FF ga jelas dan baru belajar..

Kritik saran diterima karena masih belajar..

..

..

Pertandingan antar kampus dibidang olahraga basket membuat semua penonton ramai tanpa terkecuali pemandu sorak mendukung pemain basket dari kampusnya dengan teriakannya.

"kau akan bersorak untuk siapa Min," goda Baekhyun disampingnya yang menjadi teman di kampus serta team cheerleadernya.

"ya aku bersorak untuk semua pemain baekhyun, jangan terus menggodaku," jawab Minseok dengan bushing di wajahnya.

"pria tinggi itu atau Luhan yang akan kau sebut," Baekhyun makin gencar untuk membuat Minseok tak karuan.

"buat apa aku memikirkan Luhan, cowo playboy tidak punya perasaan yang mudahnya mempermainkan hati wanita," jawab Minseok setengah emosi yang membuat mood nya berubah menjadi buruk saat menyebut nama Luhan.

"ah selalu kau emosi saat ku sebut namanya, dan anehnya cuma kamu yang belum pernah didekati oleh Luhan, aku penasaran," ini membuat Baekhyun semakin penasaran kenapa mereka berdua saling menolak berteman.

"yeeeaaaaay" teriak Minseok saat salah satu pria tinggi disana mencetak poin untuk kampusnya. Dan sebagai pengalihan dari pertanyaan Baekhyun yang tidak mau dia jawab.

Permainan semakin sengit yang membuat sorak para pemandu semakin keras menyemangati para pemain kampus. Kampus Minseok sekarang menjadi tuan rumah untuk pertandingan ini. Pertandingan ini sangat dinantikan oleh banyak warga kampus terlebih para wanita yang rela suaranya habis untuk meneriaki para pemain tampan dan tinggi itu.

Siapa yang tidak suka dengan Sehun, Kai, Chanyeol, Kris, dan si Playboy Luhan. Walau sebagaian pemain itu sudah memliki pacar tapi mereka tidak akan segan tetap berada disana untuk mendapat perhatian pemain itu. Pertandingan dimenangkan oleh kampus Minseok yang sudah jelas mempunyai pemain andalan kampus tanpa harus ada pemain pengganti mereka.

Dan itu saatnya Minseok dan kawan-kawannya pemandu sorak mengerjakan tugasnya untuk kemenangan kampus. Ini yang paling Minseok takutkan menjadi perhatian banyak orang. Tapi hanya satu orang yang membuat Minseok tenang. Tatapan pria itu membuat dia merasa persembahan ini hanya untuk pria itu mengacuhkan semua pria yang menatapnya. Rasa takutnya hilang walau dia berada tingkat paling tinggi di piramida dancenya.

.

.

Dari gadis cantik jelita yang membuat banyak pria memberikan perhatian kepadanya, namun saat di rumah, Minseok hanya gadis manja yang jauh dari kata imut. Hanya mengenakan kaos serta celana pendek yang membuatnya nyaman. Minseok sudah asyik dengan buku yang dia baca.

"Minseok temanmu datang," teriak ibu dari bawah rumahnya. Kamar Minseok berada di lantai atas.

"Iya ibu," saat Minseok akan beranjak untuk membereskan bukunya, namun sang tamu pun dengan lancangnya masuk ke kamarnya.

"omaa, kenapa tidak bilang kalau anak setan yang datang," teriaknya tertuju pada ibunya.

"perkataanmu menyakiti aku Minnie," jawab pria itu dengan aegyonya.

"mau apa kamu disini playboy," tanya Minseok ketus, karna dengan sangat sopannya dia sudah tiduran di paha Minseok. Namun hal itu tidak diprotes oleh Minseok

"kenapa aku tidak boleh ketemu dengan baoziku," jawabnya tanpa rasa bersalah dan mengambil salah satu buku yang ada dikasur Minseok.

"kenapa kau tidak dengan adik kelas kita yang seksi itu kah? Sampai kamu sekarang datang ke rumahku sekarang, you always do this Luge. Aku selalu jadi pelarianmu saat kau putus dengan pacar mainanmu,"

"jangan membuat aku seperti orang jahat Minseok," perkataan Luhan membuat Minseok semakin kesal dan tanpa pikir panjang menyingkirkan kepala Luhan dari pahanya.

"kau selalu membuatku badmood," jawabnya dan melempar bantal ke arah Luhan yang sudah duduk si kasurnya.

"ah, aku suka baozi ku yang tomboy ini bukan Kim Minseok yang fenimin dan sok cantik saat di kampus, ku kira kau akan masuk tim basket wanita tapi kau masuk ke cheerleader," goda Luhan yang dibalas dengan timpukan bantal lagi.

"oh ya, sekarang adalah minseok yang seksi dengan rok pendeknya, untuk ditatap pria tampan itukah, hahahaha" lanjut Luhan

"keluar dari kamarku jika kau hanya menggodaku Luhan," teriak Minseok

"wow, sekarang jadi kucing galak yang disenggol langsung teriak, malu sama novel yang kau baca Minseok. Jadi wanita cantik dan seksi sekarang lah."

"Minseok, bersikaplah yang sopan di depan Luhan, kau wanita sayang" sela kakak Minseok yang sudah didepan pintu kamarnya, yang sudah hafal sifat mereka berdua sejak dari kecil.

"buat apa aku harus bersikap sopan dengan anak yang tidak punya sopan santun masuk kamar seorang gadis, sohee eoni" namun sohee hanya tertawa dengan sikap mereka bedua yang tak pernah akur.

"bukannya kau juga melakukan hal yang sama Minseok, masuk ke kamar laki-laki yang tak tahu malu, sohee noona juga tahu hal itu,"

"sudah-sudah kalian jangan bertengkar, dibawah ada Sehun yang sudah menunggumu, Minseok"

"kenapa eoni tidak bilang daritadiiii, dan aku hanya wasting time dengan playboy cap kadal, dan kau Luhan, jangan sampai turun ke bawah dan bertemu Sehun, tetap di kamarku. aku tidak mau Sehun melihat playboy ada disini," jawab Minseok dengan lari ke depan kaca merapihkan baju dan rambutnya untuk turun kebawah bertemu dengan Sehun.

"kau ditinggalkan Minseok lagi Luhan, hanya untuk pacar barunya Minseok yang sekarang,"

"dia pantas bahagia noona, mendapat pria yang dia cintai dan sebaiknya aku pulang dulu"

"kau mau pulang lewat seperti biasa untuk menghindar dari Sehun," Luhan selalu pulang dari jendela kamar Minseok apabila Sehun datang ke rumah Minseok.

"ne noona," jawab Luhan dan berjalan melewati Sohee, yang sudah dianggap adik sendiri.

"sampai kapan kau akan begini dan diam dengan sikap Minseok," tanya Sohee yang bingung dengan hubungan Luhan dan Minseok...

.

.

"ada gosip baruuu," teriak Baekhyun saat masuk ke dalam kelas yang sudah ada Minseok dan Kyungsoo

"pasti gosip tidak penting yang selalu Baekhyun ceritakan,"saut Minseok

"kau memang tidak akan tertarik dengan gosip ini tapi Kyungsoo pasti penasaran, ya kan Soo?"

"memang gosip apa yang selalu kau bicarakan itu bisa membuatku tertarik Baek, paling hanya tentang anak-anak geng sebelah,"

"ini tentang mantanmu Luhan, dia sekarang dengan anak junior kita yang tinggi itu. Mungkin kau tidak mengenalnya tapi Minseok pasti tahu karena dia juga ada di cheerleader,"

"whaaat," teriak Minseok

"kenapa tembem sekarang kau yang heboh, bukannya kau sudah biasa mendengar Luhan mendekati anak cheerleader, tapi tidak termasuk dirimu" tanya Baekhyun dengan mencubit pipi tembemnya.

"berhenti memanggilku tembem, "jawabnya dengan menajamkan mata kucingnya.

"bukan itu yang membuat aku kaget. tapi Kyungsoo pernah menjadi mantan Luhan, kapan itu terjadi?"

"sudah lama Minseok, saat aku SMA dan sebelum kau pindah ke Seoul. Kenapa kau penasaran sekali Min,"

"tidak, tidak hanya saja aku bingung, kenapa kau mau berpacaran dengan dia yang playboy,"

"saat itu hanya aku pacarnya di SMA, tapi aku mungkin yang terlalu berharap dia bisa mencintaiku dan sepertinya dia mencintai orang lain, yang sampai saat ini aku tidak tahu. Karena selama di SMA dia tidak pernah dekat dengan siswi lain."

Penjelasan Kyungsoo membuat Minseok bingung karena selama Minseok di Busan, Luhan tidak pernah mengatakan bahwa dia memiliki seorang pacar dan Luhan selalu ada saat Minseok memerlukannya tanpa pandang jauh jarak tempuh Seoul dan Busan.

.

.

"Baoziiii," teriak Luhan saat sampai di rumah Minseok, namun sepertinya Luhan salah waktu untuk saat ini berkunjung ke tempat Minseok.

"Luhaaan, kenapa kau disini. Darimana kau tahu aku ada disini. Padahal kau tidak mengenal Minseok eoni sayang," yang disambut Zitao dengan lari kecilnya serta pertanyaan seperti memborbadir Luhan yang sekarang sedang panik dengan jawaban. Sedangkan Baekhyun yang berada di samping Minseok hanya bingung dengan drama baru lain dihadapannya. (bayanginnya Tao sama Luhan di Showtime eps 12 ya)

"bukan Luhan namanya jika tidak bisa tahu keberadaan pacarnya, tidak perlu bertanya bagaimana aku berada disini sayang,"

"ah so sweet," ucap tao dengan merajut di rangkulan tangan Luhan dan menyederkan kepalanya di pundak Luhan.

"huwek" suara kecil Minseok keluar dengan dibuat-buat namun membuat Luhan memicingkan matanya ke arah Minseok.

"tapi kenapa kau memanggil aku Baozi sayang," saat itu juga Minseok tersenyum kemenangan karena Luhan sudah kalah telak dalam hal ini.

"mungkin kau salah dengar sayang, aku memanggilmu Taozi, itu panggilan khusus dari aku sayang," belum sempat Zitao membalas ciutan Luhan tapi..

"ehm" Minseok memecahkan acara kemesrahan Tao dan Luhan di depannya. Luhan sadar karena dia sudah mengganggu akttifitas Minseok, Baekhyun dan Zitao untuk memilih baju cheerleader untuk pertandingan Basketnya yang akan datang. Yang berarti akan perang dengan Minseok.

"sepertinya aku mengganggu acara kalian disini,"

"kau tidak menggangu sayang, kita sedikit lagi selesai. Benarkan eoni?"

"iya Zitao," jawab Baekhyun yang sudah tahu mood Minseok menjadi buruk karena keberadaan Luhan. Entah apa yang terjadi antara mereka berdua sebelumnya yang tidak diketahuin Baekhyun. Karena Luhan dan Minseok seperti anjing dan kucing namun mereka tidak saling mengenal.

"ok sayang kau balik lagi ke tempat Minseok dan Baekhyun sekarang, supaya acaramu ini cepat selesai dan aku mau ke toilet dulu ya,"

Tanpa pikir panjang Luhan langsung ke toilet belakang dekat dapur. Yang itu membuat Baekhyun tambah curiga dari mana dia tahu letak toilet di rumah Minseok. Sedangkan Luhan baru berada di rumah ini.

"Luhan, kenapa kau disini. Sekarang ada teman-temannya Minseok," Sohee menepuk pundak Luhan saat sudah di belakang.

"Noona, kenapa kau membuatku takut, itu masalahnya aku tidak tahu ada mereka. Aku sedang butuh catatan mata kuliah yang sudah Baozi catat tapi aku salah waktu. Dan disana ada pacarku"

"kau yang bodoh kenapa tidak hubungi Minseok dulu sebelum kesini, dan sekarang pacar mainan lagi. Sampai kapan Han kau begini."

Luhan juga berfikir kalo Baekhyun akan curiga dengan Minseok. Nasib sial Luhan yang harus jalan dengan Zitao dan menemai dia belanja setelah pulang dari rumah Minseok.

.

.

Pertandingan ini diadakan di kampus lawan yang merupakan musuh sejak dahulu dari segi pendidikan ataupun olahraga dan mungkin kekerasan. Sehun sangat aktif mengejar ketertinggalan. Luhan memang mengakui bahwa Sehun memiliki banyak kelebihan dari dia. Wajar jika Minseok jatuh cinta dengannya. Namun yang ditakutkan Luhan, takut Minseok terluka mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

Permainan antar 2 kubu semakin sedikit kasar untuk merebut bola. Sedikit gesekan dari masing-masing kubu. Saat Sehun ingin menghalau bola yang terjadi adalah dia dan salah satu anggota tim lawan jatuh. Menyebabkan waktu sempat dihentikan. Minseok dengan cepat lari ke arah Sehun. Belum sampai di tempat Sehun, Luhan sudah menghadang Minseok agar tidak ke tengah lapangan.

"mau apa kau kesana?"tanya Luhan dengan penegasan.

"aku ingin melihat keadaan Sehun, Lu"

"dengarkan kataku, jangan gegabah untuk mengambil tindakan. Ini bukan kampusmu dan kau tidak punya wewenang untuk berada di tengah lapangan. Sudah ada para medis yang mengurus mereka. Kembali ke posisimu. Aku akan mengabarimu. Mengerti?" penjelasan Luhan membuat Minseok paham dengan situasi yang terjadi disana.

"Ok Lu," Minseok kembali ke posisi untuk siap pada akhir acara memberi semangat tim kampusnya.

"apa kata Luhan," tanya Baekhyun saat Minseok sudah berada disampingnya.

"dia akan mengabariku untuk kondisi Sehun yang selanjutnya." Selanjutnya Minseok hanya diam dan menjalankan tugasnya. Kemenangan diperoleh kampus Minseok, namun yang di dalam pikiran Minseok adalah yang harus pulang lebih awal karena adanya cidera di kakinya. Minseok sangat kecewa tidak bisa berada di samping Sehun saat cidera di kakinya.

.

.

Semua anak bersiap untuk pulang, para member cheerleader dan basket sedang berganti pakaian dan selanjutnya pulang bersama dalam 1 bis. Pikiran Minseok masih kosong, sedangkan Sehun sejak selesai mendapatkan kabar bagaimana keadaannya. Luhan pun tidak memberikan kabar terakhir tentang Sehun.

Saat semua memasuki bis yang sudah disediakan, Minseok tersadar bahwa handphone nya tertinggal di ruang ganti saat di ingin mengecek keadaan Sehun dan lupa untuk memasukan kembali ke tasnya.

"baekhyun, handphone ku tertinggal di ruang ganti, tolong katakana ke yang lain untuk tunggu aku. Hanya sebentar." Minseok langsung bergegas lari ke arah ruang ganti,

"kamu yakin tidak aku temani," baekhyun teriak dari pintu bis, namun hanya di balas dengan lampaian tangan Minseok yang sudah jauh meninggalkan Bis.

.

.

Sudah berapa tempat di ruang ganti sudah Minseok lihat, hingga melihat ke bawah lemari serta bangku namun hasilnya nihil. Minseok semakin dengan suasana di ruang ganti karena terlalu sepi.

"aku ingat sekali tadi aku ganti baju daerah sini, tapi kenapa tidak ada," dia terlalu berlari kesana sini untuk mengecek ulang semua ruangan.

"kamu mencari ini cantik," tanya salah satu pria yang sudah menggenggam handphone Minseok.

"kembalikan handphone," setengah berteriak untuk mempertahankan bahwa Minseok bukan wanita yang lemah.

"tidak semudah itu sayang, apalagi setelah tahu kau adalah pacar dari Ooh Sehun. Anak sombong dari kampusmu yang merasa paling hebat. Dan kau tahu sayang kalo banyak yang membenci dia dengan tingkahnya," dua pria itu berjalan ke arah Minseok, yang secara tidak langsung Minseok melangkah mundur.

"hentikan, jangan kesini, atau aku akan berteriak,"

"berteriak lah sayang, yang sangat kesar. Dan kau tahu apa, mereka tidak akan mendengar suaramu. Hahaha"

"sepertinya balas dendam ke Sehun melalui dirimu itu lebih mudah, sayang"

Minseok langsung lari kearah pintu ruang ganti namun sudah ada teman laki-laki itu. Ya Minseok sudah dikeliling 2 laki-laki itu.

"apa yang harus kita lakukan pada gadis kesayangan Sehun ini," tanya pria tinggi itu

"kita bersenang-senang dulu lah, biar Sehun tahu rasanya melihat orang yang disayangi terluka,"

Minseok bukan wanita yang lemah dia langsung melempar tasnya ke arah kedua pria itu namun tetap saja kekuatan dia tidak seberapa walau dia sudah terbiasa latihan fisik. Minseok lari ke arah lain untuk mengambil benda tumpul yang bisa memukul mereka. Namun sayang larinya Minseok tidak secepat dua pria yang sudah menghadang Minseok ke arah logistik alat-alat olahraga.

Minseok sudah di pegang dua orang tersebut. Dengan cepat Minseok menendak kakinya kearah barang berharga pria tersebut. Pria yang lebih pendek menampar Minseok karena kelakukan Minseok yang tidak bisa dikendalikan. Minseok langsung tersungkur di bawah

"oh sayangku, kau mau bermain kasarkah? Ayo kita lakukan." Dia berjalan ke arah Minseok yang sudah berada di lantai.

"tolong hentikan, jangan lakukan, ku mohon." Minseok sudah kehabisan cara membuatnya frustasi dan takut. Saat dia mencoba lari kakinya dihadang dan membuatnya jatoh ke arah pinggiran meja. Minseok terluka di bagian keningnya namun dia tidak sadar. Jelang berapa detik salah satu pria itu pun terjatuh di depan Minseok.

Ya ada Luhan sudah ada di belakang memukul pria itu. Minseok sedikit lega dengan keadaan sekarang namun keadaan Minseok sudah setengah sadarkan diri. Luhan terus menerus menyerang 2 orang itu dan sudah babak belur.

"apa yang kau lakukan pada Minseok, Jin" tanya Luhan dengan emosi, dia merasa terluka melihat Minseok.

"kau membela Minseok Luhan, kau tidak salah dengan ini. Seharusnya kau membencinya bukan."

"apabila kau menyakiti Minseok, aku tidak akan segan menghancurkan kalian berdua."

"Luhan, daraaaaaaaaah," teriak Minseok dan langsung tak sadarkan diri.

.

.

Minseok merasakan badannya sangat sakit karena pukulan dari para anak-anak itu serta kepalanya yang sakit akibat benturan. Merasa lega karena sekarang dia berada di kamarnya, ya Luhan sudah menyelamatkannya. Sekitar melihat sekelilingnya, Minseok sadar bahwa yang berada disana bukan Luhan tapi Sehun. Sehun sedang menunggunya dengan memainkan handphone yang ada.

"Sehun, kamu disini?"tanya Minseok lalu duduk dan bersandar pada kepala ranjang.

"aku langsung kesini setelah dapat kabar dari anak-anak. Maafkan aku tidak ada di sampingmu"

"ehm.. dimana Luhan?" Minseok tidak konsen dengan jawaban Sehun, karena Minseok jujur khawatir dengan keadaan Luhan yang tadi lawan 2 orang langsung.

"saat aku kesini, aku tidak melihat Luhan, aku juga belum berterima kasih kepadanya,"

"tidak perlu Hun, bagaimana dengan kakimu, hanya cidera kecil," Minseok hanya tidak bisa berfikir jernih tentang apa yang terjadi dengan Sehun, dan kenapa mereka bilang ingin balas dendam ke Sehun lewat Minseok.

.

.

Saat malam bersama Sehun, Minseok tetap merasa tidak nyaman. Dia terus menghubungi Luhan tapi hasilnya nihil. Luhan sama sekali tidak menjawab teleponnya atau membalas chatnya. Minseok tetap datang ke kampus, karena hanya luka kecil saja dikepala dan beberapa memar di tangan serta kakinya. Dia tidak mempermasalahkan anak dari kampus lain itu menyerang. Apakah mereka mendapat hukuman atau tidak, Minseok tidak perduli dan tidak mau perduli. Di pikirannya hanya Luhan dan keadaannya, karena Minseok melihat perkelahiannya cukup seram menurutnya. Saat di kampus, banyak anak-anak yang melihatnya seperti barang baru, sangat membuatnya risih.

"Minseok bagaimana keadaanmu?" tanya Baekhyun seperti mengagetkannya.

"apa kamu lihat Luhan hari ini,"

"bukan jawab pertanyaan aku, kamu malah menanyakan Luhan, ada hubungan apa kalian berdua," Baekhyun sudah tidak suka dengan ketertutupan Minseok selama ini tentang Luhan.

Saat Minseok mau menjawab pertanyaan Baekhyun, banyak mahasiswa yang berteriak tentang Luhan dan Sehun yang berada di Lapangan. Minseok yang bingung dengan kepanikan mahasiswa lain. Minseok tanpa memikirkan luka langsung lari ke arah lapangan. Disana ada Luhan dan Sehun berdiri berhadapan, tidak ada orang sekeliling yang mendekat.

"ada apa dengan kalian berdua, membuat masalah ah. Satu kampus heboh karena kalian berdua," Minseok sudah mengomel seperti Ibu yang memarahi anaknya bertengkar.

"tidak apa-apa sayang, aku hanya berterima kasih dengan Luhan karena telah menolongmu kemarin saat aku tidak disampingmu," jawabnya dan langsung merangkulnya.

"kenapa kau menghiraukanku, chatku tidak kau balas dan aku telepon kenapa tidak kau angkat," ya Minseok menghiraukan Sehun ada disampingnya. Minseok melupakan janjinya yang tidak saling mengenal saat di kampus namun sekarang dia yang membongkar di depan Sehun serta mahasiswa lain yang berada disana.

"aku hanya ingin beristirahat Minseok, aku pergi dulu," Luhan sudah tidak nyaman dengan keadaan sekarang semua melihatnya seperti perusak hubungan orang. Namun, Minseok menariknya dan melepaskan tangan Sehun.

"kenapa kau membuat aku kuatir Luhan, kenapa tidak memberikan kabar tentang keadaanmu," Minseok menarik serta memeluk Luhannya. Tidak hanya Sehun yang kaget tentang kejadian dihadapannya tapi Luhan serta penghuni yang ada disekitarnya. Karena selama ini Minseok tidak mengenal dekat Luhan atau sebaliknya.

"Minseok, aku tidak apa-apa. Ku mohon liat sekitarmu dan pacarmu. Ini akan membuat semuanya canggung," jawab Luhan setengah berbisik untuk menyadarkan keadaan yang sekarang. Luhan makin yakin bahwa dia akan dituduh sebagai perusak hubungan orang.

"maafkan aku Luhan membuatmu terluka, sebaiknya aku pergi," Minseok akhirnya sadar tentang keadaan dan sudah tidak memperdulikan penghuni di daerah lapangan serta Sehun sekaligus. Karena dia langsung lari entah ke arah mana, yang jelas menjauh dari tempat itu.

.

.

"kenapa kau melakukan hal yang bodoh, jawab pertanyaanku," yang Baekhyun serta Kyungsoo dari meneror Minseok yang bingung dengan keadaan di lapangan tadi. Seperti hanya Luhan dan Minseok keadaan yang ada disana.

"Baekhyun serta Kyungsoo sayang, aku sedang sakit. Tapi kalian seperti tidak melihat keadaanku."

"selama ini kau tidak mengenal, dan sekarang kau seperti takut dengan keadaan Luhan." Tanya Kyungsoo yang selama ini tidak tertarik dengan kehidupan Luhan lagi setelah putus dengannya.

"wajarlah kalau aku takut dengan keadaan Luhan, karena dia yang menolongku kemarin. Dan keadaannya hanya aku dan Luhan yang tahu jadi aku takut dia terluka parah. But wait, kenapa kalian tadi panik saat Sehun dan Luhan berada di lapangan." Tanya Minseok dengan penasaran secara mengalihkan pembicaraan mereka.

"kita tidak ada yang tahu, apa yang terjadi dengan mereka. Yang pasti sejak SMA mereka sudah bermusuhan. Kita tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Hanya mereka yang tahu. Dan kita tadi takut mereka berkelahi lagi." Penjelasan Baekhyun membuat Minseok kaget.

"dan karena itu tindakan kamu dilapangan membuat kami takut mereka akan tambah bermusuhan. Sehun sangat mencintaimu terlihat caranya saat bersamamu. Ini sangat berbeda dengan pacar-pacarnya sebelumnya." Lanjut Kyungsoo yang sontak membuat dia takut dengan kejadian yang buruk.

Selama mata kuliah, dia sama sekali tidak mendengarkan dengan baik serta pikirannya tidak berada di kampus. Dia merasa bersalah dengan semua hal yang dilakukan ke Sehun dan Luhan.

.

.

Mata kuliahnya sudah selesai semua namun yang dilihat adalah keributan yang dilapangan. Kejadian yang Minseok takutkan benar-benar terjadi. Entah asal mulanya bagaimana yang pasti sekarang Sehun dan Luhan sudah berada dalam perkelahian hebat. Minseok takut berada untuk berada disana tapi dia harus melakukan untuk menghentikan perkelahian itu.

"Stoooooop," teriak Minseok saat dia sudah mendekat di pusat perhatian para penghuni kampus. Mereka tidak akan melakukan penghentian terhadap perkelahian diantara 2 orang yang bisa dibilang berpengaruh di kampus.

Suara Minseok pun tidak dihiraukan oleh dua orang tersebut. Ya mereka sudah babak belur dengan saling hatam tersebut.

"ku mohon hentikan," teriak Minseok kembali lebih keras, saat Minseok mendekat, yang terjadi Minseok terdorong oleh kedua orang itu.

"daraaaaah," teriak Minseok sambil menutup telinganya dan menangis sangat keraas. Saat itu Luhan sadar apa yang terjadi namun terlambat Minseok sudah pingsan. Dengan cepat Luhan langsung berlari kearah Minseok dan menggendongnya. Luhan tahu ini tidak boleh terjadi. Psikis Minseok sangat lemah.

.

.

Luhan merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepadamu. Kalau bukan karena keegoisan dia dalam menahan amarah, Minseok tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Orang tua Minseok menyadari ini bukan salah Luhan, Luhan sudah menjaga Minseok selama di kampus.

Minseok sebelumnya tidak mau satu kampus bersama dengan Luhan, dia lebih memilih berada di kampus lain. Minseok tahu, Luhan akan super protektif menjaganya karena psikis Minseok yang masih tidak stabil. Orang tua Minseok juga mempercayai Luhan untuk menjaganya dikampus. Dan akhirnya mereka membuat perjanjian, bahwa Luhan tidak boleh saling mengenal tapi Luhan bisa mengawasinya dari jarak jauh. Dan itu merupakan kesalahan terbesar menurut Luhan, karena dari situ Luhan tidak bisa melarangnya dekat dengan Sehun.

"sudah siuman tuan putri," tanya Luhan saat Minseok sudah menggeliat di kasur.

"kenapa tuan putri selalu ceroboh mendekati hal yang berbahaya, selalu pengawal ini yang selalu mencoba menjagamu" Luhan coba mengalihkan pikiran Minseok.

"bagaimana dengan lukamu Lu," Minseok benar-benar takut terjadi yang buruk dan tidak memperdulikan tentang diri sendiri

"hanya luka kecil untuk seorang pengawal, sekarang sebaiknya kau beristirahat,"

"Minseok, boleh aku masuk." Sehun berada di ambang pintu

"ok sepertinya sang pangeran sudah datang, pengawalmu ini harus pergi tuan putri, karena pangeran datang akan menjagamu," Minseok tidak menjawab pertanyaan Sehun atau pernyataan Luhan, karena sekarang dia bingung dengan hati serta keadaan disini.

"salam untuk noonamu, aku menunggu dia putus dengan pacarnya," setelah itu hanya ada kecanggungan antara Sehun dan Minseok. Sunyi dan tak bersuara satu sama lain. Walau sekarang sudah duduk disamping tempat tidur Minseok.

"bagaimana keadaanmu Minseok, maafkan aku tentang kejadian tadi dikampus,"

"tidak apa-apa, aku yang terlalu bodoh berada di antara kalian. Seharusnya aku tidak mendekatimu saat itu Hun," Sehun sangat bingung dengan pernyataan Minseok seperti mengisyaratkan sesuatu.

.

.

Keadaannya masih kurang sehat, tapi Minseok sudah nekat menyetir malam-malam dengan kecepatan tinggi. Dia telah melakukan kesalahan sejak awal, dan dia tidak menyadari hal itu. Minseok sudah salah mengambil keputusan serta sudah mengecawakan Luhan. Dia langsung memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Luhan. Berlari masuk ke rumah Luhan tanpa permisi.

"ibu dimana Luhan berada?" tanya Minseok dengan terburu-buru. Belum sempat Ibu Luhan menjawab pernyataannya, Minseok sudah berlari ke arah kamar Luhan tanpa meminta ijin.

Pintu kamarnya memang tidak pernah dikunci, Minseok sudah mengerti kebiasaan Luhan. Tapi Luhan tidak ada di kamarnya, saat ingin meninggalkan kamar itu Minseok melihat pintu lemari pakaian terbuka membuatnya penasaran.

Saat membuka lemari pakaian Luhan, Minseok benar-benar terkejut dengan isi didalam dinding pintu lemari bagian dalamnya. Selama ini Luhan menyembunyikan ini dari dia. Bertapa sesak hati Minseok saat melihat ini dan membuat dia tambah bersalah dengan sikap dia selama ini kepada Luhan.

Minseok langsung berlari ke bawah dan bertemu dengan ibu Luhan.

"Ibu, maafkan aku yang tidak sopan, tolong jelaskan dimana Luhan," tanyanya panik dan sudah menitikan air mata karena kesalahan yang telah ia buat terhadap Luhan.

"sekarang Luhan ada di bandara, Ibu tidak tahu dia mau kemana dan dengan siapa,"

"terima kasih Ibu," sikap ceroboh Minseok selalu begitu, terburu-buru dan panikan. Minseok takut Luhan meninggalkan Minseok.

.

.

"ibuuuu, dimana aku, tolong aku." Minseok takut sekarang di ruangan yang dia tidak kenal.

"ssttt, sayang jangan kuatir Ibu berada disini," Ibunya mencoba menenangkan Minseok, tapi tidak berpengaruh, sekarang Minseok tambah merancau karena sesuatu yang terjadi padanya sepertinya sangat buruk. Kakinya tidak bisa digerakan, dia merasa mati rasa.

"Ibu kenapa dengan kakiku, tolong jelaskan," Minseok berteriak dengan tangisnya yang tidak bisa ditahannya.

"kakimu lumpuh saat kecelakaan itu terjadi, ibu yakin itu akan segera sembuh sayang," Ibu Minseok tidak bisa menahan air matanya. Anak yang dicintainya mengalami masa sulitnya untuk kedua kalinya. Suara berlari dari luar terdengar, Luhan berada disana untuk Minseok. Dan berjalan memeluk Minseok untuk menenangkannya.

"sstt, tenang Minseok, aku berada disini,"

"Luhan, kaki tidak bisa bergerak, aku lumpuh," Minseok sudah menangis sangat keras membuat ibu tercabik-cabik, ibunya memberikan ruang kepada Minseok dan Luhan untuk saling menenangkan.

"tenang baoziku, kita akan berlatih berjalan, aku yakin kamu akan cepat berjalan," Luhan sebenarnya sudah menitikan air mata namun ia tahan agar Minseok tidak merasa tercabik.

.

.

Beberapa hari Minseok berada di rumah sakit dan dia tidak mau dijenguk oleh orang lain kecuali keluarganya dan Luhan. Minseok masih shock dengan keadaannya yang lumpuh. Minseok mengalami kecelakaan saat ingin mengejar Luhan yang entah ingin kemana. semua temannya ingin menjenguk namun saat sampai tempat tujuan, Minseok akan menolak siapapun melihatnya. Dokter pun menyetujui hal tersebut untuk memperbaiki mental Minseok. Semua temannya mengetahui keadaan terupdate dari Luhan. Mereka kaget karena selama ini Minseok dan Luhan bersahabat sejak kecil.

Semua kembali seperti semula, Minseok berada di rumah dan sekarang adalah hari pertamanya kuliah dengan kursi roda.

"aku takut Luhan, mereka akan mencibirku. Mereka tidak suka dengan keadaanku yang sekarang."

"baozi, ingat ini hanya sementara. Kau akan terus berlatih dan bisa berjalan serta menjadi anggota cheerleader lagi. fighting"

"ne" Minseok masih takut dan malu dengan keadaannya, karena selama ini selalu menyusahkan Luhan.

Perjalanan menjadi canggung, Minseok dan Luhan hanya diam sampai kampus. Luhan terlebih dahulu menurunkan kursi roda Minseok lalu menggendong Minseok untuk duduk di kursi roda. Beberapa anak memperhatikan namun mencoba menghiraukan.

"Minseok ku, akhirnya kamu masuk juga, kita kangen kamu. Tidak ada lagi gadis pendek yang bawel dan gembul saat kita kumpul hal itu membuat kita kesepian," Minseok tahu bahwa Baekhyun mencoba tidak membahas kejadian serta keadaannya sekarang tapi percuma Minseok masih trauma.

"ok, jangan panggil aku gembul Baekkie," Minseok mencoba mencairkan suasana disana agar temannya tidak merasa canggung.

"bagaimana kita tidak memanggil kau gembul, sekarang kau melakukannya untuk terlihat gembul, hahahaha" ya mereka tertawa namun mereka juga tahu bahwa itu semua tawa palsu untuk saling menguatkan masing-masing

"sudah-sudah kalian berdua selalu berisik. Lebih baik kita ke kelas. Pengawal antar tuan putri kita ini ke kelas." Mereka tertawa lagi karena sikap kyungsoo yang sangat terlihat dibuat-buat.

"minseok, boleh aku berbicara padamu hanya berdua," Sehun menyela saat mereka berempat menuju kelas Minseok.

"ok, sebaiknya kita harus pergi Minseok," ucap Luhan memecahkan pikiran Baekhyun dan Kyungsoo. Dua gadis mungil itu sudah berjalan pergi. saat Luhan ingin menjauh, tangan Minseok menahan Luhan untuk tetap tinggal.

"kau mau bicara apa Sehun, Luhan akan tetap disini menemani kita," Minseok mencoba menegaskan ucapannya, sedangkan Luhan dan Sehun saling pandang lalu menyetujui perkataan Minseok.

"aku ingin kita kembali seperti semula Minseok, aku tidak sanggup putus denganmu," Luhan seperti tersambar di siang petir mendengar perkataan Sehun. Karena selama Luhan menemani dan merawatnya, Minseok tidak pernah bercerita tentang putus dengan Sehun.

"maaf Sehun, seperti aku tidak bisa kembali lagi kepadamu, Luhan bantu aku ke kelas," Minseok mencoba tidak menatap mata Sehun, karena dihati masih tersisa kepingan cinta untuk Sehun.

"Minseok tunggu, dengarkan penjelasanku," Sehun berlari mengejar Luhan dan Minseok.

"Sehun tolong beri Minseok waktu untuk menenangkan diri," Luhan mencoba mengerti keadaan yg rumit diantara mereka. Sehun mencoba berdamai dengan Luhan untuk hal ini. Karena yang mengenal lebih dekat Minseok adalah Luhan. Sehun harus menerima kenyataan bahwa dia sudah kalah start dari Luhan.

Minseok hanya menunduk dan terdiam selama perjalanan dan tanpa sadar menitikan air mata. Dia takut dengan tatapan orang-orang terhadapnya.

"kenapa kita berada disini Luhan," Minseok tidak tersadar dibawah Luhan ke taman kampus dan sekarang kepala Luhan sudah berada di paha Minseok.

"apa yang kau rahasiakan dariku, kenapa kau tidak menceritakan putus dengan Sehun dan sekarang kau menangis. Menyesal putus dengannya?" Luhan benar-benar penasaran dengan isi kepala wanita mungil ini.

"kau sedang bertanya kepadaku atau interogasi seperti polisi," jawabnya MInseok sambil menyela air matanya.

"ya sudah jawab 1 1 saja"

"aku tidak pernah merahasiakan apa-apa darimu, ternyata kamu yang merahasiakan sesuatu dari," Minseok sudah sedikit tenang dan sekarang mulai cerewet.

"lalu apa itu putus dengan Sehun, kalo bukan merahasiakan. Aku tidak pernah merahasiakan apa-apa darimu,"

"lalu apa itu yang berada di balik pintu lemari pakaianmu,"

"kau melihatnya," saat ini Luhan yang kaget karena Minseok mengetahui rahasianya.

"kenapa kau tidak cerita, kenapa berbohong padaku dan membuatku merasa bersalah," minseok sudah menangis karena kelakuannya yang bodoh.

"kau sudah melihat dan membaca semua yang ada disana, dan sekarang kau sudah mengerti perasaanku, aku tahu ini adalah masa sulitmu." Yang dibalas dengan anggukan kepalanya.

"tapi aku ingin kau tahu, bahwa sejak dahulu, aku tidak pernah berhenti mencintaimu sedikitpun. Aku tidak meminta jawaban sekarang atau kapanpun. Karena tidak berharap kau membalasnya. Yang aku tahu kau mencintai Sehun," Luhan sudah berdiri dan memeluk Minseok.

Minseok masih menangis dan Luhan coba untuk menenangkannya.

"kenapa kau tidak menceritakan itu kepadaku. Kenapa kau sangat bodoh merahasiakan ini," Minseok menangis sambil memukul badan Luhan. Minseok sudah tidak perduli dengan penghuni taman disana. Minseok hanya butuh penjelasan.

"selama ini kau selalu percaya dengan dongeng kita bahwa pangeran akan datang menjemputmu dan tugasku akan selesai. Dan kau selalu bilang bahwa saat pangeran datang, kau tidak akan merepotkanku, dari situ aku takut bahwa kau akan menjauh dariku saat kau tahu. Kau hanya menganggap aku hanya seorang pengawal yang menjagamu." Rasanya sakit saat Luhan menjelaskan itu, Minseok tersadar bahwa Luhan yang selama ini berada disampingnya.

"aku yang buta atas cintamu, aku yang salah akan hal itu. Dan sekarang aku yakin saat aku kecil, aku duduk diatas kuda, disitu bukan tuan putri dengan pengawalnya tapi dengan pangerannya." Luhan ingat betul maksudnya, saat kecil Minseok duduk diatas kuda bersama anak laki-laki yaitu Luhan.

"Minseok, apa maksudmu?" minseok hanya memukul badan Luhan yang merasa kesal karena ketidakpekaannya.

"kenapa kau bodoh sekali Lugeee, aku kesal padamu. Aku mencintaimu Luhaaan." Luhan masih terpaku dan mencerna ucapan Minseok.

"aku juga mencintaimu," Luhan langsung menggendong Minseok dan memutarnya

"kenapa kau bodoh sekali, ini akan pusing Luhan. Dan sekarang kita jadi pusat perhatian. Mereka melihat kita seperti orang aneh, tolong hentikan Luge," Minseok juga merasakan hal yang sama dengan Luhan, sangat bahagia.

Selama ini Minseok menutup diri dari orang luar untuk memikirkan yang terbaik untuknya. Hari ini Minseok sudah memutuskan yang dipilihnya adalah yang terbaik. Mahasiswa semua melihat kehebohan yang Luhan buat termasuk Baekhyun, Kyungsoo serta Sehun.

Sehun melihatnya kebahagiaan Minseok yang terlihat nyata.

Luhan berjanji dalam hati akan selalu membahagiakan Minseok. Cukup 2 kali Minseok dan Luhan merasakan penderitaan ini. Luhan akan mendukung hingga dia bisa berjalan lagi.

THE END