Len's Love
.
Aku adalah anak kembar. Kembaranku adalah Rin, dan dia adalah seorang perempuan. Sedangkan aku adalah Len, dan aku adalah kakak laki-laki Rin. Sejak lahir, kami selalu bersama. Kami melakukan segalanya bersama-sama. Kami bermain bersama, belajar bersama, makan, mandi, dan tidur bersama. Kami hanyalah anak-anak yang masih polos.
Kesukaanku dan Rin adalah bermain di taman dekat rumah kami. Aku masih ingat pada saat itu, di suatu hari libur yang sangat cerah. Kami sekeluarga bermain bersama. Lebih tepatnya, ayah dan ibu kami mengawasi kami yang sedang asyik bermain di taman itu.
" Ini untukmu," aku memberikan sekuntum bunga berwarna putih yang telah kususun setelah kupetik dari taman itu kepada Rin.
" Wah! Makasih, Len!" Rin berseru kegirangan melihat bunga yang kuberikan kepadanya. Sepertinya tak terlintas di benak Rin untuk memetik dan merangkai bunga itu sendiri. Segera setelahnya, Rin berlari ke tempat orangtua kami.
" Ibu! Coba lihat, Len memberikannya untukku!" kata Rin sambil memamerkan bunga itu kepada ibu kami. Ia mengatakannya seakan-akan aku sudah memberikan sesuatu yang sangat berharga kepadanya. Sifat Rin yang satu ini membuatku senang.
" Wah, kau memang kakak yang baik, Len!" Ayah mengusap kepalaku, " Kau mau bersusah payah mengumpulkan bunga-bunga itu dan merangkainya untuk adikmu."
" Rin bukan saja adikku!" kataku tanpa berpikir panjang, " nanti kalau sudah dewasa, aku akan menikah dengan Rin!"
" Oh ya?" kata Ibu dan Ayah yang diselingi dengan tawa kecil. Saat itu aku tidak tahu, bahwa Ayah dan Ibu menyangka bahwa aku hanya bercanda dan mengira bahwa hal itu merupakan sesuatu yang lucu, karena kami masih anak-anak...
.
Saat itu umur kami baru 5 tahun. Kemudian, pada saat kami berumur sembilan tahun... Aku masih ingat betul. Saat itu di sekolah aku dan Rin bermain bersama dan aku pun berkata kepada teman-temanku bahwa kelak kami akan menikah. Tepat pada saat itulah, aku mendengar suara tawa.
" Tak mungkin!" kata salah seorang temanku.
" Apa maksudmu?" Aku mulai marah.
" Habis, kalian kan bersaudara!" katanya, ia berhenti tertawa, " Aku dengar dari kakakku bahwa pernikahan antar saudara itu hal yang tabu! Tidak diperbolehkan!"
Aku terhenyak. Tidak mungkin, kenapa bisa hal itu dilarang? Aku sangat menyayangi Rin! Itu pasti hanya bualan temanku, dia pasti iri denganku!
" KAU BOHONG!" Aku berteriak kepadanya. Kemudian aku berlari meninggalkan mereka semua yang kebengongan dengan sikapku. Hanya ada satu hal dalam pikiranku saat itu, yaitu menanyakannya kepada ibu. Pasti ibu akan mengatakan bahwa temanku berbohong. Pasti ibu akan mengatakan bahwa aku nanti akan menikah dengan Rin. Ya, pasti!
Aku segera mendobrak pintu rumah dan berlari ke dapur. Sore hari seperti ini pasti ibu sedang memasak untuk makan malam. Aku segera masuk ke dapur dan melihat punggung ibuku yang sedang memasak. Kupeluk ibuku dari belakang. Air mataku mulai mengalir, tanpa kusadari. Namun air mata itu segera berhenti karena sebentar lagi pasti masalah ini akan berakhir.
" Ada apa, Len?" tanya ibu dengan suaranya yang lembut dan menenangkan.
" Okaa-san (ibu), apa benar kalau aku tidak bisa menikah dengan Rin?" tanyaku dengan polosnya. Pada saat itu, aku belum mengerti apa-apa...
Ibu tertawa, " Kalian kan bersaudara, Len... Kau pasti akan menemukan orang lain nanti. Oh ya, mulai hari ini, kalian harus mandi dan tidur terpisah, ya! Ayah dan Ibu sudah menyiapkan kamar lagi untukmu atau Rin."
Aku sangat terpukul saat itu. Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya berjalan perlahan menuju ke kamar kami, yang sebentar lagi akan berubah menjadi kamar bagi salah satu di antara kami. Aku mulai menangis. Hal ini tidak adil!Bukan saja aku mengetahui kenyataan yang berat bahwa aku tidak bisa bersama dengan Rin, juga aku mendapat pukulan keras saat mengetahui kalau kami harus mulai berpisah.
Begitulah, mulai malam itu aku dan Rin tidur terpisah dan mandi sendirian. Nampaknya Rin tidak keberatan sama sekali dengan hal ini. Apakah hanya aku yang merasakannya? Apakah hanya aku yang merasa kesal dan sedih?
.
Pada saat berumur 12 tahun, nampak perbedaan di antara kami. Rin mulai sering menghabiskan waktunya dengan teman-teman perempuannya. Kami tak lagi lengket seperti dulu saat kami kecil. Entah kenapa nampaknya ada jarak di antara kami sekarang. Memang kami masih akrab, namun tidak seakrab pada saat kami masih kecil.
.
Dan sekarang kami berusia 14 tahun. Nampaknya Rin mulai tidak mau berbagi rahasia denganku. Yah, begitu pula denganku. Dari apa yang kulihat, Rin sepertinya sedang berpacaran dengan Kaito. Yah, aku juga pacaran, sih. Dengan Miku. Juga Luka. Aku tahu ini tidak baik, tapi tetap saja aku berpacaran dengan lebih dari satu perempuan. Dan tidak ada satupun di antara mereka yang mampu membuatku terpikat. Aku masih tidak bisa melupakan Rin. Dari dulu sampai sekarang, hanya Rin yang ada di dalam pikiranku.
" Rin...," aku membuka pintu kamarnya perlahan. Ia benar-benar ceroboh. Seharusnya buku tugas Matematikanya sudah dimasukkan ke dalam tasnya agar ia tidak lupa, tapi kenapa bisa buku Rin masih tertinggal di kamarku? Tadi sore memang kami belajar bersama, tapi seingatku ia sudah membawa bukunya. Atau tidak. Aku juga sedari tadi melamun saja, sampai baru menyadari hal ini saat larut malam. Apa Rin sudah tidur?
" Rin?" kupanggil lagi Rin, namun tidak ada jawaban. Aku pun masuk ke dalam. Ah, rupanya ia sudah tidur. Kuletakkan saja bukunya di atas meja belajarnya. Pasti ia akan sadar dan melihat bukunya besok pagi.
Aku duduk sejenak mengamati Rin. Tak apa kan? Aku hanya akan mengamatinya. Nampaknya ia tidur sangat pulas, sampai-sampai tidak menyadari kedatanganku. Wajahnya saat tidur sangat manis. Kulitnya masih seputih dulu, sepertinya kulitnya lebih halus daripada kulitku...
Tanpa sadar aku sudah memegang pipi Rin. Benar saja, kulitnya halus. Dan putih. Ia nampak sangat rapuh seakan-akan ia bisa hancur jika aku menyentuhnya. Tapi tentu saja ia tidak hancur. Aku menyentuhnya dengan lembut. Tangannya bergerak. Aku terkejut, namun ia hanya berpindah posisi tidur saja.
"...Selamat malam, Rin," kukecup dengan lembut pipinya. Setelah itu aku mengangkat wajahku. Mataku bertemu dengan matanya. Celaka! Kenapa ia membuka matanya tepat di saat seperti ini? ...Semuanya sudah hancur... Apa yang harus kulakukan sekarang? Pasti hubungan kami akan menjadi renggang...
To be continued or the end...?
Ini fan fiction pertama Chouchou dalam bahasa Indonesia! ^^ Moga-moga kalian suka! Kalau bisa, tolong di-review ya~ Sankyuu (makasih)!
