Chapter 1

Title

Under The Magic Spell

Disclaimer

All Character here is belongs to Masashi Kishimoto

Warning

Canon, Typo bertebaran, dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Happy Reading ^^

Seorang gadis berambut merah jambu menghentak-hentakkan kakinya ketanah. Paras eloknya terlihat bersungut-sungut. Bibirnya terlihat merutuki sesuatu. Namun, wajah kesalnya berubah sedikit cerah begitu melihat seseorang berambut blonde duduk disalah satu bangku kantin sekolah.

BRUK

Sakura mendudukkan dirinya didepan Ino (sahabatnya) dengan keras. Wajahnya masih bersungut-sungut seakan-akan siap meledakkan amarahnya kapan saja. Tingkah Sakura mau tak mau membuat Ino memiringkan kepalanya heran. Ada apa lagi dengan sahabat pinknya kali ini?

"Kau kenapa lagi, Sakura?" Tanya Ino sambil melahap ebi furai didepannya.

Sakura mendengus, wajahnya masih menampakkan rasa benci. "Aku kesal sekali dengannya, Ino. Ingin sekali rasanya aku melempar mukanya dengan sepatu" ucap Sakura kesal.

Sekali lagi Sakura membuat Ino terheran-heran dengan jawabannya yang menggantung. "Maksudmu itu 'dia' siapa, Sakura? Kalau bicara itu yang jelas".

"Siapa lagi kalau bukan Si Kepala Durian Bebal itu". Air muka Sakura terlihat bertambah kesal saat menyebutkan seseorang.

Ino menghela nafas panjang. Lagi-lagi sahabatnya ini terlibat konflik dengan pemuda itu. Dua orang itu sepertinya tidak ada matinya untuk saling membenci satu sama lain.

"Memangnya Naruto melakukan apa padamu sampai kau kesal begini?" tanya Ino malas.

Sakura memukulkan tangannya ke meja kantin. "Huh… dia itu benar-benar mengesalkan, Ino. Mentang-mentang jabatannya disekolah ini sebagai ketua OSIS, dia seenaknya menghukumku mengelap bola yang ada digudang tadi".

"Memangnya kau melakukan apa sampai dihukum begitu?".

"Itu… hanya karena aku telat masuk sekolah" ucap Sakura tak yakin.

Dan benar saja, mendengar alasan Sakura itu membuat Ino menghela nafas dan menggelengkan kepala. "Tentu saja kau dihukum, Sakura. Itu kan memang peraturan sekolah. Kau ini kadang-kadang bodoh sekali, sih?" ucap Ino kesal.

Sakura merengut. Ia mendengus, sepertinya ia salah curhat pada Ino pasalnya sahabat pirangnya itu sama sekali tak mendukungnya. "Sudahlah aku tak mau membahasnya. Kau sama sekali tak membantu, Ino".

Ino terkikik geli melihat Sakura yang kesal padanya. "Hahaha… lagian yang membahasnya kan kau duluan, Forehead".

"Mana Hinata dan Tenten? Aku tak melihat mereka berdua sejak tadi" ucap Sakura mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Oh… Hinata tadi sepertinya sedang bicara dengan Kiba. Lalu dia menghilang entah kemana. Kalau Tenten, mungkin disekap Neji. Kau tahu? Neji cemburu melihat Tenten jalan berdua dengan Kimimaro-senpai. Padahalkan mereka hanya mencari peralatan ekskul Judo, untuk mengganti yang sudah usang".

Sakura terlihat sangat tertarik mendengar cerita Ino. Maklumlah, jarang sekali dia mendengar Neji yang notabenenya cool itu bersikap overprotektif selain pada Hinata, Sepupunya"Lalu kenapa kau disini sendirian? Mana Shikamaru? Bukankah kalian seharusnya makan berdua?" cerocos Sakura.

"Entahlah, mungkin dia sedang tiduran ditaman belakang sekolah atau mungkin sedang berduaan dengan Temari-senpai" ucap Ino dengan raut wajah sebal.

Alis Sakura berkerut. Hei, memangnya Shikamaru dan Ino belum resmi jadian? Lalu kenapa Temari-senpai malah bermesraan dengan Shikamaru? Sakura baru saja hendak membuka mulutnya namun urung saat melihat mata ino berkaca-kaca. "A...aku... aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Sakura. Aku ingin menganggapnya lebih dari teman. Tapi... tapi dia tak pernah memperdulikanku. Dia lebih peduli pada olimpiade sialannya itu dan... dan dia lebih suka bersama Temari-senpai dibandingkan aku..." suara Ino terdengar serak sepertinya ia masih menahan luapan emosi yang kini menyelimutinya.

Sakura menatap Ino lembut. Dia menggenggam tangan Ino erat "Sshh jangan berkata seperti itu Ino. Mungkin dia hanya tidak bisa mengucapkannya. Hei lagi pula kau juga belum menanyakan pada Shikamaru kan, apakah dia menyukaimu atau tidak". Ino menghela nafas. Benar juga kata-kata Sakura, ia sendiri belum berani bertanya pada Shikamaru tentang perasaan laki-laki itu padanya. Tapi, sebagai laki-laki harusnya kan dia peka.

"Ah... sudahlah Ino tak usah terlalu dipikirkan" ucap Sakura membuyarkan lamunan Ino. "Lagi pula memikirkan anak laki-laki itu tidak penting" lanjutnya. "Lebih baik kita memikirkan Ujian Semester yang akan segera tiba. Haaahh... aku benar-benar penat belajar untuk persiapan ujian itu" ucap Sakura lesu.

.

.

Naruto membuka pintu ruang OSIS kasar.

BRAKK

Sasuke mengernyitkan sebelah alisnya melihat tingkah Naruto itu "ada apa, Dobe?" ujarnya keheranan.

Naruto mendengus kesal, raut mukanya terlihat merah padam oleh amarah. "AARRGH" teriaknya sambil menjambak rambutnya. Kemudian ia diam. Bibirnya terlihat mengomel tanpa suara.

Sasuke hanya menghela nafas melihat kelakuan sahabatnya itu. Naruto sebenarnya bukan tipe orang yang tempramen, justru dia adalah orang yang ceria kelewat ceria malah. Hanya dalam beberapa kondisi Naruto akan berteriak dan marah-marah, mungkin kondisi ini salah satunya. "Kau bertengkar lagi dengan, Sakura?"

"Haah... dia menyebalkan sekali, Sasuke. Asal kau tahu saja dia memakiku didepan siswa lainnya. Padahal dia sendiri yang telat, aku menghukumnya karena aturannya seperti itu. Dia malah membentakku seenaknya. Wanita macam apa itu? Dia pikir dia hebat hah? Harusnya namanya bukan Sakura. Tapi Iblis berambut merah muda. Mana ada didunia ini wanita yang mulutnya tajam sekali? Pantas saja tidak ada yang mau jadi pacarnya. Bahkan harimau saja takut pada mulutnya yang tajam itu. Aku sebal sekali padanya. Dasar nenek lampir pink! Wanita iblis berjidat lebar! ARRGH" Naruto mencerocos tak terkendali sepertinya dia benar-benar kesal pada Sakura. Naruto tampak panjang lebar memaki Sakura habis-habisan. Napasnya terengah-engah sehabis meluapkan amarahnya didepan Sasuke.

Sasuke mengangkat bahunya tak peduli. Dia sudah terlalu sering mendengar omelan Naruto tentang Sakura. "Hati-hati kalau bicara, Naruto. Tiba-tiba nanti justru kau yang jadi pacarnya" ucap Sasuke santai.

"APA?" Naruto menatap tajam punggung Sasuke yang tengah menata arsip OSIS dilemari kaca. "Cih, tak akan aku sudi menjadi pacarnya. Bisa-bisa aku mati muda kalau benar-benar menjadi pacar wanita itu. Mulut dan kelakuannya sama saja kasarnya. Lebih baik aku puasa makan ramen enam bulan dibandingkan menjadi pacarnya". Mulut Naruto akan lanjut mencerocos kalau saja bel tanda masuk tidak berbunyi.

"Sudahlah Naruto daripada kau marah-marah tidak jelas lebih baik kita sekarang ke kelas. Sekarang jam pelajaran Kurenai-sensei kau tidak mau kan dihukum olehnya?" Sasuke sudah lebih dahulu berlari mendahului Naruto yang bangkit dari bangkunya dengan enggan.

.

.

Seorang laki-laki paruh baya terlihat tengah memeriksa berlembar-lembar dokumen dibalik meja kerjanya. Gurat wajahnya terlihat tertekuk saat memeriksa satu halaman dokumen kemudian berubah cerah saat melihat halaman selanjutnya. Lelaki itu sesekali melihat jam tangan Rolex hitam ditangannya kemudian kembali tenggelam dalam dokumennya. Usianya mungkin sekitar 40 tahunan tapi gurat ketampanan masa muda masih meninggalkan jejak diwajahnya. Lelaki ini tampak tegas namun lembut dan bijak disaat yang bersamaan. Dan jika ditilik lebih jauh warna matanya yang sewarna dengan laut lepas terlihat teduh.

TOK...TOK...TOK...

Seorang laki-laki bersurai perak dengan tatanan melawan gravitasi masuk keruangan itu dan membungkuk hormat.

"Maaf mengganggu, Tuan. Tapi tamu Tuan telah menunggu diruang tunggu. Apa perlu saya persilahkan masuk? Atau Tuan ingin menemuinya diruang tunggu saja?"

Lelaki itu tersenyum "Biar aku menemuinya diruang tunggu saja, Kakashi. Lagipula kami akan berdiskusi diluar kantor"

"Baik, Tuan" Kakashi kemudian membungkuk dan berbalik meninggalkan ruang kerja Tuannya.

Diruang tunggu kantor yang justru terlihat seperti ruang tamu hotel itu terlihat seorang pria paruh baya bersurai putih tengah mengamati interior ruangan tersebut.

"Selamat siang. Bagaimana kalau kita berdiskusi diluar saja " ucap direktur perusahaan tersebut sambil mempersilahkan tamunya dengan senyum cerah.

.

.

Alis Sakura berkerut. Bibirnya mengerucut dengan tatapan mata tajam kesebuah direksi. Dihalte bus yang sama tengah berdiri dengan santai seorang pemuda yang tak lain adalah Naruto. Naruto hanya melirik Sakura sekilas dari sudut matanya kemudian kembali menatap jalanan didepannya dengan cuek. Diperlakukan demikian Sakura melengos sebal dari Naruto. Dalam hatinya kini tengah mengeluarkan sumpah serapah pada Naruto karena dia telah mencueki bahkan menganggap Sakura tak ada.

1 jam

2 jam

Sekarang sudah genap 2,5 jam Sakura dan Naruto menunggu bus dihalte itu tapi tak nampak tanda-tanda kemunculan bus satupun. Sakura menghela nafas, dilihatnya jam tangan kulit yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Jam itu menunjukkan pukul 17.45. pada jam-jam tersebut bus memang sangat jarang muncul didepan sekolahnya atau mungkin tak akan muncul. Dia kembali menghela nafas saat ia melihat handphonenya yang telah mati. Sepertinya ia akan berakhir jalan kaki ke halte bus terdekat yang jaraknya lumayan jauh dari halte bus sekolahnya.

Sementara itu Naruto terlihat tetap santai sambil sesekali melihat handphonenya. Ia telah menghubungi orang dirumahnya untuk menjemputnya karena bus yang ditunggunya tak kunjung muncul dan matahari mulai tergelincir dibarat. Sesekali ia melirik Sakura yang tampak menunggu dengan gelisah 4 kaki disebelahnya. Selama 2 jam menunggu bus ditempat yang sama mereka sama sekali tak menyapa bahkan untuk saling melempar senyum pun enggan. Gengsi keduanya yang kelewat tinggi menyebabkan mereka terlihat seperti 2 orang asing yang tak mengenal satu sama lain. Padahal notabenenya mereka hampir setiap hari bertengkar disekolah. Mungkin kelelahan sehabis beraktivitas seharian disekolah membuat keduanya bahkan terlalu lelah untuk melempar cacian pada musuh bebuyutannya.

TIIN... TIIINN...

Suara bel mobil membuyarkan lamunan Naruto dan Sakura. Sebuah mobil jenis Volkswagen Scirocco terparkir dengan indahnya didepan halte bus itu diikuti dengan seorang wanita yang terlihat keibuan keluar dari mobil tersebut. Wanita tersebut tampak melambaikan tangannya pada Naruto dengan senyuman yang kelewat ceria.

"Naruuu" teriak Kushina pada anak semata wayangnya, Naruto.

Naruto memperlihatkan tampang tak sukanya saat ibunya menyapanya seolah sedang menjemput anak TK. Ia tak suka diperlakukan seperti anak kecil terutama didepan musuh bebuyutannya disekolah.

"Ahh sudahlah kaa-san. Aku lelah lebih baik kita segera pulang" Naruto dengan cuek melewati ibunya menuju mobil.

BLETAAK...

"AWW" teriak Naruto. "Kaa-san apa yang kau lakukan" Naruto memegangi kepalanya yang nyeri sehabis dipukul Kushina dengan Clucth bag yang tengah dipegangnya.

"Apa itu sapaan yang pantas untuk ibu yang telah menjemputmu, HAH!" bentak Kushina geram. "Sapa okaa-san dengan benar!" ucap Kushina garang.

Mendengar bentakan ibunya Naruto seketika menciut. Dengan muka pucat ia membungkuk pada ibunya "Selamat siang, ibu". Kushina tersenyum puas melihat tingkah putranya, kemudian ia mencubit gemas pipi Naruto. Sementara Naruto merengut kesal diperlakukan ibunya seperti anak kecil, ia hendak protes namun urung, takut ibunya kembali mengamuk. Ia memilih ngeloyor menuju mobilnya. Namun saat hendak membuka pintu mobil lagi-lagi―

BLETAK

Kushina sekali lagi memukul kepala Naruto. "AW. Ibuuu apa lagii?" Naruto merengut sebal apalagi salahnya kali ini seingatnya ia sudah melakukan yang diperintahkan ibunya. "Kau ini benar-benar tidak peka apa? Kenapa kau tidak mengajak pacarmu naik? Kau malah membiarkannya berdiri sendirian disana" omel Kushina.

Perkataan Kushina serta-merta membuat Sakura dan Naruto melongo. Dengan gelagapan Sakura mencoba menjelaskan "eh... ano... itu... sebenarnya kami hanya kebetulan bertemu saat menunggu bus bibi. Jadi kami bukan seperti yang bibi pikirkan" Sakura kebingungan menjelaskannya pada Kushina. Ia harus berhati-hati agar Kushina tidak mengetahui kalau mereka berdua sebenarnya musuh bebuyutan. Kedua alis Kushina mengernyit, kemudian senyumnya terkembang " Ah... aku tau" ucap Kushina, sepertinya ada sebuah ilham tengah lewat dikepalanya "Pasti kalian sedang berantem yaa? Tenang... tenang... aku mengerti. Hahahaha... kalian mengingatkan aku semasa masih pacaran dengan Minato" Kushina tertawa cekikikan melihat tingkah dua sejoli itu (atau lebih tepatnya "orang yang dia kira sejoli"). Kushina berjalan mendekati Sakura yang masih berdiri dengan muka plongonya. "Kau cantik sekalii. Siapa namamu Sayang?" tanyanya sembari menangkupkan tangannya ke wajah Sakura untuk melihat matanya.

Sakura masih keheranan dengan tingkah Kushina yang secara tiba-tiba mendekatinya dan kini tengah menatap matanya. "Eemm... Sakura... namaku Sakura Haruno, Bibi" ucapnya gelagapan. Kushina tertawa riang sambil bertepuk tangan pelan "Aaaa... Cantiik sekaliii" Kushina membalikkan badannya kearah Naruto yang melihat tingkah kegirangan Ibunya dengan sedikit bergidik. Naruto merasakan ada hal yang tidak beres akan segera terjadi dalam waktu dekat. Kushina berjalan mendekati Naruto dan tiba-tiba memeluknya erat. "Naru-chan Ibu bangga padamu, Nak. Bagaimana bisa kau membaca pikiran Ibu?" mata Kushina setengah berkaca-kaca sembari melihat Naruto dengan penuh kasih sayang. "Maa..Maksud Ibu?" susah payah Naruto mengeluarkan suara, perasaan horror tengah meliputinya melihat Ibunya kegirangan setelah bertemu Sakura. Kushina merengut heran, Ah ia lupa kalau anaknya ini masih masuk dalam kategori anak bodoh. "Tentu saja Pacarmu, Naruto. Bagaimana bisa kau tau kalau ibu ingin punya mantu yang mirip dengan Ibu?". 'WHAT THE F**K' batin Naruto apa-apaan ini? Maksudnya? Mantu? Yang benar saja? Sakura adalah orang terakhir didunia ini yang ia ingin pacari bahkan itupun jika semua mamalia dibumi sudah musnah. Bahhkan Naruto merasa lebih baik menikah dengan bakteri atau apapun nama makhluk hidup selain makhluk berambut pink bernama Sakura. Naruto mengedipkan matanya tak percaya dengan perkataan Ibunya barusan.

Sementara kedua remaja itu mematung Kushina telah menggiring ereka untuk masuk kedalam mobil tanpa mereka sadari. Kini Naruto dan Sakura tengah duduk di jok belakang mobil sambil melempar senyum kecut kepada Kushina yang tengan nyerocos tentang kapan dan bagaimana mereka akan bertunangan. Sakura melirik Naruto menuntut jawaban. Naruto hanya menggeleng lemah, ia tak tau harus berbuat apa. Jika ibunya sudah seperti ini maka tak ada jalan buat mereka untuk menjelaskan semuanya. Sakura tertunduk lesu sementara Naruto memijit pelipisnya pelan. Ah sepertinya mereka berdua punya PR yang cukup sulit untuk diselesaikan. Tapi mungkin PR ini masih lebih mudah dibandigkan apa yang akan datang dikemudian hari...

.

.

.

Author's Note :

Haiii... Minna-san. Apa kabar? Glad kembali lagi dengan fic baru niih. Sebelumnya Glad mohon maaf untuk semua readers yang mungkin menunggu fic baru dari Glad *ada gak sih ? *emang ada ?

Hahaha bodo amat lah yaaa. Fic kali ini mungkin akan Glad update dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan. Hehe. Berhubung ada tugas akhir dan penelitian yang sedang menanti. Naah, buat kalian yang penasaran jangan lupa untuk review dan fav Glad yaa. Oh iyaa, Glad akan sangat berterimakasih buat kalian yang mau memberi kritikan maupun saran yang membangun. Thank you minna

Regards

Glad