Call Me Daddy
.
Written by Kirei-ka
.
Casts: Lu Han, Oh Sehun
.
Genre: Song-fiction
.
Length: Ficlet (966 words – FF identity, song lyrics, A/N not included)
.
Warning: Boys Love, possible (considered) mature content
.
Disclaimer: Story-line = mine. Others = sadly not mine.
.
.
Enjoy~
.
.
Author's POV
Kau sudah tahu namaku
Tapi malam ini, aku mau kau memanggilku 'Daddy'
Kau mendapatkanku aku menginginkannya
Kau mendapatkanku aku menginginkannya
Malam yang gemerlap di sebuah bar kelas menengah di keramaian Seoul. Tempat itu tampak sesak, isinya jelas sekumpulan orang mabuk, beberapa setengah gila menari di lantai dansa, beberapa lebih gila lagi bercumbu di sudut-sudut ruangan, sementara beberapa yang lebih normal menikmati minuman mereka di meja bar dengan tenang—atau justru mereka yang tidak normal karena bar jelas bukan tempat untuk duduk tenang.
Sehun, yang sebenarnya sudah sibuk di kelilingi dua gadis cantik sekaligus di kiri dan kanannya, tiba-tiba saja teralihkan perhatiannya kala sepasang mata sipitnya menangkap sosok pria cantik berpakaian seksi—menurutnya—tengah menari dengan beberapa orang temannya di lantai dansa.
Pria itu terhitung mungil, kulitnya putih dan tampak kontras dengan jaket kulit hitam yang dikenakannya, sementara rambutnya tampak seperti berwarna merah atau mungkin auburn—penerangan di dalam bar sama sekali tidak membantu untuk melihat dengan jelas.
Dia terlihat sangat manis saat tertawa dan sangat seksi saat meliukan tubuh rampingnya. Kakinya yang kurus terlihat jenjang—meski sebenarnya tidak terlalu panjang—dalam balutan skinny jeans robek yang stylish.
Sehun tidak perlu berpikir untuk menghampiri pria itu ketika akhirya si pria cantik memilih meninggalkan lantai dansa dan menikmati minumannya sendirian di depan meja bar.
"Hei."
Keadaan yang gelap tidak menghalangi Sehun untuk melihat keindahan sepasang mata yang menatapnya saat itu. Si pria cantik meletakan gelasnya di meja dan tersenyum tipis.
"Hei."
Sehun tanpa canggung mendudukkan dirinya di sebelah si pria cantik, memesan sebotol minuman dengan isyarat tangannya, sebelum kembali menatap si pria cantik yang menunggunya mengatakan sesuatu.
"Sendiri?"
"Bersama teman."
Sehun tertawa kecil. "Ayolah. Kau tahu apa yang kumaksud."
Si pria cantik mengangkat sebelah alisnya, meneguk kembali minumannya sebelum menjawab, "Ya. Sendiri."
Bartender yang berjaga datang menghampiri keduanya, meletakkan minuman pesanan Sehun—yang kelihatannya adalah sebotol martini—dan kembali pada pekerjaannya.
Sehun mengulurkan tangannya ke hadapan si pria cantik.
"Sehun. Namamu?"
"Luhan," balasnya seraya menyambut uluran tangan si pria tampan.
"Nice name—" Sehun memotong ucapannya, menatap Luhan dari ujung kaki hingga kepala dan tersenyum miring, "—and nice body."
"Thanks."
Luhan tidak tampak canggung, meski jelas Sehun baru saja menggodanya. Wajahnya memang terlihat polos, tapi Sehun cukup yakin kalau Luhan memang bukan pria yang polos. Lagipula untuk apa seorang pria yang masih polos berkeliaran di bar? Juga, satu lagi yang Sehun yakini adalah—
"Drink some more. Aku yang traktir."
—Luhan sudah setengah mabuk. Jadi kenapa tidak membuatnya benar-benar mabuk dan mungkin mereka bisa bersenang-senang.
Sehun menuang minumannya ke dalam gelas yang diantar bartender bersama dengan botol martini-nya tadi dan menggesernya ke hadapan Luhan.
"Apa ini? Apa kau berusaha membuatku mabuk?"
"Mungkin?"
Luhan tersenyum dan menggeleng kecil, tapi pria itu tetap meminum apa yang disodorkan padanya tanpa tahu apa isinya. Wajahnya berkerut saat minuman itu menyetuh lidah dan masuk ke tenggorokannya. Luhan tahu ini bukan minuman yang pernah diminumnya, sepertinya jauh lebih keras dari semua yang pernah dia minum.
Satu, dua, tiga, Sehun terus menyodorkan gelas martini-nya pada Luhan dan Luhan dengan senang hati menerimanya meski dia tahu dia akan berakhir mabuk berat setelah ini. Jangan pikir Luhan tidak mengerti apa maksud Sehun, dia sangat tahu tapi toh dia tidak keberatan. Sehun tampan, yang paling tampan yang pernah dia temui di bar malah, dan dia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan pria tampan itu.
"Kau tahu apa? Kau bisa membawaku pulang sekarang juga," ujar Luhan dengan mata setengah terbuka dan hidung memerah.
Sehun kembali tersenyum miring. Kemudian tangannya menelusup ke pinggang ramping si pria cantik.
"Dengan senang hati."
Oh apa yang akan kau lakukan jika aku muncul dengan 100 cara
Berdiri di sana dengan teman-temanmu
Memberimu sebuah tamparan di bok*ngmu
Mulai menjilati bibirku dan memberitahumu bahwa
Tubuhmu indah, dan biarkan aku membawanya pulang
Bolehkan aku memukulnya dari belakang?
Biar kutunjukkan padamu bagaimana rasanya bagi seorang gadis
Hei, biarkan aku, biarkan aku jadi prianya
Beritahu aku apa yang kau minum dan aku akan membelinya lebih untukmu
Aku ingin kau agak mabuk sebelum membawamu pulang
Saat kau sudah di sana sayang, aku yang berkuasa
"Shoot. Bisa lakukan dengan lebih lembut?"
Luhan melenguh, bentuk protes karena tubuh mungilnya dibanting begitu saja ke atas ranjang.
"Sorry."
Luhan pikir dia mungkin sudah tertidur entah berapa lama, karena dia tidak tahu bagaimana caranya dia bisa sampai di sebuah kamar bercat putih yang jelas tidak mungkin adalah bar tempatnya mabuk bersama teman-temannya sampai beberapa waktu lalu.
Kelopak matanya yang hanya mampu terbuka separuh tidak terlalu membantu Luhan memandang sekitarnya—atau mungkin itu pengaruh alkohol yang terlanjur mengambil hampir seluruh kesadarannya. Tapi Luhan yakin melihat—dan merasakan—seorang pria tampan tengah merangkak di atas tubuhnya.
Ah. Luhan kemudian teringat pria itu adalah Sehun yang ditemuinya di bar.
Sehun meletakkan kedua tangannya di kedua sisi kepala Luhan, menumpu tubuhnya bersama dengan kedua lututnya. Mata sipitnya menatap lapar pada Luhan—yang balas menatapnya dengan sayu.
Cahaya lampu kamar yang terang membuatnya mampu menatap wajah indah Luhan jauh lebih jelas. Pria cantik itu nyatanya jauh lebih cantik dari yang mampu dia lihat di bar. Dia punya sepasang mata indah yang berhias bulu mata panjang dan lentik, hidung mancung yang tampak mungil, dan bibir tipis sewarna buah plum yang tampak kissable.
Sehun menolak menunggu lebih lama dan menyerang bibir kissable itu detik itu juga, memberi Luhan ciuman basah dengan lidah yang terasa panas dan menggairahkan. Sehun mungkin tak akan berhenti jika saja Luhan tidak bergerak resah tanda dia mulai kehabisan napas—atau mungkin terangsang.
Sehun melepas ciuman basah mereka, menyisakan saliva yang mengalir dari sela bibir tipis Luhan yang sedikit membengkak. Sehun yakin malam ini adalah malam keberuntungannya karena dia bisa bertemu Luhan. Pria cantik yang mampu menguarkan aura seksi dan polos secara bersamaan.
Sehun memperhatikan bagaimana bibir si pria cantik terbuka dengan lelehan saliva di sisinya, lalu mata sayu yang menatap ke arahnya, Luhan tampak seperti mangsa yang tidak berdaya dan siap menyerahkan diri pada sang predator.
"Aku tahu kau tahu namaku, tapi malam ini..."
Sehun mendekatkan bibirnya pada telinga Luhan, sangat dekat hingga Luhan bisa merasakan panas napas Sehun di telinganya. Kemudian dengan suara berat si pria tampan berbisik, "Aku ingin kau memanggilku Daddy", dan mengulum telinga itu setelahnya.
Untuk kedua kalinya suara lenguhan Luhan mampir ke telinga Sehun, tapi kali ini Sehun yakin itu bukan bentuk protes.
"Sure. Daddy~"
Sehun menyeringai. Bibirnya kembali mendarat pada tempat yang berbeda dari bagian tubuh Luhan yang sama-sama sensitif, menikmati leher mulus Luhan yang putih dan beraroma vanilla.
"And that was sexy, Baby."
Saat aku dapat apa yang aku mau, (aku mau) kau percaya yeah
Aku bisa memainkan benda itu masuk dan keluar
Aku akan jadi prianya, dan kau jadi gadisnya
Ikuti romansaku, dan pikirkan tiap ucapanku
Goyangkan bok*ng itu untukku, dan biarkan aku melihatmu bekerja
Baby boy malam ini, 'the rose on the burb'
Kau tidak sendiri lagi, panggil aku 'Daddy'
Kau tidak sendiri lagi, karena aku 'Daddy'-mu
Kau tidak sendiri lagi, panggil aku 'Daddy'
Kau tidak sendiri lagi, karena aku 'Daddy'-mu
Sekarang apa yang kau katakan jika tangan kita menyingkir
Mulai merasakan tiap sudut dadamu
Kau terus mengatakan tidak padaku, no, no
Tapi aku tetap melakukannya seakan kau mengatakan yes
Kemudian aku menatap matamu
Bilang padamu jangan malu-malu sayang, aku yang terbaik
Biar kuberitahu kau bagaimana perasaanku, untuk itu gadis
Apa kau siap untuk langkah yang ini
KKEUT
A/N:
Jadi ceritanya abis denger lagu Claude Kelly – Call Me Daddy yang menurut rumor adalah title track untuk comeback EXO mendatang.
Damn. Denger judulnya aja gue udah kebayang fanfiction dengan tag daddy-kink.
Gue pikir otak gue aja yang udah kebangetan ngeres XD
Lah pas gue iseng cari lirik lagu Claude Kelly – Call Me Daddy ternyata emang liriknya menceritakan soal yang ngeres-ngeres :v
Terus gue dengerin lah tuh lagunya sendiri (yang beredar di soundcloud), ternyata emang bener loh liriknya yang di atas itu (-u-)b
Jadi inilah gue tuangin kemesuman gue ke dalam FF HunHan.
Ga mesum-mesum amat sih sebenernya (iya kan? :p)
Secara gue ga pernah, ga sanggup, dan ga pengen buat FF NC dengan adegan ranjang :B
Anyway, lagunya enak brooohh~
Semoga sih bener aja jadi title tracknya di comeback EXO :3
Masalahnya gue udah terlanjur suka sama lagunya
Udah terlanjur ngebayangin EXO memberdeul sexy dance buat lagu ini juga XDXD
I mean, liriknya aja begitu mau gimana lagi koreonya? :p
P.S: Yang baca sampe selesai wajib komen :p
I would be happy even if it just a random long rambling about how much you are excited about EXO' comeback :3
