Episode 1


Layar monitor komputer menampilkan foto-foto para robot yang berstatus masih aktif. Cahaya dari layar tersebut menjadi penerangan satu-satunya di ruangan yang gelap. Wanita berambut putih panjang menyunggingkan seringai tipis ketika layar menampilkan foto salah satu robot. Robot seukuran anak-anak yang akhir-akhir ini sedang banyak diperbincangkan karena kekuatan dan seringnya dia menolong.

Foto itu dikirim ke beberapa alamat surel. Seringai si wanita berambut putih itu semakin melebar.

"Astro, ya... Pasti akan sangat menarik."


Rock Ring

Disclaimer:

Black Rock Shooter©Huke

Astro Boy©Osamu Tezuka

Warning:

Typos, OOC, kekerasan (walau kebanyakan antar para robot), alur agak membingungkan, dll.


Astro membuka matanya dan terlonjak bangun tiba-tiba begitu melihat sekelilingnya gelap. Dia pun menggunakan lampu pada matanya untuk menerangi tempatnya berada itu. Rupanya dia berada di sebuah ruangan kecil berukuran 4X4 yang tak ada apa-apa selain sebuah lampu. Dia mencari saklar lampu yang berada di samping pintu dan menyalakannya. Lampu di matanya dia padamkan.

"Ini... di mana?" gumamnya bingung. Seingatnya tadi dia sedang jalan-jalan bersama Reno. Lalu, Reno pergi sebentar untuk membeli es krim. Setelah itu, dia tidak ingat apa-apa lagi dan begitu sadar sudah berada di ruangan yang mirip penjara karena pintunya saja pintu besi. Dinding dan lantainya juga merupakan beton yang cukup tebal.

Diculik merupakan kata yang tepat untuk kondisinya sekarang. Tapi, oleh siapa dan bagaimana, dia tidak tahu. Namun, mengingat dirinya sering sekali menggagalkan berbagai aksi kejahatan, orang yang ingin menculik dirinya—walaupun tidak tahu akan diapakan—itu pasti banyak. Belum lagi dari Organisasi Anti-Robot yang anggotanya ada di mana-mana dan tetap beraksi walaupun kini pimpinannya sudah ditangkap. Dan mereka yang paling dicurigai untuk apa yang dialami Astro sekarang mengingat aksi mereka yang selalu menghalalkan segala cara untuk menyingkirkannya.

Pintu besi yang merupakan satu-satunya jalan masuk dan keluar, terbuka tiba-tiba, memperlihatkan sosok wanita cantik bertubuh proposional dengan rambut putih panjang sepunggung. Matanya berwarna merah. Aneh, tapi juga menawan. Dia berpenampilan seperti seorang wanita karir dengan setelan kantor berwarna putih.

"Halo, Astro," sapa wanita itu ramah sambil masuk ke dalam ruangan Astro dengan satu langkah.

"Kau... siapa?" tanya Astro. Dia sama sekali belum pernah bertemu atau melihat wanita itu, tapi wanita itu sudah tahu namanya.

"Orang-orang mengenalku dengan nama... Sing Love. Aku penyanyi, tapi juga seorang pengusaha," wanita itu memperkenalkan diri. "Kau sekarang berada di tempatku. Tempat bisnisku. Rock Ring."

"Rock Ring?" Astro belum pernah mendengar nama tempat bisnis seperti itu.

"Rock Ring adalah tempat pertarungan ilegal para robot yang tentu saja rahasia," jawab Sing Love dengan agak berbisik dan menyeringai tipis.

Astro terbelalak. Pertarungan ilegal?

"Kurasa kau sudah tahu apa tujuanmu berada di sini sekarang setelah kuberitahu di mana ini," sambung Sing Love. "Kau akan menjadi salah satu peserta di sini."

"Aku tidak mau!" tolak Astro mentah-mentah. Pertarungan merupakan hal yang tidak ingin dia lakukan apa pun alasannya, kecuali saat dirinya berada dalam kondisi terdesak. Apalagi kalau itu adalah pertarungan ilegal. Hal itu pastilah hanya untuk hiburan semata. "Aku tidak mau melakukannya!"

Sing Love tidak terkejut mendengarnya. "Sudah kuduga. Tapi, kau tidak bisa melawan apa pun yang kuperintahkan semenjak kau tiba di sini, Astro. Cobalah periksa lehermu."

Astro langsung menyentuh lehernya. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang terpasang di lehernya. Sebuah kalung yang menempel rapat di permukaan lehernya.

"Apa ini?"

"Lebih seperti penanda kau adalah penghuni Rock Ring dan kalung itu memiliki banyak fungsi. Kau tidak melepasnya karena kalung itu akan langsung memberi sengatan listrik tinggi hingga kau tidak bisa bergerak. Begitu pun bila kau kabur. Itu juga bisa menjadi alat pelacak keberadaanmu selama kau berada di area Rock Ring, juga di luar bila kau berhasil kabur tanpa membuat kalung itu bereaksi. Itu pun kalau kau memang berhasil melakukannya. Di sini, kau harus menuruti perintahku dan anggota-anggotaku. Jika tidak, kalung itu akan menyengatkan listrik padamu. Tapi, itu akan aktif setelah aku keluar dari ruangan ini. Itu pun tinggal satu langkah mundur saja. Selain kami, kau boleh membantah. Kalau tidak percaya, kau boleh mencobanya."

Astro terdiam. Tergoda untuk membuktikan perkataan Sing Love, tapi wanita itu tampak serius mengenai perkataannya. Tidak sedikit pun terlihat kalau dia berbohong.

"Selain itu, kau tidak bisa menghubungi keluar tempat ini. Tempat ini terlindungi, juga tak bisa dilacak. Dari luar pun tidak bisa terlihat. Juga lokasinya jauh dari peradaban. Di tengah gurun yang kering yang mustahil untuk ditinggali bila tidak memiliki perlengkapan untuk bertahan hidup," tambah Sing Love. "Kalau sudah mengerti, sekarang bersiaplah. Sebentar lagi adalah pertarungan perdanamu."

"Aku tidak ingin bertarung," ucap Astro. "Kumohon, jangan paksa aku melakukannya kalau bukan karena alasan yang benar. Aku benci pertarungan."

Sing Love tersenyum tipis. "Kau menarik. Tapi, ingatlah kalau kalung itu akan membuatmu menurut padaku begitu aku melangkah keluar dari ruangan ini."

"Aku tidak peduli kalau aku rusak. Aku tidak akan melakukan apa pun yang berkaitan dengan pertarungan ilegalmu."

Senyuman tipis di bibir Sing Love berubah menjadi seringai yang cukup lebar. "Kau mengancamku?"

Astro tidak menjawab. Dia menatap lurus pada Sing Love untuk menyatakan kalau dirinya itu serius dengan perkataannya.

"Kurasa usahamu itu akan sia-sia saja. Aku tidak bisa diancam semudah itu, Astro. Kuberitahu kau satu hal, aku ini licik. Sangat licik. Aku pun sudah mempersiapkan sesuatu bila hal ini terjadi karena aku tahu kau cukup pintar untuk melawanku walaupun itu hanya sebatas kata-kata."

Sebuah layar hologram muncul di hadapan Astro. Di layar itu ditampilkan gambar seorang anak laki-laki yang sepertinya dikurung seperti dirinya.

"Reno!" pekik Astro tertahan saat melihat gambar anak adopsi Dr. O'Shay itu.

"Perhatikan apa yang ada di lehernya," kata Sing Love.

Astro tercekat melihat ada sebuah kalung yang terpasang di leher Reno. Kalung berwarna hitam yang menempel pada kulit lehernya.

"Itu kalung yang sama dengan yang terpasang di lehermu. Hanya saja fungsinya sedikit berbeda dengan milikmu," jelas Sing Love. "Setiap kali kau membantahku, dia juga akan kena hukumannya walaupun dia tidak melakukannya. Kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi padanya bila sampai disengat listrik bertegangan tinggi, 'kan?"

Astro tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia terlalu syok setelah tahu Reno ikut dilibatkan dan posisi anak itu lebih berbahaya karena tindak-tanduk Astro sangat menentukan apakah anak itu akan hidup atau tidak.

"Sekarang, bersiaplah. Kalau kau berhasil memenangkan pertarungan, dia akan menjadi rekanmu. Dia itu... ahli robotika juga, 'kan? Dia bisa menjadi mekanikmu selama di sini. Yang berarti... selamanya karena aku tidak mungkin membebaskan kalian."

"Bagaimana kalau aku kalah?"

"Dia akan mati," Sing Love menjawab dengan cepat dan tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Bahkan biarpun kau tidak mati di dalam pertarungan, dia akan mati."

Astro melotot. Wanita itu gila. Padahal dia tadi berpikir bisa saja Reno akan dibebaskan kalau ternyata dirinya kalah karena itu menandakan dirinya tidak akan berguna bagi Sing Love. Ternyata tidak. Wanita itu pasti sudah mengantisipasinya juga.

"Kenapa kau melakukan ini padaku!? Kenapa!?" Astro menjadi histeris.

"Karena aku menginginkanmu," jawab Sing Love tenang. "Aku menginginkanmu secara pribadi. Jadi jangan berpikir aku bekerja sama dengan orang lain untuk membawamu ke sini. Aku tidak suka bekerja sama. Apalagi dengan Organisasi Anti-Robot. Mereka menyebalkan. Ditambah tujuan mereka itu agar para robot musnah, tapi aku ingin para robot tetap ada. Kalau para robot tidak ada, tujuan keberadaan Rock Ring jadi hilang, 'kan? Aku tidak mau sampai merugi karena hal itu. Jadi, aku juga melawan mereka. Tenang saja. Aku ini mendukung keberadaan para robot walaupun ketika mereka ada di sini, mereka bisa saja dihancurkan tanpa tersisa."

"Jadi, semua ini hanya untuk memenuhi keinginanmu semata?"

"Begitulah. Aku sangat menyukai para robot, terutama para robot petarung. Aku sering menyaksikannya sejak kecil walaupun kebanyakan pertarungan ilegal. Dan aku sangat mengaguminya. Maka dari itu, aku pun mendirikan Rock Ring agar pertarungan itu tetap ada dan aturannya tentu saja aku yang tentukan. Kadang aku menambah satu atau dua aturan tambahan dari aturan dasar pada beberapa pertarungan tertentu. Dan untuk pertarunganmu, aku menambahkan aturan, yaitu arenanya adalah seluruh wilayah Rock Ring. Biasanya aku mengadakannya di arena pertarungan yang seluas koloseum yang bila sampai keluar arena dinyatakan kalah. Tapi, kali ini seluruh wilayah Rock Ring menjadi arenanya. Jadi ini pertarungan sampai ada yang benar-benar kalah. Tenang, penontonnya dan semua yang tidak terlibat dalam pertarungan akan aman. Aku ini masih memikirkan keuntungan, jadi aku tidak ingin peminatnya berkurang karena keamanan yang rendah."

Seorang wanita berambut ungu sebahu dan berpenampilan seperti wanita karir juga dengan setelan serba hitam kemudian muncul ke depan pintu.

"Bos, sudah waktunya," lapornya.

"Oh, sampai lupa. Terima kasih sudah mengingatkan, MEFE," ucap Sing Love pada wanita itu. Perhatiannya kemudian kembali pada Astro. "Kalau begitu, kau ikut saja denganku menuju lokasi perkumpulan. Sampai di sana, kau tidak akan langsung bertarung. Nanti ada pertarungan pembuka sebelum pertarunganmu. Jadi, kau masih bisa bersiap walau aku yakin itu hanya sebentar."

Astro tidak lagi menanggapi setelah semua yang diketahuinya mengenai Rock Ring dan alasan keberadaannya di sana. Reno juga sedang dalam bahaya bila dirinya nanti sampai kalah. Kalau dirinya rusak, masih bisa diperbaiki atau dibuat ulang. Tapi, Reno...

"Mari, Astro," Sing Love mengulurkan tangannya.

Dengan patuh, Astro menerima uluran tangan wanita putih itu dan berjalan keluar bersama dengan tangan yang bergandengan. Lebih tepatnya, tangannya yang digenggam wanita itu.