Jemari lincah itu berlari riang di atas tuts-tuts piano elegan. Nada-nada terbang bebas memenuhi udara. Jendela di sampingnya terbuka, mempersilakan matahari pagi menyorot uap tipis yang menguar dari mug kopi. Aroma pancake yang baru matang dari jendela seberang mengetuk rongga hidung. Kepalanya tertoleh mengintip. Lazuardi mengunci zamrud.
Seperti langit di matanya, bibir ditarik membentang dengan gigi-gigi putih menantang, seolah ia melempar seluruh energi hasil pembakaran sarapan lima menit lalu ke sana, bibirnya. Jari-jarinya terus bergerak sendiri. Balasan yang diterima tak lebih dari lengkung simpul sederhana, namun selalu berhasil membuat Kaito mengasosiasikannya dengan pepohonan berdaun zamrud lebat.
Lazuardinya telah berlabuh dan enggan beranjak dari sana… ketika Rin menunduk mencium pipi bocah laki-laki berseragam SD yang memeluk kakinya. Ketika Rin mengambil tiga piring porselen dari salah satu rak yang berjajar, menata mereka di atas meja, masing-masing dipasangkan dengan dua cangkir teh dan segelas penuh susu. Ketika Rin tersenyum dengan cara yang sama untuk si pemilik lengan yang mengurung pinggangnya.
Kaito tersenyum samar, menarik kembali kepalanya, menguncupkan kelopak mata. Intuisi mengambil alih kendali. Udara hangat musim semi diraup perlahan. Kehangatan merasuki pori-pori leher dan ia bisa menghirup aroma familier. Matanya terbuka.
"Mau berduet?" ia yang pertama menawarkan.
Rambut toska panjang bergerak seirama gelengan kepala, beberapa menggelitik tengkuknya. "Aku lebih suka mendengarmu bermain."
Kaito tahu, senyum sempurna mekar di bibir delima itu.
"Aku sayang kamu, Kaito." Pelukan lengan itu mengerat.
Ia juga tahu, Miku akan berucap demikian.
Sudut matanya menangkap sepasang zamrud yang menatapnya dari balik cangkir teh. Angin membawa pesannya: aku sayang kamu, Kaito.
"Aku juga sayang kamu―" Kaito menyembunyikan senyum di balik lengan Miku.
―Rin.
Karena itu adalah media mereka bercinta; kerlingan dan senyum.
Vocaloid © Yamaha, Crypton Future Media
Love hidden behind those eyes and lips © Jong Aeolia
pas aja, draft ini selesai dengan diiring suara afgan lewat sabar. sentuhan fluff saya tapi seperti menguap entah kemana ;_; tapi tapi writer's block itu memang wajib diperangi. titik. dan disclaimer di akhir itu manis juga :3
