Title: The Butler
Disclaimer: Kishimoto Masashi, Miyagi Riko
Genre: Humor/Romance
Pairing: A secret
Chapitre: 1 (Meet my butler)
!Selamat membaca!
© Shazanamikaze Mystica ©
Present
Naruto's P.O.V
Pagi itu, di sebuah desa yang bernama UzuGakure.
"Selamat pagi, Naruto-sama." panggil seseorang padaku.
"Sudah waktunya. Ayo, bangun." katanya lagi.
Aku kenal suara itu, tapi siapa? Mataku ini susah sekali di buka sih!
"Naruto-sama?" panggilnya lagi.
"Eh?" kataku saat melihat orang yang ada di depan futon-ku sekarang.
"A... Ada alien di rumahkuuu!" aku berteriak dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
"A...ah! Naruto-sama... apa anda tidak ingat?" tanya orang itu sambil mendekati selimutku.
'Ah? Benar juga... kemarin...' pikirku.
Flazhback (still Naruto's P.O.V)
"Uzu... Uzumaki..." panggil seseorang. Mengganggu tidurku saja!
"UZUMAKI NARUTO! BANGUN SEKARANG JUGA!" teriak orang itu tepat di telingaku.
Gubrak!
Ugh... Pinggangku sakit sekali! Jatuh dari kursi saat tidur apalagi dibangunkan oleh seseorang yang kita benci tentu sangat menyebalkan.
"Kau ini kan ketua kelas, Naruto! Aku mau mengisi absen murid hari ini! Mana bukunya?" kata orang yang telah membangunkanku.
"Oh...iya... maaf! Ini bukunya..." kataku sambil memberikan absensi kelas.
Oh, iya! Dia ini...orang yang telah mengganggu ku ini, adalah Sasuke, Uchiha Sasuke. Wajahnya sih, lumayan. Lumayan ancur menurutku. Dia ini sekretaris di kelasku, kelas XI-4. Dan aku di sini sebagai ketua kelas, hebat kan?
Aku ini mungkin rada- rada tomboy, hehehe. Karena rambutku yang pirang ini pendek dan kulitku yang kecoklatan. Tapi ada nilai plus dari tubuhku ini. Pertama, warna bola mataku ini warna biru langit, tentu saja indah kan. Kedua, tinggi badanku memang agak pendek, tapi wajahku kan imut, hehehe... Oh iya, aku sekarang bersekolah di Uzu Senior High School, di kelas XI-4. Kelas yang melahirkan anak- anak bandel, yah bergitulah kelasku. Di sebelah sekolah ada danau yang sangaaat luas. Biasanya aku tiap sore memancing di sana bersama ayah, Uzumaki Minato.
Ayahku itu penjual ramen yang terlezaaaat di dunia ini. Oke baiklah, hanya di kota ini saja.
Oh iya, kembali ke suasana yang asli. Di kelasku. Sasuke berjalan ke arahku dan mengembalikan absensi kelas. Yah, sudah kubilang tadi tentang wajahnya kan? Dia memang populer di sekolah ini. Bahkan dibentuk Sasuke fans club. Untuk apa memuja orang menyebalkan seperti dia. Yah, bagaimanapun juga dia bukan tipe-ku, hehehe.
"Apa yang kau lihat, heh?" dia menyentakku.
"Membayangkan 'long long long ago story' hah?" tanyanya, lebih tepat, agak menyindir.
"Cerita apa, Naruto-chan?" tanya seseorang yang kukenal bernama Rock Lee.
"Bukan apa- apa." jawabku agak nervous.
"Ayo, Naruto-chan... Kami ingin tau..." kata temanku yang berambut merah dan bermata coklat, Akimichi Chouji.
"Yah, sebenarnya. Saat aku masih SMP, aku tersesat di hutan saat habis bermain. Saat itu aku sangat takut, nyanyi lagu 'Naru-chan's butler' deh..." jelasku.
"Hah? Naru-chan's butler?" tanya Lee.
"Iya... Lalu tiba- tiba seorang laki- laki datang. Pakai pin yang keren deh. Ada lambang nya, huruf 'U'. Dia bilang 'Aku mencarimu. Ayo, kita pulang'. Terus kayaknya aku tidur deh waktu itu. Terus aku nanya, 'kamu siapa?' dia jawabnya, 'aku butler-nya Naru-chan'. Gitu!" tambahku.
"Jadi itu mimpi?" tanya Chouji. Aku menggeleng, aku yakin sepenuhnya itu bukan mimpi!
"Aku benar- benar mengingatnya. Rambutnya yang agak panjang itu, tangannya yang menggendongku, pakaiannya, harum tubuhnya... Eh?" tanyaku. Shit! Aku benar- benar ber-nostalgia. Tapi, kenapa kelas tiba- tiba sepi ya? Chouji dan Lee mengatakan apa sih?
"Kayaknya itu cuma mimpi deh." kata Sasori sambil mengangguk.
"Butler itu apaan sih? Dari planet apaan?" tanya Lee.
Mari kita ber-sweatdrop ria!
"Baka... Itu hanya mimpi orang-orang yang bodoh!" aku mendengar Sasuke mengatakan itu. Aku menyiapkan tanganku untuk memukulnya.
"Bahkan jika pekerjaan bernama 'Butler' itu ada di sini, orang yang mengaku jadi butler-mu itu takkan menjadi butler-mu lagi. Karena apa? Karena takkan ada butler yang mau menjadi butler untuk seseorang yang memiliki nama aneh sepertimu, Naruto." tambah Sasuke. Dia membuka mulutnya lagi, sepertinya akan berpidato lagi.
"Nama 'Uzumaki Naruto'. Nama untuk laki- laki, kau tahu itu? Apalagi Naruto kan bentuk spiral yang ada di ramen, heh."
Oke! Kali ini kesabaranku ada di tingkat paling rendah dan menuju minus! Aku akan membalasnya.
"Nama 'Uchiha Sasuke'! Apa itu Sasuke? Seperti Sas-Uke! Atau Sasu-kecap! Sendirinya punya nama aneh!" balasku. Aku lihat ada 4 tanda siku-siku di dahinya.
"Anak ayam hanya bisa mematuk tanah!" tambahku, walau aku tak tahu artinya tapi itu mengundang amarah-nya.
"Apa maksudmu dengan Uke itu hah? Anak ayam apa maksudmu!" bentaknya. Aku membalas membentak.
"Kau tak tahu artinya? Dasar bodoh! Uke itu kan bagian dari namamu yang aneh! Oh, dan mana seme-mu? Dan kau tidak perhatikan bagian belakang rambutmu yang seperti pantat ayam itu!"
"Ugh! Ayo kita lanjutkan di luar, dobe!" bentaknya, lagi.
"Apa? Dobe? Dasar Teme! Ayo kita lanjutkan di luar! Di sini terlalu sempit untuk anak ayam sepertimu!" kataku.
Samar- samar aku bisa mendengar Lee dan Chouji mengucapkan sesuatu.
"Ini dia... mulai lagi." kata Lee.
"Mereka berdua juga salah ,kan." kata Chouji.
Sreeek!
Suara pintu kelasku di buka seseorang. Saat aku melihatnya, aku mendengus. Karin. Perempuan berambut merah dengan model yang aneh itu mendatangi Sasuke dan bergelayutan di lengan Sasuke.
"Sasuke-kuuuun~... Apa anak aneh ini mengganggumu?" tanyanya dengan suara yang sangat teramat seperti di buat merdu dan menghasilkan suara yang sumbang bagai lebah mendengung.
"Lepas... Aku mau keluar." Kata Sasuke lalu pergi keluar kelas, menuju taman belakang. Aku yakin itu.
"Hmmm... Oh, iya. Naruto, kau anak penjual ramen kan?" tanya anak perempuan aneh itu, a.k.a Karin.
"Hm, iya. Kenapa memangnya?" tanyaku balik. Pertanyaan ini sepertinya akan membuatku jatuh.
"Ah, tidak... Kalau ayahmu butuh pekerjaan di kantin rumah sakit milik ayahku, kau bisa bilang padaku. Kau ini kan dari keluarga miskin dan tidak sehat." Aku benar. Kata- katanya itu menusuk dan tajam bagaikan ujung samurai. Lalu dia pergi begitu saja. Samar, aku mendengar Chouji berkata.
"Sangat tidak sopan! Apa dia tidak diajari oleh orang tuanya yang kaya itu!"
Yah, Karin memang kaya Tapi dia itu berbeda denganku. Keluargaku memang miskin dan tidak sehat. Tapi toh, kami bahagia.
Flashback in Flazhback
Minggu lalu, di sisi danau saat aku dan ayah memancing.
"Nee... Naru-chan. Menurutmu apa yang bisa membuat hidup seseorang bahagia?" ayah bertanya padaku.
"Ehmm... Punya banyak uang, kaya, punya rumah besar, di kelilingi orang yang good-looking, bisa beli apapun yang kita mau." jawabku seadanya. Ayah hanya tertawa mendengar jawabanku. Lalu dia berkata;
"Yah... itu memang benar. Tapi, kau bisa bosan dengan hal itu kapan saja. Uang bukanlah segalanya di hidup ini, Naru-chan..."
End of Flashback in Flazhback
"Uzumaki Naruto-chan!" panggil seorang guru yang aku wali kelasku. Rin-sensei, teman Kakashi-sensei.
"Ada apa, Rin-sensei?" tanyaku refleks.
"Orang tuamu, Naru-chan..." kata Rin-sensei. Aku segera berlari kerumah yang memang tak jauh dari sekolah.
Di rumah...
"Ti...tidak mungkin..." aku mulai mengeluarkan cairan air yang hangat itu, air mata.
"Ayah... Ibu..."
Kebakaran. Musibah itu mendatangi keluarga kami saat kami dalam kebahagiaan. Kenapa kebahagiaan ini begitu sebentar? Kenapa kalian berdua meninggalkanku begitu cepat? Padahal ibu sudah janji akan memberitahuku resep ramen yang baru. Padahal ayah sudah berjanji padaku kalau aku pulang sekolah akan mengajakku memancing lagi. Padahal baru tadi pagi aku bertemu kalian, melihat senyum kalian, dan itu terjadi 4 jam lalu. Sekarang kalian tiba- tiba pergi. Bagaimana aku akan menagih janji kalian? Dengan siapa nanti yang akan menemaniku memasak, memancing, dan makan malam? Dan dengan siapa aku tertawa? Kenapa kalian pergi begitu cepat?
Normal P.O.V
Sasuke memandang Naruto yang tengah menunduk dan menangis. Dan seseorang bertanya pada Rin-sensei bagaimana dengan masa depan Naruto. Sasuke langsung menghampiri mereka dan mengulang pertanyaan yang ia dengar. Rin-sensei menjawab tentunya.
"Kalau sampai sebulan tak ada yang menjadi wali-nya, atau salah seorang dari keluarganya tidak ada yang membawanya, dia akan di kirim ke panti asuhan." kata Rin-sensei dengan wajah khawatir.
"Apa?!" kata Sasuke dengan terkejut.
"Sasuke..." panggil seorang kakek dengan baju tuxedo mendatangi Sasuke.
"Kakek?" orang itu adalah kakek Sasuke, Uchiha Madara.
"Naruto ada dimana?"tanyanya pada Sasuke. Sasuke menunjuk pintu rumah Naruto yang terbuka. Madara mengangguk.
"Naruto?" panggil Madara saat menemukan Naruto masih menangis.
"I... iya?" Naruto mengenal Madara karena salah satu teman ayahnya dalam hal memancing. Naruto dan Madara segera mengambil posisi untuk saling berbicara.
"Ini adalah hal yang tak di duga. Bagaimana jika Naruto tinggal bersama kami?" tanya Madara langsung to the point.
"Eh?" mata biru Naruto membulat.
"Ta... tapi, aku akan menyusahkan keluarga kalian..." kata Naruto.
"Memang... Lagipula, rumahku cukup sempit, paling kakek menganggapmu sebagai anak kucing yang di pelihara." kata Sasuke.
'kata- katanya tajam juga ya...' pikir Rin-sensei.
"Tapi, masih ada tempat untukmu di rumah kami." Kata Sasuke. Dari tatapan wajahnya, tatapan gugup mungkin. Naruto juga jadi ikutan nervous.
Sementara itu, di luar rumah Naruto, Rin-sensei, dan teman-teman Naruto menangis bersama dan mengatakan dua huruf. So sweet. Terkecuali Karin yang ikut melayat, ada 4 tanda siku-siku di tangannya yang terkepal.
"Appa?!!" katanya.
Lalu seseorang datang memecah suasana itu dengan mengatakan.
"Itu tidak bisa dilakukan."
Semua orang menoleh dengan slowmotion. Akhirnya mereka bisa melihat sosok yang mengatakan empat buah kata itu. Dan dia adalah... jreng jreng jreng!
"Kakak?" kata Sasuke.
"Lama tak bertemu, Sasuke, kakek." Kata orang itu.
"Itachi?! Kapan kau pulang?" tanya Sasuke dengan tidak ber-pri-kesopanan.
"Baru saja. Setelah kediaman Uzumaki, ehm... bukan! Namikaze Minato-sama di kabarkan hangus terbakar." Kata Itachi, Uchiha Itachi.
"Namikaze?! Tidak mungkin!" kata Sasuke.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Karin.
"Namaku bukan Namikaze, tapi Uzumaki." kata Naruto gugup.
Pandangan Naruto teralih ke arah pin yang di pakai Itachi di kerah jas-nya. Ber-ukirkan kipas. Lambang keluarga Uchiha.
"Nama keluargamu yang sebenarnya adalah Namikaze. Dan ayahmu, Minato-sama adalah pewaris tunggal keluarga besar Namikaze." Kata Itachi lalu mengambil tempat untuk duduk di sebelah kiri Naruto.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak mengerti." Kata Naruto yang mulai berhenti menangis.
"Kakek." Panggil Itachi sambil menoleh ke arah Madara.
"Aku adalah generasi pertama butler untuk keluarga Namikaze. Minato-sama adalah pewaris tunggal keluarga besar Namikaze, seperti yang telah dikatakan Itachi." Kata Madara. Lalu Sasuke duduk si sisi kanan Naruto.
"Keluarga Namikaze adalah keluarga terkaya kedua di dunia." Tambah Sasuke.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya Naruto dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Kau adalah pewaris tunggal yang sah keluarga Namikaze." Jawab Itachi singkat.
"Haaah?" kata semua orang yang mendengarnya kecuali Madara, Itachi dan Sasuke.
'berarti Uzumaki kaya raya?' pikir semua orang itu.
"Ayo... Aku datang untuk menjemputmu. Kakek dan nenekmu menunggu." Kata Itachi sambil berdiri dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Naruto.
"Tidak. Aku mau di sini! Aku takkan meninggalkan tempat ini..." kata Naruto. Itachi mengambil tangannya kembali.
"Baiklah. Tapi, itu takkan membantu. Jika itu memang keputusan Naruto-sama, baiklah. Jadi, anda pergi jika anda sudah siap? Kalau begitu, tolong rawat saya..." kata Itachi sambil membungkuk ke arah Naruto.
"Eh, apa?" tanya Naruto. Itachi terus tersenyum. Naruto sweatdrop.
'apa maksud kakak? Tolong rawat? Seperti bayi saja.' Batin Sasuke.
End of Flazhback
Naruto duduk di ruang makan dengan meja penuh dengan makanan Italia yang menggiurkan.
"Apakah rasanya tidak enak, Naruto-sama?" tanya Itachi sambil membawa buah- buahan.
"Ti... tidak sama sekali! Makanannya benar- benar enak kok!" kata Naruto sambil blushing.
'kalau yang seperti ini, memang tipe-ku...' pikir Naruto sambil memakan buah melon yang di potong menjadi kubus- kubus kecil.
Itachi melihat jam tangannya yang bertengger manis di lengan kiri pemuda tampan itu.
"Ehm... Naruto-sama... Sekolah anda akan masuk 5 menit lagi." Kata Itachi dengan tampang innocent.
"Uhuk uhuk uhuk... Appppaaa?!!" Naruto tersedak dan berteriak.
"Jangan khawatir, saya telah menyiapkan kendaraan untuk anda." Kata Itachi sambil menunjuk mobil sport yang berwarna hitam kinclong.
"Eh? Naik itu?" tanya Naruto sambil menunjuk mobil itu.
"Iya..." jawab Itachi sambil menggendong Naruto.
Di luar mobil...
"Ehm... Apa tidak apa- apa jika aku menaiki mobil mewah ini?" tanya Naruto ragu- ragu.
"Tentu saja tidak apa- apa. Ini memang seharusnya milik anda." Jawab Itachi.
"Oh, iya! Aku belum tahu kau siapa..." kata Naruto sambil mencari tasnya.
"Aku butler Naruto-sama. Itachi, Uchiha Itachi." Kata Itachi sambil memberikan tas Naruto.
Jawaban itu membuat mata biru langit Naruto membulat dan menjatuhkan tasnya.
'Uchiha? Itachi? Sasuke?' pikiran Naruto mulai berjalan tak tentu arah.
To Be Continued...
Pelampiasan!!! Pelampiasan!!! Komputer sialan!!! -nendang keyboard ke Kakuzu-
Kenapa harus terjadi????!!! Kenapa... komputer-ku rusak!! Grrr...
Percuma ah...
Sasuke: udah takdirmu! suruh siapa gue ga jadi butler-nya Naru?
Shaza: ngga!! ga mau! Itu mau gue... gue mau lo yang kesiksa gara-gara liat Itachi sama Naru...
Sasuke: -nangis guling-guling-
Shaza: -sweatdrop-
Naruto: YOSH!!! Review please??
