Biar

Sophia Forrester, Wina Lightning, Alex Rowe, dan Euris Bassianus adalah kepunyaan Koichi Chigira dan Range Murata dari Gonzo/Victor Entertainment.

Rate T, romance satu sisi

Last Exile yang dijadikan acuan adalah Last Exile season 1

Terinspirasi dari 'Over the Sky' dari Hitomi Kuroishi (OST Last Exile, Ending Song)

Yang mau tahu liriknya, baik bahasa Jepang maupun terjemahan bahasa Inggrisnya: animelyrics [.] com [/] anime [/] lastexile [/] overthesky [.] htm

-o0o-

"Wina—"

"Ya, Bu?"

"Apa yang dikatakan oleh Pemimpin?"

Wina terdiam sejenak. "Beliau mengatakan 'Sophia'. Beliau menyebut nama Anda—"

"Baiklah. Terima kasih, Wina—"

-o0o-

Sophia menapakkan kakinya satu-satu menelusuri tanjakan di Pemakaman Umum ini, hingga ke luar dari makam-makam lain pada bukan di sini.

Tanah yang menanjak ini akan dihentikan sebuah jurang. Jika dilihat dari kejauhan, bentuknya akan seperti tanduk. Ujung tanduk ini yang menjadi tujuannya.

Sebuah makam di tepinya. Menjelang tebingnya.

Sophia berhenti.

Berlutut tepat di hadapannya.

Sebuah nisan tertanam di sana, dengan tulisan sederhana.

Alex Rowe

Tidurlah selamanya

Seulas senyum mengembang di wajah Sophia. Tangannya bergerak halus membersihkan sedikit dedaunan dan debu yang menutupi nisan itu.

"Hari ini Sylvana akan berangkat lagi, setelah diperbaiki. Walau kita sekarang sudah menginjak masa damai, tidak ada peperangan lagi, tetapi sedikit banyak Sylvana tetap berguna. Paling tidak membersihkan planet kita ini dari penjahat-penjahat udara—"

Kepalanya sedikit miring, anak rambutnya turut jatuh seiring senyumnya, "—dan aku tetap First Officer-mu, Pemimpin—"

Nampak sekilas bayangan di belakangnya.

Melirik ke belakang, wajahnya masih tetap sumringah.

"Wina! Kau akan mengunjungi Pemimpin juga—"

Sophia menggeser sedikit ke kiri, memberi tempat untuk perwira sonar-nya itu.

Wajah perwira sonar-nya itu seperti ragu, tetapi ia berlutut juga di depan nisan, dan menunduk sejenak.

Tak lama, karena kemudian ia menoleh pada Sophia. Dan seperti hendak mengucapkan sesuatu. Mulutnya sudah membuka, tetapi malah terhenti, menutup lagi.

"Wina? Ada apa?"

Wina menggeleng, tetapi ia sepertinya terus berusaha untuk mengucapkannya. "Aku—aku harus berterus terang padamu—"

Kening Sophia berkerut.

"Saat kita bertempur melawan Guild. Saat kita akan menghancurkan pesawat Delphine—"

"Ya, lalu?"

"Tepat saat kita akan meledakkan pesawatnya, aku berkata kalau aku mendengar suara Pemimpin—"

Sophia mengangguk. Tak sabar untuk mendengar lanjutan cerita Wina.

"Dan saat itu Anda bertanya, apa yang dikatakan Pemimpin—" Wina mengangkat wajahnya, menatap langsung wajah First Officer-nya, "—entah kenapa saya langsung mengatakan bahwa Pemimpin menyebutkan nama Anda—"

Senyum di wajah Sophia menghilang sejenak. Membuat hati Wina menjadi kecut. Tetapi tak lama. Karena senyum itu kembali mengembang.

"Ia tidak menyebut namaku. Ia menyebut nama Euris, kan?"

Mata Wina membelalak, "Bagaimana Anda bisa tahu?"

Sophia menunduk. Lalu menggeleng perlahan. "Kalau kau sudah bertugas bersamanya selama itu, kau akan tahu, ada di mana hatinya." Sophia menghela napas dalam-dalam. "Tujuan hidupnya hanya untuk membalaskan dendam atas kematian Euris. Tak ada yang lain. Nama Euris sudah menjadi darah dagingnya, selalu terucap dalam setiap napasnya—"

Wina terdiam.

Sophia menengadah, memandang langit biru luas, yang kali ini tanpa awan. Jernih, luas, bersih, cerah.

You are so near,yet so far

Dan ia menghela napas lagi, dalam-dalam.

"Terkadang aku suka membayangkan, bagaimana jika vanship Claus datang lebih cepat, atau kita bisa menanti lebih sedikit lebih lama lagi? Sepuluh-limabelas menit? Pesawat Delphine tidak usah kita bom, dan Alex mungkin bisa kita selamatkan—"

"First Officer? Tapi—" Wina keheranan.

Sophia menggeleng lagi, pelan-pelan. "Tetapi, memang lebih baik seperti ini. Dengan demikian Alex bisa mencapai apa yang ia inginkan—"

Kembali Sophia menengadah memandang langit biru jernih. "Alex sudah ada di langit. Bersama Euris—"

Ia memandang Wina, tersenyum dan mengulangi ucap, "Mereka sudah ada di langit, Wina, bersama-sama. Mungkin sedang mengamati semua gerak langkah kita. Dan melindungi setiap tahapnya—"

Sophia berdiri, menepuk-nepuk debu di rok seragamnya. Wina mengikuti perbuatannya. Lalu berjalan tanpa suara menuruni tanah pemakaman itu.

Langit masih tetap cerah.

FIN