0.5

(Repost)

.

.

Present by December28

.

Cast: Jung Daehyun – Choi Junhong

BAP Members

-Perhatian! Ada beberapa marga member yang harus saya ganti untuk kepentingan cerita-

.

Warning: YAOI, Not EYD, OOC, Typo, Don't like don't read.

This is Daelo Fanfiction

.

Lets Start

.

'Jika angka untuk kematian adalah 0, dan angka kehidupan adalah 1. Maka kau berada diangka 0.5, karena faktanya kau tidak hidup dan juga tidak mati'

..

"Kami turut berduka cita atas wafatnya putra bungsu kalian"

Sekelompok lelaki berjas hitam membungkuk kepada sepasang suami istri yang berada di hadapan mereka. Sang istri tak hentinya menangis sambil memeluk sebuah figura foto putra bungsunya. Sang suami yang nampak lebih tegar merangkul sang istri seakan memberikan kekuatan untuk menghadapi cobaan berat dikeluarga mereka.

"Terima kasih atas kedatangan kalian"

Sang suami balas membungkuk, mengusap air matanya kasar mengingat nasib tragis yang harus dialami anak bungsunya.

Salah seorang pria berbaju hitam menepuk pundak sang suami memberi semangat.

"Pelakunya pasti akan segera tertangkap. Kau bersabarlah. Kau harus sabar untuk istri dan anak sulungmu"

Mengangguk, mengusap rambut sang istri dengan sayang dan menatap seorang pemuda tampan yang tengah menangis di pojok ruangan.

Putra sulungnya.

Pemuda tampan itu masih menunduk dalam dengan isakan kecil yang dapat di dengar beberapa orang, memandang nanar foto adik tersayangnya yang harus meregang nyawa dengan cara sadis di tangan orang yang sampai saat ini belum ditemukan.

"Daehyun-ah"

Berbalik, lalu tersenyum sendu menatap sahabatnya yang baru saja tiba dan langsung mendekapnya erat.

Seakan mencari sandaran untuk dirinya yang seakan ikut tidak bernyawa karena tak menerima kenyataan bahwa adiknya yang baik dan tulus pergi meninggalkan dirinya dan orang tuanya.

"Tenanglah, disini ada aku"

Menepuk punggung Daehyun dan mengusapnya perlahan.

"Dia anak yang baik Youngjae, aku berani bersumpah"

Youngjae mengangguk membenarkan.

"Aku tau dia anak baik, kau sabarlah"

Menatap iba Daehyun yang nampak terpukul dengan mata sembab dan wajah yang memerah karena terlalu banyak menangis.

"Aku harus bertemu dengan orang tuamu dulu, kau ku tinggal okay?"

Daehyun mengangguk, menatap Youngjae berjalan menjauh lalu membungkuk hormat kepada orang tuanya.

"Kau pasti kesakitan, aku…..akan menemukan penjahatnya. Kau bersabarlah adikku"

Menghapus air matanya kasar kala menatap foto adik kesayangannya.

Bertekad dalam hati bahwa ia harus menemukan pelaku yang membuat nasib adiknya menjadi seperti ini.

"Apa kau bilang?! kami tidak bisa masuk? Tapi kami keluarganya?!"

Seorang lelaki tua renta berjalan tergopoh ditemani dengan dua orang lelaki paruh baya disisi kanan dan kirinya, menghampiri keributan yang terjadi di depan ruang rawat kelas VVIP di rumah sakit terbaik di Seoul.

"Kepala Pelayan Lee, tolong beritahukan kepada dokter bodoh ini bahwa kami keluarga dari Junhong! Biarkan kami melihatnya!?"

Tuan Lee –Kepala pelayan menatap seorang wanita yang tengah mengeram marah menatap dokter dihadapan mereka, pemuda bermata indah disisinya hanya mampu pasrah melihat tingkah kekanakan ibunya itu.

"Maaf Nyonya, tapi Tuan Besar sudah memberikan perintah untuk tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam ruang rawat Tuan Muda Junhong"

"Apa maksudmu Tuan Lee? aku ibunya?!"

Seorang lelaki paruh baya maju mendekat kearah wanita berparas cantik yang sebelumnya di panggil nyonya.

"Maaf Nyonya, ini perintah Tuan Besar, dan meralat perkataan anda sebelumnya. Anda hanya 'ibu tirinya' harap menjaga perkataan anda"

Lelaki paruh baya itu membungkuk hormat, mengabaikan wanita cantik itu yang mengeram semakin marah.

"Kau fikir kau siapa bisa memperlakukanku begitu?! Aku benar-benar…"

"Sudahlah eomma, kita pergi saja. Setelah keadaan Junhong membaik aku akan berbicara pada Ayah Choi agar mengizinkan kita menjenguk Junhong"

Wanita itu menatap putranya, menimang dan tak lama kemudian mengangguk kecil lalu memakai kembali kaca mata hitam besarnya melangkah menjauh meninggalkan yang lain.

"Aku minta maaf atas kelakuan Ibu ku"

Pemuda itu membungkuk dalam, tersenyum ramah kepada tetua kepercayaan ayah tirinya itu.

"Ya, tidak apa-apa Tuan Himchan. Kami juga minta maaf karena tidak bisa melanggar perintah Tuan Besar"

"Arraseo, apa kau bisa mengabariku saat ada kabar mengenai kemajuan Junhong? Aku hanya..khawatir. Bagaimanapun dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri"

Tuan Lee mengangguk, membungkuk kepada Himchan yang tersenyum lalu berlalu menyusul ibunya. Tak lama kemudian Tuan Lee berdehem kecil, menatap dokter serta penjaga di depan ruang rawat Junhong yang terdiam menunggu perintahnya.

"Perketat penjagaan, jangan biarkan orang lain selain Dokter Park dan kami bertiga masuk ke dalam"

Ke-enam penjaga di depan ruang rawat membungkuk mengerti, membuka pintu ruang rawat dan mempersilahkan Tuan Lee dan dua orang pengacara kepercayaan Tuan Besar Choi masuk.

Masuk ke dalam ruang rawat berukuran sangat besar tempat seorang pemuda manis yang berbaring tak sadarkan diri dengan berbagai alat bantu medis terpasang ditubuhnya.

"Cepatlah sadar Tuan Muda Junhong"

Tuan Lee mendekat dan menggenggam tangan halus Junhong yang tergolek lemah tanpa tenaga.

"Tuan Besar membutuhkan anda"

Hening. Tanpa jawaban.

Tuan Lee hanya mampu menunduk iba, tak kuat melihat Tuan Mudanya yang biasa cerah dan bersemangat kini berbaring tak berdaya.

Aku sendiri, dan ketakutan.

Aku ingin berteriak dan mengatakan semuanya.

Tapi tak bisa, karena semakin aku mencoba berteriak…aku akan semakin tak ingat apa yang harus ku katakan.

…..

Pukul 10 malam, Daehyun memijit keningnya yang semakin terasa nyeri. Mencoba tetap membuka lebar matanya dan menemani kedua orang tuanya yang tengah berbincang dengan kerabat yang datang ke rumah duka untuk mengucapkan bela sungkawa.

"Daehyun-ah, kau pulanglah lebih dulu. Kami baik-baik saja"

Sang Ibu mengusap bahu putra sulungnya yang kini sudah menjadi 'Putra Tunggal'.

Daehyun menggeleng, tersenyum menatap wajah cantik sang Ibu yang terlihat sudah nampak lebih tenang sekarang.

"Aku akan keluar untuk membeli kopi sebentar, setelah minum kopi biasanya aku akan segar seperti biasa"

Sang Ibu mengangguk, mengusap wajah Daehyun yang perlahan bangkit dan berjalan keluar membeli kopi.

…..

'Halo Jung?'

Suara Youngjae langsung terdengar begitu ia mengangkat sambungan telepon.

Menyeruput kopinya dan duduk di kursi depan rumah duka adiknya. Meletakkan kopi di atas meja yang berada diantara dua kursi.

"Ya, ada apa? Kau sudah sampai rumahmu?"

'Aku baru saja sampai, kau tidak pulang?'

"Aku akan tinggal di rumah orang tuaku untuk beberapa hari, setelah itu aku akan kembali ke apartemen"

'Ah begitu… Itu, Jung apa aku bisa meminta izin kerja besok?'

"Ada apa? Kau sakit? Kau tidak mengatakan apapun tadi"

Youngjae terkekeh, membuat Daehyun menghembuskan nafasnya lega.

Jika Youngjae tertawa, itu artinya semua baik-baik saja.

'Aku diminta hyungku untuk mengurus sesuatu besok. Kau akan memberikanku izinkan?'

"Ya, tak masalah. Aku akan meminta yang lain untuk meng-handle pekerjaanmu"

'Terima kasih, kau istirahatlah. Maafaku-'

"Kau juga istirahatlah, besok tidak usah memikirkan pekerjaan"

'Huum~ maaf Jung'

"Tak masalah, aku tutup Youngjae"

Pip.

Menutup sambungan telepon dan mencoba mengistirahatkan matanya sejenak.

"Hyung, bisa aku minta kopimu?"

Daehyun mengerutkan kening mendengar suara halus yang berasal dari kursi disampingnya. Menengok dan menemukan seorang pemuda manis tengah menatap kopinya yang tergeletak di atas meja.

"Maaf, itu-"

"Tidak boleh ya?"

Pemuda itu mendongak, menatap mata Daehyun dengan kedua mata beningnya yang berkedip polos. Daehyun terdiam, menatap pemuda berambut pirang itu dengan tatapan heran.

"Apa kau teman adikku?"

Pemuda itu menggeleng.

"Lalu? Apa kau datang dengan keluargamu kesini?"

Pemuda itu kembali menggeleng.

"Siapa namamu?"

Pemuda itu terdiam, menunduk dan tak lama kemudian kembali menggeleng kecil.

Daehyun tertawa simpul, menatap pemuda itu yang terlihat tak perduli padanya dan malah fokus menatap kopi miliknya di atas meja.

"Kau ingin kopi?"

Pemuda itu mendongak cepat, mengangguk-anggukan kepalanya dan tersenyum lebar.

Daehyun ikut tersenyum, menatap takjub pada paras pemuda ini yang cerah dan menggemaskan.

"Beritahu hyung dulu siapa namamu dan dengan siapa kau kesini?"

Pemuda itu terdiam. Memajukan bibirnya dan menggeleng memelas.

"Tidak mau memberi tahu?"

"Bukan begitu hyung….Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya sehingga aku bisa sampai disini"

Daehyun melebarkan matanya kaget.

"Kau tersesat?"

"Aku…-"

"Daehyun-ah, kau disini?"

Suara Ibu Daehyun terdengar, menghampiri putranya dan menarik perlahan lengan Daehyun.

"Kajja kita pulang, biar Appamu dan keluarga lain yang menjaga disini"

"Eomma, apa kau mengenal dia?"

Daehyun bertanya, menunjuk pada satu kursi yang berada tak jauh dari tempatnya.

"Nugu?"

"Pemuda itu, yang sedang menatap kopiku"

Daehyun tertawa kecil melihat tingkah pemuda itu. Mata jernihnya menatap penuh pada kopi yang sejak tadi menarik perhatiannya.

"Tidak ada siapapun disana, kau terlalu lelah sayang~ kajja kita-"

"Eomma, lihat hahahha"

Daehyun mengabaikan ucapan ibunya, tertawa geli menatap pemuda yang tengah terkekeh lebar sambil menggaruk rambutnya.

"Kau tidak suka americano? Hyung akan membelikanmu kopi yang baru, kopi itu terlalu pahit kan?"

"Dae…daehyun-ah"

Sang ibu menarik tangan Daehyun cepat, mengusap wajah Daehyun yang masih tertawa gemas menatap kursi kosong itu.

"Tidak ada siapapun disana, ayo kita pergi"

Tawa Daehyun memudar, menatap Ibunya yang tengah memandangnya khawatir. Menengok menatap pemuda lucu itu yang juga menatap kearahnya.

"Apa maksudnya tidak ada siapapun? Eomma, kau tidak melihatnya?"

Ibu Daehyun sudah akan menangis, mengira putra kesayangannya mungkin saja terlalu tertekan dengan kematian adik satu-satunya. Ibu Daehyun berlari masuk ke dalam ruangan untuk mencari suaminya, meminta bantuan dan melaporkan keanehan yang terjadi pada putra sulungnya.

"Hyung, itu ibumu?"

"Hm, Kalau kau..dimana ibumu?"

Kembali gelengan yang diterima Daehyun.

"Ku fikir eomma terlalu lelah, makanya ia tidak jelas melihatmu. Kau tau, adikku meninggal hari ini"

"Hyung….."

"Ya?"

"Terima kasih"

"Untuk? Aku bahkan belum membelikanmu kopi. Kau mau pergi bersama? Penjual kopinya tak jauh dari sini"

"Sebenarnya sejak tadi banyak orang yang ku ajak berbicara, tapi hanya kau yang mendengarkanku"

"Mereka mungkin terlalu lelah juga atau-"

"Mereka tidak bisa melihatku hyung"

"Eoh?"

"Seperti ibumu tadi. Orang lain juga tidak bisa melihatku"

Daehyun tertawa, menjitak kepala pemuda itu yang meringis kecil.

"Aku serius. Aku tidak tau kenapa aku bisa berada disini. Tapi dari yang kusadari sejak tadi, tidak ada orang yang bisa melihatku kecuali kau hyung"

"Anak ini benar-benar, aku akan memotretmu dan melaporkan bahwa disini ada seorang anak kecil yang tersesat dan-"

Daehyun terdiam, menatap layar ponselnya yang sudah siap akan memotret dan melirik pemuda itu yang masih terdiam ditempatnya.

Kembali menatap layar ponselnya yang tak terlihat apapun kecuali kursi kosong tanpa penghuni.

Daehyun tertawa tak percaya, men-klik icon hitam bulat yang dengan cepat menampilkan sebuah foto hasil jepretannya.

Terdiam kala melihat hasil foto yang tak menampakkan sosok manis itu. Sosok yang terlihat jelas dimatanya kini sedang terdiam termenung.

"Aku juga baru sadar sesuatu hyung, selain tidak terlihat orang lain aku juga tidak bisa difoto"

Menundukkan kepalanya tanpa memperdulikan Daehyun yang sangat terkejut.

"Kau….siapa? Kau ini apa?!"

Pemuda itu mendongak lalu tersenyum getir menatap Daehyun.

"Jika aku tau jawabannya….aku sudah memberitahumu sejak tadi hyung~"

Kau mendengarku, melihatku, dan menyentuhku.

Hanya kau hyung…hanya kau yang bisa melakukan itu.

To be continue~

Pyooong~