"Naru, gue udah ngerjain fisika dong! Heehe."
"O."
"Jijik gue sama lo."
.
.
.
"Ra, ulangan biologi lo dapet berapa?"
"95. Lo?"
"94. Kampret. Gue jijik sama lo."
.
.
.
"Naru."
"Apa?"
"Kok lo ngejijikin banget sih."
"Lo lebih, Ra."
"Lo."
"O."
"Jijik."
.
.
.
"Kalian ini saling jijik satu sama lain tapi ngga pernah dipisah."
"Sebenernya gue juga ngga mau deket dia lagi, No. Tapi dianya ngedeketin."
"Bukannya lo yang ngedeketin gue, Ra? Ngaca!"
"Ngok. Lo kali."
"Lo."
"Lo."
"Lo."
"SHUT UP YOU TWO!"
.
.
.
Jijik dan O
A Naruto Fanfiction
Rate: T for some inappropriate words
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warnings: Standard warnings applied. Bahasa ga baku. Gue-lo. OOC mungkin. Typo. Sakura POV. Alur kecepetan. Deskripsi kurang ngena.
"O."
"Gue jijik sama lo."
.
.
.
"Kamus Cambridge gue mana."
Gue menoleh kearah orang yang barusan manggil. Bukan noleh sih, tepatnya menengadahkan kepala.
Kampret. Dia lebih tinggi dari gue.
Perbedaannya ngga jauh-jauh amat sih. Yaa, palingan gue 165cm dia 172cm.
Udah deh, ngga usah ketawa.
"Hoy."
Kedutan 4 garis muncul di dahi lebar gue. "Gue punya nama, kampret."
"Oh jadi nama lo kampret. Salam kenal kampret, gue Naruto!"
Oh iya gue lupa. Nama gue Haruno Sakura. Si jidat lebar. Temen-temen gue pada manggil gue Ra. Kadang-kadang Raru. Katanya sih gue punya banyak topeng. Ekspresi gue bisa gue buat-buat biar mereka ngga tau perasaan asli gue. Emang, sih. Cita-cita gue jadi psikolog. Dan jangan lupakan rambut pink nyentrik gue ini.
Dan manusia kuning disebelah gue ini namanya Uzumaki Naruto. Temen gue yang paling kampret. Ah, mungkin bisa dibilang sahabat. Sebenernya gue baru kenal anak ini tahun kemaren. Tepatnya sejak kenaikan kelas 2 SMA. Pas kelas 1, gue sama sekali ngga kenal anak ini. Mungkin karena beda kelas. Dulu gue kira anak—mungkin bisa dibilang bocah—ini pendiem banget, eh tapi emang pendiem sih. Entah kenapa sejak kelas 2 sikapnya mulai kearah gila.
Dan entah kenapa dia bisa deket sama gue.
"Apa kata lo ajalah. Bukannya kemaren ada di toilet?" Gue nunjuk toilet cewe. "Masa lo lupa?"
"Kemaren gue sampe rela masuk toilet cewe,"—dia menghela nafas—"gue yakin lo sempet masukin kamus gue ke tas lo."
Gue ketawa. Lucu banget, seorang Naruto masuk toilet cewe!
"Cepetan lah Ra. Hari ini ada matematika."
Gue ngebentuk tangan kanan gue menyerupai huruf O. Bulet.
Dia ketawa. Terus tiba-tiba dia mukul gue pake kertas karton yang entah dapet darimana.
"Gue jijik sama lo, Ra."
"Gue juga."
"Gue lebih jijik sama lo."
Dan gue nyuekin dia dan kembali sibuk ngeberesin buku di loker gue. Sedangkan dia masuk ke kelas sambil ketawa-tawa.
Selain nyebelin, ternyata anak itu juga gila.
Setelah ngeberesin buku. Gue ngeraba-raba pintu loker pake tangan kanan. Gue bingung.
KUNCI LOKER GUE MANA?!
Ah, pasti dia.
Gue tutup loker gue.
"NARUTOOOOOOOOOOO! KUNCI GUE MANAAAA?!"
"SAKURA. NARUTO. KERUANGAN SAYA SEKARANG JUGA!"
Dafuq?
To be Continued.
LOL INI APA-APAAAANN HAHAHAHA.
Based on my true story. Gue bener-bener punya temen kampret sekampret-kampretnya. Nah, karena dia itu gue jadi bikin cerita ginian.
Di angkatan gue, kata 'jijik' dan 'o' emang lagi tenar.
Gatau siapa yang buat, tapi gue yakin temen gue inilah yang pertama kali pake kata 'o' dan ngebentuk tangan jadi mirip huruf O—tau kan gimana?
Dan mungkin gue orang yang ngebuat kata jijik jadi terkenal seangkatan.
Atau di sekolah kalian ada yang kayak gitu juga?
Well, this is just the prolog.
Review? :)
