Hyaa.. Amaya kembali lagi dengan fic baru* moga ada yang baca*.

Kali ini mungkin agak dark-dark ya.. saya lagi dark soalnya XD

Ansatsu Kyoushitsu by: Yusei Matsui

Life by: Amaya Kuruta

Seperti biasa Typo bertebaran, OOC, ANGST! Civil war arc, dll.

selamat menikmati ^^/

" Karma-kun, aku serius dengan ucapanku!" Teriak Nagisa. Karma melihatnya dengan wajah penuh amarah. Perlahan Karma mengangkat tubuh Nagisa.

" Ternyata perbedaan kekuatan diantara mereka memang sangat besar!" Gumam Chiba. Isogai dan Maehara segera maju dan mencoba menahan gerakan Karma.

" Guh, Apa yang sebenarnya ingin kalian buktikan?" Isogai mencoba melerai. Maehara hanya bergumam tentang betapa kuatnya Karma. Sedang Nagisa sendiri berhasil ditahan oleh Sugino.

" Hm? Anak SMP berkelahi? Semangat yang sangat bagus sekali! Tapi sayangnya kalian tak akan mendapatkan apapun dari itu!" sebuah suara membuyarkan ketegangan mereka. Para murid menoleh dan menatap sosok kuning itu facepalm.

" Dan kau ada disini disaat kedua orang itu ribut karena kau!" Pikir para murid. Kemudian mereka bisa melihat Koro sensei mengangkat dua tabung berisi peluru dan cairan berwarna merah dan biru.

" Kita akan menentukan apakah kalian akan menyelamatkan sensei atau justru membunuh sensei lewat ini! karena kita adalah pembunuh!" Ujar Koro sensei semangat. Para murid menatap tabung-tabung itu.

" Kalian boleh memilih tabung biru jika kalian ingin menyelamatkan sensei. Dan kalian bisa mengambil tabung merah jika ingin membunuh sensei. Dan karena ini sudah waktunya pulang, kita akan melakukannya besok. Sensei akan mengizinkan kelas kita kosong untuk hal ini. bagaimana?" Tawar Koro sensei. Para murid mulai berjalan dan mengambil tabung itu. kemudian mereka segera menuju ke gedung kelas untuk mengambil tas mereka. Besok. Pertarungan itu akan ditentukan besok!

Ansatsu Kyoushitsu

Nagisa memasuki rumahnya yang kosong. Sepertinya ibunya belum pulang.

" Tadaima.." Ucap Nagisa lirih. Kemudian ia berjalan pelan melewati ruang makan. Ia menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya. Ia masih ingat wajah Karma yang penuh amarah itu. dia bukan tak pernah melihatnya. Hanya saja, biasanya ia melihat wajah itu saat Karma memutuskan untuk menghajar orang-orang yang mencari perkara dengannya. Nagisa tak pernah menyangka ia akan berhadapan dengan wajah itu. dan wajah itu ditujukan kepadanya.

" Karma-kun…" Nagisa menghela nafas.

" aku harus membuatnya mendengarku. Setidaknya untuk masalah ini saja." Tekadnya.

" Tadaima, Nagisa?" Nagisa mendengar suara ibunya. Ia segera keluar dari kamarnya dan turun untuk menyambut ibunya.

" Okaeri, Kaa-san." Nagisa tersenyum.

" Hhh.. syukurlah kau sudah pulang. Tapi kenapa kau masih mengenakan seragammu? Dan kau belum melepas ikat rambutmu itu." Oceh sang ibu. Nagisa tersenyum kecil.

" Gomen. Aku juga baru saja datang, Kaa-san. Aku akan segera mengganti pakaianku." Pamit Nagisa.

" Um. Kemudian turunlah. Kita akan makan malam bersama." Ujar sang ibu. Nagisa mengangguk dan bergegas mengganti pakaiannya. Setelah mencuci mukanya, ia turun untuk makan malam bersama ibunya. Sang ibu mulai menceritakan apa saja yang terjadi seharian itu.

" Nah, Nagisa-chan. Teman kaa-san tadi memberitahu foto anaknya. Dia tampan sekali! Bagaimana menurutmu jika Kaa-san mengaturkan kencan buta dengannya?" Tawar sang ibu. Nagisa tau. Jika sudah seperti ini, Nagisa hanya bisa tersenyum.

" Kaa-san, aku masih kelas 3 SMP dan kau mencoba menjodohkanku?" Tanya Nagisa sambil tertawa kecil.

" Hmm? kenapa tidak? dia pasti akan tertarik dengan kecantikanmu, Nagisa-chan.."

" Tapi..-"

" Dia anak yang tampan dan pintar! Dia pasti akan bisa membahagiakanmu."

" Kaa-san aku..-"

" Kalian akan bisa memiliki masa depan yang cerah jika kalian bersama."

" Kaa-san, aku tidak mau." Akhirnya Nagisa melakukannya. Melontarkan kalimat tabu dirumah itu. kalimat berisi penolakan benar-benar kalimat yang tabu dirumah itu.

" Nagisa-chan, kau benar-benar menolak Kaa-san?" Tanya Hiromi.

" Gawat.. Kaa-san akan..-"

" GREB."

" Kau harus tau bagaimana bersikap dengan baik kepada kaa-sanmu, Nagisa-chan. Mungkin kau kesal dengan harimu di kelas E yang tak berguna itu. Kaa-san harus mendinginkan kepalamu dulu." Ujar Ibunya sambil menggeret Nagisa. Mendinginkan kepala?

" Nah masuk." Hiromi Shiota melmpar tubuh Nagisa kedalam ruangan itu. Nagisa melihat sekeliling. Kamar mandi?

" Kaa-san apa yang-"

" BYUR."

" Kaa-san apa-"

" BYUR."

" GAH!"

" BYUR."

" Nagisa-chan, kaa-san hanya memikirkan masa depanmu. Dalam kehidupan kaa-san, penuh dengan rencana kesuksesan untukmu. Bahkan Kaa-san tak punya waktu untuk santai demi masa depanmu, Nagisa-chan." Hiromi mencengkram puncak kepala Nagisa dan mendorong kepala Nagisa kedalam bak. Kemudian menariknya lagi. Ia melakukannya beberapa kali sampai akhirnya ia mengangkat kepala Nagisa dan melepaskannya karena mendengar suara dering telpon.

" Kau mengerti?" Tanyanya. Nagisa hanya bisa mengangguk lemah dan mengambil nafas banyak-banyak. Kepalanya terasa pening. Hiromi mengusap kepala anaknya dan meninggalkan Nagisa. Nagisa menempelkan punggungnya disisi bak dan terduduk disana.

" Kar..ma..kun.." panggilnya lirih. Andai ia tidak sedang bertengkar dengan Karma, mungkin dia akan menghubungi Karma sekarang.

SREK

" Nagisa-kun." Nagisa menoleh kearah jendela kamar mandinya. Sesuatu berwarna kuning samar-samar terlihat. Kemudian Nagisa tersenyum saat menyadari bahwa itu adalah tentakel.

" Koro.. sensei.." Ucapnya. Tentakel itu mengangkat tubuh mungilnya. Kemudian entah bagaimana, Nagisa sudah berada didalam kamarnya. Terbaring diatas kasur miliknya.

" Nagisa-kun, kau baik-baik saja?" Nagisa tersenyum dan mengangguk.

" Sensei, kenapa sensei bisa ada disini?" Nagisa sudah mulai bisa berbicara lancar. Namun masih sangat lirih. Koro sensei meletakkan tentakelnya diatas kepala Nagisa dan mengusapnya lembut.

" Sensei hanya kebetulan saja melewati rumahmu saat sensei mendengar teriakanmu."

" souk a." Nagisa memejamkan matanya.

" Maafkan sensei karena tidak datang tepat waktu. Sensei hanya bisa mengalihkan ibumu dengan telfon." Nagisa tersenyum lagi.

" Mm.. tidak apa, sensei.." Jawabnya. Koro sensei kemudian menyelimuti Nagisa dan mencoba mengeringkan rambut Nagisa.

" Kau bisa sakit jika tidur dengan rambut basah." Koro sensei berkata lembut.

" Sensei.." Koro sensei menatap manik biru yang meredup itu.

" Jangan beritahu siapapun.." Ucap Nagisa. Koro sensei terdiam.

" Tidak. tapi jika keadaannya mendesak, sensei terpaksa membongkarnya, Nagisa-kun. Yang terpenting adalah keselamatanmu. Kau tidak bisa membunuh sensei jika kau sendiri terancam bahaya, Nagisa-kun~" Nagisa tersenyum mendengarnya. Kemudian mengangguk setuju.

" saa.. tidurlah." Ucap Koro sensei. Nagisa memejamkan matanya.

Ansatsu Kyoushitsu

Nagisa berjalan gontai melewati gedung utama. Hari itu Nagisa berangkat dengan pikiran kusut. Yang pertama tentu saja tentang permasalahannya dengan Karma. Yang kedua, ibunya bahkan sudah membicarakan masalah perjodohan gila itu sejak tadi pagi. Dan Nagisa hanya bisa menahan diri untuk tidak berkomentar. Bisa gawat kan kalau ia harus mengalami nasib yang sama dengan yang terjadi tadi malam? Ia jelas tak mau berangkat kesekolah dengan rambut dan seragam basah.

" Hhh.." Nagisa menghela nafas. Ia merasa jenuh.

" Pasti kau sangat ingin berteriak sekarang." Nagisa mengangguk. Itu hal yang sangat ingin ia lakukan.

" Kau bisa melakukannya kan kalau kau mau?" Nagisa menggeleng.

" Aku tidak bisa sejujur itu dengan diriku sendiri. Aku hanya.. yah, tidak bisa mengungkapkannya kurasa."

" Hmm.. ja, kalau begitu kau hanya tinggal melenyapkannya saja."

" Melenyapkannya?"

" Um. Seperti kau membuang nyawamu sendiri? Aku bisa melakukannya untukmu jika kau mau." Nagisa mengerjapkan matanya sebelum akhirnya ia menoleh dan melebarkan matanya. Nagisa dengan cepat melompat kesebelah kiri.

" JLEB."

" UGH!" Nagisa memegang lengan kanannya.

" Haah~ meleset. Reflekmu bagus juga ya, Nagisa." Nagisa hanya bisa menatap pria berambut hitam didepannya heran. Siapa pula orang ini?

" Lupa padaku? Hmm~ dilupakan itu menyakitkan loh, Nagisa.." Orang itu tersenyum sembari memegang sisi wajahnya dan perlahan menarik kulitnya. Tunggu!

" Shi-Shinigami?" wajah menakutkan itu hadir tepat didepan Nagisa.

" Yo! Hisashiburi!" Nagisa menatap orang didepannya tajam.

" Apa yang kau inginkan?" Tanya Nagisa sengit.

" Wow..wow.. kau tak perlu seketus itu jika menyambutku, Nagisa. ah, kau bertanya apa mauku ya? Hmm.. sebenarnya aku tertarik untuk menyusup masuk ke gedung sekolah itu. hanya saja, gurita itu pasti langsung tau kalau aku bukan anggota kelas kalian. Yah, dia bukan anak polos seperti kalian yang mudah terpengaruh." Shinigami itu mengambil setangkai mawar dari dalam mantelnya. Nagisa masih menatap sosok didepannya tidak mengerti.

" Belum mengerti? Baiklah, untuk jelasnya.. aku jelas membutuhkan wajahmu, Nagisa Shiota. Aku kemari untuk mengambil wajahmu." Mata Nagisa melebar. Mengambil wajahnya?

" Kalau aku menolak?" Jawaban yang aneh. Nagisa hanya ingin tau penawaran macam apa yang akan diberikan.

" Hmm.. kau ingin menolakku? Ja, kalau begitu aku tinggal mengambil salah satu dari temanmu." Jawab shinigami itu enteng.

" TIDAK!" Nagisa menatap tajam.

" Hmm.. ah sou! Kudengar kelasmu akan mengadakan pertarungan untuk menentukan nasib gurita itu bukan? Bagaimana kalau kubuat ini sebagai kontes?" sang shinigami mengangkat telunjuknya.

" Kontes?"

" Um. Akan kuberitahu sesuatu. Gurita itu sebenarnya tidak perlu mati. Dia bisa saja selamat tanpa harus meledakkan bumi. Dan itu semua berkat penelitian seorang kenalanku." Shinigami mengambil dua buah botol dari tas yang dibawanya.

" Lihat? Ini antidotenya! Kalau dia meminum ini, dia pasti akan selamat."

" Bagaimana aku bisa percaya denganmu? Bisa jadi itu adalah racun yang justru akan membunuh sensei."

" Nagisa, senseimu itu tahan terhadap racun bukan?" Nagisa terdiam. Orang ini benar.

" Tapi tentu saja ini tidak gratis, Nagisa.." Nagisa terdiam. Ia butuh obat itu untuk menyelamatkan senseinya.

" katakan."

" Hmm.. kau harus memenangkan pertarungannya untuk bisa memberikan obat itu bukan? Nah. Kuberi obat ini sekarang." Shinigami melempar botol itu. Nagisa menangkapnya. Kemudian ia mengernyit nyeri. Lengan kanan kemejanya masih dihinggapi oleh bilah pisau kecil.

" Dan apa yang kau minta?" Tanya Nagisa.

" anak pintar. Tentu saja aku meminta wajahmu." Nagisa terdiam.

" ow.. jangan berfikir untuk kalah dalam pertarungan nanti, Nagisa. karena jika kau kalah, maka aku akan mengambil wajah temanmu. Siapa namanya? Akabane?"

" JANGAN SENTUH SIAPAPUN DARI KELAS E!" Teriak Nagisa. shinigami itu tertawa.

" Nah. Kalau begitu kau setuju dengan penawaranku bukan?"

" Aku tidak pernah bilang begitu." Gumam Nagisa.

" Oh kau akan." Shinigami itu mengambil tab miliknya dan mengetuk layarnya beberapa kali. Kemudian ia mengarahkan layarnya kearah Nagisa.

" Kaa..san?"

" Um! Lihat, dia memakai kalung yang cantik bukan? Aku yang memberikannya pagi tadi sebelum menemuimu."

" Apa yang akan kau lakukan?"

" Tenang saja.. aku tidak akan melakukan apapun jika kau menjadi anak baik dan menurutiku. Kalung itu hanya kutempeli bom kecil yang akan meledak jika aku menekan remotenya." Jawab Shinigami. Nagisa menggigit bibirnya. Ia ingin meneriaki shinigami itu.

" Nah, Nagisa.." Shinigami itu berjalan mendekati Nagisa. Nagisa memundurkan langkahnya hingga punggungnya bertemu dengan tembok.

" Kau akan menang, dan kau bisa menyelamatkan nyawa ibumu, senseimu, bahkan teman-temanmu. Kau memang suka mengorbankan diri seperti ini kan? dan kalau kau kalah, terpaksa aku akan mengambil wajah teman merahmu itu. Akan kutunggu berita selanjutnya. Aku akan datang padamu satu minggu lagi, Nagisa~ " Sang Shinigami berbisik ditelinga Nagisa. Nagisa hanya bisa terdiam. Kemudian sosok itu menghilang dari hadapannya. Nagisa terduduk disana.

" Apa.. yang harus kulakukan?" Gumamnya..

" Nagisa.." Nagisa menoleh dan mendapati tiga sosok yang amat ia kenal.

" Kalian?"

" Nagisa.. apa.. yang akan kau pilih?" sang rambut hitam itu menatap Nagisa. mencari kepastian dimata biru Nagisa.

Ansatsu Kyoushitsu

" Nagisa.. apa yang akan kau pilih?" Nagisa mengernyit. Apa mereka mendengarnya?

" Isogai, aku.."

" Katakan.. apa yang makhluk itu minta darimu?" Kali ini Maehara bertanya. Nagisa terdiam lalu menundukkan kepalanya.

" Kau mendengarnya, Maehara. Kurasa kau tak perlu bertanya." Jawab Nagisa lirih.

" Nagisa.. kau harus menceritakan semuanya pada Koro sensei." Usul Sugino. Nagisa langsung menggeleng.

" Tidak, sugino. Itu akan sangat berbahaya. Nyawa ibuku ada ditangannya sekarang." Jawab Nagisa.

" Kau tidak bisa menyerahkan dirimu, Nagisa." Isogai membungkuk dan meraih lengan kanan Nagisa.

" Ugh.."

" akan kucabut pisau ini. akan sedikit sakit. Jadi, tahanlah." Nagisa hanya mengangguk. Kemudian Isogai mencabut pisau kecil itu dan darah segera menyembur dari luka itu. sugino memucat.

" Nagisa, kurasa kau harus kerumah sakit."

" Um. Sugino benar. Biar kuantar..-"

" tidak, Maehara.. aku harus kesekolah!" Jawab Nagisa tegas.

" Tapi lukamu.." Isogai mencoba membujuk Nagisa.

" Tidak apa-apa. Aku yakin darahnya akan berhenti dengan sendirinya. Setidaknya, aku akan kerumah sakit setelah permasalahan kita selesai." Jawab Nagisa. Isogai tau pasti luka semacam itu tak akan sembuh dengan sendirinya.

" Kalau begitu izinkan kami mengobatinya sebisa kami sekarang." Isogai meletakkan tas tangannya dan membuka kemeja Nagisa. kemudian ia mengambil handuk kecil dari dalam tasnya dan mengikatnya dilengan Nagisa.

" Setidaknya dengan ini darah yang mengalir akan terhenti." Jawab Isogai. Nagisa kembali memakai kemejanya dan tersenyum.

" Terimakasih, Isogai." Isogai melepas jas sekolahnya dan mengulurkannya.

" Kau harus memakainya. Lengan kemejamu sudah berlumuran darah." Nagisa mengangguk dan meraihnya.

" Maafkan kami, Nagisa.. kami tidak bisa membantumu." Ucap Sugino. Nagisa menggeleng.

" Justru aku bersykur kalian tidak segera keluar tadi. Akan sangat berbahaya jika kalian ikut keluar."

" Um. Isogai juga mengatakan hal yang sama. Itu justru akan membuatmu berada dalam bahaya yang lebih parah lagi." Ujar Maehara.

" Jadi, apa rencanamu?" Tanya Isogai. Nagisa terdiam. Rencana? Apa ia masih membutuhkan rencana?

" Yang jelas aku harus memenangkan perdebatan ini."

" kau berniat menyerahkan diri?" Tanya Maehara. Nagisa terdiam sejenak. Kemudian mengangguk.

" Kau gila!"

" Lebih baik begitu!" Nagisa memotong. " aku tidak tau apa yang harus kulakukan! Jika aku kalah, dia akan membunuh Karma-kun. Juga.. ibuku dan kalian jelas dalam masalah besar!" Jawab Nagisa.

" Nagisa.."

" dan jika aku menang, aku bisa menyelamatkan nyawa ibuku dan kalian." Nagisa berusaha berdiri. Maehara dan Sugino segera membantu.

" Jadi, jangan katakan apapun sampai aku menang, atau aku kalah. Kalian mengerti?" Pinta Nagisa. Ketiga pemuda itu hanya bisa menatap teman birunya ragu sebelum akhirnya mengangguk pasrah.

Ansatsu Kyoushitsu

Nagisa terengah. Ia menatap Karma sengit. Setelah pertempuran antara tim merah dan tim biru, kini hanya ada pertempuran antara Nagisa dan Karma. Nagisa sudah berhasil membuang senjata Karma. Begitu juga Karma yang sudah membuatnya kehilangan senjata. Dan sekarang ia mendapat pukulan bertubi dari Karma. Ia mehat Karma mendekat dan mengangkat kakinya. Kemudian ia bisa merasa sakit disekitar tengkuknya. Samar ia mendegar koment Terasaka tentang tendangan yang digunakan Karma.

" Tidak. aku tidak boleh kalah darinya. Aku rus menang. Jika tidak.." Nagisa berbalik tepat saat Karma akan menghunuskan pisau bertinta merahnya kearah Nagisa.

CLAP

Karma mundur beberapa langkah.

" Ia menggigit lidahnya agar tidak pingsan!" Nagisa bisa mendengar komentar Koro sensei. Nagisa mengambil pisau disisi kirinya.

" aku harus membuatmu 'Kalah', Karma-kun! Aku harus menyelamatkanmu. Menyelamatkan kalian." Nagisa mengarahkan pisaunya. Karma sudah bersiap untuk menghindari pisau itu saat Nagisa melempar pisaunya dan mengunci pergerakan Karma. Ia menekan pembuluh darah Karma dilehernya.

" Akan kubuat kau mendengarkanku, Karma-kun!" Teriak Nagisa. Karma sendiri sudah mulai kesulitan bernafas. Ia meraih apapun untuk mengalihkan rasa sulit bernafasnya saat tangannya meraih sebilah pisau karet dengan tinta merah. Pisaunya! Karma berusaha mengarahkan pisau itu. ia berusaha menusuk punggung mungil Nagisa dengan pisau itu.

" Berkelahi? Kurasa aku tidak akan melakukannya karena aku tidak seberani dirimu, Karma-kun. Tapi jika menyangkut nyawa, mungkin akan kulakukan." Suara Nagisa terngiang. Karma melirik surai biru yang sudah tak terbentuk itu. kedua karetnya sudah terlepas dari lembutnya surai biru. Karma tersenyum kecil dan membuang pisaunya. Ia menepuk punggung Nagisa pelan.

" Give. Nagisa.. aku kalah, kau yang menang." Ucap Karma. Nagisa belum menyadari hal itu sampai ia mendengar teriakan Karasuma sensei yang mengumumkan bahwa tim biru yang ingin menyelamatkan Koro senseilah pemenangnya. Nagisa menjatuhkan dirinya disebelah Karma.

" Aku.. menang?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum geli.

" Jangan menatapku dengan wajah seperti itu." Ujar Karma. Nagisa hanya diam. Ia menang. Itu artinya ia sudah menyelamatkan mereka semua bukan? Nagisa tersenyum lega. Lega karena ia berhasil menyelamatkan semuanya. Ia melihat Karma bangkit.

" Nah, kenapa kita tidak menghilangkan panggilan yang kaku ini, Nagisa?" Karma mengulurkan tangannya. Nagisa menatap tangan Karma dan tersenyum.

" um, Karma." Nagisa menyambut tangan Karma dan berdiri. Ia merasa kepalanya pusing.

" Hmm? kau baik-baik saja? Apa tendanganku tadi membuat kepalamu sakit?' tanya Karma setengah meledek. Nagisa tertawa kecil.

" tidak aku baik-baik saja." Jawab Nagisa sambil menoleh kearah Sugino, Isogai dan Maehara yang menatapnya cemas. Nagisa tersenyum. Kemudian ia melihat ketiga temannya itu menghampiri Nagisa. Karma mengangkat alisnya.

" Kalian mau memberi selamat atas kemenangan Nagisa?" Tanya Karma.

" emm.. ya. Kurasa." Jawab Isogai.

" Kurasa itu bukan wajah yang tepat, Isogai~" Ujar Karma. Kemudian Koro sensei sudah berdiri didepan mereka.

" fufufufu tidak kusangka kau akan kalah, Karma-kun.." Ujar Koro sensei. Karma menatap senseinya kesal.

" Nagisa, izinkan aku untuk membunuhnya sekali ini saja." Izin Karma. Nagisa tertawa. Tapi tawa itu sudah terdengar aneh.

" Nagisa-kun, daijobu? Kau butuh perawatan khusus?" Tanya Koro sensei. Nagisa menggeleng.

" tidak apa-apa, sensei. Ah sou.. aku punya hadiah untukmu, sensei." Nagisa memberikan dua botol berisi cairan keemasan. Koro sensei menatap botol itu heran.

" Apa ini?" Tanyanya. Kemudian ia membuka botol itu dan mengambil sample cairan itu dengan tentakelnya.

" Ini seperti obat yang dibuat Okuda-san." Nagisa meraih lengan kanannya.

" Itu.. penawar." Jawab Nagisa. Karma menatap Nagisa bingung. Sikap tubuh Nagisa aneh. kemudian ia melihat Maehara memegang pundak Nagisa.

" Kau harus pergi sekarang, Nagisa." Bisik Maehara. Nagisa tersenyum. Karma mengernyit. Bisikan Maehara masih bisa ia tangkap.

" Kau mau kemana, Nagisa?" Tanya Karma. Nagisa menoleh. Ia menatap Karma dalam.

" Karma.. kau orang yang kuat bukan?"

" Huh?"

" Kau jelas bisa melindungi mereka bukan?" Karma semakin mengernyit tak mengerti dengan ucapan Nagisa. kemudian ia menyadarinya. Nafas Nagisa yang nampak berat.

" Nagisa.. apa.."

" Nagisa-kun?" Koro sensei ikut memperhatikan Nagisa.

" Gomennasai.." kemudian tubuh mungil itu kehilangan kekuatannya. Terjatuh tepat kearah Karma. Karma dengan sigap menangkapnya.

" Nagisa! hei!" Karma menepuk pipi sang surai biru. Isogai dengan cepat membuka rompi Nagisa. dibantu Maehara. Karma tidak mengerti dengan apa yang dilakukan teman-temannya sampai ia menangkap sesuatu berwarna merah di punggung tangan Nagisa.

" Nagisa.. apa yang sebenarnya terjadi?" Teriak Karma. Isogai dan Maehara mengikuti arah pandang Karma dan terkejut.

" Isogai, bukankah kau sudah menghentikan pendarahannya tadi?" Tanya Maehara.

" Um. Tapi jika masih mengalir seperti ini.."

" DEMI TUHAN APA YANG KALIAN BICARAKAN?" Teriak Karma lebih keras. Semua mata langsung tertuju kearah mereka. Hening sejenak sebelum akhirnya berubah menjadi kepanikan.

" Kami akan menceritakannya setelah Nagisa mendapat pertolongan, Karma. Kau keberatan?" Tanya Isogai. Karma terdiam. Ia masih menatap ketiganya sengit. Kemudian ia mengangguk.

" Bagus. Koro-sensei.." Sugino menoleh kearah sang guru.

" Kalian bawa Nagisa keruang guru. Sensei akan siapkan ruangannya." Kemudian gurita itu menghilang.

Ansatsu Kyoushitsu

-TBC

Jika ada waktu, mohon beri saya ilmu di kotak review ^^

jaa!