Title: The Charming Assistent

Rating: T slight M

Disclaimer: Naruto belongs to MK.

Saya hanya meminjam karakternya, tanpa keuntungan materi apapun. Just for fun.

.

.

.

Chapter 1

"Kau tetap akan pergi ke Konoha, Naruto?"

Pagi itu mentari masuk melalui sepasang jendela besar di kediaman keluarga Uzumaki, menyinari ketiga insan yang tengah duduk di meja makan untuk menyantap sarapan mereka. Satu-satunya wanita di ruangan itu mengenggam sebelah tangan putranya sambil menatapnya dengan penuh kekhawatiran.

"Apa kau yakin, Nak?"

Naruto tersenyum dan balas menggenggam tangan ibunya untuk meyakinkan sang ibu bahwa ia akan baik-baik saja meskipun harus terpisah dengan kedua orang tuanya dalam rentang waktu yang belum ia tahui berapa lamanya.

"Tentu saja, Bu. Ini adalah kesempatan emas untukku. Aku tak akan menyia-nyiakannya."

Ia tahu akan kekhawatiran ibunya, mengingat jarak antara Konoha dan Uzu tidaklah bisa dibilang dekat. Sang ibu tentunya akan sangat merindukan putra tunggalnya tersebut. Tapi bagaimanapun juga, Naruto merasa tertantang untuk bekerja di Konoha. Ia ingin merasakan bagaimana hidup seorang diri di Konoha. Apalagi saat salah satu perusahaan terkenal di Konoha menawari pekerjaan kepadanya.

Beberapa temannya yang berusaha melamar pekerjaan mengatakan bahwa untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di Konoha adalah perkara yang sangat sulit. Namun berbeda dengan mereka, Naruto tidaklah perlu susah-susah mengajukan lamaran-lamaran pekerjaan. Faktanya, ia sendiri yang ditawari pekerjaan menjanjikan sebagai supervisor di salah satu perusahaan swasta dan gaji yang mereka tawarkan tidaklah sedikit.

Kushina sangat paham bahwa anak tercintanya itu takkan menarik kembali kata-kata yang telah diucapkannya. Tapi di satu sisi, ia masih ingin Naruto tetap disini bersamanya dan Minato.

Naruto melanjutkan acara sarapannya dan membuat Kushina mengernyitkan dahinya, "Minato, kau tak ingin mencegah anakmu ini?"

Namikaze Minato, suami dari Kushina, meneguk roti bakar yang telah dikunyahnya dan kemudian menolehkan kepalanya kepada Naruto.

"Tidak, aku akan mendukung Naruto dan mempercayainya. Kushina, apa kau tidak percaya pada Naruto?"

Kushina menyandarkan tubuhnya di bangku meja makan dan menghela napas. Ia mengerucutkan bibir merahnya, menandakan bahwa ia kesal akan kedua pirang yang seringkali bersekongkol itu.

"Huh! Dasar kalian ini ... Bagaimana dengan makananmu disana, Naruto? Siapa yang akan memasakkan untukmu? Memangnya kau bisa memasak?! Satu-satunya yang bisa kau masak hanyalah ramen! Hanya ramen!" ejek Kushina kepada anak semata wayangnya.

"Ah ... ibu terlalu khawatir saja. Aku ini bukan anak kecil lagi, Bu."

Kushina menutup kedua kupingnya dengan kedua tangannya, "Ah, aku tidak mau tau lagi! Pastikan kau makan sayuran!"

.

"Sakura, ini sertifikatmu!"

Seorang wanita cantik berambut pirang menyerahkan sebuah map bewarna kuning pada gadis berambut merah muda di depannya. Gadis merah muda tersebut mengambil map tersebut dan langsung membungkuk sambil mengucapkan terima kasih. Rambut merah mudanya berjatuhan ke samping kepalanya saat ia membungkuk.

"Nilai kedisiplinanmu A, kemampuan memasakmu B+, mengasuh anak juga B+, kemampuan untuk bahasa Inggrismu juga bernilai A, dan nilai-nilai kemampuan yang lainnya juga sangat baik. Kau ... sangat berbakat," jelas wanita berambut hitam yang diketahui bernama Shizune.

Sekali lagi gadis muda berambut sewarna gulali itu menghaturkan terima kasihnya.

"Sungguh, Sakura ..."

Wanita berambut pirang menyentuh pundak gadis bernama Sakura dengan sebelah tangganya, membuat Sakura refleks menoleh pada Ketua Organisasi Asisten Rumah Tangga Professional tersebut.

"Kurasa kau terlalu baik untuk bekerja di bidang ini, Sakura. Kau juga terlalu muda."

Sakura tersenyum pada wanita berambut pirang yang ia panggil Nona Tsunade, "Tidak apa-apa Nona Tsunade, lagi pula saya juga tidak keberatan. Selama ini anda telah banyak membantu saya dan hanya inilah yang saya bisa berikan sekarang."

"Kalau kau berkata begitu, kami jadi lega," ucap Shizune.

Nona Tsunade menarik Sakura ke pelukannya "Terima kasih, Sakura ... Kau harus bekerja dengan giat, orang sepertimu wajib mendapatkan masa depan yang lebih baik."

Shizune tersenyum melihat wajah bahagia Nona Tsunade yang sudah seperti memeluk anaknya sendiri. Sudah lama Nona Tsunade tidak sebahagia ini. Sudah lama Nona Tsunade tak berlaku hangat seperti ini. Sudah lama sejak suaminya dan anak lelakinya meninggal dalam kecelakaan.

"Saya yang harusnya berterima kasih, Nona Tsunade."

.

Sudah hampir seminggu Naruto tinggal sendiri di apartemennya di Konoha. Setiap harinya–terkecuali hari minggu– ia selalu lembur di perusahaannya. Tampaknya bakat kerja Naruto yang merupakan pegawai baru itu sangat dibutuhkan oleh perusahaan tersebut. Dan setiap harinya pula ia harus terus makan ramen instan yang tengah dipegangnya ini.

Setelah ia menuangkan air panas ke dalam cup ramen instannya, ia pun harus menunggu selama tiga menit sebelum ramennya benar-benar siap dimakan.

Seraya menunggu, Naruto ingat kata-kata ibunya yang sangat mengkhawatirkan kondisi makanannya. Ia pun tahu jika tak baik mengonsumsi makanan instan setiap hari seperti ini. Bukannya ia tak ingin sehat, hanya saja ia tak sempat berbelanja ke swalayan untuk membeli beras, lauk ataupun sayuran. Sebenarnya meskipun sempat, ia juga tak bisa memasak.

Dan yang pasti disini ia ... kesepian.

Dirumahnya, ia selalu merasakan indahnya hidup bersama orang lain. Kadang ia beradu mulut dengan ibunya, kadang juga bercanda dengan ayahnya, ataupun menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Tapi disini ia sendirian, ia perlu seorang teman.

Tidak ... ia juga perlu seseorang untuk menyiapkan makanan untuknya, seseorang yang akan mencuci bajunya, seseorang yang akan membereskan apartemennya. Ia perlu seorang pembantu rumah tangga.

Ia perlu teman sekaligus pembantu rumah tangga. Tak apa jika sekalipun pembantu tersebut berusia enam puluh tahun, yang penting dia bisa nyambung saat berbicara dengan Naruto. Toh, ia juga pernah memiliki seorang pembantu bernama Nek Chiyo yang telah mengasuhnya dari kecil dan menemaninya di rumah selama ayah dan ibunya tidak ada. Namun, Nek Chiyo telah meninggal lima tahun yang lalu.

Ia harus mencari pembantu rumah tangga!

Diambilnya secarik koran berisi tentang lowongan pekerjaan dan penawaran jasa. Dan sebuah artikel begitu menarik hatinya.

Jika anda membutuhkan seorang asisten rumah tangga,

Agen kamilah orang yang tepat yang anda temui.

Menjaga bayi, mencuci pakaian, merapikan rumah, memasak makanan, semuanya bisa!

Kami mengutamakan kedisiplinan, kesehatan, dan kenyamanan.

Hub. Tsunade (0811-2345-6789)

"Ini dia yang kucari!" ucap Naruto dengan semangat.

.

Sakura mengepak pakaian dan barang-barang yang akan ia bawa kedalam koper berwarna coklat tua. Tak lupa ia membawa seragam assisten rumah tangga yang akan ia kenakan selama bekerja. Shizune yang merupakan seniornya juga membantunya bersiap-siap.

Setelah siap, Sakura berdiri dan menaikkan resleting jaket merahnya yang menutupi kemeja putih didalamnya. Ia mengenakan rok span berwarna biru selutut ditambah dengan kesan sporty pada sepatu hitam sebawah lututnya.

"Ini alamatnya. Pastikan kau berlaku baik pada klien kita," pesan Nona Tsunade sambil menyerahkan secarik kertas pada Sakura.

"Baik," jawab Sakura sambil menerima kertas itu lalu berkata, "Uzumaki? Jadi klien kita adalah Tuan Uzumaki?"

.

"Bagaimana kabarmu? Apa kau makan dengan baik?" tanya Kushina melalui telepon pada sang putra tunggalnya.

Meskipun Naruto yakin ibunya takkan melihat, namun ia tetap mengangguk, "Kabarku baik. Soal itu ... sepertinya aku akan menyewa seorang asisten rumah tangga."

Terdengar hembusan nafas lega dari Kushina, "Baguslah, pastikan kau berlaku penurut dan baik pada asisten itu yaa ..."

.

Sakura dengan sopan mengetuk pintu apartemen bernomorkan 114 itu sambil mengucapkan permisi.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan keluarlah sesosok laki-laki berambut pirang berkulit kecoklatan yang menyambutnya dengan "SELAMAT DAA–Eh, Nona, sepertinya anda salah apartemen deh."

Naruto melirik dari atas sampai bawah gadis cantik di depannya ini. Gadis dengan rambut merah muda sebahu yang terurai indah dan mata emeraldnya yang berkilau cerah. Pikirnya tak mungkin gadis ini adalah calon asisten rumah tangganya.

Gadis cantik itu sejenak menunduk menunjukkan rasa hormatnya pada sang klien, "Anda adalah Tuan Uzumaki kan? Nama saya Haruno Sakura, saya yang akan menjadi asisten rumah tangga anda."

"EEHH?!"

Naruto beberapa kali mengerjapkan matanya. Pembantunya semuda dan secantik ini? Kalau begini ia bukan hanya mencari teman ataupun asisten rumah tangga, tapi juga seorang istri!

.

To be continued.

.

Aau Notes:

Waaaah, senangnya buat fict lagi :""DD (padahal fict sebelumnya belum kelar) Hoho... Ide-ide chapter2 pertama saya kebetulan lagi mengalir deras nih :D Kebayang gak punya asisten secantik Sakura dan tinggal bersama? Kenapa saya nulis rate T slight M karena saya gak yakin apa yang akan terjadi kedepannya. X""DD Aau tahu fanfic ini banyak kekurangannya, maka dari itu bisakah reader sekalian memberikan komentar, kritik dan sarannya atau apapun? Terima kasih bagi yang sudah baca terutama yang bersedia me-ripiu.

Dear regards,

Aulia Auriz.