Sudah berapa lama saya vakum dari dunia Fanfiction. BOCAH-DONGO kembali lagi. Kini saya sudah berganti nama menjadi Mas Dongo. Panggil saja saya begitu.

Langsung saja.


Quintuple Pom-Pom

Author : Мас Донго

Disclaimer by : Yang buat LOL


Air laut yang tenang khas samudera pasifik ditambah matahari yang bersinar membelah kabut. Sebuah kapal berwarna hitam dengan gambar tribal yang menyala ungu di sekujur badan membelah ombak yang kecil.

Seperti yang kita tahu, kapal dengan 4 kubah meriam 8" itu bukanlah kapal biasa. Kapal dari kelas Pensacola tersebut merupakan fog. Itu ditambah seorang wanita yang berdiri diatas kubah director dengan dua lingkaran ungu yang berputar mengelilinginya. Gadis itu yakin kali ini tak akan ada kapal atau pesawat yang ia temui.

Namun, kali ini bukan itu masalahnya. Radarnya mendeteksi benda tak dikenal mendekat sangat cepat dan tertampil hologramnya. Ia terkejut karena baru kali ini ia baru menyadari ada objek mendekat yang baru terdeteksi 40 km. Menurut pengamatannya, ia membawa hulu ledak korosif. Rudal itu akan menghantam 40 detik semenjak terdeteksi.

"Apa ini?!" ucapnya terkejut.

Mari kita berpindah 35 km ke sebelah tenggara, sebuah rudal hitam panjang dengan sayap panjang namun lurus kecil melaju hanya 10 meter diatas air. Agak mirip Harpoon, namun ini lebih panjang. Ia melaju amat kencang hingga mencapai 1 km/s. Malas menerjemahkannya? 3600 km/jam. Kecepatannya lebih dari cukup untuk membelah air yang ada dibawahnya.

Waktu tersisa 30 detik lagi. Lubang-lubang terbuka disekujur kapal dan satu per satu rudal meluncur vertikal memburu target super cepat. Total 30 rudal meluncur. Butuh beberapa detik hingga akhirnya pada titik 15 km mereka berhasil mendekati rudal tersebut.

Namun, rudal hitam itu bukan rudal bodoh yang akan memakan umpan model apapun. Tak diduga, Flare dilepaskan dan rudal mulai melakukan manuver barrel roll. Tentu, interseptor meleset dan hanya mengenai air. Sekaligus itu membuat wanita itu melompat dengan mata terbelalak. Fog tak punya senjata seperti itu. Ia segera mengaktifkan klein field.

"Tidak mungkin! Manuver macam apa itu?! Ini pasti Kursk?!" pekiknya.

Beberapa manuver seperti roll, banking turn, bahkan kulbit ditambah pengecoh membuatnya selamat dari kejaran rudal pemburu. Bahkan beberapa kali terlihat ia menembak rudal lain hingga hancur.

11 kilometer, badan utama tiba-tiba terhempas ke belakang menyisakan sebuah peluru panjang dengan diameter 36 cm dan panjang 2,5 meter. Peluru itu berakselerasi dengan roket lurus menuju target. Sangat cepat bahkan tak bisa terkejar.

Waktu yang ia kira cukup untuk mengaktifkan klein field tiba-tiba drastis berkurang dengan kecepatan 2 kali lipat. Sekujur tubuhnya lemas hingga jatuh terduduk, pupil matanya mengecil berbanding terbalik dengan mulut dan kelopak matanya yang melebar. Ia lambat dalam mengaktifkan klein field yang masih melingkupi setengah kapal.

"Ini terlalu cepat! Ini terlalu cepat!" teriaknya.

Wave armor muncul mencoba menutupi bagian yang belum terlindungi, bahkan hingga 5 lapis. Namun, tiba-tiba pelindung-pelindung itu itu menampakan sebuah lubang yang segaris. Wanita itu menggeram mengerahkan seluruh tenaganya untuk memperbaiki lubang tersebut, tetapi itu belum cukup. Dan akhirnya rudal- bukan, lebih tepatnya roket peluru yang sudah mendekati 2 km/s dan terus bertambah menembus pelindung dengan sangat mudah dan ia sudah tak ada harapan.

Mungkin saya harus meralat. Ia lebih mirip Kalibr, bukan Harpoon.

'Dumm!'

Peluru tersebut menghantam tepat bagian tengah kapal beberapa puluh senti mendekati daerah klein field. Bola hitam segera terbentuk cukup besar menutupi anjungan. Suara desiran terdengar amatlah kencang ditambah riakan air dan energi hitam yang berkumpul. Bola itu kemudian lenyap menyisakan bekas gilingan bola yang menganga lebar

Kapal itu segera meledak hebat bahkan ujung haluan dan buritan tak terlihat. Puing-puing berterbangan ke segala arah. Hampir tak ada yang tersisa. Sisa-sisa lambung kapal yang masih ada perlahan tenggelam.

Sementara kita pergi 134,7 km dari situ tepatnya 42 km sebelah utara Kepulauan Solomon.

Seorang wanita bersurai hitam pendek di atas sebuah anjungan kapal selam hitam tertawa sadis. Tubuhnya dilingkupi 2 lingkaran hitam yang berputar. Hologramnya menampakan kapal yang perlahan tenggelam dari atas. Ia perlahan menghentikan tertawanya dan terdiam. Ia memejamkan matanya dan mendesah. Sebuah senyum mengembang di bibirnya.

"K-336. Tidurlah dengan tenang di dasar laut. Janjimu telah kupenuhi. Aku sudah mengalahkan lawanmu," ucapnya perlahan.

Kapal selam menyemburkan air di haluannya dan perlahan tenggelam.


Suatu tempat di Jepang, 12.43, 24 Februari 2056

"Alpha 3. Disini nihil."

Seorang tentara sedang memainkan interkomnya. Ia tak mengira operasi kali ini memakan 28 korban. Jumlah begitu banyak hanya untuk menangkap 2 orang.

Beberapa orang juga masih mengecek reruntuhan kota modern yang telah ditinggalkan. Suasana tambah gelap. Ditambah abu dari gunung meletus yang mulai berjatuhan, suasana makin tambah mencekam.

"Abu Gunung Ontake sudah melingkupi kota. Berbahaya untuk peralatan tempur. Lebih baik perintahkan pasukan mundur."

"Roger!"

Ia membalikan badannya dan berteriak, "Bravo! Bravo!"

Semua tentara segera berkumpul. Akhirnya, mereka bisa melepas penat dan ketegangan ditambah tak akan menjadi korban selanjutnya -setidaknya untuk hari ini-.

Tadi, mereka ditugaskan memburu target yang diduga mental model. Namun seperti halnya mental model, mereka amat sangat sulit. Tak hanya helikopter Apache Longbow, F-3 stealt fighter juga dikerahkan untuk memporak-porandakan kota. Tetapi, setelah dibom di tempat yang ditentukan, selalu saja ada mayat yang muncul dengan lubang menganga lebar di dadanya. Pergerakan mereka yang sekilas diantara gedung ditambah suara dentuman super keras menjadikan sebuah psyci terror tersendiri. Hingga 100 orang atau satu unit yang dikerahkan, seperempatnya tewas, dan lebih dari setengah luka-luka.

Untung, beberapa menit yang lalu mereka kehilangan jejak. Setelah dicari di seluruh kota, jejak graviton benar-benar tak ditemukan.

Setelah mendapatkan sedikit pengarahan, pasukan dan mayat segera diangkut menggunakan truk-truk. Tak lama, Truk-truk itu lekas pergi.

Suasana kota tersebut semakin hening. Tak ada suara apapun selain kayu yang jatuh akibat bekas tembakan yang genting. Abu semakin lama semakin menebal menutupi jalanan dan puluhan mobil yang ditinggalkan begitu saja.

Beberapa menit setelah itu sesosok perempuan 20-an bersurai ponytail putih dengan pakaian kasual dengan celana panjang penuh saku timbul keluar dari salah satu reruntuhan. Di kedua tangannya tergenggam 2 double barrel pistol dengan kaliber 15,6 mm, pantas saja suaranya amatlah keras. Ia mengarahkan kesana-kemari; namun, ia tak merasakan hawa panas di seluruh kota. Peta hologram yang muncul juga tak menunjukan.

"Losharik! Semuanya aman!" teriaknya.

Dari situ juga keluar seorang gadis dengan surai kuncir dua berwarna sama. Ia juga memakai pakaian yang sama. Yang membedakannya hanyalah ia lebih kecil dan tangannya hanya terdapat sepucuk pistol PSS lengkap dengan peredam. Pistol itu cukup kecil untuk dimasukan ke dalam bajunya.

"Mereka benar-benar tak ada," ucapnya.

"Mereka kembali ke utara. Kita akan pergi sekarang. Terlebih…"

Ia mendongakan kepalanya ke atas. Langit semakin gelap dan abu vulkanik terus turun menutupi tanah hitam bekas ledakan. Tangan Losharik mengadah kemudian digosokan diantara jemari.

"Materi penuh mineral," ucapnya pelan.

"Lebih baik kita mencari kendaraan sekarang."

Dibalas anggukan gadis kecil itu, mereka segera berlari ke sebuah jalan dimana terdapat ratusan mobil mengantri di jalan namun tak bertuan. Tak lupa sebelum itu mereka menyimpan senjata mereka dibalik baju. Ia menghampiri salah satu sedan Civic berwarna merah yang terlihat mengalami pengaratan. Wanita ponytail itu segera meletakan tangannya di badan dan beberapa hologram muncul.

"Bahan bakar masih banyak. Sistem kelistrikan masih awet."

Mobil segera berbunyi tanda terbuka. Mereka segera memasuki mobil. Tak lupa, Losharik mengambil sampel abu vulkanis yang disimpannya pada botol kecil. Di dalam amatlah lembab dan berbau. Namun, itu bukan masalah bagi mereka. Terlihat tangan Losharik mengutak-atik hologram yang ada di tangannya kemudian mobil menyala. Radio hanya menampilkan suara mirip kantong kresek.

"Kencangkan sabuk pengaman. Perhentian selanjutnya, Kure," kata wanita itu.

Ia memutar kenop radio hingga radio menampilkan salah satu musik. Entah apa judulnya, yang pasti enak untuk didengarkan.

Ia menekan pedal gas perlahan meliuk diantara kepungan mobil dan akhirnya mereka keluar dari kota tersebut.


Hotel Enden, Kure, 12.43, 24 Februari 2056

"Mizuki Iwahara dan Asako Iwahara, kalian kakak beradik ya?" kata seorang Resepsionis perempuan membaca kartu nama mereka, "Tentu! Kalian ada pada daftar undangan. Sebentar."

Resepsionis itu mengembalikan kartu nama mereka dan membuka buku catatan. Tangannya beberapa kali membolak-balikan halaman buku. Jarinya mengusap buku dan mulutnya komat-kamit mengucapkan nama.

"Namanya Mamiko Miki. Iya kan?"

Mereka berdua mengangguk.

"Ia berada di kamar 53 di lantai dua. Dan orangnya ada."

"Terima kasih," mereka segera membungkukan badan dan berlalu.

Mereka segera memasuki lift yang kebetulan terbuka mengeluarkan semua orang di dalam dan menekan tombol 2. Lift segera tertutup dan tekanan gravitasi membesar. Tak lama, lift terbuka dan mereka segera berjalan mencari nomor yang dituju. 49… 50… 51… 52… dan ini dia, 53. Gadis kecil itu mengetok pintu cukup keras.

"Dobryy den', suka!" ucapnya agak keras.

"Masuklah! Tak dikunci."

Ia segera membuka kenop pintu dan disana sudah ada wanita dengan surai hitam legam setelan merah lengkap dengan dasi dan rok pendek warna senada. Wanita itu duduk di sebuah sofa merah dengan menghadap menyampingi pintu Ia menggengam sebuah gelas bar bening dengan sebuah cairan berwarna dan botol Vodka di meja. Tak lupa ia menyilangkan kaki menampakan pantyhose hitam dan sepatu hak tinggi berwarna merah.

"AS-12 dan Orenburg ternyata. Kenapa kalian sungguh lama?"

"JSDF," jawab wanita yang dikenal dengan nama Orenburg.

"Wah, sudah kubilang jangan mengeluarkan pancingan kepada mereka."

"Ra, tak ada siapapun yang memanggil mereka," kata Losharik pelan. Ia mengarahkan kepala kesana-kemari mencari sesuatu, "Ngomong-ngomong, mana Kursk? Dia sedang mandi?"

"Dia tidak akan datang secepat ini, AS-12. Paling hanya 5 menit."

"Aku tahu 5 menitnya seperti apa. Dan biar kutebak, kau sudah mengacak CCTV kamar ini dan menyebarkan penghalang agar tak terdeteksi?"

"Paling dia bablas ke basis. Dan apa itu di tangan kalian? Kartu nama baru kah? Atau kau hanya mengganti nama dengan kartu sebelumnya?" kata Ra sinis, "Kenapa kalian tak duduk saja di sini? Sofa empuk, Vodka, atau kau ingin apel?"

Mereka akhirnya duduk di hadapan wanita kantoran tersebut. Ia menatap dalam-dalam kedua temannya tersebut, seolah ad yang ingin dibicarakan. Agak lama memang. Ia meminum isi yang tersisa, namun tiba-tiba ekspresinya dengan cepat berubah 180 derajat, matanya sayu dan senyum di bibirnya turun. Gelasnya ia pegang dengan kedua tangan. Mereka terdiam, ia perlahan mengerti apa yang dipikirkannya.

"Aku turut berduka cita," kata Orenburg pelan ditanbah anggukan dari Losharik.

"Sekarang kita hanya tersisa 4 orang saja."

Nafasnya serak.

"Pskov sudah melakukan hal yang luar biasa, Ra. Ia telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan kita. Biarkan ia tidur dengan tenang."

"Ini salahku. Bila saja aku sempat menembakan Hegdehog ke Pensacola, ia tak akan mungkin terkena supergravity cannon."

Suasana kembali hening

"Kursk sudah membunuhnya," sahut Orenburg.

"Dan itu tak akan mengubah fakta kalau kita hanya tinggal 4 orang," balas Ra seraya membenarkan posisi duduknya.

"Yah. Kutukan ini tak akan pernah terhapus," kata Losharik seraya melihat telapak tangan kanannya yang tergambar persegi dengan 4 buah siluet hitam daun Anthurium yang membentuk silang di dalamnya

Ra menarik nafas dalam-dalam, "Kita sudah membahas itu berkali-kali. Kita bukanlah fog! Kita sudah melakukan kudeta kepada admiral tertinggi! Kita manusia, memiliki akal dan nafsu dan kita tak akan ditindas begitu saja oleh siapapun. Dan inilah kenyataan yang harus dihadapi. Menjadi buruan nomor satu diseluruh dunia, tanpa mengenal fog, manusia, atau megalodon," ia yang tadinya berapi-api kini meredup.

Suasana kembali hening. Yang terdengar selanjutnya adalah isakan. Ra benar-benar menitikan air mata, namun segera ia lap dengan lengan. Mereka berdua juga merunduk, hati mereka terasa ada yang menusuk.

Losharik berpikir, mengapa hanya satu-satunya yang tak menangis? Padahal Pskov terasa seperti adiknya sendiri. Entah mengapa ia merasa tak ada apapun. Hatinya masih ada lapisan dinding beton, kosong tanpa simpati. Apa ia belum menyadarinya padahal 1 hari yang lalu? Atau ia bisa menerima kenyataan tersebut? Tiba-tiba sesuatu menyambar tubuhnya begitu cepat. Apa ini? Mengapa hati ini serasa begitu mengganjal dan pikiranku teringat padanya, batinnya. Ia sudah mati! Karam! Pergi selamanya!

Losharik perlahan bangkit dan berjalan dari belakang dan memeluk erat Ra dari belakang. Ia masih menangis namun pelukan hangatnya perlahan bisa meredekannya.

"Ia sungguh baik. Terima kasih telah mempertemukanku dengannya," bisikan itu amatlah hangat di telingannya.

Dengan nafas yang masih serak, ia kembali menggosok mata dengan lengan yang mulai basah. Ia mengelus kepala gadis itu perlahan walau air matanya tak bisa terbendung. Lembut dengan lembut hingga gadis itu ikut menitikan air mata.

Tak sadar, seseorang lagi memeluknya dari samping kanan. Itu Orenburg. Senyumnya mampu menenangkannya. Ia memejamkan matanya dan perlahan mengelus kedua kepalanya.

"Aku sungguh bersyukur menjalani hidup ini."

Ra kembali lagi mengelap kedua matanya.

"Terima kasih, terima kasih semuanya. Kumohon anak-anak, jagalah kalian baik-baik. Kalian amatlah berharga dan satu-satunya yang aku punya. Bila kalian tenggelam, siapa lagi yang menggantikan kalian?"

Mereka semua larut dalam tangisan.


Air beriak sangat deras. 3 buah kapal meluncur cukup cepat. Suasana di situ amatlah berkabut dan dingin. Tribal yang terukir di badan kapal menyala amatlah merah menembus kabut. Pada kapal yang paling besar, seorang perempuan dengan surai merah menyala sebatas rok pendeknya tengah berdiri di atas radar berjenis FuMo 25 dan 2 cincin yang terus berputar mengitarinya.

Dibalik kabut tersebut, muncul sesosok bayangan hitam. Semakin lama semakin membesar dan jelas hingga mampu menyaingi besar kapal paling depan. Itu bukanlah gunung es, namun sebuah kapal. Ya, kapal tempur hitam dengan laras berwarna emas. Itulah kapal tempur Musashi. Pemimpin dari Armada Scarlet. Namun besarnya belum mampu menyaingi kapal tersebut.

Haluan segera menyemburkan roket merah untuk menghentikan laju kapal. Akhirnya, ia dapat bersanding dengan kapal yang sedikit lebih kecil darinya.

Wanita itu segera melompat tinggi dan mendarat di dek kapal tersebut dengan posisi kuda-kuda. Gadis cilik bersurai putih dan seorang pria paruh baya dengan kacamata hitam itu segera mengarahkan kepalanya. Wanita itu berjalan mendekati mereka. Langkahnya segera terhenti dan matanya menatap dalam-dalam pria itu.

"Wahai Tuan Shouzo Chihaya. Saya, Prototype Improvisation Number 1 Anti Submarine Warfare Battleship Lutjens meminta izin untuk menjalankan operasi perburuan di daerah patroli Scarlet Fleet," ucapnya perlahan.

Pria itu berdeham, "Saya ijinkan. Perlu aku perintah Nomor 4 Mirai untuk membantumu?"

"Tidak, terima kasih Tuan. Bukannya saya meremehkannya tuan, namun ia lebih baik tak ikut dalam misi ini, dan biarlah kami yang melakukannya."

"Baiklah."

Ia kembali melompat ke kapal tempurnya. 4 roket menyala merah meninggalkan gelembung udara yang amatlah banyak. Mereka bertiga mulai bergerak meninggalkan Musashi

Kapal tersebut memiliki 4 kubah meriam berbentuk layaknya kapal tempur Jerman. Bentuknya dan persenjataannya seperti kapal H-42. Namun yang membuatnya unik adalah memiliki 4 meriam setiap kubah dan 2 meriam di tengah semuanya lebih panjang dari 2 meriam di pinggir.

2 kapal lainnya yang mengekor teridentifikasi sebagai kapal tempur Scharnhorst dan Graf Spee juga begitu. Meriam utama yang di tengah lebih panjang daripada yang di pinggir. Entahlah, apa yang bisa membuat mereka seperti itu. Siapapun yang mengira pasti meriam itu hasil comotan dari meriam K5. Itu membuat mereka unik. Hingga Shouzo bergumam perlahan, "Nakayubi Fleet."

Semakin lama, mereka sudah menghilang dibalik kabut.


TRIVIA and FACT

- Mereka bertiga (Yang ada di hotel) tak ada yang memiliki nama asli

- Nakayubi : Middle Finger

- Senjata Orenburg adalah 2 pucuk pistol 2 laras dengan peluru .600 Nitro Express dan Losharik adalah pistol mini PSS

- Ra memanggil Losharik dengan sebutan AS-12

- Mirai merupakan Prototype Improvisation Number 4 sementara Lutjens adalah Prototype Improvisation Number 1


Мас Донго 2016