First Contact


"Oi bro, kau serius tidak mau minum bersama kami?"

"Tidak usah. Aku masih punya banyak pekerjaan"

Kurasa itu cukup untuk meyakinkannya karena ia segera pergi dari ruanganku. Kembali ke meja kerja milikku, tumpukan kertas menantiku disana.

Sepertinya ini akan jadi malam yang panjang. Sebaiknya aku membuat kopi.

Ini sudah hampir seminggu semenjak kami meninggalkan Singapura. Dengan kecepatan seperti ini, kami akan sampai di Tokyo pada esok sore.

Huh, sangat lama menurutmu? Tidak jika kau menaiki kapal kontainer dengan beban yang melewati batas dan bahan bakar yang hanya diisi setengah. Serius, bahkan aku sangat yakin kapal ini tidak akan mampu mencapai 10 knot dengan kecepatan penuh.

Yang lebih buruk lagi, tentu saja kami tidak mungkin menggunakan kecepatan penuh!

Apa yang ada di pikiran petinggi perusahaan saat ini!? Sepertinya aku harus berfikir kembali tentang pensiun. Tubuhku sudah semakin lemah dan tidak sekuat dulu lagi. Sudah cukup bagi anak dan istriku yang hanya bertemu denganku sebulan sekali. Kini saatnya aku menghabiskan waktu dengan mereka.

Daaan dengan keringat dan titik darah penghabisan…

Akhirnya pekerjaanku selesai!

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Yang lainnya pasti sudah tidur karena hanya suara deburan ombak yang dapat kudengar. Mesin kapal juga dimatikan, yang artinya nahkoda juga sudah terlelap.

Kuputuskan untuk berjalan-jalan di anjungan untuk mencari angin segar. Kontainer-kontainer raksasa yang tertumpuk rapi menjulang di hadapanku begitu keluar dari kabin. Angin laut yang lumayan kencang dan bau dari garam menerpaku. Suasana begitu sepi dan gelap, seakan-akan kami berada di dunia yang lain. Satu-satunya sumber cahaya lain adalah sebuah kapal tanker di bagian kanan kapal yang ikut berlayar bersama kami. Mereka juga tidak bergerak.

Sebenarnya mereka bisa saja mendahului kami, tetapi tidak. Jalur laut saat ini tidaklah seaman dahulu karena banyaknya perompak yang berkeliaran di lepas pantai. Tidak hanya perairan Somalia yang termasuk jalur maut, laut Arab, Mediterania, laut Cina Selatan, laut Karibia, perairan utara, bahkan terusan Panama menjadi sarang mereka. Sepertinya keadaan saat ini kembali seperti dahulu, dimana kapal pedagang dikawal oleh kapal perang sehingga para perompak harus berpikir dua kali untuk menyerang mereka. Tapi hal tersebut tentu saja tidak dapat dilakukan saat ini dikarenakan sesuatu yang bernama batas negara. Sebagai gantinya, kami selalu membawa senjata di atas kapal untuk situasi darurat dan selalu beriringan dengan kapal lain untuk dapat membantu satu sama lain.

Tapi aku tidak bilang senjata kami legal bukan?

Nah, sebaiknya aku tidur.


Seperti yang kukatakan kemarin, tepat pada tengah hari kami dapat melihat pelabuhan Tokyo di kejauhan. Dan tentunya dengan kecepatan sebuah perahu dayung, kami akan sampai disana pada sore hari.

Pada saat ini, diriku sedang membawa seember air untuk membantu yang lainnya membersihkan anjungan. Kukatakan padamu, diluar sana sangatlah panas. Ditambah lagi panas yang memantul dari antara kontainer-kontainer yang tebuat dari baja membuat kami serasa dipanggang hidup-hidup.

Diriku diminta untuk mengepel bagian kanan kapal, dan tentu saja kukerjakan. Tunggu, ada sesuatu yang aneh disini….

Kenapa hanya aku sendirian yang membersihkan bagian kanan!? Lebih dari sepuluh orang ada di bagian kiri, dan tidak ada yang membantuku sama sekali disini!

Nah, sebenarnya hal tersebut tidak perlu dipikirkan dalam-dalam. Toh, mereka pasti akan kemari setelah bagian mereka disana selesai.

Di sisi ini, aku dapat melihat teman tanker kami. Jarak antara kami dengannya kira-kira 500 meter. Cukup jauh karena kami memang berencana untuk berpisah di titik ini. Kami sudah berada di lepas pantai Tokyo, dan penjaga pantai pasti akan datang membantu apabila kami berada dalam masalah.

Dan entah karena aku orang paling beruntung di dunia atau orang paling tidak beruntung di dunia, sesuatu yang bisa kubilang mengubah dunia ini terjadi untuk pertama kalinya di hadapanku.

Hanya beberapa menit setelah aku mulai mengepel, suara ledakan dapat terdengar di telingaku. Memang tidak terlalu jelas, tetapi dapat terdengar apabila engkau mendengarkan secara seksama. Secara refleks, aku melihat ke arah kapal tanker. Kapal tersebut mengeluarkan kepulan asap tebal, yang tentu saja bukan berasal dari mesin diesel miliknya. Api terlihat di bagian tengah kapal, pertama-tama kecil kemudian semakin membesar.

"Orion terbakar! Orion terbakar!"

Aku segera berteriak untuk memberitahu teman-teman yang lain, dimana mereka segera datang untuk melihat apa yang terjadi.

Kami kemudian mendapat pesan radio dari Orion II – nama kapal tanker tersebut -

'SOS. Kami diserang. Pelaku tidak dikenal. Segera tinggalkan area'

Sebuah serangan!? Di tempat seperti ini!? Mereka pasti sudah gila!

Beberapa suara dentuman kembali terdengar, dan tiga buah objek yang terlihat seperti sebuah bola api bergerak dari kejauhan ke arah Orion II. Dua buah bola api mengenainya di bagian lambung kapal. Perlu diingat, kapal tersebut membawa minyak mentah dan kondisinya sedang terbakar saat ini. Yang berarti, sebuah bom waktu.

Benar saja, sesaat setelah dua buah bola api mengenai lambung, kapal tersebut ditelan oleh sebuah ledakan yang luar biasa besar. Bola api raksasa tercipta dari ledakan tersebut, membentuk formasi awan yang berbentuk seperti jamur. Membuat kapal tersebut terbelah menjadi dua bagian. Para kru kapal satu per satu terjun ke laut untuk menyelamatkan diri. Banyak dari mereka terjun dengan kondisi tubuh yang terbakar. Sebenarnya jumlah mereka yang terjun jauh lebih sedikit daripada jumlah kru yang sebenarnya. Sepertinya hampir seluruh kru tewas dalam ledakan tersebut. Dalam waktu lima menit, kapal tersebut tenggelam ke dasar laut. Menumpahkankan muatannya dan membuat air menjadi hitam. Api yang menyambar minyak tersebut membuat lautan seakan-akan dibakar oleh api. Membuat kata 'lautan api' menjadi kenyataan.

"Ubah haluan kiri! Kecepatan penuh! Ambil persenjataan kalian dan bersiap untuk kemungkinan terburuk"

Kapten segera memberi perintah. Kami bergerak menuju ke dalam untuk mengambil persenjataan. Tiga buah laras panjang berupa Winchester versi lama dan sisanya merupakan laras pendek berupa HK dan Glock.

Aku mengingat-ingat lagi tentang bola api yang mengenai Orion tadi. Aku pernah melihatnya pada acara RIMPAC yang digelar di Hawaii. Dentuman yang terdengar sebelum bola api muncul juga menegaskannya. Bola api tersebut adalah peluru balistik yang ditembakkan dari meriam. Para perompak itu pasti mempunyai dana yang besar sehingga mampu memasang meriam sendiri di kapal mereka. Sayangnya ada satu hal yang janggal…

Aku tidak dapat menemukan kapal lain selain kami dan Orion

Kapal lain yang berada di dekat kami selain Orion berada pada jarak 5km di bagian kiri kapal (Orion berada di kanan) yang sedang bergerak mendekati kami, kemungkinan menjawab panggilan SOS yang dikirim Orion. Kapal-kapal kecil yang berada di pelabuhan juga bergerak ke arah kami. Ledakan tadi cukup untuk menarik perhatian orang-orang yang berada di pelabuhan. Kapten yang mengetahui hal ini segera memberitahu kapal lain untuk menjauh setelah aku memberitahu pemikiranku tadi kepadanya. Dia juga meminta kepada petugas penjaga pantai untuk menandai kapal lain yang berada di dekat kami pada radius 2km, jarak ideal untuk menembak. Sayangnya, pesan yang masuk dari penjaga pantai sesuai perkiraanku.

Mereka tidak dapat mendeteksi adanya kapal lain di sekitar kami.

Oh… Apa yang bisa lebih buruk daripada ini?

Kami bersiaga di sekeliling kapal. Mengawasi keadaan sekitar dan mencari pergerakan sekecil apapun.

Percuma! Aku tidak dapat melihat apa-apa selain sisa-sisa pecahan Orion!

"Oi! Apa itu!?"

Tapi itu sebelum salah satu temanku menunjuk ke arah tengah laut.

Aku menyipitkan pandanganku untuk melihat lebih jelas. Nampak lima buah objek berwarna hitam bergerak menuju ke arah kami. Empat buah memang nampak tidak jelas, tetapi salah satunya nampak berwujud seperti manusia.

Aku segera mengambil binokular yang berada di ruanganku untuk melihat mereka lebih jelas.

Sosok yang kubilang berwujud seperti manusia itu benar-benar seorang manusia, terlebih lagi seorang wanita. Kulitnya pucat dan rambut hitamnya yang panjang nampak tidak terawat. Salah satu matanya memiliki cahaya menyilaukan berwarna biru. Terlebih lagi, dia benar-benar berjalan di atas air! Tidak, kata berjalan bukanlah tepat disini, lebih tepat disebut dengan meluncur.

Saat kuperhatikan lagi, 'wanita berwujud aneh yang meluncur di atas air' tersebut memiliki objek berbentuk meriam di kedua buah tangannya. Apakah dia yang menyerang kapal tanker itu?

Sementara empat objek lainnya hanya berupa objek berwarna hitam. Sepertinya bagian tubuhnya yang lain berada di bawah air.

Aku segera memberikan binokularku kepada yang lainnya agar mereka juga dapat melihat. Ekpresi terkejut dan tidak percaya juga muncul di wajah mereka.

Entah karena terpana atau heran atas pemandangan yang ada di depan, kami semua berkumpul di bagian kiri kapal. Sesuatu yang akan kami sesali karena beberapa menit setelahnya, empat buah benturan di lambung kiri (tepat dibawah kami) membuat kapal berguncang hebat. Beberapa orang terlempar ke laut akibat kuatnya benturan.

Air masuk ke dalam kapal dengan cepat, membuat kapal miring ke arah kiri. Ingat kalau aku bilang kapal ini membawa beban kontainer berlebih? Tumpukan kargo kami ikut bergeser ke arah kiri, membuat kepanikan dan kekacauan di atas anjungan. Kami semua segera berlari ke bagian kanan kapal untuk menyelamatkan diri. Mereka yang terlambat menyelamatkan diri harus merelakan tubuhnya dihempaskan oleh kontainer seberat dua ton ke laut. Semua kontainer menimbulkan suara gesekan, benturan, dan decitan yang amat nyaring sebelum semuanya tenggelam ke dasar laut, membuat anjungan benar-benar kosong sekarang.

Kali ini kami yang mengirim sinyal SOS kepada seluruh kapal yang ada. Nampak dari arah pelabuhan, para penjaga pantai mengerahkan hampir seluruh kapal miliknya untuk menjawab panggilan kami. Dua panggilan SOS dalam rentang waktu kurang dari sepuluh menit itu bukanlah sesuatu yang normal.

Suara dentuman terdengar. Dan dugaanku lagi-lagi benar, wanita itu menembakkan meriam yang ia bawa. Empat buah bola api muncul tiap kali ia menembak, dan ia menembak sebanyak tiga kali. Seluruh tembakannya mengenai kami di berbagai bagian kapal. Banyak yang teluka dan tidak sedikit dari kami yang tewas akibat hujan tembakan yang ia lakukan. Lebih buruk lagi, api muncul di bagian buritan dan kabin. Api yang muncul membuat turbin macet sehingga kami benar-benar lumpuh saat ini.

Kapal semakin miring ke arah kiri dan perintah yang kutunggu dari tadi akhirnya muncul.

Kapten meminta kami untuk meninggalkan kapal.

Kemiringan kapal sudah hampir mencapai 45 derajat sehingga kami segera terjun ke laut tanpa menggunakan pelampung. Benturan keras saat tubuhku menyentuh air membuat dadaku sakit. Sepertinya aku mematahkan beberapa tulang rusukku.

Satu menit setelah kami meninggalkan kapal, kapal akhirnya benar-benar terbalik dan tenggelam secara perlahan-lahan. Pertama-tama anjungan terlebih dahulu, dan yang terakhir bagian buritan.

Diriku berjuang untuk mengapung sambil menahan rasa sakit selama kira-kira sepuluh menit sebelum akhirnya diselamatkan oleh penjaga pantai yang datang tepat waktu. Tepat waktu karena satu menit saja mereka terlambat, aku tidak yakin diriku dapat bertahan.

Para penjaga pantai segera membaringkanku dan membawaku ke dalam kapal untuk dirawat. Aku melihat ke arah kapal kami untuk terakhir kalinya. Hanya terlihat bagian turbin yang berada di atas air, itupun tidak berlangsung lama sebelum akhirnya lenyap ke dalam air.

Jauh disana, aku dapat melihat wanita tersebut.

Pergi melarikan diri.


BREAKING NEWS

Dua buah kapal tenggelam di perairan Tokyo pada pukul satu siang tadi. Terlihat bagian-bagian kapal yang tersisa mengapung di sekitar perairan tempat kejadian. Terlihat juga tumpahan minyak berskala luas yang berasal salah satu kapal yang tenggelam. Saksi mata mengatakan bahwa ledakan besar sempat terdengar dan kobaran api terlihat dari pelabuhan di salah satu kapal. Kedua kapal sempat meminta bantuan sebelum akhirnya tenggelam. Sayangnya, para pihak terkait nampak tertutup atas peristiwa ini. Investigasi penyebab tenggelamnya kedua kapal saat ini tengah dilakukan dan jalur pelayaran diubah sementara agar tidak mengganggu proses evakuasi para awak kapal yang saat berita ini diturunkan, masih tengah dilakukan.


Deep shit is real

Sudah hujan, tidak bawa payung, bawaan di tas jadi basah, kesambar petir pula

Seperti itulah keadaan saya saat ini sehingga saya tidak dapat menulis untuk sementara waktu. Event saat ini juga terpaksa harus saya tinggalkan (Yay! Gak perlu makan garam Tanaka!)

Nah cukup sampai situ saja mengeluhnya

The Lionheart: Progressive

Ketika saya membaca ulang proyek utama saya, sebuah pemikiran muncul di benak saya. RUSH!. Ngebut banget.

Saya akan membuat tiap chapternya tidak terlalu panjang. Jadi, mungkin saja jumlah chapter disini akan melewati jumlah chapter cerita utama ;)

Cheers~