...
Tittle:
It's OVERDOSE
(Baekyeol)
Author: Sayaka Dini
Disclaimer: This story belong to me, but the character not be my mind.
Main Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Other Exo
Pairing:
Chanbaek / Baekyeol
Setting:
AU
Genre: Romance—Fantasy
Rated: T.
Warning: Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy.
Please, Don't Like Don't Read.
Note: No bashing, no flame, no copas, no re-publis, no plagiat, yes to like and comment.
Hope You Enjoy It~ ^_^
_o0o_
.
.
.
.
.
.
...
Notice:: Paragraf garis miring untuk Flashback
.
.
.
.
...
Rasanya begitu panas. Lama-lama Chanyeol merasa kulitnya semakin panas, seperti perlahan terbakar dengan sendirinya. Segera ia membuka matanya. Nafasnya memburu. Tapi apa yang ia lihat di sekelilingnya sama sekali jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan.
Kabut abu-abu di mana-mana, menyamarkan segala pandangan. Chanyeol perlahan berdiri. Persendian kakinya terasa lemas, entah berapa lama ia sudah tertidur di atas aspal dingin itu. Tapi anehnya, Chanyeol merasa kulitnya panas tanpa sebab. Sejauh mata memandang ia tidak bisa menemukan siapa pun, apapun.
Bahkan pakaian serba hitam yang membalut tubuhnya sama sekali tidak ingat kapan ia memakainya. Chanyeol bahkan tak tahu mengapa ia berada di tempat aneh ini. Di antara rasa panas yang terus menusuk kulitnya tanpa sebab, mata Chanyeol bergerak liar melihat sekeliling, mencari seseorang.
"Baekhyun..." nafasnya memburu dan panas di waktu bersamaan. Tangan Chanyeol terulur untuk mencari pegangan. Diantara kabut abu-abu yang tebal itu, tangan Chanyeol akhirnya menemukan permukaan dinding. Perlahan, kabut mulai memudar. Menampakkan dinding panjang yang menjulang tinggi tanpa atap di sekelilingnya. Seolah ia berada di tengah-tengah labirin yang menyesatkan.
Chanyeol tak mau peduli dengan sekitarnya kecuali satu nama yang terus berada dalam pikirannya. "Baekhyun..." panggilnya lagi dengan suara serak.
Baekhyun... kau dimana?
...
.
.
.
.
.
Flashback (tulisan miring) ::
"Kalau tidak salah, namanya Byun Baekhyun," Kai berbisik di telinga Chanyeol sambil menyikut pinggang pemuda tinggi yang duduk di sampingnya itu.
Alis Chanyeol terangkat. Ia melirik sebentar teman sebangkunya itu, lalu kembali memandang mahasiswa lain yang duduk di baris ketiga di depannya, di arah jam dua dari tampatnya duduknya sendiri.
"Dia Mahasiswa pindahan di semester ini," Kai kembali berbisik.
Chanyeol mengangguk paham, masih menatap objek yang sejak tadi menarik perhatiannya. "Apa ia tidak merasa kepanasan?" Chanyeol balas berbisik. Menatap aneh pada Byun Baekhyun yang masih betah memakai hoodie besar yang menutupi sebagian besar kepala dan tubuhnya yang tampak lebih kecil dari hoodie putih yang ia gunakan. Ia satu-satunya mahasiswa di dalam kelas mereka yang betah memakai pakaian tebal di saat musim panas seperti ini. Tak sekalipun ia menurunkan tundung hoodie dari atas kepalanya. Chanyeol yang melihatnya saja merasa sumpek sendiri.
"Molla," balas Kai. "Dari kemarin, cara berpakaiannya memang selalu seperti itu."
"Maksudmu?" Chanyeol mulai benar-benar tertarik.
"Tiap hari dia selalu memakai hoodie yang lebih besar dari tubuhnya. Bahkan lebih panjang dari tangannya sendiri, ujung hodiie-nya juga sampai setengah paha di bawah tubuhnya. Saat pertama kali aku dan Tao melihatnya jalan sendirian di koridor, kami sempat mengira dia anak smp yang tersesat di kampus kita. Habisnya, hoodie kebesaran itu malah membuat ia terlihat lebih kecil."
Chanyeol tersenyum geli membayangkannya. "Jinnja?"
"Hm. Aku serius. Belum lagi dia orangnya pendiam dan lebih suka menyendiri. Dia jarang sekali terlihat berbicara dengan orang lain. Kemana-mana dia selalu sendiri."
"Mungkin dia pemalu," Chanyeol menompang dagunya dengan telapak tangan. Masih betah memandang belakang hodiie Baekhyun daripada penjelasan professor pada layar proyektor di depan sana. "Dia kan masih baru di universitas ini."
"Kau mau mencoba mendekatinya?" Kai bertanya.
"Hm," seulas senyuman tipis terbentuk di wajah Chanyeol yang tak melepaskan pandangannya dari Baekhyun. "Aku penasaran dengannya."
Seolah sadar sedang dipandang, Baekhyun yang sejak tadi sibuk menulis catatannya mulai terhenti. Ia menoleh ke samping, lalu ke belakang, tepat ke barisan bangku Chanyeol dan Jongin yang berada tiga tingkat dari baris bangkunya —bangku mahasiswa di kelas itu barisannya bertingkat ke atas sampai belakang—.
Mata Baekhyun yang terlapisi eyeliner itu tampak tajam di bawah poni rambut hitam dan dibingkai hoodie putih yang menutupi kepalanya dari belakang. Chanyeol sempat tertegun dengan sorot mata Baekhyun yang langsung tertuju padanya dengan tajam, seolah sedang mengancamnya. Tapi Chanyeol kemudian tersenyum, makin lebar. Dan dengan gerakan main-main ia melambai kecil pada Baekhyun sebagai salam perkenalan dari jauh.
Tak ada ekspresi apapun yang ditampilkan Baekhyun, ia kemudian kembali beralih ke depan. Mengabaikan lambaian sok ramah Chanyeol dengan telak. Chanyeol meringis pahit. "Dingin sekali," bisiknya.
Kai menepuk punggungnya prihatin. "Semoga berhasil, hyung."
...
.
.
.
.
.
...
Tinggi dinding labirin itu sama sekali tidak membantu Chanyeol yang benar-benar tersesat dalam dunia entah apa. Langit di atas sana bahkan tidak terlihat seperti langit, ataupun atap sebuah bangunan. Tak ada cahaya yang berasal dari matahari, atau pun lampu. Tapi suasana juga tidak bisa dibilang gelap karena Chanyeol masih mampu melihat sekelilingnya. Meski di mana mata memandang yang terlihat hampir sama. Dinding panjang yang menjulang, membuat jalur lorong panjang berliku seperti labirin.
Ia tidak tahu pasti berada di alam nimpi atau apa. Tapi yang jelas, Chanyeol benar-benar terserat diantara dinding-dinding labirin.
Rasa panas yang masih menusuk kulitnya belum juga mereda, malah semakin menjadi. Chanyeol menggigit bibirnya kuat merasakan rasa sakit yang menyerang seluruh persendiannya. Dia ingin berteriak, tapi lidahnya juga terasa begitu kelu.
Tangannya berpegangan pada dinding di sampingnya. Peluh semakin mengalir di pelipisnya. Ia berkeringat terlalu banyak. Panas seperti terbakar, tapi ia sama sekali tidak melihat api atau sumber panas itu sendiri.
Ia membutuhkan sesuatu untuk meredakannya. Chanyeol tak tahu pasti apa yang bisa membantunya. Tapi pikirannya daritadi hanya terpusat pada satu orang. Dia hanya butuh melihat orang itu. Dia hanya membutuhkannya.
"Baekhyun..." dan satu nama itu kembali terulang dari belahan bibir Chanyeol yang memucat.
...
.
.
.
.
.
...
"Baekhyun-sshi," Chanyeol memanggilnya, berlari kecil menghampiri Baekhyun yang sudah berhenti di tengah koridor kampus. "Hai, kau kenal aku kan?" Chanyeol tersenyum lebar sok akrab. "Kita punya lima kelas yang sama di semester ini. Aku akan jadi terluka kalau kau bahkan tak mengenalku."
Baekhyun menatapnya dari bawah sampai mendongak ke atas. Dengan ekspresi datar ia berucap. "Park Chanyeol-sshi, mahasiswa jurusan ekonomi yang tak pernah mendengarkan penjelasan professor di kelas. Lebih suka memainkan PS di balik meja atau melempari belakang kepala mahasiswa lain dalam kelas dengan remasan kertas kecil berukuran penghapus pensil. Selalu datang tiga menit sebelum mata kuliah dimulai, dan yang paling cepat berlari keluar kelas setelah jam selesai. Tak ada professor yang tidak mengenalmu, atau pun mahasiswa lain, karena kau adalah mahasiswa yang paling sering membuat masalah, dan mendapatkan ranting terendah dalam ujian semester yang dipajang di mading kampus kemarin."
Wajah Chanyeol memerah. Niatnya ingin berlagak keren di hadapan Baekhyun langsung sirna dengan kalimat si objek yang malah terkesan mempermalukannya. Chanyeol tidak bisa tersinggung, karena ekspresi datar Baekhyun di depannya sama sekali tidak menunjukkan niat untuk merendahkan atau mempermalukan Chanyeol di tempat.
Tangan Chanyeol bergerak mengusap tengkuknya dengan kikuk. "Hehe," ia tertawa kaku. "Aku tidak tahu kalau aku bisa seterkenal itu." terkenal karena nakalnya, bukan karena tampannya. Chanyeol ingin menangisi reputasinya di dalam hati.
"Apa hanya itu yang kau inginkan? Mengetahui apa aku nengenalmu atau tidak?" Baekhyun sudah bersiap untuk berbalik. "Kalau kau sudah tahu, aku ingin pergi."
"Tunggu," Chanyeol meraih lengan Baekhyun yang dilapisi jaket hoodienya yang tebal. Chanyeol tersentak sendiri saat memegang lengan Baekhyun yang terasa lebih kurus dari bayangannya di balik hoodie panjang yang ia gunakan. Chanyeol bahkan merasa seperti memegang tulang daripada daging.
Baekhyun mengibaskan lengannya. "Jangan sentuh aku." Nada suaranya terdengar dingin, ia memberikan tatapan tajam melalui matanya yang dilapisi eyeliner tebal.
Chanyeol terdiam di tempat, kali ini membiarkan Baekhyun berjalan pergi meninggalkannya. Matanya terus tertuju pada punggung Baekhyun yang semakin menjauh.
"Apa anak itu pernah makan?" gumam Chanyeol prihatin. "Pantas saja pertumbuhannya terhambat."
Langkah Baekhyun di ujung koridor sana tiba-tiba berhenti. Chanyeol sempat mengira Baekhyun mendengar ucapannya, tapi itu tidak mungkin jika jarak mereka sudah sejauh sepuluh meter. Apalagi gumaman tadi Chanyeol terbilang kecil. Setelah terdiam beberapa detik, Baekhyun lalu kembali melanjutkan langkahnya, dan berbelok di tikungan tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
...
Perkataan Kai yang lalu tidak bisa dibilang omong kosong belaka. Baekhyun memang selalu sendiri. Ia bahkan terkesan menjauh dari yang namanya bersosialisasi dengan mahasiswa lain. Chanyeol bahkan harus mengikutinya seharian untuk membuktikan sendiri kalau Baekhyun tak memiliki satu pun teman di dalam kampus mereka.
Dari hasil wawancara tak langsung pada penjaga gerbang kampus, Chanyeol tahu kalau Baekhyun selalu datang lebih awal ke kampus. Jam enam pagi tepat, sosok Baekhyun pasti sudah berdiri di depan pagar, menunggu penjaga gerbang membukanya dari dalam. Bahkan jika ia tidak memiliki kelas pagi, Baekhyun tetap datang paling pagi. Tapi anehnya, dia juga mahasiswa yang pulang paling terakhir. Tepat jam enam sore pula, Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari gerbang kampus di mana penjaga gerbang sudah bersiap mengunci pagarnya.
"Dua belas jam dia menghabiskan waktunya di dalam kampus setiap hari senin sampai jumat, sebagian besar sih dia selalu berada di perpustakaan dan tak pernah kemana-mana kecuali memasuki kelas mata kuliahnya. Dia itu adalah mahasiswa kutubuku dengan aktifitas terbosan yang pernah kutemui." Chanyeol membesar-besarkan. "Astaga, aku tidak bisa membayangkan sedatar apa kehidupannya yang benar-benar membosankan itu."
Kai tertawa. "Jadi bagaimana? Kau masih tertarik mendekatinya?"
Chanyeol mendesah. Matanya melirik jendela kelas. Kebetulan yang tidak sengaja, karena saat itu tepat terlihat sosok Baekhyun dengan hoodie besar yang jadi ciri khasnya itu sedang berjalan di koridor melewati kelas kosong yang ditempati Chanyeol dan Kai. Mata Chanyeol tak lepas dari sosok misterius itu.
"Dia membosankan," Chanyeol bergumam, ia lalu mendesah. "Tapi gak tahu kenapa, aku masih ingin mendekati Baekhyun."
Langkah Baekhyun terhenti. Lagi-lagi tanpa diduga Chanyeol, Baekhyun langsung menoleh padanya, menatapnya lurus dari jendela kaca kelas. Chanyeol tertegun. Meski hanya sesaat karena Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya.
"Oi, Jongin."
"Ya hyung?"
"Apa kau pikir dia tadi mendengar ucapan kita?"
"Jangan konyol hyung. Mana mungkin dia bisa mendengar kita dari jarak jauh begitu."
Chanyeol memiringkan kepalanya. "Tapi kenapa aku merasa dia seperti selalu mendengar ucapanku?"
Kai memutar bola matanya. "Percaya diri sekali kau hyung."
...
.
.
.
.
.
...
'Dia bisa mendengar suaraku,' pikiran itu terus tergiang dalam benak Chanyeol yang kini panik seorang diri dalam sebuah labirin.
"Baekhyun..." untuk kesekian kalinya ia memanggil nama itu di sela langkahnya menelusuri labirin aneh ini. Tak peduli lagi dengan rasa panas yang tak juga mereda di sekitar tubuhnya, maupun kepalanya yang berdenyut nyeri. Chanyeol harus bisa menemukannya. Menemukan Baekhyun.
Tenggorokannya semakin panas. Nafasnya tersendat-sendat. Chanyeol berusaha mengumpulkan seluruh kekuatannya. Ia memejamkan mata sejenak. Mengambil nafas yang panjang dan berteriak sekeras mungkin.
"BAEKHYUN!" Suaranya menggema, memantul antara dinding-dinding tinggi labirin di sekitarnya.
Sayangnya, tak ada suara lain yang menyahutnya. Sama sekali tidak ada. Suasana kembali hening dan terasa mencekam dengan kabut samar yang mengisi beberapa sudut dinding labirin.
Dada Chanyeol terasa sesak. Rasanya ia ingin menangis.
Di mana Baekhyun-nya?
...
.
.
.
.
.
...
Chanyeol melangkah, menelusuri isi perpustakaan sambil melihat sekeliling. Ia baru saja ingin menaiki anak tangga untuk menuju lantai dua dalam perpustakaan itu, saat matanya tanpa sengaja menemukan apa yang ia cari. Di sudut sana, di bangku perpustakaan antara rak-rak tinggi. Sosok namja pendek sedang duduk membelakanginya. Chanyeol bisa mengenal sosok itu sebagai Baekhyun karena hoodie putih kebesaran yang selalu ia pakai setiap hari.
Dengan senyuman lebar, Chanyeol mendekatinya. Ia mencondongkan kepalanya dari atas, mencoba mengintip buku apa yang Baekhyun baca. Tulisan bahasa inggris, Chanyeol jadi tak mengerti buku apa itu. Sepertinya Baekhyun belum menyadari kehadirannya, mungkin ia terlalu serius dengan apa yang ia baca. Chanyeol bergerak pelan untuk mengambil tempat duduk di bangku samping Baekhyun.
Chanyeol menunduk sambil menoleh ke samping, mencoba melihat wajah Baekhyun yang tertutupi hoodie karena sedang menunduk. Mata Baekhyun terpejam. Chanyeol menatapnya tak percaya.
Dia tidur?
Chanyeol mengibaskan tangannya di depan wajah Baekhyun. Tapi namja manis itu tetap memejamkan matanya, terlihat benar-benar terlelap dalam tidurnya. Chanyeol dengan iseng, mencoba melepaskan tundung hoodie dari atas kepala Baekhyun. Helaian rambut hitam mengkilat itu tampak sedikit berantakan karena tarikan tundung tersebut. Kepala Baekhyun oleng, Chanyeol panik.
Kepala Baekhyun yang nyaris jatuh terantuk buku di atas meja, langsung ditahan oleh kedua telapak tangan Chanyeol. Tak ingin Baekhyun terbangun dengan kening yang terbentur atas meja. Dengan gerakan hati-hati, Chanyeol mendaratkan kepala Baekhyun yang lemas itu untuk bersandar di dadanya.
"Mmh.." Baekhyun sedikit menggeliat. Chanyeol membeku di tempat, kedua tangannya terangkat, membiarkan Baekhyun bergerak sendiri. Kepala Baekhyun yang bersandar di dada Chanyeol bergerak pelan. Tak disangka kedua tangan Baekhyun bergerak melingkar pinggang Chanyeol. "Eomma..." ia mengingau pelan, terlelap di dada Chanyeol sambil memeluk pinggangnya.
Chanyeol tersenyum geli. Tak menyangka dengan sifat manja Baekhyun dalam tidurnya. Saat Chanyeol sedikit menunduk, ujung hidungnya menyentuh puncak kepala Baekhyun. Chanyeol tak mengerti mengapa rambut hitam legam yang tiap hari tertutupi tundung hoodie itu tidak berbau apek, aromanya bahkan tercium harum di hidung mancung Chanyeol.
Tangan Chanyeol bergerak pelan, menyisir helaian rambut hitam yang terasa halus itu. Mata Chanyeol mengamati fitur wajah Baekhyun yang terlelap di dadanya. Dia tampak begitu cantik dengan eyeliner di matanya. Chanyeol tersenyum.
Jemari Chanyeol terasa gatal untuk tidak menyentuh kulit putih Baekhyun yang tampak mulus tanpa cacat. Ia menelan ludah sebentar. Lalu perlahan membelai pipi Baekhyun. Seperti dugaannya, mulus, tapi kulit wajah Baekhyun terasa dingin.
Mata Baekhyun terbuka. Gerakan jemari Chanyeol terhenti. Baekhyun mengerjap, matanya perlahan naik ke atas, mendongak, bertemu pandang dengan Chanyeol yang menunduk.
"Hehe," Chanyeol tersenyum kikuk. "An...nyeong..."
Mata Baekhyun melebar, buru-buru ia melepaskan rangkulannya dan kembali duduk dengan tegak di bangkunya. Chanyeol tersenyum. Benar-benar menikmati raut wajah panik Baekhyun yang jarang terlihat olehnya. Ia menopang wajahnya di atas meja, menghadap ke samping tanpa melepaskan pandangannya dari Baekhyun.
Ia mengamati dengan lekat bagaimana jari-jari Baekhyun —yang ternyata terlihat begitu lentik-— mengusap matanya, lalu daerah sekitar dagu dan mulutnya.
"Kau tadi tidak ngiler kok," Chanyeol tersenyum geli.
Bahu Baekhyun terlihat tersentak. Ia lalu memberikan tatapan tajamnya pada Chanyeol. Tapi pemuda tinggi itu terlihat kebal. Tetap menopang kepalanya tanpa menghilangkan senyumannya sambil terus memandang Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Baekhyun sambil memasang wajah datarnya lagi.
"Melihatmu," Chanyeol menjawab dengan nada main-main.
Baekhyun terlihat menghela nafas pelan. "Untuk apa melihatku?"
Chanyeol mengedikkan bahunya. "Hanya ingin saja."
Baekhyun menatapnya aneh.
"Kenapa?" Chanyeol memasang wajah sok polos. "Tidak boleh ya?"
"Tidak boleh. Pergi sana."
"Ouh. Kalau kau mengusirku begini, aku malah ingin lama-lama di sini."
Baekhyun menutup bukunya. Ia berdiri dari bangku.
"Kau mau apa?" Chanyeol mendongak.
"Kau ingin lama-lama di sini kan? Kalau gitu aku akan cari tempat lain."
"Eehh? Tunggu!" Chanyeol meraih lengan Baekhyun, dan menariknya untuk kembali duduk. Tubuh Baekhyun sempat oleng terjatuh sampai kepalanya menimpa dada Channyeol. Baekhyun buru-buru langsung duduk tegak menjaga jarak dari Chanyeol.
Chanyeol malah memandangnya khawatir. "Kenapa kau lemah sekali?" Ia lalu memijat lengan Baekhyun yang terbalut oleh hoodie besarnya. "Kau juga sangat kurus. Kapan terakhir kali kau makan?"
Baekhyun mengibaskan tangannya dengan kasar. Ia berdiri. "Jangan sentuh aku," Baekhyun mendesis. "Dan jangan bertingkah sok akrab denganku." Kali ini ia benar-benar beranjak pergi membawa bukunya.
"Sensitif sekali," bisik Chanyeol dengan suara kecil, melihat punggung Baekhyun yang berjalan menjauh darinya. Terlihat Baekhyun sedang memakai tundung hoodienya ke atas kepala tanpa menghentikan langkahnya. "Padahal kalau tidur dia manis sekali saat memelukku tadi. Tck, tck, tck, cantik-cantik tapi galak." Chanyeol berkomentar sendiri.
Seperti dejavu, Chanyeol melihat Baekhyun tiba-tiba berhenti melangkah. Kali ini Baekhyun menoleh ke belakang. Wajahnya yang biasa tanpa ekspresi itu kini menampilkan raut wajah kesal. Sesuatu yang baru dilihat Chanyeol —dan mungkin mahasiswa lain jika mereka melihatnya. Chanyeol tak tahu harus bersikap apa saat melihat Baekhyun kembali berjalan dengan sedikit menghentakkan kaki ke arahnya.
Setibanya di depan Chanyeol. Baekhyun tanpa segan melayangkan buku yang ia pegang ke belakang kepala Chanyeol.
"Agghh!" Chanyeol sampai terhuyung dan menunduk ke depan. "Yach! Apaan sih—"
"Aku tidak cantik! Bodoh!" Baekhyun membentak.
Chanyeol menganga. Ia masih duduk di tempatnya dengan mulut terbuka sambil memegang belakang kepalanya saat Baekhyun kembali berbalik meninggalkannya. Chanyeol tak yakin, apa tadi yang memukulnya itu benar-benar sosok Byun Baekhyun yang terkenal dengan ekspresi datar dan membosankannya?
Terlebih lagi, apa selama ini dia benar-benar bisa mendengar suara Chanyeol dari jauh seperti tadi?
"Tidak mungkin," Chanyeol menggeleng. "Ah, mungkin karena ini di perpustakaan jadi dia bisa mendengarku, iya kan?" Chanyeol bergumam sendiri. Tidak sadar tingkahnya sudah seperti orang tak waras yang bicara sendiri di sudut perpustakaan itu.
...
Seperti tidak mengenal kata kapok, keesokan harinya Chanyeol kembali menghampiri Baekhyun di salah satu bangku sudut dalam perpustakaan tersebut. Chanyeol yakin langkahnya sudah dibuat seringan mungkin dan tidak menimbulkan suara, jadi dia sedikit melompat terkejut saat Baekhyun yang tengah duduk membelakanginya itu tiba-tiba menoleh ke arahnya.
"Kau mau ku pukul lagi?" Baekhyun menatapnya tajam.
Chanyeol malah nyengir. "Ani," ia menggeleng. "Aku mau dibelai saja," tambahnya lagi dengan nada main-main.
Baekhyun memilih tak meladeninya. Ia menutup bukunya. Sudah bersiap bangkit berdiri ketika tangan Chanyeol menahan kedua bahu Baekhyun untuk kembali duduk.
"Eits? Mau kemana? Jangan pergi. Aku serius tidak akan mengganggumu," kata Chanyeol agak panik.
Baekhyun menoleh, menatap tangan Chanyeol di bahunya.
"Oh, maaf." Chanyeol mengangkat tangannya ke atas. "Aku tidak akan menyentuhmu lagi. Asal kau tetap berada di tempatmu, oke?"
Baekhyun tak merespon. Ia diam menatap Chanyeol yang mengambil tempat duduk di sampingnya. Chanyeol nyengir. Baekhyun menatapnya datar.
"Silahkan, lanjutkan bacamu," tunjuk Chanyeol pada buku Baekhyun di atas meja. "Aku tidak akan mengganggumu. Serius."
Baekhyun menatapnya sebentar —mungkin sedang berpikir. Ia akhirnya mengalah dan kembali membuka bukunya di atas meja. Chanyeol tersenyum, menopang kepalanya di atas tangan yang bertumpu pada meja, menatap Baekhyun dari samping. Chanyeol mencibir, merasa terganggu dengan tundung hoodie yang digunakan Baekhyun di atas kepalanya.
"Apa kau tidak kepanasan memakai hoodie-mu terus?"
Baekhyun meliriknya tajam.
"Oh, oke. Maaf. Aku tidak akan mengganggu." Chanyeol berpura-pura sedang menresleting mulutnya.
Baekhyun kembali membaca. Chanyeol menundukkan kepalanya lebih ke bawah, membaringkan kepalanya di atas meja menghadap Baekhyun. Chanyeol tersenyum tipis, kali ini ia bisa melihat dengan jelas fitur wajah Baekhyun.
Menit berlalu. Baekhyun merasa dirinya menjadi bodoh karena sudah membaca satu baris kalimat dalam bukunya berulang-ulang dalam hati. Dia sudah berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Tapi pikirannya seolah mengkhianatinya, membuatnya tak bisa berkosentrai dengan bacaannya. Tatapan Chanyeol dari sampingnya benar-benar membuat ia terganggu.
Seharusnya ia pindah tempat saja. Baekhyun berpikir. Tapi untuk berapa alasan, ia tetap memilih duduk di tempatnya.
"Kau yakin pernah makan sesuatu?" Chanyeol lagi-lagi berbicara duluan, padahal beberapa menit lalu ia bertingkah sedang 'menresleting' mulutnya sendiri. "Selama di kampus aku tak pernah melihatmu melangkah ke kantin manapun. Apa kau benar-benar sudah makan?"
Baekhyun memilih diam tak menjawab, —mengabaikan.
"Maaf, mungkin sedikit menyinggung. Tapi aku benar-benar penasaran. Apa kau tidak pernah membeli makanan di kantin karena tidak punya uang?"
Tangan Baekhyun bergerak membalik kertas bukunya. Meski faktanya ia sama sekali belum menyelesaikan bacaannya pada halaman sebelumnya.
"Hei," tak peduli Baekhyun mengabaikan, Chanyeol melanjutkan ucapannya. "Daripada tiap hari kau menghabiskan waktumu dua belas jam di sini karena tak ada kelas kuliah. Mengapa kau tidak mencoba untuk mencari pekerjaan part time? Kau bisa bekerja di tempat kerjaanku. Aku bisa membujuk bossku untuk menambahkan waiters baru di cafe tempatku kerja. Wah, pasti akan lebih menyenangkan kalau kita kerja bersama—"
"Ayahku adalah seoraang kepala hakim di kota ini. Ibuku adalah kepala dokter di rumah sakit. Seluruh kebutuhanku terpenuhi dengan baik oleh mereka. Jadi untuk apa aku mencari pekerjaan part time?" Baekhyun menimpali dengan mata yang terus tertuju pada buku.
"Wah, ternyata kau lebih beruntung dariku. Aku bahkan sudah tak memiliki orang tua sama sekali."
Gerakan tangan Baekhyun yang hendak membalik halaman buku terhenti. Ia melirik Chanyeol. Pandangannya berubah simpati. "Mian..."
Chanyeol malah terkekeh pelan. "Gwencana. Itu sudah lama sekali, jadi aku sudah terbiasa." Ia mengangkat kepalanya dari atas meja, kembali duduk tegak di bangkunya. Chanyeol melihat sekeliling, memastikan tidak ada yang melihat. Lalu mengeluarkan sebungkus roti isi dari saku bajunya, dan meletakkannya di depan buku Baekhyun.
"Meski kau sudah bilang kalau kebutuhanmu terpenuhi. Tapi aku tidak pernah melihatmu makan. Jadi, makan ini. Setidaknya aku tidak ingin melihatmu bertambah kurus."
Baekhyun diam menatap bungkusan roti isi itu.
"Hei, ini untuk dimakan bukan untuk dipandang," kata Chanyeol. Baekhyun hendak mengatakan sesuatu ketika Chanyeol segera mendahuluinya. "Aku akan terluka kalau kau tidak mau makan pemberianku."
Baekhyun memperingati dirinya sendiri dalam hati untuk segera pergi. Menjauh, menghindari pemuda tinggi ini yang terlihat ngotot ingin mendekatinya. Ini tidak benar, pikir Baekhyun sedikit kalut. Tapi ketika ia mendongak dan bertemu pandang dengan mata Chanyeol yang menatapnya penuh harap. Baekhyun kalah. Ia tak bisa lagi mundur atau mengabaikan Chanyeol begitu saja.
Tangan Baekhyun akhirnya meraih bungkusan roti itu. Ia menggigitnya pelan. Senyuman Chanyeol makin melebar memandang Baekhyun.
"Bagaimana? Enak?"
Baekhyun mengangguk kecil.
Chanyeol terus tersenyum seperti orang idiot.
...
Hari-hari berikutnya Chanyeol tak pernah absen untuk terus menghampiri Baekhyun di perpustakaan. Duduk di sampingnya. Memandang Baekhyun dari samping sambil tersenyum. Dan selalu membawakan roti isi untuk Baekhyun.
Sesekali Chanyeol berbicara satu arah. Bercerita tentang kekonyolan Kai, tentang kegiatan Chanyeol di tempat kerja part time-nya, atau tentang kebaikan bibi Chanyeol yang tinggal serumah dengannya. Meski Baekhyun jarang meninpalinya, Chanyeol terus saja bercerita.
Pernah satu kali Chanyeol menceritakan sebuah lelucon yang ia dapat dari pelanggan di cafenya. Baekhyun yang mendengarkannya tidak bisa menahan senyuman gelinya. Itu benar-benar terdengar lucu. Saat Baekhyun tersenyum, saat itu pula Chanyeol semakin terpana.
"Lakukan lagi," pinta Chanyeol.
"Huh?" Baekhyun menatapnya bingung.
Chanyeol menangkup dagunya sendiri dengan telapak tangan yang bertumpu di atas meja. Menatap Baekhyun lekat sambil tersenyum tipis. "Senyumanmu tadi. Lakukan lagi. Aku ingin melihatnya."
Baekhyun tertegun sesaat. Ia langsung menaikkan bukunya di depan wajahnya sebagai penghalang. Chanyeol tertawa.
"Hei, ayolah. Jangan malu begitu." Ia mencoba menarik buku Baekhyun.
"Aku tidak malu!" Baekhyun sedikit membentak sambil mempertahankan bukunya.
"Baek, aku ingin melihat wajahmu."
"Tidak boleh."
"Hei. Ayolah~" Chanyeol menambahkan kekutannya untuk menarik buku Baekhyun. Tubuh Baekhyun malah ikut tertarik sampai kepalanya menabrak dada bidang Chanyeol. Mata Baekhyun melebar. Ia bisa mendengar bunyi detak jantung Chanyeol di telinganya.
Baekhyun bangkit. "A-aku..." ia terlihat panik tiba-tiba. Baekhyun buru-buru berdiri. "Aku harus pergi."
Chanyeol menatapnya heran. "Huh? Kemana?"
"Pulang."
"Hei, ini bahkan masih jam dua. Biasanya juga kau pulang jam enam, kan?"
"Aku baru ingat kalau ada sesuatu yang harus kulakukan di rumah."
"Tunggu," Chanyeol menahan lengannya. "Setidaknya beritahu aku nomor ponselmu."
"Huh?"
"Besok hari Sabtu, Baek. Kita tidak bisa bertemu di sini lagi. Jadi setidaknya beritahu aku nomor ponselmu biar aku bisa menghubungimu."
Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol dari lengannya —kali ini dengan lembut dan tidak sampai mengibaskannya seperti biasa. "Maaf Yeol. Aku tidak punya ponsel." Baekhyun pergi.
Chanyeol memandang punggung Baekhyun dengan mulut sedikit terbuka. "Hul," gumamnya tak percaya. "Katanya anak orang kaya. Masa' ponsel saja ia tidak punya," bisiknya.
Baekhyun berhenti di tengah jalan. Chanyeol bersumpah jika Baekhyun menoleh dan bisa mendengar bisikannya dari jauh itu benar-benar akan menjadi aneh. Untungnya, Baekhyun hanya menggeleng sendiri dan kembali melanjutkan langkahnya.
...
Hari sabtu berlalu seperti neraka bagi Chanyeol. Hanya sehari saja ia tidak melihat wajah Baekhyun, rasanya benar-benar menyiksa batin Chanyeol. Tiap kali ia melihat ada anak laki-laki dengan perawakan mirip Baekhyun, ia akan mengejarnya, tapi begitu ia menyentuh bahu mereka dan berbalik, Chanyeol sadar dia hanya berhalusinasi karena orang itu bukan Baekhyun.
Seharian itu Chanyeol mendapatkan teguran besar dari bossnya di tempat ia kerja part time. Pasalnya ia sudah berapa kali menabrak bahu karyawan atau bahkan pelanggan mereka sendiri saat ia membawakan nampan pesanan sambil sedikit melamun. Seharian itu pula Chanyeol hanya ingin memakan roti isi yang biasa ia beli untuk Baekhyun, tak ingin makan yang lain.
"Kau sakit," Kai menyindirnya dengan tampang prihatin. Teman sekaligus tetangganya itu berbaik hati mengunjungi rumah Chanyeol di malam minggu begini. Berhubung Kai sendiri juga baru saja diputuskan ceweknya yang entah keberapa tadi siang karena ketahuan selingkuh. Kai yang sebagai player itu terlihat santai saja. Tapi malah Chanyeol yang terlihat seperti orang patah hati.
"Baekhyun..." Chanyeol bergumam tak jelas sambil mengunyah roti isi yang sudah entah keberapa kalinya. Plastik-plastik pembungkus roti isi itu sudah banyak bertebaran di sekitar sofa yang diduduki Chanyeol. "Aku hanya ingin melihat wajahnya satu kali..." Ia cemberut. "Mengapa fotonya saja bahkan aku tak punya? Mengapa satu SNS saja ia tak buat? Bahkan ponsel saja ia tak punya. Malangnya uri Baekhyunie..."
"Kau yang lebih malang, kau tahu itu," timpal Kai memutar bola matanya. "Astaga hyung. Kau benar-benar sudah jatuh. Aku jadi penasaran, apa bagusnya anak berhoodie putih itu?"
"Baekhyun..." Chanyeol bergumam sendiri dengan pandangan menerawang —mengabaikan Kai dengan telak.
"Kalau kau tidak bisa menghubunginya, datangi saja langsung ke rumahnya."
"Dimana?" Chanyeol langsung menimpali, memandang Kai penuh harap.
Kai mengedikkan bahu. "Mana ku tahu." Chanyeol mencibir. "Tapi mungkin Jongdae-hyung bisa tahu, dia kan hacker yang pernah membobol data dari website universitas kita."
Mata Chanyeol berbinar. Tanpa banyak bicara ia segera melompat untuk meraih ponselnya dan menghubungi Chen.
...
Esok harinya. Di hari minggu. Chanyeol sudah berdiri di depan rumah keluarga Byun. Baekhyun tidak bohong saat ia mengatakan kalau dirinya berasal dari keluarga kaya. Rumahnya saja sangat besar. Mungkin sepuluh kali lipat dari besarnya rumah bibinya Chanyeol yang selama ini ia tempati. Nyali Chanyeol sempat menciut. Tapi ia segera meyakinkan dirinya sendiri kalau ia kesini hanya untuk bertemu Baekhyun dan melihat wajahnya. Bukan untuk melamarnya.
Melamar? Oke, Chanyeol punya niat mengenai itu. Tapi bukan sekarang waktunya, iya kan?
Pintu rumah keluarga Byun terbuka setelah Chanyeol memencet bel sebanyak tiga kali. Awalnya ia mengira akan ada maid dengan seragam seperti di rumah orang kaya yang berada dalam film-film. Tapi yang muncul di hadapannya adalah pemuda tampan berambut platinum, berkulit putih pucah dan berwajah sangat datar —Sehun.
"Cari siapa?" tak ada sapaan 'anyeong' atau apa, pemuda itu langsung bertanya dengan nada datar. Chanyeol sempat berpikir kalau seluruh keluarga Byun mungkin memang memiliki sifat datar yang membosankan seperti ini.
Chanyeol berusaha tersenyum seramah mungkin. "Apa Baekhyun di rumah?"
"Kau dengar itu hyung?" Sehun berbicara tanpa menoleh ke belakang. Suaranya pun terdengar biasa tanpa nada berteriak, seolah yang diajak bicara sudah berada di belakangnya. "Orang bertelinga besar ini mencarimu, hyung."
Ada suara bantingan pintu dari dalam, terdengar dari lantai dua. Chanyeol mengerjap tak mengerti, sampai dalam tiga detik kemudian ada tangan kecil yang menyentuh bahu Sehun dari belakang. "Minggir Sehunie."
Sehun menyingkir. Memperlihatkan Baekhyun dengan kaos pendek putih dan celana denim biru laut selutut. Tanpa hoodie kebesaran yang biasa ia gunakan di kampus. Rambutnya yang hitam kelam terlihat sedikit acak-acakan. Kharisma-nya seolah menguar lebih besar dari biasanya. Ia tampak manis, cantik, dan tampan dalam waktu bersamaan. Chanyeol tak tahu harus menggambarkannya seperti apa. Di matanya, Baekhyun tampak selalu begitu sempurna.
"Mengapa kau bisa sampai di sini?"
Chanyeol tersadar dari trans terpesona di tempat. Ia agak terkejut merasakan kulit dingin Baekhyun yang menyentuh tangannya duluan. Chanyeol baru menyadari mata Baekhyun yang tak lagi dihiasi eyeliner seperti di kampus saat pemuda pendek itu mendekat dan mendongak ke arahnya.
"Aku hanya ingin melihatmu," jujur Chanyeol dengan nada tulus.
Baekhyun tertegun. Chanyeol tersenyum. Sebelah tangan Chanyeol terangkat untuk menangkup pipi Baekhyun.
"Kau tahu, wajah alamimu tampak lebih imut tanpa eyeliner yang sering kau pakai."
Sebuah senyuman yang jarang diperlihatkan, muncul di wajah cantik Baekhyun. Membuatnya terlihat semakin bersinar di mata Chanyeol.
"Tapi Baekhyun, kenapa kulitmu dingin sekali? Apa kau sakit?" Chanyeol memandangnya khawatir.
Senyuman Baekhyun menghilang. Raut wajahnya berubah panik. "Kau harus pergi sebelum orang tuaku pulang, Chanyeol." Ia menurunkan tangan Chanyeol dari wajahnya.
"Wae?" Chanyeol bingung.
"Kau bilang kau ke sini hanya untuk melihatku, kan? Sekarang kau sudah melihatku. Jadi, pulanglah."
"Mengapa kau masih saja dingin padaku?" Chanyeol memprotes. "Apa kau tidak melihat kantung mataku? Lihat ini. Aku tidak tidur selamaman karena terus memikirkanmu. Mungkin ini memang terdengar gila. Tapi aku serius. Bayanganmu itu selalu menghantuiku di mana-mana. Makanya, selain ingin melihatmu, sebenarnya aku kesini ingin meminta pertanggung jawabanmu juga."
"Kau ingin aku melakukan apa?"
Chanyeol terkejut. Tak menyangka dengan jawaban Baekhyun. Dia kira Baekhyun akan meledeknya atau mungkin akan mengabaikannya dan mengusirnya begitu saja seperti saat pertama kali mereka berbincang. Mungkin kini Baekyun sudah melunak padanya karena kedekatan mereka yang sering bertemu di perpustakaan akhir-akhir ini. Baekhyun bahkan tidak lagi memprotes saat Chanyeol menyentuhnya.
"Kau ingin aku melakukan apa, supaya kau cepat pergi?"
Chanyeol cemberut. "Jadi, intinya kau ingin sekali aku cepat pergi?"
"Bukan begitu. Tapi kau benar-benar harus pergi sebelum orang tuaku pulang dan melihatmu."
"Wae? Kenapa orang tuamu tak boleh melihatku? Apa aku terlihat seperti penjahat? Aku hanya ingin bertemu denganmu."
"Katakan saja kau mau apa, Yeol?"
"Aku hanya ingin kau."
Baekhyun bungkam. Chanyeol sendiri juga terkejut dengan ucapan spontan yang baru saja ia lontarkan. Dengan kikuk ia mengusap tengkuknya.
"Maksudku, em, bukan begitu juga, eh, tapi benar juga, cuma aku tidak berniat mengatakan secepat ini. Aduh gimana yah? Kau pasti menganggapku aneh."
"Aku sendiri juga aneh," timpal Baekhyun. "Iya kan?"
"Ani," Chanyeol tidak setuju. "Mungkin bagi orang lain kau terlihat aneh karena selalu memakai hoodie kebesaran dan selalu menyendiri. Tapi mereka salah besar. Andai mereka mau melihatmu lebih dalam, mereka pasti akan tahu kalau kau sangat sempurna."
Baekhyun menunduk sambil tersenyum malu. "Jangan berlebihan."
"Aku tidak berlebihan kok. Coba kau melihat mataku. Aku berkata jujur."
Baekhyun mendongak. Ia tersenyum, sekali lagi Chanyeol terpana. Baekhyun menjijit dengan cepat, memcium pipi Chanyeol. "Sekarang pulanglah. Kita bertemu besok di perpustakaan." setelah mengucapkan itu Baekhyun pergi, menghilang di balik pintu rumah keluarga Byun yang ia tutup.
Meninggalkan Chanyeol yang lagi-lagi hanya bisa menganga kecil, memegang pipinya.
"Apa artinya itu? Apa dia menerimaku? Tunggu, apa aku bahkan tadi sudah menembaknya?" Chanyeol bingung sendiri. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum sambil mengelus-ngelus pipinya dengan sayang. "Sudahlah, yang jelas besok aku akan ketemu uri Baekhyunie lagi~"
Hari itu, Chanyeol meninggalkan rumah Baekhyun dengan senyuman lebar yang tak lepas dari wajahnya. Kai bahkan sempat menyindirnya saat mereka bertemu di depan rumah bibi Chanyeol.
"Kau kesambet apa, hyung?"
"Baekhyunie~"
"Huh?" O.o
...
"Kau sudah melakukan kesalahan besar, hyung." Sehun menegurnya. Pemuda itu berdiri bersandar pada tembok dekat pintu.
Baekhyun yang masih berdiri membelakangi pintu depan rumah mereka itu, menghela nafas. Kepalanya menunduk. "Aku tahu."
Sehun menatapnya datar. "Kau menyukainya." ia menuduh.
Baekhyun hanya menggigit bibir bawahnya.
"Itu salah," Sehun terus menyudutkannya. "Sekarang aku tahu mengapa selama ini eomma melarang kau pergi kuliah. Mungkin ini yang ia takutkan."
Baekhyun merosot, jatuh terduduk di depan pintu. "Aku hanya ingin pergi kuliah seperti lainnya. Aku ingin merasakannya. Mana ku tahu kalau begini jadinya," ia terlihat frustasi.
Sehun memandangnya simpati. "Sebaiknya kau tinggalkan dia sebelum terlambat, hyung. Kalau tidak, kau juga nantinya akan terluka."
Baekhyun menangis.
...
.
.
.
.
.
Baekhyun menangis.
Chanyeol masih mengingat bagian itu. Dia masih ingat bayangan Baekhyun yang menangis di hadapannya. Sayangnya gambaran memori itu masih sedikit mengabur. Chanyeol masih belum menemukan jawaban mengapa dia bisa berada dalam labirin menyesatkan ini. Dia masih belum mengingat kejadian apa yang terakhir kali menimpa dirinya. Kejadian apa yang membuat Baekhyun menangis di depan wajahnya?
Entah sudah berapa lama Chanyeol berjalan, memutari labirin yang seolah tak ada ujungnya, tak ada jalan keluarnya. Ia bahkan tak tahu apa ini sudah malam, pagi, siang, atau sore. Langit di atas sana benar-benar tidak terlihat seperti langit. Tak ada matahari, bulan, awan, ataupun bintang. Hanya langit abu-abu yang tampak aneh. Chanyeol jadi tidak yakin apa ia berada dalam alam nyata atau bukan.
Semua kejadian yang terjadi padanya saat ini benar-benar janggal dan sangat aneh.
Pakaian serba hitam yang entah kapan ia pakai.
Kabut putih di mana-mana yang entah berasal dari mana.
Langit abu-abu yang entah bagaimana terbentuk.
Dinding-dinding labirin yang tak ada habisnya.
Panas di setiap kulitnya yang Chanyeol tak tahu apa sebabnya.
Kepalanya yang terus berdenyut.
Dan nafasnya yang terus sesak.
Dia sakit, sekarat, rasanya ingin mati, tapi dia tidak bisa mati.
"Baekhyun..."
Dan nama itu kembali terucap dari bibir tebal Chanyeol yang memucat. Seolah nama itu adalah satu-satunya obat yang bisa menyembuhkannya saat ini.
"Baekhyun..."
Chanyeol panik. Dia benar-benar hanya ingin membutuhkan Baekhyun.
.
.
.
.
.
Jauh dari sana. Baekhyun sedang menangis...
.
.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
.
Someone call the doctor! —Kai
.
.
.
.
.
...
A/N ::
Ide ini muncul setelah nonton teaser comeback 'Overdose' nya Exo. Dan baru bisa terlaksanakan sekarang. Ini juga ngetiknya ngebut, jadi maaf beribu maaf kalau ada salah kata atau penulisan yang terbaca dengan tidak nyaman. ,
Niatnya hanya Oneshot. Tapi karena terlalu panjang. jadi saya bagi dua saja. So, chap selanjutnya langsung tamat. ^^
Fanfic ini juga sebagai perwujudan perasaan saya yang meletup-letup tentang comeback Exo-K —yang besar kemungkinan bisa jadi comeback moment Baekyeol juga, hehehehe (cekikikan kepo)
Gyaaa! Sekali lagi Aya mau bilang kalau Aya jatuh cinta dengan model rambut alami Baekhyun yang sekarang! Hitam! Tapi sangat cocok dan pas dengan kulit Baekhyun yang putih. Ouh, dia bisa berubah jadi manis, cantik, cute, dan juga tampan dalam waktu bersamaan. Kyaaa! (fangirling ria)
Jadi semakin pantas untuk bersanding dengan Chanyeol yang tinggi tampan dan berkharisma.
Ah~ Im so overdose to Baekyoel~
Kkebsong~~
Review-song(?)~~
Silent reader are no style(?)~~
Setuju yah song(?)~
Kkebsong(?)~
(Authornya makin kepo —,—)
~Sayaka Dini~
[15 April 2014]
