Cinta pertama yang kata orang-orang tak pernah terlupa dalam hidup. Terasa manis seperti permen kapas. Rasa sayang dan cinta yang begitu meluap-luap di masa muda yang bersemangat dan bergairah. Tapi, tak selamanya cinta pertama itu manis dan menyenangkan karena terkadang ada rasa sakit yang ikut berperan di dalamnya. Bertemu dan berpisah merupakan awal dan awal baru bagi yang menjalankannya. Meski sudah termakan oleh waktu, kenangan tersebut tidak akan pernah usang dan takkan pernah mati.

Author Notes: Salam perkenalan untuk para Senpai! Riren menulis fanfiksi crossover pertamanya untuk fandom SnK dan fandom Sekai Ichi Hatsukoi. Kedua fandom yang besarnya sudah melebihi titan kolosal di dalam dinding dan segudang tumpukkan naskah tidak menyurutkan hasrat Riren untuk ikut meramaikan.

Inspirasi idenya datang dari kesukaan Riren tentang anime keduanya yang tentu mempunyai jalan cerita yang berbeda namun tetap menarik bagi Riren. Jadi Riren pikir, ketika ingin menulis modern!AU, kenapa tidak menulis sebuah ide yang datangnya dari apa yang Riren suka? Referensinya datang setelah menonton kedua anime ini dan segala hal yang ada di sekitar Riren, dan Riren kira bisa jadi bahan yang menarik dan menyenangkan.

Disclaimers:

Attack on Titan © Isayama Hajime.

Sekai Ichi Hatsukoi © Shungiku Nakamura

This is only a work of fiction, solely a not-for-profit fan work.

Rating:T++ for now

Relationship: Mainly Levi/Eren Jeager, Riren.

Main Characters: Eren Jeager, Levi/Rivaille, Hanji Zoë, Erwin Smith, Takano Masamune, Onodera Ritsu, Petra Ral.

Genres & Warnings: Alternate Universe - Modern Setting, Language, Smoking, Alcohol, Mild Sexual Content, Implied Homophobia, Bisexual Character, Drama, Romance, Angst, Comedy, Friendship.

o

About Our Strory

Riren18

o

Page 1: Meet him for first time (again)

Bunga sakura yang telah mekar sempurna menjadi saksi hari bahagia bagi para mahasiswa Trost Academy yang menyelesaikan masa kuliahnya. Ada beberapa orang mendapatkan gelar Cum Laude, salah satunya sang pemuda berambut cokelat lembut dan bermanik sewarna baru emerald. Lulus dengan IPK sempurna membuat ayah dan ibunya merasa bangga dan bahagia atas prestasinya. Eren Jeager, nama pemuda yang mendapat nilai IPK tertinggi dan sempurna itu. Senyum tak hilang dari wajahnya hari ini dan banyak orang memberinya selamat tapi ada juga yang memandangnya tak suka. Eren sadar nilai IPK sempurna tak menjamin hidupnya akan bahagia di masa depan dan dia takkan pernah berhenti mempelajari apa yang belum dia pelajari. Eren ingin menjadi sukses atas kerja kerasnya sendiri, tak mau lagi bergantung pada ayah dan ibunya yang sangat menyayanginya. Ya.. dia telah tumbuh menjadi lebih dewasa.

3 bulan kemudian...

Di hari yang cukup panas seorang pemuda berjalan menuju perusahaan yang dia inginkan. Mulai hari ini dia akan bekerja sebagai seorang sekretaris pribadi perusahaan besar, Arckerman Corporation. Eren tak menyangka bahwa bisa mendapatkan pekerjaannya yang sekarang. Menjadi sekretaris pribadi di sebuah perusahaan yang sudah tidak di ragukan lagi kualitas perusahaannya. Sesampainya di perusahaan itu, Eren sudah di sambut oleh pria tinggi berambut pirang. Wajahnya tampan dan sepertinya dia orang yang berwibawa dan ramah. Pria itu menyapa Eren...

"Apakah kamu Eren Jeager?"

"Yes, sir. Saya Eren Jeager. Mohon bantuannya."

"Perkenalkan namaku Erwin Smith, kamu boleh memanggil ku apa saja. Di perusahaan ini aku bekerja menjadi Wakil Direktur. Mohon kerja samanya juga, Eren. Sekarang, mari ke ruangan presiden direktur."

Keduanya pun menaikki lift dan naik ke lantai 7 di mana ruangan sang presiden direktur berada. Setelah lift sampai di lantai 7, keduanya keluar dan kembali berjalan menuju ruangan yang di tuju. Tak lama mereka telah sampai di depan pintu yang terlihat cukup mewah dan artistik. Wakil direktur pun mengetuk pintu perlahan...

"Siapa?"

"Ini aku, Erwin. Sekretaris pribadimu yang baru sudah datang bersamaku."

"Bawa dia masuk."

Setelah itu, Eren dan Erwin masuk ke dalam ruangan. Eren cukup takjub melihat ruangan yang lumayan luas itu dan sangat bersih serta tercium wangi cemara dan lavender. Di balik sebuah kursi yang menghadap jendela besar ada sosok pemilik perusahaan besar ini, ya.. dia sang presiden direktur Arckerman Corporation. Kini Eren merasa sangat gugup dan sedikit takut bertemu dengan orang yang akan jadi atasannya nanti.

"Rivaille..."

Kursi itu berputar 180 derajat dan kini terlihat wajah dan sosok sang presidem direktur. Wajahnya tampan, kental etnis Perancisnya. Tatapan matanya sewarna batu obsidan terlihat dingin dan mengintimidasi di balik lensa kacamata yang di pakainya. Hidungnya mancung. Rahang yang kokoh dan tegas. Alis dan rambut sehitam langit malam. Bibir yang penuh berwarna agak peach. Sementara itu, sang direktur terlihat terkejut tapi tak kentara, dia terkejut karena melihat sosok di hadapannya. Sosok yang sudah lama menghilang dari hidupnya hampir 1 dekade lalu.

"Siapa namamu?"

"Eren Jeager, sir."

"Souka... apa kau sudah siap menjadi sekretaris pribadiku, Jeager?"

"Tentu saya sudah siap, sir. Mohon bantuannya, sir Arckerman."

"Baiklah, mulai hari ini kau bisa memulai pekerjaanmu. Erwin, tolong tunjukkan ruangan untuk Jeager dan panggil Hanji untuk segera ke ruanganku."

"Understood. Eren, ayo kita pergi ke ruanganmu. Rivaille, kami permisi dulu."

"Ya."

Setelah itu Erwin dan Eren keluar ruangan Rivaille dan menuju ruangan untuk Eren yang ternyata bersebelahan dengan ruangan sang presiden direktur. Tak di sangka ruangan untuk dirinya cukup luas dan mewah dengan beberapa bufet kayu untuk menaruh beberapa file dan berkas. Ruangannya di dominasi wangi bunga Lily, mengingatkannya pada wanita yang telah melahirkannya 23 tahun silam.

"Bagaimana ruangannya?apa kamu suka, Eren?"

"Tentu saja, sir Erwin. Ruangan ini hebat sekali."

"Syukurlah kamu menyukai ruangan ini. Selamat bekerja dan aku mau kembali ke ruangan ku."

"Thank you, sir."

Erwin pun keluar dari ruangan Eren dan meninggalkan Eren sendirian di ruangan yang baru di kenalnya. Tak lama bunyi mesin fax memenuhi gendang telinga nya dan ternyata dia mendapat tugas pertamanya dari sang atasan dan jadwal milik sang direktur untuk hari ini. Eren pun bersemangat menjalani pekerjaannya yang sekarang.

Sementara itu, Rivaille masih duduk di kursi kerjanya tapi matanya menerawang entah ke mana setelah bertemu dengan sekretaris barunya. Di lepasnya kacamata yang di pakainya. Memori yang telah dia simpan rapat-rapat selama 1 dekade pun kembali terbuka dan berputar dalam pikirannya seperti film lama. Sosok yang begitu dia rindukan sekaligus yang dia cintai kini hadir kembali setelah menghilang hampir 1 dekade lamanya. Namun, sepertinya dia tidak mengenal Rivaille. Meski sudah 10 tahun, dia hampir tampak tak berubah selain fisiknya yang terlihat lebih dewasa dari yang dulu. Ya... dia, Eren Jeager, pemuda yang berhasil mendapat tempat di hatinya dan pikirannya. Dulu Rivaille dan Eren pernah menjalin hubungan asmara yang mungkin di anggap tabu oleh orang kebanyakkan. Tapi, secara mendadak Eren menghilang entah ke mana. Kini Eren kembali lagi ke hadapannya. Tentu Rivaille merasa bahagia melihat orang yang di cintainya kembali hadir di hadapannya. Tapi, di sisi lain Rivaille merasa sedikit takut jika Eren tak ingat padanya atau bahkan membencinya apabila dia tahu bahwa Rivaille adalah laki-laki yang pernah di cintainya dan mencintainya. Rivaille pun kembali melanjutkan membaca laporan dari bawahannya demi menepis prasangka buruk yang menghantui pikiran dan hatinya.

o

o

o

Tak terasa sudah hampir 8 jam Eren bekerja di kantor dan kini waktunya pulang ke apartemen miliknya. Segera Eren merapihkan tasnya dan memakai mantel cokelat susunya. Eren pun menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Setelah sampai di lantai dasar Eren pun segera berjalan menuju pintu keluar. Angin malam pun menemani Eren hingga sampai di apartemen miliknya.

o

o

o

Setelah hampir 1 bulan bekerja, Eren telah terbiasa dengan keadaan kantor dan karyawan yang bekerja di situ. Sebagian karyawan begitu ramah padanya dan menyapa dirinya tapi ada juga yang tidak peduli padanya. Ketika sedang berjalan, tiba-tiba Eren di tabrak oleh seseorang yang membawa 3 tumpuk kardus yang menutupi wajahnya.

"Maaf aku tak bisa melihat ke depan karena kardus ini. Apa kau baik-baik saja?"

Eren masih mengaduh kesakitan akibat dahinya terhantuk kardus yang cukup keras. Mendengar ada yang bertanya keadaannya, Eren segera mengalihkan pandangannya. Seorang wanita berkacamata berusia mungkin akhir usia 20 an. Rambut cokelat panjang yang di ikat ekor kuda. Bentuk tubuhnya terlihat ideal dari baju fit body yang di pakainya. Mata yang senada rambutnya kini menatap khawatir pada Eren.

"Aku tidak apa-apa, miss."

"Benarkah? Tapi dahimu terlihat sedikit memerah."

"Aku baik-baik saja dan anda tidak perlu khawatir, miss."

"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Sebentar, rasanya aku baru melihatmu di sini."

"Perkenalkan saya Eren Jeager, saya bekerja sebagai sekretaris pribadi presiden direktur."

"Wait... tadi kamu bilang jadi sekretaris pribadi presiden direktur?"

"Benar, miss. Apa ada masalah dengan itu?"

"Tidak ada masalah. Oh,ya, hampir lupa namaku Hanji Zoe. Aku bekerja sebagai kepala pemasaran. Salam kenal ya Eren."

"Salam kenal juga miss Hanji."

Keduanya saling berjabat tangan dengan tersenyum hangat.

"Eren, kamu harus hati-hati sama Rivaille."

"Hati-hati kenapa, miss Hanji?"

"Rivaille itu orangnya mesum dan dia ada ketertarikan sama laki-laki."

"Maksud anda presidem direktur punya kelainan orientasi seksualnya?"

"Ya bisa di bilang begitu. Rivaille itu homo."

Seketika Eren merasa tertohok mendengar perkataan Hanji barusan. Selain itu kembali mengingatkannya pada masa lalunya bersama seseorang yang telah lama dia lupakan selama hampir 1 dekade. Tapi itu adalah kisah lama yang tak ingin Eren kenang kembali. Tiba-tiba Erwin hadir di antara keduanya dan sontak keduanya terkejut.

"Oh dear, kamu mengejutkanku."

"I'm sorry, dear."

"Oh,ya, Erwin dan aku adalah sepasang kekasih jika kamu penasaran dengan cara kami memanggil. Sebenarnya sudah tunangan dan tahun depan kami akan menikah."

"Congratulation, miss Hanji and sir Erwin."

"Thank you, Eren."

"Thanks, Eren. Oh,ya, Rivaille mencarimu dan katanya kamu segera ke ruangannya."

"Baiklah, terima kasoh atas infonya, sir. Aku pergi dulu, sir and miss."

Sepasang kekasih itu melihat punggung Eren menjauh dari mereka dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Hanji terkadang takdir dan waktu mempertemukan seseorang dengan seseorang yang lain atau sebaliknya."

"Apa maksudmu, Erwin?"

"Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan ini di ruanganku?"

"Hmm.. baiklah. Aku akan ke sana setelah urusan ku selesai, ya."

"Baiklah, aku tunggu."

Sesegara mungkin Hanji berjalan menuju ruangan kekasihnya setelah urusannya selesai dengan Manajer HRD yang cukup cerewet dan keras kepala serta cukup disiplin. Takano Masamune itulah namanya. Ada rumor bahwa dia memiliki hubungan khusus dengan supervisor HRD yang juga laki-laki meski memiliki wajah yang manis. Pasangan homo. Segera Hanji menuju lift dan naik ke lantai 3 di mana ruangan Erwin berada. Sepatu hak tingginya beradu dengan lantai marmer di bawahnya ketika menuju ruangan Erwin. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Hanji masuk ke dalam dan Erwin menunggunya di sofa berwarna putih. Hanji segera menaruh bokongnya di sofa tepat di samping Erwin.

"Nah... ayo lanjutkan pembicaraan yang tadi."

"Kamu tahu kan aku dan kamu sudah kenal Rivaille sejak SMA dan sudah hafal segala tabiatnya. Tapi aku tahu segala rahasia tentang dirinya. Salah satunya, kisah cintanya di masa lalu. Apa kamu tidak merasa heran dengan Rivaille tidak pernah berkencan dengan wanita mana pun?"

"Dulu sih pernah terpikir olehku mengapa Rivaille tidak pernah berkencan atau dekat dengan perempuan. Jadi aku ada prasangka bahwa orientasi seksnya menyimpang."

"Dugaanmu tepat, Hanji. Tapi, selama ini dia hanya setia pada satu orang saja dan mencintainya hingga kini. Tentu saja laki-laki bukan perempuan. Kini Rivaille kembali bertemu dengan orang itu."

"Eh?siapa dia?"

"Orang yang bertabrakanmu di lobby tadi. Dialah orangnya."

"Eren? Tapi kenapa dia tak mengenali Rivaille?"

"Soal itu aku juga belum mengetahuinya. Tapi, kemungkinan karena sudah lama tidak bertemu tentu saja terdapat perbedaan pada fisik yang membuat seseorang menjadi tidak mengenal orang yang dulu di kenalnya."

"Meski menyimpang dari apa yang ada, aku harap keduanya bisa bahagia."

"Ku harap juga begitu."

Sementara itu, kini Eren sudah ada di depan pintu. Eren pun mengetuk pintu ruangan sang atasan.

"Siapa?"

"Eren Jeager, sir."

"Masuk."

Segera Eren masuk ke dalam ruangan sang presiden direktur. Ternyata ada orang lain selain Eren dan Rivaille di ruangan itu. Seorang wanita yang cantik dan anggun berdiri dekat meja Rivaille. Tapi, entah kenapa Eren merasa wanita itu menatapnya dengan pandangan tak suka malah terkesan sinis. Segera Eren tak memperdulikan hal tersebut dan menatap Rivaille yang duduk di kursi kerjanya.

"Eren, perkenalkan ini Petra Ral, dia bekerja sebagai Manager affair di perusahaan ini. Dan Petra perkenalkan ini Eren Jeager, dia bekerja menjadi sekretaris pribadiku."

"Salam kenal, miss Ral."

"Salam kenal juga, Jeager."

Keduanya bersalaman tapi tiba-tiba Eren meringis karena perempuan yang menjabat tangannya terlalu keras menjabat tangannya. Seketika Eren merasa sedikit kesal akan kelakuan perempuan berambut sewarna langit sore hari itu.

"Rivaille, aku mau kembali ke ruanganku. Oh,ya, Eren bekerja yang benar ya karena di sini tak butuh orang-orang yang malas apalagi memiliki maksud tertentu yang berpotensi membuat perusahaan goyah. Bye Rivaille."

Petra pun keluar dari ruangan Rivaille dan meninggalkan Eren dan Rivaille seorang diri.

"Jangan dengarkan perkataannya tadi, Jeager."

"Tapi maksud miss Ral itu baik."

"Begitu ya. Silahkan duduk di sofa itu, Jeager."

Setelah menyuruh Eren duduk, Rivaille pun duduk di sebelah Eren. Saling bersebelahan dengan jarak yang hanya sekepal tangan Rivaille. Tentu membuat Eren merasa heran dan sedikit takut teringat akan perkataan Miss Hanji tadi. Entah kenapa degup jantungnya mulai tak beraturan. Suasana terasa aneh dan sunyi.

"Jeager..."

"Yes sir?"

"Apa kau tak ingat padaku?"

"Tak ingat?apa maksud anda, sir?. Saya merasa tidak pernah kenal anda sebelumnya."

"Ternyata kau memang tak mengingatku, ya."

"Maaf sir mungkin anda salah orang."

Tiba-tiba dan secara cepat Eren berada di bawah tubuh Rivaille. Mata zamrudnya pun terbelalak lebar akan keadaan yang di alaminya sekarang. Eren mencoba melawan namun nihil karena Rivaille lebih kuat darinya.

"Tolong lepaskan saya, sir. Say merasa tak nyaman apabila anda seperti ini."

"Mungkin dengan ini, kau akan kembali ingat padaku..."

Secara tiba-tiba Eren merasa bibirnya terasa basah. Ya, Rivaille menciumnya tepat di bibir. Perlahan bibir Rivaille memangut bibir tipis sewarna cherry milik Eren yang mulai terlihat kehabisan nafas. Karena tak tega melihat wajah Eren yang semakin memerah akibat ulahnya, Rivaille pun melepaskan ciumannya pada Eren. Kedua bola mata Eren menatapnya dengan tatapan marah sekaligus terluka.

"Apa maksud anda, sir?"

"Maksudku?. Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan. Apa itu salah, nak?"

"Pardon me?"

"Ternyata memang tidak banyak berubah. Termasuk bibirmu yang masih terasa lembut dan kenyal."

"Apa maksud anda?"

"Dulu kau pernah bilang bahwa kau mencintaiku, Eren."

"Dulu?kapan?"

"Long ago. But now you don't remember me and rejected me."

"What do you talking about, pervert?"

"Perpustakaan Shigashina Junior High School pada musim semi kau menyatakan perasaanmu padaku. Ketika awal masuk SMP orang tuaku bercerai dan aku memutuskan tinggal bersama paman dari pihak keluarga ibuku. Tapi, aku mengganti namaku atas saran paman menjadi Rivaille Arckerman yang sebelumnya adalah Levi Arckerman, sebelum kedua orang tuaku bercerai."

Seketika bayang-bayang masa lalu pun berputar kembali dalam otaknya. Perpustakaan yang menjadi tempat pertama mereka bertemu. Musim semi di mana mereka memulai kisah. Tapi itu dahulu sebelum pria di depannya ini membuatnya harus pergi meninggalkannya setelah menyerahkan semua miliknya pada pria di hadapannya. Sejak saat itu Eren bersumpah akan membenci pria yang ada di hadapannya kini.

"Levi..."

Secara spontan Eren mendorong pria itu dan menatap pria itu dengan tatapan yang bercampur aduk, marah,kecewa,benci, sekaligus bingung.

'Tidak mungkin Levi dan presiden direktur adalah orang yang sama. Tapi dia mengaku bahwa dia adalah Levi.'

"Ya... ini aku, Eren."

"Kenapa?kenapa kau hadir lagi di hadapanku?. Tidak puas dengan apa yang kau lakukan padaku di masa lalu?. Tak ada rasa penyesalan ataupun kata maaf. Kau benar-benar brengsek."

"Rasa penyesalan?maaf?memang aku berbuat apa padamu?"

"Kau tidak mau mengakuinya?"

"Memang aku berbuat apa padamu?"

"Gara-gara kau,aku..."

"Asal kau tahu saja, bukan aku yang melakukannya, melainkan dirimu sendiri."

"Apa maksudmu?"

"Kau yang pergi menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak setelah kejadian itu di rumahku."

"Menghilang tanpa kabar?"

"Dasar kau ini, masih saja otakmu lambat menerima informasi atau kau punya kelainan atau penyakit pelupa,huh?"

"Maaf, kau pikir ini salahku dan kau tidak bersalah sama sekali. Seakan semuanya salahku begitu. Kau tidak sadar kau dirimu tidak lebih baik dariku. Mempermainkan perasaan orang lain layaknya mainan."

"Kapan aku melakukannya, bocah?"

"Kau tertawa saat aku menyatakan perasaanku padamu. Apa kau ingat itu, brengsek?"

"Aku tidak pernah melakukannya."

"Excuse me?"

"Tapi saat itu aku bukan tertawa karena lucu atau berniat mengejek perasaanmu. Sejak kecil aku punya kebiasaan yaitu tertawa ketika aku sedang gugup akan sesuatu dan menutupi rasa malu ku."

"Eh?"

"Jadi kau pikir aku hanya mengganggapmu seperti mainan saja tanpa ada perasaan padamu?. Kau salah, bocah. Lalu kau membenci ku dan dendam padaku selama 10 tahun?. Ya ampun, kau ini memang bodoh ya."

"Sialan kau! Kau yang bodoh yang berakting seperti orang idiot. Baka no aho!"

"The mystery is finally solved. So that means that i can seduce you again, right?"

"Huh?"

"Asal kau tahu, selama ini aku tidak bisa melupakanmu. So Eren, i'm going to make you say you love me again. Just wait."

"Cih... kau pikir dirimu siapaku, huh?"

"Kekasihmu dan atasanmu."

"Itu sudah tinggal kenangan dan aku tidak sudi menjadi kekasihmu. Dasar brengsek. Aku muak melihatmu. Permisi!"

Segera Eren merapihkan pakaiannya dan berjalan pintu lalu menutupnya agak sedikit keras. Eren tidak peduli orang-orang yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda. Bagi Eren ini adalah mimpi buruk baginya. Bertemu kembali dengan orang yang paling di bencinya sekaligus yang dulu pernah mengisi relung hatinya. Kini perasaan Eren tak karuan dan dia berniat pindah ke perusahaan lain tapi pekerjaannya yang sekarang sangat sayang sekali apabila di lepaa begitu saja dan belum tentu dia langsung dapat pekerjaan setelah resign dari sini. Tapi, Eren baru menyadari bahwa dia telah paham akan kejadian 10 tahun yang lalu dan betapa bodohnya dia karena tidak mengenali sejak pertama bertemu. Tapi wajar Eren tak mengenalinya karena wujud fisiknya telah berubah total. Lalu Eren teringat akan kata-kata Rivaille barusan bahwa dia tidak bisa melupakan Eren selama 1 dekade. Apakah Rivaille mencintainya?apakah itu benar?apa dirinya juga masih mencintai Rivaille?. Eren pun menggelengkan kepala keras-keras demi menepis pertanyaan-pertanyaan itu dalam otaknya. Eren pun masuk ke dalam ruangannya dengan langkah yang gontai. Eren kini duduk di kursi kerjanya dan mulai fokus pada pekerjaannya.

"Salah dirinya sendiri kenapa berbuat ambigu di saat yang penting dan membuat orang lain salah paham."

o

o

o

Siang telah berganti malam dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Kini Eren sudah berada di apartemennya dan masih sibuk membereskan barang-barangnya yang baru di antar pengatar kepindahan. Terasa lelah sekali setelah pulanh dari kantornya sekitar 1 jam yang lalu. Tiba-tiba perutnya berbunyi tanda dia belum memakan apa-apa dari tadi sore. Eren lapar. Setelah membereskan beberapa buku dan pakaian, Eren pun pergi keluar untuk membeli makanan organik di toko 24 jam. Ketika selesai mengunci pintu apartemennya, Eren merasa ada seseorang membuka pintu apartemen sebelah. Eren berniat memberi salam pada tetangganya.

"Halo, aku tetangga barumu. Salam kenal."

"Jadi, kau ya tetangga baruku, Eren?"

Sontak Eren mengangkat kepalanya yang tertunduk dan kini menatap horor akan sosok di depannya. Ya, orang yang paling tak ingin Eren lihat lagi kini ada di hadapannya lagi dan parahnya menjadi tetangganya serta secara otomatis mereka tinggal saling bersebelahan.

"Tak ku sangka cepat juga kau berubah pikiran untuk menyatakan perasaanmu padaku. I'm fine with that."

"Silahkan saja bermimpi, tuan brengsek. Saya permisi!."

Segera Eren berjalan menuju lift tanpa menenggok ke belakang. Sementara itu, Rivaille hanya tersenyum tipis melihat respon sang kekasih yang tsundere.

Hari-hari Eren pun masih berlanjut dan tentu saja bersama kekasihnya atau mantan kekasihnya, Rivaille.

o

o

o

To be continue

Author Note:

Hai minna san, apa kabarnya semua?. Riren harap para pembaca yang membaca cerita ini dalam keadaan sehat. Riren minta maaf apabila jalan ceritanya agak mirip sama dengan anime Sekai Ichi Hatsukoi. Tapi, Riren akan mencoba mengembangkan ceritanya asli dari pemikiran Riren. Di , Riren masih newbie dan masih banyak kekurangan dalam cerita Riren karena Riren masih belajar untuk menulis cerita yang baik dan benar. Riren punya impian bisa jadi novelis suatu hari nanti. Riren jadi curcol nih hehehe #plak. Pada awalnya Riren tidak begitu tertarik membuat cerita dengan sentuhan BL alias Boys Love di dalamnya karena Riren tahu membuat cerita bergenre lebih susah daripada pair yang normal terutama bagian romancenya. Riren menyukai dunia yaoi dan sejenisnya di karenakan ada ketertarikkan akan penyebab mengapa hal itu bisa terjadi dalam arti positif ya. Riren harap pemikiran Riren tidak mengganggu siapapun. Oh, ya, sekilas tentang Riren nih. Riren berusia 20 tahun dan sedang menempuh studi di suatu universitas di Jakarta pada bidang MIPA khusus biologi. Riren mulai menyukai dunia anime sejak masih SD dan mengenal tentang BL sejak SMA tapi baru mendalaminya ketika masuk dunia perkuliahan. Ini fanfic cross over pertama Riren di Fanfiction. Riren berharap semoga cerita ini bisa menyenangkan hati para pembaca yang membaca fanfic Riren yang masih abal-abal ini. Riren juga berharap para pembaca berkenan memberikan reviewnya untuk cerita ini supaya menjadi pelajaran dan ilmu baru bagi Riren. Sekian salam dari Riren. Sampai ketemu page selanjutnya ya *wink.

Salam peluk dan cium

Riren