Dia memang tidak pernah bahagia, dan tampaknya kebahagiaan sendiri tidak pernah punya niat untuk mengunjunginya. Severus Snape membuka mata ketika dirasa cahaya yang menusuk mulai mengganggunya, dan pagi itu ia mulai dengan sebuah tatapan tanpa arti layaknya hari-hari sebelumnya.


.

.

.

Life, Fate and Chain

Prolog

Disclaimer :

Harry Potter © J.K Rowling

Warning : AU! Typo(s), Yaoi, BL

Pair : JPSS

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Rating : T

.

.

.

Hujan yang tidak begitu lebat memaksa seorang anak berusia tujuh tahun untuk berlari melewati gang-gang sempit yang sudah tak asing baginya. Beberapa deret rumah kumuh dilalui sebelum akhirnya mengantarkan sosok kecil itu pada sebuah rumah yang tak kalah kumuh dari rumah-rumah sebelumnya. Napasnya memburu, tidak begitu peduli pada keadaan yang sudah basah kuyup karena menembus hujan beberapa saat lalu. Kini sepasang tangan mungil itu bergerak, dan mendorong pintu yang terbuka dengan mudahnya. Aneh. Bukankah harusnya pintu itu terkunci?

Severus Snape adalah nama sang anak yang kala itu hanya bisa membolakan matanya ketika mendapati sebuah pemandangan mengerikan terhampar begitu saja di depan mata. Rumah yang seharusnya sedikit lebih terang entah kenapa jauh lebih gelap dari biasanya, ruangan yang seharusnya lebih rapi juga tidak tahu kenapa jadi lebih berantakan dari tadi pagi. Dan lantai yang semestinya lebih bersih, tidak pernah disangka akan dipenuhi oleh warna merah sejauh mata menelusuri.

Kedua iris gelap milik Severus tidak sanggup berkedip barang sedetik. Terlebih ketika yang ditemukan olehnya saat ini hanyalah tiga sosok berbeda kondisi memenuhi ruangan, sosok pertama adalah milik sang ayah yang terbaring kaku dengan darah mengalir dari lehernya, dan tepat di depan dirinya dapat terlihat sosok sang ibunda yang lehernya tengah dicengkram oleh seorang pria tidak dikenal. Napasnya memburu saat dilihat cengkraman itu mengerat dan untuk detik yang tak bisa dipastikan tangan yang bebas dari pria itu sudah menembus dada sang ibunda. Menarik keluar gumpalan berwarna merah yang kala itu masih berkedut,diringi dengan rintih tertahan keluar dari mulut satu-satunya wanita di sana.

Severus refleks menggeleng, dia ingin berteriak, berlari dan memohon agar genggaman pada gumpalan itu tidak diperketat. Severus mungkin hanya seorang anak kecil, namun ia bukan orang bodoh yang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan ketika sepasang mata rubi berbingkai kacamata bundar berpindah pada sosoknya, Severus bisa merasakan napasnya berhenti. Seakan dipotong seiring dengan pecahnya gumpalan yang ada pada genggaman pria tersebut.

Mendadak, semuanya menjadi gelap.

.

.

.

Ada yang lucu mengenai kehidupan, kau tidak pernah tahu bagaimana dia bermain denganmu, entah itu dengan cara yang kejam, atau dengan cara yang lebih baik, namun ketika kehidupan menentukanmu sebagai target, kau tidak akan pernah bisa menolaknya. Sama seperti apa yang terjadi padanya saat ini.

Pagi kembali hadir ketika ia, Severus Potter, membuka mata, matahari sudah lebih dulu dengan lancangnya menyusup diantara celah-celah yang ada. Gangguan kecil itu segera diabaikan oleh Severus yang kemudian memilih untuk beranjak dari tempat tidur serta mengunjungi kamar mandi sebagai awal aktivitasnya di hari yang baru. Severus sedikit meringis ketika rasa perih menjalari bagian leher dan tidak begitu ambil peduli ketika rasa itu semakin menjadi saat air dingin membasahi bagian tersebut.

Matanya terpejam, kenangan itu kembali, dan Severus sudah terlalu terbiasa untuk memiliki itu semua dalam sepuluh tahun terakhir. Hari itu, ketika ia pulang dan membiarkan derit mengiringi pintu yang terbuka, Severus menemukan pembantaian pada kedua orang tuanya oleh seorang pria yang tidak dikenal, dia tahu jika benang takdir dan kehidupan sedang membuat lelucon dengan dirinya sebagai pion utama. Karena sejak hari itu, keberadaan Severus Snape juga ikut tiada bersama kedua orang tuanya.

Mereka memang bukan keluarga yang harmonis, namun bagaimanapun ada rasa takut dan benci ketika menyaksikan bagaimana kedua orang tua mati tepat di depan mata, Severus juga tidak bisa melawan ketika pria itu membawanya dengan paksa. Bahkan saat tubuh mungil itu berontak, yang dia dapatkan justru pukulan yang membuat kesadarannya menghilang.

Kedua iris gelap itu membuka saat kedua tangannya dibiarkan menempel pada dinding untuk beberapa waktu, kembali Severus membiarkan rasa perih terus menghantam bagian lehernya. Bekas-bekas luka seperti tusukan sepasang taring ular yang ada di sana kini hanya menyaisakan warna merah kebiru-biruan yang perlahan mulai menutup sebelum kembali menjadi kulit sempurna seperti tidak pernah ada luka sama sekali.

"Apa masih sakit?"

Sebuah suara mebuatnnya mengalihkan fokus. Severus mendengus sebelum menjawab "Menurutmu?" dengan cukup ketus.

Kebal dengan jawaban seperi itu, sosok pria bersurai acak masai yang berdiri di depan pintu kamar mandi itu pun mendekat, dan memeluk Severus sebelum meletakkan kepalanya di pelipatan leher pemuda yang lebih kecil. "Maafkan aku... itu tidak seharusnya... harusnya aku bisa menahannya lebih baik lagi... Ma—"

"—Potter...—" Severus mememotong "—tolong hentikan. Kau... tidak perlu meminta maaf." meski nada suaranya terdengar tak acuh nyata Severus tidak menolak ketika pria yang disebut dengan Potter itu memeluknya lebih erat.

"..." Hening yang cukup lama sampai akhirnya sang Potter mendesah dan perlahan melepaskan pelukannya. "Aku akan siapkan sarapan untukmu." Setelahnya Potter beranjak dari sana, namun sebelum ia sempat keluar dari kamar mandi, pria itu menyempatkan diri untuk menambahkan "Aku tahu aku egois... tapi bisakah kau memanggilku dengan namaku, Sev? Aku... tidak ingin disamakan dengannya..." —yang kemudian hanya dibalas dengan diam oleh Severus.

Dan ketika Potter keluar dari sana, Severus kembali mendesah. Ingatan mengenai apa yang terjadi tadi malam bahkan malam-malam sebelumnya, kembali berputar. Membuatnya menekuk lutut dan meringkuk dengan kedua tangan memeluk dirinya sendiri.

Taring-taring itu. Severus masih mengingat bagaimana kedua benda itu bersinar diterangi cahaya bulan, bahkan ia masih ingat dengan jelas bagaimana sepasang taring merobek kulit lehernya, darah yang dihisap secara paksa dari sana. Kedua tangan yang sedari tadi sibuk memeluk lutut kini berpiandah untuk memetupi kedua sisi lehernya, rasa panas serta perih kembali menghampiri meski sudah tak ada bekas-bekas gigitan di atas sana. Dan erat Severus memejamkan kedua mata.

Hidup itu lucu, dan siapa yang mengira jika akhirnya Severus justru tumbuh bersama dengan orang yang telah membunuh kedua orang tuanya—atau mungkin lebih tepatnya makhluk.

.

.

"Kuharap kau tidak keberatan dengan omulet, Sev."

"Jangan khawatirkan aku, Po—James." Canggung Severus menutup kalimatnya, dan hening sekali lagi mengisi ruang di antara mereka, setidaknya sampai Severus duduk di hadapan pria tersebut. "Potter... aku... aku rasa aku tidak bisa..." Dia menunduk, ragu untuk menatap satu-satunya eksistensi lain yang ada di sana.

Sementara itu, pria yang diketahui sebagai James Potter itu hanya tersenyum tipis dan mengacak rambut pemuda di depannya. "Tak apa, Sev. Kurasa aku yang terlalu egois untuk memintamu memanggilku dengan namaku. Meski lebih bagus jika kau memulainya pelan-pelan." Jeda sebelum James melanjutkan dan mencubit salah satu pipi milik Severus. "Toh lagipula, aku tidak keberatan kok kalau harus menunggu sepuluh tahun lagi, sampai kau terbiasa memanggilku."

Cukup keras Severus menepis tangan itu, dia tidak menjawab meski tatapannya cukup dapat diartikan sebagai, 'Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil, idiot.' yang kemudian ditanggapi dengan tawa ringan oleh James.

Tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya, pagi yang mereka jalani hanyalah sebuah pagi yang tenang dan damai. Bisa dibilang cukup menyenangkan ketika James mengucapkan beberapa lelucon yang membuat wajah Severus memerah, enatah karena malu atau marah, atau mungkin keduanya.

.

.

Jika pagi hari adalah sebuah sisi yang penuh dengan kesenangan dan hal-hal baik, maka malam hari adalah sisi sebaliknya. Bagai dua mata koin yang berbeda, bagi Severus, malam hari adalah saat yang penuh akan teror, meski sudah tidak membuatnya merasakan takut.

"Severus."

Lagi, suara itu kembali, memotong napas, Severus berusaha keras untuk bereaksi setenang mungkin saat mengalihkan fokus pada asal suara. "Potter." Ucapnya ketika sang pemilk suara mendekat dan menujukkan sepasang taring berkilat bersamaan dengan sebuah seringai yang diukir.

Tidak ada jawaban dari sosok yang disebut dengan Potter. Dengan tenang dia berjalan mendekat pada Severus kemudian memeluknya, tidak begitu erat namun cukup membuat pemuda dengan surai eboni itu merasakan dingin yang menusuk kala pria yang lebih tua menyentuhnya. Memeluknya dengan sentuhan berbeda dari pagi hari.

James Potter, begitulah Severus mengenalnya. Bukan pria biasa, juga bukan pria dengan kepribadian ganda layaknya dikatakan berbagai buku psikologi yang pernah dirinya baca. Tidak, ada sesuatu yang berbeda dari James, dan kenyataan mengatakan jika James Potter bukanlah seorang manusia normal. Atau lebih tepatnya dia memang bukan seorang manusia.

Vampir, mungkin itu istilah yang digunakan banyak orang untuk mendeskripsikan pria yang kini menundukkan kepalanya dan mulai menancapkan sepasanng taring di atas kulit pucat Severus. Makhluk ganas yang bangkit kembali dari kematian di mana menjelaskan kenapa Severus hanya bisa merasakan dingin yang menusuk kala pria itu menyentuhnya. Dan mungkin menghisap darah adalah satu-satunya cara agar mereka bisa terus hidup.

Dan untuk Severus, satu-satunya cara agar dia bisa bertahan hidup adalah dengan membiarkan pria itu menggunakan dirinya, sebagai pasokan darah. Atau istilah lainya sebagai peliharaan. Sejak kematian kedua Tobias dan Eileen Snape, Severus tahu jika hidup tidak akan lebih mudah untuknya, dia tahu jika satu-satunya cara untuk tetap mendapatkan belas kasihan dari kehidupan adalah dengan cara menjual dirinya sendiri. Dan dalam kasus Severus, melayani James Potter adalah jawabannya.

Entah bagaimana kedua pasangan Snape itu bisa memiliki hubungan dengan James Potter yang kemudian berbalik menyerang mereka, dan di tengah tragedi pada hari itu, Severus kecil justru menjadi korban tunggal dari semua teror yang ada.

Tragis jika harus melihat bagaimana teror berubah menjadi ikatan yang terus mengurung Severus dengan pembunuh kedua orang tuanya. Bukan hanya kehidupan, tapi takdir juga ikut andil dalam mempermainkannya. Severus meringis, entah karena ironi yang tengah ia pikirkan, atau karena nyeri yang kembali bersarang saat dirasa darah mengalir paksa pada sepasang taring yang menancap pada lehernya. Matanya terpejam erat. Membiarkan rasa perih menjalar keseluruh tubuh. Sesekali ada rintihan keluar dari mulut, dan hal itu semakin mengantarkan rasa sakit pada dirinya. Mungkin juga membuat seringai pada wajah James Potter mengembang.

Keseimbangan Severus hampir menghilang, kedua kakinya gemetar, tampaknya sudah tidak mampu menahan berat tubuhnya sendiri. Selanjutnya Severus membiarkan diri bergantung pada lengan sang vampir yang dilingkarkan disekitar tubuhnya. Sepersekian detik kemudian dirinya telah terbaring di atas ranjang, menatap sayu pada pria berkacamata di atasnya. Severus menemukan senyum merendahkan yang tidak pernah ia temukan di pagi hari. Tangannya terulur, meraih kedua pipi sang Potter, dan Severus membagi sebuah senyum lembut yang membuat pria itu bergetar, entah karena apa.

"James..." Jeda ketika sepasang obsidian menatap lurus pada sepasang rubi di atasnya, "...aku percaya padamu."

Severus tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, pandangannya menggelap saat dilihatnya sepasang rubi berganti menjadi emas terang. Sepasang warna yang dirinya kenal dengaan baik.

'James, aku...'

.

.

Sepasang emas menatap lurus pada bulan perak yang menggantung di atas sana. Tangan dari si empunya beranama James Potter itu tidak berhenti untuk mengelus puncak kepala Severus dalam beberapa saat. Ini adalah kali pertama ketika ia bisa merebut kesadarannya kembali, ada senyum bangga atas kemenangan kecil yang dia dapatkan hari ini.

"Aku tahu Sev, aku tahu..."

Kehidupan itu lucu dan bagi James, takdir itu mengerikan. Dua hal yang berbeda, namun saling terikat, tidakjauh berbeda dengan hubungannya dan Severus. James memejamkan mata, menghentikan kontak pada sang bulan dan membiarkan napas halus Severus mengisi ruang di antara mereka. Entah berapa detik atau bahkan berapa menit berlalu, tapi ketika sepasang emas itu kembali membuka, fokusnya kini dialihkan, pada sosok pemuda kecil yang tengah tertidur dengan tenang.

James mengukir senyum, senyum lembut penuh arti, dia merendahkan dirinya sendiri, menatap wajah Severus lebih dekat sebelum setelahnya memberikan kecupan singkat di kening pemuda tersebut, pemuda yang telah menjadi pasangannya dalah sepuluh tahun terakhir. "Terima kasih, karena terus bersamaku sampai saat ini, Sev. Aku..." Dan James menutup kalimatnya dengan sebuah pernyataan, pelan ia ucapkan, sedikit pun tidak berharap untuk didengar.

Kehidupan itu lucu, takdir itu mengerikan, dua hal yang berbeda namun saling terikat. Dan untuk dua orang yang seharusnya tak bersama,ikatan itu adalah sebuah kenyataan yang kejam.

.

.

.

「To be Continue」


A/N: Halo salam kenal ^^ berhubung ini fanfik pertama saya di fandom HP, mohon maafka saya jika banyak banyak kurang di sana-sini QAQ

Dan maafkan jika ceritanya lebih berantakan dibanding rambutnya James, chapter depan saya janji bakal bikin lebih rapih lagi/certanya ya, bukan rambut vampir ayan yg itu/hush/ dan kalau ada masukan sama saran-saran, jangan segan-segan buat dilempat ke kotak review ya ^^ Tapi anu, tolong jangan pedes-pedes ya ^^

Sebelumnya, terima kasih sudah membaca sampai disini/dan author note yang unfaedah ini/yha