Disclaimer Masashi Kishimoto
Story Aquiline Cuppa
Present
"QUALE"
Alternatif Universe!
.
.
.
.
Terinspirasi dari sebuah komik, hanya ada beberapa ide yang saya ambil dari sana tapi semua plot dan cerita adalah milik saya. Jadi maaf jika ada kesamaan alur maupun cerita, itu tidak disengaja. Harap maklum fict ini jauh dari kata 'sempurna' karena saya hanya ingin menghibur
.
.
.
.
Don't Like Don't Read please!
.
.
.
.
HAPPY READING!
Chapter I: Beautiful Morning
.
.
.
.
TIK TOK TIK TOK TIK TOK
Suasana diruangan yang lumayan besar itu begitu hening, hanya suara dentingan jarum jam yang terdengar memenuhi ruangan yang bercat dinding babyblue itu.
BEEB BEEB BEEB BEEB BEEB...
Suara yang berasal dari jam weker di salah satu kamar perumahan kompleks elit itu membuat suara damai pagi hari yang dibuat oleh cicitan burung diluar sana dikacaukan oleh suara yang memekakan didalam ruangan yang cukup luas itu.
Sebuah tangan keluar dari balik selimut berwarna merah maroon, tangan putih mulus itu meraba-raba tak tentu arah diatas nakas disamping ranjang besarnya. Tangan itu mendapati benda bahan metalik berbentuk persegi itu, ia menepuk bagian atas benda persegi itu –membuat suara 'beeb-beeb' berisik itu tak terdengar lagi, digantikan dengan suara lenguhan menggeliat dan kuapan 'hoaam' di pagi hari yang cerah didalam kamar seorang gadis.
Sakura, gadis itu. Ia sudah bangun dari tidur nyenyaknya, ia masih duduk diatas kasur empuk sedang mengumpulkan jiwanya yang masih belum sadar sepenuhnya. Ia melirik jam diatas nakasnya yang menunjukkan pukul 06.30 pagi. Ia menghela napas dan setelah nya terdengar suara yang memanggilnya
"SAKURA, AYO BANGUN DAN SEGERA TURUN UNTUK SARAPAN!!"
Ia langsung menyibak selimut merah maroon nya dan melompat dari kasur menuju kamar mandi sambil berteriak "YA, YA!"
Beberapa menit menghabiskan waktu untuk ritual dikamar mandi, Sakura kini mematut diri didepan cermin. Memasang dasi pita merah dikerah blus berwarna cream –kekuningan dan memakai blazer biru donker diatas blus nya serta rok lipit berwarna cream donker kotak-kotak. Ia membiarkan kancing blazer yang belum ia pasang. Menyisir rambut merah mudanya yang panjang dengan rapi terurai disekitar bahu dan punggungnya.
"SAKURA..."
Mama Sakura kembali berteriak memanggilnya, ia memutar mata berwarna hijau beningnya dan segera bergegas turun sebelum teriakan lainnya terdengar.
Ia menuruni tangga dengan menenteng sepatu ditangan kanan dan tas dibahu kirinya.
Sakura melihat Papa nya duduk di kursi meja makan dengan koran dan secangkir kopi dihadapannya. Seorang wanita pirang dengan mata hijau –tapi tidak sebening irisnya– yang sudah paruh baya membawa dua susu putih diatas nampan berjalan kearah Sakura yang berdiri didekat meja makan.
"Kenapa dua gelas? Mama tidak akan menyuruhku meminum keduanya 'kan?" Tanya Sakura sambil memasang kancing pada blazer nya.
"Tentu tidak sayang," Mebuki –wanita itu– meletakkan nampan diatas meja dan menaruh kedua gelas susu putih diatas meja.
"Lebih baik kau duduk dulu dan sarapan." Mebuki memegang tas dibahu anaknya itu dan menuntun anak gadis kesayangannya itu untuk duduk dikursi meja makan.
"Tapi–"
"Ohayou baa-san, jii-san, forehead..."
"Ah! Ohayou Ino -chan" jawab Mebuki, mama Sakura.
"Ayo, masuklah nak," balas Kizashi, Papa Sakura mengalihkan perhatian dari koranya melihat sahabat baik anak gadisnya itu.
"Pig..." Seru Sakura. Sebenarnya ia sudah tidak heran jika Ino datang ke rumahnya karena mereka sering berangkat sekolah bersama.
Gadis berambut pirang yang diikat ekor kuda itu berjalan mendekat kearah Sakura di meja makan kediaman Haruno.
"Dimana buku catatan biologi ku, Sakura?" Tanyanya
Sakura memegang jidatnya memejamkan mata sambil berkata "Ah iya, aku meninggalkan dikamar. Kau ambil saja,"
Ino mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Sakura, baru beberapa langkah Sakura kembali berseru membuat langkahnya menggantung di anak tangga keenam.
"Aku meletakkannya didalam laci meja belajarku..." Ucap Sakura lalu melanjutkan sarapan paginya.
"Oke, baiklah" Dan ia melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamar sahabat merah mudanya itu.
Saat Ino kembali dari kamar Sakura ia melihat gadis musim semi itu didepan pantry sedang menuang air putih kedalam gelas. Ia berjalan mengendap dibelakang Sakura, menangkap bahu mungil sahabatnya itu dan mendudukkannya dibangku depan pantry.
"Heeii..." teriak Sakura
Ino mengacuhkan protesan Sakura, ia mengeluarkan sebuah pita kain berwarna merah dan memakaikan disela rambut serupa bubblegum milik sahabatnya. Setelah memakaikan bando kain itu dengan sempurna Ino tersenyum puas.
"Aaa...lihatlah gadisku ini manis sekalii..." goda Ino sambil mencubit kedua belah pipi sahabat cantiknya dari belakang.
"Eegghh, lhepasska..n Inhoo!" (Lepaskan Ino!) Sakura bergumam tak jelas, tangannya memegang kedua pergelangan tangan Ino yang menarik pipinya. Mencoba melepaskan cubitan yang-tidak-pelan itu dari kedua belah pipinya yang sudah memerah.
Sahabat pirangnya itu tampak tertawa senang dan melepaskan cubitannya pada pipi Sakura. Sakura mendengus kesal sambil mengelus-ngelus pipi chubby nya yang nyeri.
Mebuki yang melihat tingkah dua gadis remaja itu hanya menggeleng tapi tak bisa dipungkiri ia tersenyum juga melihat itu dari dapur.
"Awas kau ya Pig!" Sakura bangkit dari kursi dan mencoba menangkap Ino di belakangnya. Ino menghindar dari amukan sahabat merah mudanya itu.
Mebuki berjalan dengan membawa dua piring roti bakar menuju meja makan dari dapur. Ino berlari kearah Mebuki dan menjadikan mama Sakura sebagai tamengnya dari serangan si Pinky yang mengerikan "Baa-san tolong selamatkan aku dari monster pink berpita merah itu..." adu Ino sambil bersembunyi di sebalik badan wanita yang mengandung monster pink berpita merah yang ia sebut itu.
"Hei sudah-sudah, jangan malah main kejar-kejaran disini–"
"–Sakura cepat habiskan susu dan roti ini, kalian tidak ingin terlambat kan." Mebuki mengomeli anaknya yang masih kucing-kucingan dengan sahabat dekatnya itu.
"Aaahh!!! Lihat saja kau Ino, lihat pembalasanku..." Sakura mengerang kesal melihat Ino memeletkan lidah padanya dari balik badan mamanya.
Sakura mengambil roti bakar dari piring yang dibawa Mebuki dan berjalan untuk kembali duduk dikursi meja makan, meneguk susu putih yang tinggal setengahnya hingga tandas ia mencengklengkan tas sekolahnya dibahu.
"Pa, Ma. Sakura berangkat." Pamitnya
Dengan tangan kiri menenteng sepatu dan tangan kanan menggigit roti bakar di tangannya sambil berjalan kearah pintu menuju bagasi, kebiasaan buruk saat berjalan sambil makan itu membuat Sakura mendapatkan teguran dari papa tercinta.
"Iya, hati-hati sayang..." sahut Mebuki
Sakura sudah sampai didepan pintu mengarah ke bagasi
"Ayo Ino -chan, ba-san sudah siapkan sarapan juga untukmu" Suara mama Sakura terdengar dari meja makan, Sakura memutar mata sekarang ia mengerti mengapa ada dua gelas susu dan roti bakar. Dasar, Ino terlalu beruntung, batinnya. Walaupun ia tidak melihat bagaimana respon Ino tapi ia tahu pasti kini sahabat blonde nya itu tersenyum lebar pada mama Sakura. Memang bukan hal tak biasa lagi, mengingat seberapa lama Sakura berteman dengan seorang Ino Yamanaka.
Sakura mengacuhkan candaan Ino pada Papa dan Mama nya itu, terdengar kekehan Ino dari arah meja makan, mungkin kini ia sedang melahap roti bakar dan susu putih hangat disana. Baiklah, mari kita abaikan saja Ino dan Sakura family's disana...
Sakura duduk didepan pintu samping menuju bagasi, ia mulai memakai kaos kaki hitam lima centi dibawah lutut setelah itu ia mengenakan sepatu pantofel hitam bertumit dan Sakura siap berangkat menuju sekolahnya.
"Inoo... Ayo cepatlah kita berangkat!!!" Ujar Sakura dengan keras
Ino berlari dari dalam rumah Sakura yang besar itu dengan mulut penuh roti bakar yang belum sempat ia makan, Sakura mendengus melihatnya.
"Ouyoo" (Ayo) ujar Ino berdiri didepan Sakura, suaranya terdengar aneh
"Telan dulu baru berbicara nona Yamanaka" Ujar Sakura sarkastik
Ino membalas dengan sipitan mata lalu melongos pergi begitu saja meninggalkan Sakura. Gadis merah muda itu hanya memutar emerald beningnya dan mengikuti si blonde dari belakang.
Menuju Konoha Gakuen, sekolah mereka.
.
.
.
.
To be continued?
Or
Deleted?
.
.
.
AN: Holla,
Sudah lama ingin publikasikan cerita ini, tapi seperti cerita sebelumnya saia takut cerita yang ini juga 'Tidak Bagus' mungkin. Saia memang orang yang terlalu perhitungan /nggak deng/. Jadi yaa, begitulah...
Karena itulah menurut kalian cerita ini next atau stop aja? Mau saia sih lanjut /Dor/
Sign,
A. C, 030718. Pekanbaru
