Hallo minna-san, ini fanfic pertama aku loh..

yoroshiku onegai shimasu...

Disclaimer : saya minjem karakternya kishimoto sensei

Typo(s), Humor Gaje, OOC berlebihan, AU

RnR please

Cuaca kali ini terasa begitu menyengat dikulit. Sinar matahari yang begitu terik terasa melengkapi kesan melelahkan bagi penduduk konoha yang beraktifitas di luar ruangan.

Tidak terkecuali si gadis berkacamata yang pulang dari akademi ninja di kota tersebut. Gadis itu berjalan dengan suntuk seakan tidak memiliki semangat untuk bertahan hidup.

Langkah kaki menuntun dirinya memasuki kediaman keluarga kecilnya.

"Tadaima.." Kata gadis itu sambil membuka sepatunya.

"Okaeri Sarada-chan." Wanita berambut sewarna permen kapas tersebut menyambut kedatangan putri ABG nya.

"Ne, mama, papah belum pulang?" Gadis itu mendekati ibunya.

"Sabar, Sarada chan. Papah pasti akan pulang setelah misinya selesai."Elusan lembut terasa di dahi gadis berkacamata.

Gadis itu langsung memasuki kamarnya. Kenyataan bahwa ayahnya belum pulang dari misi membuatnya semakin bad mood.

Dia berbaring di kasurnya sambil menatap langit - langit. Pikirannya melayang teringat akan kejadian di akademi.

*

flashback

"Sarada, kenapa dari tadi kau memperhatikan shikadai terus?"kata si bongsor Chou-chou.

"Etoo... aku heran saja kenapa rambutnya bisa mencuat melawan gaya grafitasi begitu." Katanya, semburat merah bertengger di pipi gadis itu.

'huh, memang sih rambut shikadai aneh, tapi jika dibandingkan gaya rambut sasuke jisan yang menduplikat pantat ayam... uhhh rambut shikadai masih wajar.' kata Chou-chou dalam hati.

Tiba-tiba cowok berambut pirang datang dan nimbrung bersama dua gadis tersebut.

"Oi sarada! rambut shikadai itu memang sudah genetik berbentuk macam nanas begitu, diturunkan oleh shikamaru jisan. sama seperti rambut pantat bebek milikmu yang diturunkan oleh sas..."

pletak* satu jitakan mendarat di dahi remaja laki-laki tersebut.

"Jaga bicaramu, pucat." Chou-chou bicara sambil mengunyah kripik kentangnya, alhasil air liurnya muncrat kemana-mana.

"Jaga badanmu, Gendut. Kau akan jadi perawan tua seperti anko sensei kalau badanmu tatap seperti bass betot." Inojin berlalu pergi.

"Sarada, jangan dipikirkan. Si pucat itu memang menuruni kata-kata pedas dari Sai jisan."

"hn." sarada kembali melamun.

Flashback off

*

"Sarada... Tabe yo!" Kata Sakura yang memanggil anaknya, dengan volume bagaikan berbisara dengan orang diseberang laut, padahal anaknya hanya diseberang pintu.

"hai hai." Katanya ogah-ogahan.

"Nande, Sarada?" Sakura duduk di sebelah sarada.

"Mama, Apa rambut papa juga seperti milikku?" Tanyanya sambil menatap mata ibunya. Emerald dan onyx bersitatap.

'eh, rambut sasuke-kun yah, memang aneh sih, tapi... uh... seksinya.' tanpa sadar Sakura melamunkan suaminya yang berada di alam lain, *coret* dimensi lain maksudnya.

" Mama... jangan melamun" Sarada menggerakkan tangannya di depan muka Sakura.

"Eto... Rambut yah? Rambut Sarada-can memang mirip dengan rambut papa." Sakura tersenyum.

"Mirip pantat bebek, yah." Sarada manyun, Sakura sweatdrop, Author menganga tak percaya. Karena percaya dengan selain Tuhan itu dosa. (*plak* digampar readers)

"Iie, Iie... " Sakura panik melihat putri cantiknya manyun.

(please deh, cukup rambutnya aja yang mirip pantat bebek, bibirnya jangan mirip bebek juga dong.)

"Aku ingin rambut yang cantik seperti mama." Kata Sarada sambil menelus surai merah muda milik mamanya.

" Sarada chan, sudah cantik kok." Sakura tersenyum. Sarada juga tersenyum.

Padahal dalam hati sakura berkata

'Itu yang terbaik untukmu, nak. Wajah duplikat ayahmu memang cocok dipadukan dengan rambut mirip ayahmu.'

Sakura bergidik ngeri membayangkan jika Sarada yang wajahnya mirip Sasuke, mewarisi rambut miliknya. Bisa dibayangkan hari-harinya dilalui dengan senyum geli melihat sasuke versi wanita dan berambut pink.Jangan lupakan bulu mata lentiknya.

Euh... nggak seksi chin...*

*

Gadis itu duduk termenung di tepi danau tempat Ia biasa berlatih ninjutsu maupun taijutsu. Pikirannya melayang, memikirkan anak dari mantan anbu Root yang mengatai rambutnya mirip pantat ayam.

Tiada satu orang pun yang tau bahwa dirinya juga kurang menyukai (baca : amat tertekan) memiliki rambut yang bisa dibilang aneh dibagian ujungnya. Ribuan cara telah dilakukannya untuk mengatasi masalah yang menurutnya semakin pelik ketika usianya bertambah.

'Mana ada cowok yang naksir aku kalo rambutku mirip sama pantat donald bebek.' atau 'Kami-sama apa para cowok menjauhiku karena rambutku yang aneh begini' adalah kalimat yang sering terucap kala dirinya frustrasi.

#padahal dia tidak tau, bukan rambut yang halus yang diidamkan oleh laki-laki melainkan tutur kata dan sikap yang halus. Sayangnya Sasuke menikagi Sakura hingga terbentuklah sarada yang berkepribadian macam singa betina#

plak* digampar mamih sakura :p

kembali lagi ke persoalan Sarada dan rambut pantat bebeknya. Berbagai cara telah gadis itu lakukan untuk mengatasi ujung rambutnya yang membentuk sesuatu yang tak wajar yang tidak seharusnya bertengger di kepala manusia bergender wanita.

Dulunya, gadis itu memiliki rambut yang agak panjang sama seperti ibunya. Tapi saat ibunya memotong rambut menjadi pendek, Sarada menyesali perbuatannya. Sakura pun berteriak dalam hati "Oh putriku, ada apa dengan rambut cantikmu" Hanya teriakan dalam hati karena Sakura tidak ingin menghancurkan hati anak semata wayangnya.

Lalu masih teringat kenangan musim semi tahun lalu ketika ia menghadiri festival bersama ibunya, bibi Hinata dan Himawari. Sarada yang terkagum-kagum melihat rambut Hinata yang walaupun pendek namun jatuh sempurna, hitam, lebat, halus, dan berkilau menanyakan perawatan apa saja yang telah dilakukan wanita dua anak tersebut. Besoknya ia membeli serangkaian produk perawatan rambut yang dipakai Hinata. Namun, miris.

'Iya sih rambutnya menjadi lebih baik udah nggak kayak pantat bebek lagi , tapi nggak kayak rambutnya medusa juga kali...' Ujar komentar sakura dalam hati yang dibaca Sarada dari senyum kecutnya.

Tak kalah ide, gadis itu sempat melakukan cara lain. Rambutnya yang sulit diatur memang mirip tekstur rambutnya Temari, istri dari penasehat Hokage. Akhirnya ia pun berangkat ke Akademi dengan meniru gaya rambut Temari yang dikuncir.

Hasilnya...

mencengangkan kawan. Dari belakang, Bisa saja orang memanggilnya "shikadai" jika saja dia tidak memakai pakaian berlambang uchiha. Dia ingat betul waktu itu,

Chou-Chou berkomentar...

"wah... Sarada, apakah gosip yang beredar itu benar? Kau menyukai Si Rusa itu kan, sampai meniru gaya rambut khas Nara."

'maksud Hati meniru bibi temari, apa daya malah terlihat seperti paman shikamaru.' Sarada gigit jari.

Saat ini dirinya berpikir keras.

"Apa ia harus memotong rambutnya menjadi pendek seperti Wasabi saja, yah?" katanya pelan sambil memandang air danau yang kehijauan.

"Ah... tidak, tidak. Tekstur rambutku kan beda dengannya. Nanti pasti akan mencuat. Bukannya mirip Wasabi, malah jadi mirip nanadaime Hokage, ayahnya Boruto no Baka. kan nggak lucu." Dia melempar batu, dan riak air mulai terbentuk.

"Ah, aku tau. Apa aku panjangkan lalu aku kepang seperti Sumira saja yah." dia berpikir sejenak.

"Uh... bagus sih. Tapi itu butuh waktu yang lama sekali." Dia cemberut.

"Yang aku butuhkan adalah perawatan rambut yang instant dan dapat membut rambutku, halus,lurus, seperti... seperti...

seperti...

Ah iya! Bibi Ino! " gadis itu mendapatkan ide.

"Mama pernah pergi untuk mengantar bibi Ino ke salon. Kalau tidak salah rambut bibi Ino itu di 'smoothing'." Sarada tersenyum.

"Yosh! Sudah kuputuskan, aku akan tanya bibi Ino dimana salon langganannya." Sarada girang, dia berbalik

dan

Membeku.

Astaga, badannya terasa membeku seperti terkena stroke *coret* Jurus kanashibari milik klan Nara. Jantungnya berdegup kencang.

"Mmmittttsuki. sejak ka..pan kau disini."

eh Sejak kapan kau tertular penyakit gagapnya bibi Hinata, Sara-chan???

Mitsuki tersenyum, Rambutnya berkibar diterpa sang angin.

Cuaca cerah, tapi sarada merasa pipinya menghangat dan badannya panas dingin akibat seulas senyum.

"Sejak kau memutuskan mau men 'smoothing' rambutmu, Sarada." Misuki mendekat sampai bau wanginya tercium oleh hidung mancung Sarada.

Makin dekat... makin dekat... makin dekat hingga Sarada takut mitsuki dapat mendengar degup jantungnya, dan melihat butir keringat sebersar biji jagung menetes di dahinya.

Mitsuki berhenti mendekat, Sarada berhenti panik. Namun ketenangan tak berlangsung lama, hingga Mitsuki berbisik ke telinga Sarada

"Jangan di smoothing, Sarada. Belum tentu aku menyukai penampilan barumu nanti, seperti aku memujamu saat ini."

Kata Mitsuki pelan.

sret* sret*sret* Mitsuki berlarian di atas ranting pohon. Meninggalkan Sarada yang terduduk lemas.

Oh... dia tak peduli jika Chou-Chou dan teman lainnya menggosipkannya menyukai Shikadai, atau saat Sumire melayangkan deathglare padanya saat ia 'terlampau akrab' dengan bocah gemblung,Si anak Hokage.

Bahkan rumput yang bergoyangpun tahu kalau dilubuk hatinya yang terdalam, Sarada selalu berharap, suatu saat nanti...

Ayah dan ibunya bisa berbesanan dengan Orochimaru

Akhirnya selesai juga fanfic pertamaku... yeay... yeay... yeay...

Terima kasih buat yang udah baca,

Jangan lupa tinggalkan tanggapannya yah Minna-san