Langit malam sudah berdiri di peraduan, meninggalkan raja siang yang telah turun dari tahta beberapa waktu yang lalu. Tak sabar, sang ratu kemudian memanggil kedua pengawal setianya, sepasukan kelap bintang dan dewi rembulan, junjungan agungnya.

Seharusnya, suasana malam ini begitu indah.

Ya, seharusnya.

Kalau saja, ratusan kilometer ke bawah, tiga sosok makhluk serupa manusia tidak berhadapan. Ah, sebenarnya hanya dua orang, sih, karena yang seorang lagi masih sangat kecil, tidak pantas 'berhadapan' seperti dua lainnya.

Salah seorang dari mereka, yang paling tinggi, tersenyum di hadapan kedua yang lain. "Kau sudah dengar semuanya, ya?" katanya, entah kenapa masih terlihat senyum di wajahnya, yang sebelah kiri tertutupi sebagian oleh rambut.

Pemuda bermanik merah itu, menggenggam erat tangan mungil dalam jemarinya. Sembari menggertakkan gigi, ia sama sekali tak ingin sepupu cilik tersayangnya ini terluka oleh pemuda di hadapannya. "Niisan, ada apa dengan Niichan?"

Salah satu pemuda yang terpanggil 'Niisan' sama sekali tak kuasa untuk tidak menolehkan kepalanya kepada bocah berambut crimson ini. Sepupu yang paling dekat dengannya, yang paling ia banggakan, yang paling ia sayangi. "Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja," dengan terpaksa harus berbohong demi ketenangan mental sang bocah.

Sayangnya, bocah crimson itu tidak begitu percaya dengan omongan sepupunya, yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, di saat ia mendengar lagi suara sang 'kakak'nya yang seorang lagi. "Hmph, 'semua akan baik-baik saja', ya? Naif sekali kau."

Cepat, sang bocah kecil menengahi keduanya, tangan mungilnya ia rentangkan lebar-lebar, mencegah dua makhluk yang sudah ia anggap sebagai kakak ini berkelahi, atau apa pun yang membuat mereka terlihat berselisih. "Hentikan!"

Sang pemuda bersurai hitam mengeratkan baris gigi, tak sabar. Tanpa tersentuh, ia mendorong tubuh kecil sang bocah, membentuk suatu segel tangan, dan mengurung si bocah yang tersungkur di tanah dengan semacam pelindung di sekeliling tubuhnya. "Otouto-ku yang manis, tunggu saja di sana, ya," melirik mata kemerahan laksana darah milik pemuda lain yang menggeram marah di hadapannya.

Sementara tangan si bocah mulai menggedor pelindung, sang pembuat segel menyeringai. "Niichan! Buka! Aku tidak mau kalian berkelahi! Buka!" ia berteriak, namun sepertinya percuma saja, sebab suaranya teredam sepenuhnya di dalam pelindung.

Meski begitu, satu-satunya pemuda bersurai hitam di tempat itu jelas tahu apa yang diteriakkan 'adik'nya, tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya.

Sebenarnya, suara sang bocah, seseorang yang sudah dianggapnya sebagai adik, adalah satu hal yang memberikan efek ganda kepadanya. Sakit, dan senang.

"Niichan! Buka!"

Ya, suaranya yang seperti itu, hanya membayangkannya saja benar-benar membuatnya sakit.

Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan.

"Kau—kau benar-benar membuatku marah!" kedua mata sewarna darah berkilat tajam. Sembari sang pemilik mata mengibaskan tangannya untuk menyerang, Sayang lawannya sudah lebih dulu bersiap.

Ah, bahkan ia tidak mengetahui, sejak kapan bibir milik pemuda serba hitam itu sudah berada di dekat telinganya?

"Kau... bilang sesuatu?"

Dalam sekejap, kaki sang pemuda hitam menghempaskan tubuh pemuda bersurai merah. Menendangnya tanpa ampun dan membuatnya terdorong bermeter-meter ke belakang, menghantam sebuah tembok hingga hancur lebur tidak berbentuk lagi.

"Niisan!" teriak sang bocah yang seolah terlupakan, menangis dalam keheningan karena hanya ia sendiri yang mendengar suaranya. Ingin sekali rasanya ia pergi ke sana, untuk membantu niisan–nya berdiri, dan membawanya lari dari sini hingga tak terlihat oleh mata hitam itu lagi.

Sayangnya, kini ia berada dalam kurungan sangkar kegelapan. Membuatnya tak bisa leluasa bergerak, bahkan mengambil udara pun rasanya sulit.

Reruntuhan bekas tembok bergerak, membuktikan bahwa warna merah yang memucat itu sedang berusaha bangkit. "Kau..." ia menggeram, tidak peduli dengan kepalanya yang sudah mengeluarkan cairan yang berwarna senada dengan rambutnya.

Mata merah itu melirik kepada sang adik, yang terkurung tanpa sanggup ia bebaskan. Ha, untung saja bocah mungil itu tidak terlalu memperhatikan darah yang ada di kepalanya, kalau tidak, bisa menangis meraung-raung anak itu nanti.

'Jangan khawatir,' ia membatin. 'Aku berjanji akan pulang dengan selamat.'

Beruntung juga si hitam itu mengurung adiknya, akan sangat berbahaya bagi bocah itu kalau dia ikut terlibat dengan perkelahian antara dirinya dan orang yang kemarin masih menjadi temannya. Dikurung begitu akan membuatnya tidak terluka.

Oh tidak, tunggu. Apakah ini berarti...

... ia masih menyayangi adik mereka?

Heh, tentu saja. Bocah crimson itu adalah teman sekaligus seseorang yang sangat dekat dengannya. Keduanya sudah seperti kakak adik, bahkan kadang lebih dekat dari si merah yang memiliki hubungan darah dengannya. Wajar saja kalau pemuda hitam itu sangat menyayangi sang bocah, dan tidak akan membiarkan bocah itu terluka sedikit pun.

Huh, ia jadi menyesal membiarkan adiknya ikut tadi. Apa boleh buat, tadinya ia pikir mantan sahabatnya itu tak akan bertindak dengan kekerasan begini, jadi sebagai sepupu dan kakak angkat yang baik, ia berkewajiban untuk membawa sang bocah.

Mana dia tahu kalau ternyata pemuda itu memintanya datang hanya untuk bertarung?

Si merah memutar tubuhnya, tepat saat sang lawan datang dari samping. Kaki sang pemuda merah menendang kepala si hitam dengan tenaga yang sengaja ia kurangi, dalam hati masih takut melukai sahabatnya itu.

Namun betapa terkejutnya ia saat mengetahui, bukan kepala yang ia hantam, melainkan tangan kiri si pemuda hitam. Tanpa pikir panjang, pemuda bermata tunggal itu balas menyerang si merah, dengan sasaran perutnya.

ia terguling, lawannya menyeringai puas.

"Ikutlah denganku," ucapnya, setelah ia membuat tubuh teman terbaiknya laksana ulat yang berusaha merangkak di tanah. "Kalau kau ikut denganku, aku akan membebaskan dia," ia melanjutkan.

Pemuda merah itu sebenarnya tidak mengerti, maka dari itu, ia bertanya. "Apa maksudmu...?" tak menghiraukan betapa sulit ia mengucapkannya karena lehernya kini digenggam oleh tangan sang mantan sahabat. Mencekiknya dengan amarah penuh.

Secara garis besar, ia memang tidak mengerti. Namun ia tahu pasti, merujuk kepada siapa 'dia' yang disebutkan tadi.

Kembali, sang pemuda hitam mengeratkan baris gigi. Ia pun menyadari, sampai saat ini si merah sudah hampir mematahkan tangan kirinya, dengan tendangan yang sangat ia tahu bahwa tenaganya dikurangi. Sungguh, ia tak suka seperti itu. Ia tak suka diremehkan.

Kesal, ia mencengkeram kepala si merah yang tengah tak berdaya, membuat bocah yang terkurung di sana menangis lebih keras dan berteriak lebih kencang daripada sebelumnya, meraungkan nama kakak sepupunya dengan pilu, takut kalau sepupu kesayangannya itu akan dibunuh, oleh sahabatnya sendiri.

Namun tentu saja, hanya diri bocah itu sendiri yang bisa mendengar teriakannya.

"Lihat, inilah kekuatan vampir yang sebenarnya. Yang kuat selalu benar, dan kau tahu apa yang menjadikan kita kuat."

Si merah hanya dapat melihat ada cahaya keemasan yang menusuk mata kirinya. Entah apa yang telah diperbuat si hitam padanya, tapi ia yakin, itu bukan sesuatu yang baik.

"Aku hanya akan membebaskannya kalau kau bersedia ikut denganku. Bagaimana?"

Sakit, tentu saja. Kepala merah itu sudah banyak mengeluarkan darah, dan kini digenggam kuat oleh tangan yang dulunya menggenggam tangannya dengan lembut itu? Sungguh, kenyataan memang pahit.

"Tidak akan pernah! Aku akan membebaskannya sendiri! Tanpa bantuan orang sepertimu!"

Mata hitam memicing, seakan ingin menghempaskannya ke dalam jurang paling dalam, dan paling kelam.

Kemudian, yang ia ingat, hanya sebuah mata onyx yang berkilat marah, mengutuknya dari dasar hati yang terdalam dan seolah tak akan pernah memaafkannya.

.

.

.

Deformity

By Tsubaki Audhi and The Fallen Kuriboh

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

.

.

.

"Samar-samar dalam benakku, masih teringat..."

.

.

.

"—tak akan kumaafkan."

.

.

.

0000000000000

Ketika aku kecil, samar-samar masih teringat...

Kadang ibuku bercerita...

0000000000000

KRIIIIIIIINNNGG!

Klik.

Seorang pemuda berambut pirang mematikan jam wekeryang berdering nyaring. Mata sewarna madunya masih sayu, ia tahu bahwa harusnya waktu tidurnya kemarin masih kurang. Namun apa daya, ia bisa kehilangan uang makan kalau beringsut ke kasur lagi.

Pemuda itu berjalan malas ke arah kamar mandi, membersihkan diri seadanya. Toh, meski tak mandi pun ia masih tetap tampan—bukannya narsis, itulah kata para fansnya. Ia memakai sembarang kemeja yang tergeletak di atas kasur, ah biar saja, ketika bekerja nanti ia akan diberi pakaian baru. Kemudian pemuda itu melangkah ke dapur dan memanggang pancake. Oh, semoga hari ini masakannya tidak hangus, semoga tidak hangus—

—seketika bau hangus menguar dari adonan yang baru semenit lalu ia tuang ke dalam wajan. Api kompornya terlalu besar.

Rupanya ia kurang serius waktu berdoa.

Menghela napas singkat, pemuda itu mengambil sekotak besar susu dingin dari dalam kulkas dan menyajikannya bersama sepiring pancake gosong hasil kreasinya. Berharap nantinya ia bisa meredam rasa pahit masakannya dengan banyak meminum susu. Tak apa, lagipula ia sudah biasa. Tinggal sendirian selama bertahun-tahun bukan berarti bisa membuatnya jadi seorang tukang masak yang handal.

Sambil (berusaha) menikmati sarapan paginya, sang pemuda berambut pirang itu menelusuri jadwal kerjanya hari ini. Pagi ini rekaman video klip, lalu makan siang bersama kontraktornya, sore nanti acara jumpa fans, di malam hari ia pemotretan. Padat, seperti biasa. Entah berapa banyak senyuman yang harus ia palsukan hari ini. Yah, bukan berarti di hari-hari yang lalu ia tak terbiasa melakukannya—

Ah, lebih baik ia segera bersiap.

0000000000000

"Ada sebuah kisah yang hilang terkubur waktu..."

"Cerita yang hanya kau seorang yang tahu..."

000000000000000

"Jadi Kise-kun, di video klip nanti kau akan berperan sebagai pemuda yang cintanya ditentang oleh keluarga. Di bagian ini ada sedikit adegan roman, lalu kemudian di area tujuh nanti akan ada sedikit adegan pertarungan. Pokoknya, lakukan dengan natural seperti biasa, oke~?"

Sang pemuda pirang—Kise namanya—mengangguk riang sembari mencoba meresapi peran yang ia dapatkan. Heh, yang seperti ini sih terlalu mudah untuk diperankan. Tak butuh usaha spesial. Lagipula ia selalu bisa melakukan segala hal, bukan?

"Kise-kun, kau sudah siap?"

Sekali lagi, anggukan singkat serta senyuman cerah menjadi jawabnya.

"Baiklah, adegan pertama, TAKE!"

Senyuman palsu yang sungguh tanpa cela.

00000000000000

"Dahulu, ada sepasang insan beda dunia yang saling jatuh cinta..."

"Mereka takut bila nantinya cinta itu akan kikis ditelan waktu..."

00000000000000

"Kau memang hebat, Ryouta-kun! Tak salah aku memasukkanmu dalam agensiku. Prestasimu dalam kurun waktu beberapa tahun ini benar-benar—"

Pemuda pirang itu hanya menatap datar pada piring makan siangnya sembari terus mengunyah makanan yang tertata di sana—masih dengan tata krama yang baik, tentunya. Rekaman video klip tadi pagi membuatnya agak sedikit lelah. Lagipula bukan hobinya untuk mendengarkan ocehan pria tua yang merekomendasikannya ke agensi miliknya ini. Bukan keinginannya untuk menjadi artis terkenal atau sejenisnya. Ia hanya butuh uang. Ia butuh uang untuk makanan dan tempat tinggal—untuk terus hidup.

000000000

"Karena itu dua insan tersebut saling bertukar janji..."

000000000

"—kan, Ryouta-kun. Di kedepannya nanti pasti juga—"

Huh, sok akrab sekali orang tua menjijikkan ini. Ia pikir siapa dia, memanggil seorang Kise Ryouta dengan nama kecilnya? Mentang-mentang ia yang memungut Kise dari jalanan dan mempekerjakannya bagai anjing dalam ikatan rantai—

"—Ryouta-kun? Kau mendengarkanku?"

Sebuah senyuman manis yang ia keluarkan ternyata cukup untuk membuat pria tua busuk itu bungkam. Ia harus bersyukur, wajah tampannya ini benar-benar seolah dapat mengendalikan pemikiran orang.

—atau tidak.

0000000000

"Mengira bahwa mereka akan hidup bahagia..."

00000000

"Kyaaaaaa! Kise-kuuun~"

"Ia benar-benar tampan!"

"Idolakuuu~!"

Kise Ryouta, hanya tersenyum manis sambil tetap menyalami tangan penggemarnya satu-persatu ketika mendengar lontaran pujian-pujian yang ditujukan untuknya. Bukan, ia bukan merasa tersanjung, sungguh, yang ada malah rasa muak. Untungnya ekspresi wajahnya sudah sangat terlatih hingga tak tampak sedikit pun rasa jijik dari senyuman hangat yang ia sunggingkan.

Kadang ia berpikir, entah kapan dirinya bisa lepas dari segala rutinitas yang memaksanya untuk menebar senyuman palsu seperti ini. Mungkin nanti, mungkin bertahun-tahun lagi.

Atau mungkin baru bisa terjadi bila ia mati.

"Kise-kuuunnn~!"

Kise kembali melengkungkan bibirnya sembari berterima kasih dengan nada bicara riang.

000000000

"Namun yang mustahil tetaplah tak mungkin..."

000000000

"—oke, sekian untuk pemotretan hari ini. Terima kasih atas kerjasamanya!"

Beberapa orang menghela napas lega, beberapa yang lain langsung heboh dan berinisiatif untuk mengajak makan bersama di restoran. Ketika pemotretan usai, suasana warna-warni seperti ini memang bukanlah hal yang tidak wajar. Tentu saja beberapa akan merasa lelah karena acara pemotretan yang intens seperti ini, tak terkecuali bagi sang bintang utama.

Kise hanya menghela napas panjang, akhirnya usai sudah rentetan pekerjaannya untuk hari ini. Ia benar-benar lelah. Seharian penuh ia bekerja dan itu semua membuat wajahnya berkedut kaku. Terlalu banyak tersenyum juga melelahkan.

Pemuda pirang itu beranjak dari lokasi pemotretan, menolak sopan tawaran beberapa orang untuk mengantarnya pulang dengan kendaraan mewah. Ia benci itu, karenanya ia langsung berkata tidak dan beranjak bahkan meski beberapa dari mereka mulai membicarakan gosip tentang orang yang tiba-tiba jadi mayat yang kurus kering setelah malamnya berjalan sendirian di jalanan yang sepi.

Huh, seolah Kise akan takut saja.

Ia tak akan pernah takut mati—tidak ketika hidupnya terasa hampa seperti ini.

000000000

"Pada akhirnya dua insan itu berpisah dan tak saling berjumpa lagi..."

000000000

Kise berjalan sendiri dalam hening. Di kanan-kirinya terjajar lampu jalan yang menyala redup, dan di atas kepalanya adalah langit malam yang tak banyak bertabur bintang. Hari ini ia sungguh sibuk dan ternyata sudah tak ada lagi kereta yang bersedia berangkat ketika ia mencapai stasiun. Anggap saja nasibnya sedang sial. Huh, tahu begitu ia terima saja tawaran tumpangan dari rekan-rekan kerjanya. Yah, bukan berarti ia benci untuk berjalan sendiri di tengah malam yang sunyi. Hanya saja ia lelah, dan kakinya mulai berdenyut protes. Belaian angin pu tak banyak membantu untuk membawa asam urat dalam otot-otot wajahnya yang banyak bekerja hari ini.

—sudahlah, nikmati saja.

Redup, gelap, sepi. Dan ia tak peduli. Bunyi langkah dinamisnya seolah menjadi satu-satunya instrumen dalam relung malam yang kelam ini. Terasa menyeramkan, mungkin. Namun tidak bagi seorang Kise Ryouta. Keheningan statis seperti ini biasa ia lalui. Ia menyukainya, suasana dingin yang menusuk ini adalah satu-satunya sobat baiknya.

"…"

Dalam sunyinya malam, ia mulai menyenandungkan lagu lama yang dulu sekali selalu jadi lagu pengantar tidurnya.

000000000

"—berhasil menemukannya?"

"Tidak, bagaimana denganmu?"

"Kalau aku sudah menemukan mereka, aku tak akan bertanya!"

"Bisa gawat kalau ada korban yang terjatuh lagi. Kita harus segera menemukan para pemberontak itu."

"Kita sudah mencari di seluruh kota dan tak ada petunjuk sama sekali!"

"Tch, tenanglah! Kalau begini, kita memang hanya bisa menunggu sampai mereka melakukan—"

"Aomine-kun, Kagami-kun."

"Ada apa, Kuroko?"

"Aku… merasakan mereka."

0000000000

Kise berjalan dalam hening. Senandung syahdu masih setia ia bisikkan. Ia terus berjalan pulang dalam senyapnya malam. Dalam hati, ia menghitung derap langkahnya.

Selangkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Emp—

Diam. Hening. Kise terpaku sesaat dan menatap ke sekitar. Di sekelilingnya hanya ada bangunan tinggi dan di depan-belakangnya terlukis jalanan lurus. Masih sama, tak ada yang berubah. Suasana masih hening, tak ada yang aneh.

BRAKKK!

Hanya saja langkah yang keempat tadi bukan miliknya.

"…kh!"

Refleks, Kise segera ambil langkah seribu. Ia tak meluangkan waktu untuk sekedar memastikan sumber dari suara janggal abrusan. Firasatnya menyuruh untuk lari, adrenalinnya memekik untuk segera menjauh, firasatnya sama sekali tak mengatakan hal baik tentang ini. Entah dari mana sumber suara yang membuatnya terbirit-birit itu, bisa saja itu preman, pencuri, alien, atau seekor kucing dan mungkin hanya bunyi suara tong sampah yang jatuh—

—mendadak Kise merasa bodoh.

Walau sempat ragu, akhirnya pemuda bermanik madu itu melakukan perlambatan pada laju larinya. Ketika nilai usaha yang ia lakukan diam di nilai nol, Kise memberanikan diri untuk melihat ke belakang.

Tidak ada apa-apa.

Sungguh, kini Kise benar-benar merasa bodoh. Untuk apa tadi ia lari terbirit-birit layaknya domba yang dikejar anjing? Tak ada yang janggal di sini. Yang ada hanya Kise Ryouta dan firasat buruknya dalam kadar berlebih.

Tidak ada apa-apa.

Kise menggeram frustasi, menendang kaleng minuman kosong di hadapannya untuk meringankan gejolak batinnya. Oh ayolah, ini sangat bodoh. Memangnya apa yang bisa terjadi di dalam kota yang damai ini?

Klontang! Bletakk!

Suara geraman menggema di sepanjang jalan. Kise terhenyak, menatap horor pada makhluk yang mengusap kepala di hadapannya. Sekilas tampak seperti manusia biasa, namun ada yang aneh padanya. Mata makhluk itu berkilat mengerikan, sementara di antara deretan giginya ada dua pasang taring yang terlihat tajam.

Oh tidak—ia lupa untuk memperhitungkan asumsi bahwa bisa jadi ada vampir yang ingin menghisap darahnya.

0000000000

"Masih jauh, Kuroko?"

"Sedikit lagi, Kagami-kun. Keberadaan mereka terasa makin kuat."

"Che, kuharap mereka belum memangsa siapapun."

Ketiga orang itu berlari secepat yang mereka bisa.

0000000000

Sambil berlari, Kise memutar otaknya Ia tak habis pikir, bagaimana bisa ia dikejar oleh makhluk jadi-jadian yang ia identifikasi sebagai vampir itu? Atau mungkin itu zombie? Vampir—atau monster apapun itu tidaklah nyata, setidaknya Kise ingin beranggapan seperti itu. Tapi, kalau begitu makhluk apa yang sedang mengejarnya ini? Manusia biasa kah? Lalu ada apa dengan taring-taring dan nafsu membunuh yang menguar itu? Dan tunggu—seingatnya tadi ia hanya melihat satu. Satu vampir saja yang mengejarnya.

Kenapa tiba-tiba jumlahnya bertambah jadi empat kali lipat?

Kise makin memompa tenaganya, berusaha untuk berlari lebih cepat. Entah apa jadinya bila ia sampai tertangkap oleh makhluk jejadian serupa manusia itu. Dihisap darahnya? Sepertinya iya, jelas begitu. Dan mati? Mungkin saja. Yang jelas tertangkap bukanlah hal yang harus ia biarkan terjadi.

Kise makin memacu langkahnya. Di belakang ada empat makhluk haus darah yang menggeram penuh kengerian dan ia tidak ingin tertangkap dan dihisap darahnya sampai kering. Beberapa puluh meter di depan sana adalah apartemennya. Bagus, sedikit lagi. Sebentar lagi ia bisa masuk kamarnya, menarik selimut, lalu bermimpi—atau meraih gagang telepon dan memanggil polisi.

Telepon—tunggu! Ia punya ponsel! Kenapa tidak mencoba meminta bantuan sekarang.

Tanpa mengurangi kecepatannya, Kise berusaha meraih telepon genggamnya dari saku cepat ia menekan digit-digit yang bisa menghubungkannya pada kantor polisi. Tekan tombol dial, lalu ia menunggu. Terus berlari dengan nafas yang mulai tersengal, mendengarkan nada sambung, dan akhirnya—"

"Halo?"

KLONTANGG!

—jatuh terjerembab di jalanan karena tersandung kaleng minuman.

Kise mengaduh sakit. Baiklah, ia baru saja jatuh menggesek aspal jalanan. Ponselnya terbang melayang entah ke mana. Dan buruknya lagi, sepertinya kakinya terkilir. Sementara di belakang sana ada kumpulan vampir yang masih persisten untuk menghisap darahnya.

Sial, ini pasti karma karena tadi ia menendang kaleng seenaknya. Walau Kise rasa semua rentetan peristiwa ini terlalu berat untuk menjadi konsekuensi dan perbuatan menendang kaleng bekas minuman.

Para makhluk haus darah itu semakin mendekat dan Kise tak tahu lagi harus melakukan apa. Kondisi kakinya kini tak memungkinkan untuk berlari. Yang ia punya tinggal kepala dan kedua tangannya. Oh, barangkali ia bisa mencoba untuk melawan vampir-vampir itu. Empat lawan satu, dan lawannya bukan manusia. Baiklah, setidaknya ia harus mencoba. Itu lebih baik daripada pasrah dan menunggu ajal.

Maka dengan memberanikan diri, Kise mangambil benda terdekat untuk dijadikan senjata—yang mana kebetulan itu adalah pipa air tipis yang agak panjang. Ia berusaha berdiri, menjadikannya terpincang namun siap mengayun pipa itu dengan sekuat tenaga bila ada ayng berani mendekat.

Vampir-vampir di hadapannya menaikkan alis, kemudian keempatnya menyeringai dengan gerakan serempak.

Kise merinding sesaat saat telinganya menangkap vibari bernada rendah dari salah satu vampir yang menatap penuh nafsu padanya.

"Kau pikir bisa mengusir kami dengan benda seperti itu, Manusia?"

Dengan gerakan kilat, pipa yang ia pegang tercabik menjadi potongan-potongan kecil. Demi apa, bagaimana bisa—

DUAK!

Tubuh Kise kembali menghantam tanah—kali ini punggungnya. Di lehernya, ia dapat merasakan cekgraman tangan yang mencekik erat. Sesak—SAKIT! Ia dapat merasakan ada beberapa bagian dari tulang lehernya yang retak.

Seringaian vampir itu makin melebar. Di bibirnya terus terbisik kata "Makan malam" dan ketiga rekannya mulai mendekat sambil menampakkan seringaian keji yang sama. Salah satu dari mereka mulai melucuti kancing kemeja Kise. Yang satu lagi menahan kaki Kise supaya ia tak berontak, sambil mengenyahkan celana panjangnya—entah untuk apa. Vampir yang terakhir mulai tak sabaran dan langsung mencakar pipi Kise, menjilati darah dan lapisan kulit yang terkoyak menempel di kukunya.

"Hei, kau! Sabar sedikit!" sela salah satu vampir.

"Tapi kita jarang-jarang mendapat makanan besar seperti ini."

"Sudah, sudah. Bagaimana kalau kita bagi jatah masing-masing dan mulai menikmati makan malam kita, hm?"

Ketiga sisanya mengangguk lalu Kise mendapatkan kengerian tak berdasar dari pandangan penuh nafsu yang dipaparkan keempat monster itu.

Bersamaan, keempatnya menancapkan taring dalam-dalam pada tubuh Kise.

"AARRRRGGHH!"

Kise berteriak sejadinya. Ini adalah rasa sakit paling parah yang ia rasakan di seumur hidupnya. Dua vampir mengoyak daerah lehernya, satu vampir menyobek nadi pergelangan tangannya, dan satu lagi menancapkan gigi dalam-dalam pada paha Kise.

Semakin keras Kise berteriak, taring-taring itu menancap makin dalam. Sungguh, ia sudah berusaha berontak. Namun ia tahu usaha itu jelas sia-sia dari merah yang makin menyebar dan rasa sakit yang makin menjalar. Lama-kelamaan rasa sakit yang luar biasa menusuk itu makin pudah, digantikan oleh rasa senyap. Tubuhnya mati rasa, ia bahkan tak tahu apakah kini jantungnya masih terus berdetak atau apakah paru-parunya masih melakukan respirasi. Yang ia tahu hanya satu: ia sekarat dan sebentar lagi pasti akan dijemput ajal.

Dalam detik-detik terakhirnya, Kise hanya memejamkan mata sambil mencari suara nyanyian masa lalu dalam memorinya.

0000000000

Lima...

Empat...

Tiga...

Dua..

"Apa yang ka-"

Satu...

"-lian lakukan, heh?"

Kise sudah hampir tak sadarkan diri, setelah lima hitungan mundur yang ia lakukan demi mempertahankan kesadarannya. Tak tahan, sungguh. Ia ingin segera lari walau tahu itu tak mungkin. Sakit, sakit, SAKIT!

Bahkan setelah ia –tinggal sedikit, sedikit lagi- menutup matanya, sakitnya sampai sekarang masih terasa. Hei, apakah neraka sebegini sakitnya?

Samar, ia dapat merasakan kehadiran beberapa orang lagi. Hebat, setelah empat ekor –Kise tidak sudi menyebut mereka dengan satuan 'orang', persetan dengan wujud mereka yang memang pantas disandingkan dengan kata itu- vampir, kini ada tiga yang lain. Tiga ekor ini juga akan mengambil darahnyakah?

Sial!

Bagus, kesadarannya semakin terenggut oleh rasa sakit. Kise tak berani bersuara, kalaupun ia sanggup, ia tak mau melakukannya, biarlah dirinya dianggap telah mati, daripada tujuh ekor vampir menghisap sampai habis seluruh hemoglobin dalam tubuhnya.

DUAK!

"Kagami-kun, di belakangmu!"

"Aku tahu!"

CRASH!

"Aomine-kun, dia mengincar kakimu!"

"Baiklah!"

KRAK!

'Hei... apa yang terjadi?' Kise tak kuasa menahan terkejut, walaupun di wajah lemahnya sama sekali tidak tampak raut tersebut. Ia menahan segala rasa kagetnya dalam hati, dengan keheningan setelah empat ekor yang menghisap darahnya tadi tumbang.

Mereka mati.

Mati..

... padahal tadinya, dirinyalah yang akan mati.

Apakah artinya, tiga ekor ini menyelamatkannya?

Salah seorang di antara mereka mendekati Kise, dan menempelkan jemari pucatnya yang –di luar dugaan- hangat ke pergelangan tangannya. "Masih hidup!" ia berseru, menyadari bahwa nyawa Kise berada di ujung tanduk.

Kedua orang yang lain –baiklah, dari sini Kise mau menyebut mereka sebagai 'orang', untuk sementara- tampak terkejut. "Se-serius? Tidak mungkin! Dia dihisap empat ekor! Mustahil bisa bertahan!"

He, Kise baru tahu, ternyata orang berkulit agak remang itu setuju dengannya.

Si pucat, yang baru diketahui bernama Kuroko, menatap wajah Kise, lalu memicing. "Tapi ia membutuhkan kontrak, asupan darah, segera."

Kali ini, giliran Kise yang memicing.

Kontrak?

Rasanya... dia pernah mendengar kata itu...

... tapi...

"...Ryouta, dengarkan Ibu."

Orang berkulit putih, yang berambut merah, menyikut si kulit remang dengan tatapan penuh konspirasi. "Woy, Aomine, kau saja yang mengikat kontrak dengan orang ini," ia membujuk. Aomine, si rambut biru berkulit remang, balas menatapnya horor, hampir meledak.

"Kenapa gak elu aja coba yang bikin kontraknya!?" teriaknya frustasi, dengan penekanan ekstra di kata-kata yang sedikit ambigu. "Aku tidak kenal orang ini tahu! Kenapa kau menyuruhku mengikat kontrak dengannya!?"

"Jangan pernah..."

Si kulit putih, Kagami namanya, menutup telinga, lantaran Aomine berteriak persis di dekat telinganya. Kuroko mencoba untuk memanggil mereka berulang kali, sekedar menenangkan, dan menyuruh mereka untuk bergegas demi menyelamatkan nyawa Kise.

"Ya—kau tahu kan Aomine..." Kagami melirik Kuroko dan Aomine naik darah. Benar-benar naik darah, maksudnya, bukan apa-apa, karena-

"OKE FINE GUE PAHAM!"

-ia tahu apa yang berharga bagi mereka berdua.

Masih dikuasai kefrustasian, Aomine mendekati Kuroko dan Kise. Sadar keadaan, si kulit pucat segera menyingkir. Pelan, Aomine memajukan tubuhnya, wajahnya kini tepat di hadapan wajah aktris tersebut.

"...barang setetes pun... kauberikan…"

Pemuda bermata biru –yang dengan terpaksa Kise akui sangat- indah itu menggigit bibirnya. Hingga darah mengalir tetes demi tetes, wajah sangar itu tidak menunjukkan rasa sakit.

"Jangan pernah bertukar kontrak darah dengan siapa pun."

Pelan namun pasti, wajah keduanya sudah tak lagi berjarak. Bibir bertemu bibir. Tak ada satu pun bersuara. Tak ada satu pun menginterupsi. Inilah kontrak suci.

Darah Aomine, yang dikeluarkan melalui gigitan taringnya, dipaksa masuk ke mulut Kise sebagian. Sedangkan sebagian yang lain ia masukkan ke dalam mulutnya sendiri, Aomine mencoba mendorong lidah Kise yang lemah untuk menelan darahnya tepat waktu. Kontrak membutuhkan waktu yang tepat, dan timing yang sempurna.

GULP!

Kontrak telah dilaksanakan.

Nyawa Kise terselamatkan.

"Sesungguhnya mereka itu makhluk haus darah yang hina..."

Meski begitu, Kise tak bisa lagi merasakan kesadaran.

'Sesungguhnya, mereka itu makhluk haus darah yang hina...'


TBC


A/N:

Hai! Tsubaki Audhi di sini~! Salam jumpa semuanya~

Ada yang kenal kami? enggak? ga apa-apa, kenalan dulu ga masalah, saling mengenal itu baik /bukan

Ini adalah fic collab terbaru dari kami, atas nama Tsubaki Audhi dan The Fallen Kuriboh. Bagi yang telah membaca hingga tuntas, kami ucapkan terima kasih banyak~

Ah, dan ini masih TBC, artinya, akan makin banyak kejadian dan makin banyak yang muncul di sini –penekanan ekstra di kata banyak-, jadi, ikuti terus, ya~

Pertanyaan? Komentar? Keluhan? Pemberitahuan? Flame?

Silakan manfaatkan kotak di bawah ini, ya~