Stuck di judul... sampe bongkar-bongkar buku Deutsch. Tapi takut salah, dan akhirnya kepake bahasa Inggris juga. Huufh... -,-a

Maaf buat Eca-nee, lama banget saia ngebikinnya... m(_ _)m


****Beautiful Side Of Love****

.

.

Kamichama Karin © Koge Donbo.

-

A requested fic from Eca―my friend whose I call her 'sister'

.

- Prologue -

.

Time for reading!

Kazune's PoV

.

Pagi, semuanya.

Aku Kazune. Seorang yang biasa, biasa dan biasa. Kecuali kehidupan sekolahku yang agak terganggu dengan hal-hal seperti ini....

Bahkan ketika aku duduk di bangku kelas pun, gadis-gadis seangkatan―tidak, bahkan beberapa di antaranya diatasku―tetap menempel tak jelas di kaca seperti rombongan cicak yang menunggu nyamuk di baliknya.

Walau ketika aku menoleh cuek, mereka tetap mendengungkan namaku, seolah aku ini maling yang baru saja menggasak barang berharga mereka.

Kenapa dengan mereka ya? Padahal wajahku standar saja, bahkan punya otak cemerlang pun tidak. Peringkatku di kelas juga biasa.

"Pagi, Kazune!!"

Ah, itu sahabatku, Jin. Ah, menurutku dia lebih layak mendapatkan fans lebih banyak daripada diriku. Dia berwajah diatas standar, dan seorang artis pula. Tapi entah kenapa, banyak perempuan di sekolah ini lebih mengejar diriku. Apa istimewanya sih?

Apalagi banyak yang bercerita, kalau aku rata-rata adalah cinta pertama mereka.

Wha? Sampai segitunya? Parah.

Aku saja belum pernah merasakan cinta―jujur.

Meski banyak gadis di sekelilingku, tak ada satupun yang bisa meluluhkanku.

Sebenarnya seperti apa sih, cinta itu? Aku juga ingin merasakan....

"Kazuneee!!!" seseorang menyambar pundakku dan langsung mencubit pipiku.

Ah, tak salah, ini pasti Michiru.

Benar saja. Ketika kutolehkan kepalaku, tampak cengiran tak jelasnya bersamaan dengan rambut cokelatnya yang sedikit bergoyang karena angin yang ditimbulkan oleh langkah seribunya.

"Sudah, sudah. Lepaskan!" aku meronta.

Lalu Jin duduk di hadapanku, menopangkan dagunya.

"Huh, gadis-gadis itu sepertinya tidak mau berhenti mengejarmu, Kazune...."

Aku mengangkat bahu. Tak tahu jawaban apa yang mesti kuberikan.

"Kazune kan ganteng~" sahut Michi.

Ukh, aku menoleh seram padanya. Ma-masak seorang laki-laki memuji wajah laki-laki lain?!

Dia hanya tertawa kecil. Buh, sahabatku yang satu ini memang gila bercanda!

"Aku iri padamu, Kazune. Banyak gadis yang jatuh cinta padamu."

"Jatuh cinta?" aku berpura-pura tak paham.

"Jangan bodoh, Kazune," jawabnya dingin. Dasar.

"Ah, cinta. Aku juga bingung. Bagaimana mereka bisa jatuh cinta hanya dalam waktu singkat―dan bahkan tidak mengenalku lebih jauh?"

"Dasar polos," Jin mencibir padaku.

"Cinta itu tidak mesti datang dalam waktu yang panjang, tapi bisa terjadi pada pandangan pertama. Cinta itu indah, Kazune," Michiru ikut memberikan opininya.

"Huh, begitu ya?"

"Makanya, cepat cari pacar, sebelum para fangirl itu menggila padamu. Mungkin pacar yang kau bawa kesana-kemari bisa membuat mereka illfeel," saran Jin.

"Entahlah. Belum ada yang pernah membuatku jatuh cinta," aku menghela nafas―agak kesal.

"Kazuuneee!!!!"

Aih, aku mendengarnya―tentu saja, suara sekeras itu siapa yang tidak mendengarnya?

Dan dalam kurun waktu sekian detik, pemilik suara itu sudah menggeser posisi Michi, memelukku dari belakang.

"Lepaskan!!" aku meronta sedemikian rupa. Huh, menyebalkan!

"Jangan begitu, Kazune...."

"Rika... Kubilang, lepaskan!!"

Akhirnya gadis itu menyerah, dan menunjukkan wajah cemberutnya di hadapanku. Uh....

Lalu di belakangnya muncul dua orang. Ha ha, apalagi kalau bukan teman satu gengnya itu. Ah, aku mengatai mereka geng? Aku sendiri pun seperti satu geng dengan dua orang ini. Sudahlah, tak perlu dibahas. Bukan sesuatu yang penting.

Yang berambut biru gelap panjang itu Himeka, sepupuku. Dan yang berkepang dua dengan warna rambut hijau toska itu Miyon. Aku beruntung. Mereka berdua tidak seperti sang ketua yang... yah, seperti inilah....

Memang sih, Rika manis. Dia adik ketua OSIS lagi. Keluarganya mungkin lebih dari cukup di masalah finansial. Tapi sikapnya yang agak kekanak-kanakan dan sering memaksakan kehendaknya―egois―itu membuatku sedikit kurang suka. Tapi bukan berarti aku membencinya sih....

Dia pernah menyatakan perasaannya sekali waktu. Tapi kutolak karena memang aku tidak punya perasaan apa-apa. Buat apa aku membohonginya dengan menerima cintanya?

Tapi rupanya Rika tak mau menyerah...

"Biarkan saja mereka, Kazune," ucap Rika lagi―ketika ia melirik ke jendela.

"Iya, iya...." jawabku malas. Biar tak kau peringatkan, aku pun tahu....

"Kazune, kita mau ikut denganku di kantin? Biar aku yang membayar," ucapnya sedikit berbisik.

"Tidak usah, terima kasih. Aku sudah sarapan," kulirik sedikit Himeka di belakang Rika. Dia yang memasakkan untukku tadi pagi―ya, aku cuma tinggal berdua dengannya semenjak orang tua kami bekerja di luar negeri.

"Ya sudah, aku pergi ya, Kazune," katanya melangkah keluar.

Aku hanya mengangkat alisku, enggan memberikan jawaban berupa suara.

Michiru dan Jin cuma tertawa kecil.

"Sepertinya kau layak dinobatkan menjadi pangeran sekolah, Kazune," Michi menepuk punggunggku keras-keras.

Kuulaskan senyum kecut. Hiperbolis―menurutku.

Haah... Entah bagaimana caranya meredakan para gadis di luar sana....

.

End of Kazune's PoV.

- to be continued -



March 9th, 11:04 AM

Well, prologue udah kelar. Just wait for next chappie! XD

soal diksii... aku ga terlalu masukin di sini, maaf ya~

Hope there is no problem with my ideas and time for typing these....

Thanks!! \^0^/

-

A Happiness from Starry Nite,

. kazuka ritsuzuya .

.

.

R-e-v-i-e-w?