Summary: Inaho sang gitaris jenius, Slaine sang vocalis playboy. Inaho mulai bersikap aneh sejak mereka bergabung dalam band. Slaine juga bersikap aneh sejak memulai hobby baru membaca fanfiction.

Disclaimer: Gen Urobuchi, Katsuhiko Takayama

Genre: Romance, YAOI ALLERT

Rate: T

Pairing: Inaho x Slaine

Warning: OOC, typo eperiwer~~~~ , BL, Yaoi, Absurd, gak nyambung dengan summary, bahasa berantakan

DON'T READ , IF YOU DON'T LIKE STORIES ABOUT BL~~

Best Friend, Boys Friend, Band-and-Fanfiction

(chap 1)

"Sang Vocalis"

Slaine menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang berwarna abu-abu di ruang rias. Mengambil sebotol air mineral dan membasuh ke kepalanya. Asseylum dan Lemrina yang baru masuk beberapa saat setelahnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan vocalis mereka itu. Sementara itu Inaho yang mengambil posisi duduk tepat di samping Slaine meletakkan handuknya yang berwarna orange tepat di kepala Slaine. Dengan kasar Inaho membantu Slaine mengeringkan kepala pria berambut kuning pucat itu –wangi jeruk bercampur citrus menguar dari handuk yang dipegang Inaho– membuat jepitan berbentuk kelelawar yang sering digunakan Slaine saat perform terlepas dari surai-surai kuning halus itu.

"Orenji-iro! Kau ini kasar sekali sih!" Slaine menampik tangan Inaho kasar.

"Kau saja yang bodoh" balas Inaho yang setengah membungkuk mengambil jepitan yang tadi jatuh itu.

"Aku malas membuang-buang suaraku untuk berdebat denganmu"

"Kau kira lenganku tidak lelah membantumu mengeringkan rambutmu?"

"Memangnya aku memintamu membantuku?"

"Kau ini benar-benar tidak tau berterima kasih Baka Bat"

Inaho dan Slaine saling pandang penuh permusuhan. Sebenarnya dulu mereka berdua tidak seperti itu. Mereka berdua adalah tetangga, sejak umur sekitar empat tahun saat Slaine pertama menginjakkan kaki di Jepang Inaho lah teman pertamanya. Umur mereka yang hanya beda satu tahun –dimana Slaine lebih tua satu tahun– dan di area perumahan itu hanya Inaho lah satu-satunya anak yang sebaya dengannya membuat mereka berteman baik. Malah mereka berdua lebih seperti saudara, mereka bahkan tidak pernah saling mengejek. Apa yang menjadi milik Slaine juga menjadi milik Inaho, begitu pula sebaliknya. Namun semua itu berubah sejak negara api menyerang, bukan semua berubah sejak mereka membentuk sebuah band. Band di mana Slaine sebagai vocalis, Inaho pada posisi gitaris, Asseylum pada posisi keyboardis, dan Lemrina pada posisi drummer.

Sebenarnya Inaho dan Slaine hanya bermain berdua, itupun untuk acara festival budaya sekolah mereka. Festival budaya itulah yang menjadi awal dan akhir bagi Inaho dan Slaine. Asseylum dan Lemrina yang merupakan siswa sekolah khusus putri datang berkunjung ke sekolah Inaho dan Slaine karna undangan dari salah satu teman meraka bernama Inko yang merupakan ketua Dewan Siswa di sana. Asseylum dan Lemrina seperti tersihir saat menyaksikan penampilan keduanya, Slaine dengan suara khasnya dan Inaho dengan permainan jeniusnya. Sejak saat itu Asseylum dan Lemrina hampir setiap hari berdiri di gerbang sekolah Inaho dan Slaine hanya untuk membujuk mereka berdua agar setuju membuat band yang akan di produseri oleh kakek kedua gadis itu.

Satu Tahun yang Lalu

"Kami datang lagi Inaho-san, Slaine-san" Gadis berambut pirang panjang itu menunduk sopan kepada Inaho dan Slaine yang baru saja keluar dari area sekolah.

"Asseylum-hime, Lemrina-hime" Slaine tersenyum tulus, sementara itu di belakangnya Inaho sibuk bermain dengan ponselnya. Satu tangannya menarik-narik kaki baju seragam Slaine yang perhatiannya sudah tertuju kepada dua gadis yang ada di hadapan mereka.

"Maksud kami datang ke sini masih sama seperti…"

"Ada restoran okonomiyaki baru tiga blok dari sini. Bagaimana kalau kita coba?" ucap Inaho, menambah kekuatannya saat menarik seragam Slaine. Perhatian Slaine yang tadi tertuju kepada dua gadis di hadapannya teralih sempurna kepada Inaho yang berdiri di belakangnya.

"Baiklah, hari ini Papaku pulang malam, Yuki-nee juga hari ini pulang terlambatkan?" Tanya Slaine kepada Inaho. Sekarang Slaine sudah lupa kepada dua gadis cantik itu. Sudah bukan rahasia lagi setidaknya di sekolah Inaho dan Slaine jika mereka berdua seperti memiliki 'dunia sendiri' saat sudah berdekatan. Apalagi saat Inaho sudah memetik gitarnya dan Slaine sudah mengeluarkan suara emasnya, mereka berdua benar-benar tidak lagi bisa diganggu.

Inaho dan Slaine berjalan ke restoran itu bersisian, meninggalkan Asseylum dan Lemrina begitu saja bahkan tanpa permisi. Di tempatnya Asseylum dan Lemrina hanya berpandangan pasrah, ini bukan pertama kalinya bagi mereka berdua mendapat perlakuan seperti itu. Bahkan sudah lebih dari tiga minggu ini mereka berdua selalu ditinggalkan begitu saja saat Inaho dan Slaine sudah mulai berbicara bersama.

"Bagaimana? Kalian mau bergabung dengan band kami?" Tanya Lemrina sambil menyuapkan Okonomiyaki ke mulutnya. Tepat di sampingnya kakaknya Asseylum sedang membalik adonan okonomiyaki miliknya sendiri. Sore itu Mereka berdua memutuskan mengikuti Inaho dan Slaine, dan di sinilah mereka berempat berakhir.

"Anoo.. kami berdua tidak tertarik. Iya kan Orenji?" Tanya Slaine ke Inaho yang duduk di sebelahnya.

"Kau harus banyak makan Bat" ucapnya mengacuhkan pertanyaan Slaine. Dengan santai menyuapi Slaine dengan makanan dari piringnya. Selaras dengan tindakan Inaho, Slaine malah melahap makanan itu. Tidak peduli dengan tanggapan beberapa orang yang memandang aneh kepada mereka berdua termaksud tatapan dari dua orang gadis yang duduk di hadapannya.

''Begini saja, kami akan memberikan apa saja yang kalian inginkan asal kalian bergabung dengan kami bagaimana?" ujar Asseylum sambil mengulurkan tangannya. Dengan cepat Inaho menyambut uluran tangan itu, Slaine yang setengah tidak percaya menganga melihat tindakan Inaho sampai-sampai membuat makanan yang ada di mulutnya tumpah ke meja.

24 Desember Satu Tahun Lalu

"Yuki-nee mengajakmu makan malam di rumah" ucap Inaho yang baru saja masuk ke kamar Slaine tanpa permisi. Sedikit namun sangat sedikit ada kilatan tidak senang saat melihat tumpukan kado dengan bungkus berwarna warni tertumpuk di sudut kamar Slaine. Slaine sendiri tampak berbaring santai di tempat tidurnya, tangannya hampir penuh dengan kertas surat dari fans yang diterimanya hari ini beserta tumpukan kado itu. Inaho mendekati Slaine, merebut dengan paksa kertas-kertas yang tengah dibaca Slaine itu.

"Kau ini kenapa sih Orenji-iro?" tanya Slaine tidak senang.

"Kau yang kenapa?" tanya Inaho kembali.

"HAAAAAAH?"

"Sejak bergabung dengan band bodoh ini, kau tidak lagi mendengarku"

"HAAAAAAAH? AKU? YANG PERTAMA MENERIMA TAWARAN BERGABUNG BUKANNYA KAU? KENAPA SEKARANG MENYALAHKANKU?" Tanya Slaine tidak percaya dengan apa yang baru saja Inaho katakan.

"Yuki-nee sedang menunggu" Inaho menarik lengan Slaine agar orang itu bangun dari posisinya

"Aku bisa sendiri!" ucap Slaine, melepaskan pegangan Inaho dari lengannya.

"Hei"

"Apa lagi?" Kesabaran Slaine sudah mulai habis menghadapi Inaho. Bukannya dia sendiri yang ingin bergabung? Tapi sejak bergabung dia malah bertingkah aneh seolah sejak awal dia memang tidak ingin.

"Hadiah natal" jawab Inaho sambil memasang jepitan berbentuk kelelawar di rambut Slaine.

"Ini apa?"

"Bodoh seperti biasa. Itu jepitan, anggap itu identitasmu"

End of Flashback

Yuki melempar sebuah majalah mingguan tepat di meja di depan Inaho dan Slaine, dengan wajah tidak senang Yuki memandang Inaho –adiknya– dan Slaine –yang sudah dianggapnya seperti adik kandung sendiri– secara bergantian. Lemrina mengambil majalah itu membaca judul utama minggu itu 'Sisi Gelap Inaho dan Slaine dari A/Z' .

"Lagi-lagi scandal tentang kalian!" Yuki meninggikan sedikit suaranya

"HAAAAAAAH? Mereka saja yang tidak punya harga diri mendekatiku" ucap Slaine meninggalkan ruangan itu.

"Mau kemana kau Slaine? Hei!"

"Haaah? Aku lelah, mau tidur" Slaine menuju mobil van yang terparkir di belakang bangunan tempatnya tadi dan teman-temannya tampil. Tidak berapa lama Inaho juga meninggalkan ruang rias itu, menyusul Slaine ke mobil van.

~O~O~O~O~O~O~O~

Slaine berguling-guling di atas tempat tidurnya, hari ini bandnya tidak ada schedule sama sekali. Di luar juga sedang sangat panas, AC di kamarnya tidak terlalu bisa mendinginkan udara di kepala Slaine. Baju singlet berwarna hijau yang dipakainya tampak gelap di beberapa daerah, basah akibat keringatnya. Slaine berjalan ke arah balkon kamarnya, dengan sedikit ancang-ancang, Slaine melompati dua balkon yang berjarak sekitar dua meter itu. Menimbulkan bunyi gedebuk cukup keras. Inaho si pemilik balkon tempat Slaine mendarat tadi memukul sebuah kipas berbentuk bundar berwarna orange dengan corak jeruk tepat di kepala Slaine.

"Kau ini. Apa susahnya lewat pintu?" tanya pemuda berambut warna coklat itu yang sekarang sudah mengipas-ngipas Slaine yang terlihat mandi keringat. Udara di kamar Inaho lebih panas daripada di kamarnya, karna beberapa hari lalu AC di kamar itu mati dan Inaho terpaksa menggunakan kipas angin listrik.

"Kalau lewat pintu, aku harus memutar. Itu membuang-buang tenaga Orenji-iro! Dan lagi di sini ada jalan pintas, sayang jika tidak digunakan" Slaine menarik-narik kerah bajunya kepanasan. "nee, jadi apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya kemudian melirik laptop Inaho yang layarnya sedang menyala.

"Membuat lagu baru" jawab Inaho datar, menutup laptopnya begitu saja. "Jadi kau mau apa? Aku sedang sibuk di sini"

"Kau tidak asik Orenji-iro! Aku mau mengajakmu makan es serut. Ini musim panas loh! Musim panas. Kita harus makan es serut!" Slaine menarik-narik tangan Inaho penuh semangat.

"Tidak. Kau ini penyanyi. Kau harus menjaga apa-apa saja yang kau makan"

"Ciiih kau tidak asik!. Ahorenji! Menyebalkan! Ya sudah kalau kau tidak mau menemaniku. Aku punya banyak teman yang mau pergi bersamaku!"

Slaine kembali ke balkon tempatnya masuk tadi. Kembali mengambil ancang-ancang untuk mendarat di balkon kamarnya. Di tempatnya Inaho hanya menatap datar ke arah temannya itu, kembali membuka laptopnya dan melanjutkan apa yang dia tulis tadi.

Slaine membuka ponselnya malas, dia ingin makan es serut. Hanya saja terlalu malas untuk keluar di hari sepanas itu. Dan untung saja, banyak 'wanita' yang berbaik hati mau membawakannya es serut. Beberapa saat setelah kembali ke kamarnya sendiri, Slaine membuka salah satu akun media sosialnya.

"Panas-panas begini enaknya makan es serut dengan sirup jeruk.. yummy~~ sayangnya keluar membelinya juga melelahkan m.m" (mesang foto es serut)

Dan begitulah, kurang dari lima menit, sudah lebih dari seratus komentar dari para fansnya yang meng-iya-kan pernyataan Slaine. Beberapa orang yang ikut berkomentar yang Slaine kenal sebagai teman sekolahnya menawarkan diri untuk membawakan langsung es serut ke rumah Slaine. Slaine tertawa terbahak-bahak membaca semua ocehan itu. Memegang perutnya yang sakit karna sejak tadi tertawa. Tidak sampai di situ, Slaine mengirimkan private message kepada salah satu followernya yang Slaine tau adalah teman sekelas Inaho.

[Slaine: Kalau tidak salah kau teman sekelas Inaho kan?]

[Nina: Slaine-sama. Kau tau aku?]

[Slaine: Yah, aku lumayan hapal dengan siswa sekolahku. aku beberapa kali melihatmu datang ke konser kami]

[Nina: Senangnya.. Slaine-sama benar-benar ingin makan es serut? Kebetulan rumahku dekat dengan salah satu penjual es serut terenak di kota ini. Jika Slaine-sama mau, aku bisa membawakannya]

[Slaine: aku tidak ingin merepotkan]

[Nina: te-tentu saja tidak merepotkan Slaine-sama]

Dan begitulah Slaine sedang menunggu kurir dadakannya membawakan es serut. Kembali Slaine mengutak atik ponselnya, mengecek seberapa terkenal band mereka –dirinya sendiri– saat ini. Jempol tangannya berhenti bergerak saat melihat sebuah tulisan 'Fanfiction' yang membuatnya tertarik bukan karna di sana tertulis namanya. Tapi ada nama Inaho juga di sana 'Inaho x Slaine' , Slaine membuka situs itu dengan dahi sedikit berkerut.

Pen Name dengan nama OrangeBat terlihat hampir mendominasi. Slaine membuka judul teratas karya orang bernama OrangeBat ini dengan judul "1111" . Wajah sang vocalis berubah merah, beberapa kali terdengar meneguk ludahnya sendiri.

"Bukannya melepaskan pegangannya, sekarang Inaho malah mendekatkan wajahnya ke wajah Slaine. Membuat benda yang sedari tadi menempel di bibirnya sekarang menempel juga di bibir Slaine di ujung satunya. Wajah Slaine memerah, apalagi saat Inaho menggigiti sedikit demi sedikit ujung coklat di mulutnya. Membuat jarak di antara mereka semakin mendekat, mendekat, mendekat dan sekarang sudah tanpa jarak. Dengan leluasa Inaho menginvasi bibir milik Slaine, menggigiti bibir bawah milik Slaine agar si empunya membukakan jalan bagi Inaho. Lima menit Inaho berhasil menguasai bibir bahkan mulut Slaine, jika dimungkinkan Inaho pastilah tidak ingin melepaskan kekuasaan yang sudah dimilikinya tapi paru-paru miliknya dan milik Slaine sama-sama sudah memanas memerlukan banyak oksigen."

Situs itu, cerita yang tengah dibacanya adalah tentang kisahnya dengan Inaho. Tidak sepenuhnya benar, karna Slaine tidak pernah di penjara dan Inaho juga bukanlah anggota militer. Tapi kejadian itu, kejadian di cerita itu sama. Setidaknya ada beberapa bagian yang sama. Sewaktu mereka masih duduk di bangku SMP, Inaho pernah memberinya pocky dari mulut ke mulut. Kembali wajah Slaine memerah.

Tanpa sadar, Slaine melempar ponsel miliknya ke tempat tidur, saat mendengar suara ribut dari arah balkonnya. Seperti tadi dirinya yang melompat ke balkon Inaho, sekarang Inaho yang melompat ke balkonnya. Membawa semangkuk es serut buatanya sendiri dengan sirup jeruk.

"Kau ini tidak malu membuat status seperti itu?"

"HAAAH? Kenapa harus malu? Apa salahnya memakan.." Slaine berhenti bicara saat sesendok kecil es serut yang dipegang Inaho masuk ke mulutnya.

"Bagaimana jika yang membawakanmu makanan ternyata berniat meracunimu?"

"Ta-Tau darimana kau ada yang akan membawakanku es serut?" buluk kuduk Slaine berdiri menatap Inaho tajam

"Kau fikir kita sudah berapa lama berteman?"

Inaho menyuapkan sesendok es ke mulutnya juga. Slaine yang melihatnya langsung mengalihkan wajah, menyembunyikan wajahnya yang dia yakini saat ini sangat merah. Seketika membayangkan fanfiksi yang tadi dibacanya . 'Bu..bukannya itu ciuman ti-tidak langsung?'

"Kenapa lagi? Bukannya kau mau es?" Inaho kembali menyuapkan es untuk Slaine.

Tapi kali ini Slaine sama sekali tidak membuka mulutnya, malah membelakangi Inaho untuk menyembunyikan wajahnya yang sekarang benar-benar terasa panas 'tenanglah Slaine! Ini pasti pengaruh udara panas di luar'. "Ka-kau benar. Aku harusnya menjaga apa yang masuk ke mu-mu-mulutku karna aku vocalis"

TING TONG

Inaho menyimpan mangkuk es nya di meja belajar Slaine. Berlari turun ke lantai satu untuk membuka pintu. Di tempatnya Slaine hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang dia peluk. Meletakkan kepalanya di kasur, dan mengangkat-ngankat kakinya ke belakang seperti anak kecil. Slaine bahkan tidak sadar jika Inaho sudah kembali, dan memandangnya aneh dari pintu sambil melipat kedua lengannya di dada.

"A-Apa yang kau lihat Orenji-iro?" Tanya Slaine gugup

"Tidak ada. Aku kembali dulu" Inaho mengambil mangkuknya, kemudian kembali ke kamarnya sendiri lewat balkon seperti biasa.

"Ah iya.. Yang tadi sia-pa?" Slaine mematung memandang jendela Inaho yang sudah tertutup. Menghilangkan Inaho dari pandangan Slaine.

~TBC~

OWARI

Tadinya belum mau publish ini. Nunggu Cause Its You atau Orenji Butler tamat dulu. tapi tak apelah, habisannya gatal juga sih pengen publish buru-buru hohoho (kabur cantik)