidak! Bagaimana kalau orang itu berbuat hal buruk pada Mama Riko? Dengan mengambil langkah seribu, Kouki berlari menyusul orang itu. Semua temannya terkejut dengan apa yang dilakukan Kouki.

Pintu kontrakan keburu terbuka ketika Kouki sampai di lantai atas. Di lihatnya Mama Riko menatap orang tersebut dengan tatapan waspada.

"Aku sudah bilang 'kan, aku akan membayar bunganya di akhir bulan ini," Mama Riko berujar bahkan tanpa menunggu Seijuurou mengatakan sesuatu padanya.

Oh, dia rentenir, saudara-saudara.

Seijuurou tersenyum mengerikan. Kouki hampir saja terjatuh karena kakinya mendadak lemas melihatnya. Ia membalas, "Kau selalu mengulur-ngulur waktu," katanya. "Memangnya sudah berapa banyak uang yang kau kumpulkan, huh?"

Mama Riko terlihat tidak bisa berkata-kata. Keringat dingin meluncur melalui pelipisnya. Kouki ingin membantu mamanya, tapi apa daya ia tidak kuasa melakukan apapun.

Sekian menit tanpa jawaban, Seijuurou bergumam kembali. "Akhir bulan ini. Jika tidak—" ia mengeluarkan gunting berwarna merah darah dari salam saku celananya, mengacungkannya ke hadapan Mama Riko. "—kau tahu akibatnya."

Orang menakutkan itu akhirnya beranjak pergi. Di tatapnya Kouki yang mengenakan seragam SD dan berlumuran lumpur banjir itu dengan tatapan meremehkan. Tapi tanpa mengatakan apapun, ia akhirnya berlalu dari tempat itu.

Kouki pikir hidupnya tidak akan semenyenangkan dulu lagi.

.: ~ :.

Waktu berjalan dengan begitu cepat. Detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari. Lalu sampailah pada penghujung bulan. Kouki duduk merenung di atas lantai rumahnya yang dingin. Sedikit informasi, Kouki baru saja mandi. Jadi penampilannya tidak dekil seperti yang diceritakan sebelum ini.

Mama Riko sepertinya sedang memasak, tercium dari bau nista yang menguar dari dalam dapur. Sementara Papa Junpei menyudut saja di ruangan yang sama dengan Kouki. Aura hitam keluar dari dalam tubuhnya. Papa baru saja bercerita bahwa belakangan yang meninggal di kampung ini sedikit, makanya penawaran pekerjaan gali kuburnya menipis. Rasanya tidak mungkin Papa Junpei berdoa supaya banyak yang meninggal, karena itu nyumpahin namanya. Yah ... balada seorang penggali kubur.

Kouki ingin membantu. Belakangan dia sudah ke pabrik-pabrik untuk mencari pekerjaan demi membantu keluarganya, tapi sayangnya mereka tidak ada yang mau menerima anak di bawah umur.

Ketika sibuk dengan kegiatannya masing-masing, pintu kontrakan mereka mendadak diketuk dari luar. Sontak Papa Junpei berdiri dari posisinya sementara Mama Riko berlari keluar dapur. Kouki duduk ketakutan saja dari posisinya sejak tadi. Ia akan bertemu Akashi Seijuurou untuk yang kedua kalinya. Ia bahkan tidak berani membuka mata ketika bunyi pintu tempat tinggal mereka terbuka.

"Bagaimana?"

Kata itu keluar begitu saja dari mulu Seijuurou begitu pandangannya bertemu dengan pasangan suami istri yang berhutang padanya sekitar empat bulan yang lalu itu. Papa Junpei tidak menjawab. Tapi ia merogoh saku celananya.

"Separuh," balasnya dengan suara kecil.

"Separuh?" Seijuurou bertanya dengan nada suara menjatuhkan. Ia mengeluarkan gunting dari saku celananya. Gunting yang sama seperti sebelumnya. "Kau tahu, Junpei, di saat aku mengatakan sesuatu—"

Kouki tidak kuat untuk terus menutup matanya ketika itu. Ia tidak menyangka bahwa orang itu bahkan memanggil Papanya dengan nama kecil.

"—maka kata-kataku adalah ..."

"Absolut," balas Papa Junpei. Ia tahu ia harus menyelesaikan urusannya dengan orang menakutkan itu segera, tapi apa daya kemampuan keluarga mereka dalam mengumpulkan uang sangatlah terbatas.

"Benar," balas Seijuurou. "Bagaimana sekarang? Haruskah aku repot-repot berpikir untuk mencari solusi dari kalian? Mengusir kalian dari rumah? Hah, kalian bahkan tidak memiliki rumah. Tempat ini disewakan," ujarnya, sakratis.

"Aku akan bekerja di rumahmu sebagai gantinya!" ujar Mama Riko karena ia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. "Aku akan membereskan rumah, mencuci, memasak—"

"Tidak, kau tidak boleh melakukan itu!" sanggah Papa Junpei. Terdengar romantis karena seperinya ia mengkhawatirkan sang istri. Padahal sebenarnya ia hanya tidak mau Seijuurou keracunan masakan Mama Riko dan menambah bunga hutang mereka karena kejadian tersebut.

"Mau bagaimana lagi? Tidak ada cara lain!"

"Tenanglah dan biarkan aku memikirkannya!"

Ketika debat suami istri itu terjadi, Seijuurou merasa dilecehkan karena menjadi pihak yang terabaikan. Tapi ketika kedua matanya memandang masuk ke dalam tempat tinggal itu, ia dapat menemukan seseorang yang ternyata lebih diabaikan dari pada dirinya.

Seorang anak. Pasti anak mereka berdua, karena Akashi Seijuurou tidak pernah salah. Ia pernah bertemu dengannya sebelumnya. Sebelum ini anak itu kelihatan dekil pakai banget. Seragam sekolah dasarnya berantakan dan wajahnya kotor dengan lumpur.

Sekarang dia bersih, rambutnya kecoklatan dan kelihatan halus sekali. Pipinya kelihatan kenyal sehingga Seijuurou ngebet ingin mencubitnya dengan menggunakan gunting. Ia meringkuk gemetaran di ujung ruangan. Bisa ditebak bahwa anak itu takut sekali padanya.

Sejujurnya rentenir kece kita ini agak psycopath. Membayangkan anak itu gemetar ketakutan dan memohon ampun dengan memanggil-manggil namanya saja sudah membuat air liurnya menetes—ini hanya kiasan, karena kalau benar-benar terjadi hancurlah image-nya seketika.

Seijuurou itu selalu benar. Karena itu, bahkan dalam sekali pandang saja, ia sudah memutuskan bahwa ia menginginkan anak itu.

"Dengar," ia berujar pelan, menginterupsi pertengkaran suami-istri di hadapannya. Seijuurou menutup matanya sebentar sebelum akhirnya kembali menatap mereka seraya berkata, "Aku bisa saja menganggap semua hutang kalian telah lunas."

Papa Junpei, Mama Riko, dan Kouki terkejut bukan main. Apakah titisan iblis di hadapan mereka tiba-tiba kerasukan malaikat? Atau Seijuurou baru saja dikutuk dukun Midorima Shintarou? Apapun itu, mereka berterima kasih pada Tuhan yang maha adil.

"Tapi dengan syarat," Seijuurou mengalihkan pandangannya pada sosok Kouki di ujung ruangan. Papa Junpei dan Mama Riko sudah merasakan firasat buruk ketika Seijuurou menatap anak mereka dengan tatapan singa pada mangsanya. "Berikan anak kalian padaku," katanya.

Papa Junpei pingsan, untunglah ada Mama Riko yang kuat menopang tubuhnya. Kouki tidak bisa bernapas. Ia ingin mati saja kalau begini adanya.

"Kau bercanda? Jangan ambil anak kami!" bela Mama Riko.

"Kenapa tidak? Kata-kataku absolut, kau tahu sendiri," Seijuurou memain-mainkan gunting di sebelah tangannya.

"Kau pasti akan menjualnya 'kan? Aku tidak bisa membiarkan masa depannya hancur karena itu! Anak kami adalah calon pebasket kelas dunia masa depan!" ujar Mama Riko dengan teramat percaya diri.

"Menjual? Oh, tidak," Seijuurou berjalan masuk tanpa permisi ke dalam ruangan itu. Melewati Mama Riko dan Papa Junpei tanpa melirik sedikitpun pada mereka. Kouki semakin sulit bernapas ketika sosok berambut merah darah itu berdiri di hadapannya. Tatapan matanya sungguh menakutkan.

Seijuurou membungkuk. Meraih dagu Kouki dengan sebelah tangannya yang tidak menggenggam gunting. Di arahkan wajahnya dengan kasar sehingga tatapan mereka bertemu. Ia tersenyum mengerikan. Kouki bersumpah lebih baik ia mati sekarang dari pada terus dihadapkan pada keadaan seperti ini.

"Aku akan menikahinya."

Kini Mama Riko pingsan juga, menyusul Papa Junpei.

Sementara Kouki berpikir bahwa kalimat—absolut—yang baru saja dikeluarkan Seijuurou adalah tanda bahwa ia telah memasuki gerbang neraka.

.: ~ :.

TBC

.: ~ :.


Aloha! Nama saya Erry :3 Sudah setahun lamanya saya hiatus dari menulis fanfic. Dan sekarang secara mengejutkan saya jatuh cinta pada AkaFuri, hhahaha. :D

Maafkan atas kenistaan dan kekunoan ide fanfic ini hhuhuhu. Oke, ini bukan lagi jamannya Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih, ya. Ini Siti Furihata dan Akashi Maringgih. (telan odol)

Ide fanfic ini merasuki otak saya ketika Mamake sedang menonton FTV pembuka pintu taubat di salah satu stasiun televisi. Dan bagaimana saya bisa langsung ingat AkaFuri ketika melihat cuplikan adegan di televisi tersebut? Yah, kekuatan cinta, kali. X"D (apa ini)

Rencananya fanfic ini akan dibuat twoshot, saya akan membuatnya sesegera mungkin. Ngomong-ngomong fanfic ini sedikit meragukan karena saya khawatir dengan gaya penulisan saya setelah lama hiatus, tapi saya senang membuatnya. :)

Oke, maafkan curhat tidak bermutu saya, hehe. :D

Kritik dan sarannya dimohon sekali, boleh dan jangan sungkan dimasukan ke kotak review! :3

Arigatou Gozaimasu~ XD