Blackdream
Oleh: Jogag Busang
Disclaimer: Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujimaki
Penulis tidak mengambil keuntungan materil dari fanfiksi ini
.
.
"Akashi-kun?"
Lelaki yang dipanggil mendongakkan kepalanya dari tumpukan kertas. Dalam hati dia mengeluh, jika kekasihnya sudah memanggil dengan nada seperti itu, pasti pikirannya sedang tidak sehat. Menghargai, Akashi meletakkan pulpen di atas meja belajar.
"Ada apa, Tetsuya?"
"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Dahi Akashi terlipat. "Maksudmu?"
"Tentang kejadian kemarin. Waktu kita pulang sekolah, Akashi-kun. Aku takut kalau besok aku akan melihat hal-hal aneh lagi."
"Masalah penampakan kemarin?"
"Iya, tapi itu hanya sebagian. Ada yang lebih parah pagi sepertinya."
"Apa, Tetsuya?" Atensi Akashi kali ini sepenuhnya tertuju kepada lelaki berambut sebiru laut tersebut. "Coba ceritakan kepadaku pelan-pelan."
Mata Tetsuya berkeliling di sepenjuru kamar. Hari ini dia memang hendak menginap di sini. Sejujurnya, dia sedang kebingungan. Tangannya sejak tadi tidak berhenti untuk terus mengepal, mencoba menahan sesaknya hati yang kian menggumpal.
Tetsuya menarik napas. "Kemarin, Daiki kecelakaan, kan?"
"Iya. Lalu, apa hubungannya denganmu?"
Suara Tetsuya melirih ketika dia berkata, "Malam sebelumnya, aku memimpikannya, Akashi-kun."
Akashi menatap Tetsuya lebih dekat. "Kamu tidak becanda, kan, Tetsuya?"
"Tidak, Akashi-kun. Aku serius."
Ini mulai gawat. Akashi tahu betul itu. Kekasihnya, Kuroko Tetsuya, sejak awal dia berjumpa, bukanlah lelaki biasa. Dia itu… istimewa. Bukan dalam artian menggombal atau memuji, tetapi Tetsuya adalah anak yang berbeda dari kebanyakan. Tetsuya bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata. Istilah umumnya, dia memiliki indra keenam. Dan semakin bertambah usia, kemampuannya semakin tajam.
Sebagai kekasih yang pengertian, Akashi juga ikut merasakan. Sudah sering dia menjadi tempat curhat bagi Tetsuya jika ada masalah.
"Lalu? Apa yang meresahkanmu?"
"Aku bingung bagaimana aku harus bersikap, Akashi-kun. Di satu sisi, aku ingin hidup normal. Tapi di sisi lain, aku tidak bisa terus-terusan menyembunyikan kemampuanku ini dari orang lain. Akashi-kun tahu, mengetahui hal-hal yang bahkan belum terjadi bagiku adalah sebuah musibah," ujar Tetsuya, wajahnya sudah cukup diliputi kecemasan.
"Hanya satu kali sajakah kamu memimpikan hal seperti itu?"
Tetsuya menggeleng. "Tidak, Akashi-kun. Sudah berulang kali aku memimpikannya. Dan setiap kali bermimpi, mimpiku menjadi kenyataan. Aku takut, Akashi-kun."
Akashi berusaha mencerna.
"Aku takut kalau… kalau suatu saat nanti akan memimpikan hal buruk tentang Akashi-kun. Aku tidak mau kehilangan Akashi-kun."
"Tetsuya, kalau boleh jujur, aku juga tidak tahu bagaimana cara mengatasi hal semacam ini. Tapi, hanya satu hal harus kamu tahu."
Akashi memegang kedua bahu Tetsuya. "Aku akan selalu ada di sisimu. Aku memang tidak tahu apa-apa, tetapi percayalah, kalau kamu mempunyai masalah apa pun, langsung ceritakan kepadaku. Jangan pernah menyimpan masalah seorang diri, Tetsuya. Aku tidak mau kamu sakit atau stres."
Netra Tetsuya berkaca-kaca. Butuh waktu yang cukup lama untuk menenangkannya.
"Terima kasih, Akashi-kun. Kamu selalu ada untukku."
"Sudah, tidak perlu mewek. Tidur saja sana."
Cemberut sekilas, Tetsuya lalu menurut. Dia segera berbaring di atas kasur.
"Akashi-kun tidak ikut tidur?"
"Ada tugas yang harus kuselesaikan malam ini. Kamu tidur saja dulu."
Percakapan di antara mereka terhenti sampai di situ.
Paginya, Tetsuya terbangun secara mendadak. Napasnya terengah dan keringat dingin membasahi kening.
"Ada apa, Tetsuya?"
Tangan Tetsuya gemetar. "Akashi-kun…"
"Ya, ada apa?"
Mulut Tetsuya terasa kering ketika dia menjawab, "Aku bermimpi ibu Akashi-kun tertabrak mobil…"
.
GAME OVER
