Kadang-kadang Baekhyun melempar barang. Tapi di lain waktu, Baekhyun melempar barang. Jadi intinya, rangkuman kehidupan Baekhyun diisi dengan tindakan anarkis. "Dear orang-orang yang lebih tinggi dariku: bedebah kalian semua!" / "…rela aku ditindih bidadari macam kamu."
.
.
Unfair
Chanbaek pairing
WARN: Sho-ai, BL, Yaoi
Sorry for typo(s)
.
.
Baekhyun cukup bahagia dengan kehidupannya.
Keluarga Byun sangat berkecukupan, memiliki pandangan sosial, Ayahnya detektif kepolisian, Ibunya mantan professor kuliahan, kakaknya pembalap mobil professional dan dirinya? Siswa pintar yang masuk sekolah menengah atas melalui jalur rekomendasi. Di ruang tamunya, dipajang banyak medali LKS hasil kerja kerasnya. Belum lagi lemari kaca yang menyimpan berderet-deret piala dan piagam dalam bidang akademik.
Singkatnya, kehidupan Baekhyun itu mulus sekali.
Mau beli sesuatu? Duit ada. Mau dapat peringkat satu? Otak pintar ada. Mau berpenampilan bak model majalah pun bisa, wajah unyu nya tidak terhapus usia. Kalau kalian tanya gimana cara dapat kecengan? Udah bos, pada ngantri malah buat mendapatkan perhatiannya—notice me, Baekhyun senpai—tapi dianya aja yang masih tarik ulur. Biasanya menuturkan senyum manis ambil berkata;
"Maaf ya, aku masih lebih minat mengejar prestasi."
Atau kadang-kadang merespon lebih tegas buat orang-orang yang ngebet banget deketin doi;
"Maaf ya, Ayah bilang aku tidak boleh pacaran."
Dan kalimat final itu sangat ampuh memukul mundur mereka semua. Well, siapa yang tidak tahu detektif kepolisian terkenal di koran-koran dan acara berita TV karena sering menyelesaikan kasus kriminal yang menjatuhkan HAM? Tidak ada yang mau berurusan sama calon mertua garang seperti itu—apalagi biasanya mereka mendekati Baekhyun cuma karena tertarik dengan parasnya.
Sekarang kalian pasti membayangkan Baekhyun yang penuh kharisma dengan latar belakang keluarga mapan plus banyak digebet orang-orang tapi tidak punya teman—gara-gara sang Ayah.
Kenyataannya bukan begitu.
Baekhyun punya banyak teman karena pribadinya pintar membangun suasana. Dia anak yang berisik dan pecicilan sejak masih diberi ASI. Dulu waktu pertama kali belajar jalan dengan dua kaki, Baekhyun tidak pernah menunduk memperhatikan langkah, pandangannya lurus ke depan sampai sering menabrak apapun di hadapannya. Ibunya kewalahan. Jika matanya meleng sedikit tidak mengawasi sang anak bungsu selama dua detik, pasti Baekhyun sudah terguling kesandung karpet atau bantal.
Kalian tanya dia nangis apa engga?
Engga dong. Baekhyun kan anak kuat. Umur tiga tahun jatuh terperosok ke selokan sampai jempol dan punggung kakinya lecet saja tidak menangis apalagi cuma menabrak kaki meja. Satu-satunya hal yang membuat dia menangis waktu balita adalah dipaksa makan timun dan beberapa hal aneh. Dia pernah menangisi balon yang meletus selama dua jam. Bukan, bukan karena kaget si balon pecah di depan muka, tapi karena balonnya pecah sobek-sobek begitu—kasihan katanya.
Oke, pertanyaan selanjutnya; apa lagi yang kurang dari Byun Baekhyun?
Ada.
Tinggi badan. Dan ini masalah krusial. Dia tak akan segan melancarkan tindakan anarkis pada siapapun yang menyinggung hal ini. Karena hal ini juga hidup bahagianya memiliki nama belakang, hidup bahagia yang tertunda.
Entah karena dulu dia menabrak apa saja setiap belajar jalan sampai tulangnya mandet gara-gara terbentur melulu atau memang dia kurang minum susu. Tapi tidak! Baekhyun suka minum susu—apalagi stroberi—sampai sekarang di umurnya yang menginjak 17 tahun. Tingginya sih mencapai rata-rata normal, terakhir mengukur seratus enam puluh sembilan.
Tapi entah siswa di kelasnya memang pada mengonsumsi galah atau tinggi secara biologis. Tinggi yang seharusnya normal jadi terlihat pendek bagi Baekhyun. Tidak adil kan.
Dear orang-orang yang lebih tinggi dariku: bedebah kalian semua! hatinya menjerit.
(puk puk Baekhyun)
Kalau ada yang memuji dia karena paras cantiknya, pasti ada yang mengejek dia karena pertumbuhan terhambat. Suatu pagi yang damai setelah liburan musim panas, Minseok baru saja masuk ke kelas dan disambut tarikan napas Baekhyun yang terkejut.
"Minseok, kau—kau kurusan?!"
Minseok nyengir, "Musim panas kemarin menguras habis keringat, kau tau."
Baekhyun menusuk pipi temannya itu ketika mengambil tempat duduk di depannya. "Aha, syukurlah masih bakpao."
Minseok menatapnya tak suka, maka ia membalas, "Biar kutebak, liburan kemarin kau pasti malas-malasan di rumah. Soalnya tinggimu segitu-segitu aja, kayaknya pinggangmu malah ketambahan lemak deh."
Tidak ada sedetik berlalu, Baekhyun melemparnya dengan tempat pensil telak di muka.
Belum lagi kejadian waktu dia piket. Ceritanya sih menghapus papan tulis dengan suka cita pas pelajaran berakhir. Baru aja menggenggam penghapus, ketua kelas nyeletuk di belakangnya.
"Baek, nyampe kan? Kalau engga, ada kursi nih."
Setelahnya, muka Kim Jongdae ternoda warna hitam hasil cetakan penghapus yang dilempar. Bahkan Baekhyun tidak mempedulikan keluhan korban dan langsung menyambar penghapus lain, melanjutkan kegiatannya seolah tidak terjadi apa-apa. Ditambah ketika dia membantu menyapu kelas, Kim Jongin yang sedang menaikkan kursi ke meja bicara padanya sambil menahan tawa;
"Pfftt, Baekhyun, itu gagang sapu sama tinggi badanmu nggak ada bedanya ya. Masa kalah sih sama alat kebersihan."
Kemudian ember plastik di dekat kaki melayang ke kepalanya. Untung belum diisi air buat mengepel.
Ah… apalagi saat dia dipanggil ke ruang kepala sekolah. Bukannya menerima hukuman akibat sering melempari teman-temannya—tapi menerima penghargaan karena memenangkan lomba LKS lagi. Dia kembali ke kelas dengan piagam di tangan, membuat semua murid menyalaminya. Ia tersenyum bahagia karena semuanya menyatakan betapa bangganya mereka. Sampai celetukan seseorang membuat panas telinganya,
"Wah hebat banget prestasimu melesat naik lagi. Trus tinggi badanmu kapan naiknya?"
Sial tidak sih.
"Tutup mulutmu, kau bahkan tidak lebih tinggi dariku, Kyungsoo!" ejek Baekhyun balik dengan geraman tertahan. Sekesal apapun dia, masih cukup waras untuk tidak melempari Kyungsoo sesuatu karena masih sayang nyawa. Selain dirinya, Kyungsoo juga mendapatkan citra yang sama—alias pendek-pendek tapi kejam.
Singkatnya, Baekhyun akan melempari siapapun yang menyinggung hal krusial itu—kecuali satansoo.
Itu baru sebagiannya omong-omong. Masih ada satu makhluk yang lebih menyebalkan dibanding mereka semua meski sama-sama menyinggung tinggi ba—
"Kok kamu pendek sih? Kayaknya enak buat diketekin,"
—NGSAD!
Ini nih yang paling parah. Siswa paling tinggi di kelas, kalo senyum mukanya gigi semua, ngaku-ngaku sebagai cassanova, tetangganya sejak sekolah dasar: Park rabies Chanyeol.
"Sini ngomong sekali lagi kamu yang kuketekin!" sewot Baekhyun.
Chanyeol menyunggingkan senyum menyebalkannya seperti biasa. Dagunya diangkat seolah menantang tapi ekspresinya berubah sedih, "Apa kau bahkan bisa menyentuh leherku?" intonasinya sok prihatin.
Baekhyun melempar kamus bahasa Inggris dari atas mejanya tanpa menoleh tapi si tinggi itu seperti sudah bisa memprediksi dan menghindar begitu saja dengan mudahnya. Padahal tempat duduk mereka—sialnya—sebelahan tapi tetap tidak kena. Baekhyun misuh-misuh sendiri. "Kok nggak kena sih?!"
"Udah berapa tahun kita tetanggaan? Ya udah pasti lah aku hapal semua gerak-gerikmu pas mau ngelempar barang."
Baekhyun ingin melemparnya dengan sesuatu lagi—sesuatu yang lebih tebal dari kamus—tapi mejanya sedang kosong. Well, dia sedang sibuk menghapal beberapa kosakata dalam bahasa Inggris dengan tenang dan damai sampai Chanyeol mengajaknya berantem. Menghela napas kasar, dia menatap tajam si jangkung, "Ambilin kamusku, gih." matanya beralih pada buku tebal di samping kaki Chanyeol.
Chanyeol menatapnya jengah, "Idih, siapa yang ngelempar tadi?"
"Kan kamu yang minta dilempar!" Baekhyun menuding lelaki itu dengan tak sabar.
Chanyeol menjulurkan lidah dengan sengaja—sialan, Baekhyun diejek sedemikian rupa. "Ambil sendiri, lah. Punya tangan, kan? Tinggal ulurin tangan—oh maaf, aku lupa. Tanganmu kan pendek juga."
Baekhyun sudah siap menerkam lelaki itu dengan lemparan tas sekolahnya namun kedatangan guru Song ke kelas menginterupsinya. Ah, kenapa Park rabies Chanyeol selalu berhasil selamat dari tindak anarkisnya. Baekhyun menggerutu tak jelas, entah merapal rune sihir kutukan kuno atau nama-nama di kebun binatang.
Padahal dia cuma menyumpah dengan nama-nama tabel periodik unsur kimia.
Orang pintar memang beda, bung.
Ketika guru Song mulai menjelaskan sambil menulis materi di papan tulis, kamus yang teronggok di lantai tadi akhirnya dikembalikan oleh Chanyeol ke mejanya. Oh, tumben ini anak baik sekali. Baekhyun baru melirik dan langsung membaca sticky note yang ditempel di sampulnya;
'Aku kasihan sama tangan pendekmu, jadi kuambilkan saja. Berterimakasihlah :*'
Emoticonnya bikin mual. Ucapan terima kasih yang sempat diniatkan langsung ditelan jauh ke dasar tenggorokan. Baekhyun menahan diri untuk tidak menggebrak meja tanda bendera perang dikibarkan.
Dear orang-orang yang lebih tinggi dariku: bedebah kalian semua! hatinya menjerit lagi.
Hidupnya masih tidak tenang ketika sampai di rumah. Orang tua dan kakaknya memang tidak pernah menyinggung tinggi badannya. Tapi karena yoda rabies itu tinggal di sebelah rumahnya, ia jadi sering diejek habis-habisan. Contohnya saat ini, baru saja dia pulang sekolah ketika sang Ibu tercinta memintanya untuk mengganti bola lampu di teras. Ia sempat menolak dengan halus tentu saja.
"Kenapa aku, Bu? Kak Baekbum kemana?" ia bertanya sambil meletakkan sepatu di raknya. Pertanyaan logis karena biasanya sang kakak yang membantu hal ini, secara teknis toh badannya lebih tinggi.
Nyonya Byun datang ke teras sambil menggenggam kardus lampu baru yang tersegel rapi, "Kakakmu tadi pagi kan berangkat latihan tikungan. Sekarang belum pulang juga, kayaknya menginap di sana sekalian. Udah sore nih, nanti teras kita gelap lagi."
Baekhyun tersenyum geli, "Tikungan jalan kan maksudnya?"
"Memangnya kamu kira tikung-menikung dalam hubungan?" Ibunya menaikkan alis dengan heran.
Ia tertawa, "Iya juga sih. Kakak kan belum punya pacar, siapa yang mau ditikung coba." Tasnya diletakkan di atas kursi depan lalu menerima barang dari uluran tangan Ibunya secepat mungkin. Ia harus sempat memotong celotehan Ibunya tentang; kakakmu itu kapan ke rumah bawa pasangan, pikirannya cuma balapan mobil terus-terusan, yang dibawa ke rumah medali melulu.
Wah banget ya.
Ibunya sampai bosan sama medali. Memang dasar keluarga berprestasi. Alasan sederhananya sih karena sang Ibunda tidak mau membeli lemari kaca baru untuk menyimpan aset berharga itu.
"Pakai tangga ya biar aman, jangan kursi." Ibunya memberi pesan sebelum masuk kembali ke dalam rumah.
Baekhyun menyempatkan diri mengambil tangga lipat di sebrang halaman. Naik ke puncaknya, ia memutar bola lampu yang sudah tak menyala itu dengan perlahan. Konsentrasi penuh dan tiba-tiba suara menggelegar mengagetkannya.
"HALOOO BAEKHYUN!"
Benda licin itu terpeleset dari tangannya. "Uwah! Awas kena—!"
Tangan besar menangkap bola kaca sebelum pecah menyentuh lantai. Sosok tinggi familiar mengusap dadanya dengan lega, "Untung refleksku bagus."
Baekhyun menatap datar anak tetangga yang masuk ke pekarangan rumahnya tanpa permisi. "Barusan nggak kena lampunya ya?"
Chanyeol mengangkat wajah untuk bertatapan, "Iya alhamdu—"
"Cih, kenapa nggak kena aja sekalian?"
"Bangsad." Ia menyenggol tangga dengan sikunya main-main, sengaja ceritanya.
Baekhyun berpegangan erat-erat, kakinya menekan tangga supaya berhenti bergetar. "HEH KALAU AKU JATUH GIMANA?!" protesnya membahana. Untung tidak memekik seperti wanita. Mau dikemanakan wajahnya ini. Well, meski secara teknis wajahnya cantik sih.
Chanyeol memutar mata, "Mirror please. Tadi siapa yang berdecih karena aku selamat dari pecahan lampu?"
Tuan rumah melipat tangan di depan dada, mukanya ditekuk. "Suruh siapa ngagetin begitu? Ambilin lampu baru sekalian dong. Di atas meja tuh." titahnya dengan kepala merunduk supaya semakin menekankan bahwa dirinya lebih tinggi kali ini. Duduk di atas tangga sih.
Chanyeol menurutinya tanpa putaran mata atau decakan kesal. Tapi mulutnya bicara, "Yes, my princess."
Baekhyun menyabet lampu dari tangan itu, "Amit-amit!" umpatnya sebagai tambahan.
"Baekhyun, kamu dari tadi teriak-teriak gitu ngapain sih—oh ada Chanyeol ternyata…" Ibunda tercinta terpaksa keluar lagi karena mendengar suara tinggi putranya. Beliau sudah siap menceramahi sang anak bungsu yang suaranya bertambah toa parah sejak bayi—tangisannya dulu cukup untuk membangunkan tetangga tiap malam.
Chanyeol tersenyum ramah, "Selamat sore, Bibi. Ibuku memintaku untuk mengembalikan ini," tangannya menyerahkan obeng x pada pemilik, "terima kasih sudah meminjamkan."
Baekhyun yang sibuk memasang lampu tengah mengimitasi cara bicara Chanyeol dengan wajah mengkerut. "Selamat sore blah blah blah halah sok manis." gumamnya dengan suara mikro.
Nyonya Byun tersenyum ramah, "Oh ini, sama-sama Chanyeol." lalu kepalanya mendongak melihat putranya, "kalau sudah selesai cepat masuk ke dalam ya. Dan jangan berteriak lagi, suaramu itu pecah sampai ke dapur."
Chanyeol membuang muka ke samping untuk tertawa ditahan-tahan sementara Baekhyun mengangguk singkat—malas menjawab. Setelah Ibunya lenyap dari pintu, Chanyeol mengusap sudut mata yang berair sambil menatap yang lebih pendek, "Dari dulu ya Baek, suaramu tetep aja jadi polusi udara."
Baekhyun sengaja menjatuhkan kardus baru dari pangkuannya. Kali ini beruntung, karena Chanyeol tidak memperkirakan hal itu, kotak kardus menimpa hidungnya.
"Mampus," ceplos Baekhyun penuh kepuasan.
Chanyeol menendang kardus jauh-jauh dari kakinya, "Aku kesal sih tapi untung benda ini ringan." katanya supaya yang lebih pendek makin kesal karena gagal.
"Mau tidak ketimpa tangga?" Baekhyun mencengkram pinggiran tangga besi seperti bersiap mendorongnya jatuh.
Chanyeol melebarkan mata, hampir melangkah mundur menjaga jarak seketika. Namun sedetik kemudian senyumnya muncul ke permukaan, "Daripada tertimpa tangga, mending kejatuhan kamu aja deh. Rela aku ditindih bidadari macam kamu."
Nah ini. Salah satu sikap menjijikan Chanyeol yang lebih parah dari mengejek tinggi badannya. Terkadang ia menggoda Baekhyun seperti orang-orang agresif yang menggebetnya. Mau muntah aja rasanya. Baekhyun bergerak menuruni tangga.
"Oh aku baru tau orientasimu itu ternyata di bawah," ia memberikan tatapan mengejek.
Chanyeol menunjukkan deretan giginya dengan lebar tanpa tersinggung, "Well, secara teknis kan kamu cuma nindih. Tetep aja dominannya aku." entah kenapa suaranya terdengar bangga.
Baekhyun ingin menyemprotnya dengan air cuka, sayang sekali botol semprotan masih tersimpan di balik resleting tas depan. Jangan tanya kenapa ia membawa benda gituan ke sekolah, tentu saja pemberian Ayahnya kalau-kalau ada orang yang berniat macam-macam. "Ayahku bakalan menembakmu dengan pistol barunya kalau mendengar hal ini."
Chanyeol menyentuh dada dengan ekspresi terharu, "Jadi kamu nggak mau aku mati ya? Akhirnya… kalau peduli jangan ditahan-tahan, nggak bagus, Baek."
Begitu kaki telanjang tanpa alasnya menapaki lantai, Ia menendang betis si jangkung. "Maksudnya aku mengancammu dasar yoda rabies! Kutambahkan nama tengahmu jadi masokis nih lama-lama." tangannya bergerak merapatkan tangga lipat.
Chanyeol tidak mengaduh sakit. Ekspresinya begitu datar ketika mengatakan, "Barusan kamu menendang karena nggak sampai buat mencekik aku ya? Gimana kalo aku aja yang chokes kamu?Di ranjang tapi hehe."
Detik berikutnya, bahu Chanyeol tercium tangga besi tanpa ampun.
Nyeri, bung.
.
.
.
.
Orang-orang pasti mengutuk hujan yang turun dengan deras tiba-tiba. Kesal karena tidak membawa payung atau setidaknya kesal karena hujan mengganggu aktivitas mereka. Bagi Baekhyun, hujan tidak seburuk itu. Dia juga santai-santai saja kalau hujan mendadak turun saat pulang sekolah, karena pasti salah satu dari sekian orang yang menaruh hati padanya akan langsung mendatangi dan memberikan payung dengan cuma-cuma.
Licik?
Bukan bung, keberuntungan namanya.
Seperti saat ini, hujan mengguyur deras sejak pelajaran terakhir dan tak kunjung reda sampai bel pulang bergema. Baekhyun berdiri di lorong utama dengan payung merah bermotif angry bird pemberian adik kelas. Dia tahu itu adik kelasnya karena memanggilnya kakak. Dan juga anak itu langsung ngibrit dengan payung kuning pikachu—mirip punya Jongdae—menerobos hujan setelah Baekhyun mengucapkan terima kasih.
Ia tidak kaget lagi dengan kejadian itu. Hampir semua orang yang dinotisnya—padahal cuma ucapan terima kasih—selalu bereaksi sama.
Ia baru mau membuka payung ketika suara om-om berada di sampingnya.
"Eoh, ada Baekhyun. Pas banget!"
"…"
Ini kutukan apa gimana sih dia ketemu makhluk rabies terus-terusan.
Chanyeol menyabet payung dari tangannya dan membukanya sepihak. Baekhyun menoleh dengan alis menukik, "Helloooh! Payung siapa itu yang kau pakai?!"
"Punya Kim Taehyung, ada namanya nih di gagang payung." kata Chanyeol sambil memperlihatkan label yang tergantung.
Baekhyun melirik gantungan lalu menyahut dengan tenaga dalam, "Tapi dia memberikannya padaku! Kau tidak berhak memakainya!"
Chanyeol nyengir sampai giginya terlihat, "Ciyeee, pemberian fans, ya? Kamu kan fansnya banyak, jadi ini aku pake aja. Nanti juga ada orang lain lagi yang minjemin payung."
"Yoda rabies! Aku nggak boleh menyalahgunakan pemberian orang." Baekhyun berusaha merebut payung dari genggaman si jangkung. Tapi Chanyeol menjauhkan payung dari jangkauannya dengan sengaja.
"Ini namanya berbagi kebaikan dengan tetangga."
Baekhyun menatap sengit tak terima, "Tetangga mbahmu! Padahal dari dulu kau nggak pernah ngajak ngobrol!" ucapnya keras-keras. Berusaha menekankan fakta itu. Memang kenyataannya mereka baru berinteraksi saat masuk SMA. Tahun-tahun sebelumnya, hanya sesekali bicara saja.
Aneh kan? Padahal status tetangga sudah hampir sebelas tahun.
Chanyeol balas mengungkit, "Kamu toa banget sih dulu, main bola sama anak tetangga sebelah aja ributnya minta ampun. Mana mau aku deket-deket sama penghancur pendengaran begitu?"
"Dasar hikikomori!" tangannya akhirnya berhasil merebut payung, tapi mulutnya terus berucap, "Dulu juga kamu gendut, mana caplang banget itu kuping. Oh jangan-jangan gara-gara badanmu itu makanya nggak pernah keluar rumah ya?" ia mulai berspekulasi.
Chanyeol menekan giginya kuat-kuat, menahan hasrat ingin menggigit makhluk pendek di sampingnya. "Iya dulu aku emang minder!" akunya jujur, "tapi aku berusaha! Buktinya sekarang aku tinggi, atletis, tampan. Coba bandingin sama kamu, idih, tinggi aja nggak nambah. Itu mata juga tidur sama melek masih nggak ada bedanya."
Baekhyun menendang tulang kering Chanyeol dengan ujung sepatu. "CAPLANG GA PUNYA HATI! JAHAT!" ia berseru dengan wajah memerah menahan amarah sekaligus melempar payung yang tadi direbutnya susah payah. Eh Baek, sayang itu.
Tapi omongan Chanyeol nyelekit banget, woy.
Baekhyun berjalan sambil menghentakkan kaki menerobos hujan. Genangan air pun menciprat ke sana ke sini, sepatunya ikutan merembes basah. Adegan mereka di lorong utama udah mirip drama korea putusnya hubungan cinta anak sekolahan, untung saja tidak banyak orang yang terjebak hujan jadi mereka bebas berteriak-teriak seperti tadi tanpa perlu menjadi tontonan gratis.
Baru melewati gerbang sekolah, air hujan tidak lagi membasahi dirinya. Baekhyun menoleh, mendapati Chanyeol berdiri di sampingnya sambil memayungi mereka berdua. Oh? Chanyeol berlari mengejarnya? Sayangnya bukan itu, kaki panjangnya mudah menyusul Baekhyun hanya dengan beberapa langkah lebar. Nggak adil! Bedebah memang tingginya itu!—Baekhyun tambah jengkel.
"Ngapain, caplang?" suaranya masih bernada pedas.
Chanyeol tidak menatapnya, "Pulang bareng lah, apalagi memang?"
Kakinya gatal ingin menendang pria itu sampai jatuh ke genangan air. "Nggak butuh, aku udah basah juga." Ia mendorong si jangkung namun tidak berhasil bergerak sesenti pun. Berdecak kesal, ia menambahkan, "Kupingmu itu kegedean, makan tempat di bawah satu payung. Pakai aja sendiri payungnya, caplang."
"Manggilnya jadi caplang mulu nih? Aku lebih suka yoda padahal." Chanyeol menjawab random keluar topik.
Baekhyun menatapnya datar bercampur kesal—entah gimana wujudnya. Lalu menarik napas dalam-dalam, "Oke, yoda rabies, aku terlanjur basah jadi nggak usah mengasihani." ucapnya final, bersiap mempercepat langkah. Detik berikutnya, sesuatu melingkupi kepalanya—wajahnya ikutan ketutup btw. Ia hampir panik karena gelap mendadak. Tangannya bergerak menyentuh sesuatu itu dan mengenali blazer seragam milik Chanyeol di genggaman.
"Pakai itu sekalian biar nggak dingin. Jangan protes, udah nurut aja." suara Chanyeol bernada serius tiba-tiba membuat Baekhyun diam melingkupi kepalanya dengan pemberian itu.
Baekhyun mengeluh semenit kemudian karena rasa basah tambahan, "Kau ketinggian tau, airnya tetep netes dari ujung payung kena bahuku. Sini aku aja yang pegang."
Tahu-tahu tangan besar Chanyeol dengan sigap menarik pinggangnya mendekat. "Kalau begitu jangan jalan jauh-jauh."
Baekhyun tidak tahu kenapa gerakan intens itu membuat jantungnya dug dug dug. Ia yakin harusnya merasa kedinginan karena basah, tapi sesuatu dalam dadanya terasa hangat.
"Lagian kan karena kau pendek jadi yang pegang payung sudah pasti aku." tambah Chanyeol dengan senyuman biasa.
Dan seharusnya senyuman itu terlihat sangat menyebalkan di mata Baekhyun seperti hari-hari kemarin—ditambah lagi diejek soal tinggi badan. Tapi ia tidak bisa fokus. Tidak dengan tangan yang masih betah menempel di pinggangnya.
"Kok diam? Tumben. Sedang berpikir bahwa akhirnya kau menyadari keuntungan tinggi badanmu, ya? Enak lho tidak usah pegal-pegal megangin payung."
Karena disebut, Baekhyun jadi memikirkan keuntungannya. Benar juga. Dari dulu dia iseng menggunakan tinggi badan Chanyeol untuk bersembunyi dari tunjukan guru saat pelajaran olah raga—ia tidak begitu suka fisik meski sering bertindak anarkis. Belum lagi menggunakannya juga untuk berlindung dari sinar matahari saat apel pagi.
Ia baru menyadari keuntungan tersembunyi hal krusial ini.
Berdeham pelan mengosongkan tenggorokan, Baekhyun berbicara, "Aku belum memaafkan omonganmu tadi btw." Lidahnya tidak mampu mengucapkan apa yang ada di pikirannya tadi.
Chanyeol memutar mata jengah, "Kamu nggak bisa gitu ya biarin aku hidup tenang sebentar aja?"
"Mampir ke minimarket dulu dong, beliin susu stroberi. Nanti aku maafin." usulnya kemudian.
Chanyeol tersenyum meremehkan, "Susu stroberi nggak akan membuatmu tambah tinggi. Lagian segini aja udah standar kok, kalau aku rangkul pas banget bagian pinggang."
Detik berikutnya, perut Chanyeol dicium siku Baekhyun tanpa ampun.
Aw, menohok, bung.
.
.
.
.
Baekhyun duduk di sisi ranjangnya, masih dengan handuk di tangan yang digunakannya untuk mengeringkan rambut. Ponsel di atas nakas bergetar, layarnya menyala. Membiarkan handuk tetap di kepala, satu tangannya berpindah menggenggam ponsel. Hidungnya mengerut tak suka membaca nama akun sosial media yang menampilkan pesan chat.
cassanova_pcy: oy, blazer jangan lupa balikin, cuciin sekalian ya
Baekhyun berdecih. Ia juga tidak ada niatan untuk berterima kasih. Ia menusuk sedotan pada kotak susu stroberi lalu menyeruputnya sambil membalas. Omong-omong Chanyeol pasrah saja menerima perintah Baekhyun tadi dan membelikannya beberapa kotak susu.
baekhyunnee: udah kering kok, habis diangin-anginin depan kipas
cassanova_pcy: eh sialan, bau apek itu! Jangan disemprot parfum, nanti bajuku jadi wangi stroberi kayak bocah
baekhyunnee: bedebah! sekalipun aku punya parfum, itu brand mahal ya!
cassanova_pcy: udah mandi kan?
Baekhyun mengernyit. Kenapa yoda rabies ini bertanya hal tidak penting? Meskipun omongannya memang selalu tidak penting sih.
baekhyunnee: udahlah, mana betah lama-lama nempel sama baju basah
cassanova_pcy: siapa tau kamu punya kink sama baju lepek ;)
Baekhyun tersedak susu. Beruntunglah susunya tidak sampai keluar lagi melalui hidung. Ia mengetik balasan sambil terbatuk parah.
baekhyunnee: sialan, aku sampai tersedak
cassanova_pcy: yah, jangan tersedak dulu sebelum aku sempat chokes you on my bed
Wajah Baekhyun memerah sempurna. Hasil dari batuk sekaligus marah—entah kenapa terselip perasaan malu-malu kucing.
baekhyunnee: YODA MESUM! SEE YOU IN HELL!
cassanova_pcy: nyaris nggak percaya kamu mengajakku kencan, aku terima
Baekhyun menganga di tempat. Menahan hasrat melempar benda elektronik di tangannya ke dinding terdekat kuat-kuat. Si yoda rabies juga kenapa agresif begini sih?
Ia bangun dari kasur, berjalan dengan kaki yang menghentak-hentak keras lalu menyibak gorden dan membuka jendela dengan tak sabar. Jendela yang bersebrangan dengan kamar Chanyeol itu memperlihatkan pemandangan si jangkung yang ternyata sudah bertumpu di jendelanya sendiri. Chanyeol mengangkat wajah, bertemu pandang dengan Baekhyun yang emosi dan ia balas senyuman menjengkelkan.
"Lama sekali tidak dibalas. Kamu mau mengajakku secara langsung?"
Cukup sudah.
Setelahnya, sepasang sandal rumah yang dikenakan Baekhyun melayang agresif membentur hidung Chanyeol. Belum lagi pot bunga—untung belum ditanami—plastik, handuk di kepalanya, sampai botol minum di atas meja belajar ikutan dilempar. Chanyeol mengusap hidungnya sambil mengaduh sakit, bersembunyi dibalik kaca jendela agar tidak terkena aksi barbar itu.
"Baekhyun! Itu sakit! Jangan memaksakan tangan pendekmu berbuat anarkis!"
Oh yeah, kalimat yang sangat pintar untuk diucapkan dalam situasi ini.
"BEDEBAH KAU CAPLANG SIALAN!"
Baekhyun baru mau melempar lampu belajar ketika suara memerintah menyela aksinya.
"BAEKHYUN [CHANYEOL] JANGAN BERISIK MAU MAGHRIB!"
Teriakan Ibu dari masing-masing pihak menjadi hal terakhir sebelum keheningan muncul kembali. Akhirnya ada juga yang menghentikan kekacauan itu. Mereka berdua dihadiahi jeweran di telinga sebagai hukuman.
Fiuh, untung ada pawangnya.
.
.
.
.
Keesokan paginya, Chanyeol baru keluar dari pekarangan rumah dan berpapasan dengan Baekhyun yang menutup gerbang. Ia membuang wajah, masih jengkel karena hidungnya nyut-nyutan dihantam sandal dengan ganas. Berjalan melewati Baekhyun namun sesuatu menghalangi pandangannya.
"Blazermu tuh, makasih udah minjemin."
Chanyeol menarik blazer yang dihamparkan si pendek di kepalanya. Hal pertama yang dilakukan adalah langsung membauinya, "Weits, syukurlah wangi begini." ucapnya lega.
Baekhyun menoleh sebentar, bibirnya melingkupi sedotan susu kemasan sambil memutar mata. "Omonganku kemarin dianggap serius?"
Chanyeol mengenakannya tanpa menjawab. Terdiam sejenak menikmati wangi Baekhyun menguar dari seragamnya. Uhuk. Baunya harum sekali. Ia menyusul langkah kaki Baekhyun dengan cepat. Begitu berdampingan, ia mendengar kecapan keras Baekhyun yang melepaskan sedotan.
"Ck, kamu gampang banget sih nyusulnya."
Ia tersenyum lebar, "Oh iya dong. Kakiku kan panjang."
"Padahal dulu gendut," Baekhyun mengingatkan. Masih kekeuh tidak mau melepas kenyataan yang sudah berlalu.
"Itu kan dulu!" sungutnya kesal, "Masih aja diungkit-ungkit lagi."
"Gendut plus caplangnya masih keliatan banget, lucu." Baekhyun tersenyum geli, otaknya mengingat rupa Chanyeol ketika masih sekolah dasar yang menurutnya sangat konyol. "Oh iya, trus kenapa dah kamu jadi kurusan begini? Mana tingginya nggak manusiawi lagi." ia menoleh, agak mendongak untuk melihat sampai puncak kepala Chanyeol, penasaran.
Chanyeol menatap jengah, malas membahas topik ini, "Kemarin udah dibilangin perasaan."
"Iya minder, tau. Tapi spesifiknya gimana gitu lho? Motivasinya apa?"
Baekhyun menyesal bertanya sedetik kemudian karena Chanyeol memunculkan senyum remeh. "Hooo, kamu mau nyontek tipsnya biar jadi tinggi juga ya?"
Ia menendang si jangkung—sialnya tidak kena.
Chanyeol tersenyum penuh kemenangan sebelum mendekatkan langkah lagi. "Jangan nambah tinggi, Baek. Aku udah susah-susah nglampauin tinggi kamu jadi segini aja udah cukup. Enak banget kayaknya kalo dipeluk, mungil-mungil gimana gitu."
"Amit-amit!"
Lalu Baekhyun baru kepikiran. Si yoda rabies ini berusaha keras buat ngelebihin tinggi dia? Buat apa gitu? Mau mengejek Baekhyun yang sekarang lebih pendek darinya gitu ya?! Tidak adil!
Sensi amat, mas.
Ia menyeruput susu keras-keras sebagai pelampiasan kesal. Padahal dia sendiri yang menjatuhkan mood dengan pemikirannya. Chanyeol memandanginya terus-menerus dari samping tanpa dinotis. Sampai tiga menit kemudian Baekhyun baru sadar.
"Apa lihat-lihat?"
"Aku cuma mikir aja." telunjuk Chanyeol mengarah pada kotak kemasan, "Dari sekolah dasar dulu beli susunya merk itu terus ya? Nggak bosen sama stroberi?" Ia sudah memperkirakan Baekhyun akan membela susu favoritnya dengan mengatakan betapa fantastisnya rasa stroberi sampai bermenit-menit penjelasan—atau pakai presentasi power point sekalian. Tapi di luar dugaan, Baekhyun justru melepaskan sedotan dari bibir dan mengulurkan kotaknya pada Chanyeol dengan ekspresi paling lempeng.
"Mau coba?"
Chanyeol tersandung kaki sendiri. "Ah!" Ia jatuh berlutut sambil memegangi kakinya yang menabrak batu ketika jatuh.
Baekhyun tertawa kencang sampai memukul-mukul tiang listrik terdekat. Chanyeol mengangkat wajah dengan dendam. "Itu kan bekasmu!" serunya.
Baekhyun menoleh susah payah, masih menahan-nahan tawa, "Bukannya kesempatan buat mencoba bekas bibirku?"
Bedebah.
Chanyeol tidak pernah mengira Baekhyun akan memulai candaan seperti ini duluan. Wajahnya memerah merasa dipermainkan, perbuatan Baekhyun sungguh ilegal. "Ketawa aja terus, nikmatin sampai waktu aku membalas dendam." ia merasa malu karena Baekhyun bisa dengan mudah membuatnya kalah, tidak adil cih.
Baekhyun mengusap mata, kotak susunya hampir jatuh dari genggaman. Ia melangkah mendekat pada Chanyeol yang masih berlutut, "Dari dulu kamu nggak berubah. Masih aja bodoh sampai tersandung kaki sendiri,"
Chanyeol ingin menyerukan kontra. Tapi ketika wajahnya terangkat, Baekhyun tersenyum cerah padanya. Ekspresi yang sangat hidup ditambah eye smile akibat tertawa kelamaan. Dan, wow, itu sangat indah sampai membuat argumennya tertelan.
"tapi justru itu lah yang bikin kamu tetep lucu." tangan dengan jemari cantik itu terulur padanya menawarkan bantuan.
Chanyeol menerima bantuan. Ia ditarik sampai kembali berdiri lalu kepala Baekhyun menoleh dengan cepat ke arah tujuan, "Errr kita kelamaan ketawa! Nanti terlambat, itu lampu pejalan kaki udah mau merah lagi!" genggaman mereka terlepas dengan cepat. Kaki pendeknya berjalan cepat menuju zebra cross.
Chanyeol masih membatu di tempatnya. Kepalanya tertunduk, rona merah sampai ke telinga. "Sialan, mau jadi menyebalkan atau imut sih. Nggak adil, pilih satu dong." keluhnya seorang diri.
"Oy, yoda rabies! Cepetan!" seru Baekhyun yang sudah tiba di sebrang jalan.
Chanyeol mengepalkan tangan kanan yang digenggam Baekhyun tadi—masih berusaha merasakan kehangatan yang tertinggal.
"Dari dulu Baekhyun imutnya nggak berubah. Nambah suka."
Ia berlari menyusul si manis yang menunggunya, tanpa sadar senyuman terkembang di wajah. Dirinya masih menyimpan jawaban dari pertanyaan Baekhyun sebelumnya. Alasannya minder dengan bentuk tubuhnya dulu. Alasan kerja kerasnya melampaui tinggi Baekhyun.
Karena dia ingin bisa berjalan di samping Baekhyun dengan setara.
Kira-kira kapan ya one sided love-nya dinotis Baekhyun?
.
.
.
.
.
Finish
a/n: greget ngegantung ya endingnya ehehe
Saya nggak begitu confident buat publish ini soalnya, kalo ada banyak yang minta lanjut sih… mungkin saya pikir-pikir lagi…. /kena wb, bung/
[kayak pada mau aja]
Terima kasih sudah membaca
